
Angin yang menerpa memasuki dalam ruang kamar rawat melalui jendela yang setengah terbuka, hal itu Anggara yang tidur tak nyaman memutuskan bangun berposisi duduk. Dilihat Andrana dan Agra masih pulas tidurnya di kursi sofa, sepertinya mereka berdua terlalu menjaga Anggara semalam hingga mereka kelelahan.
Bawah kantung mata Anggara nampak sedikit bengkak dan hitam, artinya Anggara tak cukup tidur tadi malam. Matahari saat ini juga tak ternampak dikarenakan tertutup oleh awan kelabu.
Meskipun mata Anggara terlihat sayu karena tidurnya kurang, pemuda tersebut tak merasa mengantuk sama sekali, badan juga rasanya sedang kurang enak membuat selera makan Anggara pagi ini tidak ada.
Anggara mengusap lehernya dikarenakan tenggorokannya terasa sangat kering, ia memutuskan untuk mengulurkan tangan kanannya mengambil gelas air putih di atas meja nakas. Baru saja menggenggam gelas, satu orangtua Anggara terbangun dari tidurnya dengan mengucek satu matanya. Anggara hanya diam dan segera menarik pelan gelasnya di tangannya lalu mulai meneguk air putih itu hingga tersisa setengah.
"Loh Nak, kok jam segini sudah bangun?"
Anggara melirik Andrana dengan bola matanya lalu ia menurunkan gelasnya dari mulutnya. "Jam tujuh, pasti Anggara sudah bangun."
Andrana mengangguk lalu hendak beranjak dari kursi sofa lantas itu menghampiri anaknya sementara Anggara memegang tengkuknya dan ia telengkan kepalanya ke kiri.
"Lehermu pegel, Nak? Mata kamu juga sayu bener. Pasti kamu kurang tidur nih," ucap Andrana sambil mengambil gelas dari tangan putranya.
"Bener Ma," respon Anggara.
Andrana berdiri di samping Anggara dan mengusap puncak kepalanya. "Loh, bukannya tadi malam Anggara sudah tidur?"
Anggara menghela napas. "Tadi malam Anggara cuman merem aja, nggak tidur. Ya tidur sih tapi percuma ujungnya gak nyaman."
"Hmmm gitu .. apa Anggara masih trauma mimpi yang Anggara alami tadi malem?"
Anggara hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan lirih dari Andrana yang berwajah pilu, dirinya malah berpaling memalingkan wajahnya dari Andrana.
"Masa anak Ayah takut sih?"
Agra tiba-tiba datang bersuara celetuk membuat Andrana dan Anggara kaget pada tingkah laku seorang suami nan sekaligus seorang ayah tersebut.
"Ayah kebiasaan datang gak bilang-bilang," protes istrinya.
"Lah kan Ayah disini, nggak pergi-pergi seperti pergi pagi pulang pagi."
"Ayah fans-nya Armada Band??" tanya Andrana menimpali.
"Oh iya dong, kan itu lagu POP kesukaannya Ayah jaman masih sekolah dulu .. tau lah maksudnya Ma, nostalgia lebih indah daripada metik bunga mawar hitam."
"Astagfirullah kenapa bisa nyampe situ kata-katanya? Masih pagi mulutnya sudah seperti itu, haduh." Andrana menepuk kening.
Agra hanya menyengir lalu pria paruh baya berumur 50-an tahun tersebut menoleh ke anaknya yang diam dan diam, mulutnya juga bungkam seperti tidak ada niatan untuk membuka obrolan dengan kedua orangtuanya.
"Ngga?" panggil Agra.
"Hm?"
"Dehem doang kerjaan-mu. Kamu kenapa kok diem mulu Ayah lihat?"
"Nggak apa-apa."
"Sabar .. sabar. Huh, punya anak laki-laki cueknya singkatnya super banget deh," keluh Agra.
"Memangnya Ayah dulu nggak seperti Anggara? Ayah seperti itu kok dulu, sampe tobat Mama. Untung Mama mau jadi pacarnya Ayah, sampai sekarang menjadi suami dan istri," ungkap Andrana.
"Oh iya ya Ma, tapi kayaknya Ayah tau deh penyebabnya Ayah bisa cerewet begini."
"Mama tau kok, papanya Reyhan kan."
"Nah tuh tau, virusnya bisa menular ke Ayah ya tapi Mama sendiri kebal banget kayak Jihan."
"Yaiyalah lagian siapa juga yang mau tertular sama laki-laki. Di tolak kalau minta," tutur Andrana cengengesan.
"Mama tega banget."
Anggara menghela napasnya kembali dengan panjang lalu menghembuskan-nya. Anggara menggelengkan kepalanya pelan mendengar celotehnya kedua orangtuanya yang masih seperti pembicaraan masa remaja, wajah Agra dan Andrana juga masih senantiasa awet muda.
"Oh iya, Ngga apa kamu takut tidur hanya karena mimpi buruk itu?" tanya Agra.
"Masa takut sih? Kan kamu anak Ayah mama yang pemberani," sambung Agra.
"Ayah, meskipun Anggara pemberani tapi gak semuanya Anggara berani dong. Anggara juga punya sisi ketakutannya dan kelemahannya, Ayah ngerasain sendiri kan Anggara sampai sekarang masih demam karena trauma mimpi itu."
"Iya-iya Ayah paham. Kalau begitu sebaiknya kamu sarapan dulu ya, biar sembuh."
"Makan aja nggak enak, hari ini Anggara gak mau makan."
"Anggara, nggak boleh begitu. Kalau kamu tidak makan seharian nanti Anggara nggak sembuh-sembuh. Mama tau Anggara hari ini lagi gak enak badan tapi kamu harus sarapan, Mama suapi ya."
Anggara menggeleng. "Perut Anggara dikit mual Ma, makanya Anggara nggak mau sarapan."
"Yaudah ayo Ayah anter kamu ke kamar mandi." Agra hendak membentangkan tangannya untuk mengajak Anggara ke kamar mandi.
"Gak usah, Yah."
"Lah terus? Mau gimana? Kamu mau apa??" tanya Agra bingung.
"Anggara mau nonton film di TV saja, mumpung cuaca berangin dan mendung enaknya nonton film."
Anggara mengambil remote televisi lalu menekan tombol power untuk menyalakannya, pemuda itu mulai menekan dua angka di tombol bawah power off/on untuk menonton film di salah satu channel.
...---------->◎:☬☬☬:◎<----------...
Nampak saat ini Anggara menonton tenang pada film horor yang ia tonton kan, tak hanya Anggara saja yang menonton tetapi juga dengan Agra begitu Andrana. Sekeluarga Indigo tersebut memang pecinta film horor dan Thriller, bagi mereka film tersebut bermakna untuk melatih keberanian pada adrenalin yang berpacu.
Tok...
Tok...
Tok...
Tok...
Tiba-tiba saat fokus menonton film di salah satu channel yang genre-nya hanya berisi horor serta Thriller, suara ketukan pintu pelan terdengar dari luar pintu kamar rawat no 208 yang mana Anggara tempati. Andrana segera pergi dari sofa untuk membukakan pintu kamar rawat.
Cklek !
Betapa terkejutnya sekaligus senangnya Andrana setelah membuka pintu dengan lebar, ia mendapati sosok teman-temannya Anggara yang tak lain adalah Andra yang mengetuk pintu, Raka, Rangga, Lala, Rena, Zara.
