
Reyhan di teras rumahnya menepuk-menepuk wajahnya agar tak mengantuk disaat di perjalanan menuju ke sekolah. Hari selasa, hari cuaca yang mendung, memadukan mata Reyhan yang kantuk-kantuk pagi ini.
Reyhan tak begadang semalam, tapi hampir seperti begadang dikarenakan ia mendadak terkena Insomnia. Hal itu gara-gara ulahnya Arseno yang meneror Reyhan dari malam hari sampai dini hari, akan tetapi liciknya arwah itu sosok tersebut membuat Farhan dan Jihan tak tahu apa yang sedang terjadi pada Reyhan.
Badan Reyhan terasa pegal-pegal, kedua bawah kantung matanya berwarna sedikit hitam dan membengkak, bibirnya nampak masih pucat dikarenakan pusing yang belum berlalu terlebihnya tadi Reyhan tak sarapan terlebih dahulu.
Reyhan segera cepat-cepat melajukan motornya untuk sampai ke sekolah karena beberapa menit lagi ia akan terlambat.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Diperjalanan menuju sekolah, Reyhan melewati jalan kota yang begitu padat meskipun cuaca langitnya mendung. Sekitar 10 persen Reyhan fokus mengendarai motornya, karena ngantuk-nya mengalahkan fokus Reyhan terhadap jalan di depan hingga tiba-tiba...
Salah satu nenek yang telah berambut putih tengah menyebrang tengah jalan, Reyhan yang tak fokus tak melihatnya kalau di depan persis ada seorang nenek.
"E-eh! Nenek awas Nek!!" teriak Reyhan memperingati.
Brugh !!
Karena tak sempat menghindar, terlebihnya nenek tersebut begitu kaget akhirnya ia terjatuh terduduk di aspal jalan. Reyhan membelalakkan kedua matanya yang kantuk, menatap nenek yang ada di depannya terjatuh akibat Reyhan gagal fokus.
Reyhan tak mungkin kabur melarikan diri meninggalkan nenek itu yang jatuh merintih kesakitan akibat teledornya, Reyhan segera mematikan mesin motornya lalu turun dari motornya. Menghampiri nenek itu yang nyaris saja tertabrak motornya Reyhan.
"Ya Allah Nek, Nenek tidak apa-apa?! Maafkan saya Nek, saya benar-benar tidak sengaja."
"T-tidak apa-apa, Nak. Nenek baik-baik saja."
"Mari Nek, saya bantu-"
TIN TIN TIN TIN !!!
Reyhan yang mengangkat tangan wanita tua tersebut langsung di berikan klakson dari beberapa mobil di belakangnya. Reyhan menoleh cepat dengan ekspresi syok karena di klakson tiba-tiba.
"WOI ANAK TIDAK TAU DIRI! CEPAT SINGKIRKAN MOTORMU ITU!! MAKSUDMU APA PARKIR DI TENGAH JALAN, HAH??!!"
"KAMI SEMUA MAU LEWAT!!!"
"KASIHAN YANG ADA DI BELAKANG KAMI, MACET GARA-GARA KAMU YANG MEMARKIRKAN KENDARAAN MU SEENAKNYA!! CEPAT SINGKIRKAN ATAU SAYA TABRAK MOTORMU BIAR SEKALIAN JALAN KAKI KE SEKOLAHNYA!!!"
"Eh Astaghfirullah, iya-iya Pak! Iya, maafkan saya. Saya akan parkir motor saya ke pinggir!"
TIN !
"YAUDAH CEPETAN! SAYA JUGA HARUS KE KANTOR UNTUK KERJA! EMANG YA ANAK SMA JAMAN SEKARANG SUKA NYELENEH!!"
Reyhan terdiam dan segera cepat-cepat menggiring motornya ke pinggir jalan usai diberikan banyak protes dari beberapa orang. Tak hanya menggiring motornya, tetapi Reyhan juga membantu nenek tersebut ke pinggir jalan.
Reyhan menundukkan kepalanya sementara beberapa pengendara tersebut memberikan tatapan sengit pada Reyhan. Reyhan menghela napasnya di trotoar, hari ini benar-benar hari paling nasib sial bagi Reyhan.
"Nak, kamu tidak apa-apa?" tanya nenek tersebut lembut dengan memegang telapak tangan Reyhan hangat.
Reyhan mendongakkan kepalanya cepat dan menatap nenek itu yang ada di tepat sisinya. "Saya tidak apa-apa, Nek. Harusnya saya yang bertanya seperti itu .. Nenek baik-baik saja kan? Ada luka tidak karena gara-gara saya tadi?! Kalau ada, saya segera antar kan Nenek ke rumah sakit!"
Beliau tersenyum manis. "Jangan khawatir dan panik seperti itu, Anak ganteng. Nenek baik-baik saja kok, tadi Nenek hanya syok karena di depan Nenek tiba-tiba ada motor yang melintas ke Nenek."
"Tapi, ada yang sakit kan Nek?! Di bagian mana?? Bilang saja kepada saya, saya akan tanggung jawab atas kesalahan dan kecerobohan saya terhadap Nenek!"
