Indigo

Indigo
Chapter 184 | Do it Again


__ADS_3

Sebelum mereka bertiga pulang, mereka sengaja mampir ke kantin RS Medistra Kusuma yang letaknya berada di lantai utama. Sekelompok tiga sahabat tersebut nampak telah membeli makanan yang sesuai tanpa ada bedanya sama sekali. Dan di pertengahan obrolan sembari memakan pop mie kuah di sore hari, terlintas sesosok lelaki misterius di benaknya Reyhan.


Siapakah dirinya? Mau apakah ia? Mengapa pemuda itu seperti mencurigakan di mata Reyhan? Itulah yang dipertanyakan di dalam hati sang lelaki humoris bermata iris hazel autentik.


“Takaran air kuahnya pas, bumbunya juga meresap. Wah, emang top banget, deh yang bikinin!” puji Jova usai menyeruput kuah pop mienya rasa baso.


“Dulu waktu kita masih kelas sebelas, pernah makan pop mie di kantin rumah sakit ini, kan? Emang gak ada tandingannya, hihi!” tanggap Freya.


Saat akan memasukkan mie lezat itu ke dalam mulut, Freya tak sengaja berpusat ke wajah Reyhan yang nampak penuh curiga bahkan pandangan matanya setengah kosong. Ada apa dengan sahabatnya?


“Reyhan? Kamu baik-baik saja? Kok, diam gitu? Ada masalah baru lagi, ya?” tanya Freya sambil menyentuh telapak tangan sahabat lelakinya yang ada di atas meja.


“...” Reyhan bergeming.


“Ini bocah napa, dah ... woi!!!” Di akhir kata, Jova menepuk keras punggung Reyhan.


“Huk! Uhuk-uhuk-uhuk!” Reyhan menutup mulutnya di waktu ia terbatuk-batuk karena tersedak oleh kuah mie pedasnya yang levelnya mencapai 10 cabai.


Freya seketika melotot karena kaget apa yang telah dilakukan Jova hingga membuat Reyhan nampak kesakitan. “Ngawur, ya! Lihat, tuh! Muka sama hidungnya Reyhan memerah begitu! Kalau mau manggil gak usah pakai teriak dan nabok. Kasihan Reyhan!”


“Uhuk! Uhuk! Kamu apaan sih, Va?! Uhuk! Kenapa gak sekalian bunuh aku aja?! Untung gak mati, aku! Kebiasaan, kerjaannya ngagetin orang lagi bengong!” protes Reyhan dengan hendak mengambil selembar tisu dari kotak wadah.


“Ya, abisnya bengong! Duh, sini aku bantuin bersihin mulutmu! Hehehe, maap, ya?” Jova segera merebut tisu yang telah Reyhan cabut untuk mengelap sisa air yang menempel di bagian bibirnya.


Freya yang melihat tingkah barbarnya Jova, hanya menggelengkan kepalanya berkali-kali serta menetap rasa sabarnya di hati. Gadis cantik Nirmala itu cuma duduk diam-manis seraya memperhatikan Jova yang sedang menebus kesalahannya terhadap Reyhan.


“Lagian, mana mungkin aku bunuh kamu? Kehilangan kamu aja aku gak mau!” jujur Jova dengan terang-terangan pada Reyhan setelah mengelap seluruh air yang membekas di bibir sahabat lelakinya.


“Masa?” cibir Reyhan dengan tersenyum sinis.


“Ih! Beneran, tahu?! Kamu pikir aku bohong, apa?!” kesal Jova sembari memukul bahu kokoh milik Reyhan.


“Akh! Jangan mukul juga, kali! Itu tangan satu jangan suka nakal, napa?! Sebel, diriku!” omel Reyhan seraya mengusap-usap bahu kanannya.


Freya mengambil gelas es teh manisnya Reyhan lalu ia berikan kepada sahabat lelakinya yang sibuk mengusap bagian pundaknya. “Nih, Rey. Mending kamu minum dulu tehnya biar tenggorokan kamu gak lagi sakit sama seret. Tuh, suaramu kedengeran serak dari sini.”


“Thanks ya, Frey. Kamu emang sahabat cewekku yang paling pengertian sedunia,” sanjung Reyhan sambil menerima gelas yang disodorkannya.


“Terus kalau aku gak pengertian, gitu sama kamu? Jahat banget!” rajuk Jova hingga melipatkan kedua tangannya di dada seraya memajukan dadanya yang posisi punggungnya bersandar di kursi.


Reyhan auto melirik Jova yang nampak sedang ngambek padanya, apalagi mukanya sampai cemberut. “Eh, ya kamu juga pengertian. Tapi modelnya beda versi.”


