Indigo

Indigo
Chapter 89 | The Presence of a Stranger Ghost Figure


__ADS_3

Hari Senin yang telah tiba, nampak gadis tomboy nang tak lain adalah Jovata Zea Felcia tengah mencari-cari note book kecilnya yang berwarna ungu di atas meja belajarnya. Hingga pada akhirnya setelah bermenit-menit jam gadis itu mencari secara antusias dan niat, Jova menemukannya di tumpukan jenis-jenis bukunya yang ada di paling bawah sendiri.


“Nah! Akhirnya ketemu juga buku catatan kecil ungu ciamik gue! Eh?”


Saat mengangkat buku note book kesayangannya itu, Jova selintas melihat salah satu kertas usang yang terjatuh dari selipan dalam buku catatan ungu violet miliknya. Lantas, Jova mengambilnya yang sudah tergeletak di lantai kamarnya. “Kertas apaan ya, ini? Kok bisa ada di dalem buku gue sih tadi?”


Jova kemudian setelah memungut kertas misterius tersebut, tangan jari lentiknya itu membuka lipatan sehelai kertas yang terlihat usang dan mulai membaca beberapa tulisan hitam yang ada di dalam sebuah kertas tersebut. Tatkala, Jova langsung ingat pada kertas yang ia pegang ini dan otaknya langsung terputar ke masa lampau.


“Ini kan kertas waktu dikasih sama Reyhan.”


Flashback On


Reyhan memasukkan satu tangannya di saku kantong celana seragam SMA-nya kemudian merogoh sesuatu yang ada di dalamnya. Setelah itu, pemuda tersebut mengeluarkan sebuah kertas yang telah usang kepada sahabatnya nang ada di hadapannya.


“Nih, terserah mau kamu simpen atau buang.”


Jova mengecek-ngecek isi kertas usang tersebut lalu mengomentari sahabat lelakinya itu yang hendak pergi. “Lah Rey? Ini kan kertas yang kamu temuin di bawah pintu kelas sepuluh IPA lima.”


Reyhan mengangguk kecil. “Emang. Kamu aja yang bawa, mau buang atau simpen buat jadi kenangan itu terserah kamu aja, sih. Udah ya aku mau pulang, jumpa besok!”


Reyhan balik badan dan lelaki berbadan jangkung itu meninggalkan Jova sendirian di koridor sekolah, gadis tersebut yang ditinggalkan oleh sahabatnya yang menenteng tas ranselnya mulai menggembungkan kedua pipinya sebal sambil terus memegang kertas usang yang diberikan oleh Reyhan.


“Dasar Kunyuk Sutres! Emangnya gue barang penyimpanan, apa? Mau gue apain coba ini kertas jelek gak berfaedah ini? Huh!”


Flashback Off


Jova melipat kembali kertas itu kemudian bola matanya menaik ke atas untuk merenungkan sesuatu tentang kertas usang tersebut.


“Kenapa gue jadi penasaran, ya siapa yang nulis kata-kata gak bermutu dan ngajak perang pedang ini? Kayaknya ini adalah kertas suatu bukti, deh- oh gue tanya sama Angga aja nanti di sekolah! Pasti langsung diterawang cepet sama cowok Indigo itu. Yaps tepat! Gue bawa dulu dah kertasnya!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Pagi penuh terik matahari yang menyinari seluruh kota Jakarta termasuk komplek Permata, Angga membuka gerbang rumahnya dan menutupnya setelah berada diluar kemudian meninggalkan rumahnya untuk menuju ke sekolah tanpa menggunakan motornya.


Di teras rumah, Freya yang tengah akan mengenakan helmnya dan menarik mundur motornya keluar dari pagar rumah, gadis polos itu tak sengaja melihat Angga yang melangkah santai bersama tas ranselnya serta seragam tapinya yang ia pakaikan. Freya segera membuka kaca helm pics-nya lalu memanggil sahabat kecilnya.


“Anggara!”


