
Sore hari yang mengisi kantuknya Angga, membuat mata pemuda tersebut yang sembab karena habis banyak mengeluarkan air matanya untuk menumpahkan segala rasa terpuruk laranya. Angin sepoi-sepoi dari luar sampai masuk ke dalam jendela yang masih terbuka, angin itu menerpa pelan wajah pucat tampannya Angga.
Akibat hembusan lembut angin tersebut, membuat rasa kantuknya tak bisa dilawan, hingga kemudian kelopak mata Angga menutup dan pemuda itu tertidur. Tetapi baru 1 menit tutup mata, Angga kembali membuka matanya cepat dengan segera bangkit duduk.
“Nggak-nggak! Gue gak boleh tidur! Gue gak ingin mimpi itu terus meneror gue!” ucap Angga frustasi sambil mengusap-usap mukanya gusar.
Setelah itu, Angga mendongakkan kepalanya dengan raut wajah Stress-nya yang tergambar jelas dari muka. Meskipun Angga telah banyak merapalkan sebuah Doa untuk terhindar dari segala mimpi buruk tersebut, tetapi sayangnya semua itu tak berhasil untuk lelaki Indigo tersebut yang hampir setiap hari terkena nasib. Dirinya terus saja mendapatkan mimpi buruk mengerikan itu yang berhubungan masa lalu kecilnya waktu di sekolah SD.
Hal ini Angga sudah tentu seperti kehilangan arah untuk mencari jalan lurus untuk menuju kebahagiaannya. Perhubungan masa lampau itu, selalu menghantui benaknya Angga hingga dirinya sering mengalami Depresi berat meski ada beberapa sahabatnya yang selalu ada untuknya sebagai pendamping jalan hidupnya.
Ingin rasanya untuk menyerah namun Angga tak mau. Kali ini dirinya berpasrah pada sang Maha Pencipta, karena kalau ia sampai hingga kehilangan arah untuk melanjutkan hidupnya, Angga sudah tidak bisa apa-apa buat melakukan tindakan sesuatu.
“Ya Allah, hamba pasrahkan semuanya hanya pada-Mu ...” lirih Angga melantunkan ucapan dengan mata memejam.
“Angga ...” panggil lengai seorang pemuda yang begitu terdengar familiar di telinga Angga.
Angga membuka matanya dan menoleh ke sumber suara. Kepala lelaki tampan itu otomatis langsung berposisi ke semula. “Cahya?“
Cahya tersenyum seraya sedikit melayang ke atas untuk duduk di atas ranjang pasien manusia teman Indigo-nya tersebut yang memiliki aura nyaman. “Sedih banget lo hari ini. Gue sampe gak tega liat elo yang terus terlarut dalam kesedihan.”
Angga terdiam bungkam sambil memalingkan wajahnya ke sembarang arah, melihat itu Cahya menghela napasnya panjang. “Angga, gue tau lo begini karena masa lalu yang ganggu kehidupan lo. Secara logis, kebahagiaan lo telah dilenyapkan oleh masa lalu kelam itu.”
“Tapi gue bisa kok bantu elo untuk mengatasi semuanya,” tambah Cahya dengan senyum lebar.
Angga menolehkan kepalanya ke arwah beraura positif tersebut dengan tampang wajah sendunya. “Lo bisa bantu apa? Jangan dipaksakan kalau elo nggak mampu membantu untuk mengatasi semuanya buat gue, Ya. Lagian, gue juga nggak perlu dibantu dengan cara apapun. Semuanya sudah gue serahkan sama Allah, dan gue gak akan tahu apa yang akan terjadi pada gue selanjutnya.”
Cahya menepuk bahu Angga. “Lo jangan seperti itu dulu, Ngga. Gue beneran bisa ngebantu diri lo, kok.”
Angga menghembuskan napasnya lemah. “Apa?”
“Setelah gue mencerna masa lalu elo, dan gue juga sempet pergi masuk ke dimensi masa lalu Jahannam itu ... gue seketika punya ide dan solusi untuk buat elo lupakan semuanya. Dengan satu cara yang bisa membuat lo menemukan jalan keluarnya. Tapi sorry ya, karena mungkin bagi lo ini terlalu berat untuk dilakukan.”
