
Di bawah dinding pembatas Rooftop, terlihat Angga sedang duduk di lantai dan posisi punggungnya bersandar di tembok berwarna krem. Kaki kanannya nampak selonjor sementara yang kiri ia tekuk, matanya lagi-lagi memejam untuk terus berusaha memenangkan pikirannya yang terganggu oleh masa lalunya tersebut.
Berbagai aktivitas cara sudah Angga lakukan untuk menghilangkan memori kenangan buruk itu, namun hasilnya tak berubah sama sekali. Kedua tangannya meraih atas kepalanya buat mengacak-acak rambut hitamnya yang keren dan rapi, dirinya menjadi frustasi sendiri mengenai hari tahun silamnya yang gelap.
Hingga tiba-tiba kepalanya kembali terasa seperti dipukul oleh palu beberapa kali, hal itu menyimpulkan bahwa cederanya Angga balik kambuh. Dengan segera pemuda tersebut merogoh kantong saku jas almamaternya untuk mengeluarkan bungkusan strip obat dari dalam pakaiannya. Angga membuka tutup botol merk-nya yang ia bawa, lalu segera memasukkan satu butir pil obat miliknya tersebut ke dalam mulut lalu meminum air putihnya untuk membantu mendorong obatnya masuk ke dalam tubuhnya yang sedikit lemas itu karena sedari tadi ia belum makan apa-apa termasuk sarapan.
Badan Angga membungkuk ke samping sembari meletakkan botol minumnya yang telah dirinya tutup oleh tutupan botol dengan tak santai. Tangan kirinya terangkat menyentuh kepalanya yang masih terasa sakit, mungkin obat resep dokter nang ia minum itu belum bekerja.
“Huh ...”
Tanpa Angga sadari, ia sudah didatangi oleh seorang gadis yang mengenakan sepatu pantofel hitam dan berkaos kaki putih bersih polos tanpa logo ataupun merk. Angga merasakan bahwa sinar matahari itu terhalang oleh seorang di depannya, bahkan dirinya merasa sedang diberikan teduhan. Perlahan Angga mendongakkan kepalanya ke atas, dilihatnya ia mendapati sahabat kecilnya yang sedang tersenyum manis padanya.
“Freya?”
“Hai Angga, suka banget sih sendirian, hehehehe.” Freya mengeluarkan suara kekehan diakhir kalimat sebelum gadis cantik itu berjalan untuk duduk di lantai tepat sampingnya Angga.
Angga menggeser botol minumnya hingga di tembok kemudian menoleh menatap Freya yang masih menampilkan senyuman sumringah di muka jelitanya. “Ngapain ke sini?”
Freya mengubah mukanya menjadi ngambek karena harapan dirinya bukan ini yang ia minta pada sahabat kecilnya yang pertanyaannya suka monoton. “Aku nyariin kamu, tau! Kemarin juga, nyari-nyari ternyata udah di rumah!”
“Gak usah dicari, aku gak penting buat kamu.”
Freya berkacak pinggang yang posisi gadis itu sedang duduk. “Apaan itu kata kamu barusan?! 'aku gak penting buat kamu'? Kamu penting buat aku dan semua orang!”
Freya menatap tajam Angga dan lelaki itu hanya membalas tatapan datarnya, lebih baik mengalihkan wajahnya dari sahabat kecilnya daripada nanti menjadi adegan perdebatan antara ia serta dirinya Freya. Freya melihat reaksi Angga menjadi amat sendu, pikirnya Angga tengah belum bisa melupakan masa lalu tahun silam.
Freya mengambil tangan kiri Angga untuk mengangkatnya lalu menggenggamnya dengan lembut, membuat itu Angga langsung kembali menatap sahabat kecil perempuannya. Mata indah gadis itu tak berpaling dari mata menawan milik Angga, perlahan senyuman gadis tersebut terlihat lagi. Tak begitu juga dengan Angga, bukan tersenyum tetapi datar tak ada ekspresi apapun darinya. Angga membiarkan kedua tangan halus itu menggenggam telapak tangannya.
“Mukanya jangan kayak gitu, dong.”
Bukannya menuruti, Angga lagi-lagi memalingkan wajahnya dari Freya. Sepertinya gadis itu harus banyak melatih kesabarannya menghadapi tetangganya ini yang sangat dingin bahkan cuek.
