
Freya di dalam rumah sahabat lelaki kecilnya tengah fokus membersihkan darah kering di luar mulut Angga menggunakan tisu basah dengan perlahan-lahan. Meskipun begitu, gadis cantik tersebut masih dilanda kecemasan pada Angga yang senantiasa tutup mata. Sementara Reyhan sedang duduk di kursi sofa panjang sebelah Angga yang telah ia baringkan di situ. Pemuda itu langsung memijat-pijat kedua kaki Angga secara bergiliran supaya peredaran darahnya lancar tak terhambat.
Namun sekejap detik, Reyhan berhenti memijat kaki sahabatnya saat ada sesuatu aneh dari dalam bayangan matanya. Reyhan perlahan menyipitkan kedua mata sipitnya, entah mengapa hal ini membuat dirinya bingung. Seolah-olah raganya ditarik mundur oleh waktu.
Terdapat jelas sosok dua lelaki yang berada di suatu tempat, ialah pekarangan rumah. Namun salah satu pemuda itu seperti sedang menyiksa fisik lawannya begitupun menghajarnya habis-habisan hingga tubuh lawannya lemah tak berdaya. Reyhan tak dapat mendengar dari suara mereka berdua, hanya saja ia melihat gerak-gerik mulut bibirnya mereka.
Ya, dua sosok lelaki yang Reyhan lihat dalam bayangan mendadaknya yang muncul yakni antara Angga dan Gerald. Ia tentunya sangat tak asing dengan mereka berdua. Berakhir Gerald meninggalkan Angga dalam posisi musuhnya telah tak bertenaga alias lemah, sahabat Introvert-nya tersebut terbatuk-batuk keras hingga timbul mengeluarkan cairan merah pekat atau darah dari dalam mulutnya. Darah Angga yang keluar, sampai menetes-netes mengenai lantai batu alam pekarangan rumahnya.
Puncaknya karena Angga tak sanggup menahan diri agar tetap sadar, sahabatnya langsung tumbang jatuh tergolek lemah di lantai pekarangan rumah.
Kini Reyhan merasakan seakan-akan raganya di dorong kencang bersama waktu yang membawa penglihatannya di kejadian sesudahnya. Pemuda itu sontak terkejut sampai melepaskan kedua tangannya di salah satu kaki Angga sekaligus menggeser tempatnya ia duduk. Freya yang ikut kaget karena sahabat humorisnya yang tiba-tiba, mengerutkan keningnya.
‘Apa tadi itu?! Penglihatan?! Kok gue bisa ngeliat hal begituan, sekarang?! Dan ... yang membikin Angga kayak gini ternyata ulah Gerald cowok songong goblok itu! Emang minta dilindes mobil tronton! Awas aja kalau besok kita bertemu, gue kasih pelajaran buat elo !’
“Reyhan? Kamu nggak kenapa-napa?” tanya Freya hati-hati.
Reyhan menolehkan kepalanya cepat ke arah gadis tersebut yang masih jongkok posisi kedua lutut kaki menyentuh lantai ruang tamu. Bukannya menjawab, tetapi Reyhan malah hanya cuma menatap Freya. Membuat Freya yang ditatap seperti itu, langsung mengalihkan wajah cantiknya dari Reyhan ke Angga. Ia baru tersadar kalau ia mempunyai kesalahan pada sahabat friendly-nya tersebut.
‘Gue nggak mungkin langsung bilang soal penglihatan gue tadi ke Freya, gue yakin dia nggak akan mau percaya, terlebihnya lagi, Freya itu kekasih pacarnya Gerald. Mungkin lebih baik, gue saja yang tahu.’
“Nggak apa-apa,” jawab Reyhan singkat tanpa menerbitkan senyuman ramahnya sedikitpun.
Freya menganggukkan kepalanya pelan dengan sedikit menyunggingkan senyuman tipis. Selang detik kemudian, perempuan itu menundukkan kepalanya. Ia mengingat kalau tiga hari lalu telah memberikan tamparan kencang untuk Reyhan, bahkan dirinya sampai membentak-bentak. Secara, apa yang ia perbuat, posisinya Freya tidak sadar kalau melakukan hal tak sepantasnya menampar salah satu sahabatnya bahkan ditambah perkataan-perkataan tidak sepantasnya Freya lontarkan sebelum pergi meninggalkan ketiga sahabatnya. Namun yang lebih bersalahnya ia lagi....