“Lo harus berusaha untuk melepaskan masa lalu itu. Karena posisi elo lagi di teror dari masa lalu bahkan mimpi buruk lo yang berhubungan dari masa itu, mangkanya lo harus bisa menghempaskannya.”
“Tapi bagaimana caranya? Gue sudah berupaya untuk menghilangkan semuanya itu dari otak gue, tapi lo tau gue nggak mampu.”
“Gampang banget caranya! Lo sering-sering aja keluar dari kamar rawat buat cari suasana baru, atau ngajak ngobrol sama sahabat-sahabat lo jika waktu ke sini buat jenguk elo. Dengan cara murni itu, gue yakin secara lambat laun, masa lalu itu hilang dari benak pikiran elo. Bahkan dari segala teror-teror yang berhubungan dari masa lalu, gak akan lagi menghantui diri lo. Ini semua hanya tergantung sama lo doang, Ngga.”
“Ya, walau gue tau kalau gue ini hanya sebatas arwah yang membantu manusia. Jadinya gue juga tau pasti bahwa pikiran kita berdua nggak setara. Tapi, apa salahnya kalau lo mencobanya?”
“Ngobrol? Biasanya mereka dulu yang pertama ngajak ngobrol, baru gue.” Ungkapan Angga dengan pandangan menunduk membuat Cahya lagi-lagi menghela napasnya.
“Anak Introvert, dilawan.”
Angga menaikkan bola matanya untuk menatap Cahya dan sedikit memberikan senyuman tipis. “Ngomong-ngomong, thanks solusinya, ya? Gue akan mencobanya. Mungkin itu adalah suatu yang terbaik buat gue menemukan jalan keluar.”
Cahya bertepuk tangan ria dengan tawa bahagia seperti anak kecil pada umur 7 tahun. “Hahaha! Asyik, gitu dong, Bro! Lo harus nyobain dengan cara ampuh gue ini! Dan gue seneng bener ngeliat lo yang senyum gini! Eh tapi biasanya kan elo jarang tersenyum, yak?! Alah bodo amat, dah! Yang penting gantengnya makin nambah. Sedih gak sedih, masih keliatan handsome-nya you, wahahahaha!!!”
“Heh! Lo tuh cowok apa cewek, sih?! Lebay banget!” kesal Angga mendengar tuturan Cahya yang membuat lelaki tampan normal itu bergidik geli.
“Banci, frozen manusia Indigo!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Minggu - Pukul Jam 09.00 AM
Cklek !
Freya yang sudah membuka pintu kamar rawat sahabat kecilnya nang di dalam terasa sangat sunyi, kedua mata gadis cantik Nirmala itu terbelalak lebar mencuat saat melihat Angga menggenggam sebuah bilah pisau di tangan kanannya. Otomatis tersebut, Freya berlari buat merebut pisau tajam yang dipegang oleh sahabat lelakinya.
“Ngga!!! Kamu ngapain bawa pisau segala?!” tuding Freya kencang seraya berlari gesit menghampiri Angga.
Angga tersentak kaget melihat kedatangan Freya apalagi teriakan nadanya yang lengking tersebut. Sahabat kecilnya itu langsung cepat merebut pisau kecil bahaya dari tangannya Angga. “Ih! Kamu ini udah gila, ya?! Kamu mau bunuh diri sama pisau ini?!”
“Siapa juga yang mau bunuh diri?! Aku cuman ngambil pisau itu yang tadinya jatuh di lantai. Niatnya aku mau ambil ponsel yang ada di atas meja nakas, tapi pisaunya aja yang malah jatuh. Yasudah aku ambil.”
“Mana pisaunya, biar aku yang taruh-”
“Nggak usah! Aku aja yang naruh pisaunya di atas meja! Nunggu aku dateng kan juga bisa, jadi kamu gak perlu susah-susah ambil nantinya,” ujar Freya seraya meletakkan pisau kecil tersebut.
__ADS_1
Freya kemudian menghembuskan napasnya dengan lega. “Aku kira kamu mau melakukan aksi gila itu, habisnya aku dateng-dateng, kamu udah genggam pisau aja!”
Angga mendengus dengan bukan tampang marah melainkan lunglai. “Kamu aja yang pikirannya udah negatif sama aku. Aku mana mungkin melakukan hal bodoh seperti itu? Sama aja aku mati tapi mendahulukan kodrat takdir dari Allah. Kamu pikir aku ini sudah sakit jiwa dan hilang akal?”
Freya langsung terbungkam mendengar ujarannya Angga yang benar. Lalu gadis yang setengah sebal tersebut dengan berkacak pinggang, beralih menggaruk kepalanya dengan satu tangan sambil cengengesan. “Maaf, hehehehe.”
Angga menggelengkan kepalanya dengan melemparkan senyuman simpel. “Iya, nggak apa-apa. Tapi, kamu kenapa ke sini? Bukannya seharusnya kamu kencan sama Gerald pacarmu?”
Freya menggelengkan kepalanya dengan mengulum senyuman manisnya bersama menatap lelaki tampan tersebut. Angga yang melihat reaksi jawaban gerakan tubuh sahabat kecilnya, mengerutkan keningnya yang tertutupi oleh rambut hitamnya.
“Kenapa? Kamu lagi ada masalah sama Gerald, sampe kamu malah ke sini daripada jalan sama dia?” tanya Angga tanpa menerawang pakai kekuatan mata batinnya.
“Jangan tanya itu kenapa, Ngga? Toh lagian Gerald nggak akan tau kalau aku ke rumah sakit, ya meskipun aku bohong sama dia kalau aku lagi ada acara di keluarga besar.”
“Kenapa begitu? Gak harusnya kamu bohong sama kekasihmu sendiri, kan? Nanti kalau Gerald curiga terus nyariin kamu karena segala alasanmu yang itu-itu saja, gimana?”
“Sssstt!” Freya menempelkan jari telunjuk lentik tangan kanannya di bibir tipis pucat sahabat kecilnya, membuat Angga reflek sedikit memundurkan kepalanya. “Udah sih, Ngga. Gak usah banyak tanya deh yang tentang itu. Mending sekarang kamu isi perutmu yang kosong dengan sarapan yang aku bawain.”
Freya melepaskan jari telunjuknya dari bibir Angga kemudian duduk di kursi sisi ranjang pasien, lalu meletakkan kotak bekal Tupperware warna hijau tosca di atas kedua pahanya usai mengeluarkan kotak makanan tersebut dari tas spunbond birunya. Angga mengintip isi kotak bekal yang sedang gadis tersebut buka perlahan.
“Tada! Lihat nih apa yang aku bawain buat kamu, sup kentang buatan mama, hehehe!” riang Freya seraya membuka wadah bening yang bentuknya lingkaran dimana di dalamnya berisi kuah sup segar dengan sayuran-sayuran matang, sementara nasinya berada di samping wadah kecil tersebut dalam kotak bekal.
Semuanya menyatu di dalam kotak bekal yang Freya bawakan untuk Angga sarapan. “Coba deh, Ngga cium aromanya. Uuuhh ... menggiurkan banget, kan? Nah mangkanya kamu harus mencobanya, pasti bakal ketagihan, deh!”
“Tapi, aku lagi nggak nafsu makan. Nanti saja, ya?” tolak Angga dengan nyengir.
Freya menggelengkan kepalanya. “Emp-emp! Gak ada nanti-nantian, kamu sekarang pokoknya harus sarapan. Apalagi, kamu juga harus minum obat habis ini.”
Angga menghembuskan napasnya pasrah karena tolakan lembutnya tidak diterima oleh Freya sama sekalipun. Pemuda tersebut yang sebenarnya sedang tak ada nafsu untuk mengisi perutnya, mau tidak mau Angga harus menuruti Freya demi kesembuhannya.
Freya kini tengah memegang sendok hendak memberikan suapan sup kentang dengan nasi itu ke dalam mulutnya Angga. Pemuda tersebut yang melihat sahabat kecilnya hendak mengangkat sendoknya, langsung ia hentikan. “Aku bisa sendiri!”
Freya menghentikan kegiatannya dengan kening berkerut heran bersama raut wajah ragu. “Yakin bisa makan sendiri tanpa dibantu? Aku gak percaya.”
Angga merebut pelan sendok yang ada di tangan Freya. “Yakin saja. Aku bisa sendiri, kok.”
