Indigo

Indigo
Chapter 99 | Deadly Accident


__ADS_3

Saat ini di dalam kantin yang banyaknya keramaian karena kedatangan para siswa dan siswi untuk mengisi perut mereka yang kosong di imbuh senda gurau di sana. Sedangkan di salah satu meja kantin, terdapat tiga gadis siswi dari bangku kelas X IPA 5 yang tak lain adalah Rainey, Gantari, dan Eliana. Mereka bertiga memang telah menikmati makanannya, namun entah mengapa tak selera. Bahkan mereka tak bisa melanjutkan kegiatan makan-nya hingga tandas.


Rasa kesalahan fatal mereka belum terbayarkan sampai sekarang karena keempat kakak kelasnya bahkan teman sekelasnya yaitu Kyra belum mengucapkan penerima maaf untuk mereka bertiga. Mereka mengakui kalau perbuatan mereka sangat terlarang, tapi ada saja bisikan setan yang membuat mereka melakukan tindakan kriminal tersebut termasuk pembullyan, mulai dari bully secara verbal hingga bully fisik.


Ketiga gadis berumur 16 tahun itu hanya diam tanpa mengobrol-ngobrol, biasanya juga kalau di kantin mereka banyak saling bercakap-cakap, entah itu menggosip tentang seseorang atau apalah. Sampai akhirnya mereka bertiga kompak terkejut melihat kehadiran pak Harden selaku kepala sekolah di SMA Galaxy Admara.


“Kalian bertiga ikut ke ruangan Bapak,” titah beliau sambil melengos meninggalkan tiga siswi tersebut.


“Ada apa, Pak? Kenapa kami harus pergi ke ruangannya Bapak? Apa salah kami?” tanya Rainey dengan diliputi perasaan takut dan deg-degan.


Pak Harden menghentikan langkahnya lalu menolehkan kepalanya ke belakang hanya beberapa derajat saja. “Jangan banyak bicara, ayo cepat.”


Mau tidak mau Rainey, Gantari, dan Eliana mengikuti pak Harden yang kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti. Mereka bertiga beranjak dari kursi lalu membuntuti beliau dari belakang dengan tampang lesu.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Galaxy Admara - Ruang Kepala Sekolah


Rainey, Eliana, dan Gantari masuk ke dalam ruangan pak Harden dengan hati getir apalagi kagetnya mereka, di dalam ruangan terdapat bu Hana wali kelas mereka yang tengah berdiri bersama anggunnya mengenakan hijab serta rok panjangnya sampai menutupi tumit kakinya. Pak Harden berjalan ke kursi kantornya lalu mendudukinya, murid-muridnya yang sempat berhenti, kembali berjalan mendekati meja beliau.


“Apakah Bapak ingin berbicara dengan serius pada kami hingga kami disuruh Bapak pergi ke ruangan? Apalagi ada bu Hana di sini.”


Pak Harden menghela napasnya panjang pada penuturan kata Eliana. Kemudian beliau memajukan badannya dengan jari-jari di sepasang tangannya saling bertautan di atas mejanya. Pak Harden menatap intens ketiga muridnya satu persatu. “Bapak tidak menyangka kalau selama ini kalian semua melakukan tindakan yang sangat fatal.”


Rainey, Gantari, dan Eliana saling melempar pandangannya dengan raut terkesiap. Sementara pak Harden mendengus lalu menggelengkan kepalanya. “Kalian se-teganya itu melakukan aksi tindakan Kriminal, membunuh Emily Michaela Sophia, sebenarnya hanya satu orang yang membunuhnya dengan hati kejamnya. Yaitu kamu, Rainey.”


Mata mereka bertiga terbelalak terkejut, kemudian Rainey berucap, “B-bapak tahu darimana tentang hal itu? Apakah di antara salah satu mereka memberitahu kepada Pak Harden kalau-”


“Tidak. Mereka tidak memberitahu kepada Bapak, tetapi Bapak lah yang tahu sendiri. Bapak telah mendengarnya semua dengan jelas kalau semasa dulu Emily masih hidup, kalian membully Emily.”


“Bapak mendengarnya darimana? Bukankah waktu kemarin sore, Bapak sudah pulang?” timpal tanya Gantari.


Pak Harden menyeringai pada pertanyaan Gantari yang seolah berani bertanya hal tersebut. “Bapak hanya pergi sebentar lalu kembali lagi ke sekolah. Kalau soal bukti, Bapak ada rekamannya di ponsel. Kalian bertiga ingin mendengarkannya?”


Ketiga gadis itu hanya diam tak menggubris tawarannya dari beliau yang tangannya memegang ponselnya yang ada di depan kalender kecil. Tentunya mereka tak bisa menjawab apa-apa karena rupanya pak Harden telah mengetahuinya bahwa dulu Emily tak bunuh diri, namun dibunuh.


Flashback On


Nampak pak Harden tengah berkeliling melewati lantai 3 yang telah sepi tak ada orang sama sekalipun kecuali beliau. Dikarenakan sang kepala sekolah jarang mengecek gedung atap sekolah, maka dari itu, beliau akan menaiki undakan anak tangga untuk pergi menelisik kondisi rooftop.


Usai menaiki tangga untuk menuju ke rooftop, pak Harden membelok ke arah kiri yang letak tempat tersebut ada di sana. Namun pak Harden mengerutkan keningnya karena pintu rooftop terbuka cukup lebar, yang padahal mestinya para siswa dan siswi telah pulang ke rumahnya.


“Kenapa pintunya terbuka? Apa mungkin pak Tomi sedang mengambil sesuatu di tempat itu, ya?”


Secara tak sengaja, pak Harden mendengar beberapa suara siswi di luar rooftop. Sebuah kata-kata permintaan maaf kepada seseorang. Pak Harden yang penasaran, mulai berjalan sedikit mengintip di balik tembok ambang pintu. Pak Harden tersentak gegau pada mereka yang membicarakan kasus pembullyan dan pembunuhan apalagi pelakunya adalah tiga siswi yang beliau kenal.


Dengan cepat, pak Harden merogoh satu celananya untuk mengeluarkan HP-nya dan mulai sedia merekam hasil percakapan mereka yang mana di sana ada Angga, Freya, Jova, Reyhan, Kyra, Rainey, Gantari, dan terakhir Eliana. Hal itu menunjukkan sebagai bukti yang akan beliau serahkan pada para guru-guru lain besok.


Flashback Off


“Astaghfirullahaladzim, dimana hati nurani kalian bertiga, Nak? Kenapa kalian sungguh tega sekali melakukan seperti itu? Apakah kalian tidak kasihan pada sahabatnya bahkan juga bundanya Almarhumah Emily?” ucap lemah lembut bu Hana dengan menyentuh dadanya seraya menatap gundah rasa kecewa pada ketiga muridnya.


Pak Harden mengusap-usap wajahnya dengan juga punya rasa kecewa terhadap Rainey, Gantari dan, Eliana. Selanjutnya beliau menatap mereka kembali. “Tindakan kriminal kalian sudah tidak bisa diabaikan, kalian telah merusak nama baik di sekolah ini. Dan maafkan Bapak karena harus menyampaikan ucapan ini pada kalian bertiga ... mulai hari ini kalian resmi bukan siswi di SMA Galaxy Admara lagi.”


“Lho?! Maksud Bapak, kami bertiga dikeluarkan dari sekolah?!” kejut Rainey tak menyangka.


“Betul. Ini sudah keputusan dari pihak sekolah. Tak hanya Bapak dan bu Hana saja yang tahu tentang tindakan tak senonoh kalian, tapi seluruh para guru lainnya.”


“Bapak harap kalian bisa mengerti karena atas kesilapan fatal dari kalian semua.”


Mendadak hati ketiga gadis itu hancur mendengar bahwa mereka hari ini dikeluarkan dari sekolah SMA Galaxy Admara yang pemiliknya adalah Ansel Hadley sang papanya Alex. Bagaimana tidak hancur? Mereka mengira kesalahan besar itu bisa dimaafkan tanpa ada sesuatu yang terjadi, tetapi kenyataannya...


Diluar dugaan mereka.