"Eh ya ampun, ternyata kalian. Tante sampe gak duga kalian dateng, yaudah yuk sini masuk saja."
"Terimakasih Tante," serempak kompak keenam remaja sopan tersebut.
"Sama-sama, Nak."
Andra, Raka, Rangga, Lala, Rena, serta Zara bertaut tangan lembut pada Andrana tak lupa mencium punggung tangan mamanya Anggara begitupun setelah itu kemudian giliran Agra yang disalami oleh teman-teman anak putranya si selalu memakai tata sopan yang baik.
Raka dengan semangat berjalan menghampiri Anggara yang kembali menghadap ke televisi.
"Anggara! Gimana keadaan lo sekarang, udah membaik kah?!"
Anggara menolehkan kepalanya pada Raka. "Gak usah teriak, gue denger."
"Ehehehehe sorry-sorry, terus kondisi lo bagaimana? Sudah membaik?" tanya Raka.
"Ya."
"Njir, singkat banget dah Ngga?!" kecewa Raka pada temannya pada respon yang selalu saja singkat.
"Yaelah Bro, kek gak tau aja sikap temen kita ini gimana. Emang gitu si Anggara, jadi kita harus sabar batin, sabar hati." Andra menimpali.
"Dari dulu gue juga selalu sabar sama si Anggara, sampe gue meditasi juga senam aerobik."
"Widih sejak kapan lo ikut senam aerobik? Olahraga aja bawaannya males apalagi senam, gak percaya gue."
"Yaudah sih kalau lo gak percaya, lu bisa tanya emak gue kok atau gak dunia alam."
"Yaudah gue tanya sama pohon aja, barangkali ada jawaban dari sang beliau," ujar Andra santai.
"Yaudah sono pergi, sampe mulut lo keluar liur dan hidung lo ingusan .. gak bakal di jawab sama pohonnya kecuali sama makhluk hidup seperti manusia, contohnya Reyhan. Sono tanya."
"Mana? Reyhan gak ada tuh? Si Freya, Jova juga gak ada disini."
"Loh Om baru sadar, cuman temen-temennya Anggara doang ya yang kesini. Sahabat-sahabatnya Anggara nggak hadir hehehe."
"Eh enggak kok Om, tadi kami datang ke rumah sakit barengan sama Freya, Jova, Reyhan. Tapi kok malah belum nyampe ya?" Lala menggaruk tengkuknya.
"Halu kali," ucap Anggara.
"Eh enggak Ngga, orang bener kok. Tadi tuh janjian di gerbang sekolah buat pagi hari ini jenguk kamu disini tapi eh mereka bertiga malah ilang gak tau kemana," jawab Rena.
"ASSALAMUALAIKUM WAHAI MANUSIA-MANUSIA WARGA NEGARA INDONESIA!!!"
Baru diomongkan, datanglah Reyhan yang mengucapkan salam dengan berteriak kencang. Di belakangnya nampak ada dua gadis sahabatnya Reyhan yang menutup telinganya masing-masing dampak suara Reyhan yang sepadan dengan speaker salon.
"Nah dateng juga akhirnya!" kompak Andra, Lala, Raka, Rena, Rangga, Zara.
"Cieee nyariin kami bertiga nih yee." Reyhan menyengir dengan wajah konyolnya sembari menuding temannya.
"Yaiyalah baru aja gue mau bergerak keluar buat cariin lo pada, kalian tuh habis darimana sih?? Sampe pisah segala."
"Heh Ndra, lu gak sadar hah? Elu sama yang lain malah ngibrit ninggalin gue, Freya, sama Jova tau gak! Mau jenguk Anggara aja semangat bener sampe kami semua di tinggal."
"Ehehehe maaf guys," ucap Lala sambil mengacungkan dua jari simbol peace.
"Gakpapa kok La, kita maklumi aja." Freya ikut menimpali.
"Kirain Om kamu, Freya, sama Jova nggak bakalan datang loh rupanya tibanya telat."
"Ya ampun Om Agra ayahnya Anggara yang ganteng, kalau temen-temen dateng itu artinya sahabat-sahabatnya ikut hadir dong Om."
"Nak Jova, kamu jangan bilang Om Agra ganteng nanti kepalanya bisa besar takutnya pula kakinya udah gak napak lagi di bumi."
Para remaja tertawa lepas pada ocehan Andrana yang sedang meledek suaminya, Agra yang di ledek hanya tersenyum mesem lalu mencolek pipi putih istrinya dengan senyuman romantisnya.
"Alah atuh istriku yang cantik, suaminya sendiri masa di ledek begini sih hm? Kan Suamimu memang ganteng seperti anakmu."
"Ih Om masih bucin (Budak cinta) sama tante Andrana dong, padahal udah resmi jadi suami istri loh!" heboh Rena.
Reyhan tersenyum mesem lalu badannya ia serong menghadap ke Anggara. "Ngga, kok lu nggak ketawa sendiri? Tertawa dong."
"Emangnya tertawa itu wajib?"
"Y-ya enggak sih Ngga," jawab Reyhan menyengir.
"Yaudah."
"Ya Allah Nggaaaa, lu itu habis makan apaan sih hah? Emangnya harus ya omongan lu tuh irit kek hemat listrik dan air?"
"Gak tau."
Reyhan mendengus ada sahabat SMP-nya yang selalu irit dalam bicara namun Reyhan tersadar Anggara sedari tadi mengelus dadanya.
"Elu napa dah kok ngusap-usap dada gitu?? Sesek tuh dada?" tanya Reyhan.
"Gak! Lu dateng bukannya ngucapin salam sewajarnya malah teriak, lu gak menghargai kapasitas jantung gue? Untung jantung gue masih detak normal, kalau nggak ... siap-siap saat gue mati arwah gue bakal gentayangin elo, atau perlu teror aja sekalian biar kapok!"
Yang mendengarkannya sampai meringis pada suara Anggara yang membuat merinding, termasuk Reyhan menelan ludahnya saking takutnya.
"A-alah buset! Galak banget sih lu Ngga setiap ada gue. Mana ngomong soal arwah lagi, kan gue jadi takut."
"Salah sendiri ngeselin!"
"Elu sekali ngomong panjang lebar apalagi bentak ngena hati bener anjir! Emang ya lu dari dulu tega banget sama beta!"
"..."
Reyhan mengernyit kesal pada Anggara yang kembali mencuekkan dirinya apalagi mata Anggara fokus kembali ke arah film di televisi.
"Untung lu sahabat gue, coba kalau musuh gue .. udah gue lempar lu ke laut pantai selatan parangtritis biar lu di seret ombak sama Nyi Roro Kidul!"
"Bodo."
Freya terkekeh pada jawaban sahabat kecilnya yang terlihat cuek dan nadanya terdengar singkat, namun Freya sudah terbiasa pada sifatnya Anggara.
"Yaudah deh Om sama tante keluar dulu ya, gak enak ganggu kalian ngobrol masa ikut urusan campur anak muda. Yuk Ma, keluar ayo keluar."
"Loh terus Anggara gimana??"
"Yaelah Mama jangan khawatir, kan Anggara nggak sendirian disini."
"Betul Om, kami semua bakal jaga Anggara kok, dijamin anak Om dan Tante aman."
"O-oohh begitu, makasih ya Nak Zara. Kalau begitu Tante dan om pergi keluar dulu ya Nak."
"Memangnya Tante sama om mau pergi kemana?" tanya Freya.
