
Dengan penuh amarah besar karena Anggara telah menginjak hutan puncak dan Villa tersebut, wanita arwah menyeramkan itu langsung berteriak menggelar sepenjuru dapur hingga ruang utama sambil mendorong tubuh Anggara hingga gelas yang Anggara pegang jatuh pecah.
PYAAAARR !!!
Sementara saat tengah di dorong, tubuh Anggara terpental ke belakang sampai menghantam tembok di belakangnya. Lagi dan lagi kepalanya terbentur sangat keras. Kesimpulannya trauma Anggara terulang kembali dan kejadian kembali.
"AAAAKHH!!!"
Mendengar teriakan Anggara, membuat satu orang terbangun dari kamar sebelah Anggara yaitu kamar nomor 002. Langkah besar lari turun dari tangga, berpakaian style kemeja kuning pastel kotak-kotak disertakan kaus oblong warna kelabu. Itu adalah Reyhan.
Usai turun dari tangga Reyhan mencari-cari suara teriakan sahabatnya barusan, setelah mencari-cari dalam pandangan matanya. Reyhan terkejut melihat Anggara terduduk di lantas mojok tembok dinding dengan meringis kesakitan memegang kepalanya. Cekatan Reyhan berlari kencang menghampiri Anggara.
"Ngga, Anggara! Lo kenapa?!" tanya Reyhan nada panik yang sekarang duduk jongkok di samping Anggara.
"..." Anggara tak menjawab apapun dari Reyhan, tangannya terus mencengkram kepalanya seraya merintih-rintih berterusan.
Mata Reyhan menyilih ke satu pandangan, ia melihat pecahan gelas yang hancur berkeping-keping tanpa ada tumpahan air di sana. Tidak mungkin juga kalau Anggara membanting gelas tersebut, pasti telah ada terjadi sesuatu pada Anggara namun Reyhan belum mengetahuinya.
Reyhan menoleh ke Anggara lalu memegang kedua pundak sahabatnya. "Anggara, please jawab gue .. lo abis kenapa?! Apa yang udah terjadi sama lo?!"
"Kepala gue ... sakit ..."
Suara itu saja yang Anggara mampukan, lirih dan lemah untung masih bisa di dengar oleh telinga Reyhan. Reyhan meringis getir pada Anggara yang terus merintih kesakitan.
"Apa lo habis terbentur tembok?"
"..."
Karena Anggara tak menjawab, Reyhan hanya bisa menghela napasnya. Tangan Anggara belum terlepas dari kepalanya yang semakin mencengkram kepalanya.
"Sini-sini." Reyhan perlahan membantu Anggara untuk bangkit berdiri dengan hati-hati menuntun Anggara ke kursi sofa ruang utama Villa.
Reyhan mendudukkan Anggara di sofa lalu menyenderkan punggungnya. Reyhan tengah celingak-celinguk mencari sesuatu untuk Anggara.
"Duh, gue harus pake gimana nih?! Mana gak ada obat sakit kepala!"
"Gak ... gak usah."
"Gak usah gimana sih?! Itu sampe kesakitan gitu, lo bilang gak usah?!"
Reyhan menatap pecahan gelas tersebut yang berserakan di lantai dapur kemudian bola mata Reyhan mengarah ke Anggara dengan mendengus bersama wajah sendunya, Anggara memang sudah kebiasaan menutupi apa yang terjadi dengannya itu menurut bagi diri Reyhan. Namun kali ini Reyhan bersikeras memaksa Anggara untuk menceritakan apa yang telah terjadi dengannya itu.
"Ngga! Sekarang lo cerita sama gue, lo abis kenapa? Dan kenapa itu gelas bisa pecah miris gitu??"
Anggara menghempaskan nafasnya gusar. "Gue cerita ... lo juga gak bakal paham sama gak percaya."
"Eh, gue percaya kok ... apa, kenapa? Cerita aja, cerita. Lo ceritain semua aja ke gue, biar gue sendiri paham apa yang terjadi sama lo."
