
“Maafin gue Rey!!”
Napas yang ngos-ngosan berhasil membuat keringat dingin berjaya membasahi pakaian yang Angga pakai. Pandangan Angga menelisik seluruh ruangan yang familiar di penglihatannya. Angga tolehkan kepalanya ke kanan kiri secara bergiliran.
Wajah Angga begitu linglung apa yang terjadi dengannya hingga terdengar suara nang mampu mengusik di sepasang telinganya. Detak jantung yang masih berdebar kencang belum sanggup Angga normalkan sampai telapak tangan kirinya menyentuh dadanya sambil terus mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
Angga mencoba menoleh ke arah kanan yang terdapat suara deringan ponsel di posisi dirinya telah duduk. Angga raih bersama tangan kirinya usai ia lepaskan dari dadanya. Setelah mengambilnya dari meja nakas, rupanya itu adalah suara alarm ponselnya. Hingga ada satu pandangan yang membuat kontak mata Angga saling terpusat di layar atas HP-nya.
“Senin? Jam enam pas?”
Angga menelan salivanya dan beralih mengedarkan pandangan matanya setempat. Mata Angga berkedip-kedip masih dengan muka linglung. “Kenapa gue bisa ada di dalem kamar? Bukannya...”
“S-sial! Sudah buat tegang ternyata semua cuman mimpi!” ucap geram Angga dengan menyibak rambut hitamnya ke belakang.
Angga kemudian mematikan alarm handphone miliknya dan menghembuskan napasnya lega karena hanyalah mimpi yang terjadi pada peristiwa mengerikan itu dimana lelaki tersebut belum siap melepaskan kepergian Reyhan yang sangat tiba-tiba.
Angga mematikan layar ponselnya dan menghadapkan mukanya ke depan pintu kamar yang masih tertutup rapat. “Kenapa gue bisa mimpi itu? Kenapa yang terlibat sebuah kematian itu si Reyhan? Apa ini adalah suatu tanda-tanda buruk yang akan terjadi dengan Reyhan habis ini??”
Otak Angga terputar ke mimpi yang berhasil membangunkannya. Hingga bola mata Angga tak sengaja menengok bingkai foto dirinya bersama Reyhan yang mana mengenakan seragam SMA Internasional tersebut.
Mata Angga terbelalak lebar sempurna sekaligus menggeser tubuhnya mundur saat terdapat retakan gaib di kaca bingkai foto bagian wajah Reyhan sampai badannya. “R-retak?!”
Angga mengatupkan bibirnya dengan mata tajamnya bersama kepalan kedua telapak tangannya, lelaki Indigo itu sudah bisa menerawang dan begitu yakin bahwa sebentar lagi Reyhan akan terjadi sesuatu yang memilukan.
“Reyhan dalam bahaya!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
RS Wijaya - Kamar Rawat 106
Reyhan menatap lemah kedua orangtuanya yang juga menatapnya dengan muka teduhnya masing-masing. “Kalian kalau mau pulang, pulang saja ... tinggal Reyhan di sini nggak apa-apa.”
Jihan memajukan kepalanya. “Kamu yakin enggak apa-apa ditinggal sendiri di sini, Nak? Kalau diperkirakan Mama sama papa ke sini lagi siangan, lho.”
Reyhan menggelengkan kepalanya. “Jujur gak apa-apa. Toh kalau Papa sama mama berlama mulu di sini, yang ada rumah kita di komplek malah jadi terbengkalai dihuni sama hantu karena gak dirawat. Apa gak serem, tuh ...?”
Farhan tersenyum hambar dengan mendengus usai mendengar perkataan dari anaknya yang masih terlihat begitu lemas, namun sudah terlepas dari alat oksigen ialah Nasal Kanul. “Masih pagi jangan main nakut-nakutin bisa nggak sih, Rey?”
“Lah, Papa takut?” tanya Jihan dengan kening berkerut heran pada ujaran suaminya pada putranya yang tengah duduk di atas ranjang pasien.
“Papa? Takut? Oh ya enggak dong! Sebagai kepala rumah tangga, Papa harus menjadi jiwa yang pemberani,” ucap Farhan dengan percaya diri dibalas tawa oleh istrinya sementara anaknya hanya nyengir.