"Mau berduaan di kantin," jawab Agra sambil menarik bahu kiri Andrana agar bahu kanannya menempel di bahu Agra yang tersenyum sumringah.
"Pppfft!"
Anggara melirik Reyhan sinis. "Untung lo gak lagi minum."
"Hah emang napa kalau gue minum??"
"Ya kalau lo minum pasti minuman lo kesembur ke muka gue lah!! Orang lo deket banget sama gue!"
Reyhan reflek kaget. "Aih udah napa sih marah-marah sama gue .. punya dosa apa sih gue sama lo coba??"
"Dosa lo banyak! Marah tanpa sebab kayak kesurupan, suka ngutang sana-sini, kalau ngomong suka blak-blakan, otaknya sesat terutama!"
Hati Reyhan mendadak merah pudar sekaligus anjlok atas ucapan Anggara, namun ia tahu Anggara sedang sekedar meledek bersama Reyhan. Reyhan memejamkan matanya dan mengangguk.
"Daripada lo, hidup cuman dibawa serius kek lagi berurusan sama ujian negara! Kesehariannya diem kek patung negara Amerika, kalau ngomong dingin kayak anak kutub Utara, cueknya kebangetan pengen gue linggis lu!!"
Anggara mendengus dengan menatap tajam pada Reyhan yang meledeknya habis-habisan, Anggara hanya diam mengalah pada sahabat resenya yang memang dasarnya tidak mau kalah dengannya.
"Cowok kok sifatnya unik banget kek lukisan abstrak, ya kan Om Tan- loh tante Andrana sama om Agra kemana??"
"Udah pergi, dengerin perdebatan lo sama Anggara cuman bikin geleng-geleng kepala doang. Lagian lo bisa nggak sih ngalah dikit sama Anggara?"
"Iya-iya sorry Ga! Habisnya si Anggara ngajak perang pagi-pagi."
Reyhan kembali menghadap ke Anggara yang diam menonton film bernuansa gelap mencekam, hal itu Reyhan bertanya pada Anggara yang wajahnya nampak datar.
"Lu nonton apasih Bang?"
"Puncak Villa."
"WHAT??!!"
Anggara kembali mendengus tetapi dengan kasar sembari menutup kedua telinganya bersama memejamkan matanya ekspresi wajah amat kesal pada teriakan kata kompak 'what' dari Reyhan, Raka, Rangga, Andra. Kemudian Anggara memberikan tatapan tajam nan maut.
"Lu pada bisa nggak sih nggak usah pake acara teriak segala?! Lebay tau gak!"
"Kemarin lu waktu itu nonton film horor indo yang judulnya Jalan Tapak Terlarang, nah sekarang Puncak Villa dong!"
"Yang penting film horor."
"Serem gak Ngga film horornya??" tanya Reyhan sambil memperhatikan film.
"Hmm."
"Anjir, lu bisa gak responnya selain 'hmm' heran gue apa gak bosen tuh gunain kata itu sepanjang hari sepanjang waktu?"
"Yang penting di respon kan, daripada gak di respon sama sekali malah emosi."
Reyhan lagi-lagi menolehkan kepala ke Anggara. "Gue sentil jakun lo lama-lama!"
"Oke, buruan."
"Gak jadi, gue nggak tega."
"Ya hm oke."
"Bisa stress sendiri gue ngadepin lo yang kek begini melulu. Oh iya lo udah sarapan belum??"
"Heleh tadi ngeledek sekarang perhatian .. punya kepribadian ganda ya kamu Nyuk."
__ADS_1
Perkataan Jova yang asal keluar berhasil membuat kesemuanya menatapnya dengan bengong termasuk Anggara. Jova menatap sahabat polosnya, sahabat resenya, sahabat pendiam-nya, dan keenam temannya satu persatu dengan mengangkat kedua bahunya begitu juga menaikkan dua alisnya.
"Astaghfirullah Jovata, kamu nggak boleh ngomong sembarangan sama Reyhan. Masa iya Reyhan punya kepribadian ganda?? Reyhan kan orangnya normal," tegur Freya lumayan lembut.
"Oke kalau begitu, aku mau tanya sama kamu .. kamu sadar gak apa yang kamu omongin ke Anggara tadi??"
"Sadar lah, emangnya aku punya kepribadian ganda? Mental ku masih baik-baik saja, jadi gak usah berlebihan."
Reyhan kembali menatap Anggara. "Udah sarapan kan?"
Anggara menggeleng kepala. "Gue seharian ini nggak mau makan dulu."
"Loh kenapa Ngga?? Nanti kalau nggak makan seharian, kamu bisa sakit Mag loh. Harus makan, biar cepet sembuh."
Anggara menyengir pada ucapan yang di utarakan oleh Freya. "Perutku lagi gak enak, kalau di paksa makan malah tambah gak karuan jadinya."
"O-oh tapi makan dikit saja, biar perutmu terisi. Makan buah aja nih, mau aku ambilkan yang mana? Jeruk? Anggur? Pir? Mangga? Pisang? Pepaya? Nanas? Atau apel?"
Semua pilihan Freya tetap Anggara menggelengkan kepalanya, sedangkan Reyhan menghempaskan napasnya pelan lalu mengambilkan satu buah ialah apel hijau. Buah-buahan yang ada di dalam keranjang atas meja nakas nampak terlihat masih segar higienis.
Reyhan lantas itu mengambil pisau untuk mengiris buah apel dengan itu Anggara terkaget melihat sahabatnya nekad.
"Eh udah sini gue aja yang mengiris!"
"Gak perlu lah Ngga, gue juga mau belajar mengiris buah tanpa bantuan hehehe."
"Ngeyel, lo aja gunain pisau amburadul kok .. udah mariin pisaunya sama apelnya biar gue aja yang lakuin. Bahaya buat lo yang kurang hati-hati."
"Shut Up, hari ini gue tugasnya melayani lo yang sedang sakit jadi gue yang ngelakuin semuanya. Gak usah bawel, santai dan diem ae."
Reyhan mulai menenteng buah apelnya dan akan mengiris buah tersebut dengan pisau namun Reyhan terlihat salah memegang buah apel hijau itu, jari jempolnya berada di dekat pisau tetapi Reyhan nampak fokus pada kegiatannya.
"Eh Rey itu lo megang apelnya salah, sumpah itu jari lo jauhi dari jangkauan pisaunya! Yakin lo pegang-nya begitu?! Gak aman woi!!"
"Halah santuy lah Ngga santuy ini gue udah mulai bisa-"
Sreet !
Sudah mulai bisa sih sudah mulai bisa tetapi pisau yang Reyhan gunakan berhasil menyayat jempolnya hingga mengeluarkan darah segar dari kulit sisi jari jempol pada tangan yang sedang Reyhan pegang apel.
"Akh ssshhh sakit!"
Tuk !
Clang !
Saking kesakitan pada jarinya yang tersayat oleh pisau, Reyhan reflek tak sengaja menjatuhkan buah apel serta pisau tersebut di lantai. Dengan mata melotot karena terkejut Anggara mulai mengomentari pada Reyhan yang susah sekali dibilang apalagi keras kepala.
"Nah kan! Dibilangin makanya jangan ngeyel liat sendiri kan akibatnya!"
Freya mendesis melihat darah yang Reyhan tekan agar tak banyak bebas keluar. "Reyhan mending kamu bersihin dulu darahmu itu, biar darahnya juga berhenti."