Terhadap Angga. Jawaban tanggapan Angga yang sahabat kecilnya lemparkan untuk sebagai responnya, tidak sama sekali dipedulikan Freya. Namun demikian, lelaki tampan tersebut tidak marah atau sebagainya yang membuat gadis itu ingin menjauhinya. Angga tetap di sikapnya, sabar, mengalah, dan banyak pasrah akan kelakuannya seperti di tiga hari Selasa kemarin.
“Reyhan ...”
Reyhan yang merasa dipanggil Freya, langsung menolehkan kepalanya yang sebelumnya kepalanya menghadap depan. “Ya?”
“Aku ... ingin minta maaf soal kemarin yang di tiga hari lalu,” pinta Freya lirih tanpa menatap Reyhan.
“Yang apa? Emangnya kamu ada salah sama aku?” Jujur saja, Reyhan tidak mengingat tentang 3 hari lalu dimana dirinya diberikan tamparan pedas dari gadis tersebut.
Freya mengangkat satu tangannya untuk memperagakan lancang dirinya waktu itu. Gadis itu menampar pelan pipinya, agar Reyhan tahu apa yang dimaksud Freya. Dan sepertinya Reyhan bukan tidak ingat, namun melupakan perilaku sahabat lugunya pada dirinya.
“Masalah itu? Aku baru ingat. Nggak apa-apa, kok. Aku sudah maafin kamu, aku tau kamu begitu karena kamu terlalu ... ya, begitulah.”
“Aku tau kok apa yang kamu katakan. Seharusnya aku nggak melakukan hal kasar itu ke kamu apalagi sampe membentak-bentak. Aku mengaku kalau aku salah banget sama kalian bertiga.”
Reyhan tersenyum dengan menganggukkan kepala lembut, namun kemudian Reyhan melenyapkan senyuman miliknya. ‘Freya, lo itu aslinya bukan cewek yang kasar tapi cewek yang lemah lembut. Hanya aja, elo terlalu dekat dan terbuai sama cintanya Gerald. Semenjak lo ngedate dengan dia, sikap lo berubah, karena yang gue baca ... aura kekasih lo penuh ketaksaan begitu juga kejahatan. Gue harap lo bisa berhati-hati sama cowok kayak dia.’
“Angga, ayo dong buka matamu. Aku dari tadi nungguin kamu bangun, lho ...” lengai nada Freya seraya gadis itu memijat lengan tangan kiri Angga, mengharap sahabatnya cepat sadar.
“Aku senang kamu masih punya rasa peduli sama Angga, sahabat kecilmu yang kamu kenal sejak tiga belas tahun lalu,” ucap Reyhan dengan senyum lega.
Freya menolehkan kepalanya ke arah Reyhan yang masih tersenyum ramah padanya. “Aku masih peduli, kok. Walau sempet nggak mau peduli lagi sama Angga karena Angga sendiri juga begitu.”
Mulut Reyhan menganga lumayan kaget kemudian memejamkan matanya dengan terkekeh geli. “Aduh, kamu ini terlalu jujur. Hei Cantik, sini ya aku bilangin ... Angga tuh bukan gak peduli sama dirimu, dia cuman dikit menjauh dari kamu agar Angga nggak menjadi pengganggu antara hubunganmu dengan Gerald. Cuman itu doang, gak ada yang lain. Pedulinya Angga sih masih tetap ada buat kamu.”
“Eh! Soal yang aku omong tadi kok, kayak seperti ada kisah cinta segitiga, ya? Antara mulai dari kamu, Angga, terus Gerald.”
“Hah? Maksudmu, Rey??”
“Ehehehe! Enggak kok, enggak. Aku cuman bercanda. Oh iya kamu nggak pulang? Sadar gak, kalau ini udah Maghrib? Pulang sana gih.”
“Tapi terus Angga gimana?! Nggak mungkin aku tinggalin Angga sendiri di sini, kamu juga habis ini pulang, kan??”
