
Para burung-burung mengepakkan sayapnya di langit-langit di iringi kicauannya yang menandakan hari sudah pagi. Sinar mentari menerobos masuk ke dalam kamar Reyhan akan namun Reyhan tetap nampak masih tidur tanpa ada niat untuk bangun, meskipun matahari yang begitu cerah membuat pagi ini amat terik panas, Reyhan sangat kedinginan hingga merapatkan selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya terkecuali kepalanya. Bibirnya pucat sedangkan bawah kantung kedua matanya berwarna sedikit hitam, ia hari ini menggigil kedinginan tetapi ia akan mencoba untuk kembali tetap tidur.
Sampai tibalah wanita berumur 40 tahun yang jelas beliau adalah sang ibunya Reyhan membuka pintu perlahan dan masuk ke dalam kamar anaknya. Jihan melangkah lembut membuka gorden jendela balkon yang ada dua sisi, Jihan membuka lebar-lebar gorden tersebut hingga sinar matahari menerpa wajah sang putranya yang masih memejamkan mata.
Jihan sedikit tersentak saat mendengar Reyhan batuk-batuk dengan mendesis karena kedinginan, selimut yang anaknya kenakan sampai selimut kasurnya ia rapat-rapatkan. Jihan yang berwajah setengah cemas menghampiri Reyhan dan duduk di pinggir kasur. Jihan mengusap-usap kepala Reyhan bermaksud membangunkannya dikarenakan ini sudah pukul jam 09.00
"Nak, ayo bangun ini sudah pagi."
"D-dingin Mam," respon Reyhan dengan nada lemah serta serak.
Lagi-lagi Reyhan kembali batuk-batuk dan sedikit menggigil kedinginan, meskipun posisi kepalanya diletakkan di atas bantal namun kepalanya masih terasa amat pusing. Bangkit untuk bangun pun rasanya enggan karena tubuhnya terlalu lemas.
"Nak, tapi Reyhan harus bangun dulu .. Reyhan soalnya belum sarapan, ini Mama udah bawakan Reyhan sarapan. Makan dulu ya, Nak."
Reyhan menggelengkan kepalanya lemah. "Nggak selera ... makan ... Ma."
Farhan datang masuk ke dalam kamar putranya untuk menghampiri sang istri. "Ma, Reyhan udah bangun?"
Farhan lantas tanya pada Jihan, beliau duduk di tepat sebelah istrinya dan menatap Reyhan yang masih belum bangkit dari baringnya.
"Belum Pa, kata Reyhan dingin."
"Ck." Farhan mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Reyhan, begitu merasakan pipi anaknya begitu panas Farhan mengaduh.
"Aduh! Malah makin tambah panas, bukannya demamnya turun ini malah semakin naik."
Di sisi lain, Reyhan yang baringnya posisi membelakangi kedua orangtuanya, ia merapatkan bibirnya dengan mata mengernyit kuat. Sepertinya Arseno berada di sekitarnya dikarenakan dada pemuda itu kembali sakit dan napasnya lumayan sesak.
'Argh! S-sakit. Gue mohon, berhenti neror gue !"
Reyhan berusaha tangannya tetap di tempat dan tak menyentuh dadanya, jika itu sampai Reyhan lakukan pastinya Jihan dan Farhan kompak mengintrogasi Reyhan tidak-tidak. Reyhan mencoba membuka matanya untuk memastikan keberadaan Arseno yang telah menerornya 1 hari kemarin. Mata Reyhan melotot lebar dengan mulut bibir terbungkam tak bisa berteriak dan berkutik, rupanya Arseno berbaring tepat di sampingnya dengan keadaan baring menghadap manusia pemuda ini. lumuran darah dari mulutnya mengalir mengenai bantal Reyhan, kedua bola mata bergelantungan yang tak menatap Reyhan, bola mata milik arwah menyeramkan ini bergerak menatap Reyhan. Kedua bola mata tersebut seolah-olah menatap tajam Reyhan yang masih diam di tempat, hingga pada akhirnya suatu kejadian tak terduga.
CRATT !!
"ARGH!!"
Semburan darah atau cipratan darah dari dalam kedua bola mata Arseno mengenai kedua mata Reyhan yang menatap intens. Reyhan yang reflek bersuara langsung bangkit duduk spontan.
"Nak-nak kenapa?!" panik Jihan menggenggam satu lengan tangannya.
Merasa kedua matanya tak sakit bahkan tak berair, masing-masing tangan Reyhan menempelkan kedua matanya kemudian ia menurunkan tangan kiri kanannya bersamaan lalu mengecek apakah ada darah atau tidak.
Reyhan percaya dan yakin apa yang tadi Arseno teror barusan bukanlah halusinasi Reyhan akan tetapi sungguh nyata, Reyhan mengerutkan keningnya heran dengan mulut menganga kecil. Tak ada cairan darah bahkan setitik darah pun juga.
Reyhan lantas segera menoleh cepat ke tempat dimana Arseno berbaring tadi. Hilangnya arwah itu membuat Reyhan mendesah napasnya dengan wajah raut berat pasrah.
"Rey, kenapa? Kamu lihat sesuatu ... yang nggak terlihat?" tanya Farhan ragu.
Reyhan menoleh ke Farhan lalu tersenyum pahit. "Enggak, m-mungkin Reyhan mimpi."
Dusta Reyhan pada Farhan berhasil membuat Farhan percaya. "Yasudah kalau begitu, sarapan dulu ya Rey. Kamu juga lagi demam .. sarapan lebih penting daripada kebanyakan tidur, nanti malah jadi wassalam lagi."
Farhan mengucapkan kata itu dengan menyengir bermaksud mengajak Reyhan bercanda, namun sepertinya Reyhan sementara ini belum bisa diajak bercanda apalagi tanggapannya hanya deheman mengangguk dengan tersenyum tipis, sangat tipis.
"Yaudah nih, Reyhan sarapan dulu habis itu minum obat ya biar cepet sembuh. Mama suapi ya, kan tubuhmu masih lemes."
Reyhan menyentuh pangkal hidungnya dengan menutup matanya. "Enggak deh Ma, Reyhan mau balik tidur aja."
"Lah? Perasaan tadi udah angguk-angguk, kok ini malah nolak makan? Hayo harus sarapan Rey, kamu mau sakit kamu tambah parah? Lama-lama bisa dirawat rumah sakit lho!"
Jihan menatap tajam pada suaminya. "Papa! Jaga mulutnya! Inget, ucapan itu adalah doa!"
"Iya Ma iya, orang bercanda kok. Kayak masih remaja aja sih Mama."
"Terserah Papa lah, ehm Nak kamu yakin nggak mau sarapan hari ini? Nanti kalau kamu kena sakit mag bagaimana? Mama gak mau kalau Reyhan tambah sakitnya."
"Mama nggak usah khawatir-" Reyhan yang merasakan ada suatu cairan mengalir dari luar kedua lubang hidungnya, segera menyekanya dan menurunkan tangannya untuk melihat cairan apa itu.
"Reyhan!! Hidungmu keluar darah!!" panik Jihan tak karuan.
"Gak bisa dibiarin ini! Udah ayo siap-siap, kita pergi ke klinik! Kamu harus di periksa sama dokter klinik di sana!" Kini bergantian Farhan yang panik dan hendak menarik tangan Reyhan untuk bangkit beranjak dari kasurnya.
"Eung, Reyhan nggak apa-apa kok, Pa. Reyhan terlalu kecapekan makanya jadi berdarah begini. Nggak usah ke klinik ya, anakmu ini masih baik-baik aja kok. Reyhan hanya butuh istirahat total doang, nantinya atau besok pasti sudah sembuh kok Ma, Pa."
Reyhan menyeka darah hidungnya yang mengalir menggunakan pangkal telapak tangannya. Jihan mendesis lalu segera mencabut selembar tisu kering dari kotak tisu letak atas meja nakas kemudian beliau membersihkan pangkal telapak tangan anaknya yang ada bekas darah.
Jihan yang hendak akan membersihkan darah hidung Reyhan, Reyhan sudah lebih dulu menahan tangan sang ibu.
"Biar Reyhan saja, Ma."
"St! Sudah, Mama aja yang bersihin."
Reyhan hanya pasrah menuruti Jihan. Di sela-sela sang ibu membersihkan darah hidung milik anaknya, Reyhan kembali merasakan pusing bercampur keliyengan.
"Nah, sudah bersih. Sekarang Reyhan mau sarapan atau mau tidur? Satu kali suapan saja, gimana? Setidaknya perutmu harus terisi dulu."
"Yaudah Ma ... satu kali suapan saja."
"Nah sip," senang Jihan lalu mengambil bubur putih tanpa ada toping apapun lalu menyendok perlahan.
"Ayo sini buka mulutnya," perintah Jihan.
Reyhan membuka mulutnya kemudian Jihan mulai memberikan satu kali suapan penuh. Meskipun Reyhan tak menonjolkan raut ekspresi wajah konyolnya, tapi hatinya bertanya-tanya heran.
"Gila! Ini buburnya yang rasanya hambar? Atau lidah gue yang mati rasa? "
Reyhan terpaksa menelannya demi membuat Jihan tenang anaknya mau memakan sarapannya meskipun hanya sekali suapan. Rasa hambar bubur menyatukan rasa pusing beserta keliyengan yang Reyhan alami dari kemarin, ia memutuskan untuk kembali berbaring tanpa meminum obat setelah makan.
"Eh Nak, minum obat dulu. Masa langsung tidur sih?"
"Nanti saja deh Ma, Reyhan udah gak kuat kalau dibuat duduk mulu. Masih pusing kepala Reyhan, Mama."
"Ditambah keliyengan juga?" tanya Farhan dengan wajah lara.
"Hm'em." Reyhan menanggapi setengah gumam kemudian membaringkan tubuhnya tak lupa posisi kepalanya nyaman di atas bantal empuknya.
"Padahal hari ini udah panas, tapi Reyhan malah kedinginan. Yakin Nak, kita nggak pergi ke klinik saja? Mama takut kalau demam kamu bukan sembarangan demam."
Reyhan menempelkan jari telunjuknya tepat di bibirnya Jihan. "Ssstt, Mama kalau ngomong suka ngada-ngada dah. Sudah tenang saja."
"Tenang saja darimana?! Nih kamu panas gini, suhu tubuhmu masih naik Rey, belum turun-turun!"
Reyhan menghela napasnya berat mendengar sang ibu panik seperti ini, Reyhan tanpa menjawab langsung memejamkan matanya untuk kembali tidur dan akan masuk ke alam mimpinya entah sampai jam berapa. Di sisi lain, Farhan mengusap punggung sang istri untuk menenangkannya serta memadamkan kepanikannya.
"Sudah Ma, yang penting kan Reyhan ada di rumah bukan mengikuti pelajaran di sekolah. Semoga saja setelah Reyhan beristirahat total anak kita akan segera pulih dari demamnya."
"Pa, tapi Reyhan sampai mimisan begitu ... Reyhan pernah demam beberapa kali waktu SMP bahkan gak masuk sekolah selama satu minggu, tetapi gak pernah sampai mimisan begini." Jihan menghentikan ucapannya lalu kembali melanjutkannya, "Apa Papa yakin Reyhan gak perlu dibawa ke Klinik? Tadi saja Papa yang mau cepet Reyhan dibawa ke sana."
"Iya Ma, tapi Reyhan bilangnya baik-baik saja. Kalau anak sudah gak mau lebih baik jangan dipaksa. Bener, kan?"
"Hhhh ... memang sih Pa, tapi lihat dulu deh wajah Reyhan begitu pucet, bawah matanya juga rada hitam."
Farhan menatap serius pada bawah kantung mata anaknya yang sementara Reyhan sudah tak mendengar seluruh segala ucapan kedua orangtuanya karena ia telah dibawa ke alam mimpi.
"Pasti Reyhan sulit tidur semalem, hhh yaudah yuk Ma turun ke bawah."
