Indigo

Indigo
Chapter 134 | Pseudonym


__ADS_3

Entah berapa lama Angga mengalami hilang kesadaran karena akibat ulah perbuatan dari sosok hantu wanita titisan iblis berkebaya merah tersebut, kini dirinya berada di alam terbuka. Dimana di sekelilingnya hanya hamparan putih, entah ini ruang yang serba putih atau memang alam terbuka. Bak seperti di Surga.


Lelaki tampan tersebut yang masih bingung ia berada di tempat apa, mulai mengedarkan pandangannya. “Apa gue ada di Surga?”


Masih bingung setengah kaget, Angga mencoba melangkahkan kakinya untuk mencari tahu ia sebenarnya ada dimana. Tetapi baru beberapa langkah yang Angga gunakan, dirinya dipanggil oleh beberapa orang di belakangnya. Dengan segera, ia memutar dirinya ke belakang. Mulutnya yang sebelumnya bungkam, kini sedikit terbuka saat melihat ketiga sosok perempuan yang pernah meminta bantuan padanya.


Mereka bertiga melambaikan tangannya bahagia untuk menyapa Angga, dimana dari ujung atas hingga hingga bawah mereka terlihat penuh bercahaya. Apalagi pakaian ketiga siswi itu serba putih layaknya macam penghuni atas alias Surga.


“Kak Angga, kami di sini ingin berterimakasih kepada Kakak karena telah mau membantu kami bertiga untuk menemukan jasad kami yang dipendam dalam tanah. Berkat Kakak, jasad kami dimakamkan pada tempat yang sepantasnya,” kata Bunga.


Fani tersenyum lebar bangga usaha keberhasilan pemuda manusia Indigo SMA tersebut yang membuahkan jasanya. “Kami sangat lega karena kami tidak lagi terperangkap oleh keadaan dimana kami akan dijadikan anak buahnya nyonya Matyda sang arwah wanita yang berkuasa di sekolah Bakti Siswa. Kami sangat beruntung dan memang tidak sia-sia meminta pertolongan pada Kak Angga, karena kesolidan pasti kami bertiga bahwa hanya Kakak-lah yang sanggup menyelesaikan kasus kematian raga kami.”


Jesika dengan senyum sumringah cerahnya yang mengembang di wajahnya, kedua telapak tangan saling ia tautkan lalu Jesika tempel di dada sentralnya. “Ternyata selain ganteng, hatinya Kak Angga juga sebaik malaikat, hihi!”


Angga hanya mengulas senyuman tipisnya dengan menatap arwah mereka bertiga bersama tatapan lunak dan teduhnya dari jarak beberapa sentimeter. Kini sekarang, lagi-lagi Jesika, Fani, Bunga melambaikan satu tangannya ke atas untuk Angga.


“Kalian tenanglah di alam sana.”


Ketiga siswi yang berumur 12 tahun tersebut menganggukkan kepalanya antusias dengan senyuman yang semakin lebar. “Terimakasih, Kak Angga! Kami pamit, ya. Semoga Kakak di dunia baik-baik saja dan tercegah dari keburukan yang menimpa!”


Angga menganggukkan kepalanya pelan dengan mengamini ucapan ketiga arwah tersebut. Bunga, Fani, serta Jesika sekarang saling bergandengan tangan untuk pergi berlari ke belakang dengan semangat dan bahagia. Tak lupa tawa girang mereka bertiga yang sebentar lagi akan menikmati ketentraman di alam abadinya.


Angga yang berdiri di sana, memperhatikan punggung mereka bertiga dengan hati yang amat terenyuh dan lega karena bisa melihat ketiga makhluk gaib tersebut bahagia sejahtera yang sebelumnya di dunia merasa amat sengsara karena penderitaannya masing-masing. Tidak heran atau bingung pula, mereka bertiga tahu nama Angga karena yang namanya arwah mesti akan tahu identitas manusia siapapun walau tak diberitahu.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di dunia, Freya nampak tengah duduk di salah satu kursi bersama wajah gundah yang terpajang di paras muka cantiknya. Gadis polos tersebut yang rambutnya tetap tergerai terlihat halus bila dilihat atau dibelai, tengah tetap menanti setia kekasihnya yang terbaring lemah belum kunjung sadarkan diri di atas ranjang pasien.


Sampai detik kemudian, Freya menggembungkan kedua pipinya lalu mengempiskannya seraya menghembuskan napasnya. Jujur saja, sebenarnya gadis itu agak sebal pada sikapnya Angga yang selalu saja begitu. “Sudah jadi pacarku pun, kamu sama aja bikin aku khawatir mulu!”


