
...“Sedih boleh, tetapi jangan terlalu lama. Karena akan bisa menyakiti dan menghancurkan suasana yang ada di dalam hati diri kita” By_Ansyanovels...
Dibawah langit malam yang lumayan dipenuhi taburan cahaya bintang dan satu bulan sabit, Reyhan di atas kasur king size kamarnya membuka ponsel Androidnya saat ia mendapatkan sebuah pesan notifikasi masuk di aplikasi WhatsApp-nya.
..._ _ _ _ _ _ _ _ _ _...
...NONA SABLENG SEJAGAT RAYA...
[Nona Sableng Sejagat Raya]
Wih...! Yang udah punya HP baru
[Nona Sableng Sejagat Raya]
Besok pas di sekolah, HP-mu aku timpuk pake HP-ku, ya? Buat kenalan sama yang baru, wakakakak!
^^^Dengkulmu! Ya, janganlah! Ini HP paling terakhir yang bakal aku jaga-jaga seumur hidupku^^^
[Nona Sableng Sejagat Raya]
Afah iyaaaa? Berarti besok kalau kamu mati, HP-nya boleh aku ambil. Lumayan, dong buat cadangan
^^^Matamu, ah! Eh, katanya kamu mau ngasih aku foto soal PR Fisikanya? Mau aku kerjain sekarang daripada besok kena amok bu Aera, gak masuk pun aku harus tetep ngerjain. Beliau gak mau ada alasan apapun, meski aku murid kesayangannya^^^
[Nona Sableng Sejagat Raya]
Ih, hiyek murid kesayangan! Murid ngeselin baru percaya aku. Yaudah bentar, aku fotoin dulu soal PR-nya sekalian sama jawabannya. Habis itu aku kirim cepet ke sini. Sabar!
^^^Eh beneran, nih langsung difotoin juga sama jawabannya?! Wih, makasih!^^^
[Nona Sableng Sejagat Raya]
Iye, YRW! Kamu, tuh lagi dalem penyembuhan dari rumah sakit. Padahal harusnya kamu harus istirahat dulu, eh tapi malah mau kamu paksain buat besok berangkat sekolah
^^^Keenakan, dong? Yang ada aku bisa ketinggalan banyak pelajaran kalau kebanyakan ambil libur cuma buat nyembuhin kondisi. Sans, aku udah gakpapa^^^
Foto ☢︎
[Nona Sableng Sejagat Raya]
Tuh, udah aku kirimin! Gas lah kerjain, mumpung belum larut malem. Soal plus jawabannya sudah ada semua di dalem foto, yak?
^^^Wah, emang the best lah sahabatku satu ini! Thank you so much, ya?! Jadi semangat, nih buat ngerjainnya sekarang^^^
[Nona Sableng Sejagat Raya]
Haha! Met bertugas, Nyuk
^^^Yoi, Bleng^^^
..._ _ _ _ _ _ _ _ _ _...
Reyhan segera lekas turun cepat dari kasur empuknya lalu menuju ke meja belajarnya dan menarik kursi untuk duduk di sana. Lelaki itu mulai mengambil buku tugasnya yang bersampul biru laut di beberapa tumpukan bukunya yang ada disudut mejanya kemudian meletakkan ponselnya di samping bukunya buat gegas menyalin soal serta jawaban PR Fisika yang pernah diberikan oleh bu Aera sang guru wali kelas XII IPA 4
Tak peduli mau selesai jam berapa karena saking banyak tugasnya, yang terpenting ia bisa mengerjakan dalam hari ini juga. Itulah seorang Reyhan Lintang Ellvano.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Pagi yang mendatang, matahari telah mulai menaik ke atas langit. Dan di hari ini yang harusnya senang untuk Jova, malah justru tidak dikarenakan ia harus terpaksa naik bus. Mengapa tak diantar oleh Agatha dan mengapa tak memilih memesan ojek/taksi online? Karena yang pertama, Agatha harus ke kantornya di pagi buta. Kedua yakni terakhir, Jova kehabisan kuota data seluler di ponselnya.
“Ya ampun, nasib banget gue hari ini?” keluh Jova lesu sambil mengangkat tas ransel ungunya ke pundak kirinya.