"Iya Pa, Mama nanti balik ke kamar Reyhan lagi buat bawain baskom air sama kompres."
Farhan mengangguk pelan kemudian menarik lengan tangan Jihan untuk menuntun pergi keluar dari dalam kamar Reyhan. Usai sepasang suami dan istri meninggalkan kamar sang anak lelaki semata wayangnya mereka, Arseno kembali muncul membelakangi balkon. Arwah itu berdiri menatap Reyhan yang tidurnya begitu lelap pada posisi tubuh lurus ke depan tidak menghadap kiri ataupun kanan.
"Mungkin kali ini kamu hanya mengalami demam, tapi tunggu saja .. nantinya kamu akan merasakan dan menderita jauh lebih parah dari ini Reyhan."
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Nomor yang anda tujui tak dapat dihubungi
Anggara berdecak kesal lalu menurunkan ponselnya dari telinganya. Keningnya berkerut heran karena tak dapat balasan angkat telepon dari sahabatnya.
"Ini bocah kemana sih dari kemaren?! Di telepon gak di angkat-angkat, di chat gak dibales."
Anggara menilik jam dinding di atas tembok kamarnya. "Ini aja jam istirahat, oh atau paket datanya habis?"
"Yaelah, samperin aja kek di sekolahannya. Gitu aja ribet," celetuk sosok gadis yang ada di tepat samping Anggara.
"EH?!"
Mata Anggara terbelalak terkejut disaat menoleh ke samping dan langsung mendapati sosok gadis yang tak asing di penglihatannya.
"Eh, kamu arwah cewek gak tau diri yang pas aku dirawat rumah sakit itu ya?!"
"Heh!! Enak aja kamu ngatain aku cewek gak tau diri. Hello, meskipun begitu aku masih punya harga diri tau!! Emangnya kek kamu apa, cowok yang mendadak Amnesia!!"
Anggara menatap tajam gadis arwah itu yang tak lain adalah Senja. "Kamu bilang apa tadi?!"
"Maaf, aku mendadak Amnesia nih."
Gadis yang menyebalkan itu membuat Anggara jengah dan berpaling dari Senja. "Darimana kamu tau alamat rumahku?" tanya Anggara dingin.
"Yaaaa, sekitar bulan-bulan yang lalu dong. Lagian nih ya, kamu kan sudah tau sendiri aku adalah arwah berarti aku bisa mencari lokasi alamat rumahmu dengan tepat mudah lah. Hahaha, hebat kan diriku?"
"Gak, biasa aja."
"Hih! Nyebelin, ehm ngomong-ngomong kamu itu aku liatin mondar-mandir gak jelas kek nunggu istrinya lahiran."
Mata Anggara mencuat sempurna. "Mulutmu ada dimana??!!" geram Anggara.
"Ya di sekitar muka lah, nih mulutku di sini!" Senja menunjuk mulutnya ia sendiri.
"Hmm. Yaudah sana pergi, gak ada minta bantuan kan? Sana-sana pergi!" usir Anggara.
"Ih baru aja dateng masa dengan teganya ngusir aku sih?! Manusia apaan itu?!"
"Manusia kanibal!!"
Senja menelan salivanya pada suara Anggara yang nge-bass seperti seolah-olah sedang membentaknya, namun bukannya takut arwah gadis itu mendengus murka pada bentakan manusia pemuda Indigo tersebut. Gadis 16 tahun itu sudah terbiasa pada sikap Anggara disaat jiwa dan raga Anggara terpisah selama 2 bulan.
"Sama orang lain selain hantu pasti aku yakin kamu bersikap lembut terutama dengan cewek! Kok giliran sama aku bentaknya kek bentak pembantu maling perhiasan majikannya?!"
"Arwah memang pantes diberi bentakan daripada ngelakuin sesuka hatinya."
"Santai banget ngomong gitu. Tapi gakpapa sih kamu ngomong begitu, aku kan arwah positif jadi gak berniat buat jiwamu melayang. Tapi kalau sama manusia yang kelakuannya antagonis udah aku teror dia sampe mati."
Anggara yang berpaling menatap Senja kini menoleh ke arah gadis arwah tersebut dengan sedikit menyerong badannya.
"Sama aja kamu jadi arwah negatif kalau suka neror-neror gitu! Huh, udahlah males aku bahas-bahas arwah aura-aura positif atau negatif gitu," ucap Anggara kembali memalingkan wajahnya dari Senja.
Senja memanyunkan bibirnya pada Anggara yang cuek tersebut. "Gak gitu juga kali konsepnya!"
"Terserah aku, bukan urusanmu juga."
Senja semakin dibuat keki oleh Anggara, namun ia hanya menghela napasnya dengan ekspresi kesal namun Senja nampak duduk tegak seperti lupa sesuatu yang akan ia tanyakan pada Anggara.
'Gara-gara debat sama cowok gak jelas itu, gue sampe lupa kan mau nanya sama dia.'
"Ngga!!"
"Apa?!!"
"Ih kok jauh lebih serem bentaknya?!" protes Senja.
"Yang mulai dulu siapa? Kamu kan. Sumpah, mending kamu jauh-jauh aja deh dariku .. bisa stress lama-lama aku karna ada kamu, udah sakit tambah sakit entar! Sana pergi!!"
Senja menyentuh dadanya dengan wajah begitu sedih layaknya mendramatis. "Kamu suka bikin hati cewek sakit ya?! Jutek-mu, dingin-mu, cuek-mu itu loh buat cewek bisa nangis!"
"Memangnya kamu nangis?" tanya Anggara dengan nada melunak.
"Ya enggak sih, tapikan itu biar sadar kalau kamu gak boleh keseringan bentak cewek. Emangnya kek cowok kalau ngerasain itu mikirnya pake otak logika?!"
Anggara menyengir merasa bersalah juga karena telah membentaknya meskipun Senja adalah arwah yang dua kali ia temui.
'Duh, kenapa gue sekarang malah kayak begini sih? Biasanya juga gue tertahan kalau marah-marah apalagi terutama marah-marah sama perempuan.'
Anggara menghembuskan napasnya dengan mata ia pejamkan lalu membukanya sembari menatap Senja yang mengembungkan kedua pipinya sekaligus memajukan bawah bibirnya.
"Iya deh iya aku minta maaf ya ... mungkin aku lagi banyak pikiran jadinya kamu kena lampiasan aku. Udah, jangan ngambek gitu."
Senja mengembalikan posisi bibirnya dan kedua pipinya menjadi semula. "Banyak pikiran? Banyak pikiran karena sahabatmu gak ada kabar itu?"
Anggara mengangguk. "Iya, tapi sebenernya aku pikirannya bukan karna gak ada kabar, ada sesuatu yang sampai sekarang buatku gak tenang dan dihantui rasa cemas."
"Hmmm, Ngga bisa kamu ceritain semua sama aku? Barangkali setelah itu aku bisa mencari solusi atau baiknya membantu masalahmu."
Anggara menghela napasnya. "Apa kamu yakin? Kayaknya kamu bakal kesulitan buat bantuin aku. Apa lagi, masalah itu ... problem yang besar dan berat."
"Hah? Memangnya apaan itu? Aku denger secara serius, masalah itu bukan sembarangan masalah biasa deh. Tentang apa?"
"Makhluk gaib."
"Kamu mau berurusan dengan makhluk gaib? Terlebihnya sosok itu memiliki aura negatif," sambung Anggara.
"A-aura negatif?! Dan tunggu bentar, jadi maksudmu yang membuat kamu cemas gini karna sahabatmu lagi di dekatnya sosok arwah negatif itu??"
"Kurang tepat, sosok itu ingin meneror
sahabatku hingga mati. Aku ingin meneliti sesuatu yang bikin Arseno mati di kawasan wilayah jalan Jiaulingga Mawar, tapi percuma saja dengan kondisiku yang belum sepenuhnya sehat .. aku gak bisa kemana-mana sebelum aku betul-betul pulih total."
"Nah, bener tuh lagian kamu mending gak usah pake acara aneh-aneh deh Ngga. Kalau sana sudah aura negatif sedangkan dirimu sebatas manusia Indigo, yang ada kamu gantian di incar. Lebih baik kamu serahkan saja sama aku, mungkin sebisaku aku bakal berusaha tetap memantau keadaan sahabatmu."
"Tapi aku minta maaf banget nih Ngga, aku gak bisa menghadapi arwah yang punya aura negatif. Rasanya kalau aku hadapi dia, bakal menjadi bentrokan hebat. Aura negatif tentunya berwarna kegelapan bahkan sakti, daripada arwah positif yang hanya bisa setengah."
"Maksudnya setengah?"
"Memberi paham sama manusia-manusia yang mempunyai hati buta. Tapi kalau manusia itu punya nurani hati, aku malah bahagia."
"Hm, oke."
"Yaudah deh tanpa lama-lama, mending kamu kasih tau deh nama lengkap sahabatmu yang posisinya sedang di teror sama Arseno. Gak usah sebutin alamat rumahnya, karna dengan menyebut nama lengkapnya .. lima detik doang langsung kena lokasinya haha."
"Oke kalau begitu, namanya Reyhan Ivander Elvano. Eh tapi kamu mau ngapain ke sana?"
"Cuman melihat keadaan sahabatmu aja kok, biar kamu tenang juga setelah aku kasih tau ke kamu. Tenang aja, aku gak bakalan lukai sahabatmu kok. Percaya, kan sama aku?"
Senja menampilkan senyuman manisnya yang merekah di wajahnya, sesekali Anggara merasakan dan menerawang aura milik arwah gadis tersebut yang niat membantu pemuda sang Indigo ini. Anggara tersenyum segaris lalu mengangguk percaya pada Senja yang menunggu jawaban lama dari Anggara.
"Aku percaya."
"Nah bagus deh, kalau begitu aku ke sana dulu ya .. salam hangat dari Senja Intara Alandara."
Anggara tersenyum hambar. "Ya."
Senja mendempetkan kedua telapak tangannya dengan memejamkan matanya sembari mengucapkan nama lengkapnya Reyhan dengan itu 5 detik akan segera sampai di lokasi alamat rumah Reyhan dan posisi Reyhan berada. Anggara hanya berharap Reyhan baik-baik saja tak ada kejadian mengerikan yang menimbulkan masalah rumit.
...---------->◎:☬☬☬:◎<----------...
Freya menganga melihat gaya makan Jova yang melahap 3 daging bakso bulat ke dalam mulutnya, Freya menatap itu sambil meraba sedotan lalu menyeduh es jeruk yang ada di hadapannya. Lala, Rena, Zara, Andra, Raka, Aji, Jevran Joshua, dan terakhir anak daerah kota Semarang yang jago berbahasa Jawa ialah Ryan. Kedelapan remaja tersebut menyaksikan tontonan yang membuat melongo pada Jova makan bakso seperti orang tak dikasih makan selama 3 minggu.
"V-va, kalau makan yang pelan-pelan dong jangan terburu-buru gitu .. nanti kalau tersedak gimana? Kan bahaya," tegur Freya dengan senyum pahit.
"Heh Frey, kayaknya si Jova lagi galau balau deh. Lihat coba mukanya kek kesel gitu gak sih?"
"Hah? Emangnya Jova galau karena apa, La?" tanya Freya.
"Ehm nah! Gue tau banget nih, si Jova galau daritadi itu karna di sekolah ini gak ada Reyhan hahahaha!"
Jova nampak mengacuhkan Aji yang berbicara seperti itu, ia tetap memfokuskan kegiatan makannya hingga tuntas.
"Eh Jova, udah deh jujur aja kamu galau kan karna pangeran ganteng-mu itu gak hadir masuk sekolah? Udah keliatan dari wajahmu kalau kamu merindukan Reyhan eaaaa!"