Angga yang dipanggil langsung menghentikan kakinya nang melangkah dan setelah itu menoleh ke arah Freya yang memanggilnya dengan suara lengkingnya. “Kok kamu jalan kaki? Motornya mana?”


“Di rumah. Biasalah, aku lupa isi bensin kemarin Minggu, pengennya isi hari ini tapi males, pasti yang ada ngantri lama. Dibanding telat, lebih baik jalan kaki naik bis.”


Mata Freya berbinar. “Kalau gitu aku bareng kamu!”


Pemuda tampan berkulit putih tersebut mengerutkan keningnya dengan menggelengkan kepalanya. “Jangan, nanti kamu capek kalau bareng aku naik bis. Udah, mending kamu pergi aja ke sekolah pake motor. Biar aku naik bis sendiri.”


“Gak mau ah! Masa aku naik motor tapi sahabat kecilnya jalan naik bis? Boleh ya ikut? Please, Nggaaaa ...”


Angga terdiam sejenak memandang sahabat kecil gadis cantik polosnya yang memasang muka melasnya supaya Angga luluh dan mengiyakan permintaannya. Hingga akhirnya lelaki itu menghembuskan napasnya lalu menganggukkan kepalanya. “Yaudah ayo bareng sama aku.”


“Horeeee! Makacih Angga, hihi!” Freya dengan semangat melepaskan helmnya dari kepala lalu menggantungkannya di atas kaca spion kemudian berlari mendatangi sahabat lelaki berbadan adiluhung 180 sentimeter itu serta tak lupa menutup pagar besi rumahnya sebelum pergi ke gedung bangunan SMA Galaxy Admara bersama Angga.


Diperjalanan meninggalkan gang komplek, Angga melirik sahabat kecilnya yang berjalan dengan semangat bahkan senyuman cerianya. Lelaki itu yang melihat sampingnya nang hanya tinggi 164, tersenyum simpel. “Kamu kok keliatannya semangat banget hari ini? Ada apa?”


“Semangat dong! Soalnya bareng kamu, hehehe!” ucap Freya habis itu menghadap depan lagi seraya menenteng tas ransel putihnya.


Freya kemudian mulai bertingkah beda pada Angga dengan berjalan secara lompat-lompat seperti anak kecil bersama senandung merdunya. Angga menggelengkan kepalanya, meskipun umur sahabat perempuannya adalah 17 tahun namun sikapnya masih seperti anak dibawah usia yaitu 5 tahun.


“Jalannya biasa aja, jangan kayak anak kecil begitu,” tegur Angga lembut dengan terkekeh geli, sementara tangan kirinya memegang puncak kepala Freya.


“Hehehe, iya-iya maaf. Eh bentar lagi kita sampai di depan halte tuh, Ngga!”


“Hm'em.”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di dalam bis yang telah terisi oleh banyak penumpang, Freya mendapatkan dua kursi yang kosong. Dengan segera gadis itu bersama langkah gesitnya mendatangi kursi penumpang tersebut dan mendudukinya, Angga yang ada di belakangnya juga mendatangi salah satu kursi nang masih kosong di sebelah gadis sahabat kecilnya, tepatnya di dekat kaca mobil bis.

__ADS_1


Usai supir mengecek luar dimana tempat halte penunggu bis itu telah kosong tak ada orang penumpang yang menanti mobil ini, beliau segera menancap gas dan melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan halte.


Freya menghela napasnya dengan tersenyum manis sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, sedangkan si Angga cuma diam memandangi perjalanan menuju ke sekolah lewat jendela kaca. Tak ada dari antara pemuda tampan dan gadis cantik itu memulai obrolannya, mereka bungkam menikmati perjalanan bis yang tengah melaju ke jalan kota nang padat apalagi di panas terik matahari yang semakin naik.


Hingga 10 menit kemudian, pria berbadan gempal yang sedang berdiri dengan tangan memegang gantungan busway menatap Freya bersama tatapan muka menggodanya. “Hai, cewek seksi.”


