
“Ada apa ...?”
Kesemua remaja yang ada di depan pintu, sontak langsung menoleh ke arah tangga yang di sana terdapat sosok Reyhan yang turun dari tangga dengan tertatih-tatih memegang bagian lukanya yang belum kering. Melihat kondisi sahabatnya nang belum memungkinkan, Angga berlari menghampiri Reyhan yang telah sudah menginjak lantai bawah.
“Lo kenapa keluar dari kamar?!” tanya Angga khawatir seraya merangkul Reyhan yang hendak jatuh.
“Gue dengar keributan kalian dari dalam kamar, semuanya baik-baik saja?” Reyhan bertanya itu dengan menahan rasa sakitnya yang begitu perih.
“Pintu villa tertutup dan nggak bisa dibuka. Kita semua sudah terjebak di dalam sini, Rey.”
Kedua mata Reyhan mendelik terkejut seraya menatap Angga. “Apa?! Kita semua sudah terjebak di dalam sini?! Come on, kita berdelapan sudah pergi jauh-jauh dari kota Jakarta demi menolong Kenzo, tetapi kita semua justru terjebak di dalam bangunan ini! Sialan- argh!!”
Reyhan kembali merintih kesakitan saat telah menekan nadanya dengan hati yang penuh amarah. Bagaimana bisa ia dan lainnya terjebak di dalam bangunan villa megah bernama Ghosmara? Ini sungguh meresahkan serta menjengkelkan.
“Tahan emosi lo, oke? Lo lagi sakit. Ayo gue antarkan elo ke kamar.”
“Hihihihi! Rupanya kau sudah ditemukan oleh manusia Indigo bodoh ini, ya?”
DEG
Tubuh Angga dan Reyhan sedikit terpaku waktu mendengar suara nada menyeramkan dari seseorang yang sepertinya bukanlah manusia tetapi hantu. Dengan menelan salivanya susah payah, Reyhan mencoba memutar tubuhnya ke belakang tak juga dengan Angga yang tidak seperti sahabatnya nang ketakutan namun sengit.
Jantung Reyhan hampir saja terlepas dari organ tempatnya saat kedua matanya menatap wanita arwah yang berambut putih model gelombang, berpakaian gaun krem berpenampilan campur bercak-bercak darah. Dengan keringat dingin beserta tangan yang bergetar, lelaki humoris itu menunjuk sosok wanita pemilik energi negatif tersebut.
“E-elo bukannya wanita yang persis ada di dalam bingkai foto itu, kan ...?!” bimbang Reyhan bersama hati buncah lalu menoleh ke arah bingkai foto tersebut yang ada di tembok samping kamarnya.
Reyhan semakin terperangah melihat hanyalah terdapat sebuah background pemandangan memukau tanpa sosok lukisan wanita Prancis yang ia pandang bersama Jevran waktu malam itu. Reyhan sekarang kembali menoleh ke depan dengan di kompak tawa nyaring dari hantu tersebut.
“Kau mau tahu sesuatu, tidak? Sepertinya sahabatmu belum memberi tahumu tentang aku apapun.”
“A-apa?!” Reyhan memberanikan dirinya untuk bertanya pada arwah beraura negatif tersebut.
Wanita berwajah menyeramkan itu tersenyum iblis lalu melipatkan kedua tangan pucat pasinya di dada. “Akulah sebenarnya yang selama ini menjebak dirimu waktu sekitar pukul dua dini, kau pikir yang kau lihat saat itu sebelum kau dinyatakan hilang adalah temanmu? Oh no, kau salah.”
Napas Reyhan kini terasa tercekat setelah mendengar segala ucapan dari arwah wanita itu yang sedang berkomunikasi angkuh dengannya. “Jadi yang gue ikuti sampai ke hutan, bukan Aji? Tetapi elo sendiri yang mempermainkan diri gue?!”
Aji yang di ujung sana, menyimpan murka terhadap wanita arwah tersebut yang telah memperlakukan Reyhan secara tidak masuk akal walau jika jujur, Aji takut melihat rupa wajah itu. Sementara wanita yang telah mendengar jawaban kaget tak menyangka dari Reyhan balik tertawa kencang.
Sekarang wanita itu mengembalikan posisi kedua tangannya seperti semula lalu menuding Angga dengan jari telunjuknya yang memiliki kuku panjang runcing. “Dan kau, wahai manusia Indigo tampan. Aku yakin kau pasti telah menemukan buku tebal bersampul hitam itu, sepertinya kau juga sudah tersirat ke sesuatu yang membuatmu dejavu.”
Angga terdiam dengan kedua mata melotot, bahkan untuk kesekian kali ini Angga menampilkan wajah ketakutannya usai sosok itu menyebutkan semuanya yang dari bagian mimpi buruknya. Reyhan yang menatap sahabatnya, sedikit mengerutkan dahinya.
