
“Ugh ...” Angga terjatuh di lantai dengan posisi kedua lutut kaki dan tangan kirinya menopang lantai dingin di lorong ini tersebut, sementara tangan kanannya memegang dadanya kembali yang semakin terasa sakit hingga membuat dirinya tak sanggup untuk berdiri dalam waktu lama.
Freya yang menatap itu, membelalakkan matanya lalu langsung berlari dan jongkok di samping kekasihnya. “Ngga?! Kamu baik-baik saja?! Dadamu sesak lagi?!”
Angga sama sekali tak merespon, dadanya yang terasa sesak itu membikin ia sulit untuk mengeluarkan suaranya apalagi saat ini napasnya seperti dicekik. Telapak tangan kirinya yang menempel di atas lantai, ia cengkram kuat bersama mata yang ia pejamkan rapat-rapat.
Freya mulai merengkuh tubuh lemah Angga untuk membantunya berdiri, sedangkan kekasihnya benar-benar tersiksa di sini. Kepalanya layaknya dihujam banyaknya pisau yang ditancap, rasa sesaknya di dada bak dihimpit oleh batu besar.
Freya mengatupkan bibir tipisnya dengan hati yang sungguh amat panik bercampur bimbang menyatu. Gadis cantik itu sangat bingung tidak tahu harus berbuat apa untuk lelakinya. Meski tak ada suara kata-kata tetapi dari mulut Angga terdengar suara hembusan napas beberapa kali lepau berusaha menetralkan kesakitannya.
Freya paham Angga sekarang sudah tidak kuat, tetapi kekasihnya tetap konstan berupaya kuat demi masa di hutan asing tersebut dan mencari jalan untuk berhasil keluar dari wilayah mengerikan yang membuat mereka semua terjebak serta tersesat.
Ini sungguh benar merajam raga fisiknya Angga untuk kesekian kalinya yang pernah selalu terjadi padanya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Reyhan melangkah sedikit lalu kedua tangannya mulai mengangkat tubuh atletis dari jasad pria psikopat tersebut. Jova yang memperhatikannya dari samping, menggaruk-garuk kepalanya dengan menyusutkan keningnya karena tidak tahu apa yang akan Reyhan lakukan pada jasad tersebut.
“Woy, mau kamu apain itu?” tanya Jova mulai mempunyai firasat tidak enak pada kegiatan sang sahabat lelakinya.
“Kamu lihat saja apa yang aku lakukan pada tubuh psikopat tanah Jahannam ini,” jawab Reyhan sambil melemparkan raga tanpa jiwa pria tersebut ke dalam kolam lumpur mendidih.
Kedua mata Jova melotot sempurna meski bibirnya bungkam. Hatinya begitu Syok apa yang barusan Reyhan lakukan tanpa ada belas kasihan pada sang pembunuh tersebut, dan sekarang lelaki pemilik jiwa aura sadis itu mengubah posisi jasad psikopat yang setengah terbaring menjadi tengkurap dengan menggunakan salah satu kakinya.
“What do you mean?!” tanya Jova gegau seraya menaikkan kedua tangannya ke dada.
Reyhan menoleh ke belakang dengan senyuman aura iblisnya, meski begitu ia tetap memiliki sisi hati yang baik nan mulia. “Can you see? Dengan cara ini, kita bisa melalui dari kolam lumpur ini.”
“Ide yang cermat, sih ... tapi kamu gak memedulikan itu sekarang kondisi muka psikopat gimana?” getar nada Jova bertanya lalu meneguk salivanya.
Reyhan melipat kedua tangannya bersama senyum miringnya yang ia patri. “Paling udah penyok di dalem kolam mematikan itu. Biarin aja, dia pantas mendapatkan karma yang menyakitkan.”
Jova terdiam membisu, jujur saja di dalam hati ia merasa agak takut mendekati Reyhan sang sahabatnya sendiri. Setelah kesadisan apa yang Reyhan peragakan di depan dirinya, Jova menjadi sedikit enggan menatap wajah menawannya dari Reyhan.
“Yuk, lewatin. Kamu duluan saja, biar aku yang terakhir. Barangkali nanti ada psikopat lagi yang muncul dari dalam gua, kan kita gak ada yang tahu. Ayo," ajak Reyhan bersama senyuman yang balik berubah ramah.
‘Gue emang cewek Tomboy yang bisa melakukan kekerasan fisik pada siapapun yang berani macem-macem sama gue atau bahkan orang yang gue sayangi. Tapi, gue nggak bisa menjadi sadis kayak gini. Terlebih harus injak punggung psikopat yang sudah mati karena sahabat gue bunuh.’
Reyhan yang sanggup mendengar suara hati Jova, menghela napasnya panjang. Ia tahu ia salah melakukan segala kesadisan tersebut di dekat sahabat perempuannya. Ini baru Jova, bagaimana jika Freya yang juga menyaksikan? Pasti gadis cantik berwajah polos itu akan menjauhinya atau parahnya memutus hubungan menjadi mantan sahabat. Itulah bayangan pikiran yang ada dibenaknya Reyhan.
Reyhan menatap Jova sejenak bersama wajah suramnya lalu melangkah mendekatinya dan tanpa basa-basi, lelaki tersebut menggendong tubuh Jova yang ia tengger di atas salah satu bahunya bak seperti sedang membopong karung beras.
Jova yang digendong secara kurva oleh Reyhan, terperangah setengah mati hingga matanya mendelik nyaris ingin keluar dari rongganya. Saking tidak menyangka apa yang Reyhan lakukan padanya, gadis Tomboy berambut cokelat panjang itu memukul-mukul punggung kokoh sahabatnya dengan sangat keras sambil teriak yang berhasil memekakkan sepasang telinga milik Reyhan.
“Aaaaa! Huwaaa! Lepasin-lepasin!! Aku jangan digendoooong!!!” pekik Jova sambil terus memukul punggung Reyhan.
“Hus! Diem, kenapa?! Kayak lagi diculik sama om-om saja!” tegas Reyhan seraya melangkah menginjak punggung kekar psikopat tersebut yang keadaannya terlungkup.
“Gak mau!! Turunin aku dulu baru aku bakal diem!” ucap teriak Jova sembari tetap memukul punggung kokoh milik sahabat lelakinya yang telah lancang membopong tubuhnya.