"Sudahlah, kamu tidak perlu seperti itu. Nenek benar-benar tidak apa-apa."
"Yakin, Nek? Benar-benar tidak apa-apa??" tanya Reyhan dengan nada risau.
"Tidak apa-apa, Nak ..." Nenek tersebut mengusap-usap punggung Reyhan untuk menenangkan pikiran Reyhan yang telah bersalah tadi. "Hehehe, kamu ternyata laki-laki yang mempunyai jiwa rasa tanggung jawab, ya. Nenek terkagum pada sifat dirimu."
Reyhan tersenyum kikuk dengan menganggukkan kepalanya dan nenek itu masih tersenyum manis di sampingnya.
"Nenek bisa merasakan, aura mu sangat begitu baik terlebihnya kamu suka menolong yang membutuhkan pertolongan. Dan ... dari dalam jiwamu dan sorot mata milikmu, kamu anak lelaki yang sangat ramah dan setia."
"M-maaf Nek, kenapa Nenek tiba-tiba memuji saya seperti itu, ya?" tanya Reyhan dengan senyum standar.
"Nenek hanya merasakan dan menyebutkan sifatmu saja. Tetapi, Nak kamu harus waspada yang akan menimpa dirimu sebentar lagi."
Reyhan gelagapan dengan mata terbelalak lebar. "Maksud Nenek?!"
"Firasat Nenek berkata, akan ada bahaya besar yang akan mencelakai hidupmu dan menjadi sangat fatal. Maafkan Nenek jika membuat kamu terkejut dan tidak menyangka."
Mulut Reyhan menganga lumayan lebar. 'Apa nenek yang gue tolong ini bisa ngelihat sesuatu yang terjadi di kedepannya? Suatu bahaya besar akan menimpa gue hingga terjadi sangat fatal?! Tapi, kenapa tiba-tiba nenek ini berkata seperti itu sama gue? Jangan-jangan gue nolong nenek Indigo lagi !'
"Sebaiknya, kamu segera menuju ke sekolah. Karena sebentar lagi kamu akan terlambat, tinggalkan Nenek di sini saja Nak. Nenek masih bisa untuk berjalan, kok."
"Eeee ... y-yasudah kalau mau Nenek begitu. Saya pamit ya, Nek. Sekali lagi saya sungguh minta maaf atas kejadian yang tadi."
"Tidak apa-apa, Nak. Sudah lupakan saja. Dan ingat pesan Nenek, hati-hatilah dan waspada."
Nenek tersebut menyentuh pipi kanan Reyhan dengan menatapnya intens namun tersenyum, Reyhan menganggukkan kepala saja kemudian nenek itu melepaskan tangannya dari pipi pemuda ini yang akan beranjak dari duduknya di trotoar pinggir jalan. Sebelum Reyhan pergi meninggalkan nenek itu, Reyhan membungkukkan badannya sopan dengan tersenyum lalu menaiki motornya berlalu meninggalkan nenek tersebut.
Nenek itu menatap kepergian Reyhan yang semakin tak terlihat di jauh sana karena Reyhan memaksimalkan kecepatan motornya, wajah raut dari nenek tersebut nampak gundah lara karena peristiwa itu akan benar-benar terjadi suatu hari nanti.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Freya dan Jova nampak sibuk dengan PR-nya di kelas, sebenarnya dua gadis ini sudah mengerjakan PR-nya sewaktu malam tadi masing-masing, namun ada kejanggalan dimana mereka berdua sama-sama salah rumus pada tugas matematika yang diberikan oleh pak Harry kemarin.
"Duh ini jawabannya berapa, yak! Mana mau bel, lagi!" ucap Jova dengan nada frustasi.
"Ini kayaknya kita harus jabarkan angkanya dulu deh, nah habis itu kita masukin semua angkanya yang diubah jadi perkalian," ujar Freya dengan menempelkan bolpoin-nya di atas kening.
"Parah, kelamaan dong! Belum lagi habis itu di bagi dulu semua angka-angkanya! Tanya Angga saja, yok!"
"Lih, aneh kamu Va .. Angga itu kan belum bisa masuk sekolah, mau tanya di WA kasian Angga dong. Angga kan masih sakit."
"Ck, iya sih ... oh tanya Reyhan aja dah!"
"Reyhan belum dateng, Va ... udah deh yuk kita kerjain sebisa kita, salah gakpapa yang penting kita ngerjain, ya kan-"
"Woi Vran!!"
Jevran yang baru salah balik dari toilet, menoleh ke arah Jova. "Manggil siapa, kamu?" tanya Jevran sok dingin.
"Manggil malaikat Izrail buat cabut nyawamu!!"
"Astaghfirullah galaknya! Iye-iye maaf. Kenapa? Ada apa manggil aku?"
"Reyhan kok belum dateng? Gak masuk?"
"Lah, mana saya tahu? Saya kan ikan," jawab Jevran rese.
"Tuh kan! Aku doain jadi ikan beneran, mampus lu sampe hari maut!"
"Eeeehh doain temennya! Parah banget!!" pekik Jevran dengan menunjuk Jova.
Freya menarik-narik lengan jas almamater Jova dengan pandangan fokus ke rumus-rumus matematika yang gadis itu tulis.
