
Masih di tempat dan hari yang sama, Freya menyandarkan punggung mungilnya di sandaran kursi sementara Reyhan meneguk air putih yang ada di dalam sebuah gelas kaca. Suasana dalam ruang kamar rawat terasa begitu sepi nan sunyi, walau keadaannya sedang kondusif.
“Kalian habis ngomongin soal cowok julukan iblis itu, kah?! Uh, tepat banget! Aku lagi pengen misuh-misuh sama manusia satu itu!”
Mata Freya auto terbelalak dengan organ jantungnya hampir berpindah ke posisi lain melihat kemunculan sesosok gadis bermata ungu fantastis secara tiba-tiba layaknya seperti makhluk hantu.
“Uhuk! Uhuk! Akh! Tenggorokan gue!!” erang Reyhan seraya memegang leher depannya yang mana bagian tenggorokannya terasa sakit karena tersedak air minumnya.
“Reyhan?! Kamu gak kenapa-napa?! Aduh, pasti sakit banget, ya?!” panik Freya hingga spontan beranjak dari kursinya.
“Ekhem! Enggak, kok. Sakitnya cuman lumayan doang, ini cewek siapa, sih?! Asal nongol tanpa permisi kayak setan aja!” semprot Reyhan dengan menoleh ke arah Senja bersama tatapan matanya yang tajam disebabkan jengkel.
“Kan, emang aku setan. Hehehe! Maaf lupa intro. Salam kenal, ya? Namaku Senja Intara Alandara, panggil saja aku dengan Senja,” ucap manisnya seraya mengangkat kedua jari tangannya.
“Senja? Senja sunset yang ada di pantai?” lantang Reyhan dengan rada meledek.
“Ih, bukan! Itu nama objek pemandangan di sore hari menjelang Maghrib, kalau yang ini, mah nama orang!” kesal Senja tak terima.
Freya menyipitkan matanya dengan sedikit menuding Senja yang di memorinya tak asing pada sosok gadis berambut hitam dengan helai-helai putih di bagian tengah rambut panjang lebatnya.
“Eh? Kamu, kan arwah yang dulu menolongku.”
Flashback On
“Hehehehe, halo Angga. Apa kabar? Sehat, kah?”
“Sehat, kamu ngapain ke sini?”
“Bosen di rumah kamu mulu, gak ada bagus-bagusnya. Ya udah, mending aku dateng ke lokasi kamu berada. Eh iya, sampai lupa nanya. Freya, kok kamu bisa lihat wujudku??”
“Lho, memangnya kamu apa?”
“Aku adalah arwah. Wah! Hebat banget deh, kamu juga bisa lihat aku kayak Jova sama Angga.”
“Hah?! Kamu arwah, toh?! T-terus memangnya Jova bisa lihat kamu?!”
“Kalau gak bisa, aku nggak mungkin sampe teriak karena setan cewek yang ngagetin ini, kali !”
“Oh iya Frey, langsung to the point saja. Ini adalah arwah yang ngasih tahu aku kalau yang melukai kamu adalah trio cewek Jablay itu. Awalnya aku ragu untuk percaya sama Senja, tapi akhirnya aku ngerasa kalau arwah ini baik hati nolong kamu. Coba saja kalau enggak, gak ada yang tahu siapa yang buat kamu seperti ini.”
“Hehehe, tenang. Aku nggak jahat sama kalian, kok. Niatku baik buat bantu kalian, terlebihnya waktu itu aku balas dendam sama mereka bertiga. Aku paling gak terima kalau orang gak salah malah disakiti.”
“Apapun itu, makasih banget, ya. Oh iya, nama kamu tadi siapa? Kalau aku Freya Septiara Anesha, hehehe.”
“Namaku Senja Intara Alandara, arwah yang masih baru di satu tahun ini.”
“Dia arwah korban pembunuhan di salah satu gunung pendakian yang gak aku tahu dimana lokasi tempatnya.”
“Ya Allah, malang banget. Aku juga baru tahu kalau kamu ternyata hantu, aku kira kamu manusia yang dateng ke sini tanpa jejak. Soalnya biasanya kalau setan itu nggak kasat mata.”
“Wah sahabat-sahabatnya Angga sangar markotop banget, ye! Bisa lihat makhluk tidak kasat mata juga.”
