Indigo

Indigo
Chapter 115 | Impossible


__ADS_3

Hari Minggu pada esok hari pukul jam 08.00 terlihat Angga bangkit dari baringnya dengan memegang kepalanya bersama rintihan sakit yang keluar dari dalam mulutnya. Sudah jelas, cederanya kembali kambuh meski dirinya tak melakukan kegiatan apapun melainkan banyak pikiran gara-gara delusi serta Depresi yang selalu menghantui dalam benak otaknya. Angga berusaha menghilangkan semuanya itu, namun apa yang ia usahakan sia-sia.


Memang wajahnya terlihat seperti orang Stress dicampur raut berantakan, tetapi jangan ditanyakan ketampanannya. Rupa aura muka tampan Angga tidak menghilang sedikitpun.


Kini sekarang, tangan Angga sibuk membuka strip obat pil putihnya yang ada di dalam dengan susah payah karena sebenarnya sampai saat ini, pemuda yang setengah kehilangan harapan, dan semangat hidup tersebut tak memiliki tenaga semenjak kemarin ia masuk rumah sakit.


Angga tersentak kaget saat tiba-tiba blister obat resep dokter dari RS Kusuma kota Bogor punyanya, direbut oleh seseorang yang belum ia tahu. Pemuda tampan pemilik indera keenam itu, langsung menarik mukanya ke atas. Matanya terbelalak lebar langsai.


“Gerald?!”


Gerald dengan wajah angkuh yang penuh aura ketaksaan itu, mengangkat tangan kanannya yang sedang memegang bungkusan obat milik musuh bebuyutannya tersebut. “Wow, coba apa yang gue lihat ... obat dari resep dokter luar kota? Hahaha! Ternyata anak cupu tidak tau harga diri ini, menderita cedera kepala? Baguslah!”


Angga menggertakkan giginya lalu tangannya mencoba menggapai bungkusan obatnya sebelum hal buruk terjadi di tubuhnya karena terlalu lama mendiamkan cederanya ini yang tengah kambuh. “Kembalikan!!”


Gerald menjauhkan jarak bungkusan obat ampuh pereda sakit kepala dari tangan Angga yang berusaha mencapainya. “Gak semudah itu. Gue pengen lihat lo kesakitan dahulu, habis itu gue kembalikan obat ini ke diri lo.”


Napas Angga naik turun-cepat dengan wajah sedikit murka. “Jika dihitung, lo mengusik ketenangan hidup gue lebih dari sepuluh kali, dan lo hari ini ingin ganggu gue lagi?! Apa lo gak puas menganggu kehidupan orang lain, pembawa sial??!!”


“Bagus, bagus! Sekarang lo sudah berani ngatain gue dengan kalimat kata terakhir lo itu. Apa lo gak bisa lihat sama diri lo sendiri yang kondisinya lagi sangat lemah?!” tanggap Gerald seraya jahatnya membuka semua bungkusan strip obat itu yang di dalamnya ada beberapa pil nang tersisa, lalu lelaki bermata hijau itu sengaja menjatuhkan semua pil putih obat miliknya Angga ke lantai.


Angga hanya bisa menatap nanar para obat pil putihnya itu yang diinjak-injak oleh Gerald bersama sepatunya di lantai hingga hancur lebur tak bisa lagi untuk di minum atau ditelan. Angga lantas memegang kepalanya bagian samping dengan sedikit berteriak karena rasanya seperti dipukul oleh salah satu alat perkakas yaitu sebuah palu.


“Brengsek!” umpat Angga mendelik pada Gerald penuh dengan jiwa amarah yang selama ini terpendam bagi orang nang membencinya. Dan inilah baru pertama kalinya, Angga mengeluarkan kata kasar mutiaranya tersebut.


Gerald membanting bungkusan obat yang ia pegang ke lantai, kemudian kedua tangannya beralih menarik kerah baju pasien dominan biru muda milik Angga. Dua matanya saling melotot menatap Angga nyaris saja bola matanya terlepas dari rongganya. “Ngaca, siapa yang pantas dibilang brengsek!!!”


“Kenapa?! Lo gak terima?! Jangan lo pikir, gue terus mau ditindas orang persetan kayak lo, biadab!!”


Gerald yang mendengar ungkapan kasar dari Angga yang semakin melonjak, mengukirkan senyuman evil. “Hahaha! Lo sengaja mancing emosi gue, ya? Manusia pecundang!”


BUAGH !!!