“Sabar, dong! Ini kalau kamu ubek mulu, kita berdua bakal goyah dan jatuh ke dalam lumpur panas ini! Emangnya kamu mau kalau kita berumur pendek?!”
“Bagus dong, malah jadi sahabat kekal abadi! Tapi lepasin aku, huhuhuhu! Lagian buat apaan, sih kamu gendong aku segala?! Kita bukan pacar!”
Reyhan mendengus jengkel. “Aku tahu! Daripada kelamaan, kan? Lebih baik aku bopong tubuhmu. Jika menunda-nunda kesempatan waktu emas, bisa jadi kita berdua terperangkap psikopat yang datang dari dalam gua. Ingat satu hal, aku begini karena ingin terbaik untuk keselamatan sahabatku. Gak ada yang lain.”
Perkataan Reyhan, membuat Jova sengap seketika. Gadis tersebut memilih diam bak menjadi patung untuk sementara selama sahabat lelaki setianya melangkahi punggung raga sang pria pembunuh tersebut layaknya melewati sebuah jembatan sederhana.
Setelah melalui rintangan kecil untuk melintasi kolam lumpur mematikan tersebut, pada akhirnya mereka berdua berhasil melewatinya meskipun yang berjuang adalah Reyhan, bukan Jova.
“Turunin aku!” ketus Jova.
“Iya-iya! Nih, aku turunin ...” Reyhan dengan cepat tak lupa dengan berhati-hati, membungkukkan badannya supaya kedua kaki sahabat perempuannya yang menggantung di atas udara menjadi menapak tanah yang dilapisi oleh rerumputan hijau.
Setelah menurunkannya, Jova langsung menggeser langkahnya dari Reyhan layaknya menggunakan jaraknya sekitar beberapa meter. Reyhan yang melihat sahabat perempuannya seperti sedang menghindarinya, menghela napas panjangnya.
“Maafin aku, ya ... kamu pasti ilfeel banget karena perbuatanku tadi buat psikopat itu. Jangan akhiri persahabatan kita yang telah terjalin lama ini, ya?” mohon Reyhan karena tidak mau jika tersebut benar-benar terjadi.
Jova melebarkan kedua matanya dengan kedua alis menaik ke atas. Mendengar permohonan ucap dari Reyhan, membuat ia sedikit tersentak. “Apa maksud kamu? Gila kali, ya?! Masa aku mengakhiri persahabatan kita begitu aja?! Itu berlebihan kalau bagiku. Kita sudah sahabatan dari SMP, aku gak mungkin memutuskan hubungan persahabatan ini hanya karena masalah yang kamu lakukan tadi.”
Reyhan menelan salivanya lalu bola matanya memaling dari Jova ke sembarang arah tempat. “Y-ya barangkali karena kesadisanku yang sudah aku perbuat di depan kamu. Bisa jadi saja, kan?”
Gadis itu berdecak sekaligus menggelengkan kepalanya sampai cukup dua kali saja. “Enggak! Aku tahu kok, kamu begitu karena ingin yang terbaik. Dan ... aku mau berterimakasih, nih sama kamu.”
“Iya, sama-sama.”
“Bocah ... padahal aku belum bilang apa-apa. Situ malah udah bilang 'Iya, sama-sama'. Emangnya kamu tahu aku makasih kenapa?” tanya Jova menguji kehebatannya Reyhan dalam membaca pikirannya.
Bibir Reyhan yang melengkung ke bawah menjadi nyengir karena pertanyaan Jova yang sengaja menguji kemampuan miliknya. “Tahu, dong. Kamu berterimakasih karena aku sudah melindungimu sebagai tameng dari psikopat itu tadi, kan? Jangan remehkan kelebihanku walau hanya setengah. Oke?”
“Eh? Bener ...”
Reyhan tertawa kecil lalu berhenti setelah kembali mengingat bayangan pikiran negatifnya yang terlintas dibenak otaknya. “Mungkin aku masih selamat kalau aku memperagakan kekejamanku terhadap orang lain di depan kamu. Tetapi kalau Freya yang lihat, sudah tamat riwayatku sebagai sahabatnya.”
“Kok gitu?”
Reyhan kembali menatap mata cokelat hazel punya Jova yang sedang menatapnya serius. “Ya kamu tahu, lah. Freya paling gak suka melihat kebengisan orang, siapapun saja. Bisa mampus persahabatanku dan Freya renggang lalu musnah bagaikan abu.”
Jova tentu mengerti apa yang dimaksud oleh Reyhan yang berceloteh panjang itu. Ia begitu hapal tentang-tentang Freya apalagi memiliki Amigdala otak yang cenderung penakut termasuk jiwanya sekalipun, tak hanya Jova saja yang tahu tetapi juga dengan Reyhan.
Persahabatan mereka terlalu dekat dan erat bahkan sulit dipisahkan oleh siapapun saja, kecuali maut bila nanti akan tiba.
Jova tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya untuk memahami perkataannya Reyhan. Lelaki berjiwa Friendly tersebut yang menatap sumringah bibir nang dilemparkan oleh Jova, ikut menyunggingkan senyumannya dengan simpel namun terkesan wajah tampang yang ramah.
Hingga beberapa selang detik kemudian, mata kedua sahabat sejoli tersebut mencuat kompak saat mendengar suara mesin gergaji yang dibunyikan dari dalam gua. Itu artinya, psikopat lainnya selanjutnya datang mencari mangsa baru untuk dirinya aniaya sebagai hobinya.
“Gak lagi, Rey ...” lirih Jova menatap Reyhan nanar dengan detak jantung yang tadi normal kini balik berdetak melebihi batas normalnya.
“Kita gak bisa terus diam di sini. Ayo kabur!!”
Reyhan menarik kencang lengan tangan sahabat perempuan Tomboy-nya yang dibungkus oleh baju oblong panjang berwarna ungu velvet. Sepertinya tak ada tempat aman lain selain harus memasuki bangunan lapuk dan terbengkalai yang sekarang ada di depan mata mereka berdua.
“Rey, yakin kita masuk ke dalem bangunan sepuh itu?! Bagaimana kalau tempat itu angker dan gak selamat untuk kita berdua kunjungi?!”