Freya tersentak kejut mendengar sapaan salah satu pria yang ada di sebelahnya, gadis itu langsung menoleh dan mengangkat kepalanya ke atas untuk melihat pria tersebut yang berbadan gemuk seperti tong berisi air. Gadis polos itu menelan ludahnya takut saat si pria tambun menggigit bibirnya dengan tetap masih menatap nafsu tubuh mungil ideal berkulit putih dari Freya.


Freya mencoba mengalihkan wajah cantiknya dari pria itu kemudian dengan sadarnya, ia menurunkan roknya yang posisinya di atas lutut dan memperlihatkan pahanya. Gadis yang kini dibaluti rasa ketakutan tersebut cepat-cepat menurunkan roknya hingga menutupi kedua lutut kaki mulusnya.


Saking amat takutnya, Freya menggeser tempat supaya lebih dekat dengan Angga yang duduk diam layaknya seperti patung. Gadis lugu tersebut sampai tak sengaja menyenggol tubuh sahabat kecilnya hingga perhatian Angga pada pemandangan luar teralihkan. Angga menyadari bahwa Freya sedang dilanda ketakutan.


Pandangan Freya tunduk ke bawah dan Angga menarik muka tampannya ke pria gempal tersebut bersama tatapan tampang dinginnya. Angga kembali menatap Freya lalu membisikinya sesuatu di telinga bagian kanannya. “Ayo tukeran tempat duduk, biar kamu lebih aman.”


“Tukeran tempat duduk?” tanya Freya bingung maksud dari Angga karena pikirannya sempat kosong dan baru dibuyarkan sahabat lelakinya sekarang.


Tanpa menjawab terlebih dahulu, Angga menarik lengan tangan Freya untuk mulai bertukaran tempat posisi dimana duduk berada. Pria tersebut langsung sedikit murka karena pandangan sedapnya diganggu oleh Angga detik ini juga. “Heh! Maksud lo apa, hah?! Mau gue hajar, lo pagi ini?!”


Tak ada respon tanggapan dari Angga yang padahal pria bertubuh gempal itu emosinya telah menggelora dan ingin rasanya dirinya menonjok muka datar Angga tersebut. “Songong banget, lo! Lo cowok Tunarungu, ya?!”


Merasa sangat terusik dan risih atas makian pria tidak tahu harga diri itu, Angga segera mengambil headset-nya dari tas ransel hitamnya lalu memasang kabel alat pendengar musik tersebut di lubang ujung bawah HP kemudian lelaki Introvert itu menyalakan layar ponselnya untuk menyetel lagu santai Barat favoritnya.


Pria tersebut mengepalkan satu telapak tangan kanannya karena sengit sekali pada perilaku Angga yang ia anggap orang sombong di dalam bis ini. Ia harus mampu menahan jiwa emosinya dikarenakan di situ banyak penumpang. Kalau saja ia nekat bermain fisik dengan Angga, pria gemuk itu ujungnya mesti terkena kasus tindakan kriminal dan langsung dilaporkan ke kantor polisi lokasi terdekat.


Angga yang melihat Freya menjadi setengah ketakutan, menyerong badannya yang keadaannya sedang mendengarkan musik di headset-nya. “Kamu aman, kok. Nih daripada kamu kayak gitu mendingan kita dengerin lagu sama-sama.”


Angga melepaskan salah satu pasangan headset lalu memasangkannya di telinga kiri Freya agar sahabat kecil gadis lugunya itu ikut mendengarkan musik tenang yang telah Angga setel secara acak.


“Selama ada aku, aku pasti bakal lindungi kamu.”


Freya yang dilempari ucapan seperti itu pada Angga, kepalanya sedikit menoleh ke arahnya dan memberikan senyuman manisnya untuk sahabat lelakinya yang selalu ada buatnya. Wajah teduh beserta senyuman simpelnya dari Angga jelas tentu membuat gadis polos tersebut merasa lebih tenang hatinya dan tentram akan ketulusan mulia Angga.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Bangunan SMA Galaxy Admara yang terkenal elite tersebut, di dalam toilet perempuan si Jova tengah bercermin di depan wastafel untuk merapikan rambut coklat terurai panjangnya dengan senyuman menawan yang merekah di mukanya.