Gerald berakhir menonjok wajah Angga tepatnya di pipi kirinya. Angga merasakan ngilu di pipinya tersebut, namun pemuda itu kembali tak melawannya. Karena percuma melawan dari mulut, akan makin panjang alur masalahnya. Gerald kemudian menarik kerah bajunya Angga ke samping dengan kencang membuat tubuh lelaki itu yang belum sama sekali ada tenaga untuk menahannya, akhirnya terjatuh di lantai begitu keras hingga telapak tangan kirinya tercabut dari jarum infus yang tertancap.


BRUGH !!!


Di situ Angga spontan berteriak kesakitan disaat tubuhnya membentur lantai dingin kamar rawat. Rintihan dari suara pemuda itu membuat Gerald setengah puas, belum sepenuhnya. Pemuda yang memiliki mata iris hijau kemudian menambah kesakitan yang diterima lelaki pemilik mata iris abu-abu tersebut dengan cara kedua tangannya saling mencekik lehernya seraya menggencetnya.


“Ini akibatnya sudah berani melawan gue!”


Angga mengerang kesakitan dengan meronta-ronta minta dilepaskan. Namun ia memiliki ide cermat untuk Gerald berhenti menyerang fisiknya. Salah satu tangan Angga menekuk hingga saling menempel di lipatan tangannya kemudian dirinya menyiku lemari kecil dari meja nakas dengan sekuat tenaga. Alhasilnya, gelas yang ada di pinggir atas meja nakas, menjadi goyang-goyang lalu ambruk pecah mengenai kepala Gerald.


PYARR !!!


Sementara air putih jernih yang ada di dalam gelas nang kini telah pecah berkeping-keping jatuh di badan Angga, setengahnya berserakan di lantai, mengguyur muka pucat pemuda Indigo tersebut. Amarah emosi Gerald dibuat menggebu-gebu oleh Angga, hingga ia tak terlepas dari kesenangannya untuk menyerang fisik lemah Angga saat ini.


BUGH !!!


Gerald memukul kencang perut Angga bagian ulu hati hati membuat lelaki itu menggembungkan kedua pipinya ingin muntah.


BUGH !!!


Yang benar saja. Ide cermat yang Angga laksanakan agar Gerald berhenti menyerangnya, tak berbuah sama sekali. Buktinya dirinya yang menjadi korban dimana Angga memuntahkan cairan merah pekatnya dari mulut begitu banyak di lantai. Tubuh Angga sekarang berubah menjadi sangatlah lemas tak berdaya sampai raganya tumbang terbaring di lantai.


DUAGH !!!

__ADS_1


“AKH!!”


DUAGH !!!


“ARGH!!!”


Setelah memberikan sebuah tendangan hebat dua kali dan membuat Angga sampai berteriak kesakitan hingga bagian lehernya mengeras karena spontan itu ia menekan nadanya karena sakit yang ia terima begitu amat dahsyat, Gerald menatap seronok musuhnya yang hampir di penghujung sekarat.


Mata Angga yang sayu itu, menatap lemah Gerald. Dadanya begitu diserang dengan sesak napas yang hebat, seakan-akan nyawanya ingin menghilang dari raganya. Hingga pada puncaknya, perlahan kedua mata Angga menutup dengan tenang sementara posisi mulutnya masih terbuka tipis. Gerald yang tahu Angga telah kehilangan akan kesadaran, berdecih sinis.


“Lemah!! Dasar lemah!!!” teriak Gerald dengan tertawa puas karena permainannya buat menyakiti fisik Angga tertuntaskan hari ini.


Gerald kemudian balik badan meninggalkan Angga yang terkapar lemah. Padahal kondisi darurat lelaki itu harus membutuhkan pertolongan medis karena jika dibiarkan bisa meregang nyawanya, tetapi Gerald dengan jiwa non empatinya tak memperdulikan keadaan teruk Angga.


Gerald lekas keluar dari kamar rawat. Saat ingin jalan belok ke arah kiri untuk menuju lift, sialnya mata Gerald terbentur pada kehadiran Reyhan yang melangkah sembari menenteng plastik bening berisi bubur ayam sebagai sarapannya untuk Angga.


Gerald cepat-cepat menutupi seluruh kepalanya menggunakan tudung jaket hijau tuanya dengan hati gusar, lalu berlari kilat ke arah jalan pembelokan kanan. Reyhan menyipitkan matanya curiga melihat gelagat aneh pemuda yang tak ia kenal itu. Reyhan yang memiliki insting firasat buruk, berniat mengejar lelaki tersebut yang langkahnya semakin menjauh.


“Woii! Apa yang lo lakuin tadi di depan ruang perawatan sahabat gue?! Buat macem-macem ya, lo??!!” teriak Reyhan tak menggagas pasien lain yang beristirahat di dalam kamar rawatnya masing-masing.