‘Buku tebal bersampul hitam yang apa? Kenapa sekarang Angga kelihatan takut begitu? Pasti ada sesuatu yang belum sahabat gue beritahu.’
“Lagi-lagi kau membisu. Lihatlah, aku telah menemukan satu kelemahan darimu. Yaitu mengalami sebuah mimpi buruk yang tidak bisa kau lupakan. Jadi mari aku buat tenaga diri kau semakin melemah!”
Wanita tersebut dengan brutalnya, membentangkan satu tangannya dan keluarlah sebuah pancaran sihir berwarna hitam yang dipadukan warna abu-abu hingga melintang ke arah Angga untuk menyerangnya. Ketujuh remaja itu terperanjat setengah mati saat serangan mantra membahayakan itu akan mengenai raga milik pemuda Indigo tersebut.
“Ngga! Awas!!!” Reyhan mendorong tubuh Angga ke samping dengan gesit hingga serangan mantra itu meleset mengenai bagian undakan anak tangga dan itu nyaris melajang dada sang lelaki Friendly.
__ADS_1
Brugh !!!
Kedua pemuda itu sama-sama jatuh keras di lantai, sementara di sisi lain luka perut Reyhan yang masih basa kini menjadi terasa begitu sakit dan ngilu. Saking sakitnya tak bisa ia tahan, Reyhan mengerang dengan memejamkan matanya erat seraya memegang perut kirinya.
“Rey!” Angga bangkit bangun dari baringnya kemudian mulai membantu sahabatnya bangun dengan perlahan yang posisi tubuh Reyhan terlungkup.
“Argh! Berani-beraninya kau mengganggu hiburan hatiku?! Sini, kau! Ku berikan suatu pelajaran agar kau tidak lagi menganggu aktivitasku!!!”
Hantu wanita Prancis itu mengangkat tangan kanannya di tepat sasarannya Reyhan dengan rambut putih menaik ke atas untuk membuktikan amarah besarnya. Hal itu membuat tubuh manusia itu yang telah menolong Angga, terangkat ke atas jauh hingga kepalanya nyaris terantuk atas dinding yang memiliki plafon berlampu.
Angga mendongakkan kepalanya dengan mulut rada menganga saat melihat raga sahabatnya telah di atas dan keadaannya mengambang di udara. Sementara Reyhan tetap menutup matanya agar pandangannya tak menatap wanita energi negatif tersebut.
“Tatap mataku!” titah paksa hantu wanita itu dan dijawab Reyhan dengan gelengan kepala kuat.
“Lepaskan Reyhan!!!” teriak Angga penuh amarah.
Wanita tersebut dengan berang, mencengkram angin membuat Reyhan merasa lehernya sedang dicekik untuk kesekian kalinya yang pernah dirinya rasakan saat disiksa habis-habisan. ‘Tetap ikuti naluri hati, Rey! Jangan buka mata lo. Lo sudah lemah dan lo nggak boleh menjadi terlalu lemah karena tatapan sorot mata hantu arwah wanita sialan itu !’
“Tidak mau menjawab dan menuruti perintahku? Baiklah, KAU SAMA SEPERTI MANUSIA INDIGO YANG MENJADI SAHABATMU!!!”
Dengan emosi tak terkendali, sosok wanita pemilik aura negatif tersebut menghempaskan tangannya kencang ke samping kanan hingga itu membuat raga Reyhan terpelanting kuat dan kencang secepat angin.
DUAKH !!!
Tubuh Reyhan membentur hebat di tembok sisi ruang dapur sampai membuat dirinya terjatuh sangat keras di lantai dingin tersebut. Reyhan merintih kesakitan saat merasakan di tiga bagian tubuhnya yaitu punggung, leher, dada, dan perut.
“Uhuk! Uhuk! Uhuk! Uhuk!”
“REY!!!”
Keenam remaja yang sedari tadi panik tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Reyhan, berlari kencang menghampiri lelaki Friendly itu yang sudah terlanjur tidak sadarkan diri dengan posisi tubuh terlentang lemah di atas lantai. Sedangkan Angga yang berdiri dihadapan wanita arwah tersebut, menatapnya bersama sorot mata tajam beserta rahang yang mengeras bahkan kedua telapak tangannya saling mengepal kuat.
Semuanya duduk berlutut di sisi-sisinya Reyhan. Kedua sahabat perempuannya, dan keempat teman terbaiknya memanggil-manggil nama dirinya secara berulang-ulang bersama nada cemas tidak karuan dengan menggoyang-goyangkan tubuh Reyhan walau hasilnya tak ada sedikitpun alias bergeming.