“Mama sama Papa bisa tinggalin Reyhan, jangan peduliin Reyhan terus napa. Itu rumah juga dipedulikan, kalau enggak nanti nangis minta dijual ...”
Reyhan tertawa kecil usai mengutarakan ucapannya. Ya, lelaki itu meskipun dunianya sedang kelam namun dirinya berusaha untuk tersenyum dan tertawa agar kedua orangtuanya tak merisaukannya.
“Bisa aja kamu. Yasudah kalau Reyhan maunya begitu, nanti siang pasti Mama papa cepet baliknya kok.”
Jihan mencium kening Reyhan kemudian dengan tersenyum Jihan mulai mengikuti langkah Farhan yang hendak membuka pintu kamar rawat. Tetapi sebelum pergi, Farhan melambaikan kecil tangannya pada anaknya. “Baik-baik di rumah sakit ya, Rey.”
Reyhan menganggukkan kepalanya pelan dengan senyum lebar. “Siap, Pa.”
Reyhan menyandarkan punggungnya di bantal dengan gerakan lemah usai kedua orangtuanya pergi meninggalkannya ke komplek Kristal. Rangsangan untuk menonton televisi atau berkegiatan ringan apapun mengatasi bosannya, rasanya Reyhan tidak ingin melakukannya. Duduk biasa 5 menit/10 menit membuat tubuhnya menjadi lemas. Suhu tubuhnya masih naik dan belum kunjung turun.
Baru saja ingin memejamkan matanya buat tidur kembali dalam posisi tubuh bersandar, angin berhembus kencang memasuki ruangan hingga membuat jendela yang terbuka lebar langsung tertutup saking kuatnya angin. Otomatis Reyhan menegakkan badannya dengan siaga waspada.
“Reyhan ...”
DEG !
Suara lamban dan menggentarkan seketika mampu membuat darah Reyhan berdesir, tubuhnya menegang tetapi kepalanya perlahan menoleh ke sendang suara tersebut. Reyhan menangkap tatapan mata arwah negatif itu yang bola matanya bergelantungan di bawah rongganya. Tetapi entah karena nyali jiwanya yang lemah atau memang karena sakitnya, hal itu membuat seakan tenaga Reyhan menghilang secara tiba-tiba. Menatap Arseno dengan tak berdaya pada kondisi tubuhnya yang sangat lemah.
Gerakan geleng kepala lemas mengeluarkan suara dari mulut manusia itu yang wajahnya terlihat begitu pucat. “Jangan Arseno ... gue mohon jangan ...”
Sembari berjalan mendekati Reyhan, “Sepertinya Aku akan berhasil mengantarkanmu ke ujung kematian, huahahaha!!”
Reyhan tak bisa berbuat apa-apa, susah bagi dirinya untuk mangkir gesit dari hantu mengerikan itu. “Lo mau apa ...? Jangan bunuh gue, gue gak mau mati.”
Arseno menyeringai. “Adakah seseorang yang hendak menolongmu di posisi riwayatmu akan tamat habis ini? Hm??”
Lidah Reyhan mendadak terasa kelu layaknya sudah tak bisa berkata apapun yang keluar dari mulutnya apalagi lidahnya sukar untuk digerakkan. Keringat dingin bercucuran, detak jantung berdegup tak karuan dibuatnya. Meminta tolong melalui tombol kecil merah darurat yang ada di belakang kepalanya, sudah tentunya mustahil karena bisa jadi mereka tak mampu bisa melihat wujud sosok Arseno yang sebentar lagi akan melukainya. Secara astral dan menyakitkan.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
__ADS_1
Angga menghentakkan pelan telapak kaki kanannya berkali-kali dengan perasaan gelisah. Sementara dirinya terjebak macet di jalan kota yang begitu padat di pagi Senin hari ini. Banyak yang klakson saking kesabarannya telah terbatas karena macetnya tersebut. Rencananya Angga memutuskan untuk pergi ke RS Wijaya baru nanti pergi ke sekolahnya. Bayangan-bayangan di benak otak Angga sudah muncul keburukan pada sahabatnya di bangunan rumah sakit tersebut. Tak peduli dirinya terlambat ke sekolah yang terpenting sahabatnya dahulu yang ia utamakan demi keselamatannya.
