
Setelah Angga dibawa ke rumah sakit tepat pada pukul 21.00 dikarenakan jalan kota mengalami kemacetan yang padat, dan pemuda tersebut sudah dipindahkan ke ruang perawatan bersama pakaian yang diganti dengan baju pasien warna biru muda, kini seperti Lucas, Rani, dan Freya tenang menunggu kesadarannya Angga yang tadi dinyatakan mengalami Demam tinggi oleh dokter pria yang menanganinya di ruang IGD.
Di dalam ruangan tersebut yang diterangi oleh cahaya lampu, posisi itu Freya tengah menggenggam erat telapak tangan kekasihnya nang begitu panas. Sementara di bagian wajah tampan pucat milik Angga terpasang alat oksigen selang hidung. Gadis cantik tersebut yang mengenakan baju piyama panjangnya kembali mengeluarkan air matanya yang kedua pipinya belum kering atas deraian tangisannya tadi.
“Kenapa kamu harus begini lagi, hiks! Seharusnya kamu kembali sehat seperti sediakala. Tapi ada saja cobaan ini yang terjadi denganmu,” ucap Freya bernada parau dengan terisak-isak apalagi hatinya belum tenang saat melihat Angga belum kunjung buka mata.
Freya menarik ingusnya lalu menempelkan sisi telapak tangan lelakinya di bibir tipisnya. “Bangunlah. Jangan bikin aku jauh lebih panik daripada yang sebelumnya, kumohon.”
Angga tetap tidak mau merespon permintaan Freya yang terus menangisi dirinya. Gadis itu hanya dijawab oleh helaan napas dada kekasihnya yang naik-turun secara agak lambat. Rani nang tidak ingin melihat putrinya menangis, mulai mendekatinya dan mengusap-usap lemah lembut kedua bahunya.
“Sayang, Angga akan baik-baik saja. Kamu dengar, kan tadi apa yang dokter sampaikan? Angga cuma demam tinggi saja, pasti dia akan kembali sadar, kok. Jangan tangisi Angga terus, oke?”
Freya mengangkat tangan satunya untuk mengelap sisa air matanya. “Freya khawatir sama kondisi kepalanya Angga yang cidera, Ma. Angga sudah lebih dari satu kali kepalanya terbentur dengan keras. Tapi Freya sedikit lega karena gak ada sedikitpun luka di kepala Angga. Kalau iya ... sudah lain jadinya, hiks!”
Rani sungguh mengerti apa yang diucapkan Freya. Terlebih beliau dan suaminya telah tahu apa yang terjadi jika Angga mengalami peristiwa kejadian kelu tersebut yang menimpanya untuk kesekian kalinya. Tentu mereka berdua diceritakan oleh Agra dan Andrana yang posisi mereka tengah masih berada di kota Semarang karena sebuah tugas Dinas kantor.
Rani mengulum senyumannya untuk memberikan ketenangan hati sang anak gadisnya. “Sudah, jangan nangis lagi. Lebih baik sekarang Freya pulang ke rumah, ya? Biar ayah yang anterin.”
Freya menggelengkan kepalanya kuat. “Freya enggak mau pulang, Ma! Freya mau di sini buat temani Angga, kita juga gak mungkin tinggalin Angga sendiri dalam kondisinya yang masih parah.”
Rani beralih melepaskan kedua tangannya dari pundak-pundak kecil putrinya untuk beralih merengkuh lembut tubuh mungilnya Freya dari belakang. “Kalau soal itu, Freya tenang saja. Ada Mama sama ayah yang bakal menjaga Angga. Besok, kan Freya harus sekolah. Nggak mungkin, dong bolos sekolah karena alasan ingin menemani Angga kalau kekasihmu saja dijaga oleh kedua orangtuamu ini.”
Freya menundukkan kepalanya lalu mengangguk menuruti ucapannya Rani pada akhirnya. Namun ia tak melepaskan genggamannya dari telapak tangan lemas milik Angga. Sementara, Lucas yang sedang duduk di kursi sofa panjang abu-abu, berdiri memarani sang anak dan sang istri.
“Ayah ke bawah dulu, ya buat mengurus administrasinya Angga. Nanti kalau sudah selesai, baru Ayah antarkan kamu pulang,” ujar Lucas lembut dengan membelai-belai rambut halus putri kesayangannya yang paling beliau miliki.
Kepala Freya manggut-manggut dengan tersenyum kecil nang terpampang di wajah cantik jelitanya yang bak macam boneka mahal tersebut. “Iya, Ayah.”
Lucas tersenyum hangat kemudian balik tubuh ke belakang keluar dari kamar rawat meninggalkan mereka bertiga yang ada di dalam ruangan itu untuk mengurusi administrasi di meja resepsionis lantai paling bawah sendiri. Sementara Freya kembali memandang wajah tampan kekasihnya walau warna kulit mukanya terlihat begitu pucat bahkan bibirnya yang bungkam.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Keesokan harinya, Rani melangkah mendekati gorden jendela untuk beliau singkap dengan lebar kemudian membuka jendela kaca tersebut secara mendorong ke depan agar udara angin pagi masuk ke dalam ruang perawatan Angga. Saat hendak balik, Rani mendengar suara getaran ringtone ponsel seseorang di meja nakas samping ranjang pasien.