Jova yang sedang sebal pada sahabat lelaki satunya itu, tangkas menjewer telinganya sesaat. “Beda versi, beda versi. Kamu pikir apaan?! Versi pergantian nada lagu?! Dasar Tolol!”


Reyhan tersentak kaget pada bentakan suara Jova, membuat dirinya bergidik ngeri. “Masih marah dong, Coy! Iya-iya, minta maaf! Gitu aja udah ngambek, dasar cewek baperan!”


“Perasaan situ tadi minta maaf ke sini, tapi kenapa sekarang malah ngehina aku?! Mau aku tendang sampe nyasar ke hutan Amazon?! Answer me, Nyuk!”


Reyhan meneguk ludahnya dengan susah payah. “Ampun dong, Sableng! Jangan marah lagi, please ... entar aku beliin es krim coklat kesukaanmu, deh.”


“Idih, sori! Aku bukan cewek yang bisa disogok sama makanan kalau lagi bete! Kasih aja aku boneka santet sama jarumnya sekalian. Biar nanti pas malem, kamu aku Santet!” calak Jova.


“Sakit ini, anak! Masa sahabatnya sendiri di Santet?! Itu hati nuraninya dicolong sama malaikat Malik penjaga pintu Neraka kali, ya? Hukumnya Musyrik, woy!”


“Ya, siapa bilang ngelakuin ritual Santet itu hukumnya wajib? Sarap!” sembur Jova.


‘Haduh ... debat lagi mereka berdua. Kayaknya aku harus cepat ngeluarin topik lain, deh biar gak ada cekcok di antara mereka. Daripada masalahnya makin berabe, kan jadi susah nyatuin akurnya.’


“Sudah, dong berantemnya .. apa gunanya, sih bertengkar melulu? Oh ya Rey, ada yang mau aku tanyain, nih sama kamu.”


Reyhan beringsut menoleh ke arah Freya seraya meletakkan gelasnya yang tehnya telah ia teguk. “Apa, Frey?”


“Tadi sebelum Jova ngagetin kamu, kamu lagi mikirin apa? Soalnya pas aku lihat detail wajahmu, kayak lagi merenungkan sesuatu yang urgen.”


“Oh, itu? Hm ...” Reyhan mulai membenarkan posisi duduknya menjadi tegak dengan kedua tangan saling ia taruh di atas meja makannya bersama para sahabat perempuannya.


“Tadi waktu kita bertiga ngobrol ramah sama suster yang mau jagain Angga di ruang ICU, aku sempat lihat seorang cowok misterius yang pakaiannya serba hitam gitu. Mulai baju, celana, sampai aksesoris maskernya. Mirip psikopat tapi bukan psikopat ... dan, aku gak tahu dia siapa.”


Jova yang galaunya telah pudar, mengernyitkan keningnya pada penjelasannya dari Reyhan. “Kenapa, sih?”


“Iya, dia menurutku kayak mencurigakan. Apalagi dia seperti sedang mengintip suara perbincangan antara kita berempat di lantai empat. Bahkan yang bikin jiwa penasaranku mendewa, pas kepergok ngintip, cowok itu langsung ngibrit ngumpet di balik tembok. Bikin pusing, sih siapa sosok misterius itu. Hantu juga nggak mungkin, auranya saja terlihat manusia.”


“Memangnya kamu lihatnya dimana? Karena aku sama Jova gak lihat cowok misterius yang kamu maksud dan kamu deskripsikan itu,” tanya Freya.


“Di daerah tempat arah kanan dengan sejauh jarak lima meter dari kita berdiri dihadapannya suster. Kalian pasti ingat, kan di sana ada batasan dinding di lorong lantai empat pas-pasan jalan pembelokan?”


“Kita saja hampir setiap hari jenguk Angga, pasti ya kami berdua ingat pake banget. Lalu, kamu gak ada niatan buat samperin dia untuk meminta keterangan kenapa dia ngintip segala kayak mata-mata gitu?”


“Nah! Bodohnya aku di situ. Aku gak sempet jalan ke dia untuk ngecek! Terlebih, kamu sudah tarik aku ke lantai utama untuk makan di kantin sama Freya.”


“Nah, berarti bodohku juga! Sumpah, sih. Setelah aku dengar penjelasanmu tentang seorang cowok misterius itu, aku jadi ngerasa ketar-ketir sama Angga. Takutnya kalau cowok itu mau macem-macem sama sahabat kita dan pacarnya Freya,” ungkap Jova.


Freya menipiskan bibirnya dengan wajah ketakutan. “Jangan bilang begitu, dong. Semoga saja cowok itu gak ada maksud apa-apa, lagipula Angga, kan sekarang pasti lagi dijaga sama susternya tadi. Jadi, bisa dijamin aman.”


