Indigo

Indigo
Chapter 55 | He Came In One's Subconscious


__ADS_3

Angga nampak tengah fokus pandangan ke layar ponselnya, sementara Freya yang duduk langsung bersandar pada kasur ranjang yang tadi telah Angga naikkan secara otomatis memakai remote ranjang pasien manual, dengan sangat lesu bahkan mengeluh membuat sahabat kecilnya menurunkan ponselnya yang ia mainkan dan menatap gadis itu.


“Kamu kenapa? Pagi-pagi udah cemberut begitu, jelek mukanya,” ledek Angga.


“Mau pulang, nggak mau di sini. Gak betah!” ketus Freya.


“Lho, kok mau pulang? Kamu harus dirawat di sini dulu sampai sembuh,” jawab Angga dengan nada halus.


“Dirawat di rumah kan sama aja, nggak enak banget tau. Udah makan-nya di atur, minum obat apalagi telapak tanganku yang di tancap jarum infus ini. Mau aku lepas rasanya!”


“Apanya yang mau kamu lepasin??” tanya Angga sedikit mencondongkan badannya ke depan. Angga menghela napasnya melihat wajah imut sahabat TK-nya menggembungkan kedua pipinya.


“Jarum infusnya lah, masa bajuku yang aku lepas. Dasar aneh, kamu!”


Angga membungkam bibirnya dan menipiskan-nya, namun ia tersentak kaget pada apa yang dilakukan Freya. Ya, gadis polos sahabat miliknya hendak melepas plester infus dengan paksa. “Eeehh! Jangan di lepasin!!”


Angga segera menghentikan aksi Freya yang akan melepaskan plester infusnya, tangan Angga menggenggam lengan Freya sejenak sementara satu tangannya yang telah terlepas dari HP-nya, membenarkan tempelan plester infus sahabat kecilnya yang nyaris saja gadis itu lepas. Angga melepaskan genggamannya dari lengan Freya lalu menatap tegas sahabatnya membuat Freya tak berani menatap Angga alias menunduk.


“Kamu jangan seperti anak kecil, harusnya kamu tahu fungsi kamu di infus itu apa. Kamu tuh harus butuh cairan agar kamu cepat sembuh, sama kan kayak aku dulu sama Reyhan yang ada di ruangan sana. Jangan di lepasin lagi, ya?”


“Iya,” singkat pelan Freya tanpa mendongak menatap Angga.


Angga mendengus dengan bibir membentuk sunggingan senyuman, lelaki itu mengulurkan tangannya untuk meraih piring yang berisi beberapa potongan buah segar dan juga ada garpu di atas piring yang sekarang Angga pegang. Dirinya lantas itu menusuk salah satu potongan buah nanas yang mengandung Vitamin A menggunakan garpu. Kini Angga arahkan garpu itu ke Freya dan ia tempelkan buah kuning itu yang telah ia tusuk pakai garpu ke bibir pucat Freya. Seketika Freya mendongak menatap Angga yang berwajah santai.


“Hm?”


Angga terkekeh. “Ayo di makan buah nanasnya, biar sehat.”


Freya hanya membuka mulutnya dan menerima buah tersebut dari tangan Angga yang memakai garpu. Dan disaat itu juga Freya tersadar karena sama saja ia menerima suapan dari sahabat lelaki kecilnya.


‘Ih, tadi aku ngapain?! Astaga, sama aja aku disuapin Angga dong! Hhh, dasar bodoh.’


“Kenapa gak dikunyah buahnya? Nggak enak, ya?” tanya Angga yang seketika membuyarkan pikiran gadis polos yang sedang sakit tersebut.


Freya mencondongkan kepalanya dengan tatapan tak berpaling dari Angga, setelah itu Freya memundurkan kepalanya dan menggelengkan kepalanya sambil mengunyah. Angga kembali tersenyum, senyum tipis seraya meletakkan piring plastik di atas paha Freya yang berselimut tebal serta garpu yang ia pegang ia taruh di atas piring tersebut. Freya pun tersenyum lebar dan mengambil potongan buah lainnya yang tersedia di piring.