"Sosok wanita itu ..."
"Hah? Sosok? Wanita? Yang apa??" tanya Reyhan membuat Anggara menghela napasnya.
"Duh, bisa gak kalo cerita tuh jangan setengah-setengah? Apa yang lo maksud dari dia? Apa itu setan yang ganggu lo akhir-akhir ini??"
Anggara menggeleng lemah. "Tadi."
"Tadi kapan?"
"Tadi kapan? Pagi? Siang? Sore? Malem ini??"
"Tadi pagi. B-bahkan- shhh! Anggara meringis pelan pada sakit kepala yang tak kunjung reda. "Bahkan, sosok wanita itu muncul di mimpi gue barusan tadi."
"Bentar-bentar, berarti lo mimpi buruk tentang wanita sosok itu? Dan buat lo sakit kepala sampe reflek terbanting gelasnya??"
"Ck, bukan!!"
"Lalu apa dong?"
"Kepo lu ah!"
"Yaelah pelit amat sih lo Ngga, sama sahabat lo juga kali ih! Bagi cerita detail aja susahnya minta ampun!"
"Ngegas, gue gak nerusin!" ancam Anggara.
"Ih-ih jangan dong, iya deh iya maap. Ngancem mulu perasaan dari dulu," lirih Reyhan di kalimat akhir.
Anggara menatap sinis Reyhan lalu mengalihkan pandangan bola matanya ke depan. "Gue tadi sempet dapet mimpi yang gak gue pengenin sama sekali. Mimpi itu seolah ngasih pertanda buruk bagi gue."
Reyhan duduk tegak sedikit terperangah pada ceritanya Anggara. "Sebuah pertanda?! Emangnya begitu njir?!"
"Njir ... njir ... njir, ya iyalah! Y-ya kalo lo percaya aja sih. Kalo gak percaya ya, yaudah."
"Gue percaya kali!"
"Eh Ngga, kenapa bisa jadi pertanda buruk? Lo tau dari dimana-nya??"
Anggara menghela nafasnya dengan wajah nanar. "Karna gue di jatohin ke bawah jurang."
"WHAT THE WHY??!!"
"Bego, jangan keras-keras! Ini udah tengah malem!" kesal Anggara nada membentak seraya membekap mulut Reyhan lalu melepaskannya.
"Ehehehe sorry-sorry, tapi kenapa itu bisa jadi pertanda buruk elo??"
"Setiap orang mimpi jatuh ke jurang, pasti akan ada pertanda buruk entah itu kapan."
"Bukannya lo aktif di sosmed ya? Kok gitu aja pake nanya segala??"
"Y-ya emang aktif sih, tapi ya gak semua informasi berkaitan seperti itu gue tau. Berarti, lo kira-kira aja, lo bakal dapet pertanda buruk apa?!"
Anggara mengembuskan napasnya lelah. "Gue gak tau ..."
Reyhan seketika tubuhnya meremang. "Hih, jadi merinding gue sumpah!"
"Yaudah gak usah di dengerin- akh!"
Anggara kembali memegang kepalanya yang terasa berdenyutan, membuat sahabatnya tepat di sampingnya meringis dan akan mengangkat tangan Anggara untuk beranjak dari sofa.
"Ayo udah balik ke kamar, lo tidur lagi aja. Di buat istirahat aja, oke?"
Anggara mengangguk tanpa mau bercerita apa penyebabnya kepalanya sakit itu. Reyhan dengan rasa persahabatan perlahan menuntun Anggara berjalan menaiki tangga hingga sampai di kamar 001. Usai mengantarkannya, Reyhan membuka pintu kamar 002-nya dan memasuki kamarnya lalu menutup pintu kamarnya semula balik.