^^^{Dialog Berada Di Chapter 54}^^^
Flashback Off
“Astaga! Benar juga, kamu Senja Intara Alandara, kan yang arwah perempuan itu?! Wah, sudah lama kita gak bertemu. Hai!” girang Freya seraya melambaikan telapak tangannya di depan dada.
__ADS_1
“Hai juga, Freya! Seneng banget, deh! Kamu masih ingat sosok hantu yang kayak aku gini,” balas Senja dengan hati gembira.
Reyhan yang melihat sapaan antara gadis manusia dan gadis makhluk gaib itu, hanya mampu melongo dengan menatap mereka secara bergantian. “Kalian berdua, saling kenal?”
Freya mengangguk saja dengan senyum, sedangkan Senja bersama sunggingan bibir lebarnya menjawab lelaki humoris berambut cokelat itu, “Kamu pasti Reyhan yang dulu sering diteror mati-matian sama Arseno Keindre.”
“Hah?! Kamu ... kenal Arseno juga?!” kejut Reyhan dengan mata mencuat.
Senja mengubah senyum lebarnya menjadi miring dengan kedua tangan saling melipat di dadanya. “Ya pasti kenal, dong. Aku adalah salah satu arwah yang mengetahui kisah-kisah tragismu.”
Reyhan tersenyum masam. “Oke. By the way, kamu cewek arwah, ya? Berarti tujuanmu datang ke sini untuk apa?”
Senja mendengus sambil memanyunkan bibirnya sebal setiap mendengar pertanyaan itu. “Monoton bener kayak Anggara!”
“Apaan, dah? Napa bawa-bawa nama sahabatku yang Koma? Emangnya setiap Angga bertemu hantu, dia bakal nanya kayak begitu?” tangkap Reyhan usai memundurkan badannya.
“Ya enggak, sih. Eh! Gak tahu, deng.”
Reyhan menghembuskan napasnya dengan wajah jengahnya, sementara Freya yang anteng di kursinya kembali cuma sebatas menggelengkan kepalanya.
“Aku ke sini mau misuh-misuh sama Gerald!” ulas Senja dengan nada tinggi.
“Heh! Kalau mau misuh-misuh dengan manusia, jangan ke tempat ini, lah! Yang ada kami berdua kena semburan saktimu!” dongkol Reyhan.
Senja memiringkan kepalanya dengan mengernyitkan jidatnya karena bingung dari penuturannya Reyhan. “Ha? Semburan saktiku? Maksudnya gimana, dah? Dasar manusia cowok gak jelas!”
“Enak aja ngatain aku manusia cowok gak jelas! Kamu, kan arwah. Pastinya mempunyai suatu kekuatan sihir gitu, kamu-nya saja tuh yang gak mudengan!” serang balik Reyhan.
“Idih, kok nyerang balik? Heh, coba deh kamu bayangin. Jalan otak setan sama jalan otak manusia lebih leluasa mana? Setan, kan?!”
“Kamu sebatas demit yang gak tahu arah dan tujuan!” cerca Reyhan menimpali.
“Woi! Ngira-ngira kalau mau dorong muka human, entar kalau kepalaku kesedot papan kepala kasur bobok pasien gimana?! Bisa cidera, aku!” sangkak Reyhan seraya menepis tangan makhluk astral tersebut.
“Dasar mulut cadel! Kejedot, kali yang bener! Mana ada kepala kesedot benda mati? Emangnya black hole lubang hitam yang tempatnya di atas angkasa?! Gila, bet otakmu!”
“Gakpapa otakku gila, yang penting jiwaku masih seratus persen waras! Sumpah ini, cewek! Bisa juga bikin hati gue ngamuk!” sengit Reyhan.
“Heh, cowok rambut semiran! Kamu juga bikin hatiku ngamuk, ya! Emangnya kamu kira enggak?!” sewot Senja dengan mata mendelik.
“Wey! Ini rambut warna asli dari lahir, tahu?! Sudi banget aku pake acara semar-semir segala? Mau jadi apa? Foto model? Idih! Daripada dirimu, rambut putih udah persis kek nenek-nenek yang mau nyebrang di zebra cross!”
“What?! Oh my gosh ... kamu anaknya siapa, sih?! Nyebelin amat perasaan!”