“Ambil aja buahnya, daripada ngiler hehehehe.”


“Enggak, kamu aja yang makan semuanya. Aku sudah makan tadi di rumah,” ucap santai Angga dengan mulai bersandar di sandaran kursi nyaman.


Freya menganggukkan kepalanya, akan tetapi saat akan melahap buah semangka ia teringat kalau kedua orangtuanya belum kunjung balik ke ruang kamar rawatnya. Angga sudah tahu apa yang Freya pikirkan ini, dari raut-raut khawatirnya Freya bisa Angga terawang bahwa Freya cemas apa yang dibicarakan oleh dokter wanita yang bernama Alina di ruangan dokter miliknya.


“Kamu nggak usah takut, semua bakal baik-baik aja kok. Sakit kamu kan gak begitu parah, palingan juga dokternya mau menyampaikan kabar baik sama mama ayahmu.”


Freya tak kaget lagi pada Angga yang tahu isi pikiran dan hatinya. “Lih, tapi kan Ngga sudah hampir sejam mama sama ayah belum balik-balik. Gimana kalau dokter bilang ternyata aku punya derita penyakit atau-”


“Sssstt! Hei, darimana kamu punya derita penyakit, Freyaaaa ... emangnya kamu habis minum racun, apa? Sudah deh kamu tenang aja, gak ada buruknya kok. Aku yakin dokter cuman nyaranin sesuatu kayak misalnya kamu harus rutin mengonsumsi obat atau apalah, gitu.”


“Jangan di pikir-pikir lagi, lebih baik sekarang kamu lanjutin makan buahnya. Oke?”


“Hm'em Ngga, oke.”


“Sip.”

__ADS_1


Freya menuruti perintah hangat si Angga untuk melanjutkan kegiatan makan-nya. Dalam posisi Angga bersandar, dirinya begitu lega dan senang dalam hati karena makan Freya terlihat lahap tidak seperti kemarin. Karena tak ada pembicaraan lagi, Angga memutuskan kembali mengangkat ponselnya yang tadi ia letakkan di atas kasur ranjang untuk sekedar membersihkan memori ponselnya agar tak terjadi gawat dan masalah pada HP Androidnya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Salah satu pemuda berjalan dengan linglung, karena ia merasa asing pada tempat yang ia pijak sekarang. Lelaki itu terus saja menyusuri lorong seperti dalam gua tanpa tahu arah ia mau kemana.


“Gue tersesat! Gue tersesat!” ucap panik Reyhan.


“Sialan! Tau begitu gue gak lewat jalan ini, yang berujung gue di tarik sama portal maksiat itu!”


Pada sebelum peristiwa tersesat, Reyhan berjalan-jalan di Ornaliea Asgremega dan memasuki tempat gua yang gelap. Gelap, tak ada sedikitpun cahaya yang masuk di gua. Disaat Reyhan sibuk melangkah ke dalam gua gelap tersebut, ia menemukan tiga jalan lorong yang tak ada bedanya. Menurut lelaki friendly itu tak ada salahnya untuk ia melewati jalan yang pertama yaitu di kiri tapak jalan. Akan tetapi saat baru saja melangkah masuk melewati lorong masuk pertama hanya sampai empat langkah kaki, secara tiba-tiba tak ada 1 detik Reyhan di tarik paksa dalam portal yang auranya mencekam.


Kini Reyhan menyesal tadi melewati jalan pembawa keburukan untuk dirinya. Reyhan rasa ia sukar menemukan jalan keluarnya, apalagi sedari tadi Reyhan hanya berputar-putar saja. Ya, ada yang membuat dirinya tersesat. Reyhan menendang batu kerikil yang ada di bawahnya untuk melampiaskan kekesalan dirinya.