Jova kemudian membuka kran air di wastafel untuk mencuci tangan di jam istirahat pertama ini, namun sialnya air kran tersebut malah macet tidak tahu apa masalahnya. Gadis tomboy itu rada membungkukkan badannya untuk mengecek alat untuk membasuh.


“Lah, kenapa air kran-nya jadi macet gini?”


Gadis tersebut yang mendengus sebal, tak ingin memusingkan permasalahan sepele perkara air kran yang tiba-tiba macet itu. Jova mengambil pikiran positifnya saja, kemungkinan salah satu kran di wastafel tersebut memang sedang bermasalah dan belum sempat diperbaiki oleh OB (Office Boy). Jova bergeser tempat ia berdiri lalu menyalakan kran air wastafel satunya yang terlihat tak rusak ataupun macet sama sekali.


Tetapi tiba-tiba....


Craaaaazz !


Jova nyaris terlompat kaget mendengar suara air kran yang berbunyi tempat mana ia sebelumnya nyalakan. Bersama meneguk salivanya, Jova memiringkan kepalanya karena bingung mengapa air kran wastafel tersebut menyala dengan sendirinya, padahal dirinya sama sekali tak membukanya karena ada kendala tadi. Perlahan tangan kanan gadis itu mengulur panjang menggapai kran tersebut untuk mematikannya cepat.


“Kok air kran-nya bisa hidup sendiri? Bukannya tadi pas gue cek, kran airnya macet?” Jova lalu mendongakkan kepalanya ke atas dengan rasa lumayan takut kalau di dalam toilet ini ada penghuni hantunya.


Jova menghempaskan napasnya kemudian mengembalikan posisi kepalanya menjadi semula yaitu menghadap ke arah cermin kaca wastafel. Alangkah terkesiap-nya, pandangan mata indah coklat hazel Jova membentur tulisan darah yang merembes di cermin wastafel membuat gadis nang terkenal pemberani itu sampai terjatuh ke belakang dan pantatnya mencium lantai toilet dengan keras.


Bertuliskan darah itu tercantum mencolok 'Tolong aku' begitulah isi tulisannya yang tertera di salah satu cermin kaca wastafel tempat toilet perempuan.


“Aduh bokong gue! Sialan ah! Siapa sih yang udah pinter ngerjain gue pake tulisan merah kek darah itu?! Kayak gak ada kerjaan aja, dah!” gerutu jengkel Jova seraya bangkit berdiri dengan mendesis.


Berselang menit kemudian saat Jova tengah mengusap-usap rok bagian belakangnya, ia mendengar suara tangisan perempuan lirih yang menggema di pojok pintu toilet. Disitulah Jova berubah terpaku tak bisa kemana-mana karena suara lirih menyeramkan dan membuat merinding tersebut, bahkan gadis siswi dari kelas XI IPA 2 ini darahnya berdesir kilat sampai keringat dinginnya timbul mengucur.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di kejauhan akan melintasi toilet perempuan, terdapat seorang Reyhan yang berjalan santai dengan bersenandung kecil buat mengatasi kesepian yang tercipta di hatinya. Terlihat pemuda friendly tersebut tersenyum ramah karena jiwanya merasa tak dikekang oleh penderitaan lagi alias terbebas dari sengsara yang menimpa dirinya.


“Sambala sambala bala sambalado terasa pedas, terasa panas sambala sambala bala sambalado mulut bergetar, lidah bergoyang~”


“Cintamu seperti sambalado ah ah- aduh!!”


Waktu asyik bernyanyi lagu vokalis dari 'Ayu Ting-Ting', badan Reyhan ditabrak oleh seorang gadis cantik berambut coklat yang sepertinya larinya amat terburu-buru. Gadis tersebut juga ikut mengaduh tetapi dengan merengek kesakitan sambil memegang hidung mancungnya.