“Anak orang, lah! Emangnya anak dari Pocong?! Anjir, bisa makin drop aku di rumah sakit ini, pergi aja sana! Hus-hus!” usir Reyhan.
“Kamu pikir aku anjing, diusir kayak gitu?! Tega bener sama cewek! Aku gak mau pergi, gak ada temen soalnya!” rengek Senja.
“Cari temen yang sesama jenis, dong! Jangan kami! Dasar cewek pengganggu istirahat manusia!” garang Reyhan.
“Huhu, Jahat ...!” lengai Senja dengan bulir air mata yang mulai terlihat di kedua pelupuknya.
“Eh! Kok, nangis?! Aduh-aduh, aku minta maaf!” panik Reyhan saat menatap air mata gadis arwah itu berlinang ke pipi putihnya.
“Tuh, kan ... tanggung jawab dong, Rey. Kasihan, lho si Senja kamu buat menangis seperti itu.”
Reyhan menoleh sekilas ke Freya lalu menatap balik Senja dan mulai menepuk-nepuk ujung atas kepala hantu perempuan itu yang kakinya menapak di lantai. “Duh, cup-cup. Jangan nangis lagi, oke? Iya-iya aku minta maaf banget sama kamu, pasti hatinya kayak tertusuk gobang, ya?! Please don't cry anymore, Cutie.”
__ADS_1
“Kak Reyhan tetep evil, huhu!” sebal Senja sambil mendorong tubuh manusia itu yang berusaha meredakan tangisannya.
Freya mengedipkan matanya beberapa kali, sedangkan Reyhan melongo pada panggilannya Senja. “Kok, kamu panggil aku dengan sebutan 'kakak'? Emangnya usia kamu berapa?”
“Enam belas tahun, kenapa? Syok?!”
“Lho? Kok bisa enam belas tahun?! Aku kira umurmu tujuh belas tahun seperti kami berdua,” kejut Reyhan.
Senja mendengus lagi sambil memukul bahu kiri Reyhan dengan lumayan keras. “Ya, iyalah! Orang aku mati di satu tahun yang silam!”
Freya tersenyum dengan menatap teduh wajah Senja yang gadis hantu itu lagi menyeka air matanya. “Tentang peristiwa yang merenggut nyawa dari jasadmu, ya?”
Senja menganggukkan kepalanya dengan bibir monyong. Reyhan yang tak mengerti kisahnya pada waktu masih beraga, hanya sengap karena tidak tahu apa yang telah terjadi kepada Senja mengapa ia bisa tidak bernyawa sebelum menjadi arwah seutuhnya.
“Aslinya, tuh aku masih seperti adik kelas kalian. Kalau saja bukan karena liburan tes akhir semester, umurku pasti akan bertambah begitupun teman-teman sekolahku.”
Reyhan menipiskan bibirnya dengan perasaan hati beralih ke prihatin. “Kalau kamu mau cerita saja, oke? Kamu kenapa bisa meninggal bersama para temanmu?”
“Tumben sekarang halus? Em ... kami sekelompok rombongan cuti sekolah bersama mengadakan liburan di puncak pendakian gunung di salah satu tempat. Kami kira liburan itu akan berakhir dengan menyenangkan dan bahagia, tapi kenyataannya malah sebaiknya. Kami semua dibunuh oleh komplotan seorang psikopat bermasker hitam dengan berkacamata hitam juga, kami semua gak tahu letak kesalahan kami yang mana tapi justru dibunuh saja tanpa alasan sebab yang jelas.”
Freya dan Reyhan mendengar suara isakan tangis lirih Senja, membuat hati mereka berdua tersentuh bagaimana rasa sakitnya menerima takdir mengenaskan seperti yang dialaminya.
“Pasti rasanya sakit dan kurang menerima takdir yang sudah terjadi, ya?” tanya Reyhan.
Senja mengangguk lagi. “Banget ... rasanya juga gak menyangka kalau hal dulu bisa terjadi dan menimpa kami semua. Setiap manusia pasti ingin sekali menikmati hidupnya sampai ajal menjemput, kan? Iya, contohnya sama sepertiku. Tapi yasudahlah, aku harus menerimanya.”
