
Mulut Reyhan kemudian membungkam dan melangkah perlahan ke gadis berambut hitam legam yang panjang tersebut.
“I-ini Freya, kan?! Freya Septiara Anesha sahabat gue?!” Mata Reyhan nampak berbinar dengan senyuman lebar.
Freya menganggukkan kepala antusias. “Iya! Kamu beneran Reyhan sahabat aku juga, kan?! Reyhan Lintang Ellvano?!”
“Yes, wah gak nyangka aku sumpah aku bisa ketemu kamu di sini! Kamu kok bisa ada di sini?? Beneran dah, aku gak nge-duga kamu bakal ada di sini!”
“Aku juga gak tau kenapa aku bisa ada di sini .. dan aneh saja tiba-tiba aku bisa ketemu kamu kayak gini. Kayak mimpi!”
“Memangnya kamu ngerasa kalau kamu masuk ke dunia mimpi, kah? Ah tapi pokoknya ini bener-bener is the best aku bisa ketemu sahabat polos gue ini hehehehe. Oh iya kalau boleh aku tau, kamu dari mana?”
“Ehm ... aku dari jalan sana, jadi itu entah aku habis kenapa sampai baringan di rerumputan jauh sana. Nah, sekarang aku penasaran deh. Kok kamu juga bisa ada di sini??”
“Nah itu dia! Aku juga gak tau kenapa aku bisa ada di sini seperti kamu, bahkan aku gak inget aku habis kenapa kok tiba-tiba Aing (Aku) bisa ada di tempat luas beginian .. oh iya aku sampe lupa nanya lagi, ehm ngomong-ngomong kamu ke sini sendirian? Nggak sama siapa, gitu?”
“Enggak Rey, aku sendirian ... aku sebenernya sempet nyari dua sahabat kita, tapi aku baru sadar cuman aku doang yang di sini dan ketemu kamu tadi.”
“Dua sahabat ... dua sahabat, oh! Si Angga sama Jova, yak?!”
“Betul! Masih inget juga ternyata,” ucap Freya sedikit menyengir.
“Ya mesti inget lah, kan aku juga sahabatnya mereka. Eh tapi kalau inget mereka berdua .. mereka kok gak ada di sini, yak? Cuman kita berdua doang dong. Hmmm, aneh bener.”
Freya nampak termenung berpikir, tak mengerti apa yang telah terjadi dengannya hingga ia masuk ke dalam tempat asing seperti ini. Reyhan melirik Freya yang tengah memikirkan sesuatu, membuat Reyhan ingin membuyarkan pikiran sahabat polosnya.
“Udah, nggak usah kamu pikir gitu ... hmm mending ikut aku yuk,” ajak Reyhan.
“Eh? Kemana??”
Reyhan memutar posisi Freya menjadi menghadap belakang, dengan memegang atas bahunya Reyhan menunjuk sesuatu yang agak lumayan jauh. “Tuh, coba kamu lihat yang di sana.”
Freya mengikuti arah jari telunjuk Reyhan. “Bukit? Kamu mau ajak aku ke atas bukit yang ada ada di sana itu?”
Reyhan mengangguk berkata 'benar' di sana terdapat ada bukit kecil cