
Seorang guru wanita berumur muda yang ada di kelas XI IPA 2 tengah duduk di kursi meja guru kemudian mengambil daftar absen para muridnya yang berjumlah tiga puluh enam. Memang sebelum pembelajaran materi dimulai, guru pasti mendahulukan untuk mengabsen seluruh muridnya yang ada di dalam ruang kelas.
Guru wanita yang mengenakan rok span pendek berwarna hitam beserta pakaian jas rapi merah mudanya, ialah bu Aera sang guru terpaling killer di SMA Galaxy kota Jakarta. Beliau yang berambut pendek tersebut mulai beranjak dari kursi khusus guru tepat sebelah papan tulis putih sambil membawa buku daftar absen. Kini sekarang setelah sudah berdiri di depan papan tulis, bu Aera nampak mulai mengabsen para muridnya dengan urut angka absen. Hingga tibalah di nomor absen Angga.
“Anggara Vincent Kavindra?” panggil bu Aera seraya bola mata sinyalnya mencari letak bangku muridnya. Dan beliau memiringkan kepalanya karena bangku kursi milik Angga kosong.
“Lah, Angga hari ini tidak hadir? Ada yang tahu mengapa Angga tidak masuk sekolah Rabu ini?” tanya bu Aera sangat membutuhkan jawaban antara muridnya dengan menatapnya secara giliran.
Sampai akhirnya Freya yang duduk diam di kursinya, tangan kanannya ia angkat ke atas dan hal itu membuat pandangan bu Aera teralihkan ke salah satu siswi yang duduk di depan. “Iya Freya, kamu tahu?”
“Benar Bu, hari ini Angga tidak masuk karena sedang sakit. Saat ini kepalanya yang cedera kembali kambuh, Bu. Maka dari itu Angga perlu istirahat total di rumah sampai keadaannya membaik,” jawab Freya menjelaskan dengan nada lemah lembut sopan, jangan lupakan senyuman manisnya.
“Oh, ya ampun! Kasihan sekali Angga .. baik terimakasih ya, Nak.”
“Iya Ibu, sama-sama.”
Bu Aera pula memberikan senyuman hangatnya pada siswi tersebut kemudian beliau melanjutkan melihat buku daftar absennya untuk mengabsen siswa dan siswi berikutnya secara lisan atau menyebutkan nama lengkap murid-muridnya yang sungguh berprestasi di kelas ini. Setelah tugas pertama bu Aera selesai, beliau menutup buku absen miliknya kemudian meletakkannya di atas meja guru.
Bu Aera nampak mengambil buku paket Fisikanya dan ia bawa langkah mengitari ruang kelas sambil membuka halaman buku tebal tersebut. “Oke anak-anak, sekarang kita mulai materi pembelajarannya. Dan bukalah bab selanjutnya lalu mulailah kalian meringkas yang ada di dalam kolom beberapa paragraf halaman yang telah kalian semua buka. Selanjutnya nanti, Ibu akan menjelaskan materi baru ini di papan tulis sampai kalian semua yang ada di dalam kelas ini betul-betul mengerti dan paham.”
“Ayo silahkan kerjakan tugasnya.”
Hampir sekelas mengeluh dan menghela napasnya pada atas suruhan beliau yaitu meringkas banyaknya paragraf tulisan yang membuat pastinya tangan pegal termasuk Reyhan yang menampilkan raut muka lesunya. Pemuda itu dengan terpaksa membuka buku catatan Fisikanya dan memegang bolpoin untuk meringkas.
“Nasib hidup gue punya guru Fisika yang modelnya persis ular piton betina. Males banget gue kalau disuruh tugas kayak beginian,” gumam Reyhan.
PLAK !
Reyhan terkejut bukan main nyaris melompat karena mendengar pukulan penggaris plastik yang dikenakan di atas meja bangkunya. Tak hanya Reyhan saja yang kaget, namun seluruh siswa-siswi lainnya pun juga begitu hingga menoleh ke bangku Reyhan berada.
“Astaghfirullahaladzim, Buuu! Untung jantung saya masih tetap di dalam dada, gak sampe jatuh ke perut! Bikin kaget aja, dah!”