__ADS_1
Di dalam kamar, Anggara mencoba setelah merebahkan tubuhnya pada berposisi lurus, tidur dan berharap ia tak lagi bermimpi buruk seperti tadi.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Terdengar suara banyak orang yang mengobrol-ngobrol senda gurau di bawah tangga. Kebisingan itu membuat diri Anggara bangun dari tidurnya lalu sesegera bangkit posisi duduk dengan mengucek matanya. Anggara menengok jendela samping kasur yang telah nampak pagi dan sinar matahari memancar di jendela kaca kamar 001 miliknya.
"Jam sembilan," gumam Anggara melihat jam dinding di atas tembok.
Tak seperti biasanya Anggara bangun tidur jam 09.00 menurut Anggara ia bangunnya sudah sangat kesiangan, karena jika hari libur Anggara selalu bangun jam sekitar pukul 06.00. Mungkin ini karena imbas dari mimpi buruk tersebut yang membuat Anggara kesukaran untuk tidur nyenyak.
Kini Anggara beranjak dari tempat tidurnya lalu segera membuka kamar untuk turun dari tangga. Disaat Anggara turun dari tangga, kesemua teman Anggara dan kesemua sahabat Anggara tengah sedang menikmati hidangan sarapan mereka. Melihat Anggara yang baru saja menuruni tangga, Reyhan langsung mengangkat tangannya dan melambai-lambaikan tangan agar Anggara datang menghampirinya dan duduk di samping Reyhan.
Setelah Anggara ada di depan kursi meja makan, Anggara menarik kursi tersebut lalu duduk anteng tanpa menyapa orang-orang yang ada di sekitarnya. Tentu saja hari ini Anggara masih sangat mengantuk walau ini pun sudah lewat jam 09.00
"Dih napa bro? Lesu gitu dah," tanya Reyhan dengan senyuman ledeknya.
"Susah tidur tadi," singkat Anggara menanggapi.
"Kenapa Ngga? Hawa anginnya terlalu dingin ya? Sampe kamu susah tidur," tanya dan tebak Freya lembut.
Anggara menggeleng pasti. "Bukan kok, aku cuman gak bisa tidur aja semalem, yaa tadi tidurnya sekitar jam satu dini."
"Pantesan mukamu berantakan banget, udah cuci muka belum?" tanya Jova dengan mulai melahap telur goreng dadarnya.
"Ya udah lah," respon Anggara santai.
"Eh guys-guys, dengerin gue bentar ... eee jadi begini, ini dari pesen nenek gue di chat. Ehm, katanya nanti malem dia dateng kesini."
Raka mendengus ditambah merapatkan bibirnya menahan tawa. "Emangnya nenek lo berani kesini pas malem?"
"Mungkin berani kali." Andra menjawab Raka dengan ragu.
"Mmm nenek kamu datengnya sama siapa, Ndra?" Giliran Lala yang bertanya sambil memutarkan mie gorengnya dengan garpu.
"Katanya sih sendiri La. Aku penasaran deh, sama nenekku yang kali ini tingkahnya beda. Nenekku kalo ngajak-ngajak aku pasti izin dulu sama mama papa aku, tapi kalo yang ini ... tumben bener, dia gak izin mama papaku dulu."
Reyhan menyandarkan punggungnya di kursi karena perutnya telah kenyang terisi. "Aneh banget gak sih, masa gak izin dulu dah. Eh Ndra, tapi apa nyokap sama bokap lo gak curiga soal lo pergi kesini dan nenek lo disini??"
"Setengah curiga Rey, tapi mama papa gue tetep bolehin gue kesini kok."
Anggara mengetuk-ngetuk meja makan dengan jari telunjuknya. Mata Anggara nampak menunduk seperti tengah melenungkan pikiran sesuatu. Bawah kantung matanya bengkak dan sedikit hitam, artinya Anggara kurang tidur semalam.
Reyhan memaklumi Anggara yang seperti ini sekarang. Efek mimpi buruk itu buat Anggara tak tenang akan tidur nyenyaknya, apalagi ia bangun cukup telat meskipun ini adalah hari santai atau libur. Perlahan Reyhan memiringkan badannya lalu membisiki telinga Anggara.