Freya melemparkan senyumannya meskipun tak dilihat oleh Angga. “Aku tau kamu lagi berusaha melupakan masa-masa kenangan lama yang buruk itu, Angga. Tapi aku tolong sama kamu, jangan kayak gini apalagi seperti kemarin yang tiba-tiba pergi begitu saja. Aku paling gak mau kamu yang begini lho, Ngga.”
Angga hanya diam tak menggubris permohonan gadis tersebut. Bahkan sekarang Freya tak mempunyai cara untuk menghibur seorang Angga bahkan menenangkan hatinya sejenak, baginya terlalu susah membangun suasana hati sahabat TK-nya apalagi wataknya begitu. Tapi Freya betul yakin, kalau dulunya sifat Angga tak seperti ini. Keburukan sekolah itulah yang mengubah sikap sahabatnya 170 derajat.
Freya mencondongkan kepalanya untuk menatap muka Angga. Sedikit pucat tak seperti biasanya. ‘Pasti dia belum sarapan.’
Freya menurunkan tangan sahabat kecilnya ke bawah lalu melepaskan genggamannya dari telapak tangannya. Gadis itu mengambil bungkusan roti sandwich di dalam kantong saku jas almamater miliknya, kemudian mencolek-colek bahu Angga dengan jari lentik telunjuknya.
Angga kembali menoleh bersama wajah datarnya yang masih tergambar jelas di raut tampannya, pemuda itu melihat Freya memberikan sebuah satu roti sandwich yang gadis itu beli di kantin. “Nih, Ngga. Dimakan rotinya.”
“Aku nggak lapar, kamu makan aja rotinya.”
“Aku punya dua roti sandwich. Jadinya satunya buat aku, satunya lagi buat kamu, hehehe.”
“Bibirmu keliatan pucat lho, Ngga. Pasti kamu tadi nggak sarapan, mangkanya aku beliin kamu roti, biar kamu nggak kena sakit Mag.”
“...”
Freya mengangkat tangan kiri Angga lagi lalu membalikkannya, menaruh roti sandwich-nya yang ia pegang di atas telapak tangan sahabat kecilnya. “Pokoknya aku gak mau tau, harus di makan! Titik gak pake koma, kamu itu wakil PMR .. harus tetap sehat, jangan sampai sakit-sakitan. Oke?”
Angga hanya menjawabnya sebagai dehaman, hal itu buat Freya mendengus karena tanggapannya hanya begitu. “Jawab yang bener, dong!”
Angga menghempaskan napasnya kasar. “Iya Freya. Puas, hah?”
“Hehehehe!”
Angga menarik tangan kirinya ke depan dadanya lalu mulai membuka bungkusan roti sandwich pemberian dari Freya tersebut dibantu oleh tangan kanannya. Freya juga tengah membuka bungkus roti miliknya untuk ia makan. Setelah berhasil membukanya dengan mudah, Angga mendengus pelan lalu mendekatkan roti itu ke mulutnya.
Freya melirik sahabat kecilnya yang tengah melahap sisi roti sandwich-nya dan mengunyahnya dalam mulut. “Gimana rasanya, Ngga?”
“Kayak rasa roti.”
“Huh, untung aja bukan rasa salad buah.” Freya berucap konyol seraya menatap roti sandwich dengan selera.
__ADS_1
Angga yang telah menelan hasil kunyahan-nya langsung menoleh ke arah Freya. Lelaki tampan Indigo itu kembali menoleh ke depan sambil menahan tawanya dan itu diketahui sahabat kecilnya yang akan melahap roti putih sandwich-nya. Freya tersenyum senang melihat Angga yang tersenyum meskipun kini pemuda tersebut tengah menghadap depan. Dalam hati kecilnya begitu bahagia karena sahabat TK-nya menunjukkan wajah sunggingan mesem kendatipun tak disengaja olehnya.
Freya mulai menggigit pelan roti sandwich-nya dengan lembut bersama penuh nikmat dan selera. Mereka ditemani oleh semilir angin sejuk yang membuat hati dan pikiran Angga sedikit menjadi lumayan tenang, mungkin berkat kehadiran Freya si cantik ini suasana milik dirinya lebih membaik.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Di kediaman rumah Reyhan, lelaki itu tengah bersantai di pinggir kolam renang bersama kursi roda yang ia duduki. Sementara seperti Jihan dan Farhan berada di dapur untuk memasak bersama-sama. Reyhan menghirup udara segar sebanyak-banyaknya sembari menyenderkan punggungnya di sandaran kursi rodanya.
