
Gerald memiringkan kepalanya dengan posisi kedua mata saling menyipit dan mulut menganga, ia tidak menyangka Angga akan menyerahkan nyawanya ke tangannya. Sementara Emlano yang duduk santai di kursi pojok ruangan, menghisap batang rokoknya lalu menghembuskan asapnya dari mulut hingga bertebaran ke atas. Pemuda tersebut ikut tak menduga bahwa sang lelaki Indigo positif bakal berkata seperti itu, apalagi ia terlihat tidak takut menantang Gerald dan mautnya.
BRAK !!!
Ketiga lelaki itu menoleh ke pintu yang didobrak kencang oleh seseorang. Terlihat jelas sosok gadis cantik dengan rambut berantakan telah berdiri diambang pintu bersama mata mendelik.
“Freya?!” kejut Angga.
Freya berlari masuk ke dalam ruangan untuk mendatangi kekasihnya yang dalam bahaya, tetapi sepertinya ia menginjak sesuatu dibawahnya. Gadis itu segera menundukkan kepalanya hingga ia terkaget rupanya yang ia injak adalah tangan kiri Reyhan.
Melihat langsung Reyhan yang terkapar lemah di tanah beserta wajah nang sangat pucat, Freya langsung berjongkok dan menangkup kedua pipi sahabat lelakinya. “Reyhan?!”
Tak ada sahutan dari sahabatnya, membuat Freya menekankan semua gigi putihnya yang ada di dalam mulutnya. “Reyhan! Apa yang terjadi denganmu?! Kenapa kamu menjadi seperti ini?! Siapa yang sudah berani membuat kamu kayak gini, Rey?!”
“Selamat datang, Freya-ku Sayang. Sudah lama, ya kita tidak bertatapan muka. Dilihat dari sini, kamu makin cantik saja. Sini, peluk aku ... aku rindu sekali denganmu.”
Freya menatap tajam Gerald dan sangat muak karena harus melihat wajah mantannya kembali. Freya melepaskan telapak tangannya yang merangkum muka pucat Reyhan lalu segera bangkit untuk berlari membelakangi Angga, berguna buat melindungi pujaan hatinya.
“Dasar cowok Gila! Jauhi Angga detik ini juga! Apa, sih mau kamu sebenarnya, hah?! Kenapa kamu terus mengganggu Angga?! Sedangkan saja, dia tidak mengusik kehidupanmu!” murka Freya.
“Freya, kamu harus pergi sekarang-”
Freya menolehkan kepalanya ke belakang dengan menatap Angga tajam. “Enggak, Ngga! Aku gak akan pergi dari sini sebelum Gerald menjauhi kamu!!!”
Gerald berdecih sinis dengan memalingkan wajah iblisnya sesaat lalu menoleh ke arah sepasang kekasih yang dari mukanya nyaris seiras. “Kamu mau banget, sih pacaran sama cowok kayak dia? Padahal Angga selalu merepotkanmu berbagai hal. Seharusnya yang kamu cintai adalah aku, bukan dia!”
“Kenapa? Tidak boleh?! Untuk apa aku mencintaimu yang wataknya sangat mirip dengan bau sampah?! Kamu tidak pantas aku miliki. Dan aku, bukan jodoh seumur hidupmu! Lebih baik aku mencintai seorang lelaki yang seperti Angga daripada harus mencintai seorang lelaki jiwa iblis kayak kamu!!!”
“Hahaha! Ya ampun, kamu dihasut sama Angga apa saja, sih soal kehidupanku? Dia pasti membicarakan keburukanku, kan? Aku tahu itu. Lagipula, aku begini dengan dia karena aku dendam. Dendam akibat pacarmu membunuh sahabatku!!!”
“Kamu masih berpikir bahwa Angga yang telah membunuh sahabatmu?! Kamu hanya bisa melihat satu pihak saja tanpa sisi-sisi yang lain? Dasar lelaki Bodoh dan tidak tahu diri!” maki Freya membuat Angga menarik mundur badan gadisnya ke belakang untuk memindah posisi mereka.