Kakak! Ada bang Reyhan, nih dibawah tanggaaaa! Turun, gih
Seketika teriakan adik kandungnya dari luar kamar, membuat mata Jova membulat sempurna. “Reyhan?!”
Dengan cepat, gadis Tomboy itu berlari dan membuka pintu kamarnya untuk menjumpai sahabat lelakinya yang ada dibawah tangga. Setelah berada di atas undakan, Jova melongo melihat Reyhan yang menikmati hidangan sarapannya di ruang makan bersama Echa dan juga Novaro.
Tetapi, Reyhan beralih fokus ke arah Jova saat ia menyadari sahabat perempuannya berada di atas tangga sedang berdiri diam. “Lama banget! Kirain lagi uring-uringan di kamar karena nanti berangkat jalan kaki naik bus.”
“Bentar-bentar! Bukannya tadi pas di chat, kamu gak bisa anterin aku karena bensinnya gak cukup buat ke komplek sini?! Lah, ini nyatanya tubuhmu udah nyampe rumahku,” ungkap Jova sambil melewati setiap undakan anak tangga.
“Ye, mau bener aku prank? Ya, enggak lah. Emangnya komplek-mu letaknya di kota Bogor? Jadi, suprise ! Dan selamat, kamu kena tipu dariku, hahahahaha!”
“Sialan kamu, Nyuk! Kirain tadi ngetiknya beneran- eh taunya ternyata cuman boong, Emang kampret kalau gak punya kekuatan Indigo, gak bisa baca pikiran orang!” sungut Jova.
“Haha, aku juga sama gak punya kekuatan Indigo, kok. Cepet sini, makan sarapan indomie gorengnya. Tuh, udah aku siapin di sebelahku.”
“Dih, tumben baik?” cibir Jova sesudah menuruni semua undakan.
“Kan, aku emang baik!” sembur Reyhan lalu kembali lanjut menyerut mie goreng hangatnya yang telah dibuat oleh ibunya Jova.
“Duh-duh, sudah. Kalian ini masih pagi udah main debat mulut saja, ayo sini, Sayang sarapan dulu- oh iya yang masak mienya si Reyhan, lho.”
“Ih! Beneran, Ma?! Kalau gitu Jova mau makan roti bakarnya aja, deh. Soalnya kalau yang masak Reyhan udah jelas rasanya gak enak terus hambar kayak teh tawar,” tolak Jova mentah-mentah.
Mata Reyhan melotot dengan posisi mie yang masih bergantung di luar mulutnya, ia menyerutnya cepat, mengunyah, dan menelannya. “Heh, sembarangan aja kalau ngomong! Masakanku enak banget, ya! Bahkan banyak yang ngasih peringkat tinggi dari semua masakan yang aku buat pakai cita rasa.”
Jova tersenyum miring. “Emangnya siapa yang ngasih peringkat? Kucingnya Jevran? Ya kali masa peringkat atas, sih? Peringkat bawah baru bener, hahahaha!”
Novaro yang sibuk bermain game di ponselnya, terkekeh. “Gak usah ketawa kamu, Nov! Abang sumpelin telor mata sapi, nih lama-lama!”
“Galak, amat.”
“Biarin!” sewot Reyhan.
Echa tertawa dengan menutup mulutnya bersama satu telapak tangannya. “Enggak kok, Nak. Mama yang masak, bukan Reyhan.”
“Baguslah, kalau begitu.” Jova mendudukkan pantatnya di atas kursi lalu siap melahap sarapannya, bersama Reyhan tentunya.
Namun di saat yang bersama, Reyhan menolehkan kepalanya sedikit ke arah Novaro yang tangannya sibuk memainkan game di ponselnya, bahkan sarapan mienya di atas piring masih utuh.
“Nov! Di makan dulu itu sarapannya. Malah sibuk main game, inget nanti juga harus berangkat ke sekolah,” tegur Reyhan layaknya seperti kakak kandung keduanya dari Novaro.
“Kok, diatur? Iya, dah ... Abang ipar.”
DEG DUAR
Tatkala Reyhan memegang lehernya saat mienya tersedak cepat usai meluncur ke tenggorokannya. “Uhuk! Uhuk! Eh, air minum! Gilak, pake salah jalur, lagi ini mie satu- uhuk!”