Bu Hana melangkahkan kakinya yang mengenakan sepatu pantofel krem ke arah ketiga muridnya dengan raut ekspresi laranya. “Lebih baik sekarang kalian pergi ke kelas untuk mengambil tas kalian bertiga lalu setelah itu kalian pergi menuju ke rumahnya Almarhumah Emily, ya? Buat meminta maaf sebesar-besarnya kepada bundanya yang ada di rumah. Tenang saja kalian jangan takut, Ibu di sana bersama kalian.”


Dengan air mata mengalir deras melumuri kedua pipinya, mereka bertiga memberikan sebuah anggukan lemah pada bu Hana. Selanjutnya mereka berpamitan pada pak Harden lalu mereka keluar dari ruangan tersebut untuk selamanya, sedangkan bu Hana akan menunggu mereka bertiga di lobby.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Galaxy Admara - Ruang Perpustakaan


Aji menguap karena mengantuk pada suasana dalam ruang perpustakaan yang sunyi ini ditambah berangin datang dari luar jendela. Namun pemuda tersebut kaget karena mulutnya langsung di capit oleh Andra yang duduk di sampingnya.


“Tutupin, anying! Nafas bau kentut sigung lo nyebar di seluruh ruang perpus!”


“Kecebong lu, Ndra! Heh, gue tadi pagi di rumah udah gosok gigi ampe lima kali kalau lo tau! Jadinya nafas mulut gue wangi seperti-”

__ADS_1


“Bunga sedap malam?” tanya Reyhan celetuk yang sedang sibuk membaca buku novel genre favoritnya.


“Wah betul tuh, Rey! Lo emang tetangga klop gue, dah, hahaha!” seru Jevran sambil bertepuk tangan ria dan dibalas Reyhan senyuman menyeringai.


“Mingkem, lu! Gue potong-potong burung lo, mampus auto death !”


“Anjay! Ternyata bumbu masakan Ajinomoto bisa sadis juga ya,” ujar Raka.


Freya yang mendengar obrolan aneh dari para temannya mendongakkan kepalanya lalu menoleh ke arah Aji yang wajahnya merah padam karena kesal pada Jevran dan juga Reyhan. Muka gadis cantik itu nampak bingung dari ancaman Aji. “Aji, emangnya Jevran punya burung? Perasaan kamu nggak punya deh, aku kan kadang dateng ke rumahnya Reyhan. Oh iya, berarti kamu bukan manusia biasa dong, Vran?!”


“Hah? Maksudnya 'bukan manusia biasa' apa, Frey?” tanya Jevran tak paham.


“Iya, dong! Kata Aji aja kalau kamu tanpa burung punyamu, kamu bisa mati. Berarti selama ini, nyawamu ada di dalam raga burung peliharaanmu, wah unik banget!”


Freya balik menoleh ke arah Aji usai menatap Jevran. “Aji, masa kamu mau mutilasi burungnya Jevran, sih?! Dosa, tau!”


“Aduh bukan itu yang aku maksud, Freya! Kamu salah paham!” respon Aji terkejut.


“Ngga, jelasin noh, sahabat kecil cantik dan imut kesayangan lo. Gue nggak bisa buat jelasin sama Freya karena dia masih plain,” suruh Reyhan.


“Ogah.”


Reyhan menaikkan satu alisnya. “Lah? Lo harus ngasih tau dia, karena Freya termasuk murid idama-”


“Baca aja kalau lo mau.”


Angga menyerahkan buku novelnya di atas buku novel yang sedang sahabatnya baca, kemudian pemuda itu bangkit dari kursi lalu menghampiri Freya yang menunggu jawaban antara mereka. Freya menarik wajah manisnya menatap muka tampan Angga. Angga menggenggam lengan tangan halus sahabat TK-nya dengan terbitan senyuman tipis andalannya.


“Ayo ikut ke kantin bareng aku, kamu belum makan apa-apa dari tadi.”


“Kantin? Makan? Wih boleh, tuh! Ayok!” semangat Freya mau ajakan dari Angga yang menggunakan nada lembutnya.


Gadis lugu berwajah macam boneka tersebut mulai beranjak dari kursinya sambil lengan tangannya di pegang oleh Angga. “Guys, aku sama Angga ke kantin dulu, yaaa. Nanti aku balik lagi deh, kalau belum bel masuk! Bye-bye, hihi.”


