
Rasa yang tak percaya, rasa yang tak menduga perjalanan mimpi menjadi sebuah pertanda baik untuk Reyhan yaitu berjaya melalui masa Kritisnya membuat Angga termenung. Di kantin memang sedang agak ramai oleh para siswa dan siswi yang berisik seperti pasar bahkan berhasil buat kedua telinga Angga pengang seketika. Tak berlama-lama mendengar suara kebisingan yang Angga tidak suka, pemuda tampan itu mengeluarkan kabel headset hitamnya dari kantong saku jas Almamaternya dan juga merogoh saku celana seragamnya untuk mengeluarkan pula ponselnya. Ada beberapa siswi yang menatap Angga dengan tersenyum genit, mereka sudah tahu juga bahwa Angga akan menyalakan musiknya di HP melalui headset yang telah ia tancap di colokan lubang kecil di ujung bawah HP sang empu. Angga memasangkan kedua headset di masing-masing telinganya dan mulai mendengarkan intro lagu pertama.
Tak berapa lama menit kemudian, datanglah seorang pria berpakaian kasual santai dengan membawa nampan berisi Batagor satu porsi dan es teh manis. “Mas, ini Batagor sama es teh manisnya udah jadi.”
Angga segera menoleh ke penjual Batagor dan tersenyum tipis. “Oh iya, Pak taruh di meja saja Batagor dan es teh manisnya.”
Pria penjual Batagor itu menganggukkan kepalanya dengan senyum sumringah kemudian mengangkat piring Batagor dan es teh manis satu persatu dan diletakkan ke meja.
“Uangnya tadi sudah saya bayar ya, Pak.”
“Siap Mas, oh iya ngomong-ngomong sendiri aja di kantin. Nggak sama temen-temennya nih, Mas?”
“Tidak Pak, saya lebih suka sendiri.”
Penjual Batagor yang terbilang cukup kenal dengan Angga tapi tak semuanya, tertegun pada jawaban respon siswa itu. “O-oalah, hahahaha yaudah kalau gitu, Bapak ke sana dulu ya, Mas.”
“Ya, Pak. Terimakasih.”
“Sama-sama, Mas.” Penjual Batagor itu kemudian pergi meninggalkan Angga sendiri dan tak lupa membawa nampannya ke gerobaknya.
Angga mengambil garpu yang ada di atas piring kemudian mulai menusuk makanannya dan ia masukkan ke mulutnya. Batagor yang Angga makan sudah terkenal enak di seluruh kantin SMA Galaxy Admara. Baru saja akan mengunyahnya, tiba-tiba ada satu siswa yang menepuk punggungnya dengan agak keras.
“Woi! Sendirian aja lo, Ngga! Udah kaya-”
“Uhuk uhuk uhuk!!!”
Saking kagetnya karena juga setengah melamun, Angga yang menelan Batagor-nya menjadi tersedak yang mengakibatkan ia terbatuk-batuk. Salah satu siswa ialah Joshua si ketua kelas di kelas XI IPA 2 langsung mengambilkan minuman temannya yang temannya pesan lalu menyodorkan ke Angga.
“Ini Ngga diminum dulu!” Joshua menatap Aji dengan sebal dan menghembuskan napasnya. “Wah emang udah gila kali, yak?! Orang temen lo lagi enak-enakan makan di kantin lo kagetin, untung si Angga gak mati karena tersedak!”
Angga yang menutupi mulutnya dengan telapak tangannya karena terbatuk-batuk gara-gara kejutan spontan dari Aji, segera menerima minumannya yang Joshua sodorkan. Pemuda yang tersedak itu mulai meneguk perlahan es tehnya hingga tersisa setengah. Angga meletakkan gelas tehnya lantas tersebut menatap tajam Aji, lebih tajam daripada waktu di rumah sakit.
’Hih horor,’ batin Aji seraya menggeser tempat menjauhi Angga.
“Temen gak ada guna!!”
Aji terkejut sampai memegang dadanya dengan dramatis. “Pecah, hati sempurna gue Ngga.”