"Udah, gak usah lo pikirin soal mimpi itu ... mending sekarang lo sarapan aja gih, daripada nanti sakit lagi."
Anggara cukup mengangguk mengiyakan bisikan dari Reyhan, Anggara mengambil piring berisi mie goreng isi toping tomat, bawang goreng, selada, serta telur setengah matang. Aromanya saja menggugah selera sarapan, namun meskipun aromanya sangat sedap, Anggara tak ada rasa selera makan kali ini.
"Oi cepetan dimakan elah Ngga, itu yang masak si Freya semua loh ... bahkan gue aja sampe nambah lagi eheheheh." Ucapan Reyhan yang lantang itu, membuat Anggara menggeleng-gelengkan kepala seraya menolehkan kepalanya ke Reyhan.
"Emang ya, lo kalo kelaparan gak ada obatnya."
Semuanya tertawa mendengar celoteh Anggara untuk Reyhan. Anggara kembali fokus pada sarapannya sedangkan Reyhan berdumel-dumel tidak jelas seperti orang dukun. Raka, teman kelas Reyhan yang rese juga seperti dirinya memicingkan matanya dengan senyuman penuh sumringah akan mengejeknya.
"Kunyuk bobrok, lu ngapain dah dumel-dumel gak jelas gitu? Lo lagi bacain mantra yang biasanya pak dukun lakuin buat nyantet orang??"
Sungguh demi apa, Reyhan langsung mendelik tajam menatap Raka penuh kejengkelan di hatinya. Tangannya yang memegang garpu ia bentangkan ke dekat wajah tukang ledek handalan itu. Reyhan menyumpah serapah pada Raka dengan suara geram ingin mencolokkan matanya Raka menggunakan garpu yang ia dekatkan di wajah Raka.
"Ngga, nanti jalan-jalan yok di luar Villa atau kagak sekalian keliling hutan biar mood lo oke."
Anggara berdehem menjawab Reyhan tanpa ada ekspresi muka apapun yang terlihat di wajah tampannya.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Setelah para sepuluh remaja itu telah melaksanakan aktivitas sarapan dan mandi, mereka semua kini berada di kursi sofa dalam kesibukan berkutat masing-masing pada HP Android-nya. Sesuai apa yang tadi di meja makan Reyhan bicarakan untuk mengajak Anggara keluar berkeliling hutan bersamanya, Reyhan dan Anggara beranjak berdiri dari kursi sofa akan melangkah pergi.
Namun pada setengah langkahnya, Reyhan berhenti dan menolehkan kepalanya lumayan ke belakang. "Siapa yang mau ikut? Masih seger loh udaranya buat keliling jalan-jalan."
"Gak deh, gue disini aja, bersantai-santai di dalam Villa lebih enak," ucap Raka dengan merentangkan tangannya menempel pada kepala sofa empuk untuk bersandar.
Ternyata teman-teman dua pemuda tersebut tak ada yang mau ikut, sementara kedua sahabat perempuannya terdiam layaknya lagi mempertimbangkan.
"Freya sama Jova mau ikut aku sama Anggara, nggak??"
"Ehm enggak deh. Capek," jawab Jova.
"Nanti kalo kita mau ikut kalian, kita berdua bakal nyusul kok," tutur Freya.
"Ooohh yaudah dah kalo begitu. Bye semua," pamit Reyhan.
"Bye!" jawab kesemua yang duduk di sofa secara bersamaan sambil melambaikan tangannya masing-masing ke Reyhan serta Anggara di sebelahnya.
Reyhan dan Anggara pun melangkah keluar dari Villa lalu meninggalkan tempat wilayah Villa. Anggara dan Reyhan bersama-sama turun ke jalan yang sedikit curam, meskipun begitu, udara pagi ini masih terasa sejuk nikmat untuk di hirup semua orang. Matahari terik menyinari seluruh jalan hutan. Pepohonan besar nan menjulang tinggi sangat pas untuk bersandar istirahat di sana tepatnya duduk berselonjor bawah pohon serta menduduki rerumputan hijau asri.
