
Ketiga sahabat Reyhan saling melemparkan pandangannya dengan tatapan gelisah yang terjadi pada Reyhan. Tentu saja sudah hampir satu minggu ini Reyhan terus saja membisu, tatapan matanya kosong, hatinya rapuh. Depresi yang di alami Reyhan membuat pemuda yang jati dirinya periang dan humoris tidak bisa menjalani hidupnya dengan baik selagi dirinya masih saja seperti ini.
Jova yang mengenakan kemeja kotak-kotak warna ungunya, melambai-lambaikan tangannya dengan gregetan dikarenakan setiap obrolan panjang yang dikeluarkan oleh gadis itu tak di tanggapi Reyhan sesingkat pun. “Hei Rey! Aku udah capek-capek ngomong sampe mulutku pegel, kamu masih aja bisu gak jawab?!”
“Eh sudah Va, kamu jangan marahin Reyhan. Apa kamu nggak tau rasa yang dirasain Reyhan? Mau kamu bicara seribu katapun, Reyhan nggak akan jawab selagi sahabat kita seperti ini.”
“Ya caranya, lah Frey! Masa kita diem aja lihat sahabat kita yang kena Depresi berat gini?! Gimanapun itu Reyhan gak boleh kayak begini. Lagian ini cowok betah banget gak ngomong selama enam hari ini, mana diem kayak patung Mumi dalem peti!”
Freya berharap Reyhan membalas ucapan Jova yang terkesan meledeknya. Sayangnya, Reyhan masih sama saja tidak menjawab. ‘Hhh, gagal lagi deh. Semuanya kayaknya gak mempan buat Reyhan.’
“Rey, lo mau sarapan? Biar gue yang ambilin untuk lo,” tawar Angga yang sedari tadi hanya diam.
Menunggu Reyhan menjawab tawaran darinya, akan tetapi sahabatnya itu tetap tak menjawabnya, meresponnya dengan gerakan tubuh juga tidak. Jova berdecak seraya berkacak pinggang bersama ekspresi raut wajah sebal.
“Jawab iya atau tidak, kek! Jawab singkat itu aja kamu ogah! Sampai kapan kamu kayak begini terus Reyhaaaann!!” geram Jova.
“Aduh, sudah dong Vaaa ... kalau kamu terus saja memarahi Reyhan mulu, yang ada Reyhan timbul Stress karena marahan-mu. Sakitnya Reyhan juga bisa lama sembuhnya.”
“Naik darah aku tuh Frey dibuatnya,” ucap Jova dengan nada melunak.
Freya menoleh ke Angga yang menatap Reyhan dengan wajah teduhnya. “Angga, apa lebih baik kita bertiga bawa Reyhan jalan-jalan keliling rumah sakit di sini? Kayaknya Reyhan butuh udara segar dan siapa tau juga suasana hatinya bisa menjadi baik.”
“Jangan dulu, kondisi Reyhan masih lemah. Mending kapan-kapan saja kalau keadaannya udah agak membaik, lihat Reyhan ... dia harus butuh banyak istirahat total, aku sih nurut apa yang dikatain dokter waktu itu.”
“Hah? Masih lemah? Yakali udah beberapa hari ini Reyhan masih lemah terus?!”
“Jova, Reyhan lemah itu akibat dia mengalami Depresi yang cukup berat. Karena Depresi itu, buat imunitas tubuhnya melemah, terlebihnya selera makan-nya menjadi turun.”
Freya dan Jova melongo pada penuturan Angga yang layaknya seorang dokter sedang menjelaskan. Jova bertepuk tangan lumayan kencang. “Wah, anak dokter bener nih!”
“Biasa aja kali, mungkin seharusnya kalian sudah harus tahu tentang yang dialami Reyhan.”
Freya dan Jova mengangguk dengan menarik senyum, kemudian Freya bertanya pada Angga, “Angga, besok kata temen-temen mau jenguk Reyhan ke sini ya? Kayaknya kalau aku gak salah denger mereka bilang begitu.”
“Iya, kebetulan besok yang dateng kesini temen-temen cowok. Tapi kalau kalian berdua besok mau kesini lagi juga nggak masalah.”
“Gak bisa aku Ngga, soalnya besok tuh ada acara keluarga di rumah kakak mamaku. Acara besar-besaran sih apalagi dilaksanakannya pagi sekitar jam sembilan gitu,” ujar Jova.