Tanpa Reyhan sadari, di belakang terdapat sosok Arseno yang sedang mengawasi dirinya dari kejauhan tepatnya di belakang pintu sliding kaca menuju masuk ke dalam rumah. Arwah negatif itu menarik senyuman smirk karena menurut dirinya si Reyhan tak dapat rasa peka kehadirannya yang secara tiba-tiba. Apa lagi yang akan Arseno perbuat untuk Reyhan kali ini?!
“Lagi bersantai-santai, ya? Akan aku buat dirimu menderita lagi untuk kesekian kalinya,” gumam Arseno akan melancarkan aksi kejamnya.
Arseno berlari secepat halilintar seraya kedua tangannya membentang mendorong kencang kursi roda Reyhan. “E-e-eh! Loh-loh kenapa- waaa!!”
BYUR !
Tubuh Reyhan terjebur ke dalam kolam renang yang sedalam 3 meter. Sedangkan kursi rodanya tak ikut masuk ke dalam kolam renang. Di dalam air kolam renang, Reyhan susah mengapung diri dikarenakan kakinya yang lumpuh itu tak bisa membantu dirinya untuk naik ke atas air, namun pemuda tersebut bersusah payah naik ke atas permukaan dengan cara menggerakkan kedua tangannya secara mendayung dari atas kepalanya.
Nihil, ia tak bisa keluar dari dalam kolam renang. Terlalu menahan napas di sana membuat napasnya menjadi sesak kembali. Ia tak tahu siapa yang mendorong dirinya hingga terjebur ke kolam renang. Hingga mata sipit Reyhan yang masih terbuka, Reyhan sontak kaget mendapati sosok Arseno yang berenang dari atas menuju ke bawah, menghampirinya!
Reyhan berusaha mangkir tetapi sayangnya kedua kakinya tak bisa digerakkan karena kelumpuhan yang ia alami itu. Arseno yang berhasil mencekal baju oblong abu-abu Reyhan, langsung segera mendorongnya kencang hingga kepala bagian belakang manusia itu membentur kuat di dinding kolam. Meskipun sangat sakit yang ia terima namun Reyhan tetap berusaha mengatupkan bibirnya rapat supaya airnya tak berjaya masuk ke dalam mulutnya.
Kedua bola mata yang saling bergelantungan di bawah organ mata arwah negatif tersebut menatap Reyhan. Tatapan mata itu seolah-olah menyihir Reyhan menjadikan daya tahan tubuhnya melemah. Yang benar saja, Arseno membawa raga Reyhan ke bawah yang di sana terdapat jelas lantai kolam renang. Di situ Arseno membaringkan manusia tersebut dengan sangat kasar.
Bersama senyuman seram menyeringai, Arseno mulai melakukan kebiasaan yang sering ia lakukan untuk Reyhan, yaitu mencekik lehernya dengan sangat amat kuat. Disaat itu juga, napas dada milik Reyhan menjadi tercekat disebabkan oleh perbuatannya. Kedua tangan Reyhan berusaha melepaskan dua tangan arwah itu yang cekikan-nya begitu erat sedangkan dirinya terus menahan napas karena masih berada di dalam air.
Arseno yang merasa belum puas menyakiti manusia itu langsung menambahkan kesakitan dirinya dengan menghentakkan sepatunya di atas perut Reyhan hingga momen yang Arseno nantikan datang juga. Reyhan membuka mulutnya berteriak kesakitan namun teriaknya itu bukan memunculkan sebuah suaranya namun gelembung air saat ia berteriak kesakitan. Sudah sangat lama bermenit-menit dirinya menahan napas dan juga ia terlalu lama menahan rasa sakitnya dicekik hantu pembawa malapetaka tersebut. Tenaga yang ada di dalam tubuh turun berkurang, sehingga memarani buram kegelapan pandangan.
Kedua tangan Reyhan yang berusaha melepaskan tangan-tangan Arseno perlahan merosot serka kemudian matanya yang menatap tak berdaya wajah mengerikan makhluk gaib aura hitam tersebut mulai menutup dengan tenangnya.
Di sisi lain, Jihan membuka pintu kaca sliding dengan membawa piring berisi beberapa gorengan yang telah beliau masak untuk anak putranya. Namun Jihan di sana tak menemukan Reyhan, hanya kursi rodanya yang ada. Pandangan Jihan mengitari seluruh sekitar tempat kolam renang.
“Anakku tidak mungkin pergi tanpa kursi rodanya.” Jihan melangkah cepat mencari keberadaan Reyhan, sampai-sampai saat Jihan tak sengaja menengok bawah kolam renang...
“REYHAN!!!”
“Hiks, aku harus gimana?! Papaaaaaaa!!!”
“Apa?! Ada apa, Mama??!!” terkejut Farhan muncul seraya menggeser pintu kaca tersebut lalu berlari ke arah istrinya yang terduduk di pinggir kolam renang.
Tanpa berkata tanya apa-apa lagi pada istrinya yang menangis histeris, mata Farhan langsung terbentur pada Reyhan yang tenggelam di dalam air kolam renang. “R-reyhan!!??”
Farhan tanpa berpikir panjang langsung menceburkan diri ke dalam kolam renang untuk menyelamatkan anaknya yang berada di bawah air. Di bawah dalam sana, pria paruh baya tersebut membawa tubuh Reyhan ke atas permukaan air yang sebentar lagi beliau baringkan ke pinggir kolam renang. Saat tubuh Farhan dan Reyhan sebagian keluar dari kolam renang, Jihan mulai dengan cepat menarik tubuh anak semata wayangnya dari atas dibantu suaminya mengangkat badan Reyhan begitupun selanjutnya kakinya.
Jihan menyeret tubuh lemah Reyhan ke pinggir kolam sedikit kejauhan dari ujung kolam tersebut lalu setelah itu membaringkan perlahan tubuh anaknya yang tak berkutik. Farhan yang telah naik dari dalam kolam renang segera berlari ke arah Reyhan keadaan basah kuyup begitu juga dengan anaknya yang kini bibirnya sangat pucat hampir warna kebiruan.
Bersama napas ngos-ngosan, Farhan menepuk-nepuk pipi basahnya Reyhan beberapa kali. “Reyhan! Bangun, Nak!”
Farhan beralih mengecek pernapasan Reyhan dengan cara mendekatkan telinganya di hidung dan mulut Reyhan. Sang ayah masih bisa merasakan hembusan udara napas anaknya namun saja lemah. Dan karena beliau tak ingin ada fatal yang terjadi pada Reyhan, Farhan mulai meletakkan satu tangan kirinya dan tangan kanannya ditumpuk di atas tangan kiri untuk menekan-nekan dada anaknya karena beliau tahu anaknya telah banyak menelan air kolam.
Detak jantung Jihan berdebar kencang melihat suaminya yang terus memberikan kesadaran Reyhan yang berakhir mengeluarkan airnya dari mulut. Farhan semakin getir dikarenakan tak ada reaksi apa-apa dari Reyhan.
“Ayo Reyhan sadarlah!!” geram Farhan dengan tetap menekan dadanya bersama kedua tangannya yang bekerja menggunakan tenaganya.
Tangisan Jihan semakin deras melihat tak ada respon tubuh anaknya, bahkan masih belum ada reaksi apapun dari Reyhan. Farhan berhenti menekan dada milik anaknya karena usaha darinya tak membuahkan hasil sama sekali. Pria itu menatap dada putranya yang sebenarnya masih menghela namun gerakannya sangat lambat. Tidak! Farhan tak akan menyerah begitu saja untuk mengembalikan kesadaran Reyhan.
Farhan menjepit hidung mancung putranya sekaligus tangan satunya membuka rahangnya untuk melakukan pemberian napas buatan, Farhan mengambil napas serta meniupkan udara perlahan 1 sampai 2 detik tiap kalinya ke dalam mulut Reyhan.
Farhan melepaskan jepitan tangannya dari hidung Reyhan untuk melihat reaksi yang akan terjadi kepada anaknya. Rupanya belum ada reaksi apapun darinya, Reyhan masih bergeming dalam tubuh terlentang lemah. Farhan menelan ludahnya lalu mencoba tetap tenang dan melakukan pemberian napas buatan lagi untuk Reyhan hingga 3 kali banyaknya.
Jihan yang tak bisa berbuat apa-apa hanya diam sambil menggigit jari telunjuknya dengan perasaan takut dan getir mengaduk jadi satu. Sang ibu dalam kalutnya merapalkan sebuah Doa untuk meminta kesadaran dari Reyhan pada Allah yang belum ada tanda-tanda sedikitpun.