“Aamiin, semoga saja benar ...” respon kompak antara Jova dan Reyhan.


Mereka bertiga kini walau menghabiskan makanannya, kepalanya dalam pikiran saling berkutat memikirkan sosok lelaki misterius tersebut. Mereka berharap dirinya tidak berperilaku tak senonoh pada korban yang didambakan.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Pemuda misterius itu yang tadinya bersembunyi karena ketahuan mengintip oleh Reyhan, kini memajukan tubuhnya untuk memastikan situasi terlebih dahulu sebelum melangkah ke tujuannya. Mata sipit itu nampak sinis dan tajam melihat seorang perawat pria berusia 30-an tahun sedang sibuk ditelepon oleh seseorang.


“Iya-iya! Sudah, ya? Saya, tuh lagi dikasih tugas sama dokter buat jagain pasiennya. Kamu malah nelpon saya di jam yang gak tentu.”


Setelah mengakhiri pembicaraannya lewat telepon, perawat pria itu segera memasukkan ponselnya ke dalam saku kantong celana dan mulai melangkah menuju ke ruang perawatan intensif Angga untuk masuk ke dalam dan menjaga pasien lelaki tampan tersebut. Sang pemuda misterius yang mengenakan jaket hitam tertutup, segera cepat melangkah mengikutinya setelah begitu tahu beliau memutuskan hubungan teleponnya di ponsel.


Saat hendak membuka pintu, perawat penjaga itu merasakan ada seseorang yang sengaja mengikutinya dari belakang. Karena penasaran, beliau langsung memutar tubuhnya ke belakang, sementara sosok lelaki misterius itu yang peka segera bersembunyi cepat dibalik tembok.


“Gak ada siapa-siapa. Perasaan tadi ada yang ngikutin saya, deh. Alah! Mungkin perasaan saya doang, terlalu parno sama yang namanya hantu.”


Dalam balik masker hitam yang dipakai oleh lelaki misterius itu, bibirnya membentuk senyum iblis. Ini sepertinya adalah waktu yang sangat tepat untuk ia melakukan aksinya. Tanpa membuang banyak waktu lama lagi, dirinya langsung berlari kencang ke arah perawat pria yang ingin membuka pintu.


“Ha-” Baru saja akan berteriak karena terkejut, pemuda misterius itu langsung cepat membekap mulut perawat tersebut yang di telapak tangannya terbungkus kaus tangan hitamnya.


“Diem!” tegas pemuda itu lalu mengeluarkan sebuah alat ampuhnya untuk menghilangkan kesadaran sang perawat yang nampak ketakutan menatap mata tajamnya.


Keringat dingin mengucur membasahi dari kening hingga pelipisnya beliau saat melihat alat senjata mematikan semacam pistol yang di dalamnya terdapat suatu cairan entah apa. Perawat itu terlihat tak bisa berkutik sedikitpun untuk melawan sosok misterius tersebut yang lebih muda daripadanya.


Tubuhnya spontan menegang hebat saat ujung jarum dari pistol ditancapkan ke sisi lehernya, sementara kedua matanya saling membelalak lebar sebelum pandangannya memburam drastis dan menggelap waktu raganya seperti disetrum oleh alat yang digunakan lelaki berpakaian hitam.

__ADS_1


“Gotcha, hahahaha!” Lelaki itu auto memagut tubuh lemas perawat penjaga pasien tersebut seraya menoleh ke belakang untuk memastikan tak ada satupun orang yang lewat dan melihat aksinya.


Karena merasa situasi ini aman terkendali, ia mulai menarik paksa tubuh sang perawat ke ruangan lingkup tempat memakai gaun hijau penjenguk pasien yang dirawat intensif. Setelah berjaya membawanya ke dalam, dengan kasar pemuda misterius itu lekas menjatuhkan perawat tersebut di lantai lalu sigap keluar serta menutup pintunya.


Dengan hati yang tak sabar ingin menuntaskan keinginannya, lelaki misterius itu berjalan empat langkah menuju ke ruang ICU-nya Angga yang berada di sebelahnya kemudian membuka pintu ruangan tersebut. Baru saja akan memasukkan kakinya ke dalam ruang intensif, pemuda itu langsung disuguhkan hawa dingin serta suara mesin monitor detektor jantung.


Setelah tak lupa menutup pintu dari dalam, ia melangkah santai sambil menatap Angga yang terbaring lemah di ranjang pasien bersama beberapa alat medis yang terpasang di raganya termasuk satu alat Ventilator medis berupa selang panjang yang tersumpal di mulutnya.