"Kenapa?? Udah nemu jawabannya??"
"Belum, aku tuh nyuruh kamu buat duduk. Pagi-pagi udah ngomel-ngomel sama yang lain, nggak sama Reyhan ternyata kamu sama aja. Tapi awas saja, kalau kamu ngomel dengan Angga atau ngajak perang mulut .. kamu dibuat diam seribu kata, deh."
"Ehem! Denger-denger kalian berdua lagi enak ngerjain PR sambil ngegosip orang, ya?"
Freya dan Jova mematung dan saling melemparkan pandangannya. Dua gadis itu mendengar suara pemuda yang tak asing di telinganya mereka masing-masing. Bahkan mereka berdua merasa selain suara yang mereka kenal, pemuda itu nampak sangat tinggi.
"Siapa ya, Frey? Kalau Reyhan nggak mungkin deh dia kan suaranya cempreng kayak cewek."
"Hust! Nggak boleh ngomong gitu ih, memangnya Reyhan bencong?" Freya setelah menegur Jova, menoleh ke sumber suara yang tepat ada di kirinya.
"Hah?! Eh?!" kaget Freya tak percaya.
"Hai, selamat pagi Freya."
"Siapa sih Frey? Sampe kaget git- LHO ANGGARA??!!"
Semuanya sekelas menoleh ke arah Jova yang masih pagi berteriak menggelar sampai sepenjuru ruang kelas XI IPA 2. Siswa pemuda yang telah berbulan-bulan tidak masuk sekolah kini telah datang dengan tersenyum tipis. Itulah Angga.
"Angga? Ini beneran, elo? Wah Alhamdulillah gue gak nyangka akhirnya lo bisa masuk sekolah lagi. Gimana? Sekarang lo udah sehat total, kan? Bener-bener udah total?" tanya Joshua.
Angga mengangguk tersenyum tipis. "Iya, gue udah sehat total."
"Eh Angga, kamu sehat kok gak ngabarin aku? Beneran loh, aku sampe gak menduga kalau kamu udah bisa masuk sekolah," kata Freya dengan nada penuh senang.
"Sengaja, kejutan." Angga berucap dengan bibir sumringah di wajah tampannya.
"Hmmm, ngomong-ngomong Reyhan hari ini nggak hadir? Sampai jam sekarang Reyhan belum dateng. Sakit, kali ya."
"Eh yang bener lo, Joshua? Tapi pas kemarin si Reyhan emang udah sakit sih sampe rumah aja badannya udah lemes gitu kayak gak punya tenaga."
Angga yang masih berdiri dan belum duduk di bangkunya memutar beberapa derajat ke arah Jevran. "Reyhan kemarin, sakit?"
"Hm'em, kemarin juga sempet masuk UKS kok. Gue nemenin," ucap Jevran.
Di dalam hati Angga, ia sangat geram pada Arseno yang sudah jelasnya arwah itu meneror Reyhan hingga Reyhan jatuh sakit. Tanpa Angga sadari, satu telapak tangannya mengepal dengan kepala pandangan menatap bangku Reyhan yang masih kosong.
Angga memutuskan duduk di bangku kursinya dan melepas tas pundaknya, Angga menatap sekeliling kelas yang banyak berkutat pada PR matematika yang belum sempat mereka kerjakan. Namun yang Angga fokuskan dan ia nantikan adalah Reyhan yang masih belum nampak batang hidungnya.
Hingga tiba-tiba Angga mendengar langkah kaki sepatu mendekatinya, namun bukan mendekati Angga tetapi berjalan menuju bangku sebelahnya Angga. Angga yang tengah menunduk langsung menoleh ke bangku Reyhan yang rupanya itu adalah Reyhan yang duduk di bangkunya dalam wajah suram, lesu, dan tak semangat.
KRIIIIIIIIIIINGG !!!
Angga yang hendak ingin menghampiri sahabatnya yang baru saja datang, kembali duduk di kursinya. Sedangkan Jevran berlari menghampiri tetangganya yang tengah menenggelamkan mukanya di atas tumpukan kedua lengan tangannya untuk menjadikan sebagai bantal wajahnya.
"Rey, masih sakit? Kalau masih sakit ngapain berangkat?"
Pertanyaan lirih iba Jevran tak di sahut sama sekali oleh Reyhan, usai tadi melepas tas-nya Reyhan diam tak berbicara posisinya masih tetap sama. Membenamkan wajahnya. Kini tak hanya Jevran saja yang ada di sisinya Reyhan, tetapi ada Freya, Jova, Lala, Rena, Zara, Aji, Raka, Andra, Joshua, Ryan, dan Kenzo.
"Woi Bro, lo lemes gini ... kalau nggak kuat kenapa gak izin aja? Bahayain kesehatan lo, tau," ujar Aji.
__ADS_1
"Kita tau lo nggak mau ketinggalan pelajaran, tapi lo kan bisa tanya di antara kita semua di WA. Gue anter ke UKS, gimana?"
"Eh Joshua, udah berapa kali Reyhan masuk UKS? Keknya sudah beberapa kali dah," timpal Ryan.