Jova menatap tajam seraya mengunyah lalu menelan hasil kunyahan daging baksonya. "Apa tadi? 'Merindukan Reyhan'? Heh muka burik gitu mana ada aku kangen, tadi kamu juga bilang apa Ji? Pangeran? Pangeran kodok kali!"
"Haduh parah nih anak! Yang bilang Reyhan jelek berarti matanya silinder asli dah. Eh Va kamu itu gak usah gengsi-gengsi deh, dua sahabat kamu dan Freya itu tuh sama-sama ganteng woi, susah memperbandingkannya mana yang jelek mana yang ganteng. Gantengnya Anggara dan Reyhan itu dua belas banding dua belas, lho."
"Hahahahaha, gakpapa dah aku mengakui. Bener banget Zar! Masa sih Reyhan yang populer itu dibilang Jova buruk rupa, kok kayak di film kartun-kartun gitu yang dansa sama princess Disney Belle."
"Hahahahaha ho'oh bener, La!" pekik Raka.
"Hihihihihi hi'ih binir, Li. Heh maksudmu aku dansa sama Reyhan gitu? Yang ada malah terinjak-injak kakinya, orang kalau main dansa-dansa gitu aku kaku kayak robot!"
"Baru nyadar kalau kamu robot," ledek Ryan.
PLAKK !!
Jova dengan sadis memukul keras kepala Ryan menggunakan telapak tangannya sedangkan yang korban mengaduh-aduh kesakitan sembari mengusap-usap kepalanya yang dipukul oleh teman sekelasnya.
"Apa sih Va! Lara tenan lho, sirahku iki bathok klapa?! (Apaan sih Va! Sakit banget tau, emangnya kepalaku ini tempurung kelapa?!)"
"Anjrit lu ngomong apaan sih Yan?! Gak mudeng gue lu pake bahasa Jawa lengket lu itu! Lu tau kan kami semua di sini anak Jakarta, ya paham sih tapi ya gak sepaham itu."
"Iyo-iyo sorry Ji, gini lho maksud gue itu 'Apaan sih Va! Sakit banget tau, emangnya kepalaku ini tempurung kelapa?!' Paham?"
Kesemua temannya ber-o-ria mengerti apa maksud arti dari Ryan. "Iya-iya kami paham kok, makasih ya udah dikasih artinya hehe. Oh iya Va, udah berapa kali dibilangin sih .. kamu jangan keseringan mukul kepala, nanti kalau kepalanya bermasalah gimana? Kamu mau tanggung jawab ke Ryan?" tanya Freya.
"Ya maap! Abisnya nyebelin sih! Kan gak terima!"
"Udah-udah. Guys gue mau tanya sama kalian semuanya termasuk Joshua."
Joshua yang merasa disebut oleh Rena, menaikkan kacamatanya. "Waduh-waduh, tanya apaan nih? Jangan soal materi pelajaran dong. Ini otakku perlu istirahat, daritadi di kuras sama pelajaran Fisika dari bu Aera."
"Kagak lah, lagian ngapain tanya soal pelajaran .. idih bukan tipe aku asli! Jadi gini loh gue mau tanya sesuatu yang penting soal Reyhan. Hmmm kemarin tuh Reyhan ketakutan sampe pingsan kan ya, ketakutannya kalau gak salah dari mimpinya deh kan waktu itu gue sempet lihat Reyhan tidur di kursi tribun pelosok lapangan."
Joshua menopang dagunya menggunakan pangkal telapak tangannya. "Itu menurut gue aja ya bray, rada gak wajar sih ketakutannya si Reyhan. Tapi bisa mungkin sih Reyhan ketakutan gitu karna mimpi buruk, eh tapi kok sampe penurunan kesadaran ye? Apalagi pingsannya si Reyhan itu sampai tiga jam, itupun Reyhan bangunnya pas mau bel masuk."
"Oh apa Reyhan lihat setan-setan yang bergentayangan di lapangan olahraga! Bisa aja kalau si Reyhan Indigo kayak di film-film," timpal Raka.
"Heh, Rakato! Mana ada sih Indigo-indigo gitu? Itu cuman karya sutradaranya doang woi. Lagian hantu itu kan mitos dan gue gak percaya kalau hantu benar-benar ada."
Setelah mendengar pengucapan Jevran yang pemuda itu sebenarnya sangat benci membahas-bahas berkaitan tentang supranatural, Jova dan Freya saling melemparkan pandangan. Tatapan masing-masing dua gadis itu nampak berekspresi wajah datar namun pada selang menit kemudian mereka tersenyum kecut. Memang benar sekali, Kesemua temannya tak perlu diberi tahu bahwa Anggara adalah seorang pemuda Indigo.
'Huft, untung aja aku, Jova, sama Reyhan gak cerita sama sekali sama temen-temen kalau Anggara itu Indigo. Bagaimana jadinya kalau dikasih tau .. huh pasti malah jadi runyam.'
"Lebih baiknya kita berdoa saja, semoga Reyhan sama Anggara lekas pulih dari sakitnya agar bisa mengikuti pelajaran di sekolah lagi."
Kesemua teman kelasnya Joshua mengangguk dengan sekaligus menjawab kata 'Amiin' rasa kekompakan bersama. Pada akhirnya setelah membahas tentang Reyhan yang tiba-tiba kemarin demam pada ukuran suhunya nang mencapai 38,6° C kini 11 remaja kelas XI IPA 2 melanjutkan kegiatan makannya di kantin sebelum bel istirahat telah usai.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Gadis arwah tersebut telah tiba di lokasi alamat rumahnya Reyhan setelah ia menyebutkan nama lengkapnya dengan tepat, dan sekarang Senja mulai melangkah santai mendekati Reyhan yang tengah sedang tidur pulas sementara di keningnya terdapat tempelan kain kompres, menyimpulkan bahwa pemuda berhati ramah nan suka emosi itu lagi demam. Senja merubah bibirnya menjadi singgung melengkung ke bawah, menatap wajah sahabatnya Anggara yang cukup pucat.
Senja dengan ragu mencoba menyentuh telapak tangan Reyhan yang ada di atas perutnya, satu kali sentuhan rupanya meskipun Senja telah menjadi arwah gadis itu masih bisa merasakan kulit panas, sedang, dingin dan yang dirasakan Senja barusan adalah panas.
"Kasian banget sampai demam gini. Mana panas, lagi. Kira-kira ini cowok habis ngapain aja ya hingga demam begini? Duh niatnya sih mau ngasih tau Anggara tapi yang ada si Anggara malah tambah khawatir."
Senja sedikit tersentak kaget Reyhan mengeluarkan suara lenguhan secara gumam dalam posisi ia tidur. Terlihat begitu selain itu ada keringat dingin yang mengucur mengalir di pelipis mata mendekati telinga juga dengan lehernya.
"Ehm hei- aduh namanya siapa ya? Reyhan? Ivander? Atau Elvano? Mana tadi gak tanya Anggara, lagi nama panggilannya siapa, dasar payah deh lo Ja."
Senja dibuat panik sendiri oleh Reyhan disaat kedua telapak Reyhan mengepal kuat sementara kedua matanya mengernyit kuat.
"A-aduh mampus ini cowok kenapa nih?! Bisa aja bikin gue panik gini! Duh-duh apa perlu gue panggil orangtuanya? Ck alah, gak mungkin lah Ja .. belum tentu orangtuanya dia bisa lihat lo yang hantu ini."
Hingga pada akhirnya, posisi kedua telapak tangan Reyhan, kedua matanya berbalik semula membuat Senja bernapas lega.
"Hmm, gue yakin cowok ini lagi mimpi buruk. Ditambah lagi kalau dah bangun pasti langsung terbawa imajinasi tinggi."
Senja menghela napasnya dan mendempetkan kedua telapak miliknya sendiri lalu kemudian ia menghilang pergi menuju ke rumahnya Anggara tepatnya di dalam ruang kamar pemuda Indigo di sana. Tentunya usai tiba nanti, Senja akan menceritakan apa yang sedang terjadi pada Reyhan hingga Reyhan sudah lama 2 hari ini tidak ada kabar-kabar apapun ataupun melakukan panggilan lewat ponselnya.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Anggara tengah memperhatikan dalam kontak chat WhatsApp Reyhan, menunggu sampai bawah foto profil pemuda friendly itu bertuliskan online akan namun Anggara tunggu-tunggu juga tak datang tulisan tersebut. Anggara menghela napasnya berat dengan raut wajah setengah-setengah cemas.
Sampai tiba-tiba Anggara menepuk jidatnya pelan merasa bahwa ia melupakan ucapan sesuatu. "Duh lupa! Ngapain Senja pergi ke rumahnya Reyhan? Orang Reyhan itu kan pasti masih di sekolah, gak mungkin ada di rumah."
Entah mengapa semenjak Anggara mengalami cedera kepala yang ia miliki membuat dirinya sering lupa oleh sesuatu bahkan daya ingatannya berkurang terlebihnya memori masa-masa lampau.
Swingh !
Lagi-lagi kemunculan Senja membuat Anggara sedikit terlompat kaget dan nyaris saja HP yang saat ini Anggara pegang jatuh ke lantai. Anggara tak protes tapi malah justru ingin bertanya serius pada Senja apa yang ia lihat pada keadaan Reyhan di jauh sana.
"Ja?! Gimana?!" tanya Anggara dengan mata terbelalak sekaligus langsung to the point.
Senja bersedekap di dada dengan wajah raut lumayan kesal. "Yaelah Ngga, auto to the point banget dah!"
"Lah, kan yang penting itu."
"Hhhh ya deh iya! Ehm, diluar baik sih Ngga kondisi sahabatmu di rumah."
"Di rumah? Oh dia di rumah, terus apa maksudmu di luar baik?!"
"Tadi pas aku ngecek, sahabatmu posisinya lagi tidur gitu dan saat aku nyentuh kulit telapak tangannya .. huh, panas banget Ngga ditambah lagi mukanya pucet bener. Kalau di kira-kira, sahabatmu itu demam deh Ngga orang kalau demam kan pasti kebanyakan di tempelkan kain kompres gitu di tengah kening. Ya kan? Ya kan??"
Anggara duduk tegak spontan. "Demam??!! Kenapa bisa??!!"
"Eh woi-woi calm down .. calm down. Jangan panik begitu dong, a-aku gak tau kenapa sahabatmu bisa demam. Emangnya arwah sepertiku bisa menerawang?"
"Lalu?" tanya Anggara dengan wajah gundah serta bernada lirih.
"Sahabatmu mengigau-mengigau, Ngga. Mungkin dia lagi di alam mimpi buruknya .. tapi aku minta tolong sama kamu dong, kamu jangan terlalu khawatir apalagi panik begitu .. keadaanmu itu masih di fase penyembuhan."
"Bagaimana aku gak khawatir?! Kalau sahabatku seperti itu masa aku santai-santai aja?!"
"Udah dong Ngga, yakin aja deh besok si Reyhan bakal mendingan kok."
Anggara yang hanya bisa dirumah, hanya menghela napasnya untuk menurunkan rasa khawatirnya bahkan pikirannya mengenai Reyhan yang sedang tengah sakit. Anggara menganggukkan kepalanya dengan membuka mulutnya dan berkata 'iya' tanpa mengeluarkan suaranya.
"Nah bagus. Oh iya Ngga, kalau aku boleh tau .. nama panggilan sahabatmu yang tadi aku tengok siapa? Reyhan kah? Ivander kah? Elvano kah?"
"Nama panggilannya Reyhan. Maaf aku tadi gak bilang dulu sama kamu."
"Dibawa santai aja Ngga," ucap Senja dengan mengibaskan tangan kanannya.
Anggara tersenyum simpel lalu menundukkan kepalanya dengan memejamkan matanya, Senja yang duduknya beberapa senti dekatnya Anggara, kini gadis itu menggeser posisinya mendekati Anggara.
"Anggara, aku boleh ngomong sesuatu nggak?"
"Ya, ngomong aja."