“Oh begitu, yaudah nggak apa-apa. Sebenernya mereka yang cowok-cowok kesini buat ngehibur Reyhan, ya katanya sebisanya. Aku juga nggak tau menghibur dengan cara apa, semoga aja gak yang aneh-aneh.”
“Hahahaha! Temen-temen kita yang cowok tuh kebanyakan hilang akhlaknya, bahkan otaknya yang gesrek banyak juga kok. Contohnya Aji, Jevran, Raka, Andra .. kalau yang lainnya sih agak mending warasnya.”
“Wah parah bener kamu Va, temen sendiri dikatain begitu. Nanti kalau kamu diserang balik omongan sama mereka berempat gimana hayo? Memangnya kamu sanggup berdebat sama empat cowok?”
“Sanggupnya sih, cuman satu cowok doang. Biar fair lah satu lawan satu.”
“Hehehehe, iya deh aku tau. Maksudmu yang sanggup kamu ajak debat cuman Reyhan ya, kan??” tanya Freya nyengir.
Jova langsung menoleh menatap Reyhan yang ternyata Reyhan juga menatapnya, namun Reyhan setelah itu belum ada semenit kembali menghadapkan bola matanya ke depan lurus. Jova menghembuskan napasnya melihat Reyhan yang seolah sahabatnya itu tak kenal dengannya.
Jova yang tak tahan dengan sikapnya Reyhan, mencoba menepuk-nepuk pipi Reyhan sedikit keras, bukannya protes malahan justru Reyhan memejamkan matanya. Jova berhenti menepuk-nepuk pipi sahabatnya lalu beralih, kedua tangan jarinya menarik dua sudut bibir Reyhan agar membentuk sunggingan senyuman. Namun apa yang terjadi?
Reyhan membuka matanya cepat lalu menatap tajam dengan bola mata mencuat. “JANGAN GANGGU GUE!!!”
PLAK !!
Dengan sangat kasar, Reyhan menepis kencang tangan Jova dan tangan kanan Reyhan mendorong badan Jova hingga gadis itu terhuyung ke belakang, hampir saja jatuh tersungkur di lantai. Bersama rambut yang acak-acakan berantakan, dan wajah raut amarah serta hati penuh emosi yang tak terkontrol, pemuda yang Depresi berat itu bangkit duduk dan menuding kencang Jova yang terperangah dan mulai ketakutan.
“KALAU LO DI SINI CUMAN BIKIN GUE MAKIN STRESS, MENDING LO PERGI DARI SINI!! DASAR PEREMPUAN GAK TAU DIRI! BANGSAT!!!”
DEG !
Angga dan Freya sangat terkejut pada ucapan lantang Reyhan yang suara amukannya menyeramkan, bahkan Freya sampai gemetaran pada suara amarah Reyhan yang secara tiba-tiba. Jova menelan ludahnya susah payah dan memberanikan diri untuk menyahut Reyhan.
“Kenapa kamu ngomong begitu sama aku, Rey??!! Aku cuman mau buat kamu berubah seperti dulu! Memangnya di sini ada yang mau kamu kayak gini, hah?! Kamu sedari tadi hanya diam dan diam! Wajar kan kalau aku ngelakuin itu ke kamu!!!”
Napas Reyhan naik turun dengan cepat, rahangnya mengeras. “GUE GAK MAU DENGER ALASAN DARI LO APAPUN!! OTAK LO DIMANA SIH, HAH??!! LO DI SINI MAKIN GUE GAK KARUAN TAU GAK!!!”
“OKE GUE MINTA MAAF! KALAU SEKIRANYA MENURUT LO GUE SALAH!!!”
Freya yang ada di dekat Jova langsung menarik badannya dan mengusap-usap punggung Jova. “Sudah Va sudah! Kalian jangan berantem!!”
Freya yang menatap Reyhan begitu kaget. “D-darah?!”
Suatu cairan darah keluar dari lubang hidung Reyhan, sementara Reyhan yang telah mengeluarkan tenaga amarah besarnya kepalanya tiba-tiba terasa begitu pusing hingga pandangannya berkunang-kunang.
“Eh Rey!”
Grep !
Angga cekatan yang ada di kiri Reyhan menangkap badan Reyhan yang sahabatnya ambruk ke ranjang pasien. Detak jantung Angga berpacu dengan cepat disaat melihat kedua mata Reyhan terpejam.
“Rey?! Rey?!” panggil Angga cemas dengan mengguncangkan tubuh sahabatnya yang tangan kanan Angga menopang punggung lemah Reyhan.