Pemuda itu berhenti melangkah saat tiba di sisi ranjang pasien tempat Angga terbaring Koma. Wajah lelaki tampan Indigo tersebut nampak begitu pucat dan sudah nyaris seperti mayat. Bibir tipisnya juga kering, membuat yang meninjau dirinya, tersenyum puas menatap Angga nang sangat tak berdaya di dalam ruang ICU.


Di kedua matanya yang senantiasa tertutup damai, terdapat lingkaran hitam dibawah kelopaknya maupun atasnya. “Lo Koma? Kenapa gak sekalian mati saja, sih? Ribet doang!”


Lelaki misterius yang belum bisa dikenali itu, menggerakkan kerja tangannya untuk mencabut jarum infus serta jarum transfusi darahnya Angga dari telapak tangan kirinya. Dan di layar monitor, angka HR Medis yang menetap ialah 55 menjadi turun tiga angka walau suara mesinnya belum berubah.


Merasa kerjanya belum terpuaskan, ia beralih membuka seluruh kancing baju pasien yang Angga kenakan untuk melakukan aksi berikutnya. Tentu buat mengakhiri nyawanya, pemuda misterius itu menambahkan luka perut Angga yang telah dijahit beserta dibalut melingkar sampai punggung oleh perban kasa di luarnya.


“Karena gue hobi menyiksa, bolehlah gue membuat lo mati di sini, hahahaha!”


Pemuda itu dengan kejamnya, menonjok perut Angga tepat di lukanya yang ditutupi perban. Memukulnya berkali-kali hingga timbul kembali mengeluarkan darah perlahan yang mulai tembus ke perban kasa tersebut. Bahkan tawa gembira dari lelaki bermasker itu menggelegar hingga sampai sudut ruangan.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


“Bapak dan Ibu bisa melihat hasil foto Rontgen ini. Di bagian warna biru ini adalah tempurung kepala milik Anggara, dan di sebelah kanannya yang bergaris putih ini adalah menunjukkan bahwa ada sebuah keretakan di sini. Bisa mampu kalian pahami?” tanya dokter Ello setelah jari telunjuknya menunjuk-nunjuk bagian yang beliau jelaskan.


“Berarti maksud Dokter .. di bagian kepala Anggara mengalami keretakan?!” kejut Agra.


Dokter Ello mengangguk pelan sambil tetap memegang kertas foto Rontgen di tangan kirinya. “Benar, Pak. Akibat dari semua itu karena kepala Anggara dihantam oleh benda keras hingga membuat menjadi cedera seperti ini.”


Andrana menutup mulutnya dengan satu tangan bersama air mata berderai membasahi pipinya. “Apakah harus di Operasi, Dok?!”


Dengan senyum tipis, dokter Ello menggeleng. “Tidak perlu, Bu. Ini hanya keretakan kecil yang terjadi di kepala Anggara, hanya menunggu dan membutuhkan selama beberapa bulan untuk fase pemulihan.”


Andrana menghela napasnya dengan memejamkan matanya. Hatinya begitu lega setelah mendengar ungkapan sang dokter, begitupun Agra sama seperti istrinya yang lega. Walaupun demikian, mereka berdua tetap tidak menyangka Angga bisa separah ini dampak dari tragedi aniaya tersebut.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Lelaki misterius itu nampak heran setelah memberikan kekerasan fisik pada Angga karena sama sekali tidak ada reaksinya. Mungkin yang ia lakukan ini belum sepenuhnya, dan dengan rasa kesal dirinya langsung beralih melepaskan paksa beberapa kabel EKG yang tertempel di badan Angga.


Sampai akhirnya ada sebuah ide cermat sekaligus jahat dibenak pikirannya. “Oh iya! Alat oksigen itu, kan nyawa hidup diri lo. Jadi jika gue rebut, mungkinkah tugas gue akan kelar? Hahahaha, gue emang pinter!”


Pemuda itu berjalan selangkah lalu mulai melepas beberapa plester putih yang ada di antara dekat pipi dan mulut Angga untuk mencabut Ventilator yang terpasang di dalam mulutnya. Kemudian setelah para plester itu telah ia lepaskan, dirinya mulai menarik selang ETT atau disebut sebagai Endotracheal Tube yang berukuran panjang itu dari trakea Angga sampai ke luar mulutnya.


Berselang detik kemudian, kedua telinga lelaki itu langsung pengang karena diisi suara kebisingan dari mesin monitor pendeteksi jantung, di sisi lain hela napas dada Angga yang beralun tenang kini menjadi cepat nan tak beraturan. Terdengar pula dari suara mulutnya yang terbuka setengah, mengeluarkan desau berkali-kali dimana Angga kesusahan mendapatkan pasokan oksigen ke dalam raganya yang sangatlah lemah.