Reyhan mengangguk lalu cepat-cepat pergi ke wastafel kamar mandi untuk mencuci darah jarinya yang usai tersayat oleh pisau untuk mengiris buah apel. Di sisi lain, Anggara menggelengkan kepalanya sementara Freya berjongkok untuk memungut pisau dan buah apel yang tergeletak di lantai.
Freya berdiri kembali lalu mulai mengiris telaten rapi pada buah apel hijau, gadis tersebut mengirisnya menggunakan perasaan itulah yang terpenting.
Anggara hanya diam bungkam memperhatikan sahabat kecilnya yang mengiris-iris apel hijau dengan senyum terukir di wajah cantik manisnya sampai tiba-tiba Freya menodongkan satu potongan apel hijau ke dekat mulut Anggara.
"Nih dimakan biar sehat."
"Nggak, aku gak mau."
"Harus mau."
"Nggak-nggak!" Anggara mengatup bibirnya rapat-rapat disaat Freya semakin membentangkan tangannya untuk memasuki satu potongan apel ke dalam mulut Anggara yang terlanjur sudah ia tutupnya.
"Ayo buka mulutnyaaa!" Freya menempelkan potongan apel tersebut di bibir Anggara dan menekannya agar Anggara membuka mulutnya.
Aksi Freya pada Anggara menjadi pusat tontonan para temannya serta sahabat tomboy-nya terkecuali Reyhan yang sibuk membersihkan darah jarinya di dalam kamar mandi.
Pada akhirnya mau tak mau, Anggara membuka mulutnya lalu menggigit potongan apel yang telah di potong rapi oleh Freya, Anggara menggigit buah tersebut di tangan Freya.
"Nah gitu dong."
Freya melepaskan buah apelnya setelah Anggara menggigitnya dengan giginya, Anggara mengangkat tangannya untuk memegang potongan apel yang ada di mulutnya. Pemuda itu menggigitnya sedikit lalu mengunyah perlahan.
"Gimana Enak? Seger?"
"Hmm enak ... seger," jawab Anggara menganggukkan kepalanya sembari terus mengunyah.
"Nah sip! Nih dimakan semuanya biar kenyang."
"Gak, aku makan satu potongan udah kenyang kok. Nanti kalau aku laper aku ambil lagi." Setelah menelan kunyahan, Anggara menjawab Freya dengan nada menolak.
"Hmm, yaudah deh tapi beneran dimakan ya. Aku taruh sini oke," tutur manis sahabat kecilnya menaruh beberapa potongan apel di atas meja nakas.
Anggara tersenyum dan mengangguk.
"Eh Ngga siapa yang ngasi lo buah-buahan sebanyak itu?? Mana satu keranjang penuh lagi."
Pertanyaan Andra langsung Anggara jawab, "Kemarin siang nenek sama kakek gue dateng jenguk gue sambil bawain cucunya buah tangan."
"Kasian loh Ngga, makanan masa lo anggurin? Kan gak baik, untung buah buahannya awet higienis dan belum membusuk."
Suara Reyhan yang celetuk usai keluar dari kamar mandi, membuat kesemua beralih pandangan ke Reyhan dan menatapnya.
"Gimana? Masih sakit jarinya?" tanya Anggara serius.
"Masih Ngga, mana perih lagi. Padahal gak dalem loh cuman toreh kulitnya aja."
"Gimana rasanya ngeyel sama sahabatnya sendiri? Akibatnya seperti apa? Sakit kan? Sukurin!"
Reyhan memanyunkan bibirnya lalu menyengir pada protes Anggara yang sedikit kesal.
"Ehm, Reyhan itu lukanya gak kamu tutup pakai hansaplast??"
"Gak usah lah Frey, lagian darahnya juga udah berhenti kok. Nanti pas pulang baru aku obati."
"Yang ada malah infeksi karena kena udara, sini gue obati."
Reyhan menaikkan satu alisnya pada suruhan Anggara. "Emangnya disini ada kotak P3K? Kan gak ada, Ngga."
"Gak usah banyak ngoceh, sini cepetan."
Reyhan dengan senyum hambar pun akhirnya menuruti Anggara, sementara Anggara membuka laci meja nakas dan terlihat jelas nampak di dalam sana ada alkohol, kapas satu kotak plastik, hansaplast, dan lain-lainnya yang berguna membersihkan luka. Kesemuanya melongo tak habis pikir ternyata Anggara menyimpan beberapa alat yang biasa ia bawa di tas kecil merah P3K siswa anggota PMR.
Anggara dengan mudah mengambil satu kapas putih berbentuk kotak serta botol alkohol berwarna putih. Reyhan nampak takut pada alat-alat itu yang untuk mengobati lukanya yang masih perih.
"Eh Ngga jangan pake itu alkohol kenapa sih!" tolak Reyhan ngeri.
"Kalau gak pake alkohol mau bagaimana lukanya bersih hah? Udah lo diem aja, biar gue yang urus."
Anggara dengan sigap membuka tutup botol alkohol lalu menuangkan cairan alkohol ke kapas yang ia pegang 2 tetes. Reyhan menelan salivanya pada obat yang menurutnya kalau dikenakan di lukanya pasti sangat perih.
"Anggara! Itu alkohol yang rasanya terbakar di kulit kan?! Iya kan?!" panik Reyhan.
"Itu obat Rivanol, ini beda. Buta alat ya lo? Udahlah mending lo diem aja biar gue bisa fokus."
Anggara menarik tangan Reyhan yang jarinya terluka akibat terkena pisau, Anggara mulai dengan hati-hati menepuk-nepuk kapas tersebut yang sudah ada cairan alkohol tersebut ke jari Reyhan. Anggara kemudian meniup luka jari tangan jempol perlahan, luka tersebut juga telah sepenuhnya bersih kini Anggara hanya perlu menutupnya alias menambalnya memakai hansaplast.
Anggara membentangkan satu tangannya untuk mengambil satu handsaplas dan kemudian ia mengembalikan posisinya. Sahabatnya Reyhan dengan mata satu pandangan menambal perlahan hansaplast tersebut ke lukanya.
Reyhan takjub pada Anggara yang telah mengobati lukanya dengan sangat terbaik, Anggara melepaskan cekalannya dari lengan Reyhan lalu ia menutup botol alkohol-nya kemudian ia kembalikan ke tempatnya semula. Anggara menutup laci meja nakas, sementara Freya mengambil satu kapas bekas luka Reyhan.
"Aku buang kapasnya ya Ngga."
"Oke, makasih ya."
Freya mengangguk tersenyum lebar lalu berbalik badan untuk membuang kapas ke tong sampah samping pintu kamar mandi.
"Hehehe thanks banget loh Bang, rupanya lo masih inget banget cara bersihin luka caranya gimana."
Anggara hanya tersenyum tipis pada Reyhan namun senyuman itu berubah menjadi pudar, ia mengerjapkan matanya dengan memegang kepalanya sedikit meremasnya.
"Eh kenapa Ngga?! Kepala lo sakit lagi?!" panik Reyhan.
"Nggak, gue- akh!!"
"Haduh jangan pake ditahan begitu! Bentar gue ambil obatnya dulu!"
Reyhan cekatan putar badan ke arah meja nakas untuk mengambil bungkus obat pil milik sahabatnya, dilihat gelas air putih tinggal sedikit Reyhan sigap mengambil botol air minum berukuran besar lalu membuka tutup botol kemudian ia tuangkan ke gelas. Setelah terisi penuh, Reyhan mengangkat gelas tersebut dan ia berikan ke Anggara sekaligus 1 butir obat pil-nya.