“Kamu tahu, nggak? Entah lupa jam berapa aku nelpon kamu pas malem, yang angkat bukan kamu! Tapi malah Bapak petugas kebersihan sekolah SD Bakti Siswa yang angkat teleponku! Beliau bilang kalau kamu mau di bawa ke rumah sakit karena melihat kamu pingsan di belakang sekolah! Aku langsung panik, dong!” celoteh sungut Freya.


“Bisa enggak, sih?! Sekali saja jangan suka mengorbankan diri? Untung aja kamu dinyatakan baik-baik saja sama dokter, kalau nggak? Bagaimana dengan aku dan lainnya?!”


“Bangun, dong ...” Setelah puas memarahi Angga sang pacar yang belum siuman, Freya beralih memakai nada merengek untuk memintanya segera sadar. Bahkan gadis cantik Nirmala itu kini meletakkan kepalanya di atas dada kekasihnya dengan wajah cemberut sementara bibir bagian bawah Freya majukan.


Tiba-tiba saat pandangannya tengah memandang kantong cairan infus milik lelaki tampan tersebut yang masih terbaring lemah di atas ranjang pasien, hidung mancung Freya dicubit gemas oleh seseorang hingga membuat gadis manis itu mengaduh kesakitan.


“Aduh, sakit!”


Freya menggerutu sebal sampai tak sengaja menatap wajah pucat Angga. Seketika, kedua mata Freya saling terbelalak lebar dan melongo bahagia di saat melihat mata kekasihnya terbuka serta kini posisinya tengah memberikan senyum lemah padanya. Freya spontan menegakkan kepalanya dan badannya dengan menatap lelaki tampan tersebut yang mengenakan baju biru muda pasiennya.


Tapi detik kemudian mata Freya berkaca-kaca dengan menatap wajah kekasihnya yang telah sadarkan diri. “Gak sia-sia aku marahin kamu ...”


“Dasar, ih! Suka bikin orang takut!“ omel Freya lagi seraya kembali meletakkan kepalanya di atas dada pemuda tampan tersebut tanpa berpaling menatapnya.


Dengan posisi kedua mata yang hanya terbuka setengah tak sepenuhnya, Angga membuka mulutnya sangat tipis lalu tangan kanannya mulai ia angkat untuk membelai-belai lembut nan sayang kepalanya Freya. “Kenapa ...?”


Freya menggembungkan kedua pipinya kesal sambil melepaskan tangan Angga dari belakang kepalanya lalu setelah itu mengangkat kepalanya untuk menegakkan badannya. “Kamu tanya kenapa?! Kamu gak lihat kamu sekarang ini lagi dimana??”


“Iya. Aku tahu, kok ... rumah sakit, kan?” tanya lemah Angga tanpa memudarkan sunggingan senyuman di bibir yang lumayan berwarna pucat.


“Tuh, tau! Masa tanya kenapa?!” sebal Freya, namun karena kekesalannya terhadap lelaki tersebut, hal itu membuat wajah Freya justru makin menggemaskan di mata Angga.


Angga hanya menunjukkan bibir yang nyengir mendengar nada Freya yang agak tinggi karena masih sebal karena sikapnya tersebut. Tapi setelah itu saat Angga memutuskan untuk kembali diam karena masih merasakan pening di kepalanya, rasa sakit di leher akibat dicekik oleh Matyda kembali nyeri membuat Angga mengeluarkan suara 'akh' secara lirih sambil memegang leher depannya.


Freya menaikkan kedua alisnya saat melihat kekasihnya nampak sedikit kesakitan apalagi sampai memegang lehernya yang masih terlihat memerah semu. “Eh? Leher kamu sakit?!”


“Nggak apa-apa, kok ...”


“Nggak apa-apa gimana kalau kamu kayak jelas kesakitan begitu? Jangan sok kuat, bilang aja sakit!” protes Freya.


“Aku panggil dokter, ya?” Himbauan pertanyaan Freya yang ingin menolong Angga, dijawab pacarnya dengan gelengan kepala lambat.


“Ini cuman sakit nyeri biasa saja. Jadi kamu nggak perlu panggil dokter buat aku. Lagian, kamu risau amat ...”


Mata Freya melotot pada ucapan santai dari Angga. “Risau amat? Anggara! Aku tuh tadi malem panik, tau pas nelpon kamu dan di situ yang angkat bukan kamu, tapi satu petugas kebersihan sekolah Bakti Siswa! Beliau bilang kalau kamu bakal dibawa ke rumah sakit Wijaya karena kondisi kamu lemah gak sadarkan diri di sana! Mananya coba aku gak risau sebagai pacarmu, hah ...?!”


Bibir Angga terbungkam seketika mendengar jawaban kekasihnya yang meledak memarahinya secara habis-habisan. Lalu daripada hanya diam tak menggubris, dirinya lebih baik melontarkan pertanyaan dengan nada hati-hatinya, “Kamu yang kenapa malam-malam telepon aku ...?”