“Astaga, Reyhan! Nih-nih, air putihnya langsung di minum!” panik Echa setelah menuangkan gelas dengan air putih yang ada di dalam teko kaca.
Reyhan segera merebut gelas itu dari tangan ibunya Jova lalu langsung gesit meneguknya banyak hingga tandas. Pemuda itu kemudian menghembuskan napasnya lega saat sisa makannya yang ia konsumsi telah masuk ke dalam lambung.
“Huh, makasih banyak, Tan! Untung sempet, kalau enggak .. udah beda cerita kayaknya.”
“Abang gak kenapa-napa?” tanya Novaro yang tadi kaget melihat sahabat lelaki kakaknya tersedak.
“Gak kenapa-napa, gak kenapa-napa. Mau mati tahu, Abang! Kamu kalau misalnya mau bunuh Bang Reyhan, gak usah pake basa-basi. Udah! Langsung tancep pisau aja di jantung Abang biar langsung kepleset ke Akhirat sekalian.”
Echa yang mendengar bukan terkejut, melainkan hanya biasa saja karena beliau telah kenal Reyhan sejak lama. Tentu pasti tahu seperti apa sifat dan gaya pembicaraannya yang asal ceplas-ceplos.
Jova yang tadi membeku karena pernyataan Novaro tentang 'Abang Ipar' kini sekarang menjepit bibir milik Reyhan. “Itu mulut belum pernah diolesi sama lendir keong, ya?! Suka sekenanya kalau ngomong, heran!”
__ADS_1
Reyhan menepis telapak tangan Jova setelah mengerang. “Sakit, tau bibirku kamu gituin!”
“Tapi ngomong-ngomong, Reyhan sangat cocok, lho kalau jadi calon kakak iparnya Novaro.”
Jova yang mendapatkan ucapannya Echa nang terlihat mendukung Novaro, terkejut setengah mati. “Apaan sih, Ma?! Enggak, lah! Ngapain punya Reyhan, sifatnya aja kayak kunyuk gitu. Ogah!”
Echa dan Novaro tertawa renyah bersama pada hinaan Jova untuk Reyhan yang menuangkan air putih dari teko kaca untuk menghilangkan rasa seret tenggorokan yang tiba-tiba.
“Jahat banget, kamu ngatain sifatku kayak kunyuk?! Lagian, aku juga ogah punya kek kamu yang wataknya kayak Sableng buto ijo,” serang Reyhan.
Jujur saja, ledekan dari Echa serta adik kandung laki-lakinya Jova membuat Reyhan malu berat. Padahal pemuda itu jarang memiliki malu kalau hanya cuma hal sepele seperti contoh tersebut. Namun... Entah mengapa ini jauh lebih berbeda dibanding sebelumnya.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Di luar gerbang rumah, Jova dan juga Reyhan sedang berada di samping sebuah motor Honda Vario matic berwarna silver. Mereka tentunya hendak ingin berangkat ke sekolah SMA Galaxy Admara.
Tetapi saat sedang membenarkan posisi tas punggungnya, Jova tak sengaja menyenggol helmnya yang ada di atas jok motor sahabat lelakinya. Dengan mendengus, gadis Tomboy itu membungkukkan badannya untuk segera memungut helmnya yang telah tergeletak di aspal jalan.
Tetapi pandangannya langsung terpaku saat tangannya malah tersentuh telapak tangan Reyhan yang juga ikut mengambil helmnya gadis itu. Kini sekarang mereka saling mengarahkan bola matanya untuk bertatapan dengan empat mata.
Cukup lama mereka bertatapan tanpa berkutik sedikitpun, bahkan telapak tangan mereka berdua masih tetap menempel.
“Cie-cie, Bang Reyhan sama Kak Jova. Pandangan-pandangan terus, sampe bola matanya copot.”
“Eh?!” Lamunan antara Jova dan Reyhan dari bertatapan langsung membuyar saat mendengar suara anak kecil laki-laki yang meledeknya sembari mengayuh sepeda.
“Hati-hati, lho. Sahabat bisa jadi cinta kayak lagu punyanya Zigaz!” ledek anak kecil satunya lagi yang bermain scooter bersama temannya nang usai mengagetkan kedua remaja SMA itu.