Angga melepaskan tangan kanannya dari stang motor lalu menilik jam Sport-nya yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 06.38 dan kurang beberapa menit pastinya pemuda pemberani tersebut akan telat masuk sekolah. Bahkan di jalan padat macet ini, Angga tak bisa menyalip mobil truk yang ada di depannya persis. Sudah banyak kendaraan roda dua bermacam jenis-jenis motor yang menghalangi jalannya untuk segera menuju ke rumah sakit.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
BRUGH !!
Tubuh Reyhan dilemparkan dari ranjang pasien ke lantai kamar rawat no 106 tersebut. Otomatis juga jarum infus yang tertancap di telapak tangan kirinya tercabut paksa hingga menimbulkan satu titik darah keluar. Di sisi lain keadaan tubuh Reyhan yang terlungkup, serasa jantungnya ingin pecah karena hantaman itu sangatlah kuat. Lelaki itu yang tak bisa membangkitkan diri hanya mampu merintih kesakitan dengan memegang dadanya tepat dada kirinya.
Tangan Arseno mulai bergerak untuk mengeluarkan kekuatan sihir kegelapannya. Dirinya membuat tubuh raga Reyhan mengambang di udara lalu sosok itu melangkah cepat kemudian mencekik leher manusia tersebut seraya mendorongnya hingga kepala belakangnya membentur agak kencang di tembok sebelah meja nakas.
Awal dari kedua kaki Reyhan menapak kembali di lantai, kini dengan kekuatan maksimumnya arwah itu menarik leher Reyhan ke atas membuat dua kakinya tak menginjak lantai dingin tersebut.
Sementara itu, Angga yang telah terbebas dari macet jalan kota padat sekarang sedang berlari marathon di lorong lantai 3 RS Wijaya cepat-cepat memasuki ruang rawat sahabatnya. Begitu sudah tiba, Angga dikejutkan sekaligus dibuat berangsang oleh kelakuan Arseno yang tengah mencekik leher Reyhan bahkan kedua kaki sahabatnya tak menapak di lantai kamar rawat.
Merasa tahu kehadiran Angga, Arseno segera memutar kepalanya sedikit ke belakang dan menatap manusia Indigo itu sengit. “Kamu lagi!!”
Reyhan yang memejamkan matanya erat membukanya balik. “A-angga ... t-tolong- aaaarrggh!!!”
Reyhan berteriak mengerang kesakitan saat Arseno menggencet lehernya. Angga menatap berang arwah tersebut. “Siasat lo sudah terbongkar! Lo sengaja memperlakukan kejam sama Reyhan hingga sahabat gue gak berdaya karena elo! Lalu setelah itu lo memasuki tubuh raga Reyhan untuk membunuh sahabat gue dengan lo jatuhkan dari atas gedung rumah sakit! Jangan bilang tidak, karena gue mengetahui semuanya!”
Reyhan begitu terkesiap sesuai ekspresi wajahnya, namun keterkejutannya akibat ucapan damprat Angga lebih lemah dibanding kuatnya sakit yang ia alami. Bahkan beberapa detik lagi Reyhan akan kehabisan napas jikalau cekikan itu tak dilepas oleh makhluk astral pembawa malapetaka tersebut.
“Darimana kamu tahu rencanaku!?”
Angga tersenyum miring. “Lo gak perlu tahu darimana gue tahu rencana lo. Sekarang, LEPASIN REYHAN!!!”
Arseno melepaskan cekikannya dan membiarkan Reyhan terjatuh kencang di lantai begitu saja. Di situlah Reyhan langsung terbatuk-batuk keras dengan dada yang begitu sesak. Sementara Arseno tak mungkin pergi tanpa melakukan sesuatu pada Angga sebagai pelajarannya untuk manusia Indigo jiwa kuat serta pemberani itu.
Pisau dari atas meja nakas melayang yang tentu pelakunya adalah Arseno. Dengan cepat pisau tajam tersebut menghunus ke arah Angga.
Sreeett !
Mata pisau tersebut berhasil menyayat telapak tangan Angga dengan sedikit panjang, namun tetap saja darah mulai timbul keluar, dan benda tajam itu tergeletak di bawah Angga. Arseno tersenyum senang lalu menghilang sekejap mata.
Angga mendesis tetapi masih bisa ia tahan, kepala Angga beralih menoleh ke Reyhan yang terbaring lemah tidak berdaya di lantai. Pemuda tersebut berlari mendatanginya. Sementara Reyhan yang kekurangan pasokan oksigen dalam tubuhnya apalagi dirinya tidak bisa meraup udara sebanyak-banyaknya untuk dirinya hirup, pada akhirnya semuanya berubah menjadi gelap bahkan lelaki itu tak melihat lagi dimana posisi Angga berada.
Wajah sahabatnya pula semakin pucat, maka dari itu Angga beranjak berdiri dan melangkah untuk memencet tombol merah kecil yang ada di kepala ranjang pasien. Tak banyak waktu menunggu, dokter Awam dan para perawat masuk dan saling berlarian menghampiri Reyhan yang tergeletak lemah di lantai. Angga mendiamkan beberapa perawat yang mengangkat tubuh sahabatnya ke ranjang pasien.
Salah satu perawat lelaki menghampiri Angga yang raut wajahnya sangat khawatir. “Adek tunggu diluar dulu, ya. Biar temennya diperiksa sama dokter.”
Menolak pun tidak mungkin, Angga harus menurutinya apa perintah dari sang perawat yang sedang mendorongnya pelan keluar dari kamar rawat. Angga sedikit menoleh ke belakang yang mana Reyhan selesai disorotkan matanya oleh cahaya senter kecil kemudian selanjutnya dokter Awam terlihat tengah membuka kancing baju pasien milik sahabatnya dari ujung atas.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
5 menit Angga menunggu.
Dirinya yang telah berada diluar ruangan tengah berjongkok di samping pintu kamar rawat Reyhan yang tertutup rapat. Angga kemudian menengok nanar goresan lukanya yang belum sempat ia cuci darahnya di wastafel.
Hingga saat menatap lukanya, pintu kamar rawat dibuka oleh dokter Awam. Seketika spontan Angga berdiri dan menghampiri beliau. “Dokter!”
“Tenang, Nak. Semuanya baik-baik saja,” ujar dokter Awam dengan menenangkan Angga.
Angga terdiam sejenak lalu bertanya pada dokter pria tersebut, “Apakah sahabat saya tidak akan terjadi sesuatu yang buruk, Dok?”
“Tidak, kok. Namun saat ini Saturasi sahabatmu sangat rendah karena kekurangan oksigen dalam tubuhnya.”
Angga mengaduh dengan mengusap kasar mukanya dengan satu tangan yang tanpa ada luka sedikitpun. Melihat kegusaran Angga, dokter Awam langsung menyentuh lembut atas bahu milik pemuda tersebut yang sedang diselimuti kekhawatiran.
“Tidak perlu cemas, semuanya akan berangsur dengan baik. Pasien hanya butuh terapi oksigenasi untuk meningkatkan kadar oksigen dalam tubuh. Tidak ada yang perlu kamu risaukan,” tutur jelas dokter Awam dengan nada halus.
“B-baik, Dok. Tapi apakah sahabat saya bisa secepatnya sadar?” tanya Angga penuh sungguh-sungguh.
Dokter Awam mengangguk senyum. “Tentu. Dan yang Dokter bilang tadi, Reyhan akan baik-baik saja. Tidak ada sesuatu yang buruk pada keadaan sahabatmu, saat ini pasien sedang diberikan terapi oksigenasi, untuk meningkatkan kadar oksigennya dalam tubuh.”
Angga membungkukkan badannya. “Baiklah, Dok. Terimakasih atas penjelasannya.”
“Sama-sama, Nak. Kalau begitu Dokter permisi.”
“Baik, Dok.”
Setelah melepaskan tangannya dari pundak Angga, beliau melenggang pergi meninggalkannya. Baru saja ingin berjalan masuk ke dalam, Angga kembali terhenti saat beberapa perawat keluar dari ruangan dan mengikuti dokter Awam. Setelah semuanya telah keluar, Angga melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar rawat yang terasa sunyinya.
__ADS_1
Benar kata dokter Awam, Reyhan sedang diberikan terapi oksigenasi yang mana setengah wajahnya telah dipasang alat oksigen yang lain ialah masker oksigen, sementara telapak tangan kirinya telah ditancap jarum infus untuk menyalurkan cairan itu ke dalam tubuh Reyhan.
Angga mendekati Reyhan yang kembali terbaring lemah di ranjang pasien bersama alat oksigen yang mampu meningkatkan kadar oksigennya dalam tubuhnya. Sahabatnya Reyhan meletakkan tas ranselnya di bawah kursi tepatnya sebelah kursi, kemudian Angga berjalan ke wastafel dekat kamar mandi untuk mencuci darahnya agar tak terjadi infeksi.
Saat Angga mencuci luka darah telapak tangan kanannya menggunakan air kran dan sabun, rupanya goresan tangannya tidak terlalu dalam. Maka dari itu nanti setelah membersihkan lukanya begitupun darahnya berhenti mengalir usai Angga tekan dan mengobati luka yang dirinya alami, lelaki tersebut hanya perlu melindungi luka sayatannya menggunakan plester hansaplast.
Angga berbalik badan dan duduk di kursi sisi ranjang pasien Reyhan. Angga membungkukkan badannya untuk membuka resleting tasnya dan mengeluarkan tas P3K kecil. Dirinya meletakkan tas kecil tersebut di atas ranjang pasien sahabatnya. Sesudah membukanya, Angga mengambil alat obat untuk menyembuhkan luka sayatannya tersebut.
Lelaki itu mulai mengobati lukanya dengan telaten lalu terakhir dirinya mengambil plester hansaplast buat menutupi sayatannya untuk membantu proses selama penyembuhan lukanya.
Setelah semuanya sudah tuntas, Angga merapikan alat kesehatannya dan memasukinya ke dalam tas P3K kecil lalu kemudian memasuki tas pertolongan pertamanya tersebut ke dalam tas ransel hitamnya. Saat sadar dirinya belum ke sekolah, Angga langsung cepat menengok jam dinding.
Kedua bahu Angga saling merosot saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 07.20 bahkan dirinya yang telah berdiri kembali duduk di kursi dengan wajah pasrahnya. Menghembuskan napasnya karena sama saja ia bolos sekolah meskipun tidak sengaja.
Lebih baik Angga menjaga Reyhan sampai sahabatnya kembali sadarkan diri. Angga menatap wajah pucat Reyhan yang terpasang masker oksigen, gerakan hela napas di dada milik sahabatnya terlihat lamban akibat kelakuan pedar Arseno pada Reyhan.
Sekarang Angga merasakan ia begitu lelah dengan kejadian yang nyawa Reyhan hampir saja direnggut oleh Arseno. Dirinya lega karena masih punya kesempatan untuk menyelamatkan jiwa sahabatnya.
Angga baru menyadari kalau di luar sana langit begitu mendung akan turun hujan, bahkan suasana itu menghipnotis Angga untuk terlelap dalam tidurnya dalam posisi wajah membenam di tumpukan kedua tangannya yang sepasang tangannya ada di atas selimut tebal sahabatnya yang dikenakannya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Suasana gelapnya malam disertakan gemuruhnya angin membuat tempat menjadi mencekam yang banyak pepohonan nang menjulang tinggi. Ya, Reyhan tengah berada di tempat itu.
Lelaki tersebut mengitari setempat dengan pandangan matanya. “Kayak familiar banget dah ini tempat angker? Kek ... eh anjir! Ini kan jalan pintas rawan kecelakaan itu!”
Reyhan mengacak-acak rambutnya dengan wajah paniknya. “Waduh! Kenapa gue bisa ada di sini, sih?! Kayak gak ada kerjaan aja gue!”
Saat dirinya dilumuri perasaan bingung dan panik mengaduk jadi satu, Reyhan menangkap suara sesuatu di pendengaran telinganya. Suara kebisingan yang mengusik indera pendengaran punyanya Reyhan. Reyhan menolehkan kepalanya ke sumber suara berisik tersebut yang layaknya adu mulut.
“Lo siapa ngatur-ngatur hidup gue, hah?!”