“Aku dari awal sebelum kamu pergi tanpa bilang sama aku, firasatku udah gak enak. Apalagi mataku lihat motor kamu yang terparkir di samping teras rumah gak ada. Itu artinya kamu pergi menuruti permintaan mereka setelah kamu mempertimbangkan,” ketus Freya.


Angga mengubah senyumannya menjadi hambar. “Kamu marah padaku?”


“Sedikit, sih!”


“Sedikit apa kalau kamu sedari tadi ngomel-ngomel mulu sampai membuat telingaku pengang?” tanya Angga yang malah justru buat Freya mendengus.


“Enak banget ngomongnya?! Nih, ya aku nasehatin. Dulu kan kamu yang sering nasehatin aku kayak anak kecil, jadi aku juga perlu ngasih kamu nasehat! Kamu bisa nggak, sih sekali ini aja jangan sering mengorbankan diri lagi?! Iya aku tau tujuanmu untuk membantu menyelesaikan masalah, tapi seenggaknya kamu jangan sampai terluka!”


“Lebih baik aku terluka daripada masalah di sekolah itu semakin panjang berabe kacau. Jika kamu ingin tahu, di sana ada sosok wanita yang paling berkuasa di bangunan sekolahku. Wanita arwah itu suka sekali menginginkan tumbal dari seluruh siswa-siswi yang jiwanya lemah, penakut, dan sebagainya. Kalau saja aku malah mengambil keputusan yang salah, dimana aku menolak permintaan tiga hantu siswi kelas enam itu, mereka akan terjebak di sekolah itu selamanya serta menjadi anak buahnya sosok wanita yang aku kasih tahu tadi.”


Freya yang saking terkejut dan tak percaya pada lontar ucapan panjang lebar Angga yang menjelaskannya, sampai berkedip-kedip. “Yang bener, Ngga?! Arwah wanita apa yang sampai bisa menguasai bangunan sekolah Bakti Siswa?”


Angga menghela napasnya panjang. “Bisa dibilang setengah iblis atau titisan dari iblis. Percaya?”


“Ehm, percaya sih percaya. Karena kamu ngomongnya pake kejujuran. Ah ...! Yasudah, lah kalau memang begitu. Yang penting kamu masih selamat- eh apa jangan-jangan yang buat kamu pingsan tadi malam, sosok wanita titisan iblis itu?!”


Angga menganggukkan kepalanya jujur. “Benar. Tapi kamu tenang saja, dengan aku yang memiliki kemampuan ini sejak lahir, dia nggak akan bisa menjadikan aku sebagai tumbalnya. Tepatnya pasti dan tentunya, wanita itu hanya melukai aku secara fisik.”


“Jahat banget!” rengek Freya.


Angga terkekeh melihat kekesalan kekasihnya yang dari raut wajahnya sudah tergambar jelas di sana. Lelaki tampan tersebut meraih pipi kanan mulus Freya untuk mengelusnya dengan sayang nan lembut. “Sudah, jangan kesel begitu. Aku sudah baik-baik saja, kok.”

__ADS_1


Freya tersenyum lebar hingga kedua matanya kompak saling menyipit, bahkan saat pipi halusnya disentuh oleh Angga yang telah satu minggu menjadi kekasihnya, Freya merasakan begitu nyaman di sisinya Angga. “Oh iya, Ngga. Aku mau ngasih tau sama kamu.”


“Mau ngasih tahu apa?” tanya Angga seraya melepaskan tangannya yang mengelus lembut penuh kasih sayang dari pipinya Freya.


“Hari ini Jova sama Reyhan bakal dateng ke rumah sakit buat jenguk kamu. Mungkin mereka lagi OTW (On The Way) ke sini, deh.”


Angga menganggukkan kepalanya cuma satu kali, lalu dirinya mulai membangkitkan tubuhnya dari baring untuk berposisi menjadi duduk. “Kamu ternyata tahu singkatan dari OTW itu apa.”


“Ya, dong! Walaupun aku sering banget dikatain anak polos sama kamu dan juga lainnya, aku tetep tau kepanjangan kata itu apa.”


Angga menaikkan satu alisnya dengan menarik satu sudut bibirnya untuk siap meledek pacarnya yang sedang tersenyum sumringah bangga pada diri sendiri. “Haha, tapi waktu Jumat minggu lalu aja kamu gak tahu singkatan dari PJ.”


“Apaan, sih? Aku tau kok. Pajak Jadian, kan?”


“Kamu nggak akan tahu PJ itu apa kalau aku sendiri nggak kasih tahu kamu juga saat itu,” respon Angga yang mukanya memang terkesan sedikit jahil.


“Ya, deh! Yang jalan otaknya persis kayak tol terus kepintaran otaknya kayak profesor! Aku, mah gak ada apa-apanya,” jutek Freya lalu mengerucutkan bibirnya tajam.