Reyhan menggelengkan kepala dengan mengulum senyumannya. “Kamu tenang saja, aku hari ini menginap di rumahnya Angga. Jadi, Angga bakal aman karena ada aku di sini. Kamu pulang aja mendingan, nggak baik lho perempuan jam segini belum pulang ke rumahnya meski rumah kalian berdekatan, sebrang jalan.”
Freya begitu lega atas ucapan Reyhan. “Oh, kamu hari ini nginep di rumahnya Angga? Alhamdulillah deh kalau gitu, aku jadi lega karena ada yang jagain kondisinya Angga.”
__ADS_1
“Kalau gitu, aku pamit pulang ya, Rey? Besok pagi aku bakal dateng lagi ke sini buat jenguk keadaannya Angga.”
“Siap, Eneng”
Kedua sahabat itu dengan sesama senyuman lebarnya melakukan gerakan simbol persahabatan yang mana saling menepuk-nepuk dada kirinya kemudian terakhir mereka berdua saling tos satu telapak tangan yang Reyhan dan Freya kepalkan. Usai sudah, gadis berambut hitam legam terurai panjang sepinggang itu beranjak dari kursi sofa lalu meninggalkan kedua pemuda tersebut. Namun saat kakinya berjalan lima langkah ke pintu keluar, Freya memutar badannya dan melambaikan kecil tangannya kepada Reyhan. Lelaki humoris itupun membalas lambaian tangan gadis sahabat lugunya bersama senyuman ramah khasnya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Setelah melakukan aktivitas mandi untuk membersihkan seluruh tubuh, Reyhan kini sekarang tengah berada di depan kompor listrik di ruang dapur rumah Angga yang amat senyap tersebut. Di situ Reyhan sedang memasak mie rebus menggunakan panci sauce pan. Di pertengahan pemuda tersebut memasak makanan hangat untuk ia dan sahabatnya makan nanti, Reyhan tersirat kembali tentang penglihatannya yang layaknya seperti anak Indigo.
Memang sangat aneh rasanya memiliki penglihatan seperti itu apalagi tadi yang Reyhan rasakan, raganya ditarik lalu di dorong oleh waktu yang memutar kejadian. Dan Reyhan lupa, kalau dulunya ia pernah sempat mengalami Koma selama 4 bulan akibat kecelakaan tertabrak mobil truk. Mungkin karena dampak hal tersebut membuat Reyhan yang hanyalah manusia biasa, menjadi memiliki kelebihan selain membaca pikiran.
“Mengagumkan,” kemam Reyhan seraya tangan kanannya mengaduk-aduk mienya yang telah tidak keras lagi karena di diamkan dalam air panas mendidih.
Setelah semua masakan hasil buatan lelaki itu telah beres dan aroma sedapnya tercium, membuat Reyhan ingin sekali segera menyantap mie rebus instan rasa ayam bawangnya di salah satu mangkuk. Namun saat ingin berbalik badan untuk membuatkan dua minuman teh hangat, Reyhan samar-samar menangkap suara orang yang tengah batuk-batuk di ruang utama.
“Setan gak bisa batuk kan, ya? Pasti Angga!” Reyhan menunda membuat teh hangat, kemudian berlari mendatangi sahabatnya.
Reyhan duduk jongkok di sebelahnya Angga yang matanya masih terpejam, pemuda humoris itu mengangkat satu tangannya lalu ia sentuh bahu kanan lemas Angga dilanjutkan menggoyangkannya pelan. Sahabatnya kembali terbatuk-batuk dengan lemahnya, namun detik kemudian, penantian yang diharapkan seorang Reyhan Lintang Ellvano telah dikabulkan.
Angga membuka mata sayu-nya dengan disertakan hembusan napasnya keluar usai membuka mulutnya tipis. Rasa sakit yang pertama Angga rasakan saat kembali siuman, kepalanya sungguh sakit cenat-cenut. Pandangannya masih blur tak jelas kendati secara sayup-sayup Angga mendengar suara seseorang yang memanggilnya dengan nada haru. Kedua mata pemuda Indigo itu belum sepenuhnya terbuka, hanya setengah.
Reyhan mengukirkan senyuman bahagia dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya bagian atas, meski dirinya memanggil Angga, belum direspon sama sekali oleh sahabatnya. Tampak, Angga sedang memfokuskan pandangannya sampai benar-benar penglihatan buramnya itu menghilang.