Karena pemuda misterius itu tak ingin nyawa Angga selamat berkat pertolongan dari dokter, ia segera memutar tubuhnya lalu menghancurkan mesin alat pacu jantung hingga tak berfungsi lagi. Sebelum ia pergi, dirinya juga menjatuhkan tiang infusnya Angga di lantai hingga menimbulkan suara keras.


PRANG !


Cklek !


“Sial! Siapa yang masuk?!” Pemuda itu dengan panik segera berlari ke suatu persembunyian yang aman.


“Astaga! Pasien Anggara!!!” teriak perawat wanita yang ingin mengambil suatu alat dari perintahnya sang dokter.


Perawat tersebut segera berlari kencang menghampiri Angga yang posisinya sudah terlepas dari alat Ventilator dan beberapa alat medis lainnya. “Siapa yang sudah melakukan ini?!”


Perawat wanita itu semakin dibuat terkejut saat melihat darah perut yang menembus di pembalut perban kasa milik Angga dan angka HR Medis nang di dalam layar monitor yang semakin menurun bersama suara derunya yang sangat bising.


“Aduh! Bagaimana ini?! Tolong bertahanlah sejenak!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Freya menghentikan nikmatnya untuk menghabiskan kuah pop mienya itu. Entah mengapa perasaannya di dalam kantin sungguh tak enak. Seperti ada firasat buruk yang menggerogoti hati beserta pikirannya.


“Kamu napa, Frey? Mukanya, kok kayak gitu?” tanya Jova dengan mengerutkan keningnya.


“Ada apa sama Angga ...?”


“Lah? Emangnya Angga kenapa? Wajahmu sekarang malah jadi kayak khawatir gitu. Kenapa, sih? Ngomong aja sama aku dan Reyhan.”


‘Gawat, kok hati gue jadi gak enak gini, ya? Apa jangan-jangan terjadi sesuatu sama Angga?!’ batin Reyhan dengan detak jantung berdebar.


Freya segera beranjak dari kursi dan pergi dari kantin dengan langkah larinya tanpa menggubris pertanyaan penasaran dari Jova dan tanpa memedulikan orang-orang pengunjung yang berada di dalam ruangan kantin.


“Freya!” teriak Jova pada sahabat lugunya yang telah masuk ke dalam bangunan rumah sakit.


“Untung kami udah bayar! Freya, tunggu!!!” Reyhan ikut berlari untuk mengejar sahabat perempuannya.


Mau tak mau, Jova pun pada akhirnya berlari mengikuti langkah lari besar dari Reyhan yang sedang mengejar jejaknya Freya. Sementara gadis cantik berambut hitam legam itu yang di depan, menabrak tubuh seseorang hingga dirinya agak terpental ke belakang.


“Auw! Duh, lecet!” pekik Freya saat mendapatkan luka lecet di sikut tangan kulit putihnya.


Freya beringsut menoleh ke arah orang yang telah ia tabrak barusan. Seorang lelaki berpakaian serba hitam yang seperti diceritakan oleh Reyhan tadi, kini bangkit berdiri dan berlalu begitu saja meninggalkan Freya yang tengah merintih kesakitan.


Bug !


“Woi! Jalan pake mata! Buta ya, lo?!” sentak Reyhan saat tubuhnya bertubrukan pada pemuda misterius yang telah melakukan kebengisan terhadap Angga.


Tanpa meminta maaf terlebih dahulu, ia langsung melanjutkan langkah larinya meninggalkan Reyhan yang tersulut emosi karenanya. Matanya terus tajam melihat kepergian lelaki asing itu hingga tak terlihat lagi.


“Anjir! Siapa, sih dia?! Gak tahu sopan santun banget, dah! Untung gue gak cedera!” umpat Reyhan.


“Freya! Duh, kamu gak kenapa-napa?! Mana yang sakit, nih?!” panik Jova sambil duduk bersimpuh tepat sampingnya sang sahabat polos.


“Gak apa-apa, kok. Cuman lecet saja, nggak ada yang parah juga,” jawab Freya sambil tersenyum.


Kemudian pujaan hatinya Angga, menoleh ke belakang dengan raut bingungnya. “Yang aku tabrak tadi siapa, ya? Kelihatannya asing banget.”


“Kamu beneran nggak kenapa-napa? Sini, aku bantu kamu berdiri.” Reyhan yang telah menghampiri Freya, segera membantunya untuk bangkit.


Freya menggelengkan kepalanya. “Beneran gak kenapa-napa kok, Rey. Cuman ... tadi siapa, ya? Aku jadi penasaran dari gelagatnya yang mencurigakan.”