Kedua pria yang mencegah seorang pemuda umur 17 tahun itu bukannya menjawab namun malah tersenyum miring mendengar bentakan lelaki tersebut. Mata Reyhan terbelalak saat bola matanya beralih tak sengaja melihat benda tajam yang dibawa dua pria itu masing-masing, bahkan saking tak ingin menjadi korban, Reyhan gesit bersembunyi di belakang pohon yang ada di pinggir JL Jiaulingga Mawar lalu mengintip mereka dari balik pohon besar.
“Arseno Keindre, hahahaha! Lo nggak tau kami berdua ini siapa?” tanya kedua pria yang tak asing di telinga Reyhan.
“Itu kan Aditama sama si item Arkie,” gumam Reyhan terus mengintip.
“Emangnya gue peduli lo berdua siapa?!” damprat Arseno dengan mata mendelik sengit.
Mata Reyhan sampai berkedip-kedip karena tak percaya yang Aditama serta Arkie cegah adalah Arseno yang wujudnya masih beraga atau manusia. “Itu Arseno?! Beh yang bener aja, eh tapi apa yang mau dilakuin dua biadab itu sama Arseno??”
“Heh, hati buta! Elo tadi udah jatuhin motor gue ke dalem jurang, sekarang lo berdua mau apain gue? Duo bangsat!!” cemooh Arseno dengan nyali berani.
Aditama menggeram jengkel kemudian tangannya cepat mencekik leher Arseno dengan maksimal kuatnya. “Uhuk! L-lepas-”
JLEB !!!
Reyhan kaget bukan main sampai menutup mulutnya saat perut Arseno ditusuk oleh pisau tajam yang berkarat, bahkan hal itu membuat mulut Arseno mengeluarkan cairan warna merah pekat hingga darahnya mengalir sampai ujung dagunya dan menetes mengenai telapak tangan Aditama yang masih mencekik lehernya. Selanjutnya Aditama yang berbadan kekar itu melepas cekikannya kemudian mencekal kedua tangan Arseno hingga pemuda SMA tersebut tak bisa melakukan apa-apa untuk memberontak melawan apalagi darah perutnya terus banyak mengalir keluar.
Arkie sang pria berkulit hitam dan juga memiliki badan yang kekar seperti Aditama menodongkan pisau tadi yang dirinya tusuk ke perut Arseno, nampak jelas pisau itu telah berlumuran darah. “Jangan! Tolong gue mohon jangan bunuh gue!!”
“Hahahaha! Itu kesalahan lo sendiri, goblok! Dan sekarang permintaan mohon lo gak akan gue terima, lo harus musnah di tangan kami!!”
Jleb !
Jleb !
“Waaaarrgghh!!!”
Reyhan bergemetaran hebat saat kedua mata Arseno ditusuk sadis oleh pisau secara bergantian, bak seorang psikopat tanah Jahanam di malam hari, Arkie mencongkel bola-bola mata Arseno hingga keluar dari rongga matanya. Jujur saja, Reyhan paling tidak tega melihat adegan tragedi berdarah ini apalagi yang sudah masuk peristiwa pembunuhan.
Nyawa Arseno kini sudah diujung tanduk dan terakhir sebelum dirinya merasakan kematian yang sangat mengenaskan, tubuhnya di limbung oleh Aditama keras ke tanah kemudian kedua pria sama-sama kejam itu memulai aksinya mencabik-cabik tubuh Arseno menggunakan pisau berkarat tersendiri dengan secara brutal.
Tangan kanan Reyhan yang memegang tegakan pohon, perlahan mengepal kuat. Sebenarnya dirinya tak terima Arseno dihabisi nyawanya namun kedua kakinya seolah terpaku di situ, artinya Reyhan tidak bisa menolong pemuda tersebut.
Mereka berdua membuang jasad Arseno yang telah tak bernyawa lagi ke dalam jurang yang sedalam 30 meter setelah itu tertawa puas karena target mereka telah mati mengerikan di dalam sana.
“Jadi mereka yang sudah membunuh Arseno? Ternyata dugaan gue selama ini gak salah!”
Gawat! Waktu Reyhan mengumpat penuh amarah pada Aditama serta Arkie yang berbadan kekar dari kejauhan, Reyhan tertangkap basah oleh mereka berdua karena diam-diam telah mengintip aksi mereka menganiaya Arseno dan berakhir membunuhnya secara virulen.
Indigo To Be Continued ›››
__ADS_1