Jova yang matanya terbelalak sempurna langsung berlari menghampiri Reyhan. Pada setelah itu gadis tersebut begitu panik hingga menangkup wajah pucat Reyhan bersama kedua tangannya. “Rey kamu kenapa Rey?! Maafin aku Rey!! Hiks, bangun Rey! Bangun!!”
Jova sekalian membersihkan hidung Reyhan yang berdarah-darah tersebut menggunakan telapak tangannya sendiri, sementara itu Freya dengan juga panik berlari dari belakang Angga untuk menekan tombol merah darurat membantu memanggil dokter dan para perawat. Tak berapa lama kemudian, dokter Sam membuka kencang pintu kamar rawat no 114 lalu mendatangi pasiennya yang membuat panik sahabat-sahabatnya.
Dengan raut panik, Angga menoleh ke dokter Sam. “Dokter tolongin Sahabat kami!!”
“Kalian bertiga yang tenang dulu ya, biarkan dokter yang memeriksa Reyhan,” ucap dokter Sam memberikan ketenangan.
Angga melepaskan tangannya dari punggung Reyhan yang sedang ia topang, membiarkan dua perawat lelaki berseragam putih tersebut yang kembali membaringkan tubuh lemahnya Reyhan di atas ranjang pasien. Angga berjalan mundur agar antara dokter dan beberapa perawat fokus pada jalanan kegiatannya.
Setelah mengangguk pada komando suruh dari sang beliau dokter Sam, satu perawat mengambilkan selang oksigen Nasal Kanul dari tempat atas kepala ranjang. Usai membenarkan selang oksigen tersebut agar dapat memasangkannya di hidung Reyhan. Selesai dipasangkan, dokter Sam membuka mata Reyhan satu persatu, di situ sang dokter menyorotkan pupil mata Reyhan dengan cahaya senter kecil medisnya. Kemudian dokter Sam memasukkan senter medisnya lalu beralih memeriksa atau mengecek detak jantung si pasien mulai dari dada kanan lalu beralih memeriksanya di bagian dada kiri dengan Stetoskop yang selalu beliau kenakan.
Bagian untuk mendengarkan suara detak jantungnya Reyhan, dokter Sam lepaskan dari kedua telinganya dan alat itu kembali beliau lingkarkan di leher. Sang dokter mengangkat telapak tangan kiri pasien yang di infus. Begitu sangat lemas disaat digenggam oleh beliau. Setelah itu, dokter Sam meletakkan telapak tangan Reyhan di atas ranjang pasien tempat ia terbaring lemah.
“Dok, bagaimana dengan keadaan Reyhan?!” tanya Angga yang cemas.
“Tidak perlu terlalu khawatir, Reyhan akan baik-baik saja. Tetapi saat ini Reyhan membutuhkan Terapi oksigen yang telah dipasangkan oleh suster, dikarenakan Depresi yang dialami Reyhan malah justru berat dan tambah parah. Namun itu bisa diatasinya dengan suasana hatinya kok.”
“Dan saat Dokter periksa, sepertinya emosi Reyhan tidak terkontrol yang mengakibatkan sahabat kalian sampai hilang kesadaran dan tepatnya itu adalah faktor pengaruh dari gangguan Depresinya. Dokter hanya menyarankan untuk membiarkan Reyhan istirahat dengan total hingga keadaannya benar-benar membaik. Oh iya, apakah orangtuanya Reyhan ada di sini?”
“Orangtuanya Reyhan sedang pergi, Dok. Mungkin sebentar lagi mereka datang,” jawab Freya.
“Baiklah Nak kalau begitu, nanti mohon disampaikan kepada kedua orangtuanya Reyhan ya.”
“Baik Dok, tapi Dokter jika kami boleh tahu, kapan Reyhan akan sadar kembali?” Angga bertanya dengan wajah raut gundah.
Dokter Sam menoleh ke Reyhan. “Melihat kondisinya yang masih cukup lemah, lebih baik kita tunggu saja ya. Jangan khawatir pada keadaan Reyhan, Reyhan pastinya akan sadar kok. Untuk saat ini memang kondisinya cukup lemah akibat gangguan Depresi yang sahabat kalian alami.”
Angga menghembuskan napasnya pelan lewat mulut sekaligus memejamkan matanya sejenak lalu membukanya kembali. “Huh, baik Dokter. Kalau begitu, terimakasih.”
__ADS_1
“Iya, sama-sama. Kalau begitu Dokter dan suster-suster mohon pamit dulu ya, Nak.”
“Baik Dok.”
Setelah dijawab oleh Angga dan Freya bersamaan, dokter Sam melangkah keluar dari kamar rawat. Sementara beberapa perawat menarik selimut tebal untuk Reyhan, serta kedua tangan pemuda itu yang ada di dalam selimut, di keluarkan oleh dua perawat satu persatu dan mereka letakkan kedua tangan lemas si pasien di atas selimut tebalnya.
Kini para perawat telah keluar dari kamar rawat begitupun sang dokter yang tadi menangani Reyhan. Freya yang sedari tadi saat dokter Sam dan beberapa perawat masuk ke ruang perawatan tak mendengar suara Jova yang mengeluarkan suara, maka dari itu Freya menoleh ke sahabatnya.
Dilihatnya ternyata Jova tengah duduk di kursi sofa dengan kedua tangan memeluk dua kakinya sementara wajahnya membenam di atas lutut-lutut kakinya. Freya dan Angga ikut duduk di kursi sofa dan Freya menyentuh perlahan bahu gadis sahabatnya tersebut.
“Va, kamu kenapa?”
“Huhu aku bodoh! Bodoh udah buat Reyhan kayak gitu hiks! Memang deh, aku di sini malah bikin Reyhan tambah Depresi huhuhu!”
“Eh, jangan bilang begitu! Aku sama Angga tau kok, niat kamu mau buat Reyhan berubah.”
Cklek !
Pintu kamar rawat dibuka kembali dan kini terdapat Farhan dan Jihan yang kembali dari perginya mereka. Sontak terkejut saat itu juga begitu melihat Reyhan yang matanya terlihat menutup bahkan terpasang oleh selang oksigen Nasal Kanul, Jihan serta suaminya berlari ke anak putranya yang terbaring lemah di ranjang pasien.
Jihan memegang langsung memegang kedua bahu Reyhan. “Reyhan? Kamu tidur kan, Nak? Kok kamu dipasang alat ini?! Reyhan!!”
Jihan mencoba menggoyang-goyang bahu Reyhan yang tubuhnya menjadi ikut berguncang oleh Jihan yang mulai panik karena anaknya tak kunjung membuka matanya. Farhan dengan cepat menoleh ke belakang dan langsung menatap ketiga sahabat Reyhan yang tengah berdiri di depan kursi sofa.
“Angga! Freya! Jova! Ini Reyhan kenapa?! Apa terjadi sesuatu sama Reyhan?! Kenapa Reyhan nggak bangun-bangun?!”
“Om!! Maafin Jova, Om Farhan hiks!”
Farhan menoleh ke Jova yang berderai air mata. “Minta maaf kenapa?! Kamu udah melakukan sesuatu sama sahabatmu sampai kayak gini??!!”
Jova menelan ludahnya kembali bersiap menghadapi Farhan dan Jihan untuk menjelaskannya, bahkan kini Jihan melepaskan kedua tangannya dari dua pundak Reyhan lalu tubuhnya ia balik ke belakang. “Ini semua salah Jova, Om Tante hiks!”
“Maksud kamu apa, Nak Jova?! Bisa, kan kamu jelaskan dengan jelas?” tanya Jihan bersama raut cemasnya.
“Yang membuat Reyhan hilang kesadaran, Jova ...”
“Hah?! Astaga! Apa yang kamu lakuin sih, Vaaa!!” geram Farhan murka.
“B-begini Om, Jova tadi niatnya mau menghibur Reyhan atau tepatnya mau buat Reyhan berubah seperti dulu. Tapi tau-tau Reyhan malah marah-marah karena kelakuan Jova terhadap Reyhan, nggak berselang kemudian hidung Reyhan berdarah lalu setelah itu ... Reyhan pingsan. Jova tau kok, kalau cara Jova salah. Sudah buat Reyhan marah emosi teriak-teriak.”
“Jadi karena niat kamu?” tanya Jihan memastikan.
“I-i-iya, Tante. Om, tolong maafkan Jova ya Om! Jova mengaku salah sama Reyhan, maaf sudah membuat Reyhan tambah Depresi, Jova nggak bermaksud buat Reyhan seperti ini. Kami hanya rindu banget Reyhan yang dulu, bisa bercanda bareng dan lain-lainnya. M-m-maafkan J-j-jova Om, T-tante hiks!”