Angga yang mendengarnya, sampai menggelengkan kepalanya beberapa kali pada tingkah bicaranya gadis lugu tersebut yang mukanya terlihat cemberut. Tangan Angga terangkat untuk mengusap-usap ujung atas kepala Freya. “Jangan bilang gitu, kamu ada istimewanya, kok.”


“Ada istimewanya? Kira-kira apaan, tuh?” tanya penasaran Freya dengan terus menatap wajah aura hangatnya Angga.


Angga tersenyum misterius. “Istimewa kamu ada di dalam hatiku, Sayangku yang paling cantik.”


Mata Freya auto terbelalak lebar dengan posisi bibir membungkam. Kedua pipinya mendadak menjadi blushing merah merona akibat ungkapannya Angga yang menampilkan senyuman misteriusnya, tanpa ada rasa malunya sama sekali. Tatkala pula itu detak jantung milik Freya yang berdetak normal kini menjadi berdetak gak karuan batas dari normal.


“Kenapa senyam-senyum begitu?!” tanya Freya agak menyentak dengan kedua pipi yang masih semburat merah semu.


“Kamu kalau lagi malu terlihat lucu dipandang. Kamu salting (Salah tingkah), ya aku ngomong seperti itu tadi? Ngaku saja.”


“Apaan, sih?! Kamu nyebelin deh, akhir-akhir ini.” Freya kemudian mendengus menatap sebal kekasihnya. “Kamu duduk gitu, emangnya kepala kamu udah gak pusing?”


Angga mengangkat salah satu tangannya lalu mulai menyentuh tengkuknya dengan kepala yang sedikit ia miringkan. “Sebenarnya masih. Tapi pusingnya gak seperti yang sebelumnya, mungkin karena aku terlalu banyak ngobrol sama kamu.”


“Berarti definisi aku obat kamu, dong?” ujar Freya percaya diri dengan tertawa.


Angga yang melihat kekasihnya tertawa lumayan kencang karena atas kepercayaan dirinya sebagai penyembuhnya, ikut tertawa namun pelan. Sampai tiba-tiba, tawa mereka kompak berhenti saat mendengar suara ketukan pintu kamar rawat dari luar. Hingga kemudian, pintu tersebut dibuka oleh seseorang pria yang mengenakan kemeja kotak-kotak kuning dengan dilapisi jas hitam.


Tak hanya pria itu saja yang masuk ke dalam ruang perawatan Angga, tetapi ada beberapa seseorang lagi yang masuk bersama pakaian hitam. Membuat Freya yang menatap mereka satu persatu amat bingung mengapa mereka semua datang di mari.


“Eh, dua bapak ini kan yang tadi malam bawa Angga ke rumah sakit? Mau apa ya dateng ke sini? Oh, atau mau jenguk kali, ya?” kemam Freya menatap pak Tian dan pak Danu yang sedang tersenyum begitupun dengan lainnya.


Angga melirikkan bola matanya ke arah Freya yang usai bergumam dengan memandangi kedua pria paruh baya tersebut yang usianya kisaran 50-an tahun. Kemudian setelah 3 detik lelaki tampan tersebut melirik pacarnya hanya cuma sekedar bola mata, Angga beralih menatap mereka semua bersama tampang yang menjadi dingin, bahkan bibirnya menjadi bungkam dan bisu tak mengeluarkan suara.


“Pak, saya mengantarkan Bapak ke sini karena saya ingin menunjukkan anak muda ini yang telah menemukan tiga jasad murid siswi Bapak yang duduk di bangku kelas enam,” tunjuk sopan pak Tian dengan bentangan tangan tanpa jari telunjuk yang menuding namun telapak tangan nang terbuka untuk sang guru pria wali kelas.


Sepasang kekasih itu hanya diam saja seperti patung tanpa muka berpaling dari mereka, apalagi guru wali kelas enam yang mengenakan jas hitam rapi tersebut. Setelah melemparkan senyuman pada pak Tian, guru pria tersebut menatap Angga yang keadaannya sedang duduk di atas ranjang pasien.


“Apakah benar, kamu yang telah menemukan jasad murid saya?” tanya beliau.


Angga lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Karena dirinya merasa tidak enak dan tidak nyaman memandang wajah sosok aura beliau yang telah mengucapkan terimakasih padanya. Sementara Freya tersenyum manis menatap beliau.


“Perkenalkan nama saya adalah Hendrik Cayapata Gunawan sang guru wali kelas enam di sekolah SD Bakti Siswa. Dan jika saya boleh tahu, siapa nama kamu, Nak?” tanya lembut guru itu dengan masih menampilkan sunggingan senyum untuk pemuda Indigo tersebut.