Langkah besar di kaki panjang Reyhan terhenti spontan saat kepalanya tak sengaja menoleh ke arah dalam kamar rawat no 111 dimana pintu rawat itu keadaannya terbuka lebar. Namun Reyhan juga selintas melihat pemuda yang tergeletak di lantai bawah samping ranjang pasien. Reyhan memilih tidak lagi mengejar lelaki gelagat aneh tersebut, kakinya menuju arah kamar rawat itu untuk ia masuki.


DEG !


Mata Reyhan melotot dengan Syok melihat tubuh sahabatnya tergelimpang lemah tak berdaya, sementara Angga di situ bersimbah banyak darah. “ANGGAAAA!!!”


Reyhan melempar plastik berisi bubur ayam dua kotak ke sofa begitu saja, lalu gesit berlari memarani Angga yang terbaring lemah dengan mata terpejam tenang. Reyhan meletakkan kedua lutut kakinya di lantai sedangkan kedua tangannya saling menangkup wajah pucat sahabatnya. Rahang Reyhan mengeras, dirinya tak tahu apa yang telah terjadi dengan sahabat pendiam-nya hingga kondisinya memprihatinkan seperti ini apalagi terdapat bekas darah yang mengalir dari sudut bibir kanannya. Sementara pecahan keping-keping gelas berserakan di lantai, begitupun obat-obat pil warna putih yang hancur lebur mengotori lantai tersebut.


Reyhan menyelipkan tangan kanannya di belakang punggung Angga setelah itu ia angkat untuk ia topang. Sementara tangan kirinya menepuk-nepuk pipi sahabatnya berusaha mengembalikan kesadarannya. “Ngga, bangun, Ngga ...”


Reyhan mendekatkan sisi jari telunjuk tangan kanannya di lubang hidung Angga. Lambat. “Siapa yang udah buat sahabat gue setengah sekarat begini? Angga ... tolong tetep bernafas, gue bakal panggilkan dokter!”


Reyhan membaringkan kembali tubuh Angga di lantai, kemudian bergegas beranjak berdiri lalu menekan tombol merah darurat untuk memanggil dokter yang tak lain dokter Atmaja bersama beberapa perawat. Setelah menekan bel emergency untuk mendapatkan pertolongan medis buat sang sahabat, Reyhan balik jongkok tetap bersikeras menyadarkan Angga dengan cara mengguncang-guncang tubuhnya, sementara terlihat hela napas di dada lebih pendek dibanding sebelumnya.


Reyhan menatap wajah Angga detail, memarginalkan lelaki sahabatnya itu segera sadarkan diri. Tak menunggu lebih lama, tibalah dokter Atmaja serta beberapa perawat yang berlari. Reyhan melepaskan kedua tangannya dari bahu-bahu lemas Angga kemudian berinisiatif menyingkir dari sahabatnya yang terbaring lemah di lantai bersama darah yang bersimbah.


Para perawat yang umurnya terlihat masih muda, segera cepat mengangkat raga tubuh Angga dari lantai lalu mereka letakkan perlahan di atas ranjang pasien. Reyhan yang masih berdiri dan diam bungkam sementara pandangannya tak berpaling dari kondisi buruk sahabatnya, ia dihampiri oleh sang dokter.


“Nak, tolong mohon keluar sebentar, ya? Biarkan Dokter yang memeriksa Anggara.” Tanpa menjawabnya dengan kata, Reyhan cukup meresponnya bersama gerakan kepala.


Reyhan segera keluar dari ruang perawatan meski dirinya sempat menoleh melihat Angga yang ditangani kembali oleh dokter Atmaja. Lelaki humoris tersebut usai itu, menutup pintu kamar rawat no 111 dari luar ruangan.


Di luar, Reyhan berjongkok dengan wajah paniknya bersama hati kalut gusar. Punggungnya ia sandarkan di belakang tembok putih dingin. Sampai sekarang pun Reyhan berpikir keras, siapa yang sudah berani mencelakai sahabatnya. Ia yakin bukan karena kesakitan Angga sendiri yang membuatnya seperti itu, 100 persen mestinya ada seseorang yang telah melukai Angga hingga 50 persen mengalami sekarat.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Dokter Atmaja dengan profesinya sebagai dokter, menangani cepat pasiennya tersebut. Mulai dari membuka kelopak atas mata kanan dan kiri untuk menyorotkan cahaya senter medis di pupil matanya secara satu persatu, sampai memeriksa kondisi irama detak jantung milik Angga yang ada di dalam dadanya menggunakan stetoskop.


