Indigo

Indigo
Chapter 174 | Anxiety


__ADS_3

Di dalam mobil ambulans, Angga segera dipasang alat bantu napas yaitu masker oksigen yang menutupi hidung sekaligus mulutnya. Hal itu membantu lelaki tampan tersebut tetap bernapas selama di perjalanan menuju ke rumah sakit.


Paramedis yang ada di sisinya Angga banyak memasang peralatan medis di tubuh sang pasien yang kondisinya sudah sangat lemah dan parah. Sementara Freya terus tetap menangis tersedu-sedu sambil menggenggam telapak tangan lemas kekasihnya.


Di salah satu paramedis mulai menyingkap kaos oblong hitam Angga ke atas yang di bagian perutnya telah banyak berlumuran darah. Petugas tersebut menggulung-gulung ujung baju yang dikenakan pasien hingga sampai ke dadanya lalu segera mengambil sebuah kain untuk menekan darah yang masih terus berhasil keluar itu.


Paramedis lainnya membersihkan darah segarnya Angga yang terlihat di kening kirinya hingga merembes sampai ujung dagunya. Freya tidak kuasa melihat wajah sang kekasih yang warna pucatnya sudah nyaris seperti muka mayat.


“Hiks! Huhuhuhu! Anggaaaa ...”


“Kak, yang tenang dulu, ya? Jangan panik seperti ini,” ucap salah satu paramedis wanita lalu meraih tubuh mungil Freya untuk menenangkan hatinya.


Sampai tiba-tiba seluruh paramedis yang ada di belakang mobil ambulans dan Freya sekalipun, menatap layar monitor pendeteksi jantung yang berbunyi dengan sangat nyaring. Garis grafik nang bergelombang tenang itu kini menjadi garis kontinu alias mendatar. HR angka medis tersebut yang berubah drastis menjadi 0, membuat Freya berteriak histeris karena menandakan detak jantung Angga berhenti.


Wanita paramedis itu berusaha tetap mendekap tubuh Freya yang mana gadis tersebut tangisannya semakin pecah. Sementara paramedis pria yang ada di kiri Angga nang terbaring lemah, segera mengambil suatu alat medis yang bisa mengirimkan aliran listrik ke jantung pasien nang telah tidak berdetak.


Paramedis pria itu menghembuskan napasnya lalu bersiap menempelkan kedua alat pacu jantung itu ke dada bidang Angga. Sementara wanita paramedis tersebut melepaskan cepat tangan Freya yang menggenggam telapak tangan kanan kekasihnya.


Dalam hitungan detik yang sudah ditentukan, petugas yang menggenggam Defibrillator, menekan tombol energi di masing-masing kedua alat pacu jantung tersebut usai alatnya ditempel di dada Angga. Freya menelungkup wajah sembabnya di tubuh wanita paramedis itu saat dada Angga membusung ke atas bersamaan tombol energi yang telah ditekan olehnya.


Pria paramedis itu melongok layar monitor itu yang angka HR medisnya tetap belum naik atau berubah. Otomatis paramedis tersebut yang telah berkeringat, menggosok-gosokkan kedua alat itu dan mencoba menempelkan alat pacu jantung itu ke atas dada Angga kembali lalu menekan tombol energi.


Freya menolehkan kepalanya ke arah layar monitor yang tadi bersuara nyaring, kini kembali seperti semula. Paramedis yang menggunakan alat tersebut untuk mengembalikan detak jantung pasien, menghembuskan napasnya panjang bersamaan hati yang lega setelah tegang.


“Tenang ya, Kakak? Cowoknya pasti akan tertolong, kok bila sudah diberi tindakan dengan dokter di dalam rumah sakit. Sudah, jangan menangis lagi ...”


Freya yang terus didekap, hanya menganggukkan kepalanya lemah walau air matanya tetap terus lolos membasahi kedua pipi putih cantiknya. Freya kini melihat pria paramedis satunya melepas masker oksigen kekasihnya dan menggantinya langsung dengan Ambu Bag untuk memberi napas buatan supaya Angga tetap mampu bertahan selama di perjalanan menuju ke rumah sakit.


“Hiks ... apapun yang terjadi denganmu, tolong jangan tinggalkan aku, Anggara.”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Beberapa perawat lelaki dan satu dokter pria masuk ke dalam ruang ICU sambil mendorong kasur brankar yang di atasnya ada raga Reyhan nang terbaring lemah.


“Mohon tunggu di luar, ya? Biarkan pasien ditangani oleh dokter.” Salah satu perawat lelaki itu mendorong lembut Jova lalu segera masuk ke dalam ruang ICU tak lupa menutupnya.


Jova yang melihat pintu putih dua daun ruang ICU itu ditutup dengan rapat, hanya bisa menatap nanar pintu tersebut. Gadis Tomboy itu memilih duduk di kursi tunggu yang berjejeran.


Di atas kursi ruang tunggu, Jova memain-mainkan jari-jemari lentik dari sepasang tangannya dengan isakan tangisnya. Ia masih tidak menyangka hari yang indah dan bahagia, menjadi hari yang terburuk. Dadanya terasa sesak karena terus menangis hingga wajah cantiknya sembab.


