
"Untuk apa memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi? Tugas manusia hanya melewati tanpa berusaha menebak teka-teki."
•••
Jean menguap lebar di tempat duduknya. Bangku paling belakang dengan menempel pada tembok membuat gadis itu bebas menyender selama jam pelajaran berlangsung.
Hujan yang semakin deras bercampur hawa dingin dan ditambah dongeng berupa materi Sosiologi dari pak Era di depan sana merupakan perpaduan sempurna untuk menutup semua mata di kelas bagai sihir.
Dan seolah masih ada yang sadar, pak Era tetap mengoceh di depan sana. Tak peduli ada yang mendengarnya atau tidak.
Hello man! Ini kelas IPS. Dimana-mana dicap kelas onar dan tidak suka belajar oleh sebagian besar orang. Tapi itu memang kenyataannya sih, kelas X IPS 4 yang terdiri dari 12 siswa dan 13 siswi ini tak ubahnya seperti kelas para preman pasar.
Siswinya memang cantik, tapi jangan berusaha mengeluarkan jurus gombal recehan jika tidak ingin kena semprotan cabai di mata, atau tendangan penalti di badan.
Author sarankan jangan. No.
Berbeda dengan para siswi yang hampir semuanya sedia semprotan cabai di kantong seragam, para siswanya justru pecicilan.
Namun anehnya, ketika ada gadis yang mendekat, mereka akan mengeluarkan kata-kata yang hanya tidak berpengaruh pada teman sekelasnya.
Yaitu, "Maaf, aku gak boleh pacaran. Kata mama, langsung nikah aja. Kamu mau nikah sama aku sekarang?"
Mampus sudah, gadis-gadis entah itu teman seangkatan atau kakak kelas langsung menatap aneh lalu mundur perlahan dan ketika berpapasan berpura-pura tidak pernah kenal.
Suara ketukan di pintu terdengar, pak Era beserta seisi kelas menoleh.
Hanya Jean yang terlihat tidak peduli dan justru meletakkan tasnya di atas meja. Menjadikannya bantal lalu tidur menghadap tembok.
Sayup-sayup, Jean mendengar suara sepatu mendekat, gadis itu makin menenggelamkan kepalanya.
Tak!
__ADS_1
"Aduh duh!"
Guru paruh baya itu berdiri garang dengan spidol di tangannya, "Malah tidur ya kamu!"
Nasib duduk sendiri ya begini, ada malaikat maut nangkring jadi kagak ada yang bangunin.
"Abis bapak jelasin materi kayak dongeng, kan saya ngantuk. Cuaca juga mendukung tuh pak, hujan," sahut Jean dengan bibir mengerucut.
"Dasar! Sana keluar."
"Jangan dong pak, diluar kan hujan. Dingin."
"Cepat keluar!"
Jean berpura-pura kaget, "Si bapak baperan."
"Siapa yang baperan? Itu kamu dipanggil sama wakil ketua OSIS," sergah pak Era kesal.
Jean menoleh ke pintu hanya untuk menemukan Krisna berdiri dengan senyum geli.
***
"Apa-apaan?"
Gadis berkuncir kuda itu memekik keras, membuat Krisna dan empat orang lainnya berjengit terkesiap.
"Apa-apaan?" ulangnya lagi.
"Apa-apaan apa sih? Elo jadi vokalis Ocean mulai sekarang!"
"Heh cewek ngegas di ruang musik, siapa elo nyuruh-nyuruh gue?"
__ADS_1
Jean tidak terima. Apa katanya tadi? Jean? Jadi vokalis band Ocean yang dulu adu argumen dengannya di ruang musik? Yang dulu mengatai suaranya seperti seng kena batu?
Watdepak!
"Ayolah Je, band perlu vokalis buat lomba bergensi seluruh Jakarta dua minggu lagi," bujuk Rega.
"Dih! Elo juga, temen sekelas lo siapa sih?" tanya Jean tak santai.
"Coba tenang dulu. Bisa kan bicarain baik-baik?" Krisna angkat suara setelah banyak menyimak.
"Gak bisa!"
Jean kembali berulah.
"Jean. Tolong," pinta Krisna tegas.
Mendengus, gadis itu akhirnya duduk diam di kursinya.
"Jadi, ayo mulai dari awal. Mungkin kalian perlu kenalan," Krisna menatap lima orang yang duduk setengah lingkaran di dekatnya.
"Nama gue Nino Wikana, gue drummer," ucap si pemuda tinggi.
"Gue Aris Tancana, gitaris."
Jean memicingkan mata, ia ingat pemuda itu. Yang dulu menantangnya dalam pensi bulan depan.
"Lo udah kenal gue pasti, gue Rega Dominic, posisi bassis."
"Kenalin, gue Kaisha Ayunda. Vokalis."
Krisna menatap Jean, mengisyaratkan untuk mengenalkan diri juga.
__ADS_1
"Jean. Gak suka nyanyi."
Tanpa menghiraukan ucapan terakhir Jean, Krisna bertanya pada Ocean. "Jadi, apa alasan kalian perlu vokalis band baru sementara lomba band udah deket?"