Reyhan menoleh kencang ke belakang. “Sudah, tolong sekarang jangan banyak tanya! Intinya kita berdua harus cari amannya dulu untuk bersembunyi dari psikopat satu itu!”
Reyhan mengajak Jova lari memutar bangunan besar itu sedikit lalu mulai membuka dua daun pintu berkarat tersebut untuk segera memasukinya sebelum riwayat mereka berdua untuk berancang mangkir terbuang sia-sia.
Setelah masuk ke dalam bangunan yang hawanya langsung terasa dingin, dengan sekuat tenaga maksimal dan terburu-buru, Reyhan cepat menutup dua daun pintu besar karatan tersebut hingga rapat. Masih saja terdengar suara mesin alat gergaji senjata yang dibawa sang pembunuh dari jarak jauh kedua sahabat itu berada.
Jova dan Reyhan saling menatap dari samping dengan senyuman khasnya lalu mulai ber-tos telapak tangan yang terkepal. Arti simbol persahabatan sederhana mereka sekaligus arti simbol berhasil kabur dari psikopat yang tengah sedang mencari korban.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Rasa sesak itu bertambah dimana dadanya yang Angga rasakan bergemuruh hebat. Ia berusaha menahannya tetapi sangat sulit untuk kali ini, terlebih terdengar mulu suaranya yang mengerang membuat Freya yang merengkuh tubuh lemasnya menjadi bimbang tidak karuan.
“Angga, aku harus gimana ...?!”
Angga hanya menggelengkan kepalanya bermaksud untuk tidak perlu khawatir padanya. Hingga saat masih ingin menetralkan napasnya yang berat, bayangan-bayangan hitam tangan makhluk gaib tersebut kembali muncul dengan posisi mendatangi kedua manusia itu secara kilat dari depan.
“Ngga!! Tangan-tangan bayangan hitam itu kembali lagi!!!” pekik Freya sembari berusaha menarik tubuh kekasihnya agar bangkit berdiri.
“Cobaan apa lagi ini ...” laun Angga berucap dengan kedua mata sayu dan nyaris tertutup karena oleh kondisinya.
Angga sekuat tenaga yang masih ia miliki walau hanya setengah, beranjak berdiri dan mulai menarik tangan gadisnya untuk mengajaknya pergi lari kabur bersama dari bayangan hitam para tangan tersebut yang auranya sangat tajam dan negatif.
Kepalanya pusing, dadanya sesak, bahkan agak sulit untuk bernapas dengan baik. Tetapi, Angga harus tetap menguatkan keadaannya sekarang ini demi keselamatan nyawa mereka berdua. Apalagi yang Freya rasakan di belakangnya Angga, langkah lari besar lelakinya sudah mulai gontai akan namun tetap Angga kukuh tubuhnya yang hendak ambruk.
Mereka berdua saling berlari mengambil jalan arah pembelokan kiri untuk memotong jejak, meski makhluk astral membahayakan tersebut tetap tahu keberadaan posisi para manusia itu.
‘Angga, kamu memang cowok yang kuat. Tetapi kapan makhluk-makhluk itu berhenti mengejar diri kita? Aku gak mau kamu semakin tersiksa karena sebuah keadaan ini.’
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Usai mengatur napasnya, kedua remaja yang seiras memiliki rambut berwarna cokelat, mulai menghadapkan kepalanya ke depan. Glek! Cobalah apa yang mereka lihat.
Jantung Jova dan Reyhan yang berdetak di dalam dada, hampir berhenti setelah ruangan apa yang mereka tatap. Di depan mata kedua sahabat sejoli tersebut, menangkap sebuah ruangan lorong pertama nang mengerikan difasilitasi banyak peralatan benda yang dihimpun oleh sebuah bangunan kesehatan pseudonim rumah sakit.
Menakutkannya yaitu, meskipun ada brankar ABS pasien beroda, namun di bagian brankar itu dipenuhi bercak-bercak cairan merah yang belum mengering alias masih basah. Tidak ada bau busuk, tetapi tercium aroma berbau anyir karena para darah yang berceceran dimana-mana.
Seolah yang kedua remaja SMA itu tinjau adalah sebuah jalan lorong beberapa kamar ruang perawatan yang patokan bertetar. Di sinilah Reyhan beserta sahabat perempuannya merasakan hawa-hawa dingin dan begitupun aura yang sangat mencekam. Keringat dingin mereka mengucur dari kening hingga ke pelipis.
Memang terdapat lampu panel yang berpijar di atas dinding lorong, akan tapi sayangnya sudah temaram hingga kawasan tempat yang mereka pijak menjadi remang-remang agak gelap. Sebenarnya mereka berdua kelesah melangkah untuk melewati, namun jika Jova dan Reyhan terus berdiri di belakang pintu berkarat tersebut dengan bersandar setelah terkejut melihat visi pemandangan diluar nalar pemikiran mereka ini, kemungkinan terjadi psikopat virulen yang mencari target lepau ia permainkan seluruh tubuh fisiknya, berhasil menemukan Reyhan serta begitupula Jova lalu cepat memblokadenya.
Mereka berdua meneguk salivanya kasar secara bersamaan, setelahnya lekas melangkah menyusuri sekujur lorong yang ada. Bahkan terkesan anehnya adalah, di lantai utama ini tidak dilengkapi sebuah lobby kursi antri dan meja resepsionis untuk mendaftar administrasi suatu seorang pasien.
Jova segera menggenggam lengan tangan kirinya Reyhan dengan hati diserang ketakutan. Tumben, bukan? Dikarenakan biasanya seorang gadis cantik bernama Jovata Zea Felcia tidak pernah memiliki jiwa dan hati yang penakut. Hal itu berjaya membuat sahabat lelaki Friendly-nya terheran-heran.
“Rumah sakit kok horor gini, sih?” komplain Jova tetap genggam tangan Reyhan.
Reyhan melirik sinis ke tatapan mata Jova yang terus menelisik setiap lorong yang ada didekat jarak mata. “Heleh, kok reaksimu begitu? Bukannya kamu cewek yang pemberani, ya? Kenapa sekarang jadi berubah drastis kek gini, dah?”
Jova mendesis kesal lalu beralih mendengus dengan menoleh ke arah Reyhan bersama tatapan penuh sebalnya. “Heh, Kunyuk Sutres! Kamu apaan, dah? Emangnya sendiri nanya gitu, kamu gak ngerasa takut?!”
