
Reyhan menegakkan badannya lalu merapikan kain baju hijau panjangnya dengan mata tetap menatap Arseno yang masih saja tersenyum padanya. Napas yang tercekat berangsur biasa.
“Bukannya lo sudah tenang di alam sana? Tapi kenapa lo bisa kembali ke dunia?!” tanya Reyhan.
Arseno sedikit memiringkan kepalanya tanpa memudarkan senyumannya. “Aku tidak boleh kembali ke dunia?”
“Em! Enggak, bukan gitu maksud gue! Gak ada yang melarang lo turun ke dunia, kok. Tapi heran saja, dendam lo dulu sudah tertuntaskan karena kematian dua psikopat yang menamatkan nyawa lo, apa jangan-jangan alasan lo meluncur kembali ke dunia karena ada sesuatu yang membuat lo harus ke sini?”
Arseno mengembalikan posisi kepalanya menjadi lurus lalu mengangguk bersama wajah sendu. “Iya. Kamu benar, tahu?”
Reyhan menggelengkan kepalanya. “Emangnya apa?”
Arseno menghela napasnya panjang seraya melangkahkan kakinya yang bersepatu hitam ke arah manusia nang memiliki dua warna aura antara kuning dan merah tersebut. Meskipun raut mukanya gundah, tetapi senyumannya masih tertancap.
Reyhan yang didekati langsung ambil selangkah untuk mundur menghindari arwah itu buat antisipasi bila dirinya disakiti lagi olehnya macam dahulu. Bola matanya juga tak berpaling dari tatapan mata aura non gelapnya Arseno.
“Jangan takut. Aku tidak menyakitimu, percayalah. Lagipula, kamu bisa membaca dan menerawang aura seseorang apalagi hantu, kan? Jadi untuk apa kamu ambil antisipasi seperti itu?”
Arseno menghentikan langkahnya yang sekarang jaraknya dari Reyhan hanya sebatas satu kursi single. “Alasan aku datang kembali di dunia, diriku ingin menjagamu dari marabahaya.”
Reyhan menaikkan kedua alis tebalnya setelah mendengar pernyataannya Arseno. “Lo ingin menjaga gue dari marabahaya? Gak salah? Buat apaan? Gue cowok, kali. Bisa jaga diri!”
Arseno membungkamkan mulutnya mendengar sentakan suara dari Reyhan. Hanya sesaat saja lalu mulai menjawabnya, “Kamu yakin bisa jaga diri? Di situasi kondisi yang sangat tidak kondusif ini, kamu mampu menyesuaikan hati dan harimu?”
“Maksud lo apa? Gue gak ngerti.”
Arseno mendengus dengan melenyapkan senyuman. “Ternyata kamu memang kurang tahu alasanku datang kemari. Suatu ketika akan ada bencana yang mampu mencelakaimu, entah aku tidak tahu tetapi kejadian itu akan datang.”
“Aku bisa merasakan hatimu sangat hancur karena kondisi Angga yang tidak memungkinkan untuk sadar. Bahkan rasa emosi marah dan takutmu, akan membawamu ke suatu masalah,” ungkap Arseno.
Reyhan tersenyum miris. “Berhenti berkata yang gak tentu. Skenario lo terdengar mengada-ada!”
Arseno menghempaskan napasnya pasrah dengan memejamkan matanya seraya membuang mukanya dari Reyhan. ‘Rupanya dia tidak percaya apa yang sudah aku bicarakan.’
Reyhan mengerutkan keningnya yang tak tertutupi oleh rambut cokelatnya sambil menyusutkan mata sipitnya usai mendengar suara hatinya sang arwah. Lagipula ia merasa bingung apa yang Arseno maksud, mungkin lelaki hantu itu ingin memberi pertanda malapetaka yang hampir menimpanya. Tapi insiden apa?
“Aku benar-benar tidak menyangka. Seorang manusia pemilik kekuatan Indigo dan hebat membuka kunci untuk mengantarkan kepergian arwah ke tempat abadinya, kini terbaring lemah di ruangan ini.” Reyhan menoleh lalu menatap Arseno yang berujar sambil menatap lara Angga.
“Hanya karena tragedi aniaya yang membuat Angga terlibat, dia menjadi terluka parah hingga Koma. Aku sangat heran pada orang-orang yang membenci sahabatmu, mengapa selalu dirundung? Padahal Angga adalah seorang manusia yang hatinya semacam malaikat.”
“Tetapi di sini aku terpukau dengan jiwanya yang bersikukuh tegar, kuat untuk menjalani hidup yang dipenuhi banyaknya penderitaan dan kesengsaraan. Mungkin jika aku masih beraga seperti kalian, aku akan dikalahkan oleh jati pendiriannya Angga,” tambah Arseno.
“Itu sudah dari berdasarkan karakteristiknya Angga, dia memang orang yang beda dari lainnya. Mungkin orang lain yang menyayanginya selain kami, akan ada cenderung merasa iri karena kehebatannya,” respon Reyhan sambil melangkah ke sisi kanan ranjang pasien milik sahabat Komanya.
Arseno memperhatikan langkah Reyhan dan gerakan tangannya yang menarik kursi ke belakang untuk hendak mendudukinya di sebelah Angga yang terbaring tak berdaya. Arwah pemuda itu hanya bisa menatap raut wajahnya Reyhan yang amat suram termasuk hatinya sekaligus.