Angga menarik pelan tangan sahabat kecilnya untuk mengajaknya pergi keluar dari ruang perpustakaan. Sebetulnya maksud Angga mengajak Freya ke kantin adalah agar sahabat lagunya tak memikirkan atau tak memusingkan apa yang dikatakan Aji aslinya.


Setelah sepasang sahabat dari kecil itu tak terlihat lagi dimata mereka, mereka yang masih duduk menghembuskan napasnya lega dengan menyentuh dadanya masing-masing karena Angga telah mengajak Freya pergi dari ruangan baca buku.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


“Angga, kira-kira maksudnya Aji sebenernya yang tentang burung itu apaan, sih? Setau ku, kan yang namanya burung pasti hewan, gak mungkin ada yang lain. Atau ... itu bahasa gaul lagi yang nggak aku tau, kali ya?”


“Ssst ..” Angga menempelkan jari telunjuk tangan kanannya di bibir tipis Freya. “Udah, jangan kamu pikirin. Mending nggak perlu kamu ladenin omongan Aji, dia temen gak jelas sama tiga kabel di otaknya copot satu.”


Freya tertawa mendengar ocehan Angga yang baginya lucu. Baru kali ini Freya mendengar sahabat kecilnya yang sekarang lumayan banyak bicara daripada sebelumnya. Feeling tinggi Freya mengatakan bahwa sahabatnya itu telah sedikit demi sedikit melupakan memori masa lalunya.


Tepat mereka berdua telah tiba di keluar masuknya kantin, pemuda tampan dan gadis cantik itu mendengar sebuah gosip dari beberapa siswi kelas XII tentang Rainey, Gantari, serta Eliana yang sudah dikeluarkan dari sekolah. Membuat Freya melongo tak menduga, sementara Angga terlihat biasa saja.


“Ya ampun, apa ini karma untuk Rainey, dan kedua temannya itu yang selalu bersamanya? Kasihan banget sampai dikeluarkan dari SMA Galaxy Admara.”


“Biarkan saja. Lagian itu sudah keputusan dari pihak sekolah dan kesalahan fatal mereka yang membuat mereka sendiri menjadi dikeluarkan dari sekolah.”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


19.00 PM


Reyhan meletakkan bolpoinnya di atas meja lalu meregangkan otot tangannya yang buat untuk menulis berjam-jaman. “Gila parah! Kurang empat paragraf lagi, nih! Heran .. napa sih yang namanya mata pelajaran Kimia setiap hari nyatet mulu? Normalnya, kan praktek di lab.”


Angga yang berkutat pada tugasnya melirik ke arah Reyhan yang duduk di hadapannya itu. “Itu juga sudah tugas yang normal dan wajar, banyak protes.”


Reyhan mendengus. “Untung gue ada temen buat nemenin gue ngerjain tugas, jadi bisa ajak ngoceh deh setiap menit.”


“Sori, tapi gue capek denger obrolan cerewet lo dari tadi yang nggak kelar-kelar, sekarang rasain cuman tugas lo yang masih banyak. Gue hampir selesai.”


Reyhan yang sedang menyerut mie instan rebus-nya, menatap Angga dengan tampang kesalnya. Lelaki humoris itu mengelap mulutnya lalu mulai memberikan komentar gratis untuk sang sahabat, “Iye-iye, yang pendiem! Pamer, kan lu karena kurang dikit lagi itu tugas ngeselin tuntas?”


“Gak.”


Satu jam kemudian yang telah usai ialah pukul 20.00 si Reyhan akhirnya selesai mengerjakan tugas beratnya meskipun PR-nya cuma hanya mencatat saja yang ada di buku paket tebal yang dipinjam dari sekolah. Sementara Angga berada di ruang dapur tengah mencuci piring agar dapur terlihat rapi, Reyhan yang berjalan sembari menenteng tasnya, menghampiri Angga nang kesehariannya sistematis.


“Omg-omg, malem-malem udah basah-basahan tangan aja, lo. Gak takut masuk angin?”


“Nggak,” jawab singkat Angga tanpa menoleh sedikitpun ke arah Reyhan.