Tak ayal dengan senyuman yang selalu mengembang di wajah cantiknya, wanita paruh baya tersebut melangkah ke arah meja nakas untuk melihat siapa yang menelpon di pagi pukul jam 09.00 ini. Yang bergetar akan ringtone adalah ponsel miliknya Angga, terlihat jelas tertera sebuah nama tulisan kontak 'Mama' bersama foto profil pernikahan Andrana dan Agra yang mengenakan baju pengantin.
“Hah?! Aduh, Andrana!” gegau Rani.
Wanita paruh baya dari sang ibunya Freya mendadak bingung harus mengangkat telepon tersebut atau membiarkannya sampai mati. Namun jika membiarkannya begitu saja tanpa ada niatan untuk mengangkatnya, dari luar kota sana pasti Andrana justru khawatir mengapa putra semata wayangnya tak segera mengangkat teleponnya.
Kini Rani mengangkat ponsel Android Angga dengan menatap nanar profil foto Andrana. “Bagaimana ini? Jika aku yang angkat, aku harus alasan apa untuk Andrana? Sedangkan saja, kondisi Angga masih seperti ini bahkan belum kunjung sadarkan diri.”
Rani merapatkan bibirnya, semakin bingung membuat alasan ampuh untuk Andrana yang berada di kota Semarang bersama Agra suaminya. “Aku juga tidak bisa membohongi mamanya Angga, karena aku sudah tahu bahwa Andrana Indigo seperti Angga begitupun pula Agra. Astaga, ini sangat rumit.”
Rani menghembuskan napasnya untuk bertenang sedikit sebelum akhirnya menggesek tombol hijau ke atas di layar benda pipih milik sang empu.
...----------------...
...MAMA...
Assalamualaikum, Angga. Ya ampun, akhirnya kamu angkat teleponnya Mama juga, Mama begitu merindukanmu dari sini. Bagaimana kabarmu, Sayang di kota Jakarta?
^^^Waalaikumsalam, Andrana. Maaf sebelumnya ini bukan Angga tapi aku^^^
Lho? Rani?! Ternyata yang angkat telpon-ku, kamu? Aku kira anakku. Tapi jika aku langsung tanya, mengapa kamu yang angkat? Dan pastinya saat ini kamu sedang memegang HP Angga, kan?
^^^Iya, kamu betul^^^
Lalu? Angga dimana? Eh sebentar-sebentar! Kalau kamu yang pegang ponsel anakku, berarti Angga tidak sekolah dong hari ini?? Ini kan masih hari Selasa, Ran
...Inilah sekarang. Rani bingung harus menjawab apa, jika bohong itu pasti Andrana akan langsung tahu namun jika beliau jujur, itu mesti membuat Andrana langsung Syok mendengar kabar buruk anak semata wayangnya yang sangat beliau cintai...
...Rani beralih melangkah duduk di kursi yang ada di sisi ranjang pasien tempat Angga terbaring lemah tak berdaya...
Rani?? Kamu dengar aku?
^^^Ehm- ya! Aku dengar. Hmmm... Maafkan aku Rana, jika setelah ini aku membuatmu terkejut^^^
Apa?! Kenapa?! Tolong cepat jawab, Ran!
^^^Aduh. Kamu yang tenanglah dulu, aku saja belum jawab apa-apa untukmu. A-angga memang tidak sekolah hari ini dikarenakan kondisi anakmu sedang berada di rumah sakit Wijaya^^^
Apa?! Angga anakku masuk rumah sakit??!! Tapi kenapa itu bisa terjadi, Ran?! Bagaimana kronologinya sebelum anak putraku masuk rumah sakit, ha?!
^^^Seram sekali suaramu jika sedang membentak. Kamu tenanglah jangan panik seperti itu, Andrana. Dengarkan dulu atas jawaban dan penjelasanku. Anakmu masuk rumah sakit karena mengalami Demam. Tadi malam saat dokter menangani Angga, beliau menyatakan bahwa anakmu mengidap Demam Tinggi, maka dari itu Angga harus dirawat inap selama beberapa hari^^^
Astaghfirullah! Berikan HP-nya pada Angga! Aku ingin berbicara dengannya!
^^^Kalau itu, lain kali saja, ya...?^^^
Kenapa harus lain kali saja?! Emangnya apa salahnya aku berbicara dengan Angga?! Anakku sendiri?!
^^^Tidak! Bukan begitu maksudku, Andrana. Saat ini Angga sedang pingsan, sudah dari tadi malam sebelum dibawa ke rumah sakit bersama kami^^^
APA??!! PINGSAN!!??
...Terdengar dari sebrang sana, Andrana mengeluarkan isakan tangis karena mendengar hal ucapan yang sama sekali tak diinginkan oleh Andrana. Rani berusaha untuk menenangkan tetangganya meski raut mukanya semrawut...