Angga menahan jawabannya untuk ia keluarkan buat memberi tahu identitas namanya. 'Hendrik Cayapata Gunawan' itu adalah guru wali kelasnya dahulu dimana beliau suka melakukan kekerasan fisik pada Angga, karena menganggapnya sebagai murid tidak waras dan keterbelakangan. Angga menghela napasnya panjang, sedangkan Freya menoleh ke pacarnya yang tidak segera menanggapi beliau.


“Nama saya Gibran Hadinata Alfahrezi,” jawab Angga bohong pada pak Hendrik.


Sontak saja Freya langsung kaget mendengar responnya Angga yang memakai nama palsu. Tanpa menanyakan kepada sang kekasih pacar, Freya langsung menanya diri sendiri di dalam lubuk hatinya, ‘Lah? Kok Gibran Hadinata Alfahrezi? Kan namanya dia Anggara Vincent Kavindra. Wah, ini ceritanya si pacarku lagi gunain nama samaran.’


“Oh, namamu Gibran Hadinata Alfahrezi? Maaf, Nak saya kira kamu adalah murid saya yang dulu pernah bersekolah di sana dan sekarang telah lulus. Namanya yaitu Anggara Vincent Kavindra, karena jika dilihat betul-betul, wajahmu terlihat mirip anak itu bagi saya.”


“Hehe. Iya, saya kira juga kamu Angga yang memiliki keterbelakangan mental itu. Karena berdasarkan wajah, rupamu seperti mirip anak itu,” timpal pak Danu.


Freya menautkan kedua alisnya dengan tampang tak percaya di segala ucapan pak Hendrik dan pak Danu, sementara Angga yang menyimak pembicaraan lontar kedua pria itu hanya menghela napasnya dengan muka pasrahnya bahkan pandangannya menunduk ke bawah yang mana di bawah terdapat selimut tebal yang menghangatkan tubuhnya.


‘Apa yang beliau bicarakan?! Angga mempunyai keterbelakangan mental?! Sudah ngaco, kah?! Gak mungkin, lah pacarku punya begituan !’ murka Freya sangat tak terima Angga dikatakan seperti itu.


“Benar. Walau saat itu yang saya lihat dia masih SD, dan pastinya telah dewasa seperti kalian, tetapi tidak tahu juga bagaimana dengan keadaan jiwa mentalnya yang sakit itu,” tutur pak Hendrik tanpa ada rasa ragu-ragu di hati mengucapkan kalimat panjang tersebut.


Angga memejamkan matanya dengan lumayan merapatkan bibirnya yang rada pucat akibat serangan dari wanita sosok arwah titisan iblis itu yang menguasai bangunan SD Bakti Siswa. ‘Anda terang-terangan sekali bertutur kata seperti apa yang beliau ucapkan barusan. Apalagi sepertinya anda tidak bisa melupakan tragedi kisah itu pada murid yang anda anggap sebagai sampah, pembawa maksiat, dan juga begitupun anak murid buangan.’


‘Kenapa guru itu bisa mengatakan Angga seperti itu? Apakah kata kalimat sopan beliau sudah benar dan ada bukti kalau Angga mengidap keterbelakangan mental? SD saja Angga mental jiwanya oke-oke, gak seperti yang mereka kira. Apa ini sebuah hinaan untuk pacarku? Dimana dia di sana dulu kala selalu mendapatkan perundingan sama diperlakukan secara nggak senonoh?’ batin Freya panjang lebar dengan kedua mata berkaca-kaca.


“Jika Bapak boleh tanya, yang di sebelahmu siapa? Neng-nya cantik banget,” tanya dan puji pak Tian lalu tersenyum begitu ramah pada gadis Nirmala tersebut yang memiliki rambut hitam panjang legam sepunggung.


Angga membuka matanya balik lalu mendongakkan kepalanya ke arah pak Tian yang bertanya kepadanya. Bersama masih tampang dingin, ia menghembuskan napasnya. “Cahaya mata saya.”


Pak Tian yang mempunyai wajah keriputnya karena telah tua, menyusutkan keningnya tak mengerti pada jawaban Angga yang merasa pemuda Cool tampan itu hanya memberikan tanggapan yang setengah. “Cahaya mata? Bapak gak ngerti atas jawaban Mas-nya.”


“Pacar!” sarkas pak Danu dengan penekanan nada seraya menyiku kencang lengan teman sebayanya.


“Aduh! Ini sakit banget lho, Pak. Emangnya tangan saya samsak tinju?! Lagian, saya mana ngerti cahaya mata itu artinya apa. Mas-nya bisa saja buat saya mumet lima keliling,” protes pak Tian.