“Ckckckck. Cocok nih kalau jadi calon suami idaman, apalagi situ mukanya ganteng kayak para pemeran cowok protagonis yang ada di film Disney.”


Cprat !

__ADS_1


“Cerewet!” jengkel Angga menghentikan tugasnya yang memang pekerjaan ia tersebut telah beres.


Angga menciprat air kran ke arah Reyhan hingga membuat wajah dan seragam baju sahabatnya basah karena olehnya. Reyhan mengelap air itu yang mengenai wajahnya kemudian beralih mengeringkan jas almamaternya dengan mengusap-usapnya. “Kampret, lu! Basah nih jadinya!”


“Yasudah dah kalau gitu, gue pamit balik pulang ya, Bro. Besok kita bertemu lagi.”


Reyhan melambaikan tangannya ke atas lalu melenggang melangkah pergi dari rumahnya Angga. Dan tanpa basa-basi, sahabatnya mematikan kran air kemudian mengikutinya dari belakang untuk mengantarkannya sampai luar gerbang.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


“Good bye.”


Dengan senyuman lebar ramahnya yang merekah di wajahnya di malam hari, Reyhan berpamitan sekali lagi pada sahabat Introvert-nya sebelum mengendarai motor Vario silver miliknya. Angga memberikan senyuman juga dengan menganggukkan kepalanya seraya melambaikan tangannya kecil.


Namun di detik kemudian, secara mendadak Angga mendapatkan penglihatan yang mana membuat detak jantung pemuda Indigo berpacu kencang. Mulai dari sebuah mobil truk yang akan melintasi gang komplek Permata, melaju dengan menggunakan kecepatan maksimal. Sementara, parahnya mobil besar tersebut mengalami rem blong hingga sang supir truk panik tak karuan karena pastinya mobilnya akan menabrak beberapa jenis kendaraan yang tengah berhenti karena sedang mematuhi peraturan pada lampu lalu lintas yang saat ini berwarna merah.


Jantung Angga yang berpacu kencang itu makin kuat disebabkan oleh adanya Reyhan yang juga sedang berhenti bersama motornya untuk menanti munculnya lampu hijau. Yang pemuda indera keenam tersebut lihat adalah, tampang dari wajah Reyhan dalam helm yang sahabatnya kenakan tak menunjukkan kecemasan nang akan terjadi sesuatu yang 1 menit lagi mengancam jiwanya.


DUAGKKHH !!!


BRAKKHH !!!


Tak sempat mengelak, karena Reyhan dan juga motor yang ia tunggangi terpental ke depan dengan hebatnya. Setelahnya bersama masih terdapat tabrakan hantaman, benturan yang secara sesama, tubuh lelaki humoris itu mendarat di aspal dengan kuat sementara motornya telah setengah rusak karena membentur keras di aspal yang kini banyak sekali bercak-bercak darah dari para korban yang terlibat dalam kecelakaan beruntun tersebut.


Beruntungnya saja, Reyhan masih sadar dan tak ada luka apapun di anggota tubuhnya. Tetapi detik kemudian, ada salah satu mobil truk yang jatuh terbalik ke samping. Reyhan yang telah melepaskan helmnya, amat Syok karena truk itu akan menindih raganya.


“WAAAAAA!!!”


BRUKKHH !!!


Terlambat sudah karena tidak ada waktu kesempatan yang memberikan Reyhan untuk menggulingkan tubuhnya menghindar terbaliknya mobil truk tersebut. Di sisi lain, masih dapat Reyhan dengar secara sayup-sayup suara ledakan-ledakan dahsyat membakar para kendaraan di jalan lalu lintas tersebut karena disebabkan tumpahnya minyak bensin Pertamina yang berasal dari salah satu mobil truk lagi.


Suara-suara korban yang masih bernyawa berteriak meminta tolong dan banyak sekali yang terjepit, tertindih, tertabrak, terlindas. Bahkan Reyhan masih mampu menangkap suara raungan tangisan anak kecil yang histeris melihat kecelakaan maut di depan mata juga karena para korban yang bersimbah darah.