"Eeeemm ... aku pengen jadi temen curhat-mu seperti dulu, Ngga. Rasanya asyik terus nyaman banget kalau berbagi cerita ataupun bertukar cerita denganmu."
Anggara mendongakkan kepalanya ke depan. "Seperti dulu? Dulu kapan? Bisa kamu sebutin tanggal? Hari atau bulan?"
Senja semakin tak berpaling pada Anggara. "Satu bulan yang lalu, waktu raga kamu Koma."
"H-hah?!" Anggara menoleh cepat ke arah Senja dan di situ terlihat kening Anggara berkerut dengan mulut sedikit menganga kaget.
"Eh bentar-bentar, kamu tau darimana kalau aku pernah Koma?!"
"Dari roh kamu, waktu itu aku menemukan kamu pertama kali di lorong lantai 6 rumah sakit Kusuma kota Bogor. Dan di situ aku mengajak kamu berkenalan sama aku."
"Dan terus?" Sepertinya Anggara terbawa oleh jiwa penasaran dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kamu nunjukin kalau raga kamu Koma di ruang ICU, lantai tiga kalau nggak salah. Sebelum itu aku lihat kamu dilanda rasa stress dan depresi bahwa jiwamu terpisah dari ragamu. Buat mengembalikan suasana hati baikmu, aku mengajak kamu ke atas genteng rumah sakit deh."
"Hah? Gila kali kamu ngajak aku ke atas genteng rumah sakit! Dan ngapain kita di atas genteng sana??"
"Hayooo ... akhirnya kamu penasaran kan hahahahaha!"
"Apaan dah ini cewek, udah cepet jawab."
"Iye-iye, sabar kali! Kita di sana itu saling bercerita terlebihnya aku curhat sama kamu kalau ragaku gak bernyawa akibat mati di pendakian gunung waktu aku dan temen-temen sekolahku mengadakan liburan panjang usai tes berakhir."
"Yang lebih aku kagum darimu tuh, kamu memberi aku motivasi semangat buat aku yang rapuh karna aku gak mungkin bisa kembali ke ragaku yang sudah dimakamkan."
"Padahal sudah dimakamkan secara layak sesungguhnya, tapi kenapa kamu masih ada di dunia? Harusnya kamu sudah ada di dunia akhirat agar kamu bisa tenang dan bahagia di atas sana. Lebih terbaik kan seperti itu."
"Aku gak bisa Ngga, kalau kamu menyuruhku untuk pergi ke atas dunia akhirat sana .. aku menolak."
"Lho, kenapa?"
"Aku masih ada urusan besar yang mestinya aku tuntaskan terlebih dahulu, sebelum semuanya telah selesai aku gak akan pergi. Aku harus balas dendam sama mereka yang sudah membunuhku dan temen-temenku."
Anggara sangat terkejut mendengar penuturan kalimat terakhir dari Senja. "Balas dendam?! Heh kamu gak boleh mencoba ataupun melakukan kejahatan itu! Tetaplah jadi arwah yang beraura positif jangan berpindah selain positif!"
"Ngga! Biar mereka dapet balasan! Gak adil kalau aku gak membalasnya, mana ada sih terima kalau dibunuh pada usia masih muda?!"
"Lagian, kamu kan gak ngerasain bagaimana jadi aku! Kamu bisanya cuman protes-protes dan nasehatin tanpa ngerasain!!"
"E-eh?!" Anggara menggaruk tengkuknya yang tak gatal sekaligus bingung pada Senja yang memarahinya habis-habisan apalagi sekarang Senja malah mengeluarkan air matanya dengan masih raut kesal bersama dua telapak mengepal di atas celana krem panjangnya.
"Eh lho-lho kok nangis?!"
"Gakpapa kok," jawab Senja seraya memalingkan wajahnya dari arah Anggara.
"Eh beneran? Sumpah, maafin aku kalau aku ada salah sampe buat kamu nangis .. Maaf, ya?"
"Kenapa minta maaf? Kamu kan gak salah, aku begini karna nyesel aja kok."
"Eeee nyesel kenapa? Oh nyesel kenalan sama aku, ya? Ehm kalau tau begitu, mendingan kamu gak usah kenalan sama aku. Daripada sakit hati."
Senja sedikit duduk tegak, ingat kata-kata yang di utarakan oleh Anggara barusan. Kata pengucapan tersebut dari pemuda ini nyaris sama seperti celoteh pendeknya dari dimana saat itu Anggara menjadi roh.
Flashback On
'Ganteng-ganteng gini tapi keliatan Introvert banget dah, ih sumpah berasa ngeliat selebritis di depan mata kyaaa !'
"Biasa aja kali mujinya, gak usah berlebihan."
"Eh loh kok kamu tau aku muji kamu?!"
"Aku bisa baca pikiran orang, apalagi pikiran hantu."
"Termasuk aku dong?!"
"Hmm."
'Ih sumpah dehem doang jawabnya, untung ganteng kalo kagak, udah gue ulek-ulek itu pala cowok. Please deh Ja, ngapain sih lo malah kenalan sama ini cowok cuek dingin gini?! Bikin sakit hati aja !'
"Kalo gitu gak usah kenalan biar gak sakit hati!"
Flashback Off
"Kenapa hampir sama, ya?" gumam Senja.
"Apanya yang sama, Ja?"
Senja menutup matanya sebentar dengan membungkam mulutnya seraya cepat menoleh ke Anggara kembali.
"A-eh, bukan apa-apa kok. Bukan apa-apa, tadi mulutku asal ngelantur begitu aja. Bukan ada apa-apa."
"Yang bener? Tadi aku lihat-lihat kamu lagi merenungkan sesuatu, kayak memutar memori otak."
'Anak Indigo dilawan, tau banget ini cowok hhh.'
"Soal yang tadi, kamu gak usah minta maaf kali Ngga .. orang bukan salahmu loh. Kamu kan bukan pelaku yang membunuhku dan kesemua temenku. Aku tau kok sifatmu, aku tau kebiasaan-mu dan pokoknya apapun itu deh, karna aku sudah akrab sama kamu tapi ya ... gak juga dengan kamu sih, mungkin kamu masih anggap aku arwah cewek pengganggu."
"Ehm maaf ya, aku tadi malah suruh kamu pergi dari sini. Jadi, apa mau-mu?"
"Terserah kamu aja deh, aku gak minta-minta. Kamu mau usir aku juga oke."
Anggara terdiam seperti kehabisan kata-kata untuk menjawab ucapan Senja yang kini bernada dingin serta muka datar. Anggara merenungkan pikiran sejenak apa yang membuat Senja inginkan dari Anggara.
'Memotivasi? Temen curhat? Temen akrab? Apa gue pernah memberikan seperti itu sama Senja? Hmmm ... apa gue harus kembali seperti yang Senja kenal, tapi jadi aneh apalagi kan yang berinteraksi terlebihnya berkomunikasi roh gue, bukan raga gue.'
Anggara menepuk keningnya tanpa menimbulkan suara setelah bermonolog di batin hati. Mata Anggara bersilih menatap Senja yang tengah menundukkan kepalanya sembari memainkan jari-jemarinya dengan wajah tatapan nanar.
Anggara menghela napasnya. "Ja?"
"Ya Ngga, kenapa? Kamu mau ngomong apa??"
"Eeee, sebelumnya aku minta maaf udah terlalu cuek sama kamu yang semestinya aku belum terlalu kenal sama kamu. Jadi, sesuai yang kamu inginkan aku turuti kok."
"Hah? Turuti apa, Ngga?"
"Memotivasi kamu, jadi teman curhat kamu, teman akrab kamu. Mau, kan jadi temenku?"
"Wah?! Serius Ngga?! Kamu gak salah nanya nih?!"
"Aku gak mungkin salah tanya."
"Eh tapi padahal aku gak memaksa kamu lho, hehehe aku dengan senang hati mau kok jadi temanmu. Jujur ih, bahagia bener!!"
"Hadeh ... yaudah deh terserah kamu. Tapi alasan kamu jadi temenku kenapa? Apa kamu gak salah pilih minta jadi teman? Kita itu berbeda kan, aku manusia dan kamu hantu."
"Iya Ngga, memang kita ini berbeda. Tapi aku nyaman banget sama kamu terlebihnya auramu yang memancarkan Kilauan."
"Dasar arwah lebay," ujar Anggara dengan sedikit terkekeh geli.
"Terserah lah kamu mau ngomong aku arwah lebay, yang penting aku berkata jujur. Baru kali ini aku bisa ngerasain dan lihat ada anak Indigo yang memiliki aura luar biasa."
"Jangan berlebihan, aku orangnya biasa kok. Aku punya kelebihan itu dari keturunan dua orangtuaku. Dan aku bukan anak Indigo istimewa seperti di film-film ataupun novel-novel."
"Hahahahahaha!!"
"Kenapa? Kok ketawa? Emangnya ada yang lucu dari aku?"
"Haduh sakit deh perutku, heh Ngga jadi cowok jangan suka merendah diri deh. Kamu itu tuh cowok yang istimewa di dalam jiwamu, peka dong sama dirimu sendiri, jangan cuman orang lain aja yang kamu peka-kan."
"Salah lagi aku."
"Hehehehehehe, udah gak usah dibahas lagi. Oh iya Ngga, gak tau kenapa disaat aku ada di samping kamu aku ngerasa bahagia banget bahkan mood ku yang jelek sekarang jadi sempurna. Hati rapuhku juga sedikit demi sedikit menghilang berkat kamu."
"Heleh, kayak ditinggal pacar aja hatinya rapuh."
"Ih Anggara lho!!"
"Iya-iya bercanda kok bercanda, jangan dimasukin ke hati dong."
"Hah?! Gak salah denger nih aku barusan?! Kamu bisa bercanda-canda gitu?!"
"Ya bisa lah, emangnya aku manusia apaan yang gak bisa bercanda? Dunia tanpa bercanda juga hampa, tapi ya kalau bercandanya melebihi batas langsung jadi runyam masalah."
"Hehehehe iya deh Anggara yang otaknya pinter, aku ngalah demi pertemanan antara manusia dan hantu."
Anggara tersenyum tipis untuk merespon Senja yang nampak hatinya sangat senang kali ini.
'Ngga, meskipun kamu belum bisa mengingat momen-momen dimana saat kamu menjadi roh dan kesemua temen roh-mu seperti Stevan, Daniel, dan juga Yuda aku mengerti kok. Yang penting sekarang aku bisa kembali akrab sama kamu, jadi teman beda alam.'
Anggara mengangguk samar-samar dengan masih tersenyum tipis, ia juga seperti tak mengenal siapa Stevan, siapa Daniel, dan siapa Yuda. Akankah Anggara segera teringat masa-masa ia saat menjadi roh bersama ketiga pemuda yang sama-sama temannya?
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Jumat di sore hari.
Reyhan nampak tengah berdiri dengan meregangkan seluruh otot-ototnya sesekali menghirup udara sejuk di sore hari. Di pertengahan aktivitasnya, Reyhan malah kepikiran mata pelajaran di sekolahnya. Sudah 4 hari ia tak hadir di sekolah mestinya banyak sekali materi-materi pelajaran yang ia tinggalkan selama ia masih sakit, tak bisa membayangkan pastinya ia akan mencatat banyak seluruh materi pembelajaran termasuk pelajaran Kimia ditambah lagi tugas-tugas yang harus segera ia susul.
"Payah bener, gue paling males sebenernya kalau suruh nyatet-nyatet materi Kimia. Mana biasanya 9 lembar ada tuh, eh tapi nanti gak dapet nilai kalau misalnya ada PR itu tapi gak gue laksanain. Aaahh bodo ah!"
Cklek !
"Heh Rey, kamu itu kenapa sih ngomong-ngomong sendiri di depan balkon? Kayak lagi ngajak ngobrol sama setan," celetuk Farhan.