Freya dengan hati ragu, melepaskan sendoknya dan membiarkan Angga yang melakukannya. Namun belum ada satu detik saja, tangan kanan sahabat lelakinya bergetar-getar bersama gerakan angkatnya yang tidak seimbang. Pada akhirnya karena akibat dari keras kepala, sendok serta separuh makanan yang ada di sendok terjatuh di lantai begitu saja.
Freya mendengus dengan tersenyum hambar. “Tuh, kan! Aku bilang juga apa, keras kepala sih kamu!”
“Hehehe, maafin aku, ya?”
Freya yang tengah jongkok memunguti makanan tersebut dengan bantuan satu tisu kering, terhenti seketika saat tangannya sedang sibuk mengambil nasi-nasi yang berserakan. ‘Eh! Barusan si Angga cengengesan, yak? Tumben banget itu anak.’
“Malu-maluin banget lo, Ngga ...”
“Enggak, kok. Enggak malu-maluin, maklum aja karena kamu lagi sakit.” Rupanya Freya masih bisa dengar kemam suaranya Angga yang begitu lirih, sekarang Freya bangkit berdiri untuk membuang tisu tersebut yang di dalamnya berisi sisa nasi sayuran yang jatuh di lantai tadi.
Angga membungkamkan mulutnya dengan perlahan mengalihkan wajahnya dari Freya ke arah kiri. Freya membuang tisu kering tersebut yang ia gunakan untuk memunguti serta membersihkan kotoran makanan yang jatuh di lantai tepat samping bawah ranjang pasien, lalu melangkah ke wastafel depan kamar mandi buat mencuci sendok miliknya agar terbebas dari kuman bakteri karena usai terjatuh di lantai akibat ulah sifat batunya Angga.
Freya kembali mendatangi ranjang pasien dan mendudukkan pantatnya di kursi sesudah membersihkan bagian sendok itu dengan air kran wastafel. Gadis polos cantik tersebut melongo melihat Angga yang diam tiba-tiba apalagi kepala-wajahnya posisinya menghadap ke jendela. Freya terkekeh dalam lubuk hati karena mengetahui bahwa sahabat kecil pemuda Introvert-nya sedang menahan rasa malu.
‘Ya ampun, lucu banget mukanya Angga kalau lagi malu begini. Habisnya ini pertama kalinya aku lihat dia bisa nampilkan ekspresi malu, ahahaha !’
“Udahlah, Ngga. Nggak usah malu, lupain aja yang tadi. Anggap aja itu kesalahan kamu yang udah selesai.”
“A-aku biasa aja kok,” tanggap dingin Angga tanpa menatap Freya.
‘Weits, langsung dingin,’ batin Freya yang rasanya ingin tertawa lepas tanpa di relung hatinya.
“Mangkanya, jadi cowok tuh jangan suka keras kepala. Untung cuman ada aku di sini ... coba aja kalau misalnya ada Reyhan, Jova atau temen-temen kita. Bakal langsung diketawain deh kamu, hahaha!”
“Nah, itu kamu ketawa!” tanggap Angga sebal pada sahabat kecilnya yang tak bisa lagi mengeratkan tawanya dari mulut bahkan tawa lepas Freya membuat Angga menoleh ke arah gadis cantik tersebut yang dari wajahnya terdapat seraut gembira.
Freya langsung menutup mulutnya dengan tangan kiri. “Ups, kelepasan! Habisnya mukamu terkesan lucu gitu sih, tuh liat deh di cermin ... kamu kalau lagi malu, mukamu gokil abis!”
Angga mendengus dengan memutar bola matanya malas berpaling dari Freya yang masih saja menertawakan dirinya, namun beberapa detik kemudian Freya berhenti tertawa dan mulai menyendiri nasi serta sup-nya yang ada di wadah lingkaran transparan kecil.
“Aku udah nggak ketawa nih, nanti kalau Aku terus ketawa mulu .. yang ada kamu tambah ngambek, lagi.”
__ADS_1
Angga balik menoleh untuk memirsa sahabat kecilnya yang tersenyum meringis. “Aku nggak ngambek, kok. Biasa aja.”
“Iya deh, iya. Aku percaya. Nih, mending aku suapin aja, ya? Biar kamu lancar makan-nya. Oke?” ucap nada lembut Freya seraya menyodorkan sendok yang berisi nasi campur sayuran itu ke mulut Angga.