Perlahan Reyhan mendudukkan pantatnya di atas kursi lalu menatap muka Angga yang begitu sangat pucat seperti mayat. “Ngga? Kita sudah bersahabat dari semenjak lima tahun yang lalu. Kita juga selalu bersama, tetapi apakah kebersamaan kita akan tandas setelah lo ... pergi?”
Perkataan lemas Reyhan membuat hati Arseno tergores karena arwah tersebut mendengar segalanya, terlebih saat manusia itu meraih tangan kanan lemah sahabat Indigo-nya untuk ia genggam erat. Dirinya setiap berada di ruang ICU selalu menyalurkan dukungannya buat Angga agar segera bangun. Tetapi, karena telah banyak mendengar kabar buruk dari dokter hingga terakhir kalinya membuat harapan Reyhan hancur seketika. Namun meskipun demikian, Reyhan akan pantang menyerah melaksanakan dukungan terbaiknya untuk Angga.
“Sen? Lo, kan arwah. Arwah yang bisa segalanya, apa lo bisa membantu memulihkan sakit Angga?” tanya Reyhan sambil menatap Arseno lesu.
“Jika aku mampu, aku pasti akan segera menafikan sakit parah Komanya Angga. Tetapi karena aku hanya sebatas arwah yang memiliki kekuatan standar, aku tidak sanggup melakukannya. Kekuatanku juga tidak bisa mencakupi kekuatan besarnya Sang Ilahi, Reyhan.”
Reyhan menghela napasnya dengan berat lalu menganggukkan kepalanya sebelum menunduk. Sedikit demi sedikit rintik air mata menetes. Sekuat batin, ia harus mampu menerima kenyataan mengenaskan ini terhadap kondisi sahabatnya.
“Hm, Reyhan? Aku ingin memberitahu informasi sesuatu padamu. Sebenarnya berat juga jika aku berikan ke kamu, tetapi sepertinya aku harus ...”
Reyhan mendongakkan kepalanya lemas. “Beri saja ke gue, gue akan siap untuk mendengar. Jadi, informasi apa yang ingin lo kasih?”
“Ini aku tahu dari pikirannya dokter yang memantau kondisi Angga setiap hari.”
Reyhan menegakkan badannya dan mulai menatap Arseno secara intens. “Apa yang lo tahu dari pikirannya beliau? Pasti buruk, ya?”
“Itu ... em, iya. Sebelum aku menjabarkan semua ke dirimu, aku sudah banyak memahami beberapa maksud yang pernah dokter sampaikan kepada kalian termasuk orangtuanya Angga, dari hatinya sudah mampu aku resapi kalau dokter merasa pasrah dengan kondisi Komanya Angga yang terbilang sangat parah, tetapi di situ ada sisi hati lain jika dokter akan terus tetap berusaha semaksimal mungkin yang terbaik untuk sahabatmu.”
“Lalu ...?”
“To the point saja. Yang aku tahu dari pikiran beliau, sebagai dokter pasti memiliki perasa yang kuat mengenai pasien yang ditanganinya. Jadi yang aku maksud barusan, kesadarannya Angga begitu tipis dengan ... hidupnya sekalipun.”
Tubuh Reyhan tatkala menegang. “Itu yang ada di pikiran dokter Ello yang selama ini tersembunyi?!”
Arseno mengangguk sedih. “Iya. Aku tentu paham mengapa beliau menyembunyikan semuanya itu, walau dua hari lalu kemarin sempat membocorkan takdirnya Angga dari Komanya. Dokter tidak ingin lagi membuat hati kalian hancur berkeping-keping meratapi keadaan Angga yang amat fatal.”
Reyhan yang tak sempat mengelap air matanya nang berderai di pipinya, linangan itupun semakin menambah mengalir dari mata. “Kalau hidup Angga mengalami ketipisan seperti yang ada di dalam pikirannya dokter, i-itu artinya sebuah pertanda bahwa sahabat gue akan mati?!”
Arseno menundukkan kepalanya lambat. “Aku tidak tahu jika itu ...”
“Gak, gak boleh! Hal seperti itu jangan terjadi, gue mohon!” raung Reyhan seraya memeluk tubuh Angga yang terbaring Koma dengan satu tangannya.
Arseno mengangkat wajah gundahnya. “Aku akan tetap berada di dunia selama Angga masih Koma, namun jika Angga telah syukur kembali bangun, aku akan pamit pergi untuk masuk ke tempat abadiku.”
Reyhan yang membenamkan wajahnya di badan sahabatnya, mendongakkan kepalanya nang mana mukanya sembab karena terus mengeluarkan air mata hingga membanjir pipinya. Jujur saja, ia tersentak kaget pada ucapannya Arseno padanya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Esok harinya, Freya memegang tengkuknya dimana ia merasa kurang enak badan. Namun dirinya tetap memaksanya untuk pergi sekolah, lagipula selama ia masih bisa bergerak tak ada halangan baginya buat mengikuti semua materi pelajaran di SMA elite-nya.
Rani yang telah menyiapkan hidangan sarapan di atas meja makan, menengok putrinya nang berjalan lemas menuruni undakan tangga. Sang ibu yang melihat Freya nampak kurang sehat, segera menaiki beberapa undakan untuk menghampirinya.
“Freya? Mukamu pucat sekali. Mama antar ke kamar, ya? Hari ini jangan masuk sekolah dulu, biar nanti Mama chat bu Aera guru wali kelasmu. Ayo, Sayang ...” imbuh Rani.