“Y-ya ngerasa takut juga, sih ...”
__ADS_1
Jova auto langsung menyenggol tangan Reyhan yang bersampingan dengan kencang. “Wu! Mangkanya jangan sok nanya kayak gitu!”
“Ck, iya-iya maap!”
Mereka berdua jalan perlahan sembari menatap kengerian yang bisa dilihat. Tak ada bahayanya juga bila ada pecahan-pecahan beling yang berserakan di lantai, karena mereka posisinya mengenakan sepatu. Jova memang bukanlah pemilik kekuatan apapun yang termasuk supernatural, tetapi kali ini ia bisa merasakan aura menggentarkan di sini.
“Hih!” Jova dengan cepat menggeser langkahnya hingga menabrak tubuh samping Reyhan karena menatap sebuah pintu yang terbuka lebar di sebelah kirinya. Bukan takut menubruk, tetapi takut melihat cairan-cairan darah yang menempel di badan pintu ruang perawatan.
Reyhan yang melihat gelagat sahabat perempuan Tomboy-nya, hanya mendiamkannya saja. Wajar, kan? Tetap bagaimanapun itu, Jova pasti memiliki sisi jiwa wanitanya. Perasaan bimbang sudah biasa terjadi di banyak kalangan kaum hawa.
“Sial ... kenapa perasaan gue menjadi gak enak gini lagi? Apa yang setelah ini terjadi?” gumam Reyhan mengusap tengkuknya yang dingin.
“Hah? Apa, Rey? Kamu ngomong apa, sih? Dumelan kayak gitu. Kan aku gak jelas buat denger.”
“Anak sotoy! Aku lagi ngomong sendiri, ge-er! Entah aku gak tau napa, tiba-tiba feeling-ku gak enak banget. Kayak abis ini ada yang terjadi di antara kita.”
Jova langsung meraung takut dan mengeluarkan suara rengeknya. “Ih, kamu yang bener aja, dong! Kita berdua lagi di lorong setan ini, lho! Kebiasaan banget deh, cowok suka nakutin cewek!”
“Eh, bener! Aku gak bohong! Aku yang ngerasain mana kamu tahu!”
Bibir Jova manyun seketika. “Iya deh, maaf. Emangnya kamu ngerasain apa? Janggal? Aneh? Diluar nalar? Atau gimana??”
Reyhan berdecak jengkel. “Banyak nanya kamu, tuh! Ya aku gak tahu. Yang pastinya hal buruk.”
Jova semakin mempererat genggamannya di lengan tangan sahabat lelakinya karena dirinya sudah merinding akibat penuturan ujarnya Reyhan. “Pokoknya kamu harus bisa jagain aku, titik gak pake koma!”
Reyhan mencibir Jova yang seenak jidat kalau berbicara pada nada ketegasan barusan. “Idih, bisanya ngatur!”
Jova mencondongkan kepalanya dengan melemparkan Reyhan sebuah tatapan melasnya. “Kan seorang lelaki harus bisa melindungi perempuan. Berkorban, sih paling enggak.”
Reyhan tersentak lalu ikut menatap Jova bersama desis kesalnya. “Mentang-mentang aku cowok gitu, ya? Kalau berkorban udah sering kali aku lakuin buat semua sahabatku ... termasuk kamu.”
“Hehehehe, kan ngorbanin lagi gak kenapa-napa. Asalkan nyawanya jangan pula jadi korban.”
“Aku gak bisa menjaminnya kalau gitu, apalagi kita ini keadaannya dalam bahaya karena harus terjebak di hutan belantara kayak gini.”
Jova yang terperanjat dengan mata membulat, segera memukul bahu Reyhan pakai telapak tangannya. “Kok ngomongnya gitu, sih?! Jangan, dong! Seenggaknya kita berempat masih lengkap. Dan itu harus pasti! Tuh, aku udah ngotot ngomongnya!”
Reyhan menghela napasnya sambil menghadapkan mukanya ke arah depan. “Iya-iya, Va. Aku minta ampun, orang aku cuman bercanda doang, kok. Kita semua yakinkan saja kalau kita berdelapan yang terjebak di hutan yang sama, masih diberi kesempatan untuk selamat dari hutan alam baka ini.”
Jova mengangguk. “Eh!”
“Eh, apa?” tanya Reyhan bingung.
“Soal tentang hutan ini, bagaimana kalau itu mungkin si Kenzo yang hilang ... dia juga terjebak di hutan yang seiras kita langkahi?! Temennya kita satu itu, kan belum sama sekali kita temuin.”
“Kenzo?”
“Iya! Bisa jadi, kan?! Mungkin saja Kenzo juga turun ke bawah dari atas lantai gudang villa habis itu menyusuri lorong gelap itu terus bertemu suara pria yang nyeremin. Lalu, raganya disedot ke sini!” celoteh Jova heboh.
“Setelah aku cerna, ada betul juga sih. Bisa jadi Kenzo dimasukin ke sini. Tapi mending kita cari orang terpenting kita dulu, ya? Kedua sahabat kita belum sama sekali kita temukan, gak tahu juga dimana dan seperti apa kondisi mereka di sana.”
“Oh, mereka ya? Aku jadi rindu Freya.”
“Aku kangen Angga. Kira-kira mereka dimana, ya? Aku khawatir banget sama keadaannya Angga, terlebih terakhir aku bertemu dia wajahnya udah pucat, dan aku nggak tahu Angga kenapa. Bagaimana nasib sahabat pendiam kita? Ini kan dunia lain yang mana banyak macam-macam makhluk gaib, sudah mestinya mereka mengincar Angga karena dia adalah Indigo.”
“Kamu, kan juga Indigo.”
“Aku bukan Indigo, ye!” timpal Reyhan.
Setelah mereka berdua melintasi ranjang pasien yang ada di pojok dinding bagian sisi kanan, secara tiba-tiba dari belakang kedua remaja itu mendengar suara dorongan roda di sebuah benda yang sepertinya sedang melaju mendekati mereka.
Jova dan Reyhan kompak menunda langkahnya usai menangkap suara tersebut. “Rey, kamu denger suara roda yang lagi jalan gak, sih? Apa cuman telingaku doang yang halu?”