Angga yang hanya diam menatap Reyhan, langsung beranjak berdiri dan menghampiri Reyhan yang masih dalam posisinya. Disaat Angga telah berada di sisinya Reyhan, Angga langsung bisa merasakan bahwa Reyhan sedang dilanda banyak masalah apalagi daya tahan tubuh Reyhan lemah.
"Eh Rey, coba deh kamu lihat ... itu ada si Angga di samping kiri-mu," titah Freya dengan menyentuh pundak kanan Reyhan.
"Mimpi, kali ah kamu ..." jawab Reyhan dengan nada serak.
"Lihat dulu, makanya!" ucap Jova memukul kepala Reyhan.
"Eh astaga! Jangan dipukul kepalanya Reyhan! Kepalanya itu masih pusing, kalau kamu pukul begitu nanti yang ada bisa cidera!" tegur Freya dengan nada sedikit kesal.
Reyhan perlahan menegakkan badannya dengan mata sayup-sayup kantuk, dengan lemas ia mencoba menoleh ke samping kirinya seperti yang di komando lembut Freya.
Reyhan nyaris saja terjungkal bersama kursi bangkunya, melihat yang ia lihat benar-benar Angga nyata sedangkan Angga yang ditatap Reyhan kaget hanya diam dengan wajah datarnya namun itu berubah menjadi sunggingan senyuman simpel.
"Kenapa lo kaget begitu? Dikira gue setan?"
"A-a-a-angga??!!" ucap Reyhan terbata-bata.
Reyhan langsung memalingkan wajahnya menghindar tatapannya Angga dengan detak jantung berdegup sangat maksimal. Mengapa Reyhan begitu? Dikarenakan Reyhan takut Angga pasti bisa membaca pikiran Reyhan di situasi payah seperti ini.
'H-haduh kenapa Angga udah masuk sekolah, sih?! Bisa tamat nyawa Angga kalau Angga mengetahui semua apa yang gue alami !'
Flashback On
Di malam hari dalam kondisi Reyhan lemah, pemuda itu di dorong kencang Arseno kencang dari atas kasur.
BRUGH !!
"Aaaakkhh!!"
"Sssssstt ... jangan teriak, kalau teriak sekali lagi aku akan menamatkan nyawamu detik ini juga."
"S-sakit ..."
"Sakit? Ya memang sakit, dasar lemah! Begitu saja sudah bilang sakit! Bagaimana kalau aku meneror mu jauh lebih mengerikan dari ini? Kamu pasti akan langsung sekarat atau mati! Huahahahahaha!!"
"K-kenapa? Kenapa lo nggak bosen meneror gue, hah?! Kenapa lo gak sekalian buat gue mati saja??!! Dengan itu lo pasti seneng kan!!" murka Reyhan.
"Oh, tidak-tidak. Aku menunggu waktu yang sangat tepat untuk mengakhiri nyawamu, dan satu lagi ... jikalau kamu berani mengadu kepada siapapun termasuk Angga bahwa kondisi jiwamu berada di bawah tekanan ku, itu berarti aku tak segan-segan langsung menghabiskan jiwa nyawanya."
Flashback Off
Reyhan memegang kepalanya yang kembali sangat pusing bahkan ditambah keliyengan, pandangan tatapan Reyhan masih menghindar dari Angga. Reyhan tak berani menatap Angga, kalau ia menatap Angga itu juga artinya Angga bisa membaca pikiran dirinya lewat sorot matanya.
"L-lebih baik kalian semua duduk aja deh, bentar lagi pak Harry masuk ke kelas," suruh Reyhan.
Mereka saling melemparkan pandangannya kemudian akhirnya mereka termasuk Angga duduk di bangkunya masing-masing. Benar ucapan Reyhan, tak lama kemudian pak Harry masuk dengan menenteng beberapa buku tebal materi matematika.
Angga membuka lembar-lembar di buku paket matematikanya kemudian menatap Reyhan dengan wajah pilunya.
'Rey, gue tau lo banyak masalah. Mau lo bohongi gue .. lo gak bakalan bisa.'
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
KRIIIIIIIIINGG !!!
Jam istirahat, bel telah dibunyikan. Untuk saatnya para siswa dan siswi melepaskan beban tugasnya sementara karena perut mereka keroncongan dan harus pergi ke kantin.
"Reyhan, ayo ke kantin." Tutur Freya mengajak.
"Nggak, kalian bertiga saja. Aku nggak laper."
"Buset, tumben nggak laper? Biasanya juga kamu gentong tukang makan," kata Jova dengan nada meledek.
"Ayo ke kantin, perut lo harus isi. Kalau nggak, bisa tambah sakit." Angga menimpali.
"Ogah, gue nggak-"
"Nggak ada ogah-ogahan, ayo cepetan. Nanti kalau sakit lo langsung parah di sini, gue yang ogah anter lo ke UKS atau rumah sakit."
"Anjir, sialan lo ya Ngga. Bisa-bisanya lo ngomong gitu sama gue," respon Reyhan bernada lesu.
"Makanya, ayo ke kantin."
"Duit gue pas-pasan," jawab Reyhan singkat.
"Gue yang traktir, mau alasan apa lagi lo?"