Freya menahan tangan ibunya yang ingin menarik lembut ke kamarnya. “Enggak usah, Ma. Freya masih kuat untuk ke sekolah, kok. Jangan WA bu Aera, Freya masih baik-baik saja.”
“Tapi, Nak. Wajahmu pucat banget, lho. Nih, tubuhmu juga hangat, Mama tidak bisa jika kamu pergi ke sekolah dalam keadaan yang begini.”
Freya menggelengkan kepalanya dengan senyum. “Mama jangan khawatir sama Freya, lagian Freya masih bisa gerak, kok. Jadi untuk pergi ke sekolah bukan bencana nanti buat Freya, Ma.”
Rani menangkup wajah cantik anak semata wayangnya yang pucat serta terasa hangat itu. “Kamu yakin? Mama gak mau kamu kenapa-napa di sekolah, Sayang. Terlebih kondisimu yang kayak lagi masuk angin seperti ini.”
Freya lagi-lagi menggeleng. “Freya tetap kuat, kok. Pelajarannya nanti pasti juga gak menguras otak amat. Mama di rumah tenang saja, ya?”
Rani menghela napasnya dengan pengucapan dari Freya yang bersikukuh berangkat untuk mengikuti belajar di sekolahnya. Sang ibu kemudian mengangguk walau hatinya ragu seraya mengelus ujung kepala putrinya yang memang terasa hangat. Pada akhirnya mau tak mau, Rani mengizinkan Freya untuk pergi ke SMA Galaxy Admara di jam pukul 06.20 pagi.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
SMA Galaxy Admara - Kelas XII IPA 4
Para murid yang ada di dalam kelas, begitu fokus memperhatikan gerakan tangan sang guru wanita Matematika yang sedang menuliskan rumus-rumus materi di papan tulis bersama spidol dengan merk Snowman.
“Ayo, siapa yang bisa menjawab satu soal ini di papan tulis? Silahkan maju ke depan yang mampu.”
Mulut Lala menganga lebar karena tak percaya bahwa sang gurunya tiba-tiba menyuruh salah satu anak siswa-siswi untuk menjawab soal di depan. “Bu Resa? Maaf nih, Ibu guru tercinta. Bukannya tadi Ibu memberi beberapa rumus materi ini, ya? Kok tiba-tiba di antara salah satu kami suruh menjawab soal pertanyaan di papan tulis, sih?”
Guru wanita mata pelajaran Matematika yang bernama Resa itu, tertawa pelan. “Tadi, kan kalian bilangnya sudah paham materi yang ada di bab dua ini. Jadi, tidak ada salahnya dong jika saya menyuruh salah satu kalian maju ke depan untuk jawab. Saya juga ingin menguji kepintaran murid-murid yang ada di dalam kelas dua belas IPA empat ini, hehehe.”
‘Anjir, sudah! Kena jebakan maut ini, mah artinya. Kebiasaan, bu Resa! Suka banget bikin sport jantung anak muridnya,’ tutur Jevran dalam batinnya.
“Saya bisa menjawab soalnya, Bu!” celetuk Freya sembari mengangkat tangan kanannya ke atas.
Semuanya menoleh ke arah gadis Nirmala itu yang telah angkat tangan dengan semangatnya. Ketua kelas pun yang kesulitan untuk menjawab satu soal Matematika di depan, hanya bisa melongo melihat Freya yang merupakan anggota kelasnya.
“Otaknya Freya emang keturunan dari otaknya Angga, ye? Kita saja dari kalangan siswa sama siswi di sini kebingungan buat jawab soal esai yang bikin otak konslet,” ungkap Aji.
“Mana ada yang modelnya kayak begituan, Bego!” geram Raka ingin menoyor kepalanya Aji.
Bu Resa yang melihat salah satu murid siswinya tunjuk tangan, tersenyum lebar. “Bagus! Ayo sini, Nak silahkan jawab soalnya.”
“Baik, Bu ...” Setelah menjawab beliau dan berdiri maju selangkah, Freya menundukkan kepalanya saat ia merasakan pening secara mendadak.
‘Duh, ya ampun. Kenapa kepalaku jadi pusing banget kayak gini? Mana perutku rasanya mual, lagi. Tetep maju ke depan aja, deh. Udah terlanjur juga lagian, aduh ...’
“Freya? Kamu baik-baik saja? Kenapa menunduk dan pegang kepala begitu? Sakit, Nak?” tanya bu Resa dengan raut cemas.
Freya mencoba berusaha mengangkat kepalanya dan menatap gurunya yang mana suaranya telah berubah menjadi sayup-sayup ditambah gadis cantik itu tidak bisa melihat jelas sosok bu Resa yang berdiri di samping meja guru.
__ADS_1
“Saya, baik-baik saja kok, Bu ...”
BRUGH !
Setelah raganya seolah ingin melayang ke udara, kini tubuhnya tumbang di lantai membuat seluruh penghuni kelas XII IPA 4 terkejut dan berlari ke arah Freya untuk mendatanginya. Reyhan yang lebih dulu cepat didekatnya, langsung meraih tubuhnya yang tergolek lemah.
“Frey? Frey? Kamu denger aku?! Freya, bangun!” gusar Reyhan saat telah mengetahui bahwa sahabat perempuannya tidak sadarkan diri.
“Duh! Mana badannya panas gini, lagi! Freya?! Ck!” Reyhan berusaha membangunkan Freya dari pingsannya dengan cara menepuk pipinya dan menggoyang tubuh mungilnya.