Reyhan yang langsung kesal, menegakkan badannya dan ingin melayangkan helm Jova ke arah dua anak kecil laki-laki yang masih berusia 6 tahun. “Heh, Bocil! Tahu, apaan kalian soal cinta, hah?! Masih TK udah ngerti lope-lope! Mau, nih gue sleding?!”
“Kabur! Bang Reyhan udah ngamoooook!!!” teriak kedua anak kecil itu dengan mempercepat antara sepeda dan scooter yang dimiliki mereka masing-masing.
“Anjirlah! Masih pagi gini udah dibuat erosi aja!” gerutu Reyhan memperhatikan kecepatan dari kepergian kedua anak kecil itu yang ingin menuju ke Taman Kanak-kanaknya.
“Emosi, kali! Makasih udah ambilin helmnya aku!” ucap Jova sambil merebut helm punya dari kedua tangannya Reyhan.
Jova segera langsung mengenakan helmnya dan tidak lupa mengunci pengaitnya untuk menjaga keselamatan dari kepalanya, sementara Reyhan mengusap tengkuknya dengan nyengir kuda.
“I-iya, sama-sama. Yaudah, yuk kita berangkat ke sekolah sekarang. Entar daripada bel di sana keburu dibunyikan, hehehe!”
Reyhan kemudian membentangkan tangannya untuk menancapkan kuncinya pada tempat khusus sambil tak melepas tatapannya dari wajah cantik nan menawannya Jova.
“Lah! Sejak kapan kunci motormu jadi transparan? Gak kelihatan.”
“Hah, transparan- eh?” Reyhan langsung terperanjat kaget saat rupanya kunci motornya belum sama sekali ia genggam, melainkan masih ia gembol di kantong saku celana panjang abu-abu seragamnya.
“Lupa aku keluarin dari kantong, maap!” Reyhan dengan segera merogoh saku celananya untuk mengeluarkan kunci motornya.
Setelah mengeluarkannya dan menyalakan mesinnya pakai kunci motor tersebut yang telah ia pasang, Reyhan mulai memegang kedua stang motor Honda-nya untuk memutar arah dimana jalur keluarnya gang komplek United.
“A-ayo, Va. Let's go.”
Reyhan di situ, mengusap wajah tampannya yang mana kepalanya telah terbungkus oleh helmnya. Ia benar-benar merasa berbeda dan menyadari bahwa sikap dirinya hari ini begitu aneh tak seperti biasanya.
‘Sial! Gue kenapa, sih?! Ngomong sama Jova napa jadi gagap? Apa gue kena peradangan otak kali, ya?’
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
09.00 AM
Di dalam sebuah kantin sekolah internasional, Jova dan Freya saling menggoyangkan kakinya untuk menunggu Reyhan yang belum kunjung datang ke mereka.
Brak !
“Sabar dong, Vaaaaa ... gak usah pake gebrak meja kayak gitu! Bikin orang kaget saja, kamu ini. Tadi aku sempet lihat si Reyhan pergi ke kantor guru sambil bawa lima buku tugas kalau nggak salah,” tutur Freya.
“Ooh, lagi ngumpulin tugas ke guru? Pantesan aja kek lama gitu. Kantor sama kantin, kan jaraknya lumayan jauh. Sepuluh kilometer. Eh, tapi kamu sadar gak sih, Frey?”
Freya mengerutkan keningnya. “Sadar apa?”
“Semenjak Angga Koma, tuh si Reyhan di sekolah makin tambah rajin, lho. Bukannya seorang Reyhan bin Kunyuk Sutres paling males kalau sama urusan dalam belajar apalagi belajar Matematika? Seolah, malah jadi kayak si Angga. Ya, gak?”
“Sebenernya aku baru nyadar, sih kalau soal yang itu. Setiap dikasih tugas ringan atau segudang pun, Reyhan sekarang dapetin nilai di atas KKM, biasanya bawah. Memang kalau kita perhatikan bener-bener, Reyhan banyak perubahannya semenjak ... Angga Koma,” tanggap Freya.
Jova mengangkat bola mata paling kecilnya ke atas untuk mengingat suatu memori yang pernah ada di ungkapan seseorang. Jari-jari dari tangan kanannya saling mengetuk-ketuk di atas meja dengan telapak tangan kiri menopang dagu, sementara sikunya menyangga meja kantin yang ia tempati bersama Freya.