Jihan melangkah perlahan lalu mengelus lembut pucuk kepala Jova yang air matanya masih bebas keluar dari bawah matanya. “Yasudah lah, nggak apa-apa. Tante jadi tau kalau niat Nak Jova sudah baik, tapi caranya kamu saja yang salah. Tante sudah maafin kamu, kok.”
Jova mendongakkan kepalanya ke Jihan yang ada di tepat di depannya. “Beneran Tante?! Tante maafin Jova?!”
Jihan tersenyum. “Hm'em, Nak."
Bertepatan itu bola mata Jova melirik Farhan yang jalan melangkah menghampirinya dengan tatapan tajamnya. ‘Aduh, tatapannya serem banget! Pasti gue habis ini bakal di tampar nih sama bokap-nya Reyhan. Tapi terima aja deh gue, gue kan emang salah banget sama anaknya.’
“Jadi kamu niatnya memang mau berubah Reyhan jadi seperti sahabat kalian yang dulu, ya? Yasudah kalau begitu, kamu sudah berusaha tapi cara kamu dengan Reyhan salah yang Reyhan hatinya masih hancur karena kondisinya. Nggak usah takut, Om memaafkan kamu.”
Dugaan Jova salah, ini malah justru Farhan wajahnya melunak dan memaafkan kesalahan dirinya. “Om nggak pura-pura kan?! Beneran ikhlas nih maafin salahnya Jova?!”
“Ya buat apa Om pura-pura? Ikhlas kok, ikhlas maafin kamu-nya. Memangnya muka Om kelihatan berbohong dan pura-pura sama kamu?”
“Lah?? Kasar banget perasaan Om, mana mungkin Om menampar kamu, apalagi kamu kan anak perempuan. Nggak pantas di tampar.”
Jova menundukkan kepala. “I-iya Om Farhan ...”
“Sudah nggak usah nunduk kepala gitu, Om sama tante sudah maafin kamu kok, Va.”
“Nak Angga?”
“Eh, iya Tante? Kenapa?”
“Setelah tadi diperiksa dokter, Reyhan keadaannya bagaimana?” tanya Jihan nada lembut.
“Kata dokter tadi, Reyhan akan baik-baik saja kok Tante. Karena kondisinya yang lagi lemah, kita tunggu saja kesadaran dari Reyhan. Oh iya Tante, Om. Dokter tadi menyarankan untuk membiarkan Reyhan istirahat dengan total sampai hingga kondisi Reyhan benar-benar membaik.”
Farhan dan Jihan mengangguk tersenyum. Jihan berkata, “Oh begitu ya, Nak? Makasih ya sudah disampaikan ke Tante dan Om.”
“Iya Tante, sama-sama.”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Beberapa jam kemudian, Reyhan yang ditunggu-tunggu kesadarannya bersama kedua orangtuanya yang menjaganya di ruang perawatan, kini Reyhan kembali siuman. Pemuda berwajah pucat itu membuka matanya dengan lemah lalu melihat sekeliling tempat yang sudah gelap tanpa ada cahaya lampu, bahkan di luar sana dari jendela langit terlihat sudah larut malam.
“Reyhan?” panggil Jihan yang duduk di kursi sisi ranjang pasien.
Reyhan dengan itu menolehkan kepalanya perlahan untuk menatap Jihan yang memanggilnya bersama nada khas lembutnya. Hanya menatap saja, bukan menjawab dari beliau yang begitu menyayanginya.
“Syukurlah, kamu sudah sadar, Nak. Kamu pingsannya lama betul, sampai Mama dan papa takut kamu kenapa-napa. Jadi, sekarang keluhan yang kamu rasain apa, Rey?”
Lagi-lagi Reyhan tak menjawabnya. Diam membisu tetapi matanya masih kontak dengan mata indah sang ibu. Jihan yang mendapatkan seperti itu malah tersenyum hangat dan mengelus kepala bagian kanan anaknya. “Yasudah kalau kamu nggak mau menjawab, Mama sangat tau apa yang Reyhan rasakan hari ini. Nah, sekarang lebih baik Reyhan kembali istirahat dan tidur, ya. Kata dokter kamu harus banyak istirahat dengan total, agar keadaanmu bisa pulih.”
Reyhan memejamkan kedua matanya untuk tidur tanpa menjawab ucapan panjang lebar dari Jihan. Sang ibu menghela napasnya berat, merasa lara hati melihat anaknya yang ceria menjadi terpuruk seperti ini karena oleh keadaannya yang belum bisa anak putranya terima takdir.