“Rey! Terus gimana, dong! Cari inisiatif, kek!” pekik Jova seraya mencubit-cubit bahu kokoh Reyhan saking dilanda kepanikan hebat.
“Heh, sakit! Sabaran dikit dulu, dong! Jangan bikin hatiku jadi makin keruh!” komplain Reyhan.
Lelaki Friendly itu yang masih menopang tubuh Freya di atas pangkuannya, menoleh cepat ke arah bu Resa yang juga bimbang. “Bu Resa! Izinkan saya untuk membawa Freya ke ruang UKS!”
Tanpa menunggu bu Resa yang mengiyakan atau menggerakkan kepala untuk memberi anggukan, Reyhan langsung bergegas menggendong Freya dan lekas melarikannya ke ruang UKS.
Jova bangkit lalu menatap bu Resa. “Bu! Saya juga ikut ke ruang UKS bersama sahabat saya, ya?!”
“Iya, silahkan!”
“Makasih banyak, Bu Resa! Saya pamit keluar dulu kalau begitu!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Setelah tiba di ruang UKS yang patokannya di lantai 3, Reyhan perlahan membaringkan tubuh Freya di atas ranjang kasur. Setelah membaringkannya dengan posisi terlentang, Jova melepaskan kedua sepatu pantofel flat hitamnya Freya bersama raut gusar nan risau.
“Kenapa kamu harus pingsan?” tanya Reyhan menatap wajah pucat Freya dengan nanar.
“Emangnya dia pingsan gak boleh?!” sewot Jova.
“Y-ya, boleh! Tapi, kan tadi aku kaget Freya tiba-tiba langsung ambruk di lantai kelas!”
Jova hanya melenguh saja, sedangkan Reyhan mengecek suhu tubuh Freya dengan menempelkan telapak tangannya di kening, pipi, dan terakhir lehernya. “Panas, ya? Dari awal masuk kelas, badan dia udah gak beres. Kenapa maksa buat sekolah?”
“Emangnya gak kek kamu? Udah tahu lagi Demam, kamu malah bela-belain masuk sekolah biar gak ketinggalan pelajaran. Mana sampe semaput berkali-kali, pula. Puyeng, deh!”
Reyhan mendesis dengan menatap kesal Jova. “Sialan! Mending kamu bawa kain handuk, air, sama baskom, deh ke sini. Tuh, semua alatnya ada di dapur, ambil sono!”
“Emangnya aku babumu, apa?! Asal nyuruh-nyuruh gitu kayak juragan! Enggak nunggu petugas UKS atau anak PMR dulu, ke sini?”
“Kelamaan! Selagi kita bisa, ngapain minta bantuan? Sudah sana! Daripada banyak ngoceh, makin Stress otakku!” omel Reyhan mengusir Jova.
“Yeeee! Situ, kan dari lahir otaknya emang suka Stress! Ngeselin banget, sih pake acara nyuruh aku segala buat ambilin-”
“Emangnya kamu mau Freya tambah kenapa-napa? Dia pacarnya Angga, lho. Jadi kita sebagai sahabatnya harus bisa merawat dan menjaganya!” ujar Reyhan.
“Kok, sekarang banyak ceramah kayak Ulama? Iya-iya! Bakal aku bawain ke sini, bentar!”
‘Huh, dasar cowok semprul! Mana sifatnya suka bener nyebelin, lagi! Mimpi apa gue semalam sampe punya sahabat cowok burik kayak Kunyuk Sutres?’
“Jova! Aku denger, ya! Awas aja ngomong gitu lagi, gak bakal aku contekin PR lagi sampe akhir kelulusan!” ancam Reyhan.
“Iya-iya, maap!”
Jova kini berlalu menuju ke dalam ruang dapur kecil untuk mengambilkan alat pengompres untuk Freya. Reyhan yang memperhatikan punggung gadis Tomboy sang sahabatnya itu, menggelengkan kepalanya lalu kedua tangannya saling melebarkan selimut tipis buat menutupi tubuh Freya supaya tak kedinginan bila telah siuman.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Dengan berat, Freya membuka mata manik indahnya yang telah 6 menit tertutup disebabkan pingsan. Awal dari tibanya kesadaran, gadis cantik itu melenguh karena merasa kepalanya lumayan sakit. Hal tersebut membuat Jova dan Reyhan yang setia berada di sisinya, menatap haru Freya.
“Akhirnya sadar juga, kamu!” bahagia Jova dengan memekik membuat Reyhan stand by menutup kedua telinganya sebelum gendang kupingnya pecah.
“Itu mulut apa suara klakson mobil truk? Kenceng amat teriaknya!” omel Reyhan.
“Yee, biarin!” semprot Jova.
Freya menyipitkan matanya lamban untuk memfokuskan pandangannya yang masih tetap buram. Tetapi selang detik kemudian, gadis itu mampu melihat jelas bahwa ada seorang dua sahabatnya yang berada di antara samping kanan dan kirinya.
“Kain kompres?” Freya yang hendak bangkit dari baring, langsung tangkas di tahan oleh Jova.
“Hei, jangan bangun dulu. Tiduran lagi aja, kamu masih belum pulih apalagi habis bangun dari pingsan,” tutur Jova seraya membaringkan tubuh lemah sahabat lugunya.
“Pingsan? Aku habis pingsan?” tanya Freya untuk memastikan dari ucapannya sang sahabat.