Angga membentuk senyuman tipis di bibirnya kemudian mengembalikan posisi bentuk bibir pada semula. Ya, jika Angga lihat secara mata batin, pak Tian mempunyai aura yang cukup baik yaitu aura kuning. Aura yang mana cenderung memiliki arti dan watak ramah, ceria, serta humoris. Beda jika petugas kebersihan sekolah dulu yang pernah bekerja bersama pak Danu, beliau memiliki aura jahat ialah warna hitam. Tetapi sekarang telah lama menjadi Almarhum sebab dahulu saat 2 bulan yang lalu, beliau mengalami kecelakaan maut nang merenggang nyawanya seketika.


Pak Hendrik yang selaku wali kelas enam dari sekolah Bakti Siswa tersenyum untuk buat berpamitan kepada Angga serta Freya. “Kalau begitu, saya, pak Danu, dan juga pak Tian pamit, ya. Sepertinya kami sudah telah salah karena mengganggu waktu istirahatmu di sini.”


“Sekali lagi, saya ingin berterimakasih sangat padamu karena telah menemukan ketiga jasad anak murid saya.”


Angga hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa menjawab satu katapun yang keluar dari mulutnya. Setelah mereka bertiga berpamitan pergi, sekarang ketiga pria paruh baya tersebut telah meninggalkan ruang rawat no 111 milik Angga.


Waktu tengah menatap pintu kamar rawat yang telah tertutup, tiba-tiba saja kepalanya seperti dihantam oleh batu dengan sangat cukup keras. Hal tersebut karena Angga tak sanggup menahan kesakitan yang terjadi di kepalanya apalagi kini ditambah bagian kepala miliknya seakan dipukul oleh palu berkali-kali, lelaki Indigo tersebut berteriak dengan mencengkram rambutnya erat.

__ADS_1


Freya dengan panik langsung cepat berdiri sampai membuat kursinya terdorong agak kencang ke belakang. “Sakit-mu kambuh lagi, ya?!”


Setelah menggenggam lengan tangan kanan Angga yang merupakan kekasihnya, Freya hendak akan mengambilkan obatnya Angga segera di atas meja nakas. “S-sebentar, ya aku ambilin obatnya dulu! Tolong tahan bentar, oke?!”


Dengan gesit, kedua tangan Freya mengambil bungkusan strip obat lelaki tersebut yang terdengar masih tertatih-tatih memegang kepalanya. Gadis cantik itu yang hatinya peduli pada Angga, mulai cepat-cepat menyobek strip obat pil tersebut untuk mengeluarkan pil itu dari bungkusan. Setelah berhasil mengambilnya, tangan satunya mengangkat gelas air putih.


Freya melepaskan tangan Angga yang mencengkram rambutnya lalu lekas memberikan obat pil putih ukuran kecil pada kekasihnya. “Ayo langsung di minum obatnya!”


Dengan gerakan tangan yang gemetar, Angga memasukkan obat pil itu ke dalam mulutnya lalu segera meneguk air putihnya untuk membantu mendorong obat pereda sakit kepala ke dalam tubuhnya. Freya langsung dengan peka nan tanggap, mengambil kembali gelas tersebut dari tangan lemas lelaki tampan itu.


Usai menaruh gelas di atas meja nakas, Freya memutar tubuhnya dan melangkah sedikit mendekati Angga yang dari wajahnya sudah nampak jelas lemas begitupun juga pucat-nya bertambah. Tangan lembut Freya memegang bahu kiri kekasihnya dari belakang punggungnya. “Berbaring, yuk. Tubuh kamu udah keliatan lemes banget, nih.”


Angga hanya menuruti suruhan nada lemah lembutnya Freya, dan mulai menurunkan badannya ke kasur ranjang pasien untuk berbaring, secara dibantu oleh gadis manis tersebut yang sangat tulus padanya. Setelah ikut membaringkan tubuh lemah kekasihnya, Freya beralih menarik selimut tebalnya Angga hingga sampai batasan ulu hati.


“Frey ...”


“Hm? Kamu mau minta sesuatu?” tanya lembut Freya setelah menarik selimut tebal untuk Angga dan kini posisinya menatapnya dengan wajah hangat.


“Tolong jangan kamu hiraukan ucapan mereka berdua tadi, ya ...? Aku nggak mau kamu jadi kepikiran tentang hal kisah itu,” pinta Angga lemah.


Freya terdiam sebentar bersama membungkamkan bibirnya dengan mengubah ekspresi raut wajahnya jadi gundah. Gadis tersebut menghela napasnya lalu menarik kedua sudut bibirnya ke atas untuk tersenyum pada Angga seraya merapikan bagian rambut atas pacarnya yang sedikit berantakan.


“Iya. Gak akan aku pikirkan soal itu, mending lebih baik kamu tidur, ya? Supaya kamu cepat membaik. Oke, Angga?”


Angga menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lemah pada Freya sang kekasih dirinya yang telah ia jalin hubungan cinta ini selama bersamanya sampai sekarang. Kemudian usai itu, Angga menghadapkan kepalanya lurus ke tengah lalu mulai menutup matanya untuk istirahat menyembuhkan sakit kepalanya yang masih terasa cenat-cenut.