“Cukup, Frey. Semua itu tidak ada gunanya lagi untuk kamu ingin memberi paham ke Gerald, semua sudah terlanjur! Kesalahpahaman itu telah tidak bisa dihilangkan, karena percuma saja Gerald gak akan mau mempercayai keberadaan dia yang gaib.”
Angga memegang kedua bahu Freya lalu menatapnya lekat. “Gerald bukan urusanmu. Dia sudah tidak ada lagi hubungan apa-apa sama kamu, biarkan ini menjadi urusanku. Kamu jangan pernah ikut masuk campur ke masalah pribadi ini, tolong.”
Angga menghempaskan napasnya lalu melepaskan kedua telapak tangannya dari pundak kecil Freya, lalu memutar tubuhnya untuk menghadap kembali ke arah Gerald.
“Sorry gue menjauhkan kehidupan lo dari Freya, karena gue gak bisa diam begitu saja dimana saat lo ingin melakukan kebiadaban di klub! Gue tidak bisa menjamin sepenuhnya lo akan menjaga Freya dengan baik-baik. Yang ada, lo hanya akan merusak masa depannya!”
“Hm! Begitu, ya?”
JLEB !!!
Mulut Angga terbuka dengan tatapan terpaku pada mata aura hitam Gerald saat perutnya ditusuk oleh pisau yang sedang ia genggam hingga menembus kaos pendek oblong warna hitamnya. Lalu Gerald dengan gerakan paksa, mencabut pisaunya dari perut Angga yang telah mengeluarkan banyak darah.
“Thanks sudah menasehati gue dengan sepenuh hati. Tapi ingat, lo akan tamat hari ini!”
JLEB !!!
Pisau tajam yang telah berlumuran darah Angga itu, Gerald gunakan untuk menancapkannya lagi di tepat luka besar perut musuhnya dengan sangat dalam lalu kemudian mencabutnya begitu saja. Sedangkan Freya yang menyaksikan adegan sadis itu, terkaget setengah mati.
“GERALD!!!”
“Apa, Sayang?” responnya lalu melempar raga Angga hingga menubruk beberapa kardus yang bertumpukan di pelosok dinding sana.
Di ujung sana, Angga yang terduduk berusaha menyeka luka perut bagian tengahnya nang mana darah miliknya terus mengalir keluar dengan derasnya sampai telapak tangannya yang ia gunakan untuk menahan cairan merah pekat dari dalam tubuhnya, berlumuran darah.
“Angga-”
“Hei, kamu mau kemana? Biarkan dia mati perlahan di sana. Kamu mending balikan saja sama aku, hidup Angga tidak akan lama lagi,” sanggah Gerald seraya mencegah lengan tangan mungil Freya.
PLAK !!!
Karena kesal dan marah, Freya menampar kencang pipi Gerald dengan napas naik-turun menggebu-gebu. Pemuda itu yang ditampar oleh kekasih masa lalunya, meraba pipinya nang terasa perih.
“Aku tidak akan sudi balikan sama kamu! Sudah aku bilang, kan?! Kamu tidak pantas aku miliki! Apakah pendengaranmu bermasalah, hah?!”
Gerald mengarahkan bola matanya ke arah Freya bersama mata melotot. “Sekarang kamu jawab pertanyaanku, kenapa kamu sekarang membenci diriku? Padahal dulu kamu sayang dan cinta banget sama aku. Bahkan saking cintanya, kamu nggak mau kehilangan aku. Ternyata Angga berpengaruh buruk buat kamu, ya! Setidaknya, kamu harus menghargai hatiku dong. Aku terluka sekali karena pacarmu!”
Freya maju lalu mendorong dada bidang Gerald dengan emosi yang membuncah. “Lebih terluka siapa dari Angga?! Angga jauh lebih terluka karena kebejatan yang kamu lakukan! Apa kamu tidak tahu dimana patokan kesalahanmu terhadap Angga?! Sudah banyak luka yang kamu taruh di pacarku!”
“Melakukan pembullyan secara verbal maupun fisik, menuduh jika Angga seorang pembunuh padahal tidak ada bukti yang kuat, terakhir kamu hampir membuat jiwa Angga melayang di rumah sakit! Kamu tidak sadar berapa torehan luka yang sengaja kamu letakkan di hati Angga?!”