Reyhan menganggukkan kepala dengan senyum lalu duduk di pinggir kasur ranjang. “Iya, kamu tadi pingsan di kelas. Mangkanya itu aku langsung bawa kamu ke ruang UKS, sekarang gimana? Kamu udah mulai enakan belum?”
“Pusing,” laun Freya.
“Pusing, ya? Sebentar, aku mau ke dapur untuk bikinin teh anget buat kamu. Jangan banyak gerak dulu, oke?”
Freya tersenyum mengangguk kemudian Reyhan lekas beranjak dari duduknya untuk melangkah menuju dapur kecil. Sementara Jova menggeser tempatnya agar lebih dekat di sahabat Nirmala-nya yang posisinya berbaring lemas.
“Tadi yang kamu rasain, kepalanya pusing, ya? Yaudah sini, aku pijitin kepalamu biar rasa peningnya cepet ilang.” Jova menggerakkan kedua tangannya ke atas kepala Freya dan lekas memijatnya dengan penuh rasa tulus.
Freya memejamkan matanya saat merasakan kepalanya nyaman waktu dipijat oleh tangan Jova. “Tadi aku udah nelpon mamamu soal kondisimu, paling habis ini ayahmu dateng ke sini.”
Freya membuka matanya spontan sampai reflek menoleh kepalanya ke arah Jova. “Kenapa ayahku datang ke sini? Mau apa?”
“Ya mau jemput kamu pulang, lah. Masa mau nonton kamu yang pentas seni di aula?” respon Jova dengan terkekeh.
“Lho, kenapa?!” kejut Freya.
Jova mendengus dengan tanpa senyum sirna. “Yaelah, pake ditanya lagi. Kamu, kan Demam. Jadi pasti ayahmu datang ke sini buat jemput anak putri kesayangannya, dong.”
Freya terdiam tanpa mau menjawab Jova. Ia hanya bisa pasrah jika nanti ia dispen untuk pulang ke rumah dikarenakan kondisi badannya yang meriang. Sampai akhirnya, datanglah Reyhan dengan membawa gelas berisi teh hangat yang masih terlihat mengepul di atasnya.
“Yuk, di minum dulu teh angetnya. Tapi hati-hati pegang gelasnya, masih panas soalnya. Kayaknya aku ngasih takaran airnya kebanyakan, deh.”
“Kebiasaan seorang Kunyuk Sutres bin Reyhan Lintang Ellvano. Kerjanya suka gak gelay kalau praktek pake tangan,” ledek Jova.
“Apaan, sih?! Dari tadi maunya ngajak musuhan mulu! Gak capek, apa itu mulut satu? Ku sumpahin bibirmu jadi mie samyang, kapok!” sungut Reyhan.
“Mie samyang, kan pedes!” protes Jova.
“Iya, Pinter! Sesuai congormu yang pedes kayak ulekan seratus cabe dikasih lima puluh biji bawang merah! Puas, hah?!”
“Sialan! Dasar cowok Cepirit!”
Mata Reyhan melotot drastis. “Kamu bilang aku cowok cepirit?! Heh, tolong situ sadar diri! Muka pas-pasan kayak kotak dus usang yang ditelantarin dipinggir pembuangan sampah aja bangganya setengah koit!”
“Argh! What?! You dare say that to me?!” Karena jengkel, Jova langsung mendorong muka Reyhan kencang sekuat tenaga sang mantan Karatenya hingga tubuh pemuda itu terhuyung ke belakang dan berakhir pantatnya mencium lantai dengan mesra.
BUG !
“Aduh! Anjir kamu, ya! Entar kalau mataku buta gimana?! Mau tanggung ganti rugi?!” umpat Reyhan seraya mengelus pantat miliknya yang terasa ngilu amat.
“Ih! Mau, dong! Dengan senang hati aku mau tanggung ganti rugi matamu yang buta. Tenang aja, Boy .. nanti aku donor pake matanya cacing,” bungah sahabat perempuan Tomboy-nya.
“Emangnya cacing punya mata? Aneh!”
Freya yang menempelkan mulutnya di bibir gelas untuk meneguk teh hangat hasil buatannya Reyhan, hanya senyap melihat perang dunianya antara kedua sahabatnya yang berjulukan spesial Tom&Jerry. Sampai endingnya, terbukalah pintu ruang UKS dan menampilkan sosok pak Harden serta Lucas yang menjinjing tas ransel ciamiknya Freya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Sebuah hamparan cahaya putih yang berhasil menyilaukan mata seseorang terlihat seperti ruang tanpa adanya batas sama sekalipun. Namun di sana terdapat sosok lelaki bertubuh postur tinggi dan mengenakan pakaian bersih serba putih sedang menghadap belakang. Tetapi usai sesudah itu, pemuda tersebut menolehkan kepalanya hingga bisa dibuktikan bahwa itu adalah Angga yang tengah menangis bersama wajah tampan datarnya.
Namun tak beberapa lama, raut dingin itu tergantikan menjadi hangat yang mana Angga mengukirkan senyumannya di bibir tipisnya walau air matanya belum terhapuskan. Entah tidak tahu ia sedang tersenyum pada siapa, yang jelas mukanya nampak damai termasuk hatinya sekalipun.
Bahkan sosok pemuda tampan Indigo itu terlihat beraura abadi disebabkan sekujur tepi tubuhnya terdapat cahaya yang bersinar terang. Kini sekarang, Angga menghadapkan kepalanya ke depan dan melangkah tenang menyusuri hamparan ruang tanpa jangka garis.