“Jangan angkat nyawa Reyhan dan Angga, Ya Allah. Hamba masih sayang dengan mereka berdua ... mereka adalah sahabat Hamba yang kuat, tolong jangan bawa mereka ke pangkuan engkau ...”


Jova menarik ingusnya lalu mengeluarkan ponsel Androidnya untuk segera menghubungi kedua orangtuanya Reyhan yang ada di kota Jakarta. Meski ragu untuk menyatakan kabar buruk sahabatnya, tetapi ia tak ayal untuk memberinya lekas.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


“Pasien mengalami pendarahan kepala yang sangat hebat, luka tusukannya begitu dalam, tekanan darahnya sangat rendah, detak jantungnya melemah, bahkan saat di dalam mobil ambulans untuk menuju ke rumah sakit, pasien sempat kehilangan detak jantungnya beberapa saat, Dok!”


“Baik! Bawa ke ruang Operasi segera!”


“Huhu, Angga! Sadarlaaaah ...”


Mereka terus mendorong brankar kasur Angga yang telah sedikit bernoda darah ke ruang Operasi. Sementara di dalam perjalanan menempuh menuju ke ruang pembedahan itu, lelaki tampan tersebut tetap dipasang oleh perawat dengan Ambu Bag sekaligus menekan-nekan bagian tabungnya untuk konstan memberikan napas buatan yang mana kondisi detak jantungnya sudah lamban.


Kedua tangan Freya saling menggenggam erat telapak tangan kekasihnya sambil berlari menyamakan kasur roda itu yang sedang didorong oleh beberapa tim medis.


Setelah tiba di depan pintu ruang Operasi, dua perawat lelaki membuka pintu tersebut dengan cekatan untuk demi keselamatan nyawa pasien yang akan langsung ditangani secepatnya.


Freya terpaksa harus melepaskan genggamannya dari telapak tangan kanan Angga karena kasur roda itu telah didorong masuk ke dalam ruangan. Freya hanya bisa mundur selangkah membiarkan mereka membawa lelakinya masuk.


Sampai akhirnya sebelum pintu ruang Operasi ditutup oleh kedua perawat, Freya langsung menggenggam lengan tangan sang dokter pria yang tak asing baginya. “Dok! Tolong selamatkan Angga! Apapun caranya, saya mohon! Saya tidak ingin kehilangan dirinya!”


“Kami akan berusaha semaksimal mungkin,” ungkap sang dokter dengan senyum gundah lalu masuk ke dalam ruang Operasi bersamaan pintu dua daun ruangan ditutup oleh para perawat yang berseragam putih bersih.


Freya berusaha menyeka seluruh air matanya, tetapi setiap ia mengelapnya, air linangan bening miliknya malah justru terus mengalir. Gadis cantik Nirmala itu yang sudah tidak bisa menopang tubuhnya, langsung berjalan mengarah ke kursi tunggu untuk duduk di sana.


“Hiks! Hiks! Tolong jangan pergi, Ngga ... kamu kekasihku yang kuat, kamu pasti bisa melewati masa terburuk ini. Kamu juga, sahabatku Reyhan. Hiks!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Kota Jakarta


Ya, akhirnya sepasang suami-istri sang kedua orangtuanya Angga telah kembali ke komplek Permata. Mereka sangat tidak sabar menemui anak semata wayangnya untuk melepaskan rindu berat pada Angga di dalam rumah.


Namun saat Andrana akan mengetuk pintu rumah, wanita paruh baya itu mengurung niatnya karena merasa dalam rumahnya tidak ada siapapun kecuali Takeshi si kucing hitam Anggora milik Angga.


‘Angga ada di rumah kan, ya? Kok perasaanku jadi tidak enak begini?’


Pip !


Agra mengunci otomatis mobilnya di dalam garasi lalu keluar dari sana untuk menemui istrinya yang nampak diam tanpa ada niatan untuk membuka pintu rumah. Tetapi baru saja akan melangkah menghampiri Andrana, kaki Agra terhenti untuk berjalan dan beliau meraba kepalanya yang tiba-tiba sedikit sakit.


Sang ayah Angga yang juga Indigo seperti putranya, dalam singkat waktu mendapatkan sebuah bayangan terawangan yang mana sosok itu adalah Angga nang sedang terbaring di meja Operasi. Hati Agra tersayat-sayat saat melihat bayangan anaknya yang ditempelkan alat pacu jantung yang bertelanjang dada.


Wajah putranya begitu pucat di ruangan gelap meski di atas badannya terdapat lampu lingkaran Operasi yang ukurannya cukup besar, sementara mulutnya tersumpal selang panjang yang mana itu alat intubasi medis. Banyak tim medis yang mengenakan seragam hijau selama pembedahan anaknya masih berlangsung, apalagi sang dokter terus berupaya mengembalikan detak jantung Angga yang berhenti dan terlihat jelas di layar mesin monitor garis grafik itu mendatar dan tertera angka 0 HR medis di tepat samping kanan.


Luka kepalanya juga sangat parah yang terjadi pada sang putra semata wayangnya. Bahkan Agra bisa mendengar suara detektor jantung itu berbunyi begitu nyaring memenuhi ruangan Operasi. Pada waktunya, bayangan yang Agra dapatkan menghilang dari terawangan mata batinnya yang sudah muncul secara mendadak.