“Lebay lo, Ji! Yang penting bukan jantung utuh lo yang pecah,” ucap Rangga seraya menjitak kepala Aji.
“Lagian, kalau jantung Aji yang pecah auto gampang di bawa ke rumah sakit terus dimasukin ke ruang Operasi. Kan bisa tuh jantungnya yang pecah di pasang lagi sama dokter.”
“Otak semut! Heh Bambang Kulit Pisang! Dengerin ye kata-kata aye buat ente .. yang namanya jantung udah pecah itu gak bisa di benerin lagi, lo pikir jantung itu kayak Puzzle, apa?! Yang ada gue mati, lah anying!”
“Otak lo dipindahin aja ke dada tempat letaknya organ jantung, siapa tau lo masih ada tanda kehidupan,” celetuk Angga.
Aji menganga lebar. “Mana ada model kayak gitu?!”
“Mukjizat Allah siapa yang tahu,” jawab Angga tanpa menoleh ke Aji dan sibuk mengaduk-aduk Batagor miliknya.
“Hahahahahahaha!!”
Aji melirik kesemua temannya yaitu Raka, Jevran, Andra, Rangga, Joshua yang menertawakannya. “Ayo, tawa aja terus! Kalau perlu sampe suara lo bertiga sempal! Putus itu pita suara!”
“Kapok lu, rasain! Gitu-gitu Angga sama aja lho bales perbuatan lo kemaren pas di rumah sakit,” ujar Jevran seraya duduk di kursi meja kantin tempatnya Angga.
Angga hanya diam tak ingin memedulikan ucapannya tetangga sahabatnya, bersikap acuh tak acuh dan kembali melanjutkan kegiatan makan-nya. Andra menatap teman pendiam-nya itu dengan senyumannya.
“Weh Ngga?”
“Hm.”
“Anjir, jawabannya itu aja perasaan! Itu lo tumben makan di kantin? Biasanya lo kalau istirahat melipirnya ke Rooftop sekolah atau ruang musik, dah. Kangen jajanan di kantin, yeee?”
Angga menghela napasnya dan mendongak kepalanya sedikit melihat ke arah Andra. “Gue gak sarapan tadi di rumah jadinya gue makan di kantin.”
__ADS_1
Setelah menjawab pertanyaan Andra yang ingin tahu, Angga kembali diam dan meneruskan makanan hidangan lezat tersebut. Bukan karena perkara Reyhan yang membuat Angga setiap hari seperti itu, namun memang dasar sifatnya yang seperti ini. Lebih suka diam daripada banyak bicara.
“Kapan sih sifat lo berubah? Jengah bener gue liat sifat-sifat lo ini setiap hari,” kata Raka dengan menyeduh sedotan jus jambu-nya dalam botol kemasan.
“Adagium mengatakan, diam adalah emas. Jadi gue gak bisa seperti Angga yang kerjaannya cuman diam, ngomong aja dikit habis itu diam lagi. Hapal banget gue sikapnya Angga, ya meski gue bukan sahabatnya tapi gue kenal Angga kan dari kelas sepuluh,” ujar Aji panjang lebar.
“Tau itu mah gue.” Joshua beralih menatap Angga setelah Aji, raut wajahnya terlihat sedang merenungkan sesuatu. Walaupun Joshua tak memiliki kelebihan apapun, namun pemuda berkacamata ini pastinya tahu apa yang terjadi dengan para teman-temannya. Sebagai ketua kelas, ia harus mengembangkan sikap kepeduliannya terhadap kelasnya dan memberikan solusi jika ada permasalahan kecil maupun besar.
Joshua berjalan ke belakang Angga kemudian duduk di kursi sebelah temannya lalu merangkulnya perlahan. “Lo diam pun gue bisa tau apa yang lo pikirin, Ngga.”
“Gue nggak kenapa-napa.”
“Kalau gak kenapa-napa, lo gak mungkin sedari tadi murung terus. Jangan bohongin gue daripada cepet ketauan-nya,” tutur Joshua dengan nada santai.