Hingga pintu putih dengan berjenis dua daun, terbuka sendirinya waktu Angga mendekatinya bersama senyuman bahagianya. Dalam ambang pintu, pula terdapat suatu cahaya amat terang yang akan membawa Angga entah kemana. Sampai pada akhirnya pintu tersebut tertutup rapat usai lelaki tampan itu pergi memasukinya.
Freya langsung terbangun dari mimpinya hingga spontan duduk tegak di atas kursi mobilnya. Keringat mengucur dari kening hingga merembes ke pelipis matanya, napasnya juga terengah-engah akibat alam mimpi yang telah dirinya jumpa.
__ADS_1
“Kamu kenapa, Sayang? Bangun-bangun tidur, kok langsung seperti Syok begitu?” tanya Lucas yang sedang mengendarai mobil.
Freya menoleh ke arah ayahnya. “E-enggak apa-apa kok, Yah. Freya gak kenapa-napa, beneran!”
Lucas tersenyum lara. “Pasti habis keluar dari mimpi buruk, ya?”
“M-mungkin ...”
Freya mengarahkan posisi kepalanya ke depan kaca utama mobil yang di luar sana terlihat banyak bangunan cakar langit serta pemandangan ramai lainnya yang para kendaraan berlalu lalang. Tapi detik kemudian, gadis manis itu menunduk bersama wajah raut bingungnya.
‘Sudah dua kali aku mimpiin Angga. Tapi, kenapa mimpi aku tadi kelihatan aneh dan gak masuk akal? Hamparan luas bercahaya, dia yang menangis dengan memakai pakaian serba putih, terakhir ada sebuah pintu yang Angga masuki. Maksud dari semua itu, apa?’
Sekarang mimpi teraktual itu menjadi suatu pertanyaan dibenak kepala dan hatinya Freya. Ruang tanpa ujung bersama sosok pemuda tampan yang tak lain adalah kekasihnya, membuat gadis cantik tersebut menjadi gelisah nan merana. Dikarenakan mimpinya itu seperti berada....
Di alam Akhirat Surga.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Di hari berikutnya di jam sore dengan disuguhkan langit bersama warna abu-abu pekat yang sebentar lagi air hujan akan turun mengguyur seluruh kota Jakarta.
Di dalam kamar yang tercipta sunyi, Freya hanya bisa bersandar di kepala ranjang dengan meratapi nasibnya karena tak mampu mengikuti segala pembelajaran di sekolahnya cuma disebabkan gangguan dari Demamnya. Dan sudah banyak gadis itu beristirahat, tetapi suhu tubuhnya belum menurun.
“Pasti bentar lagi mereka pulang,” lesu Freya seraya menatap jam dinding lingkaran yang ada di atas tembok kamarnya nang di cat warna jambu muda.
Kemudian gadis cantik yang mengenakan baju piyama punch pink, menolehkan kepalanya ke meja belajarnya yang rada dipenuhi beberapa bingkai foto berukuran kecil. Dan matanya langsung terbentur pada salah satu bingkai foto dengan satu orang yang ada di dalam gambar tersebut. Ialah Angga.
Seorang lelaki yang posenya berada di atas balkon kamar milik dirinya sendiri dengan tangan kiri menyangga santai atas pagar pembatas balkon, jelas tentu berjaya menampakkan ketampanan auranya dan wajah cool-nya di foto. Melihat di bingkai itu saja pun, sudah bisa membuat Freya rindu berat pada kekasih hatinya yang sampai sekarang masih dalam kondisi Koma.
Lupakanlah aku, Freya. Karena ragaku sudah tidak bisa menemanimu lagi...
Freya yang terkejut setengah mati, spontan langsung memundurkan cepat pantatnya dengan meneguk ludah serta mata yang posisinya melotot sempurna. Detak jantungnya pula berpacu maksimal saat melihat bibir Angga bergerak dari dalam foto untuk mengeluarkan perkataan lirih padanya.
“Enggak-enggak! Ini pasti aku berhalusinasi lagi!” sentak Freya sambil mengucek-kucek kedua matanya secara gusar.
Tentu saja Freya menolak untuk mengharap jika yang ia lihat dan dengar itu adalah sebuah kenyataan. Tetapi beruntungnya, semuanya hanyalah halusinasi. Sebenarnya sudah beberapa kali ini Freya terus terkena halusinasi mendadak tentang Angga, bagaimana caranya untuk menghilangkan pikirannya mengenai kekasihnya? Ia saja selalu mendapatkan bayangan halusinasi tersebut yang seolah nyata.
Dengan tenaga lemah, Freya turun sejenak dari kasur untuk mengambil bingkai foto Angga lalu kembali naik kasur empuknya. Gadis cantik berwajah pucat itu mulai membaringkan tubuhnya tak lupa menarik selimut tebal hangatnya sembari menatap sendu foto kekasih tampan miliknya.
Freya mengelus lembut foto Angga yang dilapisi oleh kaca lalu mendekapnya sayang untuk ia ajak tidur bersama mendatangi mimpi barunya. Kini gadis itu telah terlelap dalam tidur sorenya tanpa mau mengurai pelukannya dari bingkai foto kecil tersebut.
10 detik sudah berlalu, Freya membuka matanya walau kemudian menyipitkannya saat pandangan ia dikelilingi oleh hamparan cahaya yang mampu menyilaukan retinanya.
“Aku dimana? Kok tempatnya putih semua gini?” tanya Freya bingung tetap memicing matanya karena tak sanggup menghadapi sinar terang itu.