“Ayah? Ayah kenapa? Kok mukanya jadi pucat seperti itu? Kepalanya Ayah sakit?!” cemas Andrana seraya berlari-lari kecil menghampiri suaminya.


Agra langsung berlari tanpa menggubris pertanyaan dari istrinya. Sampai akhirnya saat sedang berlari keluar gerbang rumah, beliau tak sengaja menubruk badan Lucas yang memang ingin mampir ke rumahnya dan menyambut kedatangannya kembali yang dari kota Semarang.


“Astaghfirullah! Kamu kenapa terlihat panik seperti itu?! Ada apa?” tanya Lucas sang ayah Freya usai tertabrak tubuh ayahnya Angga.


“Anakku! Anakku Angga!!!”


Lucas menganggukkan kepalanya dengan wajah setengah gusar. “Iya! Angga kenapa?! Anakmu lagi liburan di kota Bandung, kamu kenapa malah justru panik begitu? Tenangkan dirimu.”


“Apa?! Angga liburan di kota Bandung? Kapan dia liburannya?! Anakku bahkan tidak izin kalau pergi ke luar kota. Angga pergi sama siapa saja? Tidak mungkin sendirian!”


“Angga pergi bersama Freya, Jova, Reyhan, dan beberapa temannya. Mereka berdelapan sudah pergi semenjak beberapa hari yang lalu. Kalau aku boleh tahu, kamu kenapa panik seperti ini? Apa jangan-jangan kamu mendapatkan suatu terawangan mengenai kabarnya Angga?”


Agra menganggukkan kepalanya pada tebakan benar dari Lucas dengan air mata saling menumpuk di pelupuknya. “Pantas saja, di rumah terlihat sepi! Aku sekarang sangat cemas terhadap anakku di sana.”


“Sebentar, deh aku telefon Freya dulu, ya? Karena pasti Freya juga bersama Angga.” Rani mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi anak putri kesayangannya yang beliau duga masih berada di kota Bandung untuk berlibur senang-senang.


Dan tak berapa lama, telepon Rani diangkat oleh Freya dengan suara isakan tangis lirihnya.


“Assalammualaikum, Sayang. Kamu ada dimana sekarang? Mama kangen banget sama kamu.”


Hiks! Waalaikumsalam, Ma...


Rani mengerutkan keningnya dengan wajah risau dan bingungnya mendengar suara isakan tangis anak putrinya diseberang telepon. “Sayang, kamu kenapa? Kamu lagi nangis, ya?!”


Mama! Hiks! Maaaaa...


“Freya, Sayang?! Ada apa?! Ayo, bilang sama Mama! Kenapa kamu menangis di sana?!”


Ma... hiks! Angga, huhuhuhu !


“Iya, Sayang! Angga kenapa?! Katakan pada Mama! Jangan bikin Mama khawatir. Ada apa dengan Angga, hm? Jawab Mama, Freya ...”


Hiks! Hiks! A-angga masuk rumah sakit, hiks...


“Astaghfirullah! Angga masuk rumah sakit?! Ceritanya bagaimana Angga masuk rumah sakit, Sayang?!”


Agra dan Andrana yang mendengarnya, sangat Syok dengan mata mencuat bersama mulut menganga mendengar bahwa Angga masuk rumah sakit untuk kesekian kalinya.


Ceritanya sangat panjang, Ma. Yang pastinya, Angga mengalami aniaya hingga membuat dia terluka begitu parah! Dan sekarang Angga lagi ditangani sama dokter di ruang Operasi. Hiks...

__ADS_1


“Innalillahi, Angga ... yasudah! Kamu yang tenang dulu ya, Sayang? Sekarang kamu kasih tahu dimana alamat lokasi rumah sakitnya. Biar Mama, ayah segera ke sana untuk menemui kamu. Tante Andrana dan om Agra juga sudah di kota Jakarta, nanti kami akan menyusul, oke?!”


Rumah sakitnya ada di kota Bogor dan nama bangunan rumah sakitnya Medistra Kusuma! Freya akan tunggu kalian semua untuk datang ke sini, hiks...


“Iya, Sayang! Kami pasti akan datang ke rumah sakit tempat Angga ditangani, kalau begitu Mama tutup telponnya, ya? Assalammualaikum.”


Hiks! Waalaikumsalam, Ma...


Rani mengakhiri pembicaraannya dengan anak putrinya lalu mematikan ponselnya bersama raut bimbang dan sendu.


“Kota Bogor rumah sakit Medistra Kusuma?! Ayah, itu kan tempat dulu Angga dirawat saat Koma! Ayo, Yah kita segera ke sana!” gusar Andrana.


Agra tanpa menjawab langsung berlari ke dalam gerbang rumahnya untuk mengambil mobil Toyota Avanza hitamnya yang telah beliau parkir di dalam garasi lalu mengeluarkannya dari gerbang rumah.


“Lebih baik kalian berdua duluan saja ke kota Bogor, kami akan menyusulnya setelah ini! Semoga saja Operasi Angga di sana lancar, ya!”


Andrana menganggukkan kepalanya dan mengamini ucapannya Rani. “Terimakasih, Ran! Kalau begitu aku dan suamiku pergi dulu!”


“Iya, hati-hati dijalan! Mengendarainya santai saja tidak perlu mengebut-ngebut, bahaya.”