Flashback On
“Elo emang sengaja mendiamkan kami berdua untuk menguji kemampuan gue dan Jova?”
“Iya. Jika gue hebat, itu artinya kalian bertiga juga harus hebat seperti diri gue. Karena gue tahu, kalian bertiga aslinya memiliki kelebihan terdalam.”
“Hah? Apaan??”
“Kecerdasan otak, kepekaan, dan lainnya. Sebenarnya semua itu ada di kalian tetapi kalian saja yang kurang menyadari.”
“Hahahaha! Anjay, gue cerdas darimana coba? Matematika aja suka anjlok nilainya. Peka? Gue kalau soal kepekaan terlalu lemah, apalagi lainnya.”
“Idih, tumben rendah diri?“
“Apakah lo yakin? Dengan lo merendahkan diri, itu malah menjadi sebaliknya. Oke, gue tahu lo paling gagal jika tentang pelajaran Matematika.”
“Tetapi, lo lihat saja nantinya. Semuanya akan berubah setelah gue ...”
“Setelah lo apa? Kok berhenti?”
“Bukan apa-apa. Lupakan saja yang kalimat terakhir.”
^^^{Dialog Berada Di Chapter 161}^^^
Flashback Off
Mengingat ucapan yang Angga ucapkan dulu, membuat telapak tangan kanan Jova perlahan mengepal, bibirnya sedikit demi sedikit mengatup dengan kedua mata perih karena air matanya nyaris ingin lolos membasahi kedua pipinya. Ia harus kuat dan bisa menahan tangisannya di depan kedua sahabatnya walau hatinya terasa sangat ditikam.
Hanya Jova saja yang mampu memberi kekuatan semangat untuk Freya dan Reyhan. Tanpa dirinya, mereka akan terus-terusan terhanyut dalam keterpurukannya.
Kini sekarang kepala Jova dipenuhi banyak tanda tanya mengenai perkataan Angga yang sengaja sahabat Introvert-nya potong agar tidak keceplosan atau kebablasan.
‘Ngga, sebenernya misteri apa yang lo sembunyikan dari kami? Kenapa gue di sini rasanya kurang tenang setelah mengingat semua penuturan yang elo lontarkan kepada kami bertiga. Sebenernya apa yang terjadi, Angga?’ batin Jova dengan dada nang terasa nyeri.
Freya yang melihat wajah Jova gelisah, mulai menyentuh bahu kiri sahabatnya dengan lembut. “Jova, kamu kenapa? Ada masalah?”
Jova membelalakkan matanya karena ucapan nada lemah-lembut dari Freya sekaligus sentuhan halusnya itu, membuat ia kaget. “Enggak, kok! Aku udah jarang, kali dapet masalah.”
Freya menatap curiga. “Beneran? Kalau ada masalah, ceritain aja ke aku.”
Jova menggelengkan kepalanya dengan mengulum senyum lalu mencubit hidung mancung milik Freya. “Beneran, kalau ada pasti langsung aku curahkan ke kamu. Tuh, mending kamu makan aja tahu baksonya, mumpung anget habis dimasak.”
“Hmmm, oke.”
“Nah, Pinter!” Setelah itu, Jova menghembuskan napasnya dengan menempelkan telapak tangan kanannya di dada waktu Freya tidak jadi ambil curiga kepadanya.
‘Maafin gue ya, Frey? Bukannya gue gak mau ceritain soal itu, tapi gue hanya nggak mau lo jadi kembali kepikiran sama Angga. Lihat lo bisa kembali lagi senyum dan tertawa, gue udah bahagia banget, kok.’
__ADS_1
Ya, Freya pernah berkata bahwa ia tidak akan pernah memikirkan lagi seperti apa keparahan Komanya sang kekasih yang belum berakhir. Tetapi bukan berarti juga soal demikian, Freya telah tak lagi berada di hatinya Angga. Jika tentang kedekatan amor, gadis cantik Nirmala tersebut masih sangat menyayangi serta mencintai Angga.