‘Ya Allah, sampai kapan anak Hamba seperti ini? Berat dan tersiksa sendiri rasanya melihat Reyhan yang jati dirinya tertutup karena kondisinya.’
Jihan menumpahkan tangisannya, beliau menggenggam telapak tangan Reyhan bersama kedua tangannya. Sementara Farhan telah lelap dalam tidurnya di kursi sofa. Jihan dan juga suaminya merasa ikut sengsara dan amat sedih terhadap diri Reyhan yang semakin hari semakin Depresi, suasana hatinya sukar untuk dinaikkan bahkan sulit untuk di hibur oleh siapapun selain mereka berdua yang berusaha menyenangkan perasaan hati sang Reyhan Lintang Ellvano.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Minggu pagi Angga terlihat sedang di kamar rawat Reyhan, duduk di kursi sofa sembari terus menatap wajah Reyhan yang datar menghadap arah depan. Dan disaat Angga fokus melihat sahabatnya, tiba-tiba terdengar suara ringtone telepon di ponsel Angga. Dengan segera Angga merogoh kantung jaket biru dongker-nya untuk mengeluarkan HP.
“Freya?” gumam Angga lalu mengangkat telponnya.
...----------------...
...FREYA...
Assalamualaikum, met pagi Angga hehehe
^^^Waalaikumsalam, pagi juga Freya. Kenapa telepon?^^^
Oh iya sampai lupa, gini Ngga tujuan aku nelpon kamu tuh aku mau minta maaf sama kamu dan juga Reyhan
^^^Maaf kenapa?^^^
Maaf aku nggak bisa dateng ke rumah sakit. Soalnya aku lagi kedatangan sepupu-sepupuku di rumah, sebenernya mau siap-siap sih buat ke sana tapi tau-tau mereka dateng ke rumahku. Jadinya tertunda, deh
__ADS_1
^^^Oalah, yasudah nggak apa-apa^^^
Hehehehe, maafin aku ya Ngga. Ini si Jova katanya hari ini ada acara keluarga di rumah kakak mamanya Jova kan, ya?
^^^Iya, dia kemarin bilangnya begitu. Kamu kalau gak bisa dateng gak masalah kok, lagian nanti yang dateng jenguk Reyhan cowok-cowok. Terus, ini mama papanya Reyhan lagi ada di rumahnya oma sama opanya Reyhan^^^
Oh gitu. Wah tumben kamu ngomong panjang lebar gini? Biasanya suka singkat, irit hemat kayak hemat air dan listrik
^^^Ya kan biar kamu jelas sama omonganku yang secara detail, mungkin^^^
Hahahaha! Oke, yasudah ya Ngga aku tutup telponnya. Kakak sepupu aku udah nungguin nih di bawah. Bye Angga
^^^Oke Bye^^^
...----------------...
Angga mematikan layar handphonenya kemudian ia masukkan kembali benda pipih sang empu ke dalam saku kantong jaketnya. Karena bosan, Angga memutuskan berdiri dari persinggahannya lalu menyibukkan diri untuk membersihkan meja nakas yang berantakan.
“Cicuit! Pagi-pagi udah rajin ae lu, Ngga? Sahabat idaman Reyhan banget ini mah, hahahaha!”
Sudah bisa Angga tebak, itu adalah suara Aji yang baru saja datang. Angga yang telah selesai merapikan meja nakas berbalik badan. Di situ Angga disapa tiga temannya yaitu Rangga, Aji, dan Jevran.
“Di sini udah dari kapan, Ngga?” tanya Rangga.
“Sekitar dua puluh menit yang lalu.”
Aji yang menenteng tas pundaknya menatap Reyhan seraya menghampirinya dengan berani meskipun wajah Reyhan nampak sekali datarnya. “Good morning, Bray! Hehehehe, sumpah gue akhirnya kembali bisa lihat lo yang buka mata. BTW, keadaan lo sekarang gimana? Sudah membaik, kah?”
Reyhan menatap Aji lalu menatap ke arah depan lagi tanpa ada sepatah kata apapun yang keluar dari mulutnya. Aji terkekeh hambar dan menghela napasnya. “Di kacangin, deh gue.”
Bergantian lah, si Jevran yang melangkah mendekati Reyhan dan berhenti sejajar dengan Aji berdiri. “Hai Reyhan tetangga gue yang paling terbaik, lo sudah sarapan?”
Sama seperti Aji, Reyhan menatap Jevran kemudian kembali balik menatap arah depan dengan wajah datarnya. Mulutnya terus saja membisu tak berbicara sesingkat katapun. Jevran membungkam mulutnya sendiri dan mengukirkan senyuman pilunya.