Agra menganggukkan kepalanya pada Lucas dengan wajah masam dan sangat bimbang. Kemudian setelah Andrana masuk ke dalam mobil, kedua orangtuanya Angga melaju meninggalkan komplek Permata lekas bersama mobil yang mereka naiki.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Kota Bogor - RS Medistra Kusuma


Freya menundukkan kepalanya untuk berusaha tenang dan tidak mengambil pikiran negatif tentang kondisi Angga yang sedang di Operasi. Meskipun ia tahu bahwa kekasihnya terluka begitu parah hingga mengeluarkan darah dengan jumlah yang sangat banyak.


Freya menilik lampu indikator kecil ruang Operasi yang ada di atas pintu. Masih bercahaya merah, namun berselang menit kemudian saat menatap nanar lampu tersebut, lampu merahnya padam dan pasti menandakan kegiatan Operasi telah selesai.


Freya meneguk ludahnya kasar, ia tak sabar menunggu kabar dari dokter yang menangani Angga. Hingga pintu nang semulanya tertutup, kini dibuka oleh beliau dengan pakaian jas putihnya. Melihat itu, Freya langsung menghampiri sang dokter bersama tatapan risaunya.


“Dokter! Bagaimana Operasinya Angga?! Semuanya berjalan dengan lancar kan, Dok?!”


Dokter pria itu menghela napasnya dengan pendek lalu menatap Freya. “Jika dibilang, Operasi pasien Alhamdulillah lancar. Tetapi masalahnya, kami harus mencari pendonor darah untuk Anggara dikarenakan pasien yang ada di dalam ruangan, mengalami kehilangan banyak darah. Sedangkan stok kantong darah golongan A di rumah sakit sedang habis. Maka dari itu, Dokter ingin bertanya. Apakah keluarga Anggara ada di sini?”


Mata Freya terbelalak lebar. “Dokter mencari seorang pendonor yang bisa mendonorkan darah untuk Anggara?! Kalau begitu, saya yang akan menjadi pendonornya. Golongan darah saya juga A, kok!”


“Tapi ... apa kamu yakin ingin mendonorkan darah untuk pasien?” tanya beliau karena kurang yakin pada antusiasme Freya.


“Saya yakin, Dok! Tubuh saya sehat dan bugar. Saya juga tidak memiliki penyakit apapun yang bisa membahayakan nyawa Anggara! Jika menunggu kedua orangtuanya ke sini, akan memakan waktu, Dok! Karena mereka sedang berada di perjalanan.”


Sang dokter terdiam sesaat lalu tersenyum. “Baiklah kalau kamu yakin dan bisa menyumbangkan darahmu untuk pasien, mari ikut Dokter.”


Freya menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis lalu mengikuti sang dokter dari belakang. Transfusi darah? Ya, pasti ia akan ditusuk oleh jarum lepau menyalurkan darahnya untuk Angga yang telah kekurangan banyak cairan darah di dalam tubuhnya. Tetapi tidak mengapa. Demi kekasihnya, Freya rela merasakan sakit teruntuk keselamatannya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Sesampainya di dalam ruangan, Freya dihimbau oleh dokter untuk berbaring di sebuah brankar yang telah tersedia di pelosok ruangan bersih meski sedikit memiliki bau-bau obatan yang menusuk di indera penciumannya gadis cantik tersebut.


Setelah berbaring dengan tenang, hatinya rada ketar-ketir karena tidak sengaja melihat jarum suntik. Dalam hatinya, apakah jarumnya sebesar itu atau memang ukurannya segitu.


Sang perawat wanita dengan wajah berseri, tersenyum pada Freya lalu menyingkap kardigan ungunya sampai di atas lipatan tangannya. Perawat tersebut kemudian mengelus lengan mulus gadis itu yang ototnya tegang karena takut.


“Tangannya jangan tegang, ya? Rileks saja ...” ucap lemah lembut perawat wanita itu.


“Kalau tidak ingin sakit saat disuntik oleh jarum ini, coba Mba-nya tarik nafas yang dalam. Agar tidak terasa sakit, oke?”


“I-iya, Suster. Tapi, kalau saya boleh tahu .. jarumnya memang sebesar dan sepanjang itu, ya?” tanya Freya dengan bergidik takut.


Perawat yang memiliki wajah cantik itu dengan rambut disanggul ke belakang, terkekeh geli. “Tidak, kok. Ini ukuran yang cukup dan biasa untuk melakukan transfusi darah. Jangan takut ...”


“Saya tidak takut, kok! Saya berani!” ujar Freya dengan mata membelalak dan senyum lebar.


“Good job. Kita mulai, ya?” Perawat wanita itu dengan tetap tersenyum yang merekah di wajah cantiknya mulai melakukan kegiatannya sesuai yang diarahkan oleh dokter.


Freya menatap langit-langit dinding yang bercat putih dengan bibir yang ia katup meski tangannya sudah tidak tegang lagi alias rileks seperti yang dianjurkan oleh perawat wanita itu. Freya merasakan bagian tengah lipatan tangannya dikasih suatu cairan dengan kapas kecil, hingga dirinya langsung menarik napas dalamnya saat jarum steril donor darah itu ditusuk ke arah lengan venanya.