Di sisi lain, Freya kembali duduk di kursi untuk tetap menemani Angga. Perlahan Freya menyelipkan telapak tangan kanannya di bawah telapak tangan kanan kekasihnya tersebut, disambung tangan satunya yang menyentuh sayang telapak Angga bagian atasnya. Gadis cantik jelita itu memandang sendu kedua mata Angga yang telah terpejam tidur.


‘Ternyata kamu termasuk lelaki yang penuh luka ya, Ngga? Hati dan fisik mentalmu telah dilukai oleh mereka semua waktu kamu bersekolah di SD Bakti Siswa. Tetapi dari semua itu, kamu tetap tegar.’


“Itu, ya alasanmu menggunakan nama samaran? Supaya mereka bertiga tentu tidak mengenalmu walau beliau sempat bilang wajahmu mirip. Dan aku tahu, kalau semisalnya kamu memberi tahu identitas nama asli, beliau akan menghujatmu dengan yang enggak-enggak. Huh, guru macam apa itu!”


Angin semilir dari luar melewati jendela kamar rawat yang terbuka lebar, hal itu membuat bola mata Freya terpusat ke arah sana. Memandang pandangan luar dari kejauhan tanpa melepas telapak tangan Angga. Andai saja dirinya ikut mendaftar untuk menjadi siswi di SD Bakti Siswa, kemungkinan hal buruk tak akan terjadi pada Angga. Dan karena ada gadis itu semasa masih jadi sahabatnya, Angga tidak mungkin kesepian alias keriuhan serta tak mendapatkan penderitaan di sana. Freya menundukkan kepalanya pelan hingga tanpa sadar air linangannya lolos keluar mengalir dari pelupuk kelopak matanya.


Cklek !


“Assalamualaikum,” sapa salam Jova serta Reyhan yang baru saja datang dan kini kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan.


“Eh, Waalaikumsalam. Akhirnya kalian berdua dateng juga,” senang Freya melihat kehadiran kedua sahabat SMP-nya.


“Itu mesti, dong! Sorry ya, Frey kami dateng agak telat. Soalnya dijalan macet banget,” ucap Jova.


Freya menggelengkan kepalanya dengan menunjukkan sunggingan senyum manis seperti semanis gulali. “Gakpapa kok, Va. Oh iya, macetnya kenapa kalau aku boleh kepo?”


“Tuh, noh! Kami kena macet gara-gara beberapa mobil sang pembawa malapetaka yang memperlambat jalan kendaraan lain!” sebal Reyhan merespon sahabat gadis lugunya.


“Beberapa mobil sang pembawa malapetaka? Hahaha! Maksudmu, truk?” tebak Freya.


“Nah, pinter!” buras Reyhan menanggapi seraya menghampiri ranjang pasien Angga yang mana sahabatnya nampak terbaring lemah di situ.


Di situ, Reyhan langsung menyentuh pelan bahu kiri Angga dengan wajah lara apalagi dirinya agak getir melihat wajah sahabatnya yang begitu pucat. “Bagaimana kondisinya Angga sekarang? Dia belum sadar juga?”


Freya tersenyum lebar untuk sedikit memberikan ketenangan hati buat sahabat lelaki humorisnya. “Kalau soal itu kamu dan juga Jova tenang saja, Angga tadi sudah sadar, kok. Hanya aja Angga sekarang lagi tidur. Ehmm ... cederanya sempet kambuh, mangkanya mukanya jauh lebih pucat dibanding sebelumnya.”


Reyhan menghembuskan napasnya amat lega. “Huh Alhamdulillah, deh kalau si Angga tadi sudah siuman. Kami berdua lega banget dengernya.”


Jova menganggukkan kepalanya lalu menoleh ke arah Freya setelah Reyhan. Namun di sini, Jova melihat ada jejak bekas air mata yang ada di kedua pipi sahabatnya. “Lho, Frey? Kamu habis nangis?”


Kedua mata Freya berkedip-kedip pada pertanyaan. yang Jova lontarkan, kemudian gadis cantik itu menyentuh kedua pipinya dengan anggota tangannya masing-masing. “Hah? Aku nangis? Masa, sih?”


Jova menghela napasnya. “Masa nangis aja kamu sampe gak sadar? Iya, tuh. Keliatan banget kalau kamu abis nangis. Ya kan, Rey?”


Kepala Reyhan manggut-manggut. “Hm'em. Kamu kenapa nangis, cantik? Oh, karena mengenai kondisi pacarmu ini, ya?”


Freya yang merasakan memang ada bekas air mata di kedua pipinya, segera mengusapnya sampai bersih. Dan mendengar pertanyaannya Reyhan, Freya langsung menggelengkan kepalanya. “Bukan kok, Rey. Angga-nya mah sekarang baik-baik aja. Aku juga gak tau kenapa aku nangis, hehehe.”