“Bro, lu pada ngerasain nggak kalau kamar rawat ini dingin banget kayak di kutub Utara?” tanya Rangga dengan mendekap tubuhnya yang sebenarnya berpura-pura.
“Yeh, bukan kutub Utara kali! Yang betul tuh disini udah berasa kayak di hutan yang angker terus nyeremin. Hehehehe, kayak Reyhan yang hobinya di hutan. Ya gak Rey?” Aji menyenggol lengan tangan kiri Reyhan dengan siku tangannya.
“Perasaan ini anak kalimatnya gak nyambung, dah.”
“Udahlah biarin aja, Ga. Otaknya aja ikut gak nyambung kok itu si Ajinomoto,” ujar Jevran nyengir.
“Eh Rey, mending kita bernostalgia, yok!” seru semangat Aji.
“Hah? Nostalgia apaan? Main Congklak??” tanya Jevran.
“Bernostalgia makan cilok! Lo gak peka banget sih sama temen lo sendiri!”
“Ya abisnya otak lo suka gak nyambung, makanya gue susah nangkap sama omongan lo yang bla-bla-bla.”
“Sialan! Gue mau ngajak Reyhan nonton film horor, setidaknya gue tau lah buat hibur Reyhan dengan nonton film yang sesuai favoritnya. Yok, kita nonton film momok! Lo mau request film horor apa, Rey? Oh atau gue rekomendasiin aja??”
“Tonton sendiri.”
“Hah? 'Tonton sendiri'? Emangnya ada film yang judulnya begitu? Hm, bentar gue cariin dulu di YouTube.”
“Sori Ji, maksudnya Reyhan bukan itu. Dia bilangnya yang bener, lo nonton sendiri filmnya.” Angga yang tahu pikiran Reyhan langsung menjelaskan ke Aji.
“Lah? Oh gitu, toh. Eh tapi gue nemuin film yang pasti bakal seru banget lho Rey alur ceritanya! Gue sedikit nonton di durasi-”
“Gak usah maksa gue daripada gue usir lo dari sini,” ucap dingin Reyhan dengan masih pandangan hadap depan.
Seketika Aji terbungkam dan memasukkan ponselnya dalam saku celana jeans coklatnya. “O-oke kalau lo nggak mau, gue gak akan paksa lo.”
“Tapi Rey, apa lo bisa menerima keadaan lo yang kayak gini? Maksud gue, gue nggak mau lo Depresi begini. Dengan lo terima semua ini lo pasti akan segera sembuh, kok. Itu tergantung pikiran lo saja, lagian lo gak lumpuh seumur hidup loh, cuman sementara doang!”
“Kami bertiga di sini mau bikin lo terhibur, kami pengen lo bisa seperti yang dulu Rey. Keadaan lo yang begini kami gak apa-apa kok, kita malah bersyukur lo gak mati! Gak ada lo empat bulan rasanya hampa bener, Rey! Kami rindu lo yang dulu, gue juga gak rela lo yang selalu diem seperti ini!”
“Jadi, ayo Rey lo harus semangat buat menghadapi kondisi lo ini. Lo harus jalani hidup lo, jangan kayak gini yang seolah-olah lo udah nggak mempunyai kehidupan yang berarti.”
‘Buset, pandai betul itu kata-katanya Aji ?!’ batin Rangga terpukau begitupun Jevran.
Reyhan mengepalkan kedua telapak tangannya sangat kuat sementara Aji terus saja berceloteh panjang lebar yang berkaitan menyemangati diri Reyhan dan banyak menceramahi-nya meskipun maksud Aji ingin mengubah jati diri Reyhan yang dulu.
BUG !!!
Reyhan melempar bantalnya kuat ke Aji sampai membuat Aji jatuh ke lantai saking kencangnya lemparan dari Reyhan yang kembali amarahnya meluap.
“CUKUP JI! CUKUP!!! GUE MUAK SAMA SEMUA UCAPAN LO YANG SEKEDAR NASEHATIN GUE!!! KALAU LO MEMANG GAK BISA NGERTIIN KEADAAN GUE, DAN LO HANYA BIKIN GUE MAKIN SENGSARA, PERGI LO DARI SINI!!!”
Reyhan beralih menoleh ke Rangga dan Jevran yang tengah membantu Aji berdiri. “Dan lo berdua juga, KELUAR DARI SINI DETIK INI JUGA!!!”