^^^Andrana, Andrana. Tolong dengarkan aku, kamu di sana mohon jangan panik, khawatir akan keadaannya Angga. Anakmu pasti baik-baik saja setelah kembali siuman dan kamu tenang saja, ada aku, suamiku yang menjaga Angga di kamar rawat^^^
Huh! Baiklah! Tapi tolong kamu jaga anakku hingga dia pulih kembali. Setelah mendengar kabar darimu yang kamu ucapkan padaku, aku benar-benar tidak menyangka walau aku mempunyai kelebihan seperti yang dimiliki Angga begitupun Agra. Please, tolong jaga anakku... Aku sudah tidak ingin mendengar hal-hal kabar buruk seperti ini
^^^Iya, Andrana. Aku pasti akan tetap menjaga Angga selagi tidak ada yang menemaninya. Pokoknya kamu jangan cemas, ya? Fokuskan saja dengan pekerjaanmu bersama suamimu di Semarang^^^
Iya, Rani. Tolong kabari aku jika Angga sudah sadar, aku ingin sekali mendengar suaranya. Sudah lama di sana aku tidak mendengar suara dari anakku sendiri
^^^Itu pasti. Aku tahu kamu begitu merindukan Angga anakmu yang sangat luar biasa ini, kembalilah bekerja dan tenangkan pikiran juga hatimu. Yakinlah, Angga akan baik-baik saja setelah melewati masa hilang kesadarannya, oke?^^^
Oke. Terimakasih, Ran aku percaya padamu. Kalau begitu, ku tutup teleponnya, ya? Assalamualaikum
^^^Iya, Rana. Waalaikumsalam^^^
...----------------...
Dari sebrang telepon sana, telah dimatikan oleh Andrana. Rani menjauhkan jarak ponsel milik Angga dari telinga kanannya sembari menghela napasnya panjang, kemudian beliau segera meletakkan kembali handphone lelaki tampan tersebut ke atas meja nakas semula.
Rani menghadapkan tubuh dan kepalanya ke Angga yang masih terbaring lemas di atas ranjang pasien dengan perlahan. Wanita paruh baya itu menatap sendu kekasih dari anak putrinya, beliau juga sedih mengenai keadaannya Angga terlebih remaja tampan 17 tahun tersebut senantiasa matanya terpejam damai bersama selang oksigen Nasal Kanul yang tetap terpasang di hidungnya.
__ADS_1
“Nak, maafkan atas kecerobohannya Freya, ya? Karena hal itu kamu harus menjadi seperti ini. Dan terimakasih juga kamu telah menyelamatkan anaknya Tante dari insiden peristiwa itu di sekolah. Kamu memang lelaki yang paling mampu menjaga beserta melindungi Freya.”
Rani mengatakan ucapan lembut tersebut pada Angga seraya membelai-belai kepala lelaki tampan tersebut yang kondisi keadaannya masih tetap sama. Bahkan suhu tubuhnya sama sekali belum menurun, namun di situ Rani tetap menemani Angga kecuali Lucas yang berada di kantor kerjanya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Di dalam bangunan sekolah SMA elite yang tak lain adalah SMA Galaxy Admara, ketiga sekelompok remaja sahabat sedang menikmati hidangan makanannya masing-masing di kantin usai mereka pesan dengan uangnya tersendiri. Tetapi di sisi itu, ada seorang gadis cantik yang melahap mie sotonya bersama wajah murungnya.
“Freya? Murung banget dari tadi. Udah, kamu yang tenang aja. Pasti Angga bakal baik-baik saja, kok di rumahnya.”
Freya menatap Reyhan yang meminum jus alpukat yang ada di gelasnya. “Di rumah apa? Aku sedih kayak gini karena Angga dirawat di rumah sakit lagi.”
“Uhuk-uhuk! A-apa?! Angga masuk rumah sakit?! Lah, kok gak cerita dari tadi pas kamu dateng ke kelas?” tanya kejut Reyhan sampai terbatuk-batuk tadi karena tersedak oleh minuman esnya.
Sedangkan Jova melongo terperangah tak menduga bahwa sahabat pendiamnya kembali masuk rumah sakit untuk kesekian kalinya. “K-kok bisa? Karena apa pacar kesayanganmu itu masuk rumah sakit lagi?! Bukan karena kepalanya yang habis terbentur tembok tangga itu, kan??”
Freya menundukkan kepalanya dengan wajah semakin meresahkan di mata kedua sahabatnya. “Mungkin bisa karena itu penyebabnya. Tapi kata dokter, Angga mengalami Demam tinggi. Angga juga harus dirawat selama beberapa hari hingga kondisinya membaik.”
Freya menghembuskan napasnya lemah dengan mata yang gadis polos itu pejamkan. “Ini sudah tentu pastinya aku yang salah. Karena aku, Angga jadi seperti itu di rumah sakit, apalagi sampai sekarang Angga belum sadarkan diri.”
Reyhan hanya terdiam saja tanpa mengeluarkan kata sedikitpun untuk menanggapi gadis sahabatnya yang lugu tersebut. Sementara Jova langsung beranjak berdiri dari kursi yang ia duduki di sebelahnya Reyhan lalu lumayan memutari meja kantin buat menghampiri dan duduk di sampingnya Freya. Gadis Tomboy si berambut cokelat dengan model tergerai itu, mendekap lembut tubuh mungil Freya bersama senyumannya.
“Itu semua bukan karena salahmu, Freya. Dari awal yang salah tuh si Youra cewek brengsek. Gara-gara ulah kebejatan buruknya dia, Angga yang harus menjadi korban demi keselamatanmu. Sudah, ya? Kamu jangan salahkan dirimu sendiri, kamu sama sekali enggak salah.”
Reyhan memegang telapak tangan bagian kiri punya Freya dengan tersenyum hangat menatap gadis yang masih bermuka muram. “Jangan sedih seperti itu, nanti sore setelah pulang sekolah kita bertiga jenguk Angga, ya?”
Freya menatap sahabat lelaki humorisnya lalu menganggukkan kepalanya dengan rasa hati yang tak semangat. Jova pun nang mengurai pelukannya memberikan tatapan aura ramahnya pada Freya.
“Mana senyumannya Freya yang paling cantik dan imut?” tanya Jova berusaha menghibur sahabatnya.
“Kamu apaan sih, Va?”
“Hahaha! Ayolah Freya Septiara Anesha si pacarnya Angga yang pualing cantik sedunia. Tunjukkan senyuman manismu seperti gulali itu, biar hatiku tergugah untuk semangat membara,” goda Reyhan.
“Berarti aku gak cantik, dong?” tanya Jova dengan bibir mengerucut tajam.
“Enggak. Kamu cewek yang jelek dan bobrok sedunia! Mukamu kan kayak air comberan yang biasa ada di dalem got,” seloroh Reyhan dengan tertawa kencang.
Jova yang tak terima dikatakan buruk seperti itu oleh Reyhan nang mulutnya minta ditimpuk pakai sandal jepit bekas kotoran tinja anjing, langsung mengambil satu buah sumpit dari wadah lalu mengetuknya keras di pucuk kepalanya Reyhan. Hal kekonyolan dan lelucon yang dibuat oleh mereka berdua, berhasil membuat Freya menarik simpulan senyum.
“Sakit, tolol! Mukulnya jangan keras-keras, napa?! Nanti kalau aku gegar otak, gimana nasibku?” protes Reyhan kesakitan seraya mendesis mengusap kepalanya yang usai dikenakan benda alat makan tersebut.
“Halah. Lebay! Kamu-nya aja yang dasarnya cowok ringkih!” maki Jova lalu tertawa seperti hantu wanita berambut panjang kusut sekaligus memakai pakaian gaun putih alias Kuntilanak.
“Awas saja ya kamu, Mba Kunti!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Angga membuka matanya dengan sangat begitu lemah. Sekujur tubuhnya sungguh lemas hingga ia tak sanggup menggerakkannya. Pandangan mata yang sempat blur kini menjadi jelas. Dirinya merasa berada ditempat remang-remang cahaya yang cukup asing.
Ini seperti ruangan bawah tanah. Dan dinding-dinding permukaan keras ini bisa dibilang seperti gua, entahlah itu tempat ruangan apa. Angga benar-benar bingung untuk sekarang, hingga kepalanya menoleh saat mendengar sebuah batu besar digeser oleh seseorang yang pastinya memiliki tenaga nang cukup kuat.
Angga memicingkan matanya saat bola matanya tertuju para seseorang yang mengenakan jubah dan tudung berwarna hitam. Bahkan wajah dari antara mereka semua sungguh jelas tak terlihat di mata Angga. Pemuda tampan tersebut mencoba bangkit duduk dari baringnya, namun ada benda yang menahan kedua pergelangan tangannya beserta pula kedua pergelangan kakinya.
“Akh! Apa ini?!” geram Angga.
“Siapa lo?! Lepaskan gue!!”
“Anggara Vincent Kavindra sang anak Indigo yang memiliki energi aura luar biasa yang tidak bisa ditaklukkan dan diremehkan. Kau sudah sadar? Baguslah, sebentar lagi ritual ini segera dimulai.”
Mata Angga mencuat, rahangnya mengeras dengan tak bisa menangkap apa yang dimaksud sosok nang bersuara lelaki ini. “Ritual apa yang lo maksud, hah?! Apa yang lo inginkan dari gue?!”
“Kau ... terlalu banyak tanya, Angga. Sudahlah, lebih baik kau diam saja!” keras bentak sosok pemuda berpakaian serba hitam itu dengan seraya mengeluarkan kekuatan miliknya untuk membungkamkan bibir remaja Indigo tersebut secara sihir.
Yang benar saja, akibat sihir kekuatan yang dikeluarkan oleh sosok misterius itu berjaya membuat bibir milik Angga terbungkam seketika. Angga berusaha membuka mulutnya namun rasanya seperti bak dijahit. Jika Angga tebak serta Angga pastikan, sosok misterius tersebut bersama sosok-sosok lainnya merupakan sekumpulan Sekte.
Dan selanjutnya sosok misterius yang berada di samping Angga meski berjarak, menjentikkan jarinya hingga muncul asap kecil berwarna abu-abu yang menggumpal di dalam alat besi perangkap yang membelenggu kedua tangan dan kedua kaki Angga.
Pemuda tampan tersebut masih tetap berupaya menggerakkan anggota tubuhnya yang diikat oleh perangkapan borgol besi secara brutal agar alat besi karatan itu mampu kendur dan terlepas. Namun kecerobohan yang Angga buat, justru langsung melukai dirinya sendiri. Pemuda itu berteriak walau bibirnya masih dibungkam oleh sihir gaib yang diberikan oleh lelaki misterius seusianya itu.
“Kau ini sangat terburu-buru, ya? Baru ingin ku katakan bahwa sedikitpun kau menggerakkan beberapa anggota tubuhmu itu dan itu mengenai borgol besi yang ku perangkap untukmu, kau akan tersetrum hebat, hahahahaha!”