“Pasangkan oksigen untuk pasien, segera!”


Salah satu perawat lelaki yang ada di kanan Angga mengangguk patuh lalu tangannya mulai mengambil alat terapi oksigen dari tempatnya kemudian lekas memasangkan alat bantuan pernapasan itu ke wajah pemuda tampan itu yang mana untuk menutupi hidung beserta mulutnya. Setelah memasangkan tali dari bagian masker oksigen ke belakang kepala Angga, perawat tersebut dengan fokus memutar flow adjuster atau pengatur aliran oksigen serta mengukur tekanan udara di alat itu untuk sang pasien.


Hal itu supaya Angga mendapatkan kembali pasokan oksigen dalam tubuhnya sedikit demi sedikit. Di sisi lain, darah mulut Angga begitupun cairan merah tersebut yang ada di lantai dan lain-lainnya macam pecahan gelas serta beberapa obat nang sudah lebur itu telah dibersihkan oleh perawat. Setelah semuanya tertangani lancar, dokter Atmaja melangkah pergi keluar dari ruang perawatan.


Sementara di luar, Reyhan beranjak berdiri cepat setelah mendengar suara pintu kamar rawat yang dibuka oleh sang dokter pria. Tatapan pemuda humoris tersebut begitu serius dengan wajah risau.

__ADS_1


“Dok, apakah sahabat saya baik-baik saja?! Bagaimana juga keadaannya sekarang?! Cepat katakan pada saya, Dokter!”


Reyhan tak dapat merubah hatinya menjadi lega dan tenang saat dirinya menatap muka dokter Atmaja yang agak sendu. “Nafas milik Anggara terganggu, hal itu membuat Anggara kehilangan pasokan oksigen dari dalam tubuh. Namun, ini semua bisa diatasi atau ditingkatkan dengan sebuah terapi oksigen untuk pasien.”


“Nafas sahabat saya terganggu, Dok?! Lalu bagaimana Anggara bisa kembali sadar?!” kejut dan panik Reyhan yang mendengar jawaban nang disampaikan detail oleh dokter Atmaja.


“Maaf, kalau untuk sadarnya ... Dokter tidak bisa memastikan kapan sahabatmu akan sadar. Tetapi, sebaiknya kamu tidak perlu khawatir. Anggara pastinya akan siuman kembali selama alat terapi oksigen tersebut masih terpasang untuk membantu mengembalikan kadar oksigen Anggara yang turun.”


Reyhan menutup matanya sejenak dengan menghembuskan napasnya pendek seraya menganggukkan kepalanya berusaha untuk tenang dan tidak mengambil pikiran negatif terhadap kondisi sahabatnya yang cukup memprihatinkan dan menghawatirkan bagi lelaki berambut coklat itu.


“Kalau begitu, Dokter pamit dulu, ya. Jika nanti ada permasalahan yang terjadi dengan Anggara, segera panggilkan kami.”


“B-baik, Dok.”


Dokter Atmaja menerbitkan senyuman tipisnya lalu melenggang pergi meninggalkan Reyhan, sementara beberapa perawat lelaki yang mengenakan seragam serba putih bersih itu juga ikut pergi dan mengikuti langkah dokter pria tersebut dari belakang punggung.


Reyhan kemudian menjalankan kakinya masuk ke dalam ruang kamar rawat Angga lalu setelah itu dengan perlahan, ia menutup pintu ruangan tersebut. Hati pemuda ramah itu yang kini telah berada di dalam ruang perawatan, getir melihat akan keadaan Angga yang terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang pasien bersama masker oksigen yang terpasang di wajahnya.


Reyhan berhenti berjalan usai berada di tepat dekatnya sang sahabat, tanpa menarik kursi untuk duduk di situ. Matanya menatap gundah muka pucat-nya Angga yang mana kedua matanya saling terpejam tenang. Telapak tangan kanan Reyhan yang biasa saja, kini berubah mengepal kuat sedangkan rahang punyanya mengeras. Dirinya benar-benar tidak terima Angga dicelakai sampai begini, dan ia mengaku sangat bodoh pergi meninggalkan sahabatnya begitu lama hanya untuk membeli sarapan di pinggir jalan rumah sakit.


Reyhan memutuskan duduk saja di kursi karena kakinya telah begitu pegal. Pemuda itu yang sudah duduk, menatap Angga kembali yang berwajah pucat dan kedua tangan Reyhan saling mengangkat tangan lemas sahabatnya lalu menggenggam telapak tangan Angga.