Ia hanya cuma tak ingin, kekhawatiran dalam dirinya ini mengganggu konsentrasi belajarnya di sekolah bahkan kegiatan aktivitas manapun, terlebih ia sudah trauma selalu berhalusinasi mengenai Angga. Entah bayangan, suara dan lainnya yang sampai sekarang masih melekat di ingatan memori otaknya.
Pagi, Kak Reyhan! Seneng, deh lihat Kakak sudah sembuh lagi. Auranya ke sini makin tampan aja, hihihi
Kakak mau makan di kantin sama siapa? Sendiri, Kak?
Halo, Kak Reyhan Sayang! Udah lama gak pernah bertemu, sekali ketemu rindu ini langsung terlepas
Gimana sama kepalanya Kakak? Udah pulih, belum? Denger-denger Kak Reyhan sempet Kritis lagi di rumah sakit, ya gara-gara ditabrak mobil sama kak Gerald?! Jahat banget !
Untung orang itu yang buat kak Anggara Koma sampe sekarang, udah jadi tengkorak di liang lahat kubur, kapok! Sukurin, emang pantes kalau dia mati. Ngapain hidup?
Jova yang mendengar seluruh kehebohan itu atas kedatangannya Reyhan, langsung menyenggol-nyenggol lengan tangannya Freya. “Lihat, tuh. Udah disapa aja sama banyak fans Fanatiknya si Reyhan. Kasian cowok itu, baru masuk ke kantin aja langsung diserbu sapaan huru-hara, mukanya dia sampe kebingungan, Anjir. Hahahaha!”
Reyhan yang mendapatkan sapaan hangat dan heboh dari semua adik kelasnya, hanya melambaikan tangannya di depan dada sambil nyengir. Tentu mereka yang dibalas oleh Reyhan layaknya selebriti, langsung teriak kesenangan, membuat gendang telinga lelaki itu rasanya ingin mau pecah.
“Woy, Rey! Di sini!” pekik Jova sambil melambaikan tangannya ke atas agar sahabat lelakinya segera mengetahui posisi keberadaannya bersama Freya.
Bola mata Reyhan langsung memusat cepat ke arah sahabat Tomboy-nya, dah ia mengacungkan jempolnya sambil menganggukkan kepala. Setelah berjalan menuju ke meja kantin yang disinggahi oleh Freya dan Jova, Reyhan menarik salah satu kursi yang kosong untuk ia duduki.
“Sorry, pasti kalian udah nunggu aku lama, ya?”
Freya menggeleng. “Enggak, kok. Tapi kalau Jova, udah dari tadi misuh-misuh karena dia hampir jadi lumut karena nungguin kamu, haha!”
Reyhan beralih menatap wajah Jova yang kusut. “Kangen, bilang.”
“Idih, Aca-aca nehi-nehi aku kangen sama kamu. Kita, kan bukan satu frekuensi!” cerca Jova.
“Oh, gitu? Ku tinggal mati, rasain!” Ucapan damprat dari Reyhan berhasil membuat mata Jova melotot tajam.
“Ih, kok ngomong gitu, sih?! Jangan, dong! Entar kalau kamu beneran mati, siapa yang bakal mau setiap hari ngajak aku debat pagi-pagi sama malem-malem? Kan, gak ada kalau selain kamu!”
“Hahahaha, ketagihan dia rupanya. Enggak, kok aku cuman bercanda doang. Ya, masa aku mau potong usia hidupku? Yang bener aja, lah!” seloroh Reyhan.
“Lagian kamu ngapain, sih ngomong kayak begituan? Gak baik, tahu.” Freya menegur Reyhan dengan wajah yang berubah cemberut.
“Hehe! Iya-iya, deh aku minta maaf. Oh iya, by the way kalian belum pesen makanan? Sini, aku aja yang pesan. Kalian mau makan sama minum apa? Itung-itung bayar tebusan kesalahan karena bikin kalian nunggu lama sama salah ngomong begitu tadi.”
“Widih, punya rasa tanggung jawab, ternyata!” sanjung Jova.
“Ya, dong. Namanya juga aku cowok, ya harus bisa punya rasa tanggung jawab! Apalagi kalau sama cewek. Udah gih, kalian mau pesan apa ke aku? Biar aku yang traktir hari ini.”
“Boleh, deh. Em, aku mau mie kuah rasa ayam bawang sama minumnya .. es nutrisari rasa jeruk. Kalau kamu mau pesan apa, Va?”