Reyhan menggeleng lambat. “Gak, itu bukan halu yang ada di telingamu. Soalnya aku juga denger suaranya. Sendang suara itu juga berasal dari arah belakang.”
Jova menelan ludahnya untuk ke sekian kali. “Lalu, yang lagi jalan ke kita benda apaan, dong? Gak mungkin kan ada orang lain di sini? Kan hanya kita berdua saja di dalam bangunan rumah sakit ini.”
Lelaki humoris itu mulai menolehkan kepalanya ke arah Jova untuk menatap matanya. “Kita toleh belakang bersama dalam hitungan satu ... dua ... tiga!”
Mereka berdua bersamaan melimbai kepalanya ke belakang dengan badan sedikit terputar ke arah itu. Yang benar saja! Rupanya benda yang beroda tersebut adalah brankar ABS nang telah mereka lihat tadi, dan posisi sekarang sedang proses ingin menabrak dua sang makhluk hidup bertubuh ideal.
“Iya! Emang gak ada orang lain di sini kecuali kita berdua! Tapi setan itulah yang jalanin brankarnya!”
Reyhan mengucapkan keras tersebut sambil melepas tangan kanan Jova yang menggenggam lengannya untuk ia tarik ajak lari kembali kabur. Gadis Tomboy itu reflek berteriak karena tidak mau diseruduk oleh benda mati tersebut walau yang mendorong sekarang adalah astral.
Mereka terus berlari kencang tanpa menggunakan tujuan ingin kemana. Yang terpenting lari terlebih dahulu, entah pada akhirnya tersesat di dalam bangunan terbengkalai luas ini atau justru sebaliknya. Bahkan mereka berdua tak memedulikan sepatunya menginjak pecahan-pecahan kaca yang hancur berkeping-keping di atas lantai lorong.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Ia sangat letih, dadanya yang sesak juga belum kunjung mereda ditambah kepalanya yang terasa pusing itu. Kali ini, Angga perlu butuh waktu sejenak untuk mengatur mode napasnya yang sedang tidak beraturan dengan posisi badan membungkuk dan tangan kiri yang menempel di dada bidangnya.
Freya menolehkan kepalanya ke belakang. Syukurlah, makhluk-makhluk pemilik energi negatif tersebut telah tidak mengejarnya lagi apalagi hilang entah kemana. Sekarang, gadis cantik polos itu melangkah ke sebelah tubuh Angga bersama ekspresi wajah cemasnya.
Freya menyentuh lembut atas bahu milik lelaki tampannya. Dan saat hendak akan memanggil namanya, gadis berambut hitam legam dengan panjang sepinggang mendengar suara alat musik yang termasuk melodis. Alunan nada nang dimainkan sangatlah merdu tetapi membuat bulu kuduk meremang.
Angga yang memejamkan matanya untuk menetralisir kelajuan napas nang tak menentu, membuka matanya lemah saat merasakan keberadaan sesosok arwah yang memang memainkan sebuah alat musik melodis tersebut. Sendang suara itu berasal dari bilik kamar bagian kiri mereka yang mempunyai pintu namun kondisinya terbuka sangat lebar.
“Anggara ...” lengai Freya seraya meminta perlindungan raga kepada kekasihnya.
Sosok gadis dewasa berkisar umur 20-an tahun yang tak memiliki sedikitpun bayangan nang terpantul di tembok kamar tersebut, menampakkan dirinya secara berjalan ke ambang pintu. Napas Freya langsung tercekat karena begitu Syok siapa yang ia lihat ini, wajahnya dalam detik cepat memucat setelah menatap muka menyeramkan dari perempuan dewasa tersebut.
Dengan santainya, sosok hantu itu memainkan biola yang menjadi permainan kesukaannya untuk meneror manusia yang berani masuk ke dalam wilayah kematiannya.
Arwah tersebut terus menggesekkan bow pada senar alat musik melodis miliknya yang telah tercampur banyak darah bahkan lendir nang menjijikkan. Tetapi detik kemudian, makhluk halus bergaun terbuka itu menghentikan permainan musiknya saat menyadari ada seorang manusia Indigo dihadapannya. Ia menurunkan bow serta biolanya ke bawah lalu menatap tajam manusia pemuda berwajah tampan tersebut bersama muka mengerikannya nan mengenaskannya.
Jika ditinjau secara betul-betul, sosok perempuan dewasa tersebut memiliki rambut hitam kusut dengan model kuncir dua, kedua lingkaran matanya nampak hitam alias membusuk, bahkan sampai menimbulkan darah yang mengalir ke bawah hingga mengenai dua pipi pucat pasinya.
Hingga tiba-tiba saja kepala hantu itu menunduk dengan sebuah senyuman menyeringai pada dua manusia tersebut. “Apakah kalian mempunyai nyali untuk menghadapi diriku?”
“Hiks! Maafkan kami, kami gak bermaksud mengganggu!” ucap Freya sambil menangis, bahkan tatapannya berada di bahu kanan Angga setelah ia berpindah posisi untuk berjarak jauh darinya.
Hantu itu nampak tak menggubris ucapan tangisnya Freya yang sudah ia survei bahwa jiwa manusia gadis Nirmala tersebut lemah bila dihadapi arwah manapun yang wujudnya menyeramkan. Dan sekarang, makhluk gaib itu kembali menggesekkan bow di senar biolanya untuk memainkan musiknya, berguna menyerang kedua manusia yang ada didekatnya.
Suara nada mengalun merdu walau terdengar nyaring, tetapi ini sangatlah membahayakan keselamatan nyawa Angga dan juga Freya dikarenakan suara alunan dari biola tersebut membuat seluruh lorong yang mereka pijak tidak ada sedikitpun oksigen untuk kedua remaja itu.
“Matilah kalian berdua di sini bersamaku!”
Freya langsung memegang lehernya saat ia tak memperoleh oksigen ke dalam tubuhnya, sementara Angga menahannya dan berusaha berancang kabur menghindari hantu aura negatif itu dan mengelak segala serangan astral mematikannya.
Mereka berdua sulit menggerakkan kakinya karena akibat suara nada pada alat musik biola gaib itu, membuat mereka kesukaran melangkah. Bola mata Angga menelisik ke sana dan ke sini untuk mencari benda yang bisa menjadi suatu kelemahan hantu dewasa perempuan tersebut.
