Indigo

Indigo
Chapter 69 | A Different Aura


__ADS_3

“Terimakasih ya, Sus.”


Perawat yang tengah selesai bertugas, menoleh ke si pasien pemuda berkulit putih serta memiliki gaya rambut yang keren berwarna coklat lumayan terang. Ya, pasien itu adalah Reyhan yang mengucapkan terimakasih seraya tersenyum ramah.


“Baik Mas, sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu.”


“Oke, Suster.”


Perawat lelaki yang berkisaran umur 20-an tahun melenggang pergi usai tersenyum pada Reyhan. Perawat tersebut melangkahkan kaki keluar membuka pintu ruang perawatan no 114 tak lupa menutup pintunya setelah berada di luar ruangan.


Perawat murah senyum tadi bertugas menggantikan kantong cairan infus milik Reyhan yang telah habis. Ya, Reyhan yang memanggil perawat tersebut melalui alat nurse call. Dan kini terlihat cairan kantong infus penuh usai digantikan yang baru.


Reyhan menghembuskan napasnya pelan seraya menyadarkan punggungnya di bantal yang tegak di belakang kepala ranjang pasien. Di kesunyian kamar rawat hal itu membuat pemuda tampan tersebut memutar otaknya mengenai perkataan Angga di waktu hari Minggu. Meskipun Reyhan mengerti segala lontaran ucap sahabatnya tentang kelebihan itu, tetapi Reyhan merasa tak percaya bahwa dirinya menjadi seperti sahabatnya.


“Hahaha, yang bener aja gue jadi Indigo kayak Angga. Gue aja penakut gini sama hantu.” Reyhan mendongakkan kepalanya ke atas dinding sambil melipat dua tangannya di dada.


“Masih hebat Angga dibanding gue yang auranya kurang mantap.”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


SMA Galaxy Admara - Perpustakaan


Nampak Angga tengah sendirian di ruang khusus membaca banyaknya jenis buku termasuk novel, ia di kursi membaca buku novel pilihan genre yang pemuda itu minati. Satu lembaran telah Angga baca kemudian tangan kanannya membalikkan halaman selanjutnya. Bola matanya terus bergerak membaca naskah cerita tersebut yang Angga baca.


Sampai tiba-tiba ada satu orang di depannya yang menghambat fokus Angga untuk membaca buku nang ada di hadapannya itu. Tanpa kepala yang bergerak buat melihat apa yang ada di depannya, ia hanya menaikkan bola matanya. Sepertinya ada satu temannya yang mencoba mengagetkan atau menakutinya dengan memakai topeng seram di wajahnya. Bersama hembusan napas kasar, bola mata di mata menarik Angga kembali berkutat membaca buku novel.


Temannya yang tak lain adalah Raka, berkacak pinggang karena kesal. “Manusia apaan sih lo, Ngga?! Masa lo gak kaget sih sama topeng kesayangan gue ini?!”


“Kalau gak kaget terus kenapa?” tanya Angga dingin sembari terus membaca bukunya.


Raka menghela napasnya pasrah menghadapi teman kelasnya yang begitu tak asyik untuk hiburannya, lelaki berambut hitam seperti Angga itu lalu melepaskan topengnya dari wajah dan menatap Angga dengan mata sinis sebalnya.


“Lagi baca apaan sih?” Andra duduk di sebelah Angga yang berbadan jangkung 180 sentimeter tersebut seraya mencondongkan badannya sekaligus kepala.


“Percintaan Romansa manis, yak?!” celetuk pekik Aji sambil merangkul kencang tengkuk Angga hingga membuat temannya itu ketarik ke dekat Aji yang sedang duduk di sebelah kanan Angga.


“Lo mau bunuh gue? Lepas!” kesal Angga.


“Eh sori Bro, kekencangan ye? Hehehehe!” Aji lalu segera melepaskan rangkulannya dari tengkuk teman Introvert-nya tersebut yang susah di ajak mengobrol bersama lebih lama, memang seorang Angga Vincent Kavindra ini suka diam daripada banyak bicara.


“Angga, lo kenapa sih dari kelas sepuluh apa-apa sukanya sendiri? Emangnya betah di suasana sepi kek tadi sebelum kami dateng nyamperin elo?” Joshua penasaran pada temannya tersebut yang bagi ketua kelas XI IPA 2 Angga misteri.


“Iya.”