“Samain aja, deh. Kayaknya pesenan-mu menggiurkan semua buat aku. Nah, kamu sendiri apaan? Ya kali kamu yang pesen tapi gak ikut makan sama minum?” tanya Jova.
“Hmm, aku sama kayak kalian aja. Aku gak punya pilihan lain selain yang mau kalian pesen. Bentar, ya? Aku mau ke sana dulu. Kalian mendingan ngobrol-ngobrol duluan aja sembari menunggu aku.”
“Iya, ‘Geblek! Ngapain, sih tadi gue ngomong gitu sama Reyhan yang soal dia ngancem kalau ditinggal mati?! Jir, malu sendiri, kan gue akhirnya.’ kami tungguin kamu, deh.”
Reyhan yang telah berdiri dan mendengar suara rutuk batin hati dari Jova, tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Tangan kanannya yang diam itu, ia gunakan untuk mengusap-usap pucuk kepala sahabat Tomboy-nya.
“Makanya, lain kali kalau ngomong tuh di ayak terlebih dahulu. Oke? Daripada endingnya kena malu sendiri. Dah, aku pergi dulu.”
Reyhan melepaskan tangannya dari kepala Jova, lalu mulai melangkah pergi menuju ke salah satu pedagang kios kecil yang di sana ada beberapa siswa-siswa tengah senantiasa antri.
Jova membuka mulutnya dengan tubuh yang lagi-lagi tak mampu berkutik atas perlakuan manisnya Reyhan barusan. Bahkan kini entah mengapa detak jantungnya kembali berdebar tak menentu, membuat Freya yang melihat gelagat tidak biasa darinya fokus menatapnya.
“Ih, pipimu kenapa berona merah gitu, Va? Hehehe! Suka sama Reyhan, ya?” ledek Freya.
Mata Jova membulat lalu kepalanya menoleh ke arah Freya yang duduk di tepat sampingnya. “Enggak, ya! M-mana ada aku suka sama si Reyhan? Ini, tuh tadi habis digigit semut merah yang ada di sekitar sini.”
Freya mulai menopang salah satu pipinya dengan tangan kanan bersama kepala yang ia miringnya. “Masa? Kalau mau ngeles yang smart dikit, dong. Orang di sini gak ada semut sama sekali, kok.”
“Kalau kamu emang suka sama Reyhan, udah sih tinggal ungkapin aja. Pasti bakal diterima, kok. Daripada dipendam gitu, yang ada di hati malah jadi sesak terasa.”
Jova dibuat gerah oleh Freya yang memang sedang memancing emosinya, langsung mencubit pinggang sahabat polosnya, membuat Freya mengaduh kesakitan sambil tertawa puas karena telah berjaya membikin Jova marah dengan muka ekspresi konyolnya yang buat ngakak, pastinya.
“Kamu belajar darimana sampe sekarang pinter ngeledekin orang, haaaaa?! Aku tambahin, nih cubitan ala kepitingnya!”
“Ahahaha! Aduh, ampun! Iya, deh gak akan aku ulangi lagi!” mohon Freya.
“Seru bener kayaknya, pada ngapain? Sampe Freya ketawa gitu?”
“Rey?!” Nyaris saja Jova ingin terjungkal dari kursinya usai melihat sahabat lelakinya yang telah kembali sembari meletakkan nampan berisi tiga mangkuk mie kuah panas serta tiga gelas es nutrisari jeruk.
“Heran, kayak lagi ditatap sama setan. Kamu kenapa, sih? Mukamu juga merah padam gitu. Abis kena air panas, kah?” tanya bingung Reyhan sambil kembali duduk di tempat kursinya.
“Ya melepuh dong, wajahku! Entar gak bisa jadi cantik lagi. Cantik natural dan alami gini, kok kena air panas.” Freya serta Reyhan nyengir kompak saat melihat Jova yang mengelus pipinya dengan bercermin di depan layar ponsel.
“Sok cantik amat. Yaudah, nih mie kuahnya buat kalian. Tadi aku hampir aja mau minta pesen empat makanan sama minuman ini,” celoteh Reyhan seraya mengangkat satu persatu mangkuk panas ke antara Jova lalu Freya.