Sampai akhirnya Angga menemukan sepenggal cermin kotor di jarak beberapa meter depannya. ‘Kenapa gue gak sadar kalau di situ ada cermin? Gue akan gunakan alat itu sebagai untuk menyerang hantu pemilik aura dan energi negatif itu.’
Angga yang posisinya masih bungkuk, segera membentangkan tangannya cepat untuk mengambil benda itu lalu menodongkan potongan cermin lapuk ke arah wajah menyeramkan dari arwah tersebut. “Takut, kah lo dengan cermin ini?”
“Aaaaaaaaaa!!!”
Hantu tersebut berteriak kesakitan saat melihat wujud dirinya di pantulan cermin hingga ia spontan menghentikan permainan musik biolanya waktu makhluk gaib tersebut merasakan mukanya seperti tersengat oleh listrik.
Bow dan biola itu jatuh keras di lantai hingga pada akhirnya serangan mantra astral tersebut hilang. Hal itu otomatis, Freya menarik napasnya panjang lalu menghembuskannya kencang dari mulut.
“Beraninya kamu merusak biola milikku!” sangkak hantu berusia kepala dua tersebut dengan melotot pada Angga yang jiwanya anti penakut.
Angga membanting cermin itu di depan hantu tersebut dengan tatapan tajamnya. “Setiap arwah pastinya mengerkau kelemahannya tersendiri!”
“Freya, ayo kita pergi!!!”
Angga menarik tangan gadisnya untuk mengajaknya berlari pergi meninggalkan hantu perempuan dewasa itu yang masih memegang wajahnya nang terasa sangat sakit setelah menatap dirinya di sebuah pantulan cermin yang telah hancur. Sementara, alat musik kesayangannya rusak bukan karena terjatuh tetapi karena serangan yang manusia lelaki tampan Indigo tersebut alokasikan.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Jova dan Reyhan membelok arah ke salah satu ruangan dokter lalu berhenti menguras tenaga larinya yang telah lakukan untuk kabur dari ranjang benda tersebut yang ingin melajang kedua dari manusia tak bersalah itu.
“Aduuuuuh!! Capek banget sumpah, gila!” pekik Jova sambil menopang kedua lutut kakinya di dalam kondisi badan yang ia bungkukkan.
“Bener! Tapi keknya itu ranjang bobok pasien udah gak ngejar kita lagi, deh! Jahat bener sih, masa kita berdua diteror macam gitu?! Lagipula kan kita gak berbuat salah apa-apa!” tanggap Reyhan kesal sembari menyangga punggungnya di dalam kondisi dada yang ia busungkan ke atas saking pegalnya.
“Hosh! Ya tahu sendiri, lah. Namanya juga setan pasti gak punya hati sama otak! Apalagi kalau main suka diporotin seenak dengkul. Maklum dan wajar, dah!”
Sahabat lelakinya yang memiliki kulit putih bersih di seluruh tubuhnya, menghempaskan napasnya kasar seraya menegakkan kembali badannya. Reyhan mulai menelisik setiap penjuru ruangan. Dirinya mendesis menatap keadaan dalam salah satu ruangan tersebut. Nampak kumuh, kotor, dan berdebu.
Di ruangan yang kedua sahabat sejoli itu masuki, juga telah menjadi banyak penghuni habitat laba-laba yang terdapat dipenuhi oleh sarangnya dimana-mana. Kondisi tempat tersebut pula amat gelap karena tiada lampu satupun yang mampu menerangi. Ya, sepertinya mereka berdua sudah salah tempat untuk memobilisasi staminanya.
“Rey, kayaknya seharusnya kita gak masuk ke ruangan ini, deh! Lihat, noh. Angker seperti gua, Cuy!”
“Aah, bodo amat!” semprot Reyhan membuat Jova berhasil memonyongkan bibirnya bersama dengusan pelan.
“Huwa Reyhan, tolong!!” teriak Jova tiba-tiba dengan bernada takut seraya bersembunyi dibalik tubuh sahabatnya.
Lelaki Friendly itu sontak tergemap lalu menolehkan kepalanya kencang ke belakang. “Apa, sih?! Tolong apa?! Heboh mulu, dah dari tadi!”
Jova memukul punggung kokoh Reyhan dengan agak kesal sambil menuding ke arah depan. “Ih, katanya bisa baca pikiran orang?! Itu lho! Jas dokternya yang tadi ada di sandaran kursi situ, jatuh sendiri!”
“Emang udah jatuh duluan, kali sebelum kita masuk ke ruangan ini. Parno banget!”
__ADS_1
“Matamu! Orang aku yang lihat, kok!” jengkel Jova seraya mencubit punggung lelaki itu.
“Akh! Jangan dicubit, napa?! Sakit!” protes Reyhan dengan menampik tangan Jova lumayan kencang.
Bibir Jova mengerucut dengan tampang muka sebalnya sambil melipatkan kedua tangannya di dada, sementara Reyhan setengah menoleh ke belakang sembari mengusap punggungnya yang usai dicubit oleh gadis tersebut, tentunya dengan menggerutu.
Brak !
Reyhan dan Jova mengarahkan pandangannya ke tempat sumber suara pada benda yang seperti jatuh. Terlihat sebuah kotak tisu terjatuh dari meja dokter, tikus yang melakukannya? Mustahil sekali, karena tak ada sama sekali sekelebat hewan apapun yang lewat kecuali para laba-laba hitam nang hinggap di sarang buatannya.
Brak !
Brak !
Reyhan yang ada di depannya Jova, sontak langsung melangkahkan kakinya mundur dengan tatapan kaget melihat beberapa benda yang ada di atas meja terjatuh di lantai dengan sendirinya. Sedangkan, Jova mencengkram baju hoodie sahabat lelakinya bersama perasaan cabar hati.
“Woy, cewek pemberani jangan di belakang!” omel Reyhan sambil menoleh ke arah Jova.
“Gak mau, ah! Entar kalau muncul setan yang gunain mantra buat nyerang kita, lebih baik kamu aja yang menghadapi, jangan aku.”
“Sialan, ini cewek!”
Tiba-tiba, datanglah hembusan angin kencang dari dalam ruangan yang kedua remaja itu kunjungi. Entah berasal darimana angin tersebut, yang jelas frekuensi geraknya sangat besar.