"E-eh Papa?!" Reyhan langsung memutar tubuhnya ke belakang. "Ehehehe gak ada kok, Pa .. itu Reyhan tadi lagi belajar acting."
"What? Acting apa? Emangnya kamu ada tugas dari guru suruh belajar acting? Lagian, kamu kan udah lama gak sekolah. Tugas darimana?"
"Itu tadi bu Sora ngirim tugas ke Reyhan pake burung merpati."
"Gak usah ngeles sama Papa, kamu gak jago bohongin Papa. Kamu kalau mencatat materi mendingan kalau udah sembuh aja, gak usah macem-macem."
"Yeeee, lagian Reyhan males catatnya kok."
"Yaudah, Kalau begitu Papa keluar dulu."
"Lah Papa kesini niatnya mau ngapain?"
"Cuman mastiin lagi ngapain, ngomong-ngomong sendiri kirain lagi mau nyantet orang pakai boneka Voodoo."
"YA ALLAH PA!!"
Farhan langsung lari ngibrit keluar sembari menutup pintu kamar anak tunggalnya.
"Punya ayah, sifatnya kayak anak muda. Masa gue yang begini otaknya santet orang pake boneka Voodoo? Dukun, apa anakmu ini?"
Reyhan menggelengkan kepalanya dan beralih pergi duduk di kasur dan mulai menggenggam ponselnya yang sudah 4 hari ia nonaktifkan WIFI-nya agar tak terganggu suara beberapa notifikasi di kondisi pemuda itu sedang tak ingin ada suara-suara yang begitu berisik. Baru saja mengaktifkan, suara beberapa notifikasi dari aplikasi WhatsApp terdengar dan ada ribuan pesan di salah satu grup yang belum sama sekali Reyhan buka serta baca.
"Wah grupnya lagi rame nih, bahas apaan yak kira-kira? Penasaran, gue."
Reyhan segera membuka grup kelasnya yaitu bernama The Most Exciting Group Class XI IPA 2 dan mulai membaca semua pesan grup yang ada di ruang.
...----------------...
...THE MOST EXCITING GROUP CLASS XI IPA 2...
^^^Woooooiii para penghuni grup heboh!! Pada bahas apaan nih??? Baik banget ya ngobrol" gak ngajak gue^^^
[Nona Sableng----jagat Raya]
Eh nongol orangnya, ya kan kamu dari kemaren" off mana mungkin kita ngajak hahahaha! Oh iya BTW kamu udah sehat kah?
^^^Alhamdulillah udah mendingan, ini aku habis olahraga di kamar^^^
[Jevran The Tetangga Somplak]
Heh! Mau sembuh malah olahraga ni anak!
^^^Bukan olahraga berat, dasar somplak! gue cuman regang-regang otot doang di kamar^^^
[Freya Si Cantik Polos Imut]
Oh begitu ya Rey, aku jadi seneng kamu sudah mendingan sakitnya. Sudah makan, kan?
^^^Wih perhatian bener sama aku nih hehehehe... Tenang aku sudah makan kok, nanti malem makan lagi biar cepet strong^^^
[Freya Si Cantik Polos Imut]
Sip deh hahahaha...
[Nona Sableng Sejagat Raya]
[Lala Teletubbies]
Eh kenapa Va? Kok jawabanmu begitu?
[Maemunah Aji]
Sudah dipastikan kalau si Jova lagi cemburu buta sama antara Freya dan si kunyuk wakakakakak!!!
[Nona Sableng Sejagat Raya]
What?! Are you crazy??!!
[Nona Sableng Sejagat Raya]
Eh Ji, meriam belinya dimana ya?? Terus kalau planet mars letaknya dimana ya?? Rasanya aku pengen pental kamu ke planet mars pake meriam biar bye" Maemunah!!
^^^Huahahahahahahaha!!!^^^
[Nona Sableng Sejagat Raya]
Sorry, tawamu kek orang jahat sama lagi kesurupan setan tentara Belanda
^^^Astaghfirullahaladzim...^^^
[Rakato Samudra Pasifik]
Tumben lo hari ini alim bener, Rey? Lagi kesambet apaan lo??
^^^Lagi kesambet malaikat Ridwan!^^^
[Jevran The Tetangga Somplak]
Kenapa gak malaikat Malik aja Rey? Kan manusia-manusia bentukan lo gini pantesnya jadi penghuni api neraka
^^^Tetangga laknat bangs** lu!^^^
[Freya Si Cantik Polos Imut]
Hei Reyhan... Gak boleh ngomong begitu ih sama tetangganya sendiri, kan kata Anggara itu ucapan kotor berarti ada bakterinya. Hih jangan dipakai deh kata itu daripada kamu terserang banyak kuman
[Zara Susu Zazha]
Mau ngakak tapi takut kesedak sedotan
^^^Yahahahahaha mampus @Zara Susu Zazha^^^
[Rena Serenong]
Cintailah Detol agar kamu terbebas dari berbagai kuman ditubuhmu, Detol anti kuman siap melindungimu
^^^Promosi iklan lewat :V^^^
[Andra Bambang Kulit Pisang]
Guys!! Besok kan libur, nih.. Nah gimana kalau besok kita jenguk Anggara? Setuju gak?
^^^GUE SETUJU, NO 1!!!^^^
[Maemunah Aji]
Kerumahnya Anggara dong?! Ih gue ikut dong ikut!! Sumpah kangen banget gue sama si Anggara tukang diem itu, di rumah sakit gue gak pernah jenguk karna banyak kendala mulu dah!
[Andra Bambang Kulit Pisang]
Yahahaha kasiman!
[Kenzo Revansar]
Rumahnya Anggara ya? Hm oke gue setuju, udah lama gak jenguk Anggara
[Andra Bambang Kulit Pisang]
Sip Zo, mantap! BTW yang lain gimana nih?? Gue sebagai Admin grup harus tetep aktif ye, kalian juga harus dong
[Rakato Samudra Pasifik]
Iye" lagian yang paling sering gak aktif di grup cuman Anggara kalau Joshua sih kadang-kadang
[Jevran The Tetangga Somplak]
Eh Nyuk, gue kirimin catatan Kimia yo? Banyak bener tapi 10 lembar ada, tugas Kimia ada 15 lembar harus lo kerjain
^^^Anjir :U^^^
^^^Yaudah deh lu kirimin aja cepetan di Japri kontak gue, nanti gue salin di buku tulis^^^
[Jevran The Tetangga Somplak]
Asiaaaapp!!
...----------------...
Reyhan berdiri beranjak dari kasurnya lalu melangkah menuju ke meja belajarnya dan duduk di kursi.
Tring tring tring tring !
Reyhan membuka aplikasi WhatsApp-nya kembali usai keluar dari grup, dan mulai klik kontak Jevran yang telah mengiriminya beberapa foto tak lain beberapa catatan Kimia serta tugas-tugas soal esai. Reyhan tercengang, banyak sekali yang harus ia salin kemungkinan ia tuntas malam senin. Dengan menghela napasnya berat, Reyhan mulai mengambil buku catatan dan buku tugas yang bersampul warna ungu dilapisi sampul bening.
Reyhan mulai mencatat materi-materi Kimia terlebih dahulu yang sudah dikirimkan oleh Jevran lewat foto. Reyhan sudah menyalinnya sampai 1 paragraf begitu cepatnya dan masih ada beberapa paragraf lagi yang harus Reyhan salin, hal itu tepatnya tak memakan banyak waktu dikarenakan pemuda ini jika soal menulis begitu cepat kilat tetapi rajin. Disaat Reyhan telah di paragraf selanjutnya dan itu baru 5 baris, suatu tetesan darah jatuh dari atas mengenai lembaran kertas dibuku tulis miliknya Reyhan. Reyhan mencoba mendongakkan kepalanya ke atas tetapi tak ada suatu darah di dinding yang membuat tetesan darah berjatuhan, pemuda tersebut kembali mengembalikan posisi kepalanya pada semula.
Mata Reyhan terbelalak lebar dengan mulut menganga besar, dilihatnya tetesan kecil darah menjadi luas ibaratnya penuh lumuran darah di atas kertas lembar buku tulis yang berisi catatan ia salin tadi. Hingga tiba-tiba genangan air darah segar itu memunculkan sosok wajah Arseno si arwah menyeramkan yang meneror Reyhan habis-habisan, arwah tersebut tertawa sekencang-kencangnya untuk menakuti manusia ini.
"WAAA!!"
GUBRAKK !!!
Karena saking takutnya, kursi yang Reyhan duduki terjungkal ke belakang sehingga sang empu ikut terjungkal. Punggung Reyhan terhantam lantai dengan keras, sampai Reyhan merintih kesakitan yang beruntungnya kepalanya tak terbentur.
"Aaaakkh- sialan! Gak habis-habisnya lo meneror gue!!!" teriak Reyhan murka.
Reyhan membangkitkan diri seraya menegakkan kursinya yang tergeletak usai terjungkal. Di sisi lain, lumuran darah di atas buku tulis Reyhan sudah tak ternampak lagi alias menghilang. Reyhan menghempaskan napasnya lalu kemudian kembali melanjutkan aktivitas menulis ia, sakit-sakit Reyhan tetap menguatkan dirinya. Sakit tubuhnya dan rasa ketakutan yang bergumpal di jiwanya menyatu membuat sikon aman Reyhan tak stabil.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Hembusan angin meniup rambut hitam Anggara yang sang pemuda tersebut sedang duduk diam mendengarkan musik POP santainya seperti biasa melalui headset hitamnya, lantunan sebuah piano di musik begitu merdu membuat pemuda itu memejamkan matanya mendengarkannya dengan nyaman. Anggara Sengaja mengeraskan volumenya full agar lebih memfokuskan musik miliknya dan membuang pikiran parak di otaknya mengenai keadaan Reyhan yang masih saja tak ada kabar.
Hingga tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan langkah derapan langkah sepatu menuju ke kasurnya Anggara, Anggara tak menyadari siapa orang itu yang masuk ke kamar Anggara. Orang tersebut duduk di pinggir kasur dengan pelan, bermaksud untuk tidak menganggu Anggara yang mendengarkan musik dengan mata memejam. Namun lama-lama, Anggara merasakan ada sosok di dekatnya, pemuda itu membuka matanya dan mematikan durasi lagunya.
"Eh Rey?!"
Anggara begitu amat terkejut dan tak menyangka, sahabatnya yang tak ada kabar beberapa hari kini sekarang sosok sahabatnya berada di kamarnya Anggara. Reyhan melambaikan tangannya untuk menyapa ramah Anggara dan begitu rindu pada sahabat Introvert-nya.
"Halo Bang Anggara, hehehe lama ye kita gak ketemu. Gimana kabarnya, udah sehat kah?"
'Dilihat wajah si Reyhan, udah gak pucet. Mungkin Alhamdulillah itu anak sudah sembuh.'
Reyhan yang tahu bicaranya relung hati Anggara mulai bertanya dengan terbingung-bingung. "Lho Ngga, lu kenapa batin hati kalau gue udah sembuh?? Apa lo tau kalau gue kemarin sakit?"
"Iya, sakit demam."
Mata Reyhan terbelalak. "Hah?! Kok lu bisa tau gue demam?! Perasaan gue gak ada WA lu sama telpon lu, dah."
"Eee g-gue tau dari- eee dari ehm dari ..."
Reyhan menyengir akan tertawa melihat ekspresi sahabatnya yang linglung tiba-tiba.
"Hahahaha, iye-iye gue tau kok. Lu pasti tau gue demam dari terawangan Indigo lu, kan? Hm, udah gue tebak itu mah Ngga."
"Ehm, iya gitulah. Oh by the way, gimana keadaan lo? Udah bener-bener sehat?"
"Udah dong Ngga, nih lihat gue udah sehat bugar gini. Gak mungkin gue masih sakit haha! Oh iya Ngga, nanti ada beberapa temen kita yang bakal kesini buat nge-jenguk lo."
"Siapa saja? Temen kelas?"
"Yups, si Aji, Jevran, Raka, Andra, sama Kenzo. Nah yang cewek-cewek nanti kumpulnya di rumahnya Freya .. ada Jova, Lala, Rena, ama Zara."
"Oh, oke."
Reyhan membaringkan tubuhnya di kasur sahabatnya dengan penuh wajah santai, matanya juga ia pejamkan seperti menikmati sabtu pagi ini di rumah Anggara. Anggara yang melihat tingkah Reyhan hanya menggelengkan kepalanya dengan berdecak, tanpa Reyhan suruh Anggara juga membaringkan tubuhnya di samping Reyhan.
"Bahagia banget gue bisa berjumpa lo Ngga, udah berabad-abad tahun kita tidak bertemu."
"Salah hitung lu! Baru beberapa hari gak ketemu, lo bilangnya berabad-abad tahun. Dasar sinting!"
"Kalau gue sinting, berarti lo juga harus sinting."
"Eh, kenapa gitu?!"
"Kan lu sahabat gue, berarti lo mau gak mau harus ikutin sinting kayak gue. Biar kita seiras."
"Hmmm!" Anggara menanggap-nya dengan dehaman suara tinggi, mendengar bahwa perkataan Reyhan begitu alay di pendengarannya.
Sudah tak ada lagi suara yang meramaikan kamar Anggara, sang empu kamar menolehkan kepalanya ke arah Reyhan yang mendapati matanya tertutup santai dan sunggingan bibirnya membentuk senyuman. Menatap Reyhan yang baik-baik saja tak juga dengan feeling Anggara, Anggara sangat tahu posisi Reyhan dibelenggu oleh teror-teror dari Arseno. Teror yang dahsyat tentunya di terawangan milik Anggara.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Anggara yang sudah bermenit-menitan berbaring tanpa tidur, ia bangkitkan tubuhnya ke posisi duduk sedangkan Reyhan malah sudah menuju di alam mimpinya alias tidur. Anggara tak berniat membangunkan sahabatnya, dalam pikiran pemuda Indigo tersebut sahabat ramahnya begitu letih terhadap ulah-ulah segala macam dari arwah yang menerornya.
Tak lama kemudian, pintu Anggara yang tak ditutup datanglah teman-temannya. Yang tak lain adalah Jevran, Aji, Andra, Raka, Kenzo. 5 temannya itu menyapa Anggara dengan rasa pertemanan. Anggara yang di sapa hanya tersenyum tipis tanpa membalas sapaan dari mereka berlima.
"Ya ampun Ngga, sumpah maafin gue ya pas lu di rumah sakit gue gak pernah jenguk lu. Sekarang gimana keadaan lu?"
"Gak usah minta maaf Ji, gak masalah kok kalau itu. Dan keadaan gue sekarang bisa dibilang lumayan."
"Wah Alhamdulillah deh, gue seneng dengernya. Oh iya Ngga, lu dapet salam dari Rangga .. cepet pulih. Itupun sebenernya Rangga lagi ada di kota Bogor, sudah hampir satu minggu Rangga gak hadir ke sekolah."
"Oh, ada di kota Bogor? Hm oke, Vran."
Raka bersilih ganti pandang mengarah menatap Reyhan yang enakan tidur di atas kasur Anggara, dan Raka mempunyai siasat jahil untuk mengerjai Reyhan dengan akal nakalnya.
"Ngga, gue pinjem buku tulis lo dong," pinta Raka.
"Buat apaan?" tanya Anggara.
"Udah, mana bukunya. Gue mau beraksi sesuatu yang menggemparkan kamar lo."
"Eh anying! Lu mau bom kamarnya Anggara?!"
"Dasar bego lu Ndra! Ya kali gue bom rumah temen, kalau bom rumah mantan baru setuju gue."
"Emangnya lu punya mantan? Pacar aja kagak punya, mana lagi seorang mantan."
"Banyak cingcong lo Ndra, eh mana Ngga bukunya. Cepetan lah."
"Ya-ya sabar!"
Anggara yang dikomando Raka langsung dengan malas mengambilkan buku tulisnya yang berukuran panjang dan langsung memberikannya pada Raka.
"Lo mau apain bukunya Anggara? tanya Kenzo.
"Buat aksi menggemparkan."
__ADS_1
"Apaan dah ini orang!" kesal kompak Jevran, Aji, dan Andra.
Raka dengan tersenyum miring menggulung-gulung buku tulisnya Anggara hingga membentuk tabung teleskop. Raka mendekatkan ujung lubang buku kemudian berteriak sekencang-kencangnya seperti sedang menyanyi lagu rock.
"REYHAN CEPET BANGUN REY ADA SETAN KEPALA BUNTUNG!! ADA SETAN KEPALA BUNTUUU-"
BUG !!
Sudah habis muka Raka kena sabit bantal dari satu orang yang terganggu nyamanan tidurnya. Reyhan mendengus sebal dengan rambut acak-acakan tak rapi karena habis bangun tidur, muka ekspresinya nampak sedang marah pada Raka sementara Raka menelan ludahnya.
"Setan kepala buntung, setan kepala buntung. ELO YANG SETAN KEPALA BUNTUNG!!"
Raka melonjak kaget dengan mata mencuat. "Gue kira lu bakal ngacir karna takut, lah gak sesuai dengan harapan gue .. lu malah lempar muka gue pake bantal."
"Masih mending bantal, daripada bom!! Detik-detik bisa matek, lu!!"
Raka ngibrit lari berlindung di punggungnya Anggara yang pemuda pendiam itu sedang tengah berdiri.
"Hih, Ngga tolongin gue dong! Si Reyhan lagi kesurupan apaan sih? Galak bener dah!!"
Anggara menghela napasnya panjang lalu menghampiri Reyhan yang masih memelototi Raka dengan tajam.
"Sudah, sudah. Lu gak perlu sampe emosi, si Raka niatnya cuman ngerjain lu. Gak beneran," ujar Anggara mengusap punggungnya Reyhan.
"Lu ... bangun tidur langsung ngamuk kek monster, sampe muka lu ikutan jadi seperti monster yang ada di film-film."
"APA LO BILANG, RAKATO??!!"
Anggara terperanjat kaget pada suara sarkas dari Reyhan yang semakin meluap emosinya, apalagi pemuda yang punggungnya masih di usap-usap Anggara usai bangun tidur. Mungkin itulah faktornya.
"Heh-heh, udah Rey udah. Makin merajalela sih? Sana dah cuci muka dulu, biar otak lo bisa bekerja sama hati lo gak emosian mulu," suruh Anggara.
"Ya kali otak gue gak bekerja, namanya otak gue mati lah! Mati otak!"
"Astaghfirullah, mulut lo! Lama-lama gue lakban juga itu mulut."
"Huh, serah lo dah. Gue pamit."
Reyhan yang hendak pergi dari kamar Anggara, Aji malah menanya temannya yang keadaannya cukup kacau akan rambutnya yang berantakan itu.
"Eh, lu mau pamit ke mana Rey??"
Reyhan menoleh ke belakang dengan tampang sengit. "Mau pamit ke dalem kuburan!"
"B-BUSET!!"
Anggara menghela napasnya panjang, Kenzo menepuk keningnya dengan menggelengkan kepalanya pada suara serempak-nya dari Andra, Raka, Aji, Jevran sementara itu Reyhan melengos berbalik badan ke depan dan meninggalkan kamar Anggara untuk mencuci muka di wastafel kamar mandi sahabatnya.
Di sisi lain, Andra berjalan mengarah ke PS game milik Anggara yang telah lama Anggara diamkan alias tak digunakan oleh sang pemilik. Andra berjongkok mengecek game PS tersebut ialah PS 5 teman pendiam-nya, Andra mengambil stik game PS dan memutar tubuhnya ke hadapan Anggara.
"Ngga, game PS lo masih berfungsi gak? Kalau masih ada fungsi, gue izin main game PS lo."
"Masih berfungsi. Kalau mau main, main aja .. gue gak ngelarang lagian."
"Widih temen hati malaikat beneran nih! Thanks ya Ngga!!" pekik Andra gembira.
"Hmm."
Meskipun jawaban Anggara sering begitu, tidak apa-apa yang penting Andra bisa memainkan game PS temannya dengan hati puas. Terlihat sekarang Andra menyalakan monitor game PS serta mengotak-atik stik game. Terdapat menu beberapa pilihan jenis game sport, horor, thriller, dan masib banyak lagi. Karena pemuda yang tengah menggenggam stik game, ia memilih salah satu game yang menantang.
The Game Psychopath 2.
Sound dari game terdengar begitu menyeramkan dan terasa kelam. Andra dengan nyali pemberani langsung cepat klik play di menu dalam game tersebut. Anggara beserta yang lain terkecuali Reyhan menyimak si Andra yang tengah fokus pada alur game ronde pertama yang dimana seorang pria kisaran umur 20 tahun terjebak di tempat yang tidak ia duga yaitu alam penuh misteri dan teka-teki besar dan ia harus melarikan diri dari tempat tersebut.
"Bisa mainnya gak lu? Paling juga baru ronde alur pertama langsung game over," kata Raka meremehkan Andra.
"Diem deh lo! Jangan berisik, gue lagi fokus nih buat cari jalan keluarnya. Mana ini tempat kek gudang kotor, lagi."
Sampai tiba-tiba, datanglah psikopat berjubah hitam yang bagian dadanya penuh lumuran darah, sertakan mengenakan topeng wajah yang dipenuhi bercak-bercak darah segar.
You can't run from me, man
"Mampus gue mampus!!" Andra segera menggerakkan tombol arah di stik game maju sekaligus menekan tombol kotak hijau agar sang pemain mampu berlari.
Andra, Aji, Raka, Jevran, dan Kenzo menatap paku pada game tersebut yang tengah di fokuskan lebih oleh Andra. Meskipun itu hanyalah sebuah game, namun kelima pemuda itu jantungnya berdegup sangat cepat serasa di kejar oleh psikopat mengerikan tersebut sementara Anggara menyimak game itu dengan biasa tak ada tampang ekspresi wajah apapun.
Kini Andra berhasil mengeluarkan pemain utama tersebut dari gudang luas kotor menjijikan itu, namun keberhasilan Andra belum terpenuhi dikarenakan ia harus menjalankan pemain karakter utama yang sedang di kejar brutal oleh sang psikopat.
Andra yang sudah terbawa oleh suasana dan keadaan situasi di dalam game, tiba-tiba ia tersentak disaat stik gamenya di rebut oleh Reyhan yang tuntas dari wastafel kamar mandi. Reyhan nampak bertampang wajah intens sedangkan bibirnya sungging miring.
"Sini, biar gue aja yang selesaikan ronde pertama. Sans guys, ini adalah easy."
Reyhan menekan tombol lingkaran ungu untuk mempersiapkan alat-alat yang tersedia. Tertera kolom pilihan, otomatis game thriller itu ibaratnya pause sendiri. Reyhan harus memilih senjata yang tepat untuk menyerang sang lawan, di sana ada beberapa alat ialah balok kayu, gunting, pisau, pistol, dan terakhir satu bom.
"Hahaha, kayaknya kalau pake alat ini si psikopat itu bakal langsung mati deh. Oke, mari kita coba."
Reyhan memilih salah satu senjata yang di dalam senjata ada beberapa peluru untuk menyerang sekaligus membunuh psikopat.
DOR DOR DOR DOR !!!
Reyhan menepatkan sasaran alat vital organ tubuh psikopat tersebut ialah leher, dada bagian kiri, terakhir tengah kening yang dimana hal itu terkena otak. Psikopat itu pun akhirnya tumbang jatuh tak bernyawa, dan artinya Reyhan berhasil memenangkan ronde pertama.
"Yeah yuhuuuu!! Ronde pertama akhirnya tuntas!!"
"Sadis," gumam Anggara menatap layar game PS yang akan berganti ronde kedua.