"Nih-nih lebih baik lo minum obatnya dulu." Reyhan menarik tangan Anggara untuk menaruh obat pil di atas telapak tangan Anggara.
Anggara segera memasukkan obat pil resep dokter tersebut dengan cepat, lantas Reyhan tangkas menyodorkan gelas berisi air putih bersih. Anggara mulai meneguk air putihnya untuk membantu mendorong obat tersebut ke dalam tubuhnya.
Anggara menghempaskan napasnya setelah obat tersebut masuk ke dalam tubuhnya, sakit kepala yang ia terima juga menjadi lumayan mereda berkat obat pereda sakit kepala tersebut tepatnya pasien yang mengalami cedera kepala.
Disaat seperti ini, Reyhan amat bersalah bukan karena ia telah menerima bantuan Anggara untuk mengobatinya tetapi masa-masa yang telah ia lakukan pada Anggara hingga sahabatnya mengalami suatu kejadian yang terbilang fatal. Dirinya begitu tahu ia salah, sampai sekarang entah mengapa Reyhan sulit untuk menghilangkan kesalahan terbesarnya yang disebut salah paham.
Reyhan terus menatap Anggara dengan wajah prihatin dan ekspresi menyesal, andai kalau ia percaya pada sahabatnya, Anggara tidak mungkin masuk rumah sakit berujung separah ini hingga ia mengalami cedera kepala sedang.
Sampai tiba-tiba mata Anggara menatap Reyhan. "Lo kenapa? Kok wajah sedih gitu?"
"Kenapa, ada apa-"
Tanpa segan-segan Reyhan memeluk tubuh Anggara dengan mulai mengeluarkan air mata, Reyhan yang biasanya seperti ini berjaya membuat Anggara kebingungan.
"Eh kenapa?!"
Tak hanya Anggara saja yang terkejut namun kedua gadis sahabatnya, keenam temannya juga seketika itu terkejut.
"Maafin gue Ngga, gue bodoh disaat itu gue gak percaya sama lo! Gue bodoh mudah terpengaruh pada omongan sosok yang menyamar elo saat di Villa hiks!"
"Gue bener-bener hilang kendali untuk mengontrol emosi diri gue Ngga! Hingga gue bener-bener tega buat lo masuk rumah sakit! Gue emang sahabat yang gak becus!"
Anggara begitu kaget pada ucapan Reyhan yang merendahkan diri. "Rey! Lo gak boleh ngomong begitu! Inget itu juga bukan salah lo, gue tau itu cuman salah paham, siapa yang disalahin? Nggak ada."
"Tapi gara-gara gue lo Koma! Sampe-sampe lo bisa seperti ini!"
"Yang buat gue Koma itu bukan lo Rey! Kenapa lo sekarang malah menyalahkan diri lo sendiri?! Semua itu bukan salah lo!"
"Awal dari biang kesalahan terbesar itu gue kan, gue yang udah buat lo masuk rumah sakit dan gue hampir buat lo mati karena ulah gue sendiri!"
"Jika semisalnya itu terjadi lagi, gue gak akan ambil salah pihak! Maafin gue Ngga karna sudah gak percaya!"
"Sudah Rey ... sudah," lirih Anggara mengusap punggung sahabatnya yang tak berhenti menyalahkan dirinya apalagi air matanya terus mengalir membanjiri pipinya.
"Kalau lo seperti ini lagi, biarin gue yang akan tanggung jawab semua karna dasarnya ini salah gue sendiri."
Anggara yang mata pandangannya menghadap depan itu lama-lama kedua matanya berair dan menetes ke pipinya dan mengalir perlahan.
"Rey, gue sudah iklhas maafin lo bahkan gue sampai lupa kejadian itu. Sudah ya dilupain saja. Peristiwa itu sudah terlewati. Nggak perlu lo inget-inget lagi, jangan dibahas lagi mending lo buang saja dari benak lo."
Reyhan memejamkan matanya sejenak hingga pada akhirnya menganggukkan kepalanya lemah, Anggara pun tersenyum lebar dengan menepuk punggung sahabatnya untuk menenangkan hatinya.
Yang melihat Anggara dan Reyhan begitu memasang wajah pilu lara yang tak disengaja. Bahkan ada yang tersenyum haru ialah kedua gadis sahabatnya.
Reyhan kemudian melepaskan pelukannya dari tubuh Anggara, Reyhan mengelap air linangan-nya begitupun juga dengan Anggara sendiri.
"Anjir mewek kali drama hari ini," ucap Raka dramatis.
"Bego! Bukan drama tolol!" Andra menjitak kepala Raka keras.
Anggara dan Reyhan sama-sama tidak memedulikan ucapan para temannya tersebut.
"Ehm, Ngga gue boleh minta ajarin gak?"
"Ajarin apa Rey? Kalau matematika apa nggak fisika jangan sekarang, otak gue belum mampu muat semuanya."
"Eh bukan itu .. ajarin gue biar bisa kayak elo maksud gue."
"Biar bisa kayak gue? Maksudnya gimana?"
"Yaa dari sifat lo itu yang apa-apa sabar, suka ngalah, meskipun ada orang yang buat kesalahan terhadap lo pasti lo maafin, gak emosian. Luar biasa lo tuh."
Anggara meringis dengan senyuman hambar yang tertampil di wajahnya. "Itu udah dari sifat gue, tapi lo bisa seperti itu dengan cara melatih sifat lo yang pengen lo ubah."
"Hmmm tapi bagi gue kenapa sulit ya? Bahkan ada yang buat kesalahan sama gue dan gue terlanjur kecewa, gue sukar buat maafin dia."
"Memangnya lo pernah kecewa sama seseorang?" tanya Anggara.
"Ehm itu ada sih, tapi temen SD kok."
"Dan gue yang tanya-tanya, kenapa disaat gue sedang emosi lo yang paling bisa redam emosi gue? Anehnya cuman elo yang mampu, yang lainnya nggak mampu."
Anggara menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, ia menatap Reyhan dengan senyuman menyengir.
"Berarti hanya gue yang bisa redam emosi lo? Itu artinya kita ada di masing antara."
"Maksud lo?? Gue gak ngerti."
"Begini, lo emosi dan gue datang untuk mengontrol emosi lo. Sama dengannya antara air dan api."
"Antara air dan api?" tanya Freya memastikan ucapan Anggara.
"Iya betul. Istilahnya gue airnya lo apinya, disaat api itu membesar dan nggak segera di padamkan, api itu akan semakin besar bahkan bisa menyebar kemana-mana tapi kalau apinya di siram oleh air kemungkinan besar api itu bakal mati padam dan nggak akan lagi membahayakan apapun siapapun."
"Jadi??" Jova bertanya dengan penasaran.
"Jadi, kalau lo gak gue redakan emosi lo yang menggebu itu lo semakin gak karuan emosinya. Karna emang dasarnya elu kalau lagi emosi bahayakan orang."
"Ehm iya gue paham, thanks ya Ngga. Memang bener saat gue nalar pake logika, elu semacam air dan gue semacam kobaran api."
"Wah keren dong, ibaratnya Anggara itu air yang bawaannya tenang dan bisa meneduhkan hati sedangkan kalau Reyhan itu ibaratnya api yang bisa menyemangati meskipun juga ada sisi bahayanya."
Ucapan Zara diberi angguk oleh kesemua temannya termasuk Anggara.