“Kenapa?” Jova bertanya.
“Ya, kan biasanya apa-apa kita berempat samaan kalau soal makan dan minum. Baru ingat, yang pesen cuman kita bertiga.”
Freya dan Jova tentu saja mengerti siapa yang Reyhan maksud barusan. Ya, Angga. Saking seringnya bersama, Reyhan nyaris saja mengambil pesan makanan-minuman dengan jumlah yang kelebihan satu.
Jova menghela napasnya sambil mengaduk-aduk mie kuahnya yang masih mengepul. “Perasaan pas kita lagi diperjalanan ke sekolah, langit masih cerah-cerah aja. Giliran saat sampe di sekolah apalagi kelas, suasana langitnya udah balik jadi mendung. Seperti hati kita yang kadang cerah, kadang mendung bagaikan awan kalbu.”
Freya yang mendengarnya, hanya memilih diam dan tak menggubris pernyataan panjang-lebar dari Jova. Ia memutuskan kini untuk meniup kuah kaldu mienya perlahan-lahan sebelum menyeruputnya.
“Ya, begitu. Mau bagaimana lagi? Namanya juga keadaan, takdir juga gak bisa diubah. Cuma bisa menerima walau berat,” gubris Reyhan dengan tanpa lagi senyum.
Jova menganggukkan kepalanya lalu kepalanya mulai menoleh ke arah kursi yang kosong. “Sepi, ya kalau gak ada Angga? Meski cowok itu banyak diem setiap di kantin, tetapi rasanya kayak ada yang kurang.”
Reyhan yang hendak memasukkan mienya ke dalam mulut, tertunda sejenak. “Itu pastilah, apalagi kita berempat apa-apa selalu bersama. Gak pernah pisah kecuali pulang ke rumah, anak Indigo terhebat itu bikin kangen semua orang, sumpah.”
“Setuju! Udah ganteng, cerdas, punya hati yang kayak malaikat, apa lagi, coba keistimewaannya dari Angga? Banyak banget. Orang yang berharga kayak dia, memang patut disayangi, dijaga, dan mendapatkan sejuta bahagia. Aku harap suatu saat nanti, Angga mencapai semua kebahagiaan itu.”
“Aamiin, Va.”
Freya menarik napasnya dengan dalam lalu menghembuskannya keluar bersama kepala yang sedikit tunduk ke bawah dan jangan lupakan wajah cantik muramnya. “Iya, Aamiin. Aku berharap banget esok Angga menggenggam semua kebahagiaan yang dia terima, walau aku gak tahu juga itu akan menjadi sebuah kenyataan atau tidak ...”
“Itu pasti, Freya! Kita positif thinking saja, seburuk-buruknya kondisi Komanya Angga, pasti Allah suatu ketika entah kapan akan memberikan suatu keajaiban untuk menafikan semua sakitnya dia yang diterima. Kamu percaya, kan sama aku?” bungah Jova untuk memberikan semangat ke sahabat lugunya.
Freya mengangkat wajah cantiknya lalu mengulas senyumannya di bibir. “Em, aku percaya.”
“Aku juga percaya!” timpal Reyhan dengan mengembangkan senyuman dan wajah ramahnya yang terpancar.
“Yeeee! Good Boy and good Girl, Guys! Ini, nih yang aku sukai dan tunggu-tunggu dari munculnya senyuman kalian. You are my true friends, hahahaha!!”
Tawa bahagianya Jova dengan wajah cerianya, disusul oleh Freya maupun Reyhan. Mereka tertawa bersama walau memang tidak ada seorang Anggara Vincent Kavindra di sisinya mereka.
INDIGO To Be Continued ›››
•••
Astaga, kalian bertiga bisa aja bikin hatiku terharu, ih! Walaupun aku yang menciptakan kalian di dalam novel genre Horor ini ;)
Terus, abang ipar gak, tuh? Untung hanya sampe kesedak doang ya, Rey? Gak nyampe kejengkang dari kursi makan. Wkwkwkwk
__ADS_1
Dan Alhamdulillah banget aku sama sekali gak nyangka bahwa cerita novel Indigo ini telah berhasil mencapai hingga 200 chapter! Tapi.. panjang amat, btw. Gakpapa kan, Readers? Hehehehe