“Memang sudah empat bulan ini, Reyhan yang di sana belum sadar-sadar. Tapi seenggaknya dengan sahabat lo terlepas dari masa Kritisnya, InsyaAllah Reyhan pasti secepatnya bangun dari Komanya. Betul, keadaan Kritis itu darurat banget apalagi untuk keselamatan nyawanya Reyhan. Nggak hanya lo, Freya, Jova aja yang sedih kita semua bahkan hampir satu sekolah ini juga ngerasa sedih sama seperti lo bertiga. Intinya lo harus bersabar ya, Ngga. Sedih juga nggak ada gunanya, hanya dua kunci .. bersabar dan selalu Berdoa.”
Angga menganggukkan kepala dan menolehkan kepalanya ke kiri. “Makasih, Jo.”
“Yoi, sama-sama. Mending sekarang lo habisin deh itu Batagor-nya, lima menit lagi bel bunyi,” komando Joshua sambil menilik jam tangannya.
“Gak usah pake acara heran segala, Reyhan kan di SMA internasional ini populer banget. Noh lihat tuh anak-anak siswi kelas sepuluh, mukanya pada kusut kek lap belum di jemur gara-gara sad ama keadaan kakak kelas yang bilangnya handsome kayak cowok Barat itu.”
“Jangan bilang lo iri sama Reyhan, Ji? Muka-muka lo kayak nahan cemburu dan iri hahahaha!”
“Eh anjir! Keparat lo, Ga! Mana ada gue cemburu apalagi iri? Gue kan juga ganteng kayak papan artis negara.”
“Gak salah denger, gue?! Lo ganteng kayak papan artis negara?? Eh ngaca, Bro! Muka ngeselin kayak papan linggis aja, bangganya minta ampun buahahahaha!!”
“Anak setan, lu Ka! Tapi, whatever lah. Gue gak bisa bayangin betapa kesiannya Reyhan ngejar materi pelajaran, lu pada di sini pasti udah tau kalau dua bulan lagi Tes, mana untuk kenaikan kelas, lagi.”
“Eh, bener juga lo. Wah ini sih parah banget, woi! Belum lagi Reyhan lumpuh, pasti dia malu bener karena fisiknya sudah nggak sempurna seperti dulu,” kata Andra langsung duduk tegak di kursi yang berhadapan dengan kursinya Angga.
“Gue juga bisa rasain gimana Reyhan mengetahui kalau dirinya mengalami kelumpuhan. Tapi, itu masih bisa diatasi kok. Kelumpuhan sementara bisa diobati dengan melaksanakan Terapi. Pokoknya kita Berdoa yang terbaik buat Reyhan untuk kesembuhan lumpuhnya terutama Koma panjangnya, agar supaya teman ramah kita bisa menjalani aktivitas di sekolah seperti semula.”
“Gue setuju banget sama kata-kata lo, Jo! Gue udah kangen berat sama Reyhan!”
Rangga yang mendengar penuturan ucapan Aji, mendengus kesal pada sikapnya yang memang dari jiwanya seperti itu.
“Kebiasaan ya lo, Ji?! Lebay banget kayak cowok bencong!” ucap Rangga dengan sinis.
“Tau tuh, kayaknya memang bencong dari lahir, dah ini anak,” timpal Andra.
“Wuanjir kalian berdua!!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Brugh !
“Aduh!”
Pemuda yang tak lain adalah Reyhan merintih merasakan sakit pada dirinya yang jatuh lumayan keras. Seketika Reyhan menjadi linglung pada kejadian ini, seingatnya ia dibawa pergi oleh Angga dan memasuki bersama ke lorong pintu yang penuh bercahaya. Dan kini, rasanya ia habis dijatuhkan oleh sahabatnya yang sudah tak ada wujudnya bahkan bayangan pun tak terlihat.