Jihan menyentuh celana panjang Reyhan yang basah kuyup tersebut hingga bersamaan itu, reaksi yang diharapkan pun terkabul. Reyhan terbatuk-batuk seraya memuntahkan air yang banyak tertelan dalam tubuhnya, dengan cekatan Farhan memiringkan tubuh anaknya dan menepuk-nepuk punggungnya.
“Huk! Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Setelah merasa Reyhan telah mengeluarkan semua air kolam renang yang tertelan, Farhan kembali mengubah posisi Reyhan menjadi terlentang balik. Farhan dan Jihan sama-sama bernapas lega melihat kesadaran Reyhan mulai menaik.
__ADS_1
Jihan merangkak hingga ke ujung kepala Reyhan lalu mengangkat tubuhnya untuk ia topang bersama tangannya di bawah punggung anaknya yang beliau selipkan. Tangan sebelahnya perlahan mengelus pipi dingin Reyhan akibat dari air kolam renang dengan sisi dua jari lentiknya. Sedangkan Farhan bangkit berdiri bergegas mengambil handuk besar di dalam untuk menghangatkan tubuh putranya yang kedinginan.
Sedikit demi sedikit kedua mata Reyhan terbuka. Ia merasakan belakang kepalanya diletakkan oleh seseorang di atas paha, bola matanya ia naikkan ke atas untuk melihat siapa yang ada di dekatnya. Syok, yang ia lihat bukan orang yang ia sayangi namun wajah Arseno nang mengerikan dan tercium bau anyir darah dari mukanya. Karena baru saja bangun dari pingsan, lelaki itu tiba-tiba kembali hilang kesadarannya akibat melihat hal yang membuat dirinya terkejut setengah mati.
Jihan ikut kaget menatap Reyhan yang matanya menutup lagi, beliau dengan muka paniknya lagi langsung menepuk pipinya beberapa kali secara bergiliran lalu beralih menggoyangkan pundak kanannya.
“Nak?! Nak?! Ya Allah kamu kenapa pingsan lagi, sih?!”
“Bangunlah, Reyhan!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Setelah Reyhan digantikan pakaian yang kering dan berlengan panjang serta dibaringkan di atas kasur dalam kamarnya, lelaki remaja itu masih belum kunjung sadarkan diri. Wajah pucat-nya terlihat jelas dalam keadaan pingsannya, dua orang menunggu kesadarannya sampai ketar-ketir karena sudah lebih dari 30 menit dirinya masih seperti ini.
Namun tak berapa lama menunggu lagi, mulut Reyhan yang bungkam sedikit terbuka dan membuka matanya kembali. Bawah kelopak matanya juga terlihat pucat sepadan dengan pucat-nya bibir. Bola matanya ia gerakkan untuk mencari tahu ia ada dimana, hingga pandangan Reyhan tak sengaja mengarah ke dua seseorang yang nampak masih blur tidak jelas siapa mereka berdua.
Reyhan mencoba terus menatap mereka berdua sampai hingga pandangannya betul-betul jelas dan tak mengabur. Seketika Reyhan rada kaget rupanya yang ada di sisinya adalah dua tetangganya yang satu sekolah dengannya.
“K-kalian ...?”
Jevran tersenyum lega. “Alhamdulillah lo akhirnya sadar juga, Bro. Sudah lebih tiga puluh lima menit lo gak bangun, kami berdua jadi takut lo kenapa-napa.”
Rangga yang ada di kanan Jevran perlahan menggeser tempat untuk mendekati Reyhan yang masih terbaring di atas kasus bersama selimutnya. “Bagaimana keadaan lo? Sudah mendingan belum?”
“Lumayan. Tapi, apa yang terjadi sama gue? Gue nggak inget apa-apa ... apalagi tau-tau gue ada di kamar ...”
“Kata om Farhan lo habis tenggelam di kolam renang. Pikir gue soal tenggelamnya, lo udah di Surga.” Rangga yang mendengar penuturan Jevran langsung memukul punggungnya. “Mangkanya itu otak jangan negatif mulu pikirannya! Belum tentu tenggelam itu pasti meninggal.”
“J-jadi, gue tenggelam ...?”
Rangga yang menatap kesal Jevran beralih menoleh menatap wajah pucat-nya Reyhan, mengubah ekspresinya menjadi lunak untuk menjawab tetangga satunya. “Iya, lo tenggelam. Huh, untung aja lo segera dikeluarin dari air, kalau enggak .. pasti bakal ada kejadian fatal yang nggak diinginkan.”