“R-reyhan! T-tenang dulu Rey!!” ucap kalut Jevran.
“LO EMANG YA!!!”
Reyhan bangun bangkit duduk dan hendak turun dan menghajar Jevran, tetangganya sendiri namun Angga dengan cekatan merengkuh badan Reyhan dari belakang. “Tenang Rey! Tenang! Gue mohon lo jangan kayak gini!!”
Bersamaan Angga mengutarakan pekikan itu dan melepaskan rengkuhannya, kedua mata Reyhan sedikit menutup dan tubuhnya kembali ambruk, tetapi sudah dahulu Angga tangkap tubuh sahabatnya. Beruntung saja Reyhan tidak pingsan melainkan dirinya begitu sangat lemas sehingga menjadi kembali ambruk lagi.
“Ayo baringan dulu, hidung lo berdarah.”
Angga dengan perlahan membaringkan Reyhan kemudian memutar badannya untuk mengambilkan secarik tisu kering yang ada di kotak tisu letak atas meja nakas. Sahabatnya Reyhan melepas selang hidung oksigen sebentar agar Angga tidak kesulitan membersihkan luar hidung Reyhan yang mengalir berdarah, Angga membersihkannya dengan telaten dan perlahan-lahan. Setelah semuanya bersih tak ada sedikit darah pun lagi, Angga kembali memasangkan selang oksigen Nasal Kanul di hidung sahabatnya dengan benar.
Angga melangkah ke tong sampah kecil di dekat pintu kamar rawat. Usai membuang tisu yang banyak darah Reyhan tersebut, Angga berbalik badan kembali menghampiri sahabatnya yang tubuhnya menjadi sangat lemas bahkan sekarang sahabatnya terlihat pejam mata dan tidur. Angga yang sudah berada di kanan Reyhan, meraup wajahnya kasar merasakan semuanya yang dialami Reyhan hingga sampai sebegitu parahnya.
“Ngga! Gue bener-bener minta maaf udah buat Reyhan sampai seperti itu! Gue jujur gak sengaja bikin sahabat lo begini! Maafin gue, Ngga!” ucap Aji usai mengembalikan bantalnya Reyhan ke asalnya.
Angga menoleh ke Aji yang sudah ada di sampingnya. “Sudah, nggak apa-apa. Ini karena gangguan Depresinya yang membuat Reyhan emosinya suka gak bisa dikendalikan.”
“Gue nggak menduga kalau ini bisa terjadi sama Reyhan, niat gue, Rangga, Aji ke sini buat ngehibur Reyhan yang terpuruk. Tapi kayaknya kami semua nggak tau caranya menghibur sahabat lo yang betul.”
“Iya Ngga, sebagai tetangganya Reyhan gue dan Jevran juga berusaha membuat Reyhan kayak dulu, terlepas dari Depresinya hanya karena dia mengalami kelumpuhan. Tapi, usaha kami gak mempan.”
“Sudah nggak apa-apa. Makasih ya, kalian udah berusaha buat Reyhan terhibur walaupun belum berhasil. Mungkin belum waktunya Reyhan menerima keadaanya. Dan gue minta maaf kalau sekiranya ucapan sahabat gue menohok hati kalian bertiga, itu karena emosi amarahnya yang sudah termasuk akibat pengaruh Depresinya. Maafin Reyhan, ya?”
“Iya Ngga, nggak apa-apa kok. Wajar Reyhan begitu, kami bertiga bisa memaklumi keadaannya yang masih seperti itu. Dan lo harus tetep sabar ya Angga, gue yakin suatu ketika Reyhan bisa menerimanya dan InsyaAllah sahabat lo bisa berubah seperti yang lo kenal. Kita sama-sama bersabar dan mendoakan ya, Anggara?”
Angga tersenyum pada Aji yang mengutarakan semua kata-kata itu yang menguatkan diri Angga terhadap sikap berubah totalnya Reyhan. Meskipun sifat Aji begitu menyebalkan dan rese, tetapi ia adalah lelaki yang mempunyai nurani hati tulus dan setia pada sesama antara keluarganya dan kawan-kawannya.
Air mata Angga yang hampir terjatuh berhasil Angga seka. Inilah ujian Angga yang terberat yang harus Angga hadapi dengan penuh kesabaran. Walaupun Angga tidak mengalami seperti Reyhan, tetapi Angga mampu merasakan apa yang sahabatnya rasakan saat ini.
Indigo To Be Continued ›››
__ADS_1