Bicara-bicara tentang prosedur ini, bayangan-bayangan masa lalu terbesit di otak benaknya Freya. Bahkan gadis tersebut yang sedang proses melakukan transfusi darah sebagai pendonor untuk kekasihnya, tersenyum sumringah saat mengingat masa-masa beberapa bulan silam.


Flashback On


“Aku takut, Ngga ...” rengek Freya saat dua perawat wanita siap melakukan pencabutan jarum infus di telapak tangannya.


“Hei, sudah besar, lho. Masa sama jarum infus saja kamu takut? Lagipula di waktu kamu masih SD, pasti ada kegiatan Imunisasi, kan? Jadi untuk apa kamu takuti? Paling rasanya seperti digigit semut saja, kok.” Angga menjawab dengan nada lembut di sebelah Freya yang duduk dipinggir ranjang pasien.


“Ih! Kamu, kan cowok! Jadi enteng kalau ngomong begitu. Maklum, dong aku takut sama jarumnya. Aku, kan cewek !” semprot Freya.


“Siapa bilang kamu cowok?”


Kedua perawat wanita itu saling tertawa pelan mendengar celoteh kedua sepasang sahabat kecil tersebut yang telah beranjak dewasa.


“Mending gak usah dicabut saja deh, Sus! Soalnya pasti sakit banget kalau ditarik,” tolak Freya membuat Angga menghela napasnya.


“Yakin gak usah dicabut jarum infusnya? Emang mau, pulang ke rumah sambil gotong-gotong tiang infus? Apa gak ribet, itu?”


Freya menggembungkan kedua pipinya dengan menatap Angga bersama wajah cemberutnya. “Kamu nyebelin !”


“Lho?! Aku salah apa?”


Rani dan Lucas yang duduk di kursi sofa panjang tertawa geli melihat tingkah laku anak putrinya yang sedang mengomeli lelaki tampan dari anaknya Agra dan Andrana. Di sisi lain, Angga meraih pucuk kepala Freya lalu mengelusnya lembut.


“Kalau kamu nggak tahan sama rasa sakitnya, coba kamu ikuti instruksi dari aku.”


“Instruksi apaan?!”


“Galak banget ... coba kamu tarik nafas panjang saat Suster mencabut jarum infus yang tertancap di telapak tanganmu. Pasti rasa sakitnya gak ada.”


Freya memajukan bawah bibirnya dengan melirik ke arah Angga. “Bisa dijamin seratus persen nggak, nih?”


Angga tersenyum. “Bisa, dong.”


“Tuh, pacar Mba-nya yang ganteng tahu taktik caranya agar tidak sakit pas dicabut jarum infusnya.”


Angga terkejut begitupun Freya yang mendengar salah satu perawat wanita nang berkata 'Pacar Mba-nya yang ganteng'. Yang padahal bukan kekasihnya sama sekali.


“Maaf, Sus. Saya dengan Freya hanya sahabat, bukan pacar. Jadi, tolong jangan salah paham hanya karena hubungan kami yang terlihat dekat,” ungkap Angga menjelaskan bersama nada dinginnya.


“O-oalah! Sahabatnya, toh? Habisnya kalian berdua kayak serasi gitu kalau dilihat. Padahal malah bagus, loh kalau pacaran. Mas-nya Ganteng terus Mba-nya juga Cantik, cocok banget pokoknya !”


Freya menahan malu di situ, bahkan melihat kedua orangtuanya yang menganggukkan kepalanya dengan senyum mesem, gadis itu semakin malu berlipat-lipat ganda. “Sebatas sahabat saja sudah cukup kok, Suster. Hehehe ...”


Angga hanya menghela napasnya sambil mengusap tengkuknya dengan memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Sementara perawat wanita satunya, menyenggol lengan rekan temannya lalu berdecak sebal seraya menggelengkan kepalanya.


“Kita mulai ya, Kak? Ambil nafas dalam saja kalau tidak mau merasakan sakit. Seperti yang sudah di instruksi dengan sahabatnya, ya?”


Freya menganggukkan kepalanya lesu dan pasrah pada kegiatan salah satu perawat wanita yang akan mencabut jarum infusnya dengan perlahan serta hati-hati. Di waktu perawat itu memegang jarum yang tertancap di telapak tangannya, Freya langsung memejamkan matanya lalu menarik napasnya panjang dan dalam seperti yang telah pertama Angga perintahkan untuknya.


“Nah, sudah selesai !”


Freya membuka satu matanya. “Hah? Sudah dicabut infus saya, Sus?!”


“Iyaa. Coba Kakaknya lihat.” Freya langsung membuka mata sebelahnya dan menengok kondisi telapak tangannya. Terlihat telapak tangan sentralnya telah ditambal plester nan kapas secuil di dalamnya.


“Lho? Eh! Beneran gak kerasa sakit!” pekik Freya senang dengan hati lega.


Angga yang melihat riang sahabat kecilnya, agak terkekeh geli. “Berarti Instruksinya?”


Freya menoleh cepat ke arah lelaki tampan itu dan menatapnya dengan wajah berserinya yang tadi muram karena ketakutan. “Seratus persen berhasil !”