Tujuan pemuda tampan tersebut tak bersandar santai-santai di bawah pohon yang telah mereka lewati, tujuan mereka berdua adalah menyegarkan tubuhnya atau bisa di sebut Refreshing. Mungkin dengan melakukan Refreshing menyegarkan tubuh dan otak pikiran, Anggara bisa menghilangkan ingatan-ingatan mimpi buruk tadi malam sejenak waktu.
"Ngga, coba lo hirup udara ini dalem-dalem, pasti mood lo jadi baik dah. Nih gue kasih tau, orang kalo lagi badmood harus di wajibkan buat hirup udara pagi apa kagak senja hari. Itu juga obat spesial pokoknya."
"Obat spesial apaan?"
"Obat mental."
"Sinting lu Rey, Lu pikir gue sakit mental, apa?!"
Reyhan memasukan tangan kirinya ke dalam saku kantong celana jeansnya bagian depan. Ia memalingkan wajah dari Anggara, membuat sahabatnya di samping terheran-heran.
Reyhan menoleh menatap Anggara. "Setau gue, lo itu sakit jiwa deh Ngga, bukan sakit mental." Santainya jawab Reyhan hingga Anggara merapatkan bibirnya dengan mimik kesal.
"Gue tonjok juga lo yak!"
Anggara memberikan sebuah kepalan kuat telapak tangannya ke dekat muka sahabat resenya yang dari dulu tidak pernah berubah. Reyhan yang di kasihkan sebuah ancaman kepalan tangan Anggara, langsung memanyunkan bibirnya, bermuka memelas sambil menjepit kedua telinganya dengan jari ibu jari serta jari telunjuk masing-masing, layaknya bagaikan suatu permohonan minta maaf yang biasanya di gunakan oleh orang bangsa negara India.
Anggara bersedekap tangan di dada. "Ehem, lo orang negara mana Rey?"
"Orang Negara Afrika! Puas lo?!" bentak Reyhan menatap sinis Anggara.
Anggara menahan tawanya hingga ia malah tertawa sedikit kencang. Reyhan dibuat terperangah pada Anggara yang ternyata Anggara juga bisa tertawa kencang meskipun sedikit. Reyhan menggaruk kepalanya bingung apa yang lucu darinya.
"Napa ketawa?" jutek Reyhan.
"Gue? Napa ketawa? Ya abisnya sih lo jawab lo orang Negara Afrika. Pppfft hahahaha! Sumpah berarti sama aja lo item kayak telor gosong!"
__ADS_1
"Enak aja lo ngatain gue telor gosong, kulit putih terawat gini ... lo bilang telor gosong, orang kalo bilang kulit gue item, matanya seliwer apa gak matanya ketutup cangkang keong!
Anggara tersentak kaget. "Mulai nyindir gue ya lo!"
"Biarin, kan lo dulu yang mulai!"
"Yaudah sih, gue kan cuman bercanda tadi. Lo-nya aja yang terlalu sensitif kek kulit bayi baru lahir!"
"Bayi Gaib kah?! Yang di film-film gitu?!"
"Mungkin iya dah."
Tiba-tiba saat asyik berjalan disembari mengobrol-ngobrol dengan Anggara, Reyhan merasakan ada dua orang yang mengikuti mereka dari belakang. Seperti apa yang Reyhan lakukan dulu di hutan alam beda, Reyhan yang diliputi rasa ketakutannya langsung menarik ujung jaket motif polos Anggara. Yang di tarik jaketnya, protes kesal pada kelakuan sahabatnya.
"Bisa gak, kalo manggil itu yang gerak bukan tangan narik jaket orang!"
"Anggara-Anggara, ih bentar napa sih marahnya. Berhenti dulu Ngga, gue ngerasa kita berdua lagi diikuti seseorang di belakang."
"Anggara, jangan-jangan itu setan lagi Ngga!!"
Anggara menggaruk keningnya. "Setan? Gue gak ngerasain aura keberadaan setan di sekitar kita bahkan di belakang kita."