__ADS_1


Ya, itu saja jawaban Angga untuk menanggapi pertanyaan Joshua. Joshua yang hanya direspon jawaban singkat dari Angga sampai menghela napasnya panjang, Angga begitu tertutup jika bersama teman-temannya.


“Heh Ngga, lo itu beda banget tau sama Reyhan. Reyhan aja orangnya terbuka, nggak kayak lo tertutup!”


Angga menatap datar Jevran. “Terserah lo mau banding-bandingin gue dengan Reyhan, gue juga gak peduli.”


Jevran tersenyum hambar saat melihat tatapan datar Angga yang tak suka pada ucapannya, bahkan sekarang Angga dengan sikap cueknya kembali membaca bukunya tersebut. “Ya Allah! Gue bercanda yaelah, Ngga! Susah ya punya temen yang gak bisa di ajak senda gurau!”


“Kalian semua ngapain di sini? Lo semua tau darimana gue ada di perpus?”


Joshua angkat respon untuk Angga. “Hehe, kami semua udah hapal tempat tenang yang lo suka datengin. Gak ada salahnya, kan kami nemenin lo di sini?”


“Hm.”


Joshua sedikit tidak nyaman dengan jawaban Angga yang hanya sepenggal apalagi lelaki yang memakai kacamata itu nyengir. “Maksud 'hm' itu apa, Ngga?”


“Nggak masalah.”


Kesemua temannya bukan menatap Angga dengan wajah ekspresi marah karena sikapnya, namun menatapnya bersama raut sendunya. Mereka tidak tahu mengapa sifatnya Angga begitu seperti itu, entah masa lalu atau memang dari lahir sudah memiliki watak tersebut.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


RS Wijaya - Kamar Rawat No 114


Begitu menyedihkan hati kalau memang begitu. Namun Reyhan berharapnya ia bisa segera keluar dari rumah sakit ini yang membuat dirinya bosan setiap hari karena suasana tempat yang cepat buat dirinya jemu, terlebihnya merepotkan orang nang selalu ada untuknya.


Kepala Reyhan dan kedua matanya yang berwarna coklat indah itu menatap jendela kamar rawatnya, tiupan angin lumayan terlihat jelas dari dalam ruang perawat 114. Hingga di 1 menit berlalu, Reyhan perlahan merasakan keberadaan aura yang tiba-tiba muncul di sekitar dalam kamar rawat miliknya yang ia tempati berminggu-minggu. Apalagi lelaki tampan itu juga merasakan hawa datangan beda di sebelah kanannya ia bersandar dengan santainya.


Reyhan yang penasaran siapa yang tiba di sebelahnya, segera memutar kepalanya beberapa derajat untuk menengok siapakah dirinya. Sontak saja Reyhan langsung terlompat kaget hingga tak sengaja menyenggol tiang infusnya, di posisi Reyhan menatap sosok tersebut ia tangkas menangkap tiang infusnya agar tak celaka ambruk begitupun jarum infus yang masih tertempel di telapak tangan kirinya tak terputus, jelasnya sakit sekali kalau sampai tercabut. Ya namanya juga Reyhan takut kalau jarum tersebut dicabut, mesti sangat sakit baginya.


Sosok lelaki yang berwajah pucat pasi itu melongo kaget mata terbelalak. “Waduh! Maafin gue! Gak bermaksud bikin lo kaget tadi!”


Reyhan meringis miris melihat wajah pasi lelaki seumurnya tersebut yang sudah seiras dengan mayat. “Lo siapa, hah?!”


‘Buset, dah! Ternyata selain ramah ini cowok bisa galak juga ya kayak serigala kelaparan.’


Reyhan yang bisa membaca batin sosok yang ada di kanannya auto mendengus kesal atas relung hatinya yang dapat Reyhan baca. “Serigala kelaparan?! Heh, benalu! Kalau batin tuh mikir-mikir dulu ya!”


‘Sejak kapan batin perlu mikir-mikir dulu? Aneh juga manusia ini, deh. Terus lagi, dia kok bisa baca pikiran gue, sih?!’


“Sejak puluhan dinosaurus ditabrak meteor-meteor dari langit!!”


Lelaki itu semakin kaget perkataan Reyhan yang benar-benar membentak dirinya. Sepertinya manusia tersebut tak suka kedatangannya. “Buset! Lo ganteng-ganteng galak banget kayak banteng! Slow, man, slow ...”

__ADS_1


“Jawab pertanyaan gue, lo siapa?! Gue gak kenal diri lo siapa?! Asal dateng kek setan gak di undang!”