Perlahan Reyhan bangkit berdiri dan menatap sekeliling tempat. Reyhan mengedipkan kedua matanya beberapa kali karena tak percaya dimana ia berada. Sebuah alam terbuka serba putih, bahkan Reyhan tersadar pakaiannya yang berseragam SMA berganti menjadi pakaian putih dari baju sampai celana, namun bedanya lagi ia tak mengenakan alas kaki.
“Gue dimana, sih? Perasaan gue di bawa pergi Angga ke sini, tapi kenapa dia udah gak ada??”
Reyhan menoleh ke belakang, terkejut sudah tak melihat pintu lorong yang untuk keluar masuk. Terpaksa pemuda tersebut melangkah maju ke arah yang lurus tanpa ia tak tahu ingin kemana. Di sepanjang jalan, Reyhan tak menemukan apapun yang membuat matanya terpusat, dikarenakan sepanjang perjalanan hanya ada hamparan kosong.
“Hadeh, sebenernya apa sih maksud semua ini? Sebelum itu gue ada di tempat yang hampir buat gue mati, dan sekarang gue ada di alam serba putih ini. Eh tapi gue ngerasa tenang di sekitar sini.”
“Reyhan Lintang Ellvano.”
Suara lebih dari satu orang memanggilnya dengan nama lengkap, sumber suara itu berasal dari belakangnya Reyhan. Reyhan memutar badannya untuk melihat siapa yang memanggilnya.
Reyhan membuka mulutnya terperangah kaget melihat dua orang yang berusia 60-an tahun tersenyum lembut padanya. “Opa?! Oma?!”
__ADS_1
Saking rindunya bukan bergaya atau bagaimana, Reyhan berlari dan memeluk kakek neneknya yang Reyhan merupakan cucu kandung kesayangan oma dan opanya. Pelukan cucu lelakinya yang telah tumbuh dewasa, dibalas kakek serta neneknya juga memeluk rindu pada Reyhan. Reyhan melepaskan pelukannya begitupun kakek neneknya.
“Reyhan nggak tau kalau Opa sama Oma juga ada di sini,” ucap Reyhan bahagia.
“Opa dan Oma terus ngikutin kamu dari belakang. Kasihan banget Opa lihatnya, kamu jalannya udah seperti anak hilang hahaha.”
Reyhan ikut tertawa lalu bertanya, “Tapi kenapa Opa bisa ada di sini? Bukannya Opa sudah lama meninggal?! Dan Oma juga gimana bisa ada di sini? Oma bisa lihat wujudnya Opa??”
Omanya yang mendengar kebingungan dari cucunya tersenyum dan merangkul suaminya dengan penuh sayang. “Oma bisa melihat wujud sosoknya Opa, dan Oma selamanya bersama dengan Opa, Reyhan.”
“Opa hidup lagi?!” tanya Reyhan dengan wajah kaget.
“Opa memang sudah meninggal, Rey. Ini bukan raga Opa tapi Arwah Opa.”
Reyhan menggelengkan kepalanya kuat, tak mempercayai ucapan opanya yang tersenyum ramah pada cucunya. Pakaian putih bersih menyamakan pakaian yang dikenakan Reyhan namun sang nenek seperti mengenakan gaun panjang berwarna putih yang bercahaya seperti pakaian sang kakek.
“J-jadi sama saja Oma dan Reyhan sudah meninggal?! Di tempat seperti ini yang sama seperti Surga!”
Omanya mendekati Reyhan dan kemudian memegang kedua bahu cucunya. “Kamu pasti akan tau sendiri, nanti. Sekarang Oma akan bantu Reyhan untuk menunjuk arah jalan buat kembali.”
Air mata Reyhan mendadak keluar dan turun membasahi kedua pipinya. “Maksud Oma apa?!”
Di sisi lain, hari libur sekolahnya ketiga sahabatnya Reyhan menemani raganya di dalam ruang ICU. Jova yang mengenakan baju hijau penjenguk pasien, matanya terpusat pada sudut mata raga Reyhan mengeluarkan air mata dengan pelan.
“Reyhan nangis,” gumam Jova.