"Itu harus, karna psikopat itu pasti bajingan. Gak usah dikasih ampun atau dikasih lawan setengah, harus maju lawan terus hingga mati mengenaskan! Lagian, tokoh psikopat ini gue jadi keinget sesuatu."
Anggara mengerutkan keningnya pada ucapan Reyhan, hingga pada akhirnya Anggara ingat kejadian waktu ia nyaris dibunuh oleh psikopat hoodie hitam serta mengenakan topeng wajah. Mungkin itu yang dimaksud Reyhan.
"Weh Rey! Lu yakin mau lanjutin ke alur ronde kedua?! Susah woi, Nyuk!"
"Bagi lo sulit, tapi gue kagak. Tenang, gue pasti bakal menang kok dan berhasil membebaskan pemain utama ini dari alam baka."
"Gue main sambil bayangin gue ada di dalam sana, otak harus gunain logika cerdas untuk mengecoh psikopat yang kedua, psikopat yang lumayan kuat daripada yang udah mati," sambung Reyhan semangat.
"Oke, gue cuman iya-in aja. Gak usah ditanya lagi, karna dari sadarnya mau ucapan atau permainan .. lo begitu sadis," ungkap Kenzo.
Anggara hanya berdehem sebagai tanggapan respon sementara Reyhan terlihat meregangkan otot kedua tangannya dan menggerakkan seluruh jari tangannya, agar ia tak kaku memainkan sebuah game ini hingga memenangkan kembali sampai ronde terakhir.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Karena Reyhan sudah beberapa kali menang pada game Thriller ini, dan ujungnya sampat tamat kesemua yang ada di sekitarnya Reyhan bertepuk tangan dengan sorak-sorak gembira tak juga dengan Anggara dan Kenzo, 2 pemuda itu hanya memberikan tepuk tangan dengan tersenyum saja tak lebay seperti Andra, Aji, Raka, serta Jevran.
"Wow gilak parah! Bisa-bisanya dengan PD (Percaya diri) lo bener-bener hebat mengakhiri permainan ini," kagum Jevran.
"Hey, gue bisa bukan karna percaya diri tapi gue juga punya game PS yang begini .. jadi gue bisa menguasainya terlebih dahulu dulunya, ya meskipun awalnya gue kena game over mulu. Tapi gue bahagia bener, bisa tamatin ini game."
"Berarti lo ada bakat main game," timpal Anggara.
"Mungkin begitu hahaha! Udahlah gue mau istirahat, main game itu juga nguras tenaga BTW (By the way) adrenalin-nya terpacu terus."
Reyhan mengembalikan stik game milik Anggara ke tempat asalnya kemudian mematikan layar game PS agar tak terjadi pemborosan listrik. Usai tersebut, ketujuh pemuda berumur 17 tahun ini sama-sama duduk di pinggir kasur secara berjejeran.
"Eh Rey, Ngga, Ka, Ndra, Vran, Zo kalian udah liat berita belum yang banyak rawan kecelakaan di jalan Jiaulingga Mawar yang sebagai jalan pintas penghindar jalan macet kota?"
"Gue udah pernah liat beritanya," jawab Anggara.
"Setengah sih, tapi gue tau inti dari berita itu. Gue itu heran aja kenapa akhir-akhir ini selalu ada kecelakaan di lokasi yang sama? Kayak ada misteri teka-teki gitu kan ya? Apalagi setiap terjadi peristiwa kecelakaan mesti di malam hari, maghrib juga ada sih," ucap Raka dengan nada bingung.
"Kayaknya ada hubungannya dari kematiannya remaja SMA cowok di jalan itu. Lo pada pasti tau kan kondisi tewasnya anak SMA itu kayak gimana?"
"Anjir Zo! Sadis banget, di sosmed (Sosial media) memberitakan cowok SMA itu dua matanya di congkel, tubuhnya di penuhi sayatan dalam pake benda tajam, terus jasadnya di buang ke jurang tiga puluh meter!!"
"Iya, tapi gak usah pake teriak, bisa Ji?" tanya Anggara dengan nada sedikit kesal.
'Apa cowok yang tewas Arseno? Arwah yang datangi gue waktu itu?'
Flashback On
"Apa kamu tidak tahu tentang aku yang mati karena diberi kesadisan dari seseorang? Aku mati karena mereka, dan aku akan berbalas dendam siapapun yang berani melewati jalan kawasan wilayah ku. Coba sekarang kamu lihat, banyak kecelakaan-kecelakaan di jalan Mawar Jiaulingga Mawar dan itu ulahku sendiri .. aku tak ada rasa enggan pun untuk meneror yang berani memijak ataupun melewati jalan itu hingga mati!"
"Itu juga termasuk Reyhan, tapi tenang saja teror ini gak seberapa menurutku. Namun, tetap saja aku akan membuat sahabatmu menderita bahkan hingga mati!"
"J-jangan lo lakuin itu!! Sahabat gue gak tau apa-apa soal sebab lo meninggal karena apa!!"
"Hahahaha! Aku nggak peduli apa larangan-mu Anggara, aku bisa menepis segala rencana-mu untuk amankan jiwa Reyhan!"
Flashback Off
Anggara melirik Reyhan yang diam bungkam dalam pandangan kosongnya, Anggara pastinya tahu apa yang sedang Reyhan pikirkan hingga ia diam seperti ini.
"Eh Rey, lu liat berita itu kan?" tanya Aji.
"..."
"Rey?? Anjir malah ngelamun!" Pekikan Aji membuyarkan lamunan Reyhan seketika.
"Gue gak lihat, ehm Ngga gue ijin ke wastafel lagi ya .. mau cuci muka."
Anggara menganggukkan kepalanya kemudian Reyhan beranjak dari kasur kemudian melangkah keluar menuju ke wastafel kamar mandi kembali. Sedangkan Aji, Andra, Raka, Kenzo, dan Jevran bingung pada sikapnya Reyhan yang tiba-tiba berubah tak seperti biasanya.
"Tumben banget tuh anak, gak update informasi berita? Biasanya juga paling gercep kalau soal berita internet maupun TV," ujar Aji.
"Masih sakit jangan-jangan tetangga gue satu itu," sambung Jevran dengan pandangan di ambang pintu kamar Anggara.
'Rey, gue tau apa yang barusan lo pikirin. Gak peduli apa yang terjadi, gue pasti akan selidiki arwah itu.'
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Reyhan membasuh kedua telapak tangannya dengan wajah datar namun bayangan-bayangan teror mulai ia jatuh dari motor masih tersirat di benaknya.
Flashback On
"Hai, senang bertemu denganmu. Apakah kamu senang aku lakukan semauku?"
"Uhuk l-lepasin g-gue uhuk!!"
"Huk uhuk uhuk uhuk!!!"
"Karena kamu sudah melanggar aturan sebab kamu telah melewati jalan ini, aku akan siksa dirimu yaitu teror mengerikan yang sebentar lagi akan datang padamu."
Flashback Off
Reyhan menyentuh lehernya bagian yang di cekik kuat oleh Arseno 1 minggu yang lalu. Reyhan mematikan kran air akan tetapi Reyhan syok melihat air kran tersebut yang sebelumnya bening kini malah menjadi warna darah begitupun di dalam wastafel ada beberapa bola mata yang ada uratnya. Saking takutnya Reyhan terjatuh duduk dengan memundurkan posisinya.
"WAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!"
Reyhan dengan ekspresi wajah depresi mendongakkan kepalanya ke atas karena mendengar suara sendang dari mulut Arseno yang tertawa begitu kencang. Napas Reyhan naik turun tak beraturan, detak jantungnya berpacu sangat cepat membatasi normalnya, keringat dingin mengucur deras dari keningnya, wajahnya memucat lagi, dan tubuhnya gemetaran hebat.
Kejadian itu terulang kembali, munculnya Arseno membuat detak jantung Reyhan nyaris berhenti melihatnya arwah itu duduk di atas wastafel bersama senyuman menyeringai.
"G-g-gue m-m-mohon! J-j-jangan ganggu g-g-gue! Pergi!!!"
"Hahahahahaha!! Apa kata-katamu tidak salah? Sudah ku bilang kan, tujuan aku selalu datang padamu karna ingin meneror kamu. Mau merasakan yang lebih menyenangkan?"
"A-apa- akh!!"
Leher Reyhan ditarik ke atas oleh Arseno membuat raga Reyhan terangkat ke udara, Arseno tak menyentuh namun dengan kekuatan gaibnya pada aura hitam.
"Kamu lihat ada tembok kan di belakangmu? Harusnya aku lempar ke sana saja seperti permainan seruku."
Yang benar saja, Arseno menepatkan ucapannya melemparkan Reyhan ke tembok sehingga kepala Reyhan ikut terbentur tembok saat itu juga.
DUAKH !!
Reyhan memejamkan matanya kuat menahan rasa sakit benturan kepalanya yang disengaja oleh Arseno. Karena kalau dasarnya mudah lemah akan daya tahan tubuh mau bagaimana lagi? Reyhan langsung terkulai lemas di lantai dan kesadarannya kembali hilang.
Di sisi lain, Anggara sudah merasakan feeling tidak enak sedari tadi apalagi lebih 15 menit Reyhan tak kunjung kembali ke kamarnya. Anggara memutuskan pergi ke wastafel kamar mandi untuk menyusul Reyhan. Tanpa meminta ikut, kesemua teman sekelasnya beranjak berdiri mengekor Anggara dari belakang.
Usai tiba di kamar mandi wastafel, mata Anggara mencuat kaget melihat sahabatnya terbaring lemah di lantai dengan mata tertutup.
"REY!!" Anggara berlari menghampiri Reyhan lalu berjongkok di tepat sampingnya.
Anggara menangkup wajahnya Reyhan lalu satu tangannya menepuk beberapa kali pipi Reyhan akan namun nihilnya, sahabat friendly-nya tak kunjung sadarkan diri.
"Rey! Bangun Rey!" pinta Anggara dengan nada khawatir.
"Waduh gimana nih?! Itu si Reyhan masih ada nyawanya kan?!" panik Jevran negatif thinking.
Kenzo berjongkok di depan Anggara kemudian mendekatkan jari telunjuknya ke dua lubang hidung Reyhan. Kenzo menghela napasnya lega, dan menatap tajam Jevran.
"Lu kalau ngomong suka gak ada bener-nya, Reyhan masih hidup. Hanya aja Reyhan pingsan."
"Anjrit?! Lalu cara bangunin ini anak satu gimana terusan?! Ya kali kita semua gotong Reyhan dulu ke kamar Anggara, berat ini anak apalagi beban temen."
"Rakato! Temen lu pingsan, lu malah ngatain yang enggak-enggak. Bantu mikir kek cara mengembalikan kesadarannya Reyhan!" tegur tegas Andra.
"Duh Rey! Dua kali bikin tetangga lo ini panik, bangun napa sih! Hobi akut bener dah!" sebal Jevran dengan menggoyangkan lengan tangan Reyhan.
Anggara mencari cara untuk membangunkan sahabatnya dari pingsan ini, bola mata Anggara terus bergerak untuk mencari sesuatu. Hingga pada akhirnya pandangan Anggara berhenti di tempat wastafel.
"Air!"
"Kenapa Ngga? Lu haus?"
"Aji anak bego!!" umpat Andra.
Anggara berlari ke wastafel lalu menyalakan kran untuk menengadah air pada telapak tangan dalamnya kemudian mematikan kran tersebut dengan satu tangan lainnya. Anggara kembali menghampiri Reyhan usai itu dengan perlahan Anggara mencipratkan air yang ada di tangannya ke tepat wajahnya Reyhan.
"Ayo Rey, bangun .. bangun." Anggara berucap meminta dengan nada lirihnya.
3 kali percikan air, kini akhirnya kedua mata Reyhan nampak mengernyit kemudian terbuka perlahan dengan mengerjapkan matanya. Anggara menghembuskan napasnya lega dengan menutup matanya sejenak lalu membukanya.
"Rey," panggil Anggara dengan berjongkok di kirinya Reyhan.
"L-lho ... kok ada elo di sini, Ngga?" tanya Reyhan dengan nada sedikit lemah.
Anggara mendesis pelan. "Gue dan yang lain lihat lo pingsan di lantai, Alhamdulillah lo udah sadar. Yaudah ayo sini bangun, gue bantu."
Anggara dengan perlahan menopang punggung Reyhan agar Reyhan bisa berposisi duduk. Reyhan merintih kesakitan karena kepalanya tiba-tiba sakit akibat benturan keras yang ulahnya Arseno.
"Gue kira lu udah mati Rey."
Anggara menatap horor Aji dengan menunjuk diri Aji kemudian Anggara memperagakan lehernya seolah-olah seperti menyayat leher untuk Aji.
"Eh iya-iya ampun! Sadis juga lo rupanya Ngga, hehehe maapin gue."
"Awas lo ngomong gitu lagi!" ancam Anggara.
"Iye-iye Nggaaa!"
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Usai Reyhan di papah oleh Anggara, kini Reyhan dibaringkan dengan sahabatnya di kasur milik sahabat introvert-nya. Anggara juga setelah itu mengangkat kedua kaki Reyhan ke atas kasur.
"Lebih baik lo istirahat aja di sini, atau gak kalau perlu sekalian tidur. Masih pusing kepalanya?" tanya Anggara.
Reyhan mengangguk saja, tak mungkin Reyhan membohongi Anggara jika kondisinya seperti ini. Anggara tersenyum tipis dengan menepuk-nepuk pundak Reyhan.
"Lo ke sini naik motor?"
"Gue ke sini di anter bokap gue," respon Reyhan pada Jevran.
"Fix! Lu napa sih belum sembuh total malah ke rumahnya Anggara, sehat aja dulu. Daripada sakit lagi kek begini!" damprat tetangganya.
"Yoi, kita semua bisa maklumi kok kalau lo gak bisa dateng. Yang penting kan lo harus sehat dulu, kalau udah begini siapa juga yang repot? Sahabat lu kan."
"Gue gak ngerasa direpotkan. Ngomong-ngomong lo mau pulang jam berapa? Biar gue yang nge-chat om Farhan dan siniin HP lo."
Reyhan merogoh saku kantong belakangnya untuk mengeluarkan ponselnya, ponsel miliknya tersebut kemudian ia berikan pada Anggara. Anggara menerimanya namun ada yang membuat Anggara terpusat pada ujung bagian atas ponsel Reyhan yang sedikit retak.
"Ini kenapa sama HP lo?"
"Eee itu tadi gue kepleset di kamar mandi, jadinya otomatis HP gue retak gara-gara gue jatuh."
"Lah berarti yang membuat lo pingsan tadi, lu kepleset di sana, iya Rey?"
"I-iya hehe gitulah Zo," jawab Reyhan dengan kikuk.
Anggara mengerutkan keningnya merasa bahwa Reyhan sedang menyembunyikan sesuatu, namun Anggara tak bisa mengintrogasi kan sekarang kalau masih ada kelima temannya yang tidak tahu apa-apa soal makhluk gaib seperti Arseno Keindre.
"Yaudah gak usah dibahas lagi, lebih baik sekarang lo tidur aja. Nanti kalau om Farhan udah nyampe sini, gue bangunin elo."
"Oke, thanks ya Ngga."
"Hm'em, oke."
Reyhan mulai memejamkan matanya untuk tidur, sekaligus meredakan rasa pusing yang ia rasakan. Anggara menghela napasnya napasnya dengan sedikit merenungkan pikiran pada kejadian apa yang tadi Reyhan alami, Anggara merasa Reyhan aneh bahkan untuk bercerita kejadian yang sebenarnya ia menutupi dari kesemua temannya termasuk ketiga sahabatnya.
"Ngga, gue mau ngomong sama lo tapi itu udah hari-hari yang lalu sih. Reyhan kemarin hari senin sempet pingsan di lapangan."
"Hah?! Kok bisa, Vran?!" kaget Anggara.
"Gue juga nggak tau, tapi sebelum itu kelakuan Reyhan aneh banget Ngga .. teriak-teriak ketakutan begitu, noh saksinya ada banyak temen-temen kelas kita, pak Robby, juga Freya dan Jova."
"Tau lah, Freya sampe panik begitu ngeliat tingkah Reyhan yang hampir persis kesurupan setan, kalau si Jova mukul-mukulin Reyhan biar sapa tau setannya kepanasan kalau di tabok-tabok sama sahabat tomboy lo."
"Heh! Sekolah kita itu aman-aman gak ada makhluk tembus pandang atau yang berkaitan dengan makhluk-makhluk gaib! Tapi kalau menurut gue, Reyhan punya trauma atau depresi .. karna gue belum pernah lihat Reyhan yang sampe seperti waktu kemarin itu. Ngga, Reyhan punya masalah apa sih?"
"Seperti yang lo menurut, Reyhan gak punya trauma atau depresi. Dan Reyhan gak mudah depresi kok, setau gue begitu .. tapi kalau akhir-akhir ini gue gak tau, karna sifatnya Reyhan lumayan beda dari yang gue kenal."
"Gue juga ngerasa begitu Bro, atau mungkin efek dari Reyhan yang demam sampai kemarin suhu tubuhnya tiga puluh delapan koma enam derajat celcius."
Aji menganggukkan kepala pada penuturan Raka. "Betul itu, bahkan kemarin si Reyhan izin pulang ke rumah. Di suruh sama pak kepsek, pak wali kelas kita, sama pak penjaskes."
Wajah Anggara berubah menjadi sendu dan beralih menatap Reyhan yang sudah tak mendengar apa yang di lontarkan oleh sekitarnya dikarenakan ia telah terlelap dalam tidurnya.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Ting tong !
"Papanya Reyhan kali Ngga, buka sono."
"Hmm." hanya itu saja yang Anggara jawab untuk pada Raka.
Anggara segera beranjak dari kasur dan keluar dari kamar untuk membukakan pintu rumahnya. Usai menuruni tangga, Anggara berjalan menuju ke pintu rumahnya dan membuka perlahan.
Cklek !
Dilihatnya yang ngebel rumah pemuda indera keenam itu adalah Farhan dengan senyuman lebar ramahnya seperti anak putra kandungnya.
"Halo Anggara, gimana kabarnya? Udah sehat?"
"Lumayan Om, oh Om Farhan mau masuk ke dalam dulu? Biar Anggara panggil Reyhan ke bawah."
"Oke, oh lah terus mama sama ayahmu di mana? Kok gak nampak batang hidungnya?"
Anggara menyengir. "Ada urusan di rumahnya pak RT, Om. Sebentar ya Om, Om Farhan duduk dulu saja."
"Siap Tuan rumah hehehe."
Anggara tersenyum dan berbalik badan dan segera naik ke atas tangga untuk membangunkan sahabatnya yang masih tidur di dalam kamarnya, namun rupanya setelah Anggara tiba di ambang pintu kamar Reyhan nampak sudah bangun dengan mata setengah buka.
"Oh lo udah bangun ya? Itu bokap lo udah dateng."
"Sekarang ada di mana?" tanya Reyhan yang masih mengumpulkan nyawanya.
"Ada di bawah."
"Oh oke, makasih."
Reyhan dengan lemas mengikat tali sepatunya masing-masing kemudian pergi begitu saja meninggalkan lima temannya dan satu sahabatnya yang berdiri diam di ambang pintu. Anggara menghembuskan napasnya kasar Reyhan meninggalkan ponselnya di atas kasur Anggara, tak segan-segan Anggara mengambilnya dan menyusul Reyhan yang tengah turun dari tangga.
"Yaelah Ngga gegas banget lu, kek gak mau kehilangan Reyhan selamanya."
Anggara dengan geram langsung cepat melempar buku note-nya ke Raka yang berbicara seenak jidat. Suara lemparan tepat kena sasaran di muka Raka membuat Raka mendengus kesal dengan merasakan sakit di wajahnya.
"Bocah sialan lo ah Ngga! Orang cuman bercanda doang!"
"Heh, masih bagus di lempar buku daripada HP-nya Reyhan? Jidat lo Malah benjol kek bakso jumbo nanti wakakakak!"
"Eh Bro Aji itu kan HP-nya Reyhan, yang ada Reyhan mencak-mencak sama Anggara lah. Beli HP kan gak pake daun tapi duit," tukas Jevran.
"Iya mana-mana tuh pasti pake duit, kalau daun sih tinggal petik dapet banyak. Miliyaran juga ada kayak si anak mafia, udah gak ada bayar-bayaran, potongan harga, diskon, promo dan segalanya."
"Heleh ... mimpi sono! Di dunia mana ada sih beli barang pake daun? Itu mah si setan Suzanna yang bayar sate pake uang yang aslinya daun," ucap Kenzo sambil menoyor kepala Raka yang sedang mengharap besar.
"Anjrot! Sakit pala Barbie auw auw auw!"
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Farhan yang menggeser posisinya pada duduknya di sofa melongo melihat keadaan anak putranya yang berantakan mulai dari wajah lesunya serta rambutnya berantakan tidak jelas.
"Astaga ini kamu kenapa wahai anakku?! Kok mukanya kek gini, kusut kayak belum di setrika? Habis keroyokan sama siapa?!"
Reyhan mendengus lemah. "Mana ada keroyokan? Kalau keroyokan pasti udah lebam seperti di gebuk masal sama preman lah, Pa!"
"Enggak-enggak, bukan begitu maksud Papa. Mukamu itu pucet bener lho. Ini pasti sakitnya kambuh nih! Fix pasti dugaan Papa lolos!"
"Om, kepala Reyhan cuman masih pusing saja kok. Tenang saja, Reyhan nggak demam lagi. Kalau demam, ya daritadi Anggara dorong Reyhan pakai kursi roda."
"Heh sialan lo Ngga! Lu pikir gue lumpuh, apa?!"
"Gak usah dimasukin ke hati bisa gak sih? Heran gue, punya sahabat bawa-bawa perasaan kayak cewek!"
"Udah Ngga gakpapa, Reyhan memang begitu wataknya. Wajah sama posturnya aja kayak perempuan lomba fashion show."
"Paaaaa!!" geram putranya tak terima.
"Papa sendiri kayak pria waria!"
"Astaghfirullahaladzim Reyhan! Mau jadi anak durhaka lo, hah?!"
Baiklah, sepertinya emosi Reyhan tidak terkendalikan seperti dulu. Reyhan menghempaskan napasnya kasar kemudian berjalan langkah cepat keluar dari rumahnya Anggara.
"Eh Rey! Papa belum buka kunci mobilnya! Mau masuk darimana Rey?!" Farhan menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. "Anakku kenapa lagi sih hari ini, Ya Allah."
Farhan menatap Anggara yang menggaruk tengkuknya dengan perasaan gusar. "Anggara, Om sama Reyhan pamit pulang ya. Jaga baik-baik di rumah."
"Pasti Om, hati-hati di jalan."
"Oke siap gantengnya Om. Duh Masyaallah anakku Reyhaaaann!"
Farhan berbalik badan berlari keluar dari rumah anak sahabatnya yaitu Agra, pria paruh baya tersebut menutup pintu rumah Anggara dengan sedikit tak santai lalu menyusul anak semata wayangnya yang sangat berbeda dari sifat aslinya.
Anggara mematung tetap di sana, pemuda Indigo ini begitu kalut dalam hatinya memandang dan merasakan sikap Reyhan berubah akibat arwah negatif tersebut. Anggara meraup wajahnya kasar membayangkan bagaimana Arseno meneror Reyhan secara berterusan, rasanya Anggara ingin maju untuk mencoba menghalangi arwah tersebut sesegera mungkin.
INDIGO To Be Continued ›››
__ADS_1