__ADS_1


“Sableng!? Woi! Jalan tuh pake mata bisa gak, sih?! Asal nubruk-nubruk badan orang! Untung yang ditabrak aku, bukan kakek-kakek!” protes Reyhan.


“Ye! Otak semut! Gak mungkin lah di sekolah ini ada kakek-kakek! Sakit tau hidungku, untung aja gak berakhir jadi pesek! Habisnya punya dada kok keras banget kayak batu bata! Heran deh aku!”


Reyhan mendengus seperti banteng. “Orang namanya juga dada cowok, gimana sih! Kamu juga ngapain lari-lari ngibrit kek dikejar Megalodon?! Masih selamat jantungku gak bocor karena nabrak kepalamu yang kayak tempurung kelapa itu!”


Yang benar saja, karena tadi Jova menabraknya tepat di dada kiri sahabatnya. Pantas saja lelaki cerewet itu mengomel-ngomel pada Jova yang sedang mengusap-usap hidung mancungnya. Sementara si Reyhan tengah mengusap-usap dadanya karena terasa nyeri usai kena tabrak sahabat gadisnya tersebut.


“Tunda dulu marahnya!” pekik Jova lalu kemudian berlari berputar dan bersembunyi di belakang punggung Reyhan seraya kedua tangannya mencengkram jas almamater sang sahabat.


“Kamu kenapa lagi, dah?!” kejut Reyhan dengan kepala menoleh sedikit ke belakang.


“Huhu Rey! Di dalem toilet ada setan!”


“Hah? Ada setan? Dimana? Toilet cowok??”


“Parah!” Jova memukul punggung Reyhan dengan kesal. “Ngapain aku di toilet cowok? Narok Sesajen?! Aneh kamu! Ya di toilet cewek, lah!”


“Hadeh! Ngadi-ngadi ah kamu! Gak mungkin di sekolahan ini termasuk toilet ada setannya, halusinasi kamu tuh!” ucap Reyhan bersama nada tak percaya.


“Ih aku gak bohong! Orang tadi aku ngeliat tulisan darah di cermin terus suara nangisan perempuan di pojok pintu WC, kok! Sana cek ke dalem!” titah Jova sambil mendorong-dorong punggung sahabatnya.


“Gilak kali kamu, ya?! Nanti dikiranya aku cowok mesum, lagi pake acara masuk ke toilet cewek! Gak mau aku!” tegas Reyhan menolak.


“Alah mumpung di sini sepi gak ada orang! Sana cepetan masuk, aku temenin deh!” ujar Jova paksa dengan terus mendorong Reyhan untuk masuk ke dalam toilet perempuan.


Bersama hati perasaan pasrahnya, Reyhan menuruti perintah Jova buat masuk ke dalam toilet perempuan yang sama sekali belum pernah ia injak lantainya sebelumnya. Setelah berada di dalam toilet, mata sipit Reyhan menelisik seluruh ruangan.


“Gak ada aura yang janggal, itu cermin wastafel juga bersih-bersih aja kok gak ada tulisan darah yang kamu maksud tadi. Suara tangisan pula nggak terdengar di telingaku. Huh, sudah aku bilang kan ... kamu itu cuman halusinas-”


Mulut Reyhan dan Jova terbungkam kompak saat mereka berdua melihat sosok siswi yang mengenakan seragam persis nang dipakai dua sahabat sejoli tersebut hari ini. Rambut panjang yang tergerai kusut berantakan, kepala yang bocor hingga darahnya menetes mengenai lantai, beserta wajah yang hancur menyeramkan menatap kedua remaja itu dengan tangan satu membentang seperti ingin meminta bantuan padanya.


“Kakak, tolongin aku ...”


Reyhan segera gesit menarik tangan Jova menggunakan tangan kanannya yang masih diperban untuk mengajaknya berlari pergi meninggalkan tempat toilet perempuan. Jova pun ikut berlari kencang bersama langkah kaki besar sahabat lelakinya. “Reyhan! Tangan kananmu udah gak sakit lagi?!”