Ketiga remaja itu bersamaan menengok ke belakang untuk melihat kepergian pemuda misterius tersebut yang telah tidak terlihat karena langkah gesitnya nang tergesa-gesa. Raut mereka bertiga pun tampak memasang tampang intens dan curiga.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


“Bagaimana ini, Dokter?! Alat bantu pernafasannya pasien telah terlanjur tercabut!” panik salah satu perawat ke dokter Ello yang sama-sama bimbang.


Sementara kedua orangtuanya Angga yang berada di luar, begitu khawatir terhadap anaknya nang kondisinya sungguh berantakan sepadan ruangan intensifnya Angga. Suara mesin monitor tersebut juga semakin bising dimana terdapat angka yang sangat turun ke 20 dipadukan angka warna merah nang berkedip-kedip.

__ADS_1


Perawat yang ada di dekat kepala Angga, segera mengambil Ambu Bag dari rak kecil aluminium dan lekas memasangnya di antara hidung serta mulut sang pasien yang kondisinya sudah sangat darurat. Sementara hela napas dada Angga tetap tak beraturan karena telah terlanjur kekurangan oksigen akibat ulah sosok pemuda misterius itu yang tugasnya telah tuntas dengan jaya.


Perawat yang memasang Ambu Bag tersebut, terus meremas kantong tabung resusitasi untuk memberi napas buatan sekaligus menetralkan napas milik Angga yang sudah kembang kempis. Perawat lainnya juga mulai mengobati luka perut lelaki pemilik indera keenam itu yang darahnya telah tembus mengenai pembalut perban yang dikenakannya.


Mereka melakukannya dengan sangat intens bersama keringat saling mengucur membasahi tubuh. Dan saat waktu melakukan penyelamatan untuk jiwanya Angga yang telah diujung tanduk, mesin monitor pendeteksi jantung berganti bersuara yang sungguh nyaring. Dokter Ello dengan terkejut, menatap layar monitor tepat matanya melihat pada garis serta angka HR medis yang antara bergaris datar nan angka 0 nang tertera jelas.


Perawat yang terus memberi napas buatan untuk Angga, seketika menghentikan aktivitasnya akibat terkaget setengah mati. Tanpa membutuhkan instruksi dari dokter, perawat yang telah mendirikan tiang infus, segera meraih mesin alat pacu jantung. Tetapi sayangnya....


“Ya ampun! Astaga! Bagaimana ini, Dok?!”


“Ada apa, Sus?!” kaget dokter Ello seraya menoleh ke belakang.


“Mesin untuk menyalurkan aliran listrik ke jantung pasien, telah rusak dan hancur! Mesinnya juga sudah tidak berfungsi lagi, Dok!! Bagaimana, Dokter?!”


Dokter Ello yang sedang dilanda kepanikan walau sudah berusaha tetap tenang, segera menurunkan total ranjang pasien hingga menjadi datar lalu mulai ambil tindakan untuk melakukan CPR dari singkatan cardiopulmonary resuscitation dengan cara menumpukkan kedua telapak tangannya di tengah dada Angga yang bertelanjang lalu menekannya berkali-kali untuk berupaya mengembalikan semula detak jantung pasien Komanya yang telah henti.


Dengan sekuat tenaganya, Dokter Ello menggenapi tindakannya bersama seraya tetap menatap layar monitor untuk berharap angka 0 itu menaik begitu juga garis grafiknya merubah semula.


“S-saya akan mengambil alat Defibrillator di ruangan ICU sebelah! Tolong tunggu saya sebentar, saya bakal segera kembali ke ruangan ini!”


“Bergegas, Suster!!!” tegas dokter Ello menatap perawat beda gender itu sekilas lalu balik fokus menyelenggarakan tindakan pertolongan fundamentalnya.


“Ya, Dok!”


Perawat wanita yang tadi telah pencet tombol emergency untuk memanggil tim medis, kini berlari kencang membuka pintu dan keluar dari ruangan rawat ICU-nya Angga buat mendorong mesin pengembalian detak jantung itu dari ruang intensif yang letaknya berada di samping.


Bertepatan saat masuk ke dalam ruang ICU tempat dimana dulu Reyhan Kritis di sana, ketiga remaja berseragam SMA elite itu tiba. Mereka juga tak sengaja bertemu kedua orangtuanya Angga yang saling menangis meratapi kondisi putranya.


Freya yang sedari tadi hatinya membuncah panik, menoleh ke arah kaca jendela pembatas ruangan ICU kekasihnya. Begitu tahu melihat keadaan raga Angga dikepung banyak perawat beserta satu dokter yang terus menetapkan tindakannya, gadis itu spontan melangkah ingin masuk ke dalam ruangan.


“Angga!”