Reyhan menghela napasnya, sudah tak mempunyai alasan lagi dengan Angga.
"Eh Ngga! Cewek-cewek sahabatmu di traktir juga dong!" pinta Jova semangat.
"Hmm, ya oke terserah kalian."
"Nggak apa-apa, Frey. Aku bawa uang lebih, kok."
Angga mengucapkan itu dengan tersenyum sembari mengusap-usap pucuk kepala Freya dengan lembut. Reyhan yang biasanya kalau ada adegan seperti itu langsung meledek Angga dan Freya habis-habisan tapi kali ini ia hanya diam seperti tak mau berbicara apa-apa.
"Nah tuh kan, Angga kan orangnya dibawa santuy kayak air beda sama Reyhan ... sukanya bawa api yang membara."
Reyhan menatap tajam Jova. "Mulai ngajak ribut lagi, kamu ya!"
"Hehehehehe, biasalah. Mulutku gatel."
Reyhan mendengus lalu berpaling dari Jova.
"Ayo cepetan ke kantin," ajak Angga dengan menarik lengan Reyhan.
"Ck, males gue Nggaaaa ..." rengek Reyhan.
"Gak ada kata-kata malesan! Ini juga kenapa lo bisa kayak jelly begini? Lemes bener lo."
"Eh, Angga udah pinter ngeledek orang hehehe."
"Kayaknya Angga belajar dari Reyhan deh Frey makanya jadi andalan ngeledek orang hahaha!"
"Aku lagi! Aku lagi!
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Di kantin, Angga nampak sedang mengantri membeli mie ayam di penjual kantin sebelahnya kantin mie soto. Kedua tangan Angga bersedekap di dada menunggu penjual membuat mie ayam. Seraya menunggu, Angga menatap sekeliling kantin hingga mata Angga membentur sosok Arseno yang menatapi Reyhan dengan seringai mengerikan.
Angga menatap tajam Arseno tanpa ada rasa takutnya sama sekali, malah justru ia ingin menerjangnya dengan keberaniannya akan namun sayangnya Angga masih berada di lingkungan dalam sekolah. Angga tak mungkin bertindak sekarang, bisa-bisa kalau Angga bertekad yang ada Angga langsung di cap menjadi mahasiswa tidak waras di SMA Galaxy Admara.
"Mas Angga, Mas ini sudah jadi mie ayamnya."
Angga tak menggubris bahkan merespon penjual mie ayam tersebut, pandangan matanya masih menatap tajam arwah di sana yang belum pergi.
"Halooo ... Mas Angga?"
"Eh iya Bi, kenapa?"
"Ya ampun, Mas-nya dipanggil daritadi nggak nyaut-nyaut kenapa sih? Ini mie ayamnya udah jadi semuanya."
"Aduh iya maafkan saya Bi. Ehm uangnya tadi sudah saya serahkan pada Bibi Devi kan, ya?"
"Sudah kok, kenapa Mas-nya jadi pelupa gitu?" tanya Bi Devi dengan menyengir.
Angga hanya cengar-cengir dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Di sisi lain, Freya melihat Reyhan yang malah tidur dalam keadaan kepala diletakkan di atas lengan tangannya yang ada di atas meja. Jova nampak asyik sendiri dengan kamera Instagram ponselnya.
"Kamu lagi ngapain sih, Va?"
"Lagi main filter-filter di kamera Instagram, gilak fiturnya makin amazing woi!"
"Ngapain? Kamu mau posting foto lagi di akun Instagram-mu??"
"Hmm ... enggak sih, aku cuman mau nyobain beberapa filter yang terbaru doang. Eh Frey, mending kamu daftar noh di akun Instagram, siapa tau aja kalau kamu sering posting-posting foto apalagi wajahmu di lihatin ke postingan, beh langsung banyak cowok-cowok follow kamu. Eh jangan deh, nanti Angga cemburu parah."
"Kamu ini apa-apaan sih ah, udah deh gak usah bahas itu lagi," tanggap Freya dengan wajah raut ngambek.
"Iya-iyaaaa, jangan ngambek dong- ih Frey!! Lihat deh aku liat kucing jantan tidur pules bener!"
"Gak usah ngaco, di kantin mana ada kucing?"
Freya menjawab dengan mencondongkan badannya untuk melihat kamera ponsel Jova, ternyata tahu-tahu bukan kucing jantan tetapi Reyhan yang di kenakan filter kucing dimana yang ditampilkan hanya kedua daun telinganya, hidung mancungnya, serta kumis-kumisnya. Freya menatap Jova dengan jengah sementara Jova menyengir mengejek Reyhan yang tak sadar di foto oleh Jova.
Ckrik !
"Eh parah! Kok di foto sih?! Nanti kalau Reyhan tahu bisa di amuk habis-habisan lho! Nanti yang disalahin Reyhan lagi, padahal kamu dulu yang mulai."
"Halah gak seberapa kalau di amuk, malah seru toh main adu mulut hehehehe."
"Rese banget jadi sahabat."
"Kenapa ribut-ribut?"
"Angga, hadap sini!"
Ckrik !
"Hahahaha, fantastik thank you Anggara."