Tanpa menoleh, sebenarnya Angga sudah tahu kalau di sebelahnya saat ini adalah Reyhan. Namun kepalanya yang terasa sakit, membuat ia tak ingin menggerakkan kepalanya sedikitpun. Cukup dengan kedua bola matanya bersama warna iris abu-abu tulen yang ada di sepasang matanya.
“Lo sumpah, tadi bikin gue sama Freya takut. Tapi Alhamdulillah, dah lo bangun juga. Gue kira dengan keadaan lo gini, elo bakal sadarnya larut malem apa kagak besok.”
Angga tak menjawab apapun dari Reyhan, melainkan dirinya membangunkan tubuhnya yang terbaring tersebut di atas kursi sofa panjang empuk. Namun saat telah duduk dalam wajah lemas-nya disertakan tubuh lemah, mulut Angga yang bungkam ia buka dengan salah satu anggota tangan memegang dada sentralnya bersama mata terpejam erat, meski dirinya sama sekali tak bersuara.
Reyhan yang menatap sahabatnya kesakitan itu, langsung memegang pundak kanan Angga dari belakang punggung sahabatnya. Raut muka bahagia Reyhan berubah pudar menjadi khawatir kembali dicampur lumayan panik. “Ngga? Kenapa? Ada apa? D-dada lo sakit?! Hah??”
Angga yang tak ada pilihan lain selain mengangguk, akhirnya manggut-manggut lemah dengan mulut bisu. Matanya masih ia tutup rapat, karena apa yang ia rasakan seolah dadanya dihimpit kuat oleh bebatuan. Reyhan yang melihat hal miris itu, mendesis.
Angga di kursi sofa menghembuskan napasnya beberapa kali dengan perlahan, kini bukan hanya rasa sakit saja, akan namun pula rasa sesak di dadanya. Peristiwa tadi yang menyiksa fisiknya nang dilakukan Gerald, membuat Angga semakin menderita. Sementara itu, Reyhan telah kembali lagi di ruang utama sambil membawa segelas air putih hangat untuk lelaki pendiam tersebut.
Pemuda yang sikapnya sangat peduli terhadap sahabatnya itu, jongkok balik dan mulai menyodorkan gelasnya pada Angga. “Nih, di minum dulu air putihnya. Siapa tau nanti sakitnya reda.”
Angga memaksa tersenyum, lalu dengan lemah gelas yang di sodorkan oleh Reyhan, ia terima. Angga sekarang tengah meminum air putih hangat itu yang ada di dalam gelas, meneguknya tenang tanpa tergesa-gesa atau nanti dampaknya dirinya tersedak.
Angga menurunkan gelas itu dari mulutnya, sedangkan Reyhan memperhatikan sahabatnya. Mengharap rasa sakit dada yang sahabatnya dapat telah menghilang karena meminum air putih hangat. “Gimana? Agak mendingan? Atau masih belum?”
Angga dengan gerakan lambat, menolehkan kepalanya ke arah Reyhan yang ada di sebelahnya. Lelaki itu bersama senyuman tipis pucat, menganggukkan kepalanya lemah. Hal itu, Reyhan langsung bernapas begitu lega.
“Huft! Syukur deh kalau udah agak mendingan.” Reyhan mengambil gelas tersebut dari genggaman telapak tangan Angga lalu menaruhnya di atas meja belakang punggungnya. “Gue tadi di dapur udah buatin mie rebus, lo makan, ya? Sayang bener kalau nggak di makan, sudah bermenit-menit gue diemin di atas meja makan, noh. Nanti bisa jadi dingin.”
Angga menganggukkan kepalanya lagi sebagai tanggapan untuk Reyhan. “Sip, dah! Gue ambilin dulu bentar mienya.”
Reyhan kembali beranjak meninggalkan sahabatnya di ruang utama untuk membawakan satu mangkuk berisi mie rebus dengan kuah segar nan hangat. Beruntung saja saat Reyhan lihat, mie itu masih mengepul. Setelah balik badan menghampiri Angga, Reyhan sekarang bukan jongkok di lantai tetapi duduk di atas kursi sofa panjang tepat samping sahabatnya yang juga tengah duduk.