Angga tersenyum kecut. Freya memiringkan kepalanya pada sahabatnya yang tak kunjung membuka mulutnya untuk menerima suapannya. “Ayo dong, buka mulutnya. Aaaaa ...”
Angga pada puncaknya membuka mulutnya perlahan yang sebelumnya menghela napasnya panjang. Freya mendorong alat makan tersebut ke dalam mulut sahabat lelakinya dengan tanpa kasar. Kini sekarang, pemuda tampan tersebut tengah mengunyah makanan sarapan itu yang telah disuap oleh gadis manis tersebut.
“Gimana-gimana?! Enak, nggak sup masakannya mama??” tanya Freya dengan mata sedikit melotot bersama senyuman yang mengembang di wajah cerahnya.
Angga menganggukkan kepalanya dengan senyum simpel untuk sebagai responnya buat Freya yang menanti tanggapan jawabnya. Freya pun yang melihat reaksi suka Angga pada makanan tersebut yang sedang ia kunyah, begitu bahagia bersama bersorak ria.
“Horeeee! Aku udah duga, kamu bakal suka sama sup kentangnya! Tadi pagi waktu usai Subuh, mama masakin sup ini di rumah. Terus aku kepikiran sup kentang ini pasti cocok buat kamu makan di rumah sakit, eh ternyata bener dong! Jadinya nggak sia-sia, kan aku bawain sarapan ini untukmu?”
“Enggak, kok. Kamu juga keliatannya hari ini seneng banget udah bawain aku sarapan segala ke sini. Bilangin ke mamamu ya karena aku sudah banyak ngerepotin beliau.”
“Kamu apa-apaan sih, Ngga? Kamu sama sekali gak ngerepotin mama, kok. Malah justru mamaku seneng banget bisa bantuin kamu yang kondisimu lagi begini. Yaudah yuk, makan lagi!”
Angga mengukirkan senyumannya agak lebar dengan menganggukkan kepalanya lembut. Freya melemparkan senyuman manis pada sahabat pendiam-nya kemudian memberikan suapannya lagi ke dalam mulut. Dan Angga memang baru pertama kali ini disuapi oleh Freya yang cuma sebatas sahabat masa kecilnya.
Di sisi lain, Reyhan yang tengah berkeliling di rumah sakit kini pemuda humoris itu yang bersenandung kecil sembari melangkah, tak sengaja melihat Angga begitupun Freya yang berada di dalam ruang perawatan no 111 di lantai 4 ini. Reyhan auto menghentikan jalan langkahnya lalu memundurkan kakinya cepat dan mulai mengintip dari tembok samping kamar rawat sahabat lelakinya. Lelaki yang tukang kepo itu menyipitkan matanya dengan melongok tak percaya apa yang dilakukan oleh Freya kepada Angga nang sedang duduk bersandar di atas ranjang pasien.
“Pemandangan romansa macam apakah ini? Lihatlah wahai pemirsa hot, kita pagi di sini sedang dilihatkan suasana harmonis dari antara sepasang sahabat kecil itu. Wow, sungguh menggemparkan hati dan membuat baper (Bawa perasaan) meski mereka berdua cuman lah sahabat bukan pacar.”
Reyhan memandang terkejut sambil berbicara sendiri seperti orang gila. Bahkan padahal hanyalah ia seorang yang ada di luar ruangan, tak ada lain selain dirinya. Reyhan terus memperhatikan Freya yang tengah menyuapi Angga dengan tulusnya, hal itu membuat Reyhan mengembangkan senyumannya pada pemandangan hangat kondusif yang di sana. Bahkan Freya tak hanya menyuapi sahabat kecilnya saja, namun di imbuh senda gurau supaya Angga mendapatkan hiburan hati dari Freya yang gadis cantik tersebut berikan.
‘Sudahlah, nggak mengapa-ngapa. Gue juga seneng banget liat kalian bersama lagi, dulunya malah terasa kalian ini hampir diujung perenggangan antar sahabat. Lega bener gue nengoknya ...’
“Kamu sedang apa?”