Freya menepuk keningnya melihat tingkah konyol Jova. Lihatlah, gadis tomboy itu telah memotret Angga dengan memakai filter kucingnya di aplikasi Instagram-nya. Jova kesenangan sampai menghentak-hentakkan kedua kakinya di lantai.
"Ih imut banget lho kamu Ngga! Sumpah imut kayak artis Korea cosplay jadi kucing gemesin!"
"Nih silahkan lihat! Gilak imut banget!" girang Jova menunjukkan foto itu pada Angga.
__ADS_1
Angga menghempaskan napasnya kasar saat melihat foto dirinya dipergunakan konyol yaitu pemakaian filter tersebut. Pemuda introvert itu meletakkan nampan berisi empat mangkuk mie ayam yang masih mengepul.
"Hapus fotonya," pinta Angga dengan nada dingin.
"Nggak ah, buat kenang-kenangan kalau kamu udah gak ada."
"Jova! Ih mulutnyaaaa!!" geram Freya dengan menepuk bibir Jova pelan.
Kini Angga sibuk menaruh beberapa mangkuk mie ayam ke meja kantin dari nampan, kemudian Angga mengangkat gelas es jeruk satu persatu. Angga menyingkirkan nampan yang telah kosong ke sisi pojok meja.
"Mie ayamnya udah jadi sama es jeruknya, di makan sama minum apa gue kasihi ke pengamen?"
"Hmmm!" Reyhan berdeham dengan kening berkerut, tidurnya telah di ganggu oleh Angga.
"Reyhan tadi malam ngapain aja? Coba tuh lihat, bawah kantung matamu warna hitam seperti panda. Begadang, ya?"
Reyhan meregangkan ototnya lalu menjawab Freya, "Enggak kok Frey, aku jarang begadang malahan. Mungkin aku kurang tidur .. apalagi tadi malem aku sibuk ngerjain PR."
"Ooohh begitu, yaudah yuk kita makan mie ayamnya. Aromanya enak banget bikinan dari Bi Devi. Ya, kan?"
"Uh, markotop! Apalagi dagangannya selalu laris manis jaya. Ya gak, Rey? Ya gak, Rey?"
"Hmmm."
Freya membentuk sunggingan bibirnya ke bawah, raut wajahnya begitu sedih melihat Reyhan yang tak seperti biasanya. Yang biasanya cerewet di kantin kini malah sekarang diam dan menjawab seadanya.
"Kamu kenapa sih Rey? Aneh banget sikapmu hari ini. Biasanya juga banyak celotehan kayak ayam betina mau bertelur."
"Ck, Jova .. kamu kenapa malah yang ribut? Udah deh makan tuh mie ayam mu. Nanti kalau dingin yang kamu lampiaskan ke kami."
Sekarang, sekelompok empat sahabat tersebut menikmati hidangan makanan lezat serta hangatnya. Hingga beberapa menit kemudian, keempat remaja itu telah menuntaskan kegiatan makan. Reyhan yang sesungguhnya tak selera makan, namun ia paksakan karena ia harus menghargai Angga yang telah mentraktir-nya.
Reyhan tengah menyeduh es jeruknya dengan tatapan kosong hal itu Freya yang mengetahui langsung meletakkan gelas es jeruknya usai menyeduhnya menggunakan sedotan.
"Rey? Kok ngelamun?"
Seketika Reyhan terbuyar dari lamunannya tersebut, lalu kemudian melepaskan sedotannya dari dalam mulutnya.
"Eh iya kenapa?!"
Freya membungkam mulutnya dengan tersenyum menggelengkan kepalanya. "Kamu kenapa ngelamun? Daritadi kamu kayaknya gak fokus mulu. Ada apa? Kamu ada masalah?"
"Eh aku? Ada masalah? Oh jelas tidak dong hahahaha! Dan tadi kamu nanya kenapa aku ngelamun ya, itu tentunya enggak kok. Aku gak ngelamun .. cuman anteng aja hehehe."
"Hmmm? Yang beneran? Dari sini kamu keliatan lagi mikirin sesuatu, hayo kamu lagi mikir apa? Sampai kamu diam seperti itu."
"Eeee itu a-aku ..."
'Duh Frey, ngertiin kondisi gue dong- eh tapi kan gue belum ngasih tau kalau gue di buat menderita. Ck, haduh ayolah cari jawaban yang tepat biar sahabat gue satu ini gak curiga.'
"Reyhan, kok diam?"
"Eh itu! Aku tuh cuman berpikir apakah aku mempunyai pasangan hidup nantinya. Kalau gak punya kan, artinya aku juga gak punya anak."
"Haaaahh?? Jadi ternyata kamu mikirin begituan, toh? Yaelah Reyhan .. Reyhan, aku memang punya sahabat unik banget ya kayak kamu ini. Kita itu di sini mikir belajar dulu, baru mikirin masa depan esoknya."
'Ngelesnya kebangetan, ini anak .. untung aja Freya percaya, coba aja kalau kagak. Mati kutu lo seketika di hadapan Freya.'
"Ehehehehehe iya deh iya Frey aku paham kok," ujar Reyhan dengan menggaruk kepalanya.