Suara tawa sosok pemuda misterius yang wajahnya sama sekali tak terlihat, mampu menggema seluruh penjuru dalam ruangan cahaya temaram ini. Baiklah, Angga terpaksa diam macam patung demi keselamatan jiwanya. Namun, tetap saja Angga ingin memberontak pada perilaku negatif sosok misterius itu yang ingin melakukan sebuah ritual khusus untuknya.
Sampai tiba-tiba ada satu sosok berpakaian sama seperti lelaki yang mengeluarkan sihir kekuatan gaibnya terhadap Angga, maju melangkah dan memberikan sebuah buku tebal yang sama sekali tak ada cover-nya alias kosong blangko. Pemuda tampan Indigo berambut hitam tersebut mengernyitkan keningnya pada buku yang telah diterima oleh lelaki sosok misterius tersebut.
Lelaki berpakaian serba hitam itu membuka beberapa lembaran buku yang telah sosok itu buka dengan pasti apa nang Angga lihat menggunakan mata batinnya, lelaki itu sedang tersenyum bahagia melihat penderitaan yang ia terima.
“Oh, sebelum aku membacakan sebuah mantra sesuatu untuk ritual spesial menggemparkan ini, aku ingin memberitahumu bahwa kau berada di kastil, yang tepatnya dibawah tanah.”
Angga tak bisa berkata-kata karena eratnya sihir gaib yang diberikan oleh sosok misterius itu. Tetapi dari raut wajahnya dipenuhi amarah terdalam. Kini sekarang Angga hanya bisa pasrah mendengarkan sosok itu yang membacakan sebuah mantra panjang nang di dalamnya penuh makna yang begitu kuat. Bahkan di saat ia membacakan mantra di lembaran buku tebal, kepala Angga terasa sangat sakit, dadanya sesak serta terasa terbakar di dalamnya.
Napasnya tercekat seolah seperti leher dicekik sekuat tenaga, sementara para sekumpulan Sekte lainnya melangkah mendekati Angga untuk berdiri mengelilinginya. Gunanya adalah membuat seluruh anggota tubuh pemuda tersebut lumpuh dengan kekuatan sihir yang mereka bentang masing-masing pakai satu tangan kirinya.
Sosok lelaki misterius beraura energi negatif itu menyudahi pembacaannya terhadap tulisan mantra yang telah ia baca empat alenia paragraf tersebut. Suatu tulisan dan bacaan yang sangat multifungsi. Hingga pada detik kemudian, terdapatlah sebuah logo lingkaran bintang yang bercahaya emas. Angga menelan salivanya susah payah saat menatap cahaya logo lingkaran bintang tersebut yang berada di atasnya. Merasakan mempunyai suatu energi nang tak ada tandingnya.
Kemudian bersamaan sosok misterius itu menutup buku tebalnya hingga menimbulkan suara dentuman, tubuh Angga terangkat ke atas dengan sangat kencang sementara borgol besi itu terlepas sendirinya. Angga memicingkan kedua mata sipitnya saat mata abu-abu autentiknya berdekatan sinar cahaya merah yang menyilaukan seluruh matanya.
“Dengarkan aku, Angga. Seperti apa yang kau lihat sekarang, itu adalah suatu mantra terkuat di dunia yang dijuluki sebagai logo lingkaran bintang iblis. Dan silauan cahaya merah ini yang menyorot tertuju padamu akan sanggup menyerap energi aura Indigo-mu. Dan kau, selamanya pun tak akan pernah bisa lagi memiliki kelebihanmu itu, huahahahaha!”
Angga yang menatap lelaki itu menggelengkan kepalanya kuat dengan kening, leher banyak peluh keringat. Wajahnya begitu pucat karena serangan mantra yang tadi dibacakan secara keras oleh sosok misterius tersebut.
“Aku tahu kau pasti menolak keras, aku tahu kau posisi keadaan ini sedang dilumuri rasa takut yang hebat. Tenang saja, aku tak akan mencoba mencabut nyawamu. Aku hanya akan merebut energi Indigo milikmu. Kau harus menerima takdir ini dengan lapang dada, karena ini sudah waktunya kau ucapkan selamat tinggal pada energi yang telah kau kuasai, pertuankan selama bertahun-tahun dahulu.”
“Tidak! Jangan lo coba-coba untuk mengambil semua yang gue miliki sejak dini! Lo sama sekali nggak berhak merebut kelebihan yang telah gue kuasai!” bentak Angga berani usai sihirnya telah ditarik oleh pemuda sosok misterius dengan muka tak kasat mata.
“Semuanya sudah terlambat. Dan kau termasuk gagal untuk menjaga kelebihan Indigo-mu yang sudah lama kau genggam di dalam jiwamu. Maaf kata, aku tak akan mau menuruti segala apa ucapan yang keluar dari mulutmu itu. Ritual ini harus selesai dengan mulus tanpa penyesalan di hati.”
Napas dada Angga naik-turun cepat dengan mulai emosi yang telah timbul. Dirinya ingin melawan apa yang setelah lelaki itu perbuat dengannya secara negatif, namun apa boleh buat? Ia sudah terperangkap dalam semua ini. Tidak ada satupun orang yang menolong situasi mencekam dan menegangkan ini.