Kembali di Reyhan. Lelaki yang masih bisa bertahan di dalam kondisi mengancam nyawanya itu, berusaha keluar dari tindihan mobil truk yang menimpanya. Karena tindihan tersebut tak terlalu menjepit raganya yang membuat ada kesempatan untuk Reyhan menyeret tubuhnya dari timpaan truk itu yang sang supir telah kehilangan nyawanya karena benturan kuat di stir mobil yang mengenai keningnya hingga mengalami pendarahan.


Kurang sedikit lagi Reyhan bisa terbebas dari tindihan tersebut. Tetapi sayangnya, kesempatan pemuda remaja itu menjadi ludes seketika saat ada mobil Pajiro abu-abu terlempar begitu kencangnya hingga berakhir jatuh membentur atas badan truk membuat raga Reyhan dalam sekejap mata tertindih lebih hebat hingga tubuhnya remuk hancur. Bahkan helmnya yang ada di bawah badan truk ikut hancur berkeping-keping sampai keluar dari dalam mobil tersebut. Sedangkan di aspal jalan bawah mobil truk telah dilumuri oleh darahnya Reyhan yang mana lelaki humoris itu sudah menghembuskan napas terakhirnya.


Secara acak penglihatan milik Angga, terlihat sahabatnya yang wajahnya nyaris tak terbentuk dan adanya banyak luka parah di sekujur tubuhnya, telah dibaringkan oleh seseorang dan kini seluruh tubuhnya ditutupi dengan kain putih bersama salah satu petugas kepolisian.


Wush ...


Air linangan Angga mengumpul di pelupuk matanya, sementara itu dadanya kembali bergemuruh seperti dulu. Detak jantungnya semakin tak terkendali berpacunya yang keluar batas dari normal. Penglihatan mengerikan yang menewaskan para sang pengendara termasuk sahabat friendly-nya. Tanpa banyak diam mematung di belakang gerbang rumah, Angga langsung berlari secepat halilintar untuk mengejar motor Reyhan yang sudah menjauh akan keluar dari gang komplek Permata.


“REEEEYY!!!”


Yang diteriaki bersama suara bariton-nya, malah justru bernyanyi dengan santainya tanpa terdengar bersuara sedikitpun. Padahal Angga sedang berupaya mengejarnya untuk mencegah dari kecelakaan maut itu yang sebentar lagi akan terjadi di malam ini.


“REYHAN!!! LO BUDEG APA GIMANA SIH, HAH??!! GUE MOHON LO BERHENTI SEKARANG JUGAAA!!!”


Sayang sekali usaha Angga ini, motor Reyhan telah keluar dari gang komplek membuat Angga semakin sukar mengejar motor Vario silver sahabatnya. Di pinggir jalan, Angga terus berlari untuk tetap berusaha mencegah Reyhan dari kematian mengenaskan itu yang terjadi dalam penglihatan mata batinnya.


Tapi apa yang Angga lakukan membuat ia sendiri sangat kelelahan hingga dirinya terjatuh posisi akan merangkak. Dadanya begitu sesak karena paniknya terlalu bahkan rasa takut kalau sahabatnya tewas di insiden ganas tersebut. Angga sudah tak mampu untuk berdiri bahkan rasa lemahnya memacu buramnya penglihatan.


Namun di situ Angga menangis lirih karena tak rela melihat Reyhan mengalami kejadian tersebut. Tetapi detik kemudian, Angga dihampiri seseorang yang badannya tinggi 180 sentimeter. Bahkan seseorang itu berjongkok di depannya.


Angga mendongakkan kepalanya lemah dan terkejut rupanya itu adalah Reyhan yang tengah melepaskan helmnya dari kepala. “Angga, lo kenapa ngejar gue?”


Angga memeluk erat Reyhan dengan air mata yang makin deras membasahi kedua pipinya. “Lo jangan pulang dulu! Jangan pulang! Gue gak mau lo mati!!”


“M-mati?! Lo kenap-”


DUAGKKHH !!!


BRAKKHH !!!


DUAAAARR !!!


DUAAAARR !!!


DUAAAARR !!!


Angga melepaskan pelukannya dari tubuh sahabatnya karena terkejut pada suara debum keras dan juga ledakan-ledakan dahsyat. Bahkan Reyhan yang usai menoleh ke belakang....


“K-kecelakaan beruntun?!”


Indigo To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2