__ADS_1


Angga tersenyum lumayan lebar dengan kembali mengusap ujung kepala Freya yang gadis lugu itu bertepuk tangan riang seperti bahagianya anak usia dini. Memang terlihat kekanak-kanakan.


Flashback Off


Freya tertawa di dalam relung hatinya mengingat masa lalu yang penuh kekanakan itu. ‘Astaga, dulu aku malu-maluin banget, ya? Untung saja Angga langsung ngasih taktik instruksi buat aku.’


“Mba-nya baik sekali, ya. Mau mendonorkan darahnya untuk ... oh iya! Mba-nya dengan Anggara adalah teman, saudara, sahabat, atau pacar?” tanya perawat wanita yang duduk di sisi brankar untuk mengalihkan keheningan ruangan.


Freya tersenyum simpel. “Pacar ...”


“Oh, pacarnya, ya? Wah, pasti Mas pacar Mba-nya yang masa dalam membutuhkan perawatan medis di rumah sakit Medistra Kusuma ini akan bangga pada Mba karena telah sukarela menyumbangkan darahnya ke Anggara. Mas-nya pasti juga merasa beruntung dan bahagia mempunyai pacar yang hatinya seperti malaikat kayak Mba-nya.”


Freya menolehkan kepalanya ke arah perawat wanita tersebut dengan melebarkan senyuman manisnya. “Terimakasih, Suster.”


Beliau tersenyum hangat seraya menyentuh lembut bahu kecil kanan milik Freya. “Iya, sama-sama. Sebentar lagi proses transfusi darah ini selesai, setidaknya memerlukan empat ratus tujuh puluh mililiter cairan untuk dimasukkan ke dalam kantong donor darah.”


“Iya, Sus. Saya rela darahnya saya ini diambil untuk demi keselamatan jiwanya Anggara. Saya tidak peduli berapa banyak liter darah saya disalurkan ke dalam kantong donor darah tersebut.”


Perawat wanita itu tersenyum lembut haru begitupun para beliau lainnya yang bertugas di dalam ruangan. Kemudian, Freya menghadapkan pandangan dan kepalanya ke arah langit-langit dinding kembali dengan mengubah senyuman lebarnya menjadi tipis serta gundah.


‘Angga, aku harap setelah aku mendonorkan darahku ini untukmu, kamu secepatnya sadar dan segera pulih ...’


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Masih di kursi tunggu, Jova terus menangis di situ. Sementara gadis itu belum mendapatkan kabar apapun mengenai kondisi Reyhan dikarenakan dokter belum kunjung keluar.


“Hiks! Sumpah, cengeng banget gue nangis mulu dari tadi ...” Jova segera mengelap semua air matanya meski wajah cantiknya telah terlanjur sembab akibat terlalu banyak menangis.


Jova menengok pintu ruang ICU. “Dokternya lama banget, sih di dalem? Bikin hati gue ketar-ketir doang soal Reyhan yang ditangani sama beliau!”


Waktu sedang menggerutu setengah kesal terhadap sang dokter yang telah membuat Jova lama menunggu, tiba-tiba pintu sebelah ICU dibuka oleh beliau dengan wajah muramnya.


Melihat dokter pria telah keluar dari ruang rawat intensif, Jova langsung cepat bangkit berdiri dari kursinya lalu bergegas mendatangi beliau yang dari wajahnya terlihat lumayan lusuh. Dan bertepatan itulah, kedua orangtuanya Reyhan tiba dari lorong lantai 4 setelah beberapa menit yang lalu Jova menghubungi di antara salah satu mereka.


“Tante?! Om?! Akhirnya kalian datang!” lega Jova melihat kehadiran Farhan dan Jihan.


Jihan menganggukkan kepalanya dengan senyum miris. Sementara Farhan menatap serius wajah dokter tersebut. “Dok, bagaimana dengan kondisi putra kami di dalam ruang ICU?! Tidak ada yang buruk, kan?!”


“Keluarga pasien?” tanya beliau untuk memastikan.


Farhan langsung merangkul lengan tangan Jihan. “Iya! Saya dan istri saya ini adalah keluarganya Reyhan! Orangtuanya Reyhan!”


“Baik. Sepertinya saya harus menyampaikan kabar buruk untuk kalian semua yang telah berada di sini. Setelah saya menanganinya, pasien mengalami gangguan pernafasan dan pula saraf. Hal itu karena diakibatkan ada sebuah cairan zat mengandung Kimia berbahaya yang telah menyebar ke seluruh dalam tubuh pasien. Bahkan racun itu nyaris saja membuat nyawa Reyhan tidak terselamatkan.”


Farhan, Jihan, dan Jova yang mendengarkannya secara seksama begitu sangat terkejut atas penyampaian dari beliau yang mendetail serta mudah untuk dipahami. Apalagi sekarang, dokter tersebut menghela napasnya dengan berat.


“Akibat cairan yang menyebar ke seluruh dalam tubuh pasien dan mengenai organ-organ penting, pasien juga masuk ke dalam kondisi yang sangat Kritis. Tetapi kalian tenang saja, racun zat Kimia yang membahayakan itu akan segera menghilang dengan bantuan cairan obat yang kami salurkan ke infus Reyhan untuk membantu memusnahkan semua racun yang berada di dalam tubuhnya.”


Jova menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan bersama air mata yang tak bisa ia bendung buat kesekian kalinya. “Sahabat saya Kritis, Dok?!”