Angga sedikit berteriak saat merasakan kedua telinganya berdenging, sampai selanjutnya lelaki Indigo tersebut merasakan yang aneh di dalam tubuhnya nang mengambang di udara. Ya benar, sekarang energi aura Indigo miliknya ditarik keluar secara paksa dari tubuhnya membuat rahang bawah Angga mengeras karena harus menahan rasa sakit dahsyat ini yang kulitnya seperti dikelupas oleh alat tertentu.
Cahaya merah yang menerpa Angga semakin kuat terangnya karena sedikit lagi energinya tercabut dari Angga yang telah lelaki tampan itu genggam selama bertahun-tahun lalu hingga beranjak dewasa.
“AAAAAAAAAARRGH!!!”
Teriakan kencang kesakitan yang diterima oleh Angga, dipertontonkan seru oleh beberapa sekumpulan Sekte berjubah, bertudung hitam. Bahkan hati mereka sangat bahagia karena ritual ini kurang 5 detik lagi akan berhasil dengan lancar.
__ADS_1
Cahaya merah, logo lingkaran bintang Iblis itu kini telah menghilang pudar usai energi aura Indigo milik Angga telah tercabut selamanya dan energi luar biasa itu telah sudah digenggam oleh penyalahgunaan yang mestinya lelaki sosok misterius tersebut.
Perlahan, tubuh Angga turun dari udara dan jatuh terbaring lemas di atas batu lonjong itu. Dengan aura, energi, tenaga yang sudah menghilang membuat dirinya begitu tidak berdaya sama sekali. Bersama kedua mata yang sayu nyaris tertutup, Angga menatap lelaki sosok misterius itu yang sudah teganya melakukan sekejam itu padanya.
“Sungguh keterlaluan ...”
Usai mengeluarkan kata kalimat yang begitu amat lemah hampir tak terdengar oleh penangkap suara, kepala Angga terkulai sekaligus kedua matanya terpejam dengan damainya. Sedangkan mereka yang melihat Angga nang tak ada lagi pergerakan di tubuhnya, tertawa kencang kemenangan hingga suara para mereka menggema di dalam ruangan kastil bawah tanah tersebut.
“JANGAN!!!”
Angga langsung bangkit dari baringnya yang lemah dan lemas itu dalam perpindahan posisi menjadi duduk usai berteriak dengan mata melotot. Napasnya terputus-putus, tubuhnya membasahi baju pasien birunya dari punggung dan lainnya akibat peluh keringatnya. Rambut hitamnya nampak sangat lepek setelah terbangkit dari baringnya.
Reyhan yang sedang menikmati tidurnya di sandaran tembok dalam keadaan berdiri dan bersedekap kedua tangan di dada, langsung membuka matanya cepat setelah mendengar teriakan keras dari suaranya Angga.
Freya yang masih terkejut akibat teriakannya kekasihnya secara tiba-tiba begitupun Jova yang sama kagetnya seperti Freya, menatap Angga sampai tidak berkedip. Gadis lugu cantik berambut hitam legam sepunggung itu yang sedari tadi menggenggam telapak tangan kanan milik Angga, memajukan badan mungilnya untuk lebih dekat dengan lelaki tampannya. Mereka bertiga juga bersyukur dengan tiba-tiba ini, Angga yang sudah lama hilang kesadaran, kesadarannya kembali pulih.
“Angga, kamu habis mimpi buruk, kah? Kamu sampai berkeringat begitu,” tanya lembut Freya.
Angga langsung menepis tangan Freya dengan kasar bersama mata yang mendelik tajam menatap mata kekasihnya. “JANGAN SENTUH GUE!!! PERGI LO DARI SINI!!!”
Freya sangat terkejut pada bentakan tinggi suara Angga yang pastinya memakai nada tingginya, tak hanya Freya saja namun juga Reyhan dan Jova yang ada di kirinya Angga. Freya tetap bersikap tenang, karena gadis cantik itu tahu serta peka bahwa ini faktor dari dalam mimpi buruk yang lelakinya jumpai.
Freya segera memeluk tubuh lemah milik Angga dengan sangat lembut beserta menampilkan senyuman pilunya dan matanya ia pejamkan. “Ini aku, Ngga. Freya pacarmu. Aku tahu kamu tadi mimpi buruk, di sini nggak akan ada yang menyakiti bahkan melukaimu.”
Angga yang masih tak percaya karena apa yang dirinya lihat sampai sekarang ini adalah tempat bawah tanah kastil tempat dimana energi aura Indigo-nya dirampas paksa oleh lelaki misterius itu yang bersosok pakaian serba hitam, Angga segera mengucek-kucek matanya lalu melihat sekeliling tempat. Yang benar saja, dirinya memang hanya mengalami mimpi buruk belaka saja. Buktinya, ia berada di suatu ruangan terang yaitu kamar rawat rumah sakit bersama kedua sahabat dan sang kekasih yang menemaninya.
“A-a-aku ...”
Freya yang masih mendekap tubuh Angga, langsung mengusap-usap punggung pacarnya dengan penuh kasih sayang. “Sudah, sudah nggak apa-apa. Kamu hanya mimpi buruk, Angga. Saking parahnya mimpi yang kamu datengin, kamu terbawa akan mimpi itu ke dunia nyata.”
Angga menekan gigi putihnya bagian atas-bawah dalam mulut yang tertutup. Dirinya begitu sudah salah memperlakukan Freya dengan sangat kasar bahkan sampai membentak-bentak pujaan hatinya. Kini sekarang, Angga menenggelamkan wajah pucat tampannya di atas bahu kecil kiri Freya.