Melihat sahabatnya yang kembali seperti ini dan semua itu adalah kesalahannya dari arwah wanita yang sedang berseteru pada Angga, kedua mata Jova berkaca-kaca menatap Reyhan yang tak juga siuman padahal banyak yang berupaya untuk menyadarkan dari pingsannya.
“Rey! Please kami mohon, ayo bangun!!” Jevran dengan raut panik terus menepuk pipi kiri tetangganya yang dari mukanya terlihat pucat sementara kondisi bibirnya setengah bungkam.
“Bangsat! Setan Brengsek! Waktu itu dia sudah menjebak Reyhan dengan caranya! Dan sekarang dia malah melukai Reyhan sesuka hatinya!!” umpat Jevran menekan giginya penuh jiwa emosi.
Aji yang melihat kekacauan hati temannya, langsung mengusap-usap punggungnya lalu mendekati bibirnya di telinga Jevran. “Lo jangan mengumpat sama arwah wanita itu, bisa jadi elo gantian diserang. Tahanlah sebentar emosi lo untuk sementara waktu.”
“Reyhan ...” lirih Freya gundah bersama hati resah sambil mengusap-usap kaki kanan sahabat lelakinya.
Di sisi lain, tak ada habisnya Angga menatap tajam wanita hantu tersebut dengan jiwa beraninya. Ingin rasanya Angga menerjangnya langsung karena telah berani menyakiti sahabatnya hingga hilang kesadaran.
“Sahabatmu sangat lemah. Tidak cocok untuk menjadi lawanku,” sombong arwah berambut putih model gelombang tersebut.
Angga menggelengkan kepalanya pelan dengan melemparkan tatapan tampang sengitnya. “Dia gak akan lemah, jika elo tidak membuat tenaga sahabat gue melemah!”
__ADS_1
“Berani sekali kau membentak diriku? Sekuat berapa nyalimu, hah? Kau tidak perlu berpura-pura berani padaku dan tunjukkan ketakutan aslimu.”
Angga tersenyum miring. “Lo pikir gue takut dengan lo? Itu sama sekali mustahil kalau gue merasa takut untuk menghadapi lo bahkan melawan elo sekalipun, bahkan setelah diri lo membuat sahabat gue terluka hingga kedua kalinya, gue sama sekali gak terima apa yang telah lo perbuat!”
Amarah emosi hantu wanita berusia 20-an tahun tersebut begitu sudah terpancing oleh Angga. Bahkan saking ingin melampiaskan kekesalannya terhadap manusia lelaki Indigo itu, sosok pemilik energi negatif tersebut merentangkan satu tangannya ke depan untuk menyerang Angga menggunakan kekuatan mantra sihirnya.
Namun dengan cepatnya, Angga mengelaknya dengan cukup hanya memiringkan badannya. Hantu wanita itu berteriak marah dan terus mengeluarkan mantra sihir hitamnya sampai tangan satunya membentang ke depan agar serangannya berhasil mengenai raga milik Angga.
Sementara Freya sang pujaan hatinya Angga, terus menggigit bawah bibirnya dengan detak jantung berdegup kencang. Tak bisa membayangkan bila serangan mantra tersebut berakhir mengenai raga kekasihnya, tak hanya Freya saja yang diliputi hati buncah tetapi juga lainnya termasuk Jova yang usai membersihkan air matanya.
Angga tidak bisa terus saja begini untuk hanya menghindar setiap serangan membahayakan yang diberikan hantu aura negatif tersebut, dirinya harus mencari sebuah cara untuk memungkasi semua ini. Hingga setelah berpikir keras dengan sambil tetap mengelak serangan mantra sihir hitam itu, Angga tiba-tiba mendapatkan sebuah ide cermat yang keluar dari kepalanya.
Dulu saat ia masih kecil berusia 12 tahun, Angga pernah mengusir sesosok arwah negatif yang setiap hari meneror dirinya kemanapun ia berada. Dan di situ Angga memiliki sebuah cara ampuh untuk melenyapkan hantu yang meneror ia dari dunia dan mendorongnya kencang ke alam baka.
Ya! Cara manjur itu adalah sebuah alat cermin. Angga mungkin akan mencobanya walau setengah hati merasa ragu, namun segera Angga tepis. Sayangnya di sekitarnya tidak ada satupun cermin yang terlihat. Dan saat lelaki Indigo tampan tersebut menyentuh luar kantong celana jeansnya, Angga menaikkan kedua alis hitam tebalnya yang tertutupi oleh rambutnya.
‘Ponsel! Mungkin gue bisa memanfaatkan ponsel ini untuk menghapuskan sosok wanita energi negatif itu dari dunia dan melemparkannya ke alam baka.’
“Harusnya kau akan kalah jika aku memberikan serangan terakhir ini padamu, Bodoh!”