Karena tidak sanggup menahan diri dari angin kencang macam badai, akhirnya mereka berdua terdorong kuat ke belakang. Jova yang menghantam tembok sekaligus terhantam tubuh Reyhan dari depan, memekik kesakitan.
“Akh!! Aduh, sakit!!!”
“Eh, Jova?!” Reyhan langsung memutar tubuhnya dan matanya menangkap Jova yang mendesis sakit seraya mengusap-usap belakang kepalanya. Posisinya pun terduduk di lantai.
Reyhan langsung cepat jongkok untuk mengecek kondisi sahabat perempuannya yang nampak terus merintih kesakitan dengan wajah risaunya. “Duh, Va kamu nggak apa-apa?! Sakit, ya?! Maaf-maaf! Habisnya kamu di belakangku, kena tubruk kan jadinya! Mana yang sakit banget?!”
“Pusing! Kepalaku pusing!” keluh Jova dengan tetap mengusap-usap kepalanya.
“Duh, sini-sini! Mangkanya kalau aku sekali suruh jangan di belakang ya jangan di belakang. Kualat, kan tuh!” komplain Reyhan seraya mengusap kepala Jova bagian belakang untuk meredakan rasa pusingnya, semoga saja membantu.
Jova menurunkan tangannya yang usai ia gunakan untuk mengobati rasa pusing kepalanya. “Ih, mana ada kualat sama sahabat?!”
“Ya ada, lah! Tuh, buktinya kamu sendiri.”
Jova melenguh kesal sembari anteng bersama Reyhan yang sibuk mengusap-usap kepalanya. “Gimana? Masih pusing, gak?”
“Lumayan. Makasih!” sewot Jova.
“Udah diobatin, juga. Jangan ngambek kayak gitu, dong ... bisa berdiri, kan? Ayo aku bantu. Pelan-pelan saja, gak usah buru-buru kayak mau kebelet.”
“Apaan sih, ah?! Nyebelin!”
“Hehehehe!”
Reyhan dengan tulus membantu Jova untuk berdiri bersama gerakan tangan perlahan. Sementara, angin janggal tersebut telah henti setelah mereka berdua sama-sama terdorong kuat. Aneh, bukan?
“Tega bener! Berarti angin itu tadi cuman lewat buat kita kelempar ke belakang kayak barusan?!” protes Jova.
“Angin setan, kali itu.” Reyhan merespon.
Kini mata mereka tertuju pada sebuah dua gorden tipis yang saling tertutup. Reyhan dan Jova saling menyipitkan matanya saat melihat ada sesosok bayangan dibalik gorden tersebut bersama cahaya api kecil di sana. Siapa itu? Jika dinalar tidak mungkin seorang manusia, karena Reyhan mampu merasakan ekstensi aura gaib di sekitar ruangan ini.
‘Siap-siap, Rey ...’
Setelah lelaki Friendly tersebut bertutur kata di relung hati, dua gorden tipis berwarna abu-abu saling terbuka bersamaan ke samping yang berlawanan arah.
DEG
Kedua remaja tersebut terpaku dengan pandangan tak bisa terlepas dari penampakan sosok yang amat menyeramkan. Dari wajahnya begitu dipenuhi banyak keriputan, kulitnya suram, memiliki dua mata berwarna putih blangko, rambutnya serampangan, dan hantu yang mempunyai sebuah aura menyeramkan tersebut mengenakan gaun panjang rendah krem dengan dipadukan motif bunga di setiap pakaiannya.
Senyuman yang menyeringai itu, membuat Reyhan dan Jova gentar. Masing-masing dari kakinya seolah dipaku karena susah sekali untuk digerakkan. Muka pucat sudah terlihat jelas di wajahnya Reyhan kali ini. Auranya menyimpan kegelapan di arwah tersebut membuat kepala Reyhan terasa sakit.
“Akh ...”
Jova langsung menoleh kencang ke arah Reyhan yang memejamkan matanya seraya memegang kepalanya. “Rey, kamu oke?”
“Hantu itu nyimpen sebuah aura hitam yakni negatif, hal itu bikin aku gak sanggup untuk menatapnya apalagi menghadapinya. Tenagaku bisa melemah jika terusan meninjau dia,” jelas Reyhan.
Jova baru mengerti sekarang. Kini, arwah yang merupakan nenek tua itu melangkahkan kakinya nang telah membusuk, ke arah dua manusia tersebut. Senyuman menyeramkan itu tetap menghiasi seluruh wajah keriputnya.
“Hai, cucu-cucu Oma. Siapa yang dari antara kalian ingin meniup lilin ini untuk Oma? Oma hari ini ulang tahun ke enam puluh empat, cukup panjang kan umurnya Oma?” Arwah tersebut terus saja melangkah pelan mendekati kedua remaja yang masih berusia muda yaitu 17 tahun.
“Jangan deketin kami! Kami gak salah apa-apa sama Oma!” panik Jova seraya menggerakkan kedua telapak tangannya ke depan.
“Lho, kok panik? Oma, kan hanya meminta tolong untuk meniup lilin ini, Sayang ...” lembut hantu itu walau suaranya berhasil membuat Jova merinding.
“M-mana kue tartnya?! Masa pake lilin tapi gak ada kuenya?” Inilah, masa-masa sedang takut seperti ini tetapi Jova malah bertanya-tanya pada arwah nenek tua tersebut.
‘Ini anak, ya ... pake ditanya segala,’ batin Reyhan masih memejamkan kedua matanya dengan memegang kepalanya yang masih sakit berdenyut.
“Kuenya sudah dihancurkan, Sayangnya Oma yang Cantik ... jadinya Oma hanya bisa memegang lilin ini sebagai kenangan terakhir untuk Oma.”
‘Lucu bener ini setan tua satu. Masa iya cuman lilin doang dia jadikan kenangan terakhir? Emangnya di hari ulang tahunnya merupakan hari terakhir dimana hantu itu meninggal karena sebuah tragedi? Hm, bisa jadi juga, sih kalau begitu.’
Reyhan hanya diam mendengar suara hati Jova yang berceloteh panjang pakai jiwa penasarannya. Tetapi meskipun hanya meminta tolong, ada bahayanya pula. Yaitu, jika permintaannya tidak dikabulkan sampai 20 detik maka tamatlah riwayat mereka.