“Untuk kematian sahabatmu, itu adalah sebuah karma! Karena apa? Karena dia juga sudah sama menyakiti Angga!! Dia pantas mendapatkan siksaan itu hingga raganya berakhir tak bernyawa!!!”
Mendengar kalimat panjang terakhir dari Freya, membuat Gerald sangat marah dan tidak terima bahkan rahangnya sampai mengeras akibat perkataan gadis cantik itu yang menohok hatinya.
__ADS_1
‘Eit! Tunggu dulu, gue akan memancing Angga sesuatu agar di benar-benar mati di tangan diri gue. Ini pasti akan banyak mengandung drama dan kepedihan yang mendalam.’
Bibir Angga mengering pucat dan lelaki tampan itu sempat mendapat suara hati Gerald yang mengintimidasi. Angga berusaha bertahan meski dirinya sudah tidak kuat lagi.
‘Gue tidak akan membiarkan lo melukai Freya dengan cara apa yang lo lakukan. Kalaupun iya, gue akan sudi dan rela mengorbankan nyawa gue demi keselamatannya.’
Gerald mengambil sebuah besi besar dan panjang yang terletak di atas meja belakang punggung Freya. Pemuda itu tersenyum diagonal seraya maju melangkah pelan mendekati Freya yang mulai ketakutan.
“Rald? Kamu mau apain aku?!” gelabah Freya dengan nada getar seraya memutar langkahnya mundur menghindari jaraknya dari Gerald yang memegang besi berukuran besar dan panjang.
“Kamu pikir aku terima, setelah kamu berkata seperti itu padaku? Aku padahal tadi sudah menguatkan sabarku kepadamu, tetapi kamu malah semakin ngelunjak, ya!”
Nyali Freya bertambah menciut saat Gerald akan melayangkan senjata membahayakan itu ke arahnya. “Cewek sok jual mahal kayak kamu, rupanya emang harus diberi pelajaran agar sedikit ngotak!!!”
“Gerald, jangan!!!” teriak Angga seraya berlari sekuat tenaga saat besi itu ia arahkan ke tubuh mungil Freya.
Dengan cepat, Angga memutar posisi tubuhnya Freya untuk menjauh dari Gerald dan senjata itu. Alhasil, pukulan kencang tersebut meleset dan berhasil mengenai kepala Angga. Sementara raga mungil Freya, pemuda tampan itu peluk erat bersama salah satu tangan melindungi kepalanya agar tak terkena pukulan hebat.
Freya memejamkan matanya rapat saat mendengar hantaman pukulan yang begitu sangatlah kuat didekat sekitarnya. Gadis itu beralih membuka mata indahnya lalu menunduk ke bawah saat menangkap suara tetesan sesuatu. Freya terkejut melihat banyaknya tetesan darah yang jatuh dari atas dan posisinya sudah menodai sepatu putih milik Angga.
‘Darah ini berasal darimana?!’
Freya dengan detak jantung yang berdegup kencang, mendongakkan kepalanya ke wajah tampan Angga. Ia amat Syok melihat kening kiri kekasihnya terluka hingga menimbulkan keluarnya darah yang mengalir sampai ujung dagu.
“A-a-angga?!”
Angga langsung limbung jatuh ke lantai tepat setelah Freya memanggil namanya dengan gagap. Gadis itu ikut terjatuh keras di lantai semen karena keadaan posisinya, Angga masih mendekap tubuhnya kendatipun sudah melonggar akibat pukulan kuat yang mengenai kepalanya.
Gerald yang melihat musuhnya tergelimpang lemah di lantai, tersenyum kemenangan lalu membuang besi itu yang ujungnya telah berdarah karena terkena luka darah dari keningnya Angga.
“Angga! Kepalamu berdarah!!” teriak Freya yang duduk bersimpuh di samping lelaki tampan itu, sementara Angga posisinya sudah terbaring terlentang lemah di atas lantai.
Napas Angga engap-engap, bola matanya menatap langit-langit dinding yang dipenuhi sarang laba-laba. Wajahnya semakin memucat akibat hantaman pukulan dahsyat yang berjaya melukai kepalanya.