"Eh tapi kan air juga bahaya loh, kan bisa tenggelamkan kita kalau nggak bisa berenang, contohnya aku ini."
Anggara terkekeh pada ucapan Freya yang ada benarnya, sementara Reyhan menyipitkan matanya dengan tersenyum jahil padahal pemuda itu sedang sedih namun dengan jangka waktu cepatnya Reyhan bisa mengubah suasana hatinya.
"Iya ya Frey seperti hatimu tenggelam di hatiku ini."
"Apaan sih Rey gombal mulu kamu ah!"
Anggara dan Jova menepuk keningnya masing-masing dengan pelan pada aksi gombal konyolnya Reyhan yang mengembang kembali sedangkan Freya mengembungkan kedua pipinya kesal terhadap sahabat resenya yang sedang tersenyum miring jahil bersama menaikkan satu alisnya sok tampan.
"Hahahaha bisa aja lo Rey sumpah, oh iye ngomong-ngomong kantin sebelah mana sih? Gue laper bet pengen makan pop mie."
"Di lantai satu Ka, mau kesana lo?" tanya Reyhan.
"Ho'oh gak bisa nahan laper gue soalnya, yaudah deh gue mau kesana dulu."
"Weh mau ikut!" serempak Andra, Rangga, Lala, Rena, Zara.
"Oh oke."
"Woi Raka gue titip ye, pop mie kuah rasa kari ayam!" teriak Reyhan semangat.
"Ren! Gue titip juga ya pop mie kuah rasa ayam bawang campur bubuk pedasnya juga biar mantap, oke!" teriak Jova mengangkat satu tangannya di atas.
"Gak mau rasa ayam merica kah?" tanya Rena meledek.
"Hilang ingatan lo Serenong?! Gue gak suka merica anjay!"
"Iye tau iye, santai napa sih Bleng. Yaudah-yaudah gue beliin yang rasa ayam bawang."
"Hah?! Maksud lo, lo traktir gue nih?! Seriusan?!"
"Iya, tapi sekali aja nanti malah bablas kalau gue traktir lo setiap hari."
"Yeh sialan lo, tapi by the way thanks yak Rena. Lumayan duit gue gak bocor."
Rena mengacungkan jari jempolnya, sementara Lala menoleh ke Freya yang hanya diam sembari tersenyum.
"Freya juga mau pop mie nggak? Kalau mau biar aku beliin buat kamu yak," tawar Lala lembut.
__ADS_1
"Eh gak usah deh La, aku nggak mau ngerepotin kamu nanti uang kamu bisa habis kalau beliin aku pop mie."
"Halah gak apa-apa atuh namanya juga temen, kamu mau rasa apa cantik?"
"Eemm yaudah deh, aku mau pop mie kuah rasa soto saja hehehe."
"Nah gitu dong, oke nanti aku bawakan kesini yak cantikku."
"Makasih banget Lala."
"Tinky Winky, Dipsy, Lala, Poooo."
Reyhan menirukan suara nada karakter film kartun Teletubbies membuat Freya, Jova, Rena, Zara, Rangga, Andra, dan Raka tertawa berbahak-bahak sementara Anggara hanya tertawa kecil mendengar suara pasis Reyhan pada film kartun Teletubbies.
"REYHAN EDAN!!!"
"BAHAHAHAHAHA!! Lucu loh La, imut-imut gemoy kayak bantal guling gitu."
"Terus maksudmu aku bantal guling gitu?! Iya Rey?!"
"Wanjir ngamuk dong! Maap deh maap daripada kamu marah-marah mending sono gih makan pop mie hehehehe."
"Ngeselin banget dah, pengen aku masukin kamu ke blender!"
"Waduh sikopet dong?!"
"Bodo!"
Rangga terkekeh dengan menggeleng kepalanya lalu menatap Anggara. "Ngga lu mau rasa apa pop mie kuahnya?"
"Gak usah, gue gak laper."
"Harus makan pokoknya, lu mau hah selamanya di rawat rumah sakit?"
"Ya gak lah, mana sudi gue."
"Yaudah makanya lo harus makan, nah mau rasa apa pop mie-nya?"
"Kalau ada rasa baso."
"Nah sip dah kalau begitu. Yaudah kami kesana dulu ya nanti kalau udah selesai makan, pop mie buat kalian masing-masing kita bawakan kok."
"Tuh Ngga dapet perhatian dari kembaran lo," celetuk Reyhan nyengir.
"Hampir mirip!" ujar kesal Anggara dan Rangga bersamaan.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Jam pukul 11.00 menjelang siang, di dalam kamar rawat no 208 nampak hening cipta tak ada yang mengeluarkan obrolan pembicaraan semuanya sibuk dalam kegiatan masing-masing.
Sampai pada ujungnya Reyhan membuka suara tentunya ingin membicarakan serius tentang sesuatu yang pasti.
"Anggara, Freya, Jova."
"Iya apa?" tanya kompak ketiga sahabatnya.
"Hmmm gue mau ngomong serius sekaligus mau nunjukin video sesuatu sama kalian."
"Soal apa?" tanya Anggara sedikit menyongsong badannya menghadap Reyhan.
"Ini tentang soal bangunan Villa puncak yang ada di hutan Bogor."
"Eh kenapa-kenapa??" Jova penasaran.
Reyhan beranjak dari kursi sofa lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana jeans bagian belakang, kemudian pemuda tersebut membuka aplikasi Youtube dan mulai mengetik di keyboard pada search di aplikasi Youtube.
"Kamu lagi ngetik apaan Rey?" tanya Freya memiringkan kepala.
"Entar kamu juga bakal tau kok aku ngetik apaan," jawab Reyhan tanpa terlepas dari pandangan di layar handphonenya.
Reyhan memutarkan sebuah satu video yang menggambarkan suatu bangunan Villa letak di hutan puncak Bogor, sembari itu Reyhan majukan langkah mendekati Anggara dan menunjukkannya bersama Freya dan juga Jova.
"Ada apa? Lo lihat sesuatu di dalam video itu??"
Reyhan pause video tersebut. "Darimana lo bisa tau??"
"Gue asal nebak aja."
Reyhan menganggukkan kepala lalu kembali memutar video tersebut, baru saja beberapa durasi Reyhan langsung mempercepat durasi video hingga ke durasi 3:37 yang mana disaat waktu itu Reyhan melihat penampakan wanita.
"Di tonton semua dulu napa sih Nyuk! Asal cepet-cepet bae!" protes Jova.
"Di kasih cepet saja Rey, aku ngeri banget lihat merah-merah seperti darah daging yang di sensor itu."
"Iya Frey tenang, udah aku cepetin kok .. oh iya Ngga lo lihat sesuatu nggak di video ini."
Anggara memperhatikan video di ponsel Reyhan dengan sungguh-sungguh. Yang paling Anggara perhatikan adalah bangunan Villanya bukan polisi yang menyelidiki kematian banyaknya korban tewas mengenaskan disana.
Anggara yang terlalu mengamati bangunan Villa tersebut, seketika membuat kepala Anggara menjadi sedikit pusing yang artinya adalah selain Villa itu terbengkalai, di dalamnya menyimpan banyak penuh mistik mengerikan.
"Anggara mata kamu kenapa kedap-kedip begitu??" tanya sahabat kecilnya yang ada tepat di sisinya.
"Biasa, kepalaku rada pusing dikit karna ngeliat bangunan Villa yang ada di video HP-nya Reyhan."