“Sampai gue ketemu orang yang udah berani mencelakai diri lo, gue akan habisi dia! Lo tenang aja, Ngga.”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Hari ini dengan hati yang penuh tak rela, Reyhan melepaskan Angga sang sahabatnya dari dekatnya. Terlihat sekarang Angga diseret-seret oleh dua lelaki berwajah tegas berseragam putih untuk membawanya ke suatu ruangan yang beda dari ruang rawat rumah sakit. Reyhan menatap nanar dan ingin mengeluarkan air matanya disaat dirinya melihat sahabatnya itu meronta-ronta dengan melontarkan kata-kata kotor pada Reyhan bersama tawanya yang padahal Angga sedang dilumuri rasa kepanikan, kesedihan, dan amarah.


“Lepasin gue!! Lepasin gue, hahahaha!!” Dengan derai air mata yang membasahi kedua pipinya, Angga tertawa kencang sekaligus melotot pada Reyhan yang sekarang antara jarak ia dan sahabatnya telah menjauh.


“Cowok bajingan! Anjing! Goblok! Brengsek! Bejat! Musnah lo dari dunia ini, musnahlah! Wahahaha!!!”


“Huhuhuhu! Tolongin gue, Rey! Gue nggak sakit jiwa dan gue nggak pantes dimasukin ke sini! Tapi bohong, hahahaha!!!”


“ANJING LU BANGSAT!!!” teriak Angga marah besar yang padahal dirinya habis tertawa bahagia.


Lelaki berseragam putih yang bertugas di dalam RSJ atau kepanjangannya adalah Rumah Sakit Jiwa, terus menyeret-nyeret tubuh Angga dengan sekuat tenaga karena tenaganya pemuda yang jiwanya telah sakit itu begitu kuat dibanding mereka berdua. Di sini hati Reyhan begitu hancur melihat kondisi sahabatnya yang bukan lagi seperti sahabatnya yang ia kenal dari dulu. Melihat Angga menangis, tertawa, dan marah yang berubah-ubah secara singkat. Tak hanya Reyhan saja yang ada di dalam rumah sakit jiwa, namun juga ada kedua orangtuanya di dekatnya. Sepasang suami-istri itu pula merasakan kehancuran hati yang sama seperti anak semata wayangnya, memandang Angga dari kejauhan nang sedang tertawa bahagia dengan terus diseret-seret oleh perawat rumah sakit jiwa tersebut.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


“JANGAN!!!”


Reyhan telak bangun dari tidurnya. Napasnya ngos-ngosan dengan bercampur keringat yang mengucur dari keningnya hingga ke tulang pipinya. Mata pemuda Friendly tersebut terbuka lebar sempurna, kemudian detik selanjutnya ia mengusap wajahnya kasar karena peristiwa kejadian memilukan yang mampu merapuhkan hati hanyalah sebuah mimpi.


“Istighfar! Istighfar, Rey! Gendeng banget lo sampe mimpi gak jelas kayak barusan!” monolog Reyhan seraya melepaskan kedua telapak tangannya dari mukanya.


Lelaki itu menghempaskan napasnya kencang lalu menatap Angga yang terbaring lemah dengan masih belum kunjung sadarkan diri. Reyhan mengangkat tangan sahabatnya lalu menggenggam telapak lemas sang sahabat. “Enggak, sahabat gue ini bukan sakit jiwa, bukan. Jiwa Angga cuman terganggu karena Depresi masa lalu kelamnya yang membuat dia trauma berat.”


“Mustahil sekali jika suatu hari nanti bakal terjadi. Gue yakin Angga hanya mengalami gangguan mental dan nggak akan hingga sampai ke sakit jiwa. Sahabat gue gak mungkin separah seperti di mimpi gue tadi. Mustahil banget, mustahil.”


Sementara terdapat bekas linangan air mata di kedua pipinya Reyhan yang sedang berdialog dengan diri sendiri. Selang menit berlalu, kepala Reyhan mendongak melihat langit senja yang berwarna jingga menyimpulkan telah sore hari. Itu berarti sudah berjam-jam mata Angga terpejam tenang dan belum terbuka sama sekali apalagi pemuda tampan tersebut masih terpasang masker oksigen yang sebuah alat untuk membantu meningkatkan kadar oksigen dalam tubuhnya nang sangat rendah.


Semuanya itu adalah ulah bengisnya Gerald yang membuat Angga kembali begitu lemah seperti ini, bahkan dirinya telah mampu buat musuhnya mengalami gangguan pernapasan hingga kadar oksigennya yang telah normal balik menurun.


Indigo To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2