“Anggara! Berjaga!!!” teriak Freya dan Jova saat mantra terakhir dari hantu wanita Prancis bergaun itu menepatkan sasarannya ke arah Angga.
DUM !!!
Keenam remaja tersebut yang ada di dekatnya Reyhan, seketika langsung menutup matanya rapat dengan satu lengan tangan saling membentengi wajah mereka masing-masing saat mendengar suara dentuman kuat bahkan membuat seluruh bangunan ini bergetar hebat macam ada bencana alam yakni gempa bumi.
Freya dengan tangan bergetar, perlahan ia turunkan dari wajah cantiknya yang dilumuri rasa ketakutan bila serangan dahsyat itu berhasil mengenai raga kekasihnya. Dalam relung hati, Freya merapalkan sebuah Doa untuk mengharapkan Angga baik-baik saja di sana dikarenakan Freya tidak dapat mendengar suara apapun termasuk suara Angga.
Terlihat salah satu sudut bibir Angga naik ke atas setelah membentangkan layar ponselnya menggunakan tangan kirinya. Lihatlah, wanita arwah tersebut terkena senjata makan tuan. Sosok itu berteriak kesakitan waktu mantranya memantul dari layar ponsel milik manusia lelaki tampan cerdas dan membalik mengenai dirinya. Asap-asap hitam yang membuat seketika ruangan utama terkesan gelap seperti cuaca langit di luar, mengepung dan mengelilingi hantu berenergi negatif tersebut.
“Apakah lo mengira dengan sebuah pancaran aura dan energi negatif hitam itu berhasil membuat gue terlalu sulit menerjang diri lo? Oh, tidak. Jadi, selamat menikmati pelenyapan ini dari dunia dan masuklah segera ke dalam alam baka yang sekarang sedang menanti kehadiran elo setelah ini.”
“Aaaaaarrggh!!! Dasar manusia kurang ajar!! Awas saja kau, kau akan mendapat balasan yang setimpal usai mengusir dan melenyapkan diriku dari dunia!”
“I don't care anymore about what you say.”
Terdengar suara retakan karena wajah menyeramkan dari arwah wanita Prancis itu yang kemarin memainkan piano bermusik Beethoven, retak dengan keluarnya asap putih setiap keretakan muka gaibnya. Hingga pada akhirnya hitungan sampai 10 detik, hantu tersebut hilang bak dihempas angin serta ditelan oleh bumi.
Angga dengan menghembuskan napasnya lelah, menurunkan ponselnya setelah hilangnya arwah wanita pemilik energi dan aura gelap tersebut. Tentu saja, mengusir makhluk halus butuh menggunakan tenaga maksimal walau Angga sendiri tidak memedulikan semua itu, yang terpenting tak ada lagi makhluk gaib tersebut yang berusaha menghantui kedelapan remaja penghuni sementara di dalam bangunan villa Ghosmara.
Bahkan kini sekarang ruangan yang mereka tempati ini menjadi terang sediakala, walau lebih terang daripada sebelumnya Angga melakukan aksi perang sengit terhadap hantu wanita Prancis. Sementara keempat temannya melongo tak percaya meski dalam hati amat bangga melihat kehebatan Angga yang seperti bukan manusia biasa atau sembarang.
“Gila, demi apa? Pacarmu hebat banget, Frey! Dengan semudah itu Angga mengusir setan itu kayak di film animasi negara Korea Shinbi House!” kagum Rena sambil bertepuk tangan pelan.
Freya hanya tersenyum begitupun Jova yang ikut tersenyum bangga pada sahabat Introvert-nya. Memang selain Indigo, Angga juga lelaki yang memiliki kecerdasan di otaknya apalagi ia mempunyai otak IQ dominan kanan.
Setelah semuanya tuntas, Angga berlari ke arah ruang dapur untuk menghampiri Reyhan yang nampaknya masih belum sadarkan diri di sana. Beberapa remaja saling menggeser posisi tempat agar Angga bisa mengecek kondisi sahabatnya terkini. Dalam duduk berlutut, Angga berupaya membangunkan Reyhan dengan cara menggoyang-goyangkan pelan kedua bahu lemas milik pemuda Friendly tersebut.
Merasa hal yang Angga lakukan ini mustahil untuk mengembalikan kesadarannya Reyhan apalagi oksigen dalam tubuhnya masih menurun, Angga memutuskan mengangkat kepala sahabatnya dan mulai melakukan aktivitas membawa tubuh Reyhan dengan tenaganya yang masih tersisa. Memanggulnya di belakang punggung kokohnya untuk membawa Reyhan ke dalam kamar 002 yang letaknya ada di atas tangga, kendatipun raga Angga begitu amat letih akibat menerjang makhluk gaib tersebut, akan tetapi konstan Angga paksa demi lepau sahabatnya.
__ADS_1
INDIGO To Be Continued ›››