“Bro, coba deh lo cium aroma mie instan rebus-nya yang gue masak. Aromanya tuh sungguh menggugah selera makan orang yang lagi sick kayak elo, hahahaha!” hibur Reyhan lepau Angga.
Angga yang mendengar suara hiburan ringan dari Reyhan, meresponnya dengan mendengus bersamaan memberikan senyuman simpelnya. Reyhan kemudian membentangkan kedua tangannya untuk menyerahkan mangkuk mie kuah tersebut kepada Angga.
“Sembari lo makan mienya dengan penuh cita rasa, gue ke dapur dulu, ye? Gue mau buatin dua teh anget untuk kita yang sama-sama cakep, hehehehe!”
Angga menggelengkan kepalanya pada sikapnya Reyhan ini. Ya, walau Angga tahu, gunanya tersebut untuk memberikan hiburan yang dirinya masih tengah sedang sakit lemah sampai sekarang.
Jikalau diamati, kedekatan nan keakraban Reyhan dengan Angga sudah nyaris persis layaknya seorang saudara kandung.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
__ADS_1
08.00 AM
Terlihat di dalam kamar yang sama, kedua sahabat pemuda itu tengah masih setia dalam mimpinya masing-masing di atas kasur empuk. Mengapa mereka jam segini belum bangun? Dikarenakan satu, tubuh yang Angga rasakan kini makin lemah hingga dirinya tak sanggup untuk bangkit. Dua, saat tadi malam, Reyhan begadang bermain game PS milik sahabatnya di kamar. Betul, mentang-mentang hari libur, Reyhan memanfaatkan waktu malamnya dengan begadang sepuasnya dan melakukan hobi yang dirinya inginkan.
Sementara Angga dalam tidurnya, ia tengah memimpikan sesuatu yang membuat dirinya tak tenang bahkan jantungnya berdegup kencang.
Splash !
Dalam kesunyian gelap gulita, pemuda Indigo yang mengenakan baju oblong hitam lengan panjang beserta celana panjangnya, berada di suatu alam terbuka. Angga tak mengenali tempat itu dikarenakan hanya ada kegelapan. Sampai tiba-tiba Angga menangkap suara bisik-bisik di daerah depan jauh sana ia berdiri.
Rupanya Ada banyak bayangan yang bentuknya manusia tengah berjalan seiringan dengan mendekati Angga. Para bayangan manusia tersebut tak memiliki rambut, bagian-bagian dari wajahnya tidak lengkap nang mana tak memiliki mata, hidung, kecuali mulut yang menyeringai lebar. Entah mengapa kekuatan Indigo-nya Angga menjadi padam, membuat dirinya tak tahu dan bingung apa tujuan mereka menghampirinya.
“Pembunuh!”
“Pembunuh!”
“Pembunuh!”
“Pembunuh!”
Suara-suara menggema yang saling bersahutan dari bayangan para mereka, buat Angga menatap mereka semua satu persatu. Hingga pada akhirnya saat mereka terus mengatakan Angga seorang pembunuh, mampu membuat lelaki tampan tersebut langsung kena Frustasi. Dirinya mencengkram erat rambut hitamnya menggunakan kedua tangan.
Di sisi lain, raganya yang tengah tidur, sedikit demi sedikit mengepalkan telapak dua tangannya sekaligus begitupun keringat dingin mengucur membasahi antara kening sampai pelipis mata, serta leher depannya.
Suara-suara mereka yang secara berulang-ulang mengatakan 'pembunuh' buat diri Angga tersiksa dan ingin keluar dari tempat ini. Dengan spontan, dirinya terjatuh duduk lemas yang mana kedua lutut kakinya menyentuh hamparan lantai hitam.
Angga semakin mempererat cengkeramannya di rambutnya bersama menggertakkan giginya. “Hentikaaaann!! Gue bukan seorang pembunuh! Kalian semua sudah salah paham! Bukan gue yang membunuh dia, tapi hantu itu yang telah membunuhnya!!!”