Semuanya terkecuali bu Aera dan Reyhan tertawa pada ucapan lantang pemuda siswa humoris tersebut. Bu Aera mendengus dengan mata tajamnya menatap Reyhan yang muridnya kini malah cengengesan. “Jangan kamu pikir saya tidak mendengar dumelan-mu ya, Rey!”
Reyhan menyerong badannya menghadap bu Aera dengan senyuman kagumnya. “Wah itu berarti kuping Ibu tajem banget kayak Dinosaurus T-rex yang main di film-film Barat gitu. Pasti kalau sepasang telinga Ibu di jual dengan harga gak cuma-cuma, bakal laris.”
Mata bu Aera sangat melotot seperti bola matanya ingin keluar dari rongganya, kedua tangan yang beliau lipat dada terus mengasih tatapan nyalang pada Reyhan yang masih saja tersenyum tanpa ada tampang wajah takut, melainkan nyeleneh.
“Matanya jangan mendelik gitu napa, Bu? Nanti bola matanya malah keluar buat nyari jodoh yang belum dipertemukan oleh alam semesta lho, Bu. Ibu kan belum menikah, hehehehe!”
Joshua yang berkacamata dan merupakan ketua kelas, hanya menepuk jidatnya lalu bergumam, “Gak ada habisnya ini wakil kelas gue nyari masalah baru buat bu Aera.”
“Reyhan! Berani ya kamu bilang seperti itu pada saya! Kamu mau Ibu hukum membersihkan toilet sampai bel istirahat dibunyikan?!”
Reyhan spontan memundurkan badannya dengan mata membelalak perfek. “Jangan dong, Bu! Masa mau hukum saya dua kali, sih?! Siswa tampan seperti saya ini tidak pantas dihukum bersihin toilet, bukan levelnya.”
Freya, Joshua, Kenzo menggelengkan kepalanya pada otak jalan Reyhan yang telah kumat Stress-nya, sementara siswa-siswi lain menyoraki Reyhan seru dengan sebutan kata 'wuuu'. Sedangkan bu Aera nampak geram pada muridnya tersebut yang selalu saja saut ucapan beliau yang padahal dari nadanya sudah terdengar tegas dan juga membentak.
“Yaelah masih tampan Angga, kali! Kamu kan orang sesat sama nggak punya akhlak! Ya gak, guys??!!” teriak Zara.
“BETUUUULL!!!”
Reyhan keki sekali dengan ucapan Zara yang menjatuhkan harga dirinya di depan seluruh siswa dan siswi termasuk sang guru Fisika, kepalanya mulai menoleh ke arah Zara yang menatap jijay temannya itu yang percaya dirinya mendewa. “Heh Kuntilanak Suzanna! Diem, lo!”
“Woy! Kamu ngaca, dong! Cermin aja sampe pecah karena ngeliat mukamu yang kayak kingkong makan pisang!” olok Lala menghina dan berakhir menertawakan Reyhan.
“Tau tuh si Kunyuk. Heh, tolong pasang kupingnya, ye. Di sini tuh nggak ada yang bisa ngalahin atau nyaingin kegantengannya si Angga. Dia itu udah tampan seperti pangeran, pinter, cerdas, pendiem juga keren, nggak kayak kamu sok keren sama cerewet macam bebek gak bisa anteng mulutnya! Gue pun siap kalau jadi pacarnya Angga,” ucap salah satu siswi dengan sumringah membayangkan jikalau dirinya berhasil mendapatkan hatinya Angga.
“Halu lo ketinggian, noh! Mana mungkin seorang Anggara Vincent Kavindra mau sama cewek tukang ghibah kek elo? Angga tuh kalau nyari cewek tipenya kalem, penyabar, baik hati, cara ngomongnya lemah lembut. Kayak Freya Septiara Anesha contohnya,” ujar Rena sambil melirik Freya kemudian.
“Aduh, kamu apa-apaan sih, Ren? Aku dan Angga cuman sebatas sahabat dari kecil doang, kok.”