“Oh iya. Angga, kan sekarang posisinya berada di ambang antara mati dan hidup, aku harap dia masih bisa selamat dari Komanya, ya? Jujur saja, aku emang ingin mempunyai teman abadi seperti Angga, tetapi aku gak bisa mementingkan egoku. Masih banyak yang sayang sama Angga. Jika cowok itu pergi, mesti hati kalian dan lainnya terluka. Karena Angga, tuh selain Ganteng juga berjiwa dan berhati istimewa.”
Reyhan tersenyum tipis. “Betul ... memang terasa menyakitkan kalau sahabatku dan Jova benar-benar pergi meninggalkan dunia.”
Freya menganggukkan kepalanya. “Hanya karena jebakan yang diberikan ke salah satu teman kami, semuanya berdampak buruk ke Angga ... aku gak bisa membayangkan, kalau kekasihku yang aku cintai pergi meninggalkanku.”
Melihat Freya meneteskan air mata untuk kesekian kalinya, Reyhan langsung merangkul sahabat perempuannya walau air bening transparan lelaki humoris itu juga mengalir membasahi pipinya.
“Kalian yang tetap tabah hati, ya? Aku tahu, kok kondisinya Angga sangat parah bahkan dokter saja hampir menyerah karena keadaan Koma pasiennya. Tetapi di sisi lain, aku yakin! Tidak ada kata menyerah dari dokter selain berusaha semaksimal mungkin untuk Angga,” ungkap lembut Senja dengan senyum pilu.
Freya serta Reyhan tersenyum lara. “Tolong Doakan, ya? Kamu adalah arwah yang baik.”
“Itu pasti, kalian tenang saja ...”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Di atas atap bangunan RS Medistra Kusuma, Senja mengangkat wajah muramnya ke langit mendung yang disertai hembusan angin dingin. Sejauh ini, ia tak dapat menemukan sosok roh Angga yang bergentayangan setelah keluar dari raganya nang terserang Koma di ruang ICU.
“Ngga, gue sudah beberapa hari ini gak nemuin roh lo dimanapun. Gue hanya bisa menemukan raga lo yang terbujur Koma di dalam ruangan sana. Apakah ini membuktikan bahwa kondisi raga lo begitu parah dibanding delapan bulan lalu yang dimana lo juga Koma hingga menginjak dua bulan lamanya?”
“Roh lo pasti sedang terjebak di suatu ruang dimensi yang tanpa batas. Kasihan, ya diri lo? Padahal elo selama ini gak punya salah apa-apa dengan Gerald orang masa lalu lo. Dia bahkan yang merundung lo terlebih salah paham mengenai kematian sahabatnya. Kenapa, sih manusia cowok sebaik hati malaikat kayak lo harus diselimuti penderitaan?”
“And ... maafkan gue ya, Ngga? Maafkan gue dan Cahya karena gak bisa mencegah apalagi bantuin lo menutup masalah yang mendatangkan malapetaka itu. Andai jika aura gaib kami gak ditutup sama Emlano yang sudah buat Reyhan Kritis, semuanya tidak akan pernah terjadi.”
Senja meringkuk di atap bangunan dengan mendekap kedua kakinya bersama sepasang tangannya, sementara dagunya ia topang di antara para lututnya.
“Gue harap lo jangan pergi. Kasihan mereka yang berjuang mendoakan kesembuhan lo dari masa Koma yang lo alami, Ngga. Mereka sayang banget dengan lo, bahkan saking sayangnya, mereka tidak ingin kehilangan sosok terhebat seperti elo.”
Dengan air mata yang berderai di pipi, Senja mengangkat dagunya untuk menoleh ke arah samping. Di pandangannya, ia melihat sekelebat bayangan Angga yang merupakan wujud roh sedang tersenyum damai dalam posisi rebahan di atas atap bersama memejamkan matanya. Terlihat tampan sekali, bahkan karena aura ketampanan itu berjaya membuat kedua pipi Senja merah merona.
Bayangan yang Senja lihat hanya sekilas lalu menghilang. Ia tahu, itu hanya ada di angan-angannya saja, apalagi dirinya tidak tahu kapan rohnya Angga muncul menghampirinya. Mungkin, memang tidak akan pernah lagi datang. Terlebih pasti roh lelaki tampan Indigo tersebut tengah tersiksa karena harus merealisasikan rintangan mautnya di alam bawah sadar raganya untuk menjunjung kembali sadarnya dari masa Koma.
__ADS_1
INDIGO To Be Continued ›››