“Freya! Di sini saja, biarkan Angga ditangani terlebih dahulu sama dokter dan suster di dalam sana!!” ungkap Jova sambil menahan badan sahabatnya.


“Ini sebenarnya ada apa?! Kenapa ruang ICU sahabat gue begitu berantakan?! Siapa yang telah berani berulah?!” racau Reyhan tak karuan menatap ruang rawat ICU Angga yang memang terlihat amburadul.


“Benar firasatku! Angga gak baik-baik saja, huhuhuhu! Anggaraaaaaaa!!!” Freya semakin mengeluarkan banyaknya air tangisan dari matanya, sementara Jova langsung merengkuh tubuhnya untuk berusaha memberikan nirwana ketenangan


Di sisi lain, perawat wanita yang telah datang sambil mendorong mesin alat pacu jantung, langsung diraih singkat oleh dokter Ello untuk bergegas mengalirkan listrik dari alat ampuh tersebut ke jantungnya Angga. Perawat lelaki yang sedang membantu menetralisir napas pasien agar kembali normal nan beraturan seperti sediakala, segera menjauhkan Ambu Bag-nya saat melihat sang dokter akan menempelkan kedua alat Defibrillator ke dadanya Angga.


Satu kejutan dari alat pacu jantung itu, belum berhasil untuk mengembalikan detaknya. Dokter Ello menggelengkan kepalanya dan tetap berusaha menggunakan alat Defibrillator tersebut untuk menyelamatkan nyawa pasiennya sebelum berubah menjadi pupus.


Tit..


Tit..


Yang ada di dalam ruangan ICU Angga, segera cepat menoleh ke arah layar monitor. Mereka begitu lega waktu menatapnya yang mana angka 0 HR medis bertingkat naik drastis beserta garis kontinu datar itu berubah menjadi bentuk zigzag layak seperti sebelumnya.


Napas dokter Ello yang sesak karena takut jikalau gagal menyelamatkan jiwanya Angga, kini beliau meletakkan kedua alat pacu jantung itu pada atas mesinnya lalu mulai mengelap keringat keningnya. Setelah itu, sang dokter mulai melangkah untuk melakukan kegiatannya memasang alat bantu napas Ventilator ke dalam mulut pasien Komanya.


Menatap lelaki tampannya sedang disumpal dengan selang Intubasi medis oleh dokter bersama beberapa diplomasi telaten, Freya terduduk lemas di lantai. Air mata pun belum kering alias basah, menangisi kondisi Angga yang sepertinya semakin bertambah parah dibanding kemarin hanya karena disebabkan perbuatan jahat pemuda sosok misterius yang identitasnya belum bisa dipastikan dan dikenali.


“Frey, sudah jangan nangis ... Angga masih bisa di selametin sama dokter, kok.” Jova berjongkok untuk memeluk raga lemas sahabatnya.


“T-tapi! Huhuhu!” Freya langsung berhambur memeluk tubuh Jova dengan tangisan derasnya. Hatinya begitu takut dan cemas terbagi dua bila sesuatu buruk itu akan terjadi pada kekasihnya.


“Enggak, enggak. Kamu jangan berpikiran negatif dulu seperti itu. Angga pasti bakal baik-baik saja, oke? Sudah, dong berhenti nangisnya. Entar aku ikutan nangis lagi, nih.”


“Hiks! Hiks! Aku takut!”


Melihat Freya yang emosi ketakutannya tak bisa lagi dikendalikan oleh situasi keadaan, Jova hanya bisa mengelus punggungnya lembut bersama dekapan hangatnya. Entah mengapa gadis Tomboy bermata hazel itu bisa mengerti perasaan hatinya Freya yang butuh ketenangan dari seseorang.


“Duh! Sakit banget kepalaku ...” keluh sang perawat penjaga yang tadi telah dibuat hilang kesadarannya.


Reyhan yang melihat beliau, segera berjalan dengan kedua telapak tangan saling mengepal kuat. Rahangnya juga terlihat mengeras karena saking emosi marahnya yang sudah meledak-ledak.


Brak !


Reyhan membenturkan tubuh belakang perawat itu di pintu yang terbuka lebar dengan kedua telapak tangan menyergap kerah seragam putihnya bersama mata mencuat tajam. Melihat tatapan amarah dari Reyhan, membuat nyali beliau menciut.


“M-mas?”


“Apa mas-mas?! Bukannya tadi Suster harusnya menjaga Angga di ruang ICU?! Tapi kenapa malah di sini?! Lihatlah! Nyawa sahabat saya nyaris tidak tertolong karena beliau! Saya keraskan, Suster harus bertanggung jawab atas keteledoran beliau sekarang juga!!! Sahabat saya menjadi semakin parah di Komanya tahu, tidak?!”