Tiba-tiba di belakang punggungnya, Reyhan mendengar suara pria paruh baya yang menanya sedang apa dirinya di situ. Dengan penasaran, lelaki ramah tersebut segera memutar tubuhnya sekaligus kepalanya ke belakang. Reyhan melongok seketika melihat seorang dokter pria yang berkacamata sedang tersenyum hangat padanya.
“Eh? Ini kan Dokter ... oh astaga ya ampun! Ini Dokter Samuel yang dulu menangani saya, ya?!” kejut Reyhan dengan menuding kecil sang dokter.
Dokter Sam yang awalnya merasa dejavu pernah melihat sosok remaja nang ada di hadapannya beliau, seketika membuka mulutnya dengan mata sedikit terbelalak. “Ya ampun, ini Reyhan Lintang Ellvano, ya?!”
“Wah bener banget, Dok! Saya Reyhan Lintang Ellvano pasiennya beliau dulu, apa kabar, Dok?!” bahagia Reyhan seraya menjabat tangan dokter Sam.
“Kabar Dokter baik-baik saja, Reyhan. Kamu juga apa kabar hari ini? Dokter lihat sekarang kamu sudah terlihat sehat, ya. Dan Alhamdulillah sekali Dokter sangat senang kamu telah bisa berjalan kembali yang awalnya mengalami lumpuh karena kecelakaan pada waktu silam itu.”
Reyhan menganggukkan kepalanya dengan melemparkan senyum lebar. “Iya, Dok! Alhamdulillah, obatnya ternyata ampuh banget. Terimakasih, Dokter!”
Dokter Sam mengulas kembali senyumannya. “Dokter hanya bertugas untuk menyembuhkan kamu, Reyhan. Oh iya, ngomong-ngomong kamu sedang apa di luar ruang rawat hingga mengintip seperti itu tadi?”
Reyhan melepaskan tautan tangannya dengan telapak tangan dokter Sam. “Oh saya- anu sedang mengintai sahabat saya yang ada di dalam kamar rawat, Dok. Hehehe!”
“Astaga, kamu ada-ada saja. Memangnya sahabatmu sedang sakit, ya?” tanya dokter Sam.
Reyhan menganggukkan kepalanya dengan raut berubah sendu. “Iya, Dok. Sahabat saya terkena sakit Hipoksia hingga harus membutuhkan perawatan di sini.”
“Astaghfirullah! Kasihan sekali sahabatmu, Reyhan. Yasudah, semoga sahabat kamu lekas cepat sembuh, ya?”
“Baik Dokter, terimakasih atas Doanya dari beliau,” jawab Reyhan dengan sedikit membungkukkan badannya sopan.
“Sama-sama, Nak. Kamu juga harus menjaga kesehatan agar dirimu tidak lagi masuk rumah sakit, hehehehe.”
“Hahaha, iya Dokter. Terimakasih sekali atas perhatiannya kepada saya.”
Dokter Sam menganggukkan kepalanya. “Yasudah ya, Reyhan? Dokter tinggal dulu, ada yang perlu Dokter kerjakan setelah ini.”
“Siap, Dokter. Semoga apa yang Dokter kerjakan hari ini, semuanya lancar jaya!”
“Hahaha! Iya Reyhan, terimakasih, ya? Assalammualaikum.”
“Waalaikumsalam, Dokter Sam.”
Kemudian dokter Sam melangkah ke jalan lorong sebelah kanan untuk menuju ke arah tujuannya, sementara remaja pemuda Friendly tersebut memperhatikan punggung beliau dengan senyumannya. “Daripada gue di sini, terus kepergok Angga sama Freya, mending gue samperin Jova aja deh yang lagi di kantin rumah sakit. Pasti itu anak satu bakal habisin duit gue karena banyak makan gratis di sana, hadeh!”
Di sisi lain, Angga teringat akan ucapan Cahya yang memberikan solusi terbaik untuknya kendatipun sangat berat jika dilakukannya. Namun, ini adalah salah satu cara bahari buat Angga menghempaskan masa lalu dengan cara murni nang arwah siswa SMA itu suruh. Mungkin, sebentar lagi Angga bija menemukan jalan keluarnya lepau mengatasi penderitaan-sengsara pada masalah hidupnya selama ini.
__ADS_1
Indigo To Be Continued ›››