“Sudah-sudah! Jangan ribut di dalam kelas Ibu! Oke Reyhan, kamu memang siswa paling terjelek dan terburuk di sini!”
“BAHAHAHAHA SUKURIN, LO!!!” kompak seru para siswa dan siswi, sedangkan seperti Freya, Kenzo, dan Joshua menutup telinganya masing-masing karena suara teriakan sorak mereka jauh kencang daripada sebelumnya.
Reyhan memegang dadanya dramatis dengan mengembalikan posisi tubuhnya berubah menjadi menghadap papan tulis. “Hancur banget hati saya, Bu.”
Mata kontak bu Aera yang sinyalnya sungguh kuat, terpusat pada lengan tangan kanan murid humorisnya yang wajah siswa pemuda tersebut menekuk karena ia di kelas sudah diberikan kekacauan yang masuk ke dalam hatinya. “Itu kenapa lenganmu dibaluti perban?”
“Kena gergaji mesin, Bu.”
__ADS_1
“Hah?! Beneran?!” kejut bu Aera memastikan Reyhan bohong atau jujur.
“Nggak lah, Bu! Saya cuman bercanda, ini tergores sama pisau doang. Biasa, anak muda jaman sekarang seperti saya ini, matanya suka seliwer dan sering ketutupan keong.”
“Harusnya kamu lebih berhati-hati agar gak jadi seperti itu. Yasudah ayo cepat kerjakan tugasmu, jangan banyak protes lagi. Capek mulut Ibu terus debat sama murid sepertimu,” ujar perintah bu Aera dengan mengusap ujung atas kepala Reyhan lalu pergi meninggalkannya bersama suara sepatu heels hak tingginya.
“Iya teacher yang cantik, siap laksanakan.”
Pada puncaknya, kelas kembali menjadi kondusif serta tenang. Tidak seperti tadi yang banyak keributan ramai seperti pasar di hari Minggu. Seluruh murid-murid bu Aera di kelas XI IPA 2 mulai menulis untuk meringkas tulisan-tulisan materi paragraf di dalam buku catatannya tersendiri, dan selanjutnya nanti beliau akan menjelaskan soal bab materi barunya di papan tulis sampai otak para muridnya yang fokus mampu menangkapnya dengan lancar.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Terlihat di jam waktu istirahat, Jova yang usai dari toilet ingin balik ke kelas untuk mengajak kedua sahabatnya ke kantin untuk mengisi perut yang telah kosong dan butuh diberikan asupan makan.
Di sisi lain jarak yang sangat jauh dari Jova melangkah menuju kelas, terdapat tiga gadis kelas sebelas tengah mengolok-olok pada gadis kelas sepuluh yang terisak-isak karena buku pribadi kesayangannya yang selalu ia jaga, direbut paksa oleh kakak kelasnya.
“Hiks! Kakak, tolong kembalikan! Itu bukunya Kyra, Kak!” tangis Kyra sambil melompat-lompat untuk mengambil buku miliknya yang tengah di angkat atas dengan Febrie setinggi-tingginya.
“Lagian lo ngapain bawa buku norak itu segala, hah? Jaman sekarang pake buku diary, hahaha!” tawa jahat Youra dengan bersedekap di dada.
“Kyra nggak peduli itu buku norak atau apa! Yang penting tolong kembalikan buku diary, Kyra hiks hiks!”
“Astaga, cengeng amat sih, lo!” bentak Claudie seraya mendorong tubuh Kyra yang gadis berumur 16 tahun itu tengah berjinjit-jinjit hingga jatuh keras di lantai sampai lutut kaki kirinya terbentur kuat di bawah kaki kanannya.
“Auw! Sakit, Kak!” Kyra menangis di situ dengan air mata yang membanjiri kedua pipinya.
“Buku norak jelek yang nggak ada manfaatnya kayak gini, mending dibuang aja!” Febrie menjatuhkan buku diary Kyra yang masih di dalam kotak dengan kunci lalu menginjak-injaknya hingga pelindung buku Diary gadis kelas X IPA 5 itu penyok dan rusak.