Bukannya menghentikan aksi mulut mereka melontarkan sebuah kata tersebut, mereka malah justru sekarang tertawa kencang hingga menggema memekakkan telinganya Angga. Lelaki itu memutuskan menutup kedua telinganya agar tak mendengar suara mereka yang menertawakan dirinya, matanya ia tutup rapat bersama gerakan napas yang tidak beraturan.
“Gue bukan pembunuh ...”
“Gue bukan seorang pembunuh yang kalian tahu ...”
“Rumor yang kalian dengar dan dapatkan sama sekali tidak benar ...”
Splash !
Reyhan membuka matanya saat ia mendengar suara gumaman dari seseorang yang berbaring di sebelahnya. Pemuda itu mengucek-kucek matanya lalu bangkit bangun untuk mengumpulkan nyawanya sejenak.
Setelah nyawanya terkumpul penuh, Reyhan menolehkan kepalanya. Ia terkejut mendengar Angga yang mengigau dalam tidurnya. Pemuda friendly-nya itu pun langsung merangkak mendekati Angga. Reyhan mengguncang-guncang pelan kedua bahu sahabatnya dengan memanggil-manggilnya supaya Angga tersadar dari mimpinya.
Mimpinya itu berhasil membuat detak jantungnya berpacu lebih cepat bahkan melemahkan daya tahan imun tubuhnya. Yang buat Reyhan agak panik, saat menatap wajah Angga yang amat pucat dibanding kemarinnya. Reyhan mencoba menyentuh pipi sahabatnya hingga membuat Reyhan melepaskan tangannya dari salah satu pipi pucat Angga lalu mengibaskan telapak tangannya tersebut.
“Gawat! Mana panas banget, lagi!” Reyhan beralih menepuk-nepuk lengan tangan kanan sahabatnya dengan perasaan gusarnya. “Ngga-Angga, ayo bangun! Lo bisa gak sih sehari aja jangan buat gue panik mulu?! Bangun ayo!”
Tibanya Angga, membuka matanya dengan napas tersengal-sengal akibat mimpi buruknya. Matanya sungguh sangat sayu, wajahnya terlihat lemas disertakan tubuhnya yang kondisinya begitu Drop. Ia menatap lemah tak berdaya pada Reyhan yang juga menatapnya dengan wajah sendu.
“Lo Demam lagi, Ngga!” pekik Reyhan.
Lemahnya keadaan membuat Angga tak mampu membuka mata terlalu lama, dirinya memejamkan kedua matanya kembali sambil mengatur napasnya agar menjadi normal semula begitupula dengan irama detak jantungnya.
Reyhan bergegas turun dari kasur dan mendatangi kotak putih P3K yang terpajang di dinding tembok kamar Angga. Pemuda itu tengah membuka kotak penyimpan alat-obat kesehatan tersebut lalu mencari tablet obat khusus penurun Demam. Namun sayangnya Reyhan tak mendapatkan tablet obat untuk sahabatnya yang berbaring lemah di kasurnya.
Reyhan menutup kembali kotak P3K kemudian mengambil cepat kunci motornya di atas meja belajar lalu menghampiri Angga yang mukanya sangat pucat tersebut apalagi jelas terlihatnya di bibirnya. “Angga, gue tinggal lo di sini sebentar nggak masalah, kan? Gue mau beli obat penurun Demam buat lo dulu di toko apotik.”
Angga membuka matanya sipit sekilas lalu menutupnya kembali. “Pergi aja ...”
“Gue nggak akan lama, kok! Gue pasti cepet balik ke sini!”
Reyhan lekas berlari membuka pintu kamar sahabatnya lalu menuruni undakan anak tangga untuk bergegas membeli tablet obat penurun Demam. Sementara di dalam kamar, Angga tetap berbaring di kasurnya, rasanya untuk bangun cuma hanya duduk saja, sama sekali tidak kuat walau sempat lelaki Indigo tersebut coba.
__ADS_1
Mulai dari pertama mendapatkan penyiksaan fisik dan terakhir mengalami kelemahan sakit seperti itu. Ternyata pemuda seorang Gerald Avaran Dedaka telah berjaya membuat kehidupannya Angga sengsara beserta hancur dengan lancar tanpa ada satupun orang yang mencegah siasat lapuknya begitupun perbuatannya.
Indigo To Be Continued ›››