Seringai senyuman dari makhluk gaib berumur kepala enam itu berakhir pudar karena sudah ia hitung detik sampai kepastiannya, namun dari kedua manusia tersebut tetap tidak ada yang mengabulkan permintaannya, malah justru terdiam beku.
“Tidak ada di antara cucu-cucu Oma yang menolong untuk meniup lilin ulang tahunnya Oma?” dingin tanya hantu tersebut usai memiringkan kepalanya dengan menatap tajam Reyhan dan Jova.
“Bah! Mana ada setan berulang tahun?! Kalau umurnya sudah sampai di terakhir hidup, gak mungkin bertambah usia lagi, dong!”
Reyhan terpaksa membuka matanya kembali untuk menatap arwah berenergi negatif tersebut lalu menunjuknya kencang bersama muka tampang amarahnya. “Jangan mencoba untuk menipu kami berdua! Gue tahu, lo ingin menjebak gue dan sahabat gue, kan dengan di salah satu antara kami setelah meniup lilin astral milik elo?!”
Jova balik menoleh menatap Reyhan kaget. ‘Bagaimana dia bisa tahu semuanya? Emangnya apa yang dikatain ini cowok, beneran?’
“Hahaha. Rupanya kamu sudah tahu jalan rencanaku untuk menjadikan kalian korban kematian? Dirasakan dari sini, kamu memiliki aura yang lumayan. Cukup bagus untuk aku jadikan kamu sebagai tumbal dari bagian kesenanganku.”
Mata Reyhan mencuat dengan darah berdesir cepat usai mendengar intimidasi dari arwah nenek tua tersebut, tentu saja Jova yang mendengarnya sangat tidak menerima orang miliknya ingin dijadikan sebuah hal yang sangat lapuk.
“Jangan berharap Oma bisa mengambil nyawa sahabatku!!”
Jova langsung sigap menarik Reyhan yang masih terdiam lepau keluar dari ruangan taram tersebut. Tepatnya untuk menghindari dari arwah negatif nenek tua itu nang menginginkan aura yang dimiliki sahabat lelakinya. Hal itu tidak boleh sampai terjadi!
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Angga terus menarik tangan Freya untuk tetap mengajaknya berlari bersama dimana arwah sang jago bermain alat musik melodis ialah biola, mengikuti langkah kepergiannya mereka meski tidak sambil berlari melainkan melangkah dengan tatapan dendamnya.
Karena di situ ada undakan tangga yang menurun, sepasang kekasih tersebut segera melewatinya karena bisa jadi mereka hampir menemukan jalan keluar untuk pergi dari bangunan belantara ini. Tetapi baru beberapa langkah turun dari undakan anak tangga, Angga terjatuh keras karena tubuhnya sempoyongan hingga mendarat di atas lantai bawah tangga. Freya tak ikut jatuh tertarik ke depan, karena tadi otomatis itu pegangannya lelaki tampan tersebut terlepas.
“Argh!”
“Aduh, Angga! Kok bisa jatuh, sih?!” Freya segera cepat menuruni undakan tangga hingga terakhir, lalu berjongkok di sebelah lelakinya.
“A-aku gak apa-apa ...”
“Ayo! Bisa berdiri, kan?! Soalnya suhu tubuhmu semakin menaik!”
“Kalian jangan berani kabur lagi dariku! Dan kamu cowok Indigo, Kamu sudah membuatku marah karena dirimu telah merusak biola kesayanganku!”
“Terbaik, daripada lo berbuat maksiat kepada semua manusia yang mengunjungi wilayah ini, kan?”
Perkataan Angga yang terdengar memancing emosi itu, membuat hantu perempuan dewasa tersebut berteriak marah dengan kedua mata memerah karena saking murkanya terhadap manusia pemuda Indigo yang jiwanya tidak takluk akan bimbang.
Angga memaksakan tubuhnya untuk berdiri dan kembali menarik Freya pergi kabur dari makhluk gaib yang telah berkecamuk emosi besar nang berapi-api akibat perbuatannya Angga. Di dalam lari maraton mereka berdua, mereka menghadapkan kepalanya ke belakang untuk melihat posisi hantu itu berada. Terlihat masih diam berdiri di atas tangga.
Sampai tiba-tiba kedua remaja berwajah langsai tersebut menubruk seseorang di depan. Sangat keras tentunya hingga Angga dan Freya sedikit terpental ke belakang.
BRUGH !!!
Freya dan juga kekasihnya merasakan kesakitan yang sama di tubuhnya karena tubrukan itu dan jatuhnya di lantai yang bangor serta dingin. Bahkan mereka saling merintih sakit yang mana gadis cantik Nirmala tersebut memegang lengan tangannya, sedangkan Angga memegang bahunya.
“Aduh, kita nabrak apaan sih, Rey?! Sakit bener bokong punyaku!” protes Jova sambil mengusap-usap pantatnya yang terasa ngilu akibat jatuh keras di lantai usai menabrak.
“Kamu masih mending bokong, lah aku malah kepala yang sakit karena kebentur segala!” omel jawab Reyhan seraya memegang kepalanya sesudah terbentur kuat di lantai.
“Kamu, sih ngajak aku larinya gak bener! Jadi nabrak kenceng, kan?!”
“Ya, maaf! Kan aku tadi cuman nyelametin kamu dari hantu nenek bangkek tua itu! Harusnya kamu bilang makasih sama aku, dong! Bukan malah ngomel-ngomel kayak emak pasar karena gak diterima harga tawarannya!”
“Lambemu! Kamu pikir aku cowok banci?!” sangkak Reyhan kesal dengan mata melotot pada Jova.
“Kok dari suara cowok dan cewek itu, aku kayak familiar ya setelah dengar suara mereka berdua? Siapa?” gumam Freya seraya menoleh ke arah dua orang tersebut.
Freya terkejut siapa yang dirinya lihat, begitupun Angga usai mengerang kesakitan. Kini tak hanya sepasang kekasih itu saja yang tercengang, tetapi juga dengan Jova dan Reyhan nang menatap dua orang yang sangat mereka rindukan selama di perjalanan dalam bangunan berhantu ini.
“Kalian!?”
INDIGO To Be Continued ›››
__ADS_1