Angga yang mengetahui sahabat satunya mengeluarkan air mata dalam keadaan Komanya, mulai menggenggam tangan kanannya yang lumayan dingin. Sedangkan Freya amat pilu meskipun sahabat lelakinya menangis hanya setetes saja, namun wajahnya nampak tenang seperti sedang tidur.
Di sisi lain, Reyhan yang berada di alam terbuka bersama oma dan opanya merasa ingin ikut pada mereka yang menyuruh Reyhan untuk pergi meninggalkannya.
“Reyhan ikut kalian berdua.”
“Jangan Rey! Kamu tidak boleh ikut Opa dan Oma, kamu harus kembali ke tempat yang masih mendukung hidupmu!” tegas opanya.
“Tapi-”
“Apa yang dikatakan Opa benar sekali, Nak. Di sana banyak sekali yang mengharapkan kamu kembali, maka dari itu kamu harus menuruti kata Opa dan Oma. Mereka begitu rindu dan sayang padamu termasuk orang yang membesarkan mu sampai dewasa ini.”
“Mama dan papa?!”
Mereka berdua menganggukkan kepalanya dengan senyuman lembut. “Pergilah Rey, masih ada perjalanan hidup yang harus kamu capai untuk menyambut masa depanmu.”
“Pertemuan kita sampai di sini, ya Reyhan. Opa harap, kamu tidak ada lagi beban yang menganggu kehidupanmu. Opa dan Oma hanya ingin melihatmu bahagia tanpa ada kesengsaraan termasuk semuanya yang sayang padamu,” ungkap sang kakek menimpali ucapan sang nenek.
Pada akhirnya, Reyhan menganggukkan kepalanya dengan lemah. Tentunya seorang Reyhan Lintang Ellvano tidak bisa menolak permintaan dari sang kakek dan neneknya. “Kalau itu maunya Opa dan Oma, baiklah Reyhan turuti permintaan kalian.”
Omanya memeluk cucunya dengan air mata yang berderai. “Terimakasih Reyhan! Baik-baik di sana.”
Opanya ikut mendekap cucunya untuk pelukan terakhir sebelum dirinya dan juga istrinya melepaskan Reyhan untuk pergi. Usai mereka melepaskan pelukannya, kakek Reyhan membentangkan satu tangannya menuding. “Kamu lari saja ke arah yang Opa tunjuk, nanti pasti kamu menemukan jalan terakhirnya.”
Reyhan melangkah akan meninggalkan kedua orang yang ia sayangi ini, sebelum akan berlari Reyhan menoleh ke belakang. “Reyhan sayang kalian!”
Oma dan opanya melambaikan tangan pada Reyhan mengucapkan selamat tinggal dengan senyuman abadinya. Reyhan menoleh ke depan dan berlari yang di tunjuk oleh kakeknya. Tak tahu berapa lama Reyhan tempuh dalam larinya, tetapi yang jelas Reyhan melihat pintu putih di depannya.
Reyhan mengulurkan satu tangannya untuk memegang gagang pintu dan membuka pintu tersebut yang cahayanya sangat terang.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Di dalam ruang rawat ICU kembali sunyi karena ketiga sahabat pemuda Friendly itu membisu tak ada yang membuka suara. Angga juga terus menggenggam telapak tangan Reyhan yang di berikan cairan infus untuk tubuhnya yang terbaring Koma. Akan namun Angga begitu tersentak kaget melihat pergerakan jari tangan kanan Reyhan lemah yang sedang ia genggam.
“Eh! Jari Reyhan gerak-gerak, Ngga!” pekik kejut Freya.
Kemudian lantas itu, Angga, Jova, dan Freya bersamaan menatap wajah pucat-nya Reyhan sungguh-sungguh. Hingga suatu apa yang mereka lihat barusan sangat membahagiakan hati mereka bertiga. Mata Reyhan yang telah tertutup begitu lama hingga berbulan-bulan kini terbuka kembali.
Indigo To Be Continued ›››
__ADS_1