“Huaaa!! Jangan dirusak, Kak!!” teriak Kyra berusaha untuk bangkit berdiri.
“Nangis aja terus sepuasnya! Nggak akan ada yang nolongin lo di tempat sepi ini!” tukas Febrie lagi lalu mengambil barang milik Kyra lalu dengan paksa tangannya membuka kotak buku diary kasar hingga yang terjadi adalah, gembok ringkih kotak buku privasi Kyra terbuka.
Febrie mengukirkan senyuman iblisnya yang ia patri. “Gimana kalau buku ini gue robek-robek? Pasti menghibur kami banget, hahahaha!”
“Hiks! Kyra mohon jangan, Kak Febrie! Di dalam buku diary Kyra ada banyak sekali kenangan-kenangan Emily! Tolong, Kak. Jangan lakukan itu, huhuhu!”
“Emily? Sahabat lebay gak berguna lo itu yang udah mati? Emangnya apa urusannya sama kami? Lagian itu anak lemah banget pake acara bunuh diri segala,” caci Youra.
“BANGSAT, YA LO BERTIGA!!!”
Jova berhenti di hadapan Febrie dengan mata mendelik. “Kembalikan buku diary Kyra, bajingan!”
BUGH !!!
Jova menonjok pipi kanan Febrie hingga gadis itu jatuh ke lantai bersama salah satu pipinya yang lebam karena pukulan keras Jova. Usai tersebut, Jova membungkukkan badannya untuk merebut paksa buku Diary Kyra dari tangan Febrie. Youra yang melihat kedatangan Jova sangat membencinya.
Jova beralih melangkah mendekati Kyra dan berjongkok di depan adik kelasnya yang air matanya masih basah. “Kyra, ini buku diary-mu.”
“Hiks, makasih banget Kak Jova! Kalau nggak ada Kakak, bukunya Kyra akan di sobek-sobek sama kak Febrie. Di dalam buku ini ada banyak kenangannya Emily, hiks!”
Setelah Kyra menerimanya dengan tangan bergetar karena takut pada tiga geng siswi tersebut, punggung Jova ditendang dahsyat oleh Youra. “Akh! Sakit, cewek mentahan goblok!!”
Dengan emosi melonjak, Jova bangkit berdiri dan memutar tubuhnya ke belakang dan di situ Jova langsung tepat dihadapan Youra yang melotot tajam padanya. “Mau gue colok mata lo?! Denger-denger tadi, lo menghina Almarhumah Emily, ya? Lo sama saja sudah merusak reputasi orang, dongo!!”
“Eh, pecel lele! Lo gak usah jadi pahlawan kesiangan deh buat anak aneh itu, jijik banget tau, gue! Ya, suka-suka gue lah gue mau ngomong apa buat dia yang udah mati itu. Lo nggak ada urusannya sama gue!”
Jova tersenyum smirk. “Nggak ada urusannya sama gue? Sekarang, lo adalah urusannya gue, karena udah nyakitin hati Kyra!” Jova menarik kerah seragam Youra dan ia pojokkan di tembok koridor. “Apa lo nggak sadar apa yang lo lakuin sama adik kelas lo? Secara perbuatan, lo udah melakukan bully fisik dan verbal terhadap Kyra! Nggak cuman dia saja yang lo jadikan korban, tapi juga dengan Freya sahabat gue!!!”
Mata Jova menjadi mencuat saat mengucapkan 'tapi juga dengan Freya sahabat gue'. Youra yang sangat muak mendengar nada tinggi gadis musuhnya itu, langsung menarik rambut Jova bersama penuh tenaga. Jova yang dijambak seperti itu hanya biasa saja.
“Cih, jambakan kuno ini lagi!” Tanpa lama-lama, Jova dengan jiwa emosinya segera lekas menonjok perut Youra hingga gadis tak punya nurani dan belas kasih itu berteriak kesakitan.