“Emang gue setan,” respon arwah tersebut yang menggaruk kepalanya.


“What?!” Reyhan dengan reflek merubah suaranya menjadi nada cempreng.


“Iya, gue setan. Oh iya sampe lupa intro deh! Oke kenalin, nama gue Cahya Araav Jonathan. Raga yang hilang nyawa gara-gara kecelakaan tunggal nggak wajar.” Reyhan bukannya membalas jabatan tangan dari Cahya malah mengerutkan keningnya, bahkan mata sipitnya sampai memicing curiga.


“Ada yang salah sama gue? Atau perkenalan gue gak terlalu bermakna buat manusia kek lo?”


“Lo arwah?” tanya Reyhan dengan nada super dingin.


“Njir, Kutub! Hehehe iya, gue arwah. Untuk soal gue positif atau negatif, lo tenang aja .. gue arwah yang positif, kok. Jadi, salam kenal kawan. Semoga kita bisa berteman dengan baik.”


“Dih, kenalannya kayak anak baru yang masuk di kelas barunya.” Kemudian Reyhan mengulurkan tangannya untuk membalas jabatan tangan pucat pasi-nya dari Cahya. “Gue Reyhan Lintang Ellvano- aish! Dingin!”


Reyhan langsung menarik tangannya dari Cahya yang dinginnya seperti es, bahkan manusia itu sampai menggosok-gosokkan kedua tangannya yang telah saling berdempetan agar rasa dingin tersebut segera lenyap. Cahya yang melihat reaksi lucu Reyhan menjadi tertawa.


“Pe'ak, lu! Namanya juga gue setan, ya jelas tangan gue dingin, lah!” Reyhan yang sibuk menghangatkan tangannya, menatap tajam Cahya. “Baru aja tadi dah kenalan, lu main maki gue!”


“Maap, bercanda! Ehm, ya! By the way, sebenernya gue tadi uji kemampuan lo doang sih.”


Reyhan kembali menatap Cahya dengan masih wajah kesalnya. “Uji kemampuan gue doang apa? Cepet jawab!”


“Buju buneng! Ngegas mulu kayak knalpot mobil tronton! Nguji lo bisa lihat wujud gue apa kagak, eh ternyata lo bisa dong! Wah markotop bener, berarti lo kayak Angga, sama-sama Indigo-”


“Sorry gue cut. Lo kenal sahabat gue? Darimana?” tanya Reyhan penuh jiwa penasaran yang melonjak.


“Udah lama semenjak lo masih Koma! Oh iya, harusnya lo berterimakasih sama gue karena gue yang nyelametin lo dan Angga dari arwah negatif kampret kayak Arseno itu waktu di ruang ICU. Coba aja kalau gue gak dateng, sahabat lo dan elo bakal mati sia-sia di tangan Arseno, gue jamin!”


“Elu nyrocos terus sampe gue akhirnya gak mudeng maksud lo apaan! Jelasin kek pelan-pelan!”


“Laaaahh ... capek gue ngomongnya sama otak yang bawaannya kayak otak nyamuk! Intinya, Arseno mau nge-bunuh diri lo dan juga diri Angga. Gimana, masih mubeng atau dah jelas mentok?!”


Reyhan hanya diam, namun paham maksud dari Cahya yang kini menjadi temannya meskipun demikian dirinya susah berinteraksi komunikasi bersama arwah lebih dalam. Benar, Arseno yang pertama menjadi komunikasinya meskipun komunikasi yang penuh ancaman untuk Reyhan.


“Heh! kok diem? Budeg ya itu daun pendengaran kuping?! Lo paham gak sih maksud gue tadi?!”


“Gue mudeng, demit!”


Reyhan membalikkan posisi mulutnya kembali bungkam tak mengeluarkan suaranya lagi pada Cahya yang mengangguk kepala puas dikarenakan manusia berhati friendly kadang dingin tersebut pada ujungnya mengerti apa yang arwah positif itu maksud.


Reyhan merasa begitu asing terhadap dengan dirinya sendiri karena mampu merasakan aura yang berbeda yaitu berbau positif, selama ini Reyhan hanya sanggup menuai aura negatif terhadap hantu maupun hawa tempat yang ia injak atau datangi. Sekarang Reyhan memiliki pancaran aura yang lain, dan mulai dari hari kini Reyhan akan belajar menyesuaikan keberadaan antara aura positif beserta negatif seperti Angga yang sudah pakem mendalami kelebihan autentiknya.

__ADS_1


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2