“Maafkan aku ...”
“Iya, iya. Nggak apa-apa, kok. Kamu tenanglah dulu, semuanya baik-baik saja,” jawab Freya lembutnya yang tetap mengusap-usap punggung kekasihnya beserta memeluknya.
Freya kemudian melonggarkan pelukannya lalu melepaskannya dari tubuh Angga yang begitu lemas tak ada tenaga. Reyhan yang berada di tepat samping kiri sahabat lelakinya, mencondongkan kepalanya sedikit mendekat ke arah Angga yang masih butuh mengatur napasnya agar normal.
“Bro, memangnya apa yang lo mimpikan di sana?” tanya Reyhan dengan cukup lengai hati-hati.
“Jangan tanya Angga yang tentang soal itu. Biarkan Angga merasa lebih tenang dahulu,” tegur Freya halus seraya mengambilkan segelas air putih mineral untuk Angga minum.
“Ayo minum dulu, aku bantu, ya?” Freya dengan senyuman manisnya, mulai menyuapi Angga segelas air putih mineral jernih tersebut bersama gerakan tangan yang memakai perasaan. Sementara Angga mengangkat tangan kanannya untuk memegang bagian gelasnya.
Setelah cukup melihat Angga meneguk air putih tersebut hingga tiga kali, Freya menyingkirkan gelas itu perlahan lalu meletakkannya kembali di atas meja nakas. Ditengoknya sang kekasih tampannya menunduk kepalanya dengan wajah setengah Stress akibat mimpi buruk menyeramkan itu, bukan karena rupa atau sihir gaib, tetapi kelebihannya yang selama ini dirinya genggam dalam jiwa seutuhnya direbut oleh sosok misterius itu untuk menjadi miliknya selamanya.
Sedangkan Freya yang masih setia duduk di kursi sebelah kanan kekasihnya, kembali menggenggam lembut lengannya menggunakan kedua tangan. Bisa Freya rasakan, suhu tubuhnya Angga masih naik belum turun apalagi wajah tampannya Angga begitu sangat pucat usai tersadar dari pingsannya.
“Angga, maukah kamu menceritakan mimpimu itu kepada kami bertiga? Siapa tau barangkali itu bisa menjadi suatu keuntungan bagi kami untuk mencari solusi terbaik buatmu,” ucap pinta Jova.
Angga menarik napasnya panjang-panjang lalu membuangnya lewat mulut. Sepertinya ini memang sudah waktunya dirinya menceritakan tentang mimpi buruk menggemparkan itu pada kesemua yang setia menemani dirinya bahkan mendampingi hidupnya.
“Di sebuah bawah tanah kastil, tempat sebuah untuk melaksanakan suatu ritual khusus, energi dan aura Indigo gue direbut olehnya.”
Freya yang tidak menuntut Angga untuk menceritakan semua mimpi buruknya tadi, matanya berkedip-kedip cepat karena terkejut setengah tak percaya. “A-apa?! Indigo punyamu direbut? Tapi olehnya siapa??”
“Sosok lelaki misterius yang memakai pakaian tudung, dan jubah hitam begitupun juga dengan sekumpulan para sosok lainnya yang sebagai anak buahnya. Aku tidak tahu siapa mereka sebenarnya, dan aku tidak tahu apa maksudnya dari mimpi itu yang begitu aneh serta penuh teka-teki.”
“Sekumpulan memakai pakaian tudung, dan jubah hitam? Pasti mereka berpakaian yang sama. Kenapa sosok yang sesuai deskripsi lo kayak sekumpulan para Sekte, ya?” tanya Reyhan dengan menempelkan jari telunjuk dan jempol tangannya di ujung dagu.
“Hah? Sekumpulan para Sekte?” tanya bingung Jova sambil mengerutkan jidatnya.
“Iya. Biasanya tuh yang Sekte-sekte gitu suka bermain ritual mengerikan yang korbannya telah salah satu dari mereka tidurkan di suatu tempat baringan. Lalu korban itu diikat oleh sesuatu yang sukar untuk melarikan diri dari mereka. Tujuan mereka yang sekumpulan para Sekte itu, ingin menjadikan korbannya sebagai tumbal.”
“T-tumbal?! Hih, takut!” bimbang Freya dengan bergidik ngeri karena mendengar ucapan penjelasan Reyhan membuat tubuh gadis cantik itu meremang mendadak.
“Emangnya beneran ada hal yang kayak begituan? Tau darimana, kamu?” tanya curiga Jova.
“Tau dari film sama novel, hehehe!”
“Yeeee! Kirain langsung depan mata, taunya di dunia fiksi doang!” protes Jova yang padahal dirinya sudah amat penasaran.
“Ada lagi, gak?” tanya Freya dengan tetap tersenyum manis pada Angga.
Angga menganggukkan kepalanya pelan. “Sebelum energi Indigo gue benar-benar dicabutnya, sosok lelaki misterius itu menggenggam sebuah buku tebal yang isinya ada tulisan-tulisan sebagai mantra yang penuh makna maksimum. Hingga setelah menyelesaikan apa yang dia baca, di atas gue muncul sebuah logo lingkaran bintang iblis terkuat di dunia sesuai julukan yang mereka buat dan di kekuatan gaib logo itu terdapat cahaya merah yang mampu menyerap semua aura energi yang ada di dalam tubuh gue.”
“Gue hanya bisa pasrah dengan semuanya yang telah dia lakukan karena gue sudah nggak bisa berbuat apa-apa untuk melawan sedikitpun serangan buat membalas kekejamannya dia.”
Freya menggigit bawah bibirnya dengan hati yang menjadi kalut ricuh. “Parah banget. Ini yang paling aku takuti bila kamu mimpi buruk seperti itu, karena mimpimu itu bukan sembarangan mimpi. Mimpi kamu sudah dipastikan gak bisa disepelekan.”
“Mimpi Angga bahaya banget buat tentram nyawanya. Karena yang namanya aura energi kelebihannya diambil dan itu sudah melekat di jiwanya, sudah pasti bakal ambilnya kebarengan nyawa Angga. Bisa mati lho, Angga di saat itu juga!”
“Reyhan! Jangan ngomong gitu, dong. Aku gak mau kalau itu benar-benar kejadian. Jangan ada yang mengambil Angga pokoknya.” Usai mengucapkan kalimat terakhir dengan lirih, Freya yang beralih menggenggam telapak tangan kekasihnya, menempelkannya telapak tangan putihnya Angga di pipi kanan mulusnya.
Angga yang melihat Freya yang nampaknya takut kehilangannya, lekas mengangkat tangan kirinya yang di infus untuk membelai-belai rambut hitam pucuk kepala Freya. Lalu berselang menit kemudian, Angga menghentikan aksi adegan lembutnya pada pujaan hatinya.
“Sudah pernah gue katakan ke kalian bahwa mimpi gue itu memiliki dua antara arti, sebuah pertanda atau kenyataan. Dan gue nggak tahu apa yang terjadi dengan gue di suatu saat nanti.”
Freya yang menutup matanya, seketika membuka dan menatap mata sayu abu-abu milik Angga. Sedangkan kedua sahabatnya yang ada di kiri menatap Angga gundah pilu.
“Gue sudah berusaha untuk meraih kebahagiaan yang selama ini terpendam. Tetapi begitu sulitnya untuk menggapai tentang itu saja, apa seorang seperti gue ini gak pantas untuk mendapatkan bahagia seperti kalian dan orang lain?”
“T-tapi waktu itu kamu bisa mendapatkan bahagia. Mendapatkan kekasih terhebat seperti Freya, dan juga lain-lainnya, kan?” ucap Jova tanpa senyum.
“Memang. Tetapi itu hanya sesaat saja, kemudian masalah baru datang untukku. Jika gue boleh jujur, gue sebenarnya sudah lelah dengan semua ini, segala cobaan yang berusaha menghancurkan hidup gue dan segalanya. Tetapi tetap gue tahan, kalau perlu hingga ajal menjemput.”
Reyhan yang sadar air matanya menetes karena begitu pedih dengan kehidupannya Angga, langsung mengusapnya kasar. Pemuda Friendly itu tersenyum lebar lalu merangkul Angga dengan rasa persahabatan sejati. “Lo orang yang kuat, Ngga. Lo bahkan bisa menghadapi semua segala kekelaman yang lo rasakan dan elo alami. Kami salut bangga dengan kesabaran ektra lo, Angga.”
“Mungkin nggak ada orang lain yang bisa setegar dan sesabar sepertimu, Ngga. Bahkan bisa saja mereka menyerah dengan semua kehidupan pedihnya. Tetapi apapun itu masalahnya, kita coba hadapi bersama, ya? Susah, susah bareng. Senang, senang bareng. Sedih, sedih bareng. Duka, duka bareng. Aku yakin kamu pasti perlu butuh orang yang mendampingi dan menyemangatimu, Angga. Jadi, yuk apapun masalahnya kita hadapi bersama.”
Angga tersenyum tampan pada Jova yang sahabat Tomboy-nya yang memberikan motivasi hidupnya. Walau sifatnya suka petakilan, barbar, bobrok tetapi hatinya begitu sempurna, tulus, dan juga baik hati.
Freya yang masih tetap menggenggam telapak tangan pemuda Indigo tersebut ikut tersenyum setelah melihat Angga mengukirkan senyumannya. “Angga, ada kami bertiga yang selalu bersamamu. Jangan mencoba untuk menyerah dan putus asa, ya?”
Freya balik menempelkan telapak tangan kekasihnya di pipi putihnya dengan senyuman lebar yang mengembang di wajah paras cantik jelitanya. Hal itu membuat Angga kembali menatap gadisnya dengan semakin menarik sunggingan senyumannya ke atas. Senyuman itu yang terlihat kembali, mampu buat hati para ketiga remaja tersebut lega dan bahagia.
Untuk tentang mimpi buruk mengerikannya dimana ada sebuah buku tebal berisi mantra maksimum, cahaya merah penyerap aura energi, dan terakhir logo lingkaran bintang iblis bercahaya emas, Angga mencoba berusaha melupakannya semampu mungkin demi ketenangan para sahabatnya serta sang kekasih pujaan hatinya, lelaki tampan ini tidak ingin mereka bertiga sedih karenanya yang telah berupaya menyumbangkan segala dorongan internal life motivation spektakuler untuknya supaya sanggup menjalani hidup.
__ADS_1
INDIGO To Be Continued ›››