“Hiks! Anggara!!!” Freya berusaha menyeka seluruh luka darah kekasihnya yang tetap terus bebas mengalir keluar dari dalam tubuhnya.
Sampai akhirnya, bola mata Angga melirik ke arah wajah cantik panik gadisnya yang berupaya menghentikan luka darahnya mulai dari perut dan keningnya. “F-freya ...”
Suara Angga yang sangat lemah, membuat tangisan Freya makin deras. Sampai tiba-tiba Jova beserta keempat temannya datang dan masuk ke dalam ruangan temaram tersebut.
“Astaghfirullahaladzim, Reyhan?! Lo kenapa?!” panik Jevran seraya menjatuhkan lutut-lututnya dan cepat meraih tubuh lemah tetangganya yang kondisinya tidak sadarkan diri.
“Kalian datang terlambat. Reyhan dan Angga sudah sekarat, sebentar lagi mereka akan meluncur ke Akhirat, hahahahaha!”
“Cowok Bangsat!!! Apa yang lo maksud, hah?! Kenapa lo begitu tega melakukan ini semua ke dua sahabat gue?!” lolong Jova melotot pada Gerald.
“Ya ... gue hanya ingin menghilangkan dendam gue saja, sih. Mangkanya gue buat Reyhan terutama Angga seperti itu. Karena tanpa adanya mereka, gue bisa hidup bahagia!”
“Cowok Bajingan!!! Apa yang telah kamu lakukan pada Angga sudah sangat fatal!” teriak Freya marah dengan air mata tidak berhenti mengalir.
“Ssssstt ...” Angga menyentuh pipi kiri Freya yang telah dilumuri air matanya setelah ia mengangkat tangannya dengan sangat lemah dan tidak bertenaga.
Freya menundukkan kepalanya untuk menatap wajah tampan kekasihnya yang sangat pucat itu. “Cukup ... ini sudah takdir untukku ...”
Freya menggelengkan kepalanya kuat lalu mengelus telapak tangan halus Angga yang menyentuh pipinya dengan senyuman bibir lemahnya. “Kamu harus bertahan, Angga!”
“Vran ...”
Jevran yang menatap khawatir kondisi Angga nang sangat parah bersama Freya didekatnya, terkejut lalu spontan menatap Reyhan yang kepalanya berada di atas pahanya. “Rey?! Alhamdulilah, Ya Allah! Lo sudah sadar?!”
“Rey! Kamu sudah sadar?!” Jova tersenyum bahagia seraya duduk berlutut di sebelah sahabat lelakinya.
“Sakit ...”
“Woi jangan ngomong begitu, dong! Iya, kami tahu lo sakit! Ini gue lagi mau telpon ambulan rumah sakit yang ada di kota Bogor. Tahan sebentar, ye?!” ucap Aji seraya mengeluarkan ponselnya dari kantong saku celana.
“Cepetan, buruan!!!” pekik Jova.
“Allahu Akbar! Iya, Va! Iya! Ini lagi mau aku hubungi sebentar. Rey, Ngga .. kami mohon bertahan sebentar, ya?! Gue bakal suruh mobil ambulan dateng ke hutan sini!” panik Aji lalu mengotak-atik layar ponselnya.
Sementara seperti Gerald dan Emlano, nampak santai saja di situ seperti tidak memiliki kesalahan yang padahal sama-sama fatal mereka melukainya. Reyhan berusaha ambil napas dalam karena napas yang ia rasakan sangat berat.
Sampai akhirnya lelaki Friendly itu kembali muntah darah membuat keenam remaja terkejut setengah mati. Jevran yang menopang tubuh lemahnya, segera mengelap darah mulut Reyhan dengan air mata saling menumpuk di pelupuknya.
“Gue gak kuat ... jantung ini rasanya mau pecah ...”
Jova menggelengkan kepalanya kuat. “Hiks! Jangan bilang gitu dong, Rey! Kamu harus kuat! Bentar lagi ambulan-nya dateng, kok! Please bertahanlah sebentar, saja! Ya?!”
__ADS_1
“Aku nggak bisa ... sakit banget, Va ...”