"Eh guys-guys! Barusan aku nemuin sebuah berita sangat ngenes woi!" heboh Jova dengan bola mata di depan layar HP.
"Berita apa?" tanya Freya penasaran.
"Seorang pemuda remaja SMA dibunuh oleh seseorang pembunuhan di jalan Jiaulingga Mawar, dia ditemukan di bawah pohon besar yang sekarang masih diberi lintasan garis polisi di daerah jalan pintas sana. Kondisi jasadnya begitu memprihatinkan dimana kedua bola matanya di congkel keluar dari organ matanya, wajahnya berlumuran darah dikarenakan dipenuhi sayatan-sayatan lebar nan dalam. Petugas kepolisian masih mencari sang pelaku siapa yang menewaskan pemuda tersebut hingga saat ini masih berada kasus penyelidikan."
"Astaghfirullahaladzim! Tega banget yang bunuh cowok SMA itu, mereka kayak nggak punya nurani hati, jiwa manusiawinya juga seperti ditelan sama bumi deh. Oh iya Va, kalau ada ... nama cowok yang tewas itu siapa?"
"Hmmm bentar-bentar coba aku scroll, biasanya sih ada di kalimat paragraf terakhir."
Jova menggesek layarnya ke bawah untuk mencari tahu siapa pemuda SMA yang dibunuh secara tak manusiawi tersebut. Sampai tiba-tiba Jova menemukan sebuah dua nama lengkap korban tewas itu.
"Eh udah ketemu! Namanya Arseno Keindre!"
DEG !
Reyhan sangat terkejut berita itu adalah tentang kematian Arseno yang sebenarnya. Reyhan menjadi tahu mengapa Arseno bisa mati di kawasan JL Jiaulingga Mawar.
"Keren parah! Namanya modern banget anjir! Tapi sayang, cowok itu sudah tewas. Aku jadi kasihan sama keluarganya, pasti terpukul banget kematian anaknya."
'J-jadi Arseno mati karena dibunuh seseorang! Kalau begitu caranya gue harus cepet-cepet cari pelaku itu, tapi gimana caranya ya? Gue sendiri juga bingung cara nyari itu manusia bajingan gak ngotak itu dimana.'
Setelah Reyhan berbicara di lubuk hatinya, Reyhan mengulurkan tangan kananya ke arah Jova yang sibuk membaca informasi berita berkaitan kematian Arseno.
"Jova, coba aku baca berita itu. Aku jadi penasaran sama itu informasi berita yang kamu baca tadi."
"Berita itu sebenarnya udah beredar di semenjak beberapa minggu yang lalu. Gue aja yang baca di internet udah termasuk telat," timpal Angga.
"Sadis banget yang bunuh, kenapa sekarang banyak orang yang suka membunuh sih? Tahun sekarang jamannya bahaya dan harus was-was."
"Itu harus Frey!" tanggap Jova setuju dengan menyerahkan ponselnya ke tangan Reyhan.
Reyhan scroll ke atas untuk membacanya dari awal paragraf pertama yang mana itu adalah tentang kronologis tewasnya Arseno, Reyhan membacanya dengan sangat serius karna ia harus bisa berusaha mencari para pelaku yang telah membunuh Arseno dengan amat tragis. Hingga tiba-tiba saat Reyhan membaca di pertengahan paragraf, samar-samar Reyhan melihat bayangan wajah Arseno dari layar handphonenya Jova. Arseno nampak bermuka amarah serta mengeluarkan air mata darah yang mengalir deras.
"WAA!!"
PLETAK !!
Reyhan spontan teriak dengan reflek membanting ponsel Jova sangat keras di atas meja kantin bersamaan itu Reyhan berdiri dengan tampang wajah amat kaget setengah mati.
"Reyhan! Ih HP aku kenapa kamu banting sih?! Kalau rusak gimana?! Siap ganti rugi?!" protes Jova.
Tanpa menjawab Reyhan langsung berlari kencang keluar dari kantin. Angga, Freya, dan Jova melongo melihat tingkah aneh Reyhan. Namun Angga langsung tahu mengapa Reyhan aneh kembali, dirinya menatap layar ponsel Jova yang masih hidup. Bayangan Arseno yang mengerikan itu memudar lalu menghilang.
Angga tak punya pilihan, Angga berlari kencang mengejar Reyhan yang telah menjauh tak tentu arah. Hingga sampai-sampai...
GREP !!
Kerah belakang almamater Angga ditarik paksa oleh satu pemuda yang sangat sengit pada Angga. Angga pun dengan tak terima langsung menepis kasar tangan siswa tersebut. Angga telah menduganya itu adalah Alex.
"Heh, lo kenapa masih hidup? Bukannya lo masih Koma di rumah sakit? Napa malah masih hidup lo di dunia ini?!"
Angga menatap dingin dan tajam pada Alex. "Mau gue hidup, mau gue mati .. bukan urusan lo."