"Astaga! Yaudah gak usah dilihat lagi!"
Freya dengan cepat menutup kedua mata Anggara bersama satu telapak tangan miliknya. Reyhan dan Jova yang melihatnya pun menahan tawanya pada sikap tingkah laku Freya terhadap Anggara.
Reyhan segera menghentikan durasi video tersebut, sedangkan Anggara dengan tak kasar meraih telapak tangan Freya yang menutup kedua matanya lalu pemuda itu mencekalnya kemudian menurunkannya perlahan.
"Gak usah khawatir, gak begitu parah kok pusing ku."
"Yakin beneran? Kamu tuh soalnya hobi banget bikin orang khawatir!" jengkel Freya.
"Ehem! Aduhai mimpi apa sih gue semalem bisa melihat dua sahabat gue yang so sweet ini, apa gue lagi di dunia romansa kali ya."
Anggara menatap tajam Reyhan selepas itu tatapan Anggara melunak kembali. "Jadi maksud lo apa Rey nunjukin video itu? Menurut lo mana yang buat lo curiga?"
Reyhan menggaruk tengkuknya. "Enggak curiga sih Ngga, cuman gue aneh aja sama sosok wanita yang ada di semak-semak deket pohon gede ini. Dia itu kayak lagi pantau polisi-polisi yang mengecek banyaknya korban telah tewas ngenes."
"Daerah semak-semak deket pohon gede mana? Maksud lo pekarangan Villa?"
"Hm'em, coba deh lo lihat yang gue tuding."
Reyhan kembali memutar video tersebut pada durasi yang masih tetap sama, sahabat friendly-nya Anggara lantas itu menuding dengan jari telunjuknya pada sebuah semak-semak belukar depan pohon besar yang menjulang tinggi.
"Gue pas nonton video ini di laptop, gue sempet banget lihat penampakan sosok wanita sama persis arwah wanita yang meneror lo melalui mata batin."
"J-jangan-jangan arwah wanita sekaligus arwah lelaki seumur anak kuliahan yang di musnah sama Reyhan pake potret foto HP-nya Rangga?!"
"Ya, memang itu dia. Aku yakin aku nggak halusinasi ataupun berimajinasi, karena aku jelas ngelihatnya sebelum kita dan temen-temen kita pergi ke Villa pembawa malapetaka itu."
"Kenapa disaat itu lo gak ngomong sama gue?"
"Nah itu Ngga, sumpah bego banget gue .. gara-gara ketakutan sampe lompat ke kasur, gue lupa ngasih tau lo soal video ini Bro! Mendadak Amnesia lagi kalau lo Indigo, turun ke bawah tangga aja takut gimana keluar rumah. Anjir serem!"
"Penakut banget sih kamu Nyuk? Cuman video doang aja takut bener."
"Eh Va, pas aku tinggal buka grup WA sama main game di HP itu wanita gak ada di dalem Video! Aku puter ulang juga gak berpengaruh lho!"
"Jangan gitulah Va, Reyhan wajar kalau takut kamu tau sendiri kan Reyhan itu paling gak tahan yang namanya setan-setan yang auranya gelap bahkan Reyhan pernah demam berhari-hari pas masih SMP parahnya lagi gak masuk sekolah satu minggu."
"Wah masih inget banget ya kamu Frey, itu kalian tau-tau aku gak masuk sekolah langsung auto jenguk kan pas pulang."
"Yups. Tapi semoga itu gak terulang lagi deh Rey, kasian kamu-nya kalau demam terus."
"Ehehehe iya Neng Frey, lagian itu kan pas aku SMP demamnya kalau SMA udah enggak pernah lagi." Reyhan menjawab dengan mengusap belakang kepalanya.
Pada kemudian Reyhan mengalihkan topik.
"Oh iya kenapa bangunan Villa itu nggak di hancurkan aja, biar gak memakan korban lagi? Ternyata pas gue telusuri kejadian-kejadian biang bangunan Villa itu banyak banget korban yang tewas dan yang se-pastinya remaja seumuran kita."
"Tapi biasanya kalau bangunan itu di robohkan, arwah-arwah itu bakal mencari si pelaku yang telah berani meruntuhkannya tepatnya lagi bakal ada dendam besar di antara mereka yang melekat banget di jalan tapak hutan Bogor ternama itu."
"Bukannya dua arwah antara ibu dan anak itu sudah hilang ya Ngga, tapi kenapa lo masih bilang disana ada arwah-arwah?"
"Selain mereka berdua, ada banyak korban-korban yang tewas menjadi arwah penasaran bergentayangan di seluruh hutan membahayakan nyawa itu. Entah itu bayi, balita, anak, remaja, dewasa, tua pastinya banyak jenisnya apalagi aura hutannya gelap banget bahkan pasti mereka mengincar manusia yang mempunyai aura kuat ataupun energinya, itu yang saat gue dalami masuk ke dalem gang hutan Bogor pertama kalinya."
Freya, Jova, dan Reyhan terdiam tak bisa berkata apa-apa setelah mendengar untaian kata dari Anggara yang sang anak Indigo tajam tersebut.
Cklek !
Pintu dibuka oleh seseorang dan munculah dari luar pintu mereka menangkap sosok kedua orangtuanya Anggara yang tersenyum sumringah di wajahnya masing-masing.
"Eh Tante, Om .. gimana tadi udah enakan berduaan-nya? tanya Jova.
"Hahaha apaan sih kamu Nak, oh iya temen-temen kalian yang lain kemana? Kok cuman ada Nak Jova, Nak Freya, dan Nak Reyhan??"
"Ooohh mereka lagi di kantin Tan, makan pop mie .. nanti Jova, Freya, Anggara, sama Reyhan mau di bawakan pop mie juga kok. Baik banget mereka Tante tumben deh biasanya paling gak enak hati kalau makan gratis."
"Ya ampun kamu ini ya Nak, bikin Tante tertawa saja deh."
"Oh pantesan, kirain yang jalan bareng lainnya itu si Anggara loh. Om salah orang berarti."
"Yaelah Om, masa bisa salah orang sih. Tapi anak Om juga hampir mirip si Rangga soalnya jadi bisa salah kira," kata Reyhan terkekeh.
"Memangnya Om sama Tante di kantin ngapain saja?" tanya Freya.
"Hehehe makan-makan dong, beneran deh di sana tuh makanannya serba komplit banget. Gak usah di heran kan lagi kalau banyak pengunjung rumah sakit ini ramai di kantin. Ya kan Ma?"
"Iya Ayah."
"Memang iya sih Om, fasilitas komplitnya seperti rumah sakit Wijaya di kota Jakarta."
"Reyhan tahu dalam rumah sakit Wijaya berarti Reyhan pernah di rawat rumah sakit di sana dong??"
"Eh enggak Tan! Sakit sih sakit tapi Reyhan gak pernah sampe masuk rumah sakit hehehe. Waktu itu Reyhan ke sana buat jenguk almarhum opa-nya Reyhan di detik-detik sebelum almarhum opa meninggal dunia."
"O-oh iya-iya Tante tahu kok, sudah ya nggak usah dibahas lagi."
Agra tersenyum lalu mulai mengalihkan topik agar Reyhan tak terhanyut kesedihan atas meninggalnya opanya semenjak 4 tahun yang lalu.
"Eh tadi calon pacarnya Anggara ngapain aja tuh? Buat adegan kepolosan lagi nggak nih?" tanya Agra.