“Huhuhuhu! Dibilang suruh kuat, juga! Malah ngomong kayak gitu! Kami ada di sini, Rey! Yang bertahan, dong!” gusar Jova seraya dengan mengangkat tangan lemas sahabat lelakinya lalu mencium telapak tangannya saking tidak ingin kehilangan sosok sahabat humoris dalam hidupnya.
Reyhan menoleh lemah ke arah Angga yang terbaring tak berdaya di pojok tembok. Pandangan lelaki itu yang semula baik-baik saja, kini balik mengabur hingga matanya tertutup tenang kembali.
“Reyhan?! Huhuhu! Malah pingsan, lagi!!!” rengek Jova lalu mengguncang-guncang tubuh sahabatnya dengan tangisan derasnya.
“Rey?! Rey?! Ya Allah! Bangun, dong! Jangan kayak gini lagi! Gak akan seru kalau di dunia ini gak ada elo,” susul Aji merengek ikut menggoyang-goyangkan tubuh lemah temannya.
“Rey! Apapun itu, lo harus bertahan! Elo gak boleh asal pergi meninggalkan kami semua!!” ujar pinta Jevran dengan air matanya yang mengalir.
Sementara seperti Lala dan Rena, memegang kakinya Reyhan dengan hati yang sangat pedih melihat keadaan parah kedua teman lelaki kelasnya.
Hati Freya semakin sakit melihat kondisi Reyhan ditambah Angga sang kekasihnya yang jauh lebih parah daripada sahabat lelakinya. Gadis polos itu tetap mengelus-elus telapak tangan Angga.
Kemudian setelah itu, Freya kembali menatap wajah lelakinya. “Angga! Tetap tatap mataku, tolong jangan sampai matamu menutup! Aku gak mau kehilanganmu!”
Angga menggerakkan lemah jempol jari tangannya untuk mengusap singkat air mata gadisnya. “Jangan menangis ... kamu harus siap kalau aku tiada ...”
“Aku gak bisa, Ngga! Aku gak siap kalau kamu pergi meninggalkanku! Aku sayang banget sama kamu!” Tangisan Freya makin kencang hingga tersedu-sedu.
“Mungkin ... permintaan Gerald yang mana dia menginginkan aku pergi dari dunia, akan terwujudkan ...”
Freya menggelengkan kepalanya kuat dengan mendekatkan tubuh lemah Angga ke pelukannya. “Enggak! Semuanya gak akan terkabulkan!! Kamu jangan bilang seperti itu, Ngga! Banyak yang sayang dengan dirimu, Hiks-hiks-hiks!!!”
“Freya, setiap manusia pasti akan pergi meninggalkan dunia ... dan yang ditinggalkan harus tabah dan Ikhlas atas kepergiannya ...”
“Tapi aku gak mau kamu pergi, Angga! Aku sayang banget sama kamu! Aku cinta banget sama kamu! Tolong jangan tinggalkan aku!”
Angga tetap tersenyum walau ia bisa merasakan hati kekasihnya seperti sedang dicabik-cabik. “Jika aku pergi ... tolong Ikhlaskan aku, ya ...”
Freya tetap menggelengkan kepalanya. “Please, Ngga! Kamu jangan berkata seperti itu! Aku benar-benar tidak ingin kehilangan kamu! Kita telah bersama dari kecil, masa kamu mau ninggalin aku?!”
Angga mengambil napas dalam saat ia merasakan napasnya begitu berat, rasanya nyawanya ingin pergi dari raganya. Bahkan sekarang pandangannya mulai memburam dan ia sulit melihat wajah cantik kekasihnya yang masih menangisinya. Mungkin Angga harus mengeluarkan perkataan kalimat terakhir untuk Freya sebelum kegelapan merebutnya.
“Freya, terimakasih ya kamu telah menerima cintaku ... dan terimakasih kamu sudah mencintaiku dengan sepenuh hatimu ... aku, sayang kamu ...”
Sesudah mengeluarkan kalimat terakhir untuk kekasih yang Angga sangat cintai, kedua mata lelaki tampan itu perlahan terpejam dengan tenang lalu telapak tangan yang menyentuh pipi mulus Freya, jatuh terkulai lemas di lantai hingga tangannya mengenai genangan darahnya.
“Jangan, Ngga ... jangan!”