Rangga kemudian mengambil cangkir mug kaca warna putih lalu ia sodorkan pada Reyhan yang mulutnya kembali bungkam dengan kedua mata yang belum sepenuhnya terbuka. “Lo masih lemes, kan? Nih coba lo minum dulu teh hangat manisnya, biar lo ada tenaga.”
Reyhan yang akan hendak bangun berposisi duduk, tangan kanan Jevran langsung mengulur untuk menarik perlahan satu tangan tetangganya agar tak kesulitan bangkit. Reyhan menatap cangkir mug yang berisi minuman teh manis hangat seraya tangannya menerima cangkir tersebut dari Rangga yang tetangganya sodorkan padanya.
Karena baginya teh itu masih panas dan mengepul, Reyhan mendekatkan atas cangkir mug-nya ke mulutnya lalu ia tiup-tiup pelan kemudian meneguknya tanpa tergesa-gesa. Setelah meneguknya hingga setengah, Reyhan menyerahkan cangkir itu ke Rangga. Lelaki yang telah sadar dari pingsannya usai itu tersenyum kepada temannya.
“Makasih, Ga.”
“Sama-sama, Rey.” Rangga menjawab sambil menerima cangkir teh hangat yang telah ia buat tadi, kemudian pemuda itu letakkan di atas meja nakas sebelah tempat tidur Reyhan.
Reyhan yang merasakan kepalanya terasa pusing, memutuskan untuk kembali berbaring dan menarik selimutnya sampai ujung perut. Tatapan matanya mengarah ke langit-langit dinding yang bercat warna favoritnya yaitu abu-abu. Hingga satu suara Rangga lontarkan ke Reyhan yang diam. “Rey, mau gue panggil Angga ke sini? Biar sekalian tau keadaan lo yang sekarang.”
Rangga sudah siap dengan ponselnya untuk menghubungi nomor kontak Angga, namun dalam batin Reyhan berkata, ‘Apa gue gak ganggu dia? Apalagi soal kemarin tentang masa lalunya.’
“Oh ide yang bagus tuh, Ga! Gimana, Rey?” tanya Jevran dengan wajah sumringah.
Bola mata Reyhan mengarah menatap kedua tetangganya dengan senyum hambar. “Nggak perlu.”
Jevran mengerutkan keningnya. “Lah kenapa? Tumben lo, Nyuk. Lo lagi marahan sama Angga?”
Reyhan berdecak. “Bukan gitu. Lokasi buat menuju ke sini kan jauh banget dari lokasi rumahnya Angga, apalagi ini udah pulang sekolah, pastinya dia lelah. Gue nggak mau dia jadi kecapekan dan berakibat cedera kepalanya kambuh lagi. Kalau itu sampai terjadi, berarti itu salahnya gue.”
“Bidih, perhatian banget lo sama sahabat cuek lo itu. Yasudah gak jadi gue telpon kalau gitu, mending elo istirahat aja. Soal mama papa lo, mereka lagi di bawah ngobrol sama bunda ayahnya Jevran. Tetangga akrab kali, ya hehehe.”
“Sudah lama tetangganya, Bro Rangga. Jadi otomatis kedekatan bokap nyokap gue sama bokap nyokap-nya Reyhan lekat kuat kayak lem Dextone.”
“Lem Dextone? Bah, bisa ae lu.”
Reyhan mendengus dengan sunggingan bibir membentuk senyuman yang lelaki itu patri. Pandangannya ia alihkan dari Rangga beserta Jevran, dan kini lelaki itu tengah menatap kembali langit-langit dinding yang tanpa ada motif apapun di sana. Rupanya masih Reyhan ingat dalam benak otaknya dimana saat tadi Arseno melakukan sesuatu yang membahayakan kepadanya.
Sudah stop Reyhan membencinya yang membuat dirinya sangat muak dengan hantu aura negatif tersebut. Saatnya untuk dirinya menggali informasi mengenai kematian Arseno sebelum pemuda SMA itu tewas secara mengenaskan akibat dibunuh brutal oleh dua seseorang. Dengan hal itu, Reyhan mampu menuntaskan penderitaannya selama ini. Dan sepertinya Reyhan merasa curiga janggal kepada dua pria yang dulunya mencegatnya di Jiaulingga Mawar tempat jalan pintas sekaligus berakhir digebuk rata oleh mereka hingga babak belur.
Apakah Aditama dan Arkie yang telah membunuh Arseno Keindre?
__ADS_1
Indigo To Be Continued ›››