Namun cahaya yang amat bersinar, menjadi lumayan padam saat ada seseorang nang berjalan menghampirinya dari jarak kejauhan. Freya fokus melihat sosok itu yang bayangannya seperti lelaki.
Hatinya seakan berbunga waktu melihat seorang lelaki yang tentu menjadi kekasihnya. Senyuman tampan itu mengembang di bibir dan merekah di wajah sempurnanya.
“Freya, kita bertemu lagi.”
“Angga?! Hiks!” Freya langsung berlari singset lalu memeluk erat tubuh Angga dengan tangisan derasnya karena tidak menduga bila dirinya akan melihat sosok kekasihnya yang terlihat bangkit dan bugar.
Pemuda itu yang dipeluk oleh gadisnya nang terlihat sangat begitu merindukannya, segera membalas pelukan eratnya. Freya setelah itu, mengurai pagutannya dan menangkup muka putih tampan Angga.
“I-ini beneran kamu, kan?! Bukan orang lain yang mirip seratus persen kayak kamu?!”
Lelaki Indigo yang mengenakan kemeja merah panjang dengan motif kotak bersama kao hitam oblong di dalamnya, bercelana jeans hitam, beserta terakhir memakai sepatu putih merk Adidas tersenyum hangat.
“Iya, ini aku. Anggara Vincent Kavindra, seorang mantan yang menurutmu terindah.”
DEG
“Hah? M-mantan?! Maksudmu apa, Ngga? Kita, kan masih menjalin hubungan sepasang kekasih. Mantan darimana, coba? Hahaha! Jangan bercanda, deh gak lucu.”
Angga mengangkat kedua tangannya untuk menggenggam sepasang pergelangan tangan Freya yang menganggap penuturan katanya ini adalah hanya candaan semata. Mata iris abu-abu autentik Angga menatap lekat mata eloknya Freya.
“Kita sudah mantan, bukan pacar lagi.”
Freya langsung menghempaskan kedua tangan dan mundur selangkah dari Angga karena merasa kesal. “Kamu apaan, sih? Kamu udah gak cinta lagi sama aku?! Bilang!”
Angga menggelengkan kepala. “Dengarkan aku dulu, aku masih sangat cinta denganmu. Aku mengatakan itu sebenarnya bersama berat hati ...”
“Lalu! Alasan kamu bilang begitu sama aku, apa?! Kenapa kamu bicara kalau kita berdua ini sudah mantan?! Bukannya kita masih berpacaran?!”
“Alasan aku bilang begitu, karena aku ingin pamit.”
“P-pamit apa?” Kini terlihat kegusaran raut di wajah cantiknya Freya.
Angga menghela napasnya berat lalu mulai memegang lembut kedua bahu mungil Freya. “Dunia kita sekarang sudah berbeda, maka dari itu aku harus pergi ... meninggalkanmu.”
“Maksudmu?! Aku gak paham!” rengek Freya dengan hati penuh rasa getir.
Angga mengulas senyumannya walau sukar karena ekspresi sumringahnya telah dihanyutkan oleh kepedihan kalbunya. “Aku sudah tidak bisa bersamamu lagi, untuk selamanya. Alam kita sudah berbanding jauh, Freya ... kamu di dunia, sedangkan aku di abadi. Jadi, maafkan aku jika harus tinggalkan kamu di dunia bersama lainnya.”
Freya tak bisa berkata apa-apa setelah Angga mengucapkan itu dengan nada lembutnya walau batinnya tersiksa karena harus mengatakan ini pada kekasihnya yang telah akan menjadi mantannya. Air mata Freya kembali turun membasahi kedua pipi mulusnya dan langsung diusap Angga.
Sesudahnya, Angga merangkum sayang wajah Freya dengan menatapnya untuk memberikan keteduhan auranya. “Berbahagialah tanpa aku di sisimu dan carilah penggantiku untuk menjadi jodohmu kelak. Ku mohon jangan tangisi kepergianku saat nanti ...”
Freya menggelengkan kepala menyangkal lalu segera kembali memeluk tubuh Angga dengan sangat erat bersama tangisan kencang walau jarak kakinya sebatas tiga lengan tangan dari kaki pujaan hatinya. “Enggak, Ngga! Tolong jangan pergi! Aku sayang banget sama kamu, huhuhuhuhu!!!”
Angga menarik tubuh Freya ke dada bidangnya buat memeluknya untuk terakhir kalinya sambil mengelus belakang kepala gadisnya lalu menutup matanya. “Maafkan aku, tetapi kita harus berpisah di sini ...”
Angga melepaskan dekapan eratnya Freya lalu balik menggenggam pergelangan tangannya. “Kamu makin terlihat Cantik, ya? Aku akan memantau kebahagiaanmu bersama yang baru di sana. Aku juga berharapnya kamu bisa memiliki bahagia walau sudah tidak ada lagi sosokku di dunia.”
Lelaki tampan itu beralih kembali dengan perasaan lembut, menangkup muka cantik jelitanya Freya. “Tolong sampaikan atas pamitku ke Reyhan dan Jova, ya? Aku gak bisa mengucapkan pamit sama mereka berdua selain kamu, karena waktuku sudah tidak lama lagi. Oh iya, sebelum aku pergi ... aku ingin memberikan suatu momen perpisahan sederhana untuk kamu.”