“ANGGAAAAAAAA!!!” Freya memeluk raga kekasihnya dengan tangisan pecahnya saat mengetahui matanya Angga telah tertutup apalagi sudah tidak merespon panggilannya.
Kelima remaja tersebut menoleh ke arah Freya yang berteriak histeris sambil mendekap erat tubuh sang kekasihnya. Kemudian Freya beralih menarik-narik kerah dari kemeja panjang Angga untuk memintanya segera bangun.
“Hiks! Angga, aku mohon buka matamu! Kamu nggak bisa kayak begini! Ayolah! Kurang beberapa perjalanan lagi, mobil ambulan akan sampai. Nyawamu pasti akan diselamatkan oleh dokter di rumah sakit!”
Freya beringsut kembali memeluk tubuh Angga dengan tangisan pilunya. Sampai tiba-tiba terdengar sirine dua mobil ambulans dari luar markas beserta dua mobil polisi yang terdengar sangat jelas, membuat Gerald dan Emlano panik tidak karuan setelah menonton aksi menyenangkan hati ini.
Beberapa paramedis yang berpakaian putih itu masuk ke dalam ruangan sambil mendorong dua stretcher ambulans masing-masing. Setelah tubuh para pasien yaitu Angga dan Reyhan diangkat lalu dibaringkan ke stretcher itu, mereka membawanya ke mobil ambulans segera agar langsung diberi tindakan oleh petugas medis di rumah sakit.
“Jangan bergerak, atau kami tembak!” tegas dua polisi dengan menodongkan pistol ke arah para kedua pelaku yakni adalah Gerald dan Emlano.
Kedua pemuda itu langsung reflek mengangkat kedua tangannya dengan mata melotot tajam. Tak menunggu berapa lama, Emlano dan Gerald langsung dikunci tangannya oleh borgol dan lekas digiring paksa ke dalam mobil polisi. Sementara Reyhan dan Angga telah dimasukkan ke dalam mobil ambulans yang berbeda.
Di luar, Freya berlari untuk masuk ke dalam belakang mobil ambulans lepau menemani Angga selama di perjalanan ke rumah sakit nanti setelah mendapatkan izin dari salah satu paramedis.
“Jova! Mending kamu ikut ke mobil ambulan-nya Reyhan saja, oke? Biar nanti kamu tahu juga kondisi sahabatmu seperti apa. Jangan lupa nanti pas sampe di rumah sakit, hubungi keluarganya!”
Jova hanya mengangguk pada perintah komandonya Rena untuknya. Gadis Tomboy itu kemudian berlari ke mobil ambulans yang ditumpangi oleh Reyhan.
“Sus! Saya boleh ikut ke dalam mobil ambulan untuk menemani sahabat saya hingga sampai ke rumah sakit?!”
“Iya, tentu saja. Silahkan masuk.”
Jova mengangguk antusias dengan senyum lalu segera menaiki mobil ambulans yang sebentar lagi akan melaju bersama mobil ambulans lainnya yang ditumpangi oleh Angga beserta Freya.
Sementara Jevran nampak sedang berbincang serius dengan salah satu polisi yang berbadan tinggi, tepatnya di luar markas. “Terimakasih atas kerjasamanya, Pak Polisi!”
“Iya. Sama-sama, Nak. Terimakasih juga telah melaporkan kedua anak muda itu pada kami. Mereka sebenarnya adalah buronan polisi dari kantor kami, kami akan segera meminta pertanggungjawaban mereka atas kasus kriminal ini. Kalau begitu, saya permisi.”
“Baik, Pak.”
Jevran yang tadi telah menghubungi polisi pada ponselnya dengan nomor 112, begitu tersentak kaget karena rupanya Gerald dan Emlano adalah buronan para polisi dari kantor tersebut. Jevran tersenyum miris dengan menggelengkan kepalanya, tidak menduga kalau kedua pemuda itu memiliki kasus kriminal lainnya selain ini.
‘Oh my gosh. Mereka berdua adalah buronan polisi? Yang pantas saja. Mereka harus mendapatkan hukuman yang berat karena telah membuat dua teman gue masuk rumah sakit. Kalau perlu, hukum mati saja sekalian.’
__ADS_1
INDIGO To Be Continued ›››