“Kenapa? Sakit? Ini pelajaran buat elo, pecel tai!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
SMA Galaxy Admara - Kelas XI IPA 2
Di dalam kelas, Reyhan sibuk kebut menulis beberapa contoh materi yang ada di papan tulis, hasil tulisan dan penjelasannya bu Aera. Tangan kanannya yang pegal tetap Reyhan paksa untuk menulis meskipun dalam relung hati, ia mengeluh berat mengapa harus diberikan contoh sebanyak itu sampai memenuhi papan tulis putih tersebut.
“Ayo semangat, Rey! Habisnya tadi kamu malah tidur di kelas, sih. Untung aja nggak ketauan sama bu Aera,” ucap Freya yang berdiri di sebelah sahabatnya.
__ADS_1
“Pelajaran Fisika bukannya bikin semangat, malah bikin ngantuk. Udah takdir mungkin kita semua punya guru kayak beliau,” tutur Reyhan sambil terus menulis.
“Hehehe, yang penting guru kita adalah guru yang peduli dengan semua muridnya, Rey. Tuh, kurang dikit lagi kamu bakal selesai.”
“Yoi. Tapi mending kamu nyusul Jova aja deh, sana. Itu anak juga belum balik-balik ke sini, aku perlu selesain tugas segudang ini dulu.”
“Nggak deh, aku mau nungguin kamu selesai catatnya aja. Orang bentar lagi kamu kelar, tinggal satu nomer lagi.”
“Ututu, setia amat deh sama sahabatnya-”
“REYHAN! FREYA!”
Freya dan Reyhan langsung melimbai kepalanya cepat ke ambang pintu kelas saat mendengar teriakan panggilan dari satu siswa pemuda yang tengah mengatur napasnya. Reyhan melongo dengan mengerutkan keningnya, sementara Freya menatap siswa dari bangku kelas IPS 1 bersama muka intensnya.
Kemudian pemuda berambut ikal itu menegakkan badannya dan kepalanya condong ke depan untuk mencari-cari salah satu siswa. “Kalian berdua doang yang di kelas? Angga-nya mana?!”
“Dianya lagi nggak masuk, sakit. Lo kenapa dah mukanya panik gitu kek mau dinikahin sama tante-tante?”
“Sialan lo, Rey! Heh kalian berdua ketinggalan info berita besar, anjrit!”
“Info berita besar apaan?! Langsung ngomong ke intinya aja, napa?! Bikin orang penasaran aja!” kesal Reyhan hingga menghentikan tugasnya.
“Itu si Jova besti kalian berdua!!”
“Kenapa sama Jova?!” tanya Reyhan dengan mata terbelalak.
“Sumpah kalian harus dateng ke sana sekarang juga sama lainnya! Jova sama Youra tawuran di koridor sekolah! Cepetan dah samperin daripada itu cewek kena giring BK sama pak kepsek! No lelet, no debat!”
“Jova tawuran sama Youra?! Wah parah nih, makasih ye infonya!!”
“Sama-sama, Bro! Udeh, cepetan keburu telat entar!” pekik siswa tersebut lalu kembali berlari meninggalkan ruang kelas.
“Itu anak tomboy satu pasti main cakar-cakaran sama cewek pembuat onar!” tekan nada Reyhan geram dan menutup buku catatannya dengan terburu-buru kemudian setelah pemuda itu berdiri, ia menarik tangan Freya untuk mengajaknya ke lokasi tempat kejadian dimana sahabat mereka melakukan aksi tawuran.
“Ayo, Freya! Keburu endingnya gak menyenangkan!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Komplek Permata - Rumah Angga
Di dalam kamar yang sunyi tak ada suara apapun, pemuda Indigo tersebut tengah tidur lelap dengan wajah pucat-nya. Pakaian lengan panjang beserta selimut gabungan dari warna seprai kasurnya, menyimpulkan bahwa dirinya sedang kedinginan. Dan di dalam tidurnya, ia menjumpai mimpi terbarunya.
Splash !
Di sebuah tempat rooftop sekolah SMA Galaxy Admara di siang yang cerah, terdapat jelas sosok empat gadis siswi berseragam OSIS di atas sana. Salah satu siswi nampak menendang pinggang seseorang hingga terjatuh di lantai, ialah Emily. Siswi yang bernama Rainey melempar kertas coklat panjang dan bolpoin ke Emily.