“Akhirnya, setelah sekian lama kita bertemu kembali lagi, Reyhan.”


Reyhan seketika menghentikan langkahnya dan mematung langsung. Perlahan Reyhan memutar dirinya ke belakang. Apa yang ia lihat, membuat ia kaget tak menduga ia bertemu sosok itu lagi.


“Arseno Keindre?!”


“Huahahahaha! Aku suka sekali dengan kekagetanmu terhadapku setiap aku hadir di hadapanmu. Sudah lama, aku tak memberikan penyiksaan yang membuat aku bahagia dan juga puas.”


Reyhan menelan ludahnya susah payah, menatap Arseno tak berdaya. “Jangan ganggu gue!!”


Arseno menyeringai seram. “Jangan ganggu? Lho, itu kan kesalahanmu sendiri. Kenapa kamu lewat jebakan ku? Dasar, kamu ini mau mencari mati atau bagaimana? Kamu bosan sama hidupmu dan duniamu?”


Reyhan tak menjawab dan segera berlari mangkir dari Arseno. Reyhan berlari secepat kilat menjauh mungkin darinya. Reyhan hanya berlari tak tahu arah tujuan untuk keluar dari tempat aura kegelapan ini. Sialnya sudah, di depan Reyhan adalah jalan buntu.


“Sial! Jalan buntu!”


Dekat semakin dekat, tangan Arseno langsung mencekik leher Reyhan dengan sungguh kuat tak hanya mencekiknya saja tetapi juga mencengkram, membuat Reyhan amat kesakitan seluruh lehernya dan dadanya. Reyhan mengerang dan berusaha kedua tangannya melepaskan paksa tangan Arseno yang lebih kuat tenaganya daripada tenaga Reyhan.


“Uhuk!! Aaaaarrgghh! Ohokk!! L-lepasin gue dasar setan brengsek- HUK UHUK!!!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Raga Reyhan yang terbaring lemah Koma sekaligus juga tengah Kritis, tubuhnya spontan bergetar hebat dengan kedua mata membuka dan bola matanya menaik ke atas, mulutnya terbuka dalam pasangan alat oksigen beserta hidungnya.


“Astagfirullah Reyhan!! Hiks huhuhu Sayang kamu kenapa, Nak?! Papa! Cepetan panggil dokter!!!”


Dengan tangisan deras, Jihan menggenggam erat lengan kanan anaknya yang tiba-tiba menjadi begitu berkeringat dan Jihan juga berusaha menahan tubuh anaknya yang seperti layaknya kejang-kejang. Monitor pendeteksi jantung terus berbunyi dengan sangat nyaring dan menderu ke sepenjuru ruang ICU, tepatnya juga gelombang grafik HR medis bergerak dengan sangat lambat tak juga dengan angka HR medisnya yang angka 60 menjadi turun drastis menjadi 20.


Tak menunggu lama usai Farhan menekan tombol merah Emergency, pintu ICU dibuka oleh dokter Sam dengan kencang dan sang dokter berlari tergesa-gesa menghampiri Reyhan yang harus segera diselamatkan jiwanya. Bersamaan kedatangan dokter Sam, HR medis angka yang tadi 20 sekarang turun lagi jadi 10. Dokter Sam tanpa menyuruh wali pasien keluar, beliau segera mengambil alat tindakan urgent, sementara dari HR angka medis turun gawat sekali menjadi 5. Dengan cepat sang dokter menurunkan kedua alat pacu jantung itu ke dada Reyhan, namun sesuatu terjadi yang membuat hati dan napas lega.


Keadaan Reyhan yang nyaris mau dipenghujung tamat nyawa, tiba-tiba angka HR medis yang menurun itu kembali naik pada semula, suara detektor jantung juga menjadi suara tenang begitupun tubuh Reyhan yang kejang berhenti.