“Huaaa bodo amat! Yang penting kita cabot dari setan muka burik serem itu!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di kantin yang tumben lumayan sepi, Angga dan Freya tengah menikmati minuman susu segar yaitu pop ice-nya masing-masing dengan sesekali enakan ngobrol ringan untuk menepi kesunyian di antara mereka berdua.


Gadis polos yang menyeduh nikmat pop ice rasa blueberry miliknya mulai melepaskan sedotannya dari dalam mulut lalu menolehkan kepalanya ke arah sahabat kecil lelakinya yang tengah diam juga menikmati pop ice cappuccino punyanya. “Angga, kira-kira kasus kematian gak wajar dari dua pria itu bakal tersiar ke berita internet dan televisi gak, ya?”


Angga nampak mengaduk-aduk minumannya bersama sedotan plastiknya agar rasanya semakin meresap. “Mungkin. Jasad potongan tubuh mereka pasti bakal cepet ditemukan di lokasi berada.”


Freya menggedikkan bahunya ngeri. “Hih, mesti bakal banyak yang menduga kematian mereka berdua itu misterius bener.”


“Biarkan saja. Yang penting sekarang Reyhan bisa beraktivitas di sekolah seperti biasa lagi dan dia pastinya sudah terbebas dari segala penderitaan itu yang menimpanya selama berbulan-bulan terlebihnya arwah Arseno telah menjadi tenang di alam abadinya.”


Freya menganggukkan kepalanya dan mulai kembali meneguk pop ice warna birunya yang sangat segar kalau di minum penuh nikmat. Sampai 2 menit terlewati setelah Angga dan Freya mengobrol dengan sedikit mengeluarkan gelak tawa, mereka berdua dikagetkan Reyhan serta Jova yang telah tiba di meja kantin milik mereka.


Freya hampir tersedak oleh minumannya karena kedatangan Jova dan Reyhan yang seolah kejutan baginya. Belum sempat bertanya ada apa dengan mereka berdua karena napas mereka terdengar ngos-ngosan bahkan wajahnya terdapat ada seraut ketakutan di antara kedua sahabat sejoli-nya, pop ice milik ia ditarik oleh Jova, sementara pop ice cappuccino Angga ditarik dengan oleh Reyhan.


Sampai akhirnya Freya yang gregetan pada perilaku mereka langsung berkacak pinggang dan ambil protes gratis untuk Jova beserta Reyhan. “Va! Itu kan pop ice punyaku! Kok di ambil gitu sih, mana gak pakai izin, lagi! Kamu juga Rey, pop ice yang kamu minum kan punyanya Angga!”


“Kalian berdua ini kenapa, sih?!” tambah Freya.


Jova meletakkan gelas pop ice milik sahabat polosnya dengan tak santai sambil mengelap mulutnya yang basah. “Asal kalian berdua tau, ya! Aku sama Reyhan tadi ngeliat sosok horor di pojok pintu WC toilet cewek! Wah gila banget sih, emang!”


“Sosok horor di pojok WC toilet cewek?” tanya Freya memastikan kepanikan lebih Jova.


Reyhan manggut-manggut dan mulai mewakili pembicaraan Jova. “Bener! Kami berdua habis aja dikasih tampak wujud hantu yang mukanya burik asli! Ehm, seingat gue setan itu kayak siswi di SMA Galaxy Admara ini.”


Angga yang mendengarkan informasi cerita dari Reyhan secara seksama dan serius, tibalah isi kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan mengenai hantu arwah asing tak dikenal tersebut. Mata abu-abu autentiknya bergerak kesana-kemari dikarenakan di bangunan SMA internasional ini belum pernah ada makhluk astral yang bergentayangan serta pemuda berjulukan 'Six Sense' itu tak dapat mengetam keberadaan aura yang aneh dan pula janggal.


“Sosok arwah siapa lagi yang datang?”

__ADS_1


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2