"Hah? Calon pacarnya Anggara? Maksudnya Ayah gimana? Anggara nggak ngerti."
"Ya Allah Ngga masa gak ngerti sih, cobalah peka dikit. Mana kepekaan-mu? Kok malah hilang hahaha," ledek sang ayah.
"Maksudnya Om Agra si Freya ya Om?"
Freya begitu amat terkejut sama dengan Anggara juga, mereka berdua saling menatap Jova bersama mata terbelalak lebarnya.
Reyhan seketika teringat pada kejadian mencengangkan yang berdampak Reyhan sampai tersedak siomay di kantin SMA Galaxy Admara, tak segan-segan pemuda tukang nakal ini mengeluarkan ponselnya dan membuka foto galeri.
"Om, Tante kalian pasti bakal kaget nih sama foto yang akan Reyhan tunjukan. Sumpah bakal ngakak deh."
"Nih Tan, Om." Reyhan membalikkan ponsel layarnya ke semuanya. "Kemarin pas di halte berangkat ke sekolah bersama Kyra, Freya sempet di hampiri cowok sekaligus mau jadi pacarnya Freya. Dan jurus andalannya agar Freya gak jadi di pacari sama cowok anak sekolah lain, Freya nunjukin foto ini dan bilangnya kalau Anggara itu kekasihnya."
Anggara melongo dengan mata mengerjapkan beberapa kali, dengan tercengang Anggara menatap Freya yang sama terkejutnya.
"Huaaa di bongkaaaarr!!" teriak Freya dengan merengek kesal.
"F-frey, kamu mau jadi pacar aku?" tanya Angga memastikan.
Freya menghadap ke Anggara. "Eh enggak Ngga! Jangan salah paham dulu, a-aku bisa jelasin kok maksudnya bukan seperti itu. Aku gak mau jadi pacarnya Rain yang sikapnya gak formal apalagi rambutnya kayak anak punk."
"Heh Freya! Sumpah demi apa kamu langsung nunjukin foto Anggara dan bilang kalau Anggara pacarmu?! Kamu berniat sendiri kah?!" kejut Jova.
"Ih enggak lah! Aku di suruh sama ayahku buat jaga-jaga kalau ada cowok macem-macem. Barangkali aku ketemu sama cowok anak SMA yang godain aku pas aku sama Anggara berangkat ke sekolah bareng-bareng naik bis."
Anggara menepuk keningnya pelan. "Haduh sahabat gue polos banget."
"Maafin aku Ngga! Aku udah lancang banget padahal aku cuman berbohong sama Rain. Please yah jangan marah!!"
"Hahahaha ngapain aku marah? Justru aku geli banget sama sifatmu yang polos banget. Astaghfirullah, kamu kenapa bisa se-polos ini sih Frey? Bener dah kamu buat aku tertawa begini hahaha!"
"Ih lepas banget tawamu! Kamu juga Rey, kenapa di bongkarin sih?! Kan aku udah bilang jangan bilang sama Anggara!"
"Loh-loh tapikan Anggara gak marah malahan tertawa tuh seolah hiburannya sahabat kecilmu hehehehe."
Freya menyongsong badannya ke Reyhan dengan wajah kesal namun masih terlihat cantiknya. "Reyhan ngeselin! Reyhan ngeselin! Reyhan ngeseliiinn!!" Freya memukul bahu Reyhan dengan kepalan kedua tangannya saling bergiliran.
"Adudududuh ampun! Iya-iya aku minta maaf! Sumpah njir jangan gebuk masal aku dong hahahahaha!!"
Tok...
Tok...
Tok...
Tok...
Suara ketukan pintu dari luar membuat Freya terhenti memukul bahu Reyhan gemas, sementara Agra berjalan melangkah untuk membukakan pintu.
Cklek !
"Eh selamat siang Dok, mari silahkan masuk."
Agra mempersilahkan masuk yang ternyata itu adalah dokter Ello, semuanya yang ada di dalam kamar rawat terdiam dan menatap dokter Ello melangkah masuk. Beliau nampak mengukirkan senyumannya di wajah.
"Assalamualaikum Anggara."
"Waalaikumsalam Dokter," jawab Anggara sopan.
"Pada siang hari ini, Dokter ingin memberikan kabar baik untuk Anggara bahwa mulai besok hari minggu Anggara telah di perbolehkan pulang ya."
Semuanya yang mendengar termasuk Anggara terkejut sekaligus senang mendengar kabar baik dari dokter Ello.
"Apakah Dokter serius?!"
"Iya Ibu, saya serius. Selamat ya Anggara, semoga secepatnya Anggara bisa sembuh dan mampu menjalankan aktivitas seperti biasanya."
Anggara tersenyum. "Baik, terimakasih sekali Dokter."
"Akhirnya sekian lamanya gue berharap, sahabat gue boleh pulaaangg!!" Reyhan memeluk Anggara erat, nampak wajah Reyhan begitu gembira sekali.
"R-rey ada dokter woi." Nada Anggara sedikit menekan namun lirih.
Sang dokter terkekeh dengan menggelengkan kepalanya pelan. "Oh iya, mohon di ingat ya Anggara dan juga orangtuanya Anggara, obatnya diminum disaat sakit kepalanya kambuh dan yang paling penting jika sudah sakit tolong segera obatnya diminum jangan di tunda-tunda takutnya malah terjadi apa-apa, paham kan Anggara?"
"I-iya Dok, saya paham."
"Terimakasih Anggara, kalau begitu dokter permisi ya. Mari Pak, Bu, Nak .. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," respon jawab salam bersamaan para mereka.
Dokter Ello dengan tersenyum ramah melangkah keluar dari kamar rawat dan menutup pintu kamar rawat no 208 usai berada di luar.
Freya yang sangat senang sekali mendengar bahwa sahabat kecilnya telah di perbolehkan pulang besok dari rumah sakit, gadis polos tersebut mengangkat tangan kanan Anggara dan naik turunkan mode cepat.
"Horeeee Anggara besok udah boleh pulang! Ih seneng banget aku!"
"Astaga, seneng banget kamu." Sahabat kecilnya yang di perlakukan seperti itu tertawa kecil.
"Eh tapi kok ..." Freya baru sadar dan merasakan bahwa tangan milik Anggara lumayan hangat.
"Ih kok tanganmu agak anget gini sih Ngga??" Freya menangkup wajah Anggara dengan kedua tangannya. "Tuh kan agak hangat! Demam nih pasti!"
Anggara menempelkan jari telunjuknya di bibir tipis Freya. "Sssst ... hei jangan risau, yang penting kan besok aku udah di bolehin pulang."
Freya menganggukkan kepalanya pelan dengan tatapan melas dan si Anggara tersenyum lebar semeskipun di bibirnya masih terlihat agak pucat.
"Duh aduh perhatian banget sih sama Anggara, hmmm kayaknya sebentar lagi Ayah punya calon mantu nih."
"Gak, hanya sebatas sahabat!"
Anggara dan Freya saling menatap dikarenakan pengucapan mereka sangat sama begitupun nadanya. Freya kini begitu malu di ditertawakan oleh Andrana, Agra, Reyhan, dan Jova sementara Anggara nampak bingung pada situasi yang meledek dirinya dan juga Freya.
__ADS_1
Namun setelah demikian, Anggara dan Freya saling tersenyum dengan sedikit menyipitkan matanya membuat terkesan pemuda Introvert tersebut tampan begitupun gadis polos itu terkesan cantik.
INDIGO To Be Continued ›››