Mata Reyhan yang terbuka dan juga mulutnya kembali menutup. Dokter Sam menghembuskan napasnya pelan dan meletakkan kembali Defibrillator ke tempat asalnya, lantas itu kemudian dokter Sam mengambil senter kecil medis yang ia gembol di kantong jas putihnya, lalu sang dokter membuka mata si pasien cahaya senter tersebut dan beliau sorot ke mata Reyhan bergiliran. Usai selesai, sang dokter memasukkan senter medisnya ke dalam kantong jas dan menatap Farhan dan Jihan yang berwajah panik tak karuan.


“Ibu dan Bapak tidak perlu khawatir.” Dokter Sam tersenyum pada kedua orangtuanya Reyhan. “Keadaan yang tiba-tiba itu terbilang spontan yang terjadi pada Reyhan.”


“Dok, tapi tidak ada gejala buruk yang akan memengaruhi kondisi Koma dan juga Kritis anak kami, kan?!”


“Tidak ada, Bu. Namun, kondisi keadaan Reyhan yang masih begitu menghawatirkan kita harus berwaspada karena kejadian buruk yang spontan bisa terjadi Pak, Bu. Tapi Alhamdulillah pergerakan yang menimbulkan suatu darurat tadi, kembali seperti semula dengan sendirinya.”

__ADS_1


“Jadi maksud Dokter, kejadian secara spontan itu bisa terjadi lagi pada Reyhan?” tanya Farhan.


“Tergantung kondisi Reyhan seperti apa, Pak. Tapi semoga keadaan darurat tadi tidak terjadi lagi dan tak menambah parah dibanding yang tadi, kami akan selalu memantau perkembangan kondisi Reyhan sampai benar-benar keadaan pasien stabil. Saya nanti akan datang lagi ke sini untuk melakukan pemeriksaan kepada Reyhan, kalau begitu saya dan suster pamit ya, Bapak dan Ibu.”


“Baik Dok,” jawab Farhan dan Jihan bersamaan dengan sedikit membungkukkan badannya.


Dokter Sam tersenyum dan melenggang pergi bersama para perawat pria yang mengikuti di belakang beliau. Disaat pintu telah di tutup oleh salah satu perawat dari luar, Jihan serta suaminya menghampiri anaknya yang kembali terbaring lemah. Melihat wajah amat pucat-nya, bibir pucat keringnya, dan hela napas dada yang begitu lambat membuat Jihan semakin menangis tersedu-sedu dan langsung memeluk tubuh lemah anaknya. Farhan pula ikut menangis dengan diam seraya mengusap-usap sayang istrinya untuk meredakan tangisan derasnya terhadap kondisi buruk Reyhan.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Di alam bawah sadar, Reyhan terduduk lemas dengan leher ia pegang. Ia melegakan tenggorokannya yang terasa amat sakit akibat cekikan kuat sosok itu, tetapi sekarang Arseno menghilang entah pergi kemana, yang jelas Reyhan begitu tersiksa untuk kesekian kalinya.


Reyhan menjatuhkan dirinya di tanah dengan wajah sangat tak berdaya, pandangan matanya melihat ke atas dinding lapisan semen yang telah kering. Pemuda itu menarik napasnya dengan panjang, lalu membuangnya lelah. Ternyata ia mendapatkan ketentraman hanyalah sementara pada akhirnya dan ujungnya Reyhan kembali mendapatkan kegelisahan.


“Gak ada gunanya gue cari jalan keluar, gue mungkin nggak bakalan bisa kembali lagi.”


Di sisi lain, Angga sontak duduk tegak disaat ia sedang sibuk menghapus foto-foto yang jarang digunakan. Dua mata sipit Angga mengartikan ada sesuatu yang ada di benak pikirannya. Freya yang sedang menonton film Kingdom di televisi, menoleh cepat ke Angga yang berwajah setengah kaget.


“Kamu kenapa Ngga? Kok wajahmu kayak terkejut gitu? Hehehe aku tau nih, pasti kamu habis lihat film horor-horor gitu kan, di YouTube.” Freya menuding kecil dengan tangan yang sedikit membentang ke Angga.