Freya hanya diam menatap nanar saat Angga mendekatkan jangkauan bibirnya di keningnya untuk mengecupnya dengan rasa kasih sayang tinggi. Setelah dirasanya telah berakhir walau menyedihkan, Angga mulai melangkah mundur meninggalkan Freya mantan kekasihnya untuk selamanya.
“Selamat tinggal, Sayangku.”
Dada gadis itu terasa amat sesak melihat pegangan telapak tangan Angga terlepas dari tangannya. “Jangan, Ngga! Tetaplah bersamaku, jangan tinggalkan aku!”
Angga hanya diam bungkam lalu memutar tubuhnya ke depan. Pemuda itu semakin melangkah jauh hingga sisipan di antaranya dan Freya sangatlah dalu. Terlihat jelas Angga di jalan sana menghapuskan sisa air matanya hingga sosoknya sudah tak terlihat lagi di mata Freya karena telah memudar serta menghilang.
Freya yang memaksakan diri untuk bergerak nang mana kedua kakinya serasa di paku agar tak bisa mengejar kepergiannya Angga yang telah menjadi sosok lelaki tampan abadi, kini terjatuh duduk dengan tangisan sesenggukan. Rasa perih itu semakin menikam hatinya menatap perginya sang kekasih yang tak mungkin kembali lagi.
“Hiks, Anggaraaaaaaaaa!!!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
“Angga! Jangan, Ngga! Jangan pergi!! Aku gak mau kamu tinggal selamanyaaaa!!!”
“Hei! Frey?! Frey?! Kenapa? Ada apa?” kejut Jova seraya meraih tubuh mungil Freya untuk memeluknya.
Freya yang terbangun dari mimpi dan tidurnya hingga spontan bangkit duduk, langsung ikut mendekap tubuh Jova di saat tahu kalau yang ada di sebelahnya adalah sahabatnya. Begitu memeluknya, gadis lugu berpakaian piyama panjang itu menangis kencang dengan tersedu-sedu, mereka yang lain melihatnya begitu terkejut sekaligus bingung terhadap Freya yang mengeluarkan derasnya air mata di dalam pelukannya Jova.
“Jelaskan semuanya ke aku, kamu kenapa? Kenapa nangis seperti ini? Kamu juga sempat menyebut nama Angga, ada masalah apa, Freya? Hm?” tanya Jova memakai nada lembut beserta membelai rambut bagian belakang kepalanya sang sahabat.
“Hiks! A-angga n-ninggalin aku buat selamanya, Va! Huhuhuhu! Aku gak mau dia pergi ke alam lain, aku masih cinta banget sama dia, hiks! Hiks!”
Reyhan membelalakkan kedua matanya dengan perasaan hati getir. “Maksudmu gimana, Frey? Kamu bermimpi tentang Angga yang pindah ke alam selain dunia?!”
Freya mengangguk cepat. “Hiks! Iya, Rey! Kata Angga dia sudah gak bisa bersamaku lagi karena antara alamnya dan aku telah berbanding jauh. Hiks! Dia juga bilang sama aku di mimpi, berbahagialah tanpa aku di sisimu dan carilah penggantiku untuk menjadi jodohmu kelak. Hiks! Hiks!”
“Ada lagi, Angga suruh aku menyampaikan pamitnya ke kamu dan Jova. Dia gak bisa berpamitan kepada kalian selain aku karena sudah tidak ada waktu lagi. Hiks!”
Sampai akhirnya Freya mengurai pelukannya dari tubuh Jova untuk melampiaskan emosi dan sedih yang telah bercampur jadi satu di hati. “Jangan tangisi kepergiannya saat nanti?! Bagaimana aku tidak menangisi kalau Angga saja meninggalkan aku dan dunia untuk selamanya?! Dia tega bilang seperti itu ke aku! Dan aku juga nggak tahu kenapa aku sendiri bisa mendapatkan mimpi yang paling terburuk itu!”
“Hiks! Sudahlah, kamu jangan menangis seperti ini! Sampai kapanpun mimpimu itu gak bakal menjadi kenyataan! Kamu harus ingat ini, Frey. Angga itu cowok yang kuat, tangguh dan sebagainya yang mampu membuat jiwanya bertahan untuk melewati di masa terburuknya di rumah sakit!” ucap tegas Jova dengan mendekap tubuh lemas Freya yang tak ada tenaga.
Reyhan yang berdiri di kanan samping kasur, maju selangkah dan duduk ditepi lalu memeluk kedua sahabat perempuannya. Lagi-lagi hal ini membuat lelaki itu susah untuk berkata-kata. Sebenarnya hati dirinya terasa pedih seperti dikoyak-koyak, namun Reyhan harus tetap berusaha meyakinkan sekali lagi bahwa esok nanti Angga akan baik-baik saja dan sanggup berkumpul kembali bersama mereka seperti sediakala.
Teman-teman kelasnya yang memandang suasana memilukan beserta menyayat hati, hanya diam saja macam patung dikarenakan tak bisa berbuat apa-apa untuk tiga sekelompok sahabat remaja itu. Mereka cuma sanggup melihat mereka menangis bersama di kasur, bahkan suara isakan tersebut mengundang lara di sanubari mereka semua.
Hari yang menyedihkan, bukan? Tangisan mereka bertiga ditemani oleh cuaca langit yang sangat tak mendukung, ialah hujan lebat beserta angin nang saling berhembus kencang menerpa dedaunan para pohon yang berdiri tegak di luar.
__ADS_1
INDIGO To Be Continued ›››