Angga langsung meninggalkan Alex begitu saja dan kembali berlari mengejar Reyhan yang telah menghilang tak tahu ke arah mana. Angga beda dari Reyhan, jika Reyhan di hadapannya Alex mestinya akan langsung menjadi tragedi berdarah tetapi kalau Angga, Angga hanya menggunakan kata pengucapannya saja yang membuat Alex diam seribu kata.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Jam-jam pelajaran sekolah telah berlalu, meskipun Angga yang kewalahan mencari Reyhan tetapi Angga berhasil menemukan Reyhan di perpustakaan. Seperti apa yang Reyhan tepat kan ucapannya ia sendiri, kejadian yang ia alami adalah rahasia. Reyhan tak akan mau menceritakan soal terornya ia tersebut kepada Angga, kalau Reyhan langgar walaupun ia menepatkan ucapannya ia sendiri, Angga malahan justru ikut terlibat terornya Reyhan dan itu bisa membuat jiwa Angga terancam.
Di parkiran motor, Reyhan duduk sejenak di atas jok motornya begitupun Angga juga. Sementara Freya dan Jova telah pulang ke kompleknya masing-masing. Reyhan nampak merenungkan pikiran sesuatu pada kejadian pagi tadi di jalan kota.
"Gue tau tadi pagi, lo pasti habis kena masalah kan di perjalanan."
"Hhhh susah gue sembunyikan dari lo! Tajam banget dah indera lo itu."
"Hmmm, ada apa? Masalah apa pagi tadi? Ceritain aja sama gue, kalaupun lo cerita masalah lo .. gue pasti cari solusinya."
Reyhan menghela napasnya pasrah dengan wajah amat suram dilihat oleh Angga. Namun pada akhirnya ia menceritakan pada Angga sebuah insiden pagi tadi yang amat memalukan sekaligus mengejutkan.
"Gue tadi pagi hampir nabrak salah satu nenek yang lagi nyebrang, saking gue ngantuk .. gue sampe gak tau kalau di depan gue ada nenek."
"Karna gue bukan cowok pengecut yang langsung melarikan diri dari masalah, gue akhirnya turun buat nolongin nenek itu ke pinggir jalan. Walaupun sebelum itu gue di omel-omelin sama pengendara lain di belakang gue."
"Kenapa?"
"Dikira mereka, gue parkir motor di tengah jalan padahal juga enggak. Niat gue lagi nolong nenek itu. Sial, nasib gue apes banget tadi."
"Lalu habis itu? Apa nenek yang hampir lo tabrak itu terluka?"
"Alhamdulillah untungnya enggak, Ngga. Tapi ada sebuah perkataan dari nenek yang gue tolong tadi pagi. Seolah-olah kata-kata yang beliau lontarkan seperti kejadian kedepannya."
"Kejadian kedepannya?" Angga menyongsong menghadap Reyhan. "Nenek itu ngomong ke elo?"
"Iya, katanya gue akan tertimpa bahaya besar sebentar lagi .. gue nggak tau itu kapan, tetapi gue dibilang harus hati-hati dan waspada. Jujur Ngga, sampe sore sekarang ini gue masih kepikiran omongan nenek itu tadi."
Flashback On
"Nenek bisa merasakan, aura mu sangat begitu baik terlebihnya kamu suka menolong yang membutuhkan pertolongan. Dan ... dari dalam jiwamu dan sorot mata milikmu, kamu anak lelaki yang sangat ramah dan setia."
"M-maaf Nek, kenapa Nenek tiba-tiba memuji saya seperti itu, ya?"
"Nenek hanya merasakan dan menyebutkan sifatmu saja. Tetapi, Nak kamu harus waspada yang akan menimpa dirimu sebentar lagi."
"Maksud Nenek?!"
"Firasat Nenek berkata, akan ada bahaya besar yang akan mencelakai hidupmu dan menjadi sangat fatal. Maafkan Nenek jika membuat kamu terkejut dan tidak menyangka."
Flashback Off
"Rey, firasat seorang nenek itu nggak pernah salah bahkan firasat beliau begitu kuat seperti seorang ibu. Mulai sekarang lo harus berhati-hati saja dan waspada, gue juga entah kenapa tiba-tiba punya feeling buruk ke elo."
"Ngga, jangan nakut-nakutin gue dong! Apalagi ini mau maghrib .. sumpah, gue jadi takut pulang kalau gini caranya!"
Angga melihat wajah ketakutan Reyhan yang tidak dibuat-buat tetapi benar-benar takut. Angga turun dari jok motornya kemudian menghampiri Reyhan untuk mengusap-usap punggungnya untuk meredakan ketakutannya.
"Nggak apa-apa, lo gak usah takut. Mending kita pulang aja ya .. ucapan nenek tadi sementara nggak usah lo inget-inget bahkan bayang-bayangin buat sementara. Rileks kan dulu ketenangan lo, apalagi lo posisinya lagi sakit apalagi jangan dibuat stress."
Reyhan menundukkan kepalanya dengan kedua telapak tangan bergemetar, Angga menenangkan sahabatnya tersebut yang masih dilanda ketakutan beratnya bahkan yang nyaris depresi. Angga memejamkan matanya untuk menahan amarahnya yang di dalam hatinya, Angga ingin mencari cara untuk menghentikan Arseno pada terornya terhadap Reyhan.
Berusaha secepatnya mungkin sebelum semuanya terlambat.
__ADS_1
Indigo To Be Continued ›››