Angga tersenyum miring dengan sedikit menyeringai. “Selamat, tebakanmu meleset.”


“Yaaahh, terus kenapa dong kamu kaget gitu? Kamu kan gak mimpi, orang kamu nggak tidur tapi malah main HP. Apa tuh kalau bukan karna habis lihat film horor atau gambar-gambaran serem di ponselmu?”


Angga berpura-pura bodoh. “Hah? Aku kaget? Enggak kok, mana ada aku kaget. Itu tadi aku langsung tegak reflek karena punggungku kesemutan jadi bukan kaget.”


“Masa? Bilang aja kali kamu kaget, aku gak bakal ketawain kamu kayak kemarin, kok.”


“Enggak, lagian aku dari tadi nggak nonton film horor lho.”


“Terus?” tanya Freya dengan sedikit memonyongkan bibirnya.


“Bersihin foto yang gak kepake.”


“Hmmm, yaudah.” Freya mengambil remote TV dan menekan tombol Off/On untuk mematikan televisi yang terpajang di atas tembok kanan jarak 3 sentimeter dari Freya dan juga Angga.


“Lho, kok dimatiin? Itu kan film favoritmu.” Pertanyaan Angga dijawab oleh Freya yang menguap dengan tangan menutupi mulut dan setelah itu gadis sahabat kecilnya Angga membaringkan tubuhnya bersama mata yang sayup-sayup ingin menutup.


“Ngantuk, mataku udah berat banget kalau dibuat melek. Aku tinggal tidur, gakpapa kan Ngga?”


“Nggak masalah, tidur aja. Aku disini sampe mama ayah kamu balik ke kamar rawat.”


“Oke, siap. Hoaaaamm ...” Usai menutup mulutnya dan melepaskannya, Freya mulai menghadapkan kepalanya ke kiri dan memejamkan mata untuk tidur. Angin berhembus kencang memasuki ruang rawat melalui jendela yang terbuka lebar bersama gorden, membuat Angga inisiatif menaikkan selimutnya Freya yang menutupi kedua kakinya sampai pinggang ke dada sahabat kecil polosnya yang ia tarik dengan perlahan. Ya, agar tubuhnya hangat dan tak kedinginan.


Angga memundurkan kursi yang ia duduki dan segera beranjak bangkit dari kursinya lalu melangkah menuju arah jendela dekat ranjang pasien. Pemuda jiwa tangguh itu mengayunkan kaca jendela Casement untuk menutupnya supaya angin kencang itu tak berterus-terusan masuk ke dalam sepenjuru ruangan rawat no 112 milik sahabat kecilnya.


Angga menatap tiupan angin yang berhasil menggoyangkan dedaunan pepohonan dari kaca jendela hadapannya di tengah ia berdiri. Dalam diam seperti patung, pemuda itu sebenarnya terkejut spontan karena ada firasat yang sangat kuat.


“Kenapa sampai sekarang feeling gue gak enak? Apalagi firasat gue mengarah ke Reyhan. Apa ada terjadi sesuatu yang bahaya sama dia? Gue rasa meskipun Reyhan Koma, Arseno tetep mengincar Reyhan di alam bawah sadarnya, dalam posisi Reyhan bukan raga tapi Rohnya. Bener-bener keterlaluan!”


“Gimana caranya gue atasi ulah Arwah aura kegelapan itu?! Gak mungkin juga demi keselamatan nyawa Reyhan gue harus balik Koma dulu, ide buruk!”


Angga menggelengkan kepalanya untuk membuang ide yang memungkinkan besar bisa membahayakan nyawanya ia sendiri. Tak peduli sakit yang ia alami kembali kambuh karena banyak pikiran, yang terpenting Angga secepatnya berusaha mencari cara jitu untuk menyelamatkan jiwa sahabat lelaki SMP-nya tersebut.

__ADS_1


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2