Dokter itu mengangguk lemah. “Betul, kita hanya bisa Berdoa untuk meminta kesembuhan Reyhan kepada Allah. Semoga pasien secepatnya mampu melewati masa buruk Kritisnya.”


Ketiga sang penunggu pasien, mengamini penuturan kata beliau. Setelah itu sang dokter mengucapkan salam untuk pergi pamit meninggalkan mereka bersama para perawat lelaki yang mengikuti beliau dari belakang.


Dengan kedua kaki yang lemas dan bergetar, Jova melangkah jalan menuju tempat yang bisa dirinya meninjau kondisi sahabat lelakinya nang telah dinyatakan Kritis oleh dokter. Setelah sampai di tujuannya, gadis cantik berambut cokelat itu, menyentuh pembatas jendela kaca transparan ICU.


Hatinya sungguh sakit melihat Reyhan yang terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang pasien bersama beberapa alat medis yang terpasang di tubuhnya. Wajahnya begitu pucat, kedua matanya saling terpejam dengan tenang. Benar-benar pemandangan yang menyedihkan.


“Hiks! Reyhan ... kenapa kamu bisa jadi kayak gini, sih? Mereka memang gak punya nurani hati sampai memperlakukan dirimu hingga Kritis seperti ini!” raung Jova dengan air mata terus mengalir dan enggan berhenti.


“Jovata ...” panggil lirih sang ibunya Reyhan dengan menyentuh bahu gadis itu.


“Hiks, Tante!” Jova berhambur memeluk tubuh Jihan dengan tangisannya yang bertambah deras.


Jihan yang posisinya juga sedang mengeluarkan air. matanya hingga membasahi kedua pipinya, melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Jova untuk membalas dekapannya. Tangisan yang terisak, tersedu-sedu membuat suasana luar ruang ICU semakin mengenaskan.


Farhan menyusutkan air matanya yang hampir jatuh mengalir ke pipinya. Hati beliau juga sama-sama sakit mendengar kabar buruk yang menimpa putra semata wayangnya hingga mengalami Kritis ditambah melihat keadaan Reyhan yang malang, dan ingin rasanya Farhan masuk ke dalam ruangan itu untuk memeluk anaknya yang terbaring lemah.


Sampai tiba-tiba terdengar suara kasur roda didorong bersama beberapa orang yang bising akan tangisannya masing-masing. Mata Jova yang sembab, terbelalak di saat tak sengaja menatap sahabat lelaki satunya yang keadaannya terbaring lemah bersama pakaian pasien yang dikenakannya, perban kepala yang membaluti, serta sebuah selang medis nang tersumpal di mulutnya.


“Angga!”


Jova langsung berlari menghampiri sahabat lelaki Indigo-nya yang terbaring tak berdaya di atas ranjang pasien. Gadis itu juga bisa melihat sosok Freya dan kedua orangtuanya Angga nang nampak mencemaskan kondisinya yang begitu parah.


Lidah Jova terasa kelu untuk berucap dan ia hanya bisa menggenggam telapak tangan kanan Angga yang lemas. Setelah dua perawat lelaki membukakan pintu ruang ICU, ranjang pasien yang ditempati oleh raga Angga didorong kembali dan segera dimasukkan ke dalam ruangan perawatan intensif tersebut.


Sementara kekasihnya, kedua orangtuanya Angga hanya bisa diam memperhatikan ranjang pasien yang didorong oleh beberapa perawat, sedangkan perawat lelaki lainnya terus meremas kantong resusitasi yang tergabung oleh selang intubasi medis nang tersumpal di mulut Angga untuk balik memberikan napas buatan yang mana detak jantungnya telah lemah.


Pada akhirnya setelah Angga dimasukkan ke dalam ruang ICU, pintu ruangan itu ditutup oleh dua perawat karena kondisinya harus ditangani kembali karena ada permasalahan di dalam kepalanya yang mengalami cedera parah.


“Angga juga masuk rumah sakit?! Berarti tidak hanya Reyhan saja?!” kejut Jihan.


Andrana menoleh ke arah sahabatnya lalu mengangguk lemas. “Iya, dan Angga baru saja keluar dari ruang Operasi setelah diinvestigasi. Anakku dan Agra sempat kehilangan banyak darah karena luka parahnya, hiks!”


“Jova! Bagaimana kondisinya Reyhan?! Dia baik-baik saja, kan?!” tanya Freya dengan penuh raut risau.


Jova kembali mengeluarkan air matanya sambil menggelengkan kepalanya. “Malah justru sebaliknya, Frey. Reyhan sahabat kita sekarang kondisinya Kritis di ruang ICU, hiks! Itu yang tadi disampaikan dan dinyatakan sama dokter, gara-gara sebuah racun yang menyebar ke seluruh dalam tubuh Reyhan.”


“Huhu! Apa? Reyhan Kritis?!” Freya begitu tidak menyangka sahabat lelakinya mengalami kondisi yang mengancam nyawa tersebut. Tak hanya Freya saja yang tidak menyangka sekaligus terkejut, tetapi juga Agra dan Andrana.