Kedua sahabat Tom&Jerry itu membuka mulutnya masing-masing membentuk huruf O untuk menanggapi ucapannya Freya. Tak terasa pula suasana di ruang perawatan berubah hening senyap, karena tidak ada satupun yang mengobrol. Di dalam kamar rawat, pandangan milik Freya menunduk ke bawah dengan muka muramnya. Terbesit di otaknya tentang perkataan dari pak Danu dan juga pak Hendrik yang tentunya membuat hati Angga tertohok.


...Hehe. Iya, saya kira juga kamu Angga yang memiliki keterbelakangan mental itu. Karena berdasarkan wajah, rupamu seperti mirip anak itu...


...Betul. Walau saat itu yang saya lihat dia masih SD, dan pastinya telah dewasa seperti kalian, tetapi tidak tahu juga bagaimana dengan keadaan jiwa mentalnya yang sakit itu...


‘Eh, astaga! Ngapain aku mikirin ucapan mereka berdua yang udah mengatakan Angga seperti itu? Angga, kan nyuruh aku buat jangan hiraukan. Huh, habisnya mereka bisa-bisanya berbicara seperti itu. Pasti dulu waktu Angga masih bersekolah di sana, mereka sering mengatakan pacarku begitu tanpa mengerti hatinya yang terluka karena atas ucapan jahat para beliau.’


Jova yang menyadari Freya yang nampak tengah termenung dengan posisi pandangan menunduk, langsung membuka suaranya, “Wahai jelita. Kamu kenapa? Sedang mikirin mantan busuk dan brengsek-mu, ya?”


Kedua bola mata Freya terbelalak lebar dan langsung menatap tajam Jova. “Apa? Tadi kamu bilang apa? 'Sedang mikirin mantan busuk dan brengsek-mu'? Hei! Jangan sampai aku sudi mikirin cowok kurang ajar itu! Bahkan untuk terngiang-ngiang akan sosok bayangannya, aku gak pernah lagi! Dan, mau bentuk dalam apapun kondisi serta kabarnya, aku gak mau memperdulikannya!”


Jova meneguk salivanya dengan susah payah. “I-iya-iya. Marah, deh jadinya. Maafin-maafin, situ galak amat kayak cabe rawit diulek-ulek buat jadi sambel geprek.”


Reyhan tertawa keras. “Sukurin! Suruh siapa main asal jawab? Kena amuk kan, tuh! Hahaha!”


PLAK !!!


Tak ada guntur, angin, hujan, petir si Jova tiba-tiba langsung menampar kencang salah satu pipinya Reyhan, membuat Freya terkejut bukan main karena perilaku sahabat Tomboy-nya tersebut. Reyhan auto cepat memegang pipinya yang ditampar oleh sahabatnya sendiri itu.


“Anjir! Enteng bet itu tangannya! Asal tampol-tampol pipi anak orang! Situ sudah nggak waras lagi, ya?!”


Jova terkejut melihat pipi kiri Reyhan memerah yang terdapat cap telapak tangannya akibat tamparan kuatnya tadi. “Waduh! Kekencengan banget ya, Nyuk?! Sori-sori, itu tadi di pipimu ada nyamuk hinggap. Nih, buktinya.”


Jova memperlihatkan telapak tangannya yang di situ ada nyamuk kecil nang telah mati menjadi gepeng akibat pukulan dari manusia perempuan sangar tersebut. Reyhan menghembuskan napasnya sembari mengusap-usap pipinya untuk meredakan rasa perihnya. Sementara Freya yang masih duduk manis di sisi ranjang pasien kekasihnya, hanya mengalem tawanya melihat tingkah-tingkah urakan para sahabat setia dan juga sejatinya.


Tentang kedatangan pak Hendrik dan pak Danu yang tadi ada di depan matanya Angga, membuat pemuda Indigo itu tercengang. Serta tidak ada salahnya pula kalau Angga langsung memberi tahu nama palsunya atau nama samaran sebagai penyelamatnya. Ia sebenarnya juga tidak mau berurusan dengan mereka berdua yang dulunya suka menghina dan menganggap dirinya mempunyai penyakit jiwa begitupun keterbelakangan mental.

__ADS_1


Bila diingat kembali akan masa lalu, terasa amat sakitnya. Terlebihnya luka di hatinya Angga belum sepenuhnya sembuh karena ulah kedua pria paruh baya tersebut. Kalau misalnya mereka berdua meminta maaf, jelas pasti Angga terima. Sekedar mengucapkan permintaan maaf memang gampang, tetapi untuk mengobati hati lelaki itu yang telah terluka sangatlah sulit, dikarenakan apa yang mereka perbuat sudah begitu keterlaluan.


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2