“Cepet lo tulis surat terakhir buat sahabat lo dalam waktu menit yang kami tentukan, kalau sampai waktunya habis dan lo belum selesai, lo pasti tau apa yang kami bertiga lakukan ke elo,” ancam Rainey pada Emily.
Rasa nyali berani pada Rainey menjadi menciut, dan Emily di rooftop hanya mampu menuruti keinginan Rainey. Dengan tangan gemetar, gadis berambut coklat agak kekuningan tersebut mulai meraih bolpoin yang tadi dilempar oleh siswi satu kelas dengannya.
Gantari, Eliana, dan Rainey menatap puas Emily yang menitikkan air matanya dan mengeluarkan isakan tangis. Ia berusaha menyeka air matanya agar tak terjatuh menetes ke kertas yang menjadi bahan surat kenangan terakhir untuk Kyra, meski dalam lubuk hati, Emily sungguh tak menginginkan semua ini. Entah apa yang mereka lakukan selanjutnya padanya, karena dari sorot mata mereka sudah menyimpan kejanggalan.
Setelah memberikan bentuk hati di surat itu sebagai tanda penulis tangan darinya, Emily meletakkan bolpoinnya di lantai. “A-apa yang akan selanjutnya kalian lakuin padaku? Semua keinginan kalian sudah aku turuti.”
Rainey memberikan tatapan kode pada Gantari, dan langsung cepat dimengerti anak buahnya. Gantari maju ke Emily yang terduduk di lantai kemudian tangannya menjambak rambut gadis tersebut ke belakang hingga kepalanya sukses membentur kuat di lantai. Emily meringis kesakitan apa yang telah dilakukan Gantari.
“Dasar perempuan aneh, jiwanya gak waras! Ayo cepat, apa lagi yang mau kalian berikan kekerasan fisik sama aku?! Aku gak takut pada kelicikan beringas kalian semua yang udah bully aku!”
“Oh, lo nantang? Lo sendiri aja mesti nggak tau kalau ini adalah hari terakhir hidup lo di dunia, kami bertiga juga sudah muak akibat keberadaan lo di sini. Jadi lebih baik, karena lo udah menuliskan surat terakhir buat sang sahabat, lo harus mati!”
“Kalian ingin membunuhku?! Tolong jangan lakukan hal jahat itu, aku gak mau mati!” tolak takut Emily dengan gelengan kepala kuat.
Mereka bertiga tak menggubris ucapan tolakan Emily seolah acuh tak acuh. Rainey melangkah mendekati Emily lalu menarik kerah seragam putih dalam jas almamater korban bully-nya untuk menarik paksa berdiri. Setelah itu, Rainey mendorong kencang tubuh Emily hingga punggungnya menghantam tembok pendek pembatas rooftop. Rainey dengan tindakan bahaya nyawa, semakin mendorong Emily hingga posisi tubuhnya menjadi terbaring di dinding pembatas atas gedung sekolah.
Emily tanpa sengaja bola matanya menelisik bawahnya yang membuat jiwanya menjadi taruhannya. Eliana di belakang ketua bullying kelas X IPA 5 sedang menggulung-gulung kertas surat coklat lalu kakinya berjalan ke Emily dan memasukkan gulungan surat itu di salah satu kantong saku jas almamaternya Emily Michaela Sophia.
“Hiks Ney, tolong jangan jatuhkan aku ke bawah sana! Aku sungguh nggak mau mati! Aku masih perlu menjalani hidupku!”
“Alah sok gaya, lu! Mau mati aja banyak drama! Gak ada mempannya omongan permohonan elo sama gue, ya! Gue dari dulu pengen lo cepat lenyap dari dunia ini! Jadi, good bye manusia cupu rendahan.”
Rainey tanpa ada rasa tak rela dan tak tega, kedua tangan miliknya ia lepaskan dari kerah seragam Emily, otomatis itu gadis tersebut jatuh dari ketinggian atas rooftop gedung SMA Galaxy Admara.
__ADS_1
“Kyaaaaaaaaa!!!”
Indigo To Be Continued ›››