“Hiks! Aku itu bingung! Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan mereka berdua?! Mengapa Angga dan Reyhan bisa masuk rumah sakit secara bersamaan?! Apakah karena mengalami suatu kecelakaan?!” gusar Andrana dengan nada parau.


Jova menghapuskan air matanya dengan hati yang mulai timbul amarah. “Bukan kecelakaan lagi, Tante. Tapi mereka berdua dianiaya. Oleh seseorang yang sudah tentu benar dipastikan!”


Rahang Farhan mengeras dengan kedua telapak tangan saling mengepal kuat. “Kamu tahu siapa yang sudah menganiaya Reyhan dan juga Angga? Kalau kamu tahu, berikan Om alamat mereka! Agar Om secepatnya melaporkan seseorang itu ke polisi!”


Baru saja akan menjawabnya, pandangan mata Jova terpusat pada seorang dokter pria yang keluar dari ruang ICU-nya Angga. Kedua mata gadis itu terbelalak sempurna karena ia sangat mengenali beliau.


“Dokter?! Dokter Ello Hanendra?!” kejut Agra saat menatap dokter pria yang telah menangani putranya.


“I-ini bukannya dokter yang dulu pernah memantau Angga saat mengalami Koma dua bulan?!” gegau Andrana setengah yakin.


Kedua orangtuanya Angga begitu kaget melihat sosok dokter masa lampau yang kembali mereka tatap. Karena saat putranya di keluarkan dari ruang Operasi, mereka tidak melihat satupun dokter kecuali beberapa perawat yang bertugas mendorong ranjang pasien Angga menuju ke lorong lantai 4 ini.


Dokter pria yang bernama Ello Hanendra, menghela napasnya panjang sembari membawa sebuah daftar kertas catatan medisnya yang dialas oleh papan clipboard warna hitamnya.


“Pak Agra? Bu Andrana? Tak menyangka kita bertemu lagi setelah sekian lama tidak berjumpa, dan kita dipertemukan kembali di sini pada kondisi Anggara yang sangat begitu parah,” ucap lesu dokter Ello dengan wajah kusutnya.


“D-dokter! Tapi apakah Anggara akan baik-baik saja?! Anggara akan segera kembali pulih, kan?!” desak khawatir Agra.


Dokter Ello memejamkan matanya sesaat lalu mendengus pelan. “Bapak bertanya seperti itu? Maaf, Pak bukannya saya ingin memarahi terhadap kondisi Anggara saat ini. Tetapi akibat luka kepala yang begitu fatal membuat keadaannya sangat tidak baik-baik saja.”


Dokter Ello menarik napasnya panjang lalu menghembuskannya dari mulut. “Pak, Bu? Apakah kalian ingat saran-saran dari saya saat waktu di ruang beberapa bulan yang telah berlalu? Saya mengeluarkan banyak saran yang bisa membuat Anggara tetap bertahan hidup dengan kondisi cederanya. Dan sekarang ... lihatlah kondisinya. Ini jauh lebih parah dibanding dahulu saat Anggara mengalami insiden peristiwa itu.”


Agra menundukkan kepalanya dengan hati penuh penyesalan. “Maafkan saya dan istri saya, Dok! Kami sebagai orangtuanya Anggara kurang bisa menjaganya dengan ketat hanya karena tugas pekerjaan di luar kota!”


Lagi-lagi dokter Ello menghela napasnya. “Yasudah, Pak. Tidak apa-apa, namun mohon maafkan saya karena harus menyatakan kabar terburuk dari kondisi parahnya Anggara.”


Dokter Ello mulai menengok kertas yang ia pegang bersama papan alasnya sejenak lalu menatap kedua orangtuanya Angga dengan wajah suramnya. “Setelah saya di dalam ruang ICU menilai angka skala atau menjumlahkan hasil total faktor dari keparahan cedera kepala yang Anggara alami, tingkat keparahannya berada di nilai angka skala tiga yaitu nilai paling terendah.”


Mereka semua mendengar penjelasan dokter Ello yang profesional tersebut sampai hingga beliau menghembuskan napasnya lemah dengan menundukkan kepalanya. “Yang ada di sini terutama untuk kedua orangtuanya Anggara harus tegar hati setelah saya menyampaikan deklarasi buruk yang terakhir.”


Dokter Ello mengangkat wajah resahnya. “Seperti yang saya jabarkan tadi, nilai angka skala tiga yakni nilai paling terendah membuktikan dan menunjukkan bahwa Anggara masuk ke dalam kondisi yang amat memprihatinkan, yaitu ... kembali mengalami Koma.”


Tangisan Andrana langsung pecah dengan membenamkan wajahnya di dada Agra, sementara suaminya yang sangat Syok putranya kembali mengalami Koma, mendekap tubuh Andrana dengan erat. Air matanya yang tertahan kini tak bisa Agra bendung lagi.


Tubuh Freya melemas mendengar kabar buruk yang telah dokter Ello sampaikan dengan berat hati. “Anggara, Koma ...?”


Raga Freya kini sempoyongan dalam posisi pandangan telah mengabur, lalu gadis itu ambruk jatuh tergelimpang di lantai tak sadarkan diri dikarenakan begitu Syok mendengar kabar bahwa kekasih tampannya kembali mengalami Koma dengan bersama kondisi parah nan teruk lainnya.

__ADS_1


“Freya!!!”


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2