“Santai dulu, Mas! Jangan galak kayak gitu! Saya tidak tahu apa yang telah terjadi, sumpah!” desak perawat sang penjaga pasien.


“Bohong!!! Jangan pikir saya percaya!” sarkas Reyhan seraya menarik kerah seragam beliau.


“Ya Allah, Mas! Demi Allah saya berani bersumpah! Saya benar-benar gak tahu apa yang sudah terjadi!”


‘Aduh! Udah gila ini si Reyhan?! Ngamuk sih, ngamuk! Tapi jangan nyerang orang yang umurnya lebih tua juga, kali !’ ujar Jova dalam kalbu.


“Sudah, Reyhan! Sudah!” pungkas Agra seraya menarik tangkas badan pemuda itu ke belakang yang hatinya sudah terlanjur emosi tinggi.


“Om! Tapi gara-gara suster ini, kondisi Angga semakin parah! Reyhan tidak terima!!” sanggahnya.


“Reyhan, suster ini memang tidak tahu apa yang sudah terjadi setelah Om baca pikirannya. Ada seseorang yang sengaja mencelakai Angga,” jelas Agra seraya meredamkan emosi apinya Reyhan.


“Suster memang benar sungguh tidak tahu apa yang telah terjadi, ya?” tanya Andrana yang masih terdapat bekas air mata di kedua pipinya.


“Bener, Bu Andrana! Saya beneran gak tahu apa yang sudah terjadi! Bahkan saya juga gak tahu kenapa saya bisa terbaring di lantai dalam ruangan ini! Ampuni saya, Bu! Pak! Mba! Mas! Maaf kalau mungkin gara-gara saya membuat kondisi pasien mas Anggara makin drop, huhu!” ucap mohon sang perawat dengan raut gelabah.


Perawat pria itu beralih memejamkan matanya dengan napas berat serta detak jantung berdegup kencang. “Matanya mas Reyhan itu, lho! Kayak mau bunuh saya secara horor. Hih, sereeeeeem!!”


Reyhan membungkam mulutnya dengan rasa emosi yang telah sirna saat sudah mengetahui jika perawat pria petugas menjaga pasien itu tidak bersalah. Dan kini feeling-nya bergerak melintang ke sosok pemuda misterius yang tak sengaja menabraknya tadi di lantai utama. Apakah betul lelaki itu yang telah mencelakai Angga?


Itulah sebuah satu pertanyaan yang Reyhan lontarkan di dalam relung batinnya. Akan namun, dirinya tidak bisa langsung menerka secara inferior bahwa seorang sosok misterius tersebut yang sudah merusak atau memperburuk kondisi Komanya sang sahabat hingga menjadi lebih menanjak drop dan down.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di bawah langit sore yang berwarna oranye, lelaki itu mengatur napasnya sejenak di parkiran roda dua tepatnya samping motor besarnya. Keringatnya terus merembes ke pelipis hingga pipinya karena begitu takut jika endingnya diketahui oleh Reyhan, apalagi pemuda Friendly bertubuh postur jangkung itu telah memergokinya bila sedang mengintip.


Karena merasa pengap dan gerah, pemuda misterius itu segera melepas masker hitamnya yang menutupi antara hidung dan begitu pula mulutnya. Kini sudah mampu diyakinkan bahwa sosok lelaki itu adalah....


“Lo pikir gue akan diam saja saat tahu lo Koma? Gak! Gue pasti akan membuat lo pergi dari dunia! Dendam gue belum tersingkirkan hanya karena lo cuma di kondisi ambang antara mati dan hidup!”


Seorang lelaki misterius yang berbadan adiluhung mencapai hingga 180 sentimeter, bermata iris hijau, dan pemilik aura hitam sudah tak bisa di herankan lagi bahwa itu adalah Gerald Avaran Dedaka sang pemuda yang pernah datang di masa lalunya Angga.


Merasa hatinya telah puas dan keinginannya telah terdamba, Gerald segera mengenakan maskernya kembali agar orang-orang di sekitar lingkungan RS Medistra Kusuma tak bisa mengenali dirinya yang merupakan pelaku kasus kriminal. Dikarenakan Gerald diam-diam telah usai berencana melarikan diri dari penjara kantor polisi dengan cara liciknya.

__ADS_1


Tentunya bersekongkol untuk kerjasama dengan Rain serta Teivel yang merupakan komplotan gengnya dari Gerald dan Emlano. Kedua nama inisial R begitupun T tersebut merancang strategi licik lepau membebaskan koleganya saat menjenguknya di kantor polisi sekitar beberapa hari yang lalu.


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2