"Ayo Ngga, noleh ke belakang! Noleh ke belakang. Nanti kalo itu beneran setan, kita langsung joget- eh lari maksudnya!"
Anggara mengangguk mantap lalu menoleh ke belakang bersama Reyhan. Reyhan auto jatuh terjungkal ke belakang, menatap sosok gadis berambut panjang yang menutupi seluruh mukanya tepat di depan mata.
Brugh !
"Aw bokong gue sakit!"
"Hihihihihihi!"
Suara melengking itu membuat Reyhan memundurkan jaraknya dari jangkauan gadis itu. Namun setelah Reyhan melihat ke bawah, Reyhan melongo melihat sepatu kekinian perempuan yang di pakai gadis itu. Reyhan mendongak kepalanya menatap wajah gadis itu sebelum ia menyingkirkan rambut panjang tebalnya dari mukanya. Anggara yang di kejutkan gadis itu biasa saja, karena ia tahu siapa gadis tersebut.
"J-jovata?!"
"Ehehehehe gimana, serem kan, penampilan horor aku."
"Oalah Mba kunti Mba kunti ... ampir aku jantungan kamu buat. Kenapa gak sekalian pake eyeliner luntur-luntur gitu biar mirip kek kuntilanak yang suka gelantungan di atas pohon. Terus kasih bedak pucet di mukamu biar aku semaput lagi abis itu!"
"Ups!" Jova menutup mulutnya dengan satu tangan serta mata yang terkejut.
"Ututututu kasian banget sih, sini-sini aku bantu kamu bangkit dari alam kubur."
"Mulutnya," lirih Reyhan wajah yang menandakan jengkel.
Anggara mengerutkan keningnya karena Freya tak ada bersama Jova. Dimana sahabat Anggara satunya?
"Va, Cuman kamu doang yang kesini? Freya gak kamu ajak?"
"Aciaaaatt ciaaaaatt! Ada yang nyariin cewek idaman nih, uhuy."
"Gue tendang juga ya lo Rey!"
"Ih ampun! Iya-iya deh, galak amat sih!"
"Si Freya tadi aku ajak kok, mungkin balik lagi," santai Jova.
"DOR!!!"
"ALLAHU AKBAR!!!" Anggara reflek mengatakan itu dengan memutar tubuhnya ke belakang sambil memegang dadanya karena sudah di buat terkejut setengah mati oleh seseorang satu gadis yang telah mengagetkan Anggara dengan menepuk kencang punggungnya.
Anggara membuka matanya seraya mengatur napas serta jantung yang hampir berhenti. Betapa terkejutnya Anggara, rupanya yang mengagetkan dirinya adalah Freya. Sahabat TK Anggara sendiri.
"Ya Allah Freya, ternyata kamu toh yang ngagetin aku. Tega kamu ya, hampir aja aku kepleset ke dunia akhirat."
"Waduh kaget banget ya ... ehehehe maaf ya Nggaaa," ucap Freya memohon sambil cengengesan.
"Kamu kenapa bisa ada di belakangku? Lewatnya dimana? Jalannya kapan? Masih untung aku masih hidup ya, coba kalo udah enggak."
"Ih Anggara mah, jangan ngomong gitu dong. Hehehehe maaf deh, lain kali aku gak gitu lagi. Janji ya janji eheheheh," cengir Freya dengan mengangkat jari kelingkingnya ke dekat muka Anggara yang masih beraut wajah kaget.
"Janji dooooongg," ulang Freya.
Anggara pun mengangkat jari kelingkingnya. "Janji ya, awas kalo ingkari janjimu. Kamu gak boleh ngagetin kayak gitu lagi, oke?" tanya Anggara sambil menautkan jari kelingkingnya dengan jari lentik kelingking Freya.
"Oke, aku pegang ucapan-mu."
"Njir, gue kalo ngeliat kalian berdua begini begitu ... rasanya kek lagi nonton film romansa deh."
"Ho'oh ya Rey, aku juga ngerasa di depan mataku ini, aku liat sepasang kekasih cantik dan ganteng yang bermesraan."
"Ih aku sama Anggara enggak pacaran tau!" kesal Freya sambil menghentakkan satu kakinya.
Wajah raut kesal Freya membuat Anggara mampu terkekeh geli padanya. Wajah yang amat menggemaskan ingin sekali Anggara cubit gemas pipi tembam milik sahabat kecil perempuannya itu.
"Frey, kamu mau aku karungin terus aku bawa dirimu pulang? Abisnya kamu gemesin sih, kesel-kesel gitu tapi wajahmu malah jadi makin imut kayak boneka adek sepupuku."
"Lo ngarungin orang apa mayat? Gilak kali, anak orang lo karung!"
"Anjay ada yang ngamuk nih hahahaha! Bercanda gue itu bro, buat apaan segala dibikin serius? Seriusnya kalo pas Ujian sekolah aja mending."
Anggara memutarkan bola matanya malas kesamping, namun disaat bola matanya mengarah kesamping, ada satu sosok yang pergi menghilang melesat cepat. Apakah itu adalah sosok wanita arwah pembawa dendam?
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Hari telah menjelang malam, para sekelompok empat remaja tersebut tengah berjalan kembali menuju ke Villa. Sudah banyak mereka berkeliling hutan hingga sampai sekarang ini, mereka berkeliling tanpa lupa arah menuju ke Villa. Saat di pertengahan jalan akan berjalan di jalan sedikit curam itu, Anggara tak sengaja menginjak kertas gambar lusuh di bawah sepatunya. Anggara segera menghentikan langkahnya begitu juga ketiga sahabatnya yang baris di depannya sementara Anggara di belakang sendiri.
Anggara mengangkat kakinya dan mengambil kertas gambar lusuh itu. Anggara mengerutkan keningnya disaat telah mengambil kertas gambar lusuh tersebut. Di situ ada sebuah gambaran sketsa sosok wanita yang berpose duduk di kursi goyang. Darah Anggara terkesiap, bukankah ini adalah wanita arwah yang datang di mimpi Anggara?
"Itu kertas gambar apaan Ngga? Kertas kotor lagi, yang lo ambil."
Reyhan menghampiri Anggara lalu matanya melihat ke arah isi gambar tersebut. Usai melihat isi gambar, Reyhan bergidik ngeri menandakan wajah tengah ketakutan. Muka pada sketsa sosok wanita itu sungguh amat menyeramkan dan menjijikkan. Freya dan Jova ikut penasaran dengan menghampiri sahabat-sahabatnya.
Spontan Freya menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya karena merasa takut menatap wajah sketsa wanita itu. Jova tak takut atau sebagainya, ia malah justru kaget saja tanpa menutup mukanya seperti sahabat polosnya.
"Hiii, serem banget gambarnya! Udah lah Ngga, lo buang aja kertas sketsa itu. Bikin gak bisa tidur tau!" titah Reyhan sambil memalingkan wajahnya dari kertas lusuh kotor sketsa itu.
'W-wanita ini ... Kenapa ada kertas ini? Siapa yang udah gambar sosok ini, bahkan sketsa ini sama mirip apa yang ada di mimpi gue tadi semalem.'
Anggara rada mencengkram sisi kanan kiri dari kertas sketsa lusuh itu dengan menelan ludahnya, jantung berpacu begitu cepat kembali, keringat dingin yang sudah menghilang kini mengucur lagi. Di arah kejauhan, wanita yang bernama Mtyda, wanita sosok berupa wujud arwah menyeramkan itu, memantau mengawasi Anggara serta sahabat-sahabatnya yang selalu bersamanya. Sunggingan bibir penuh lumuran darah busuk, itu mengukirkan senyuman smirk-nya. Dan sepertinya wanita arwah pembawa dendam itu mempunyai siasat buruk untuk mencelakai Anggara dengan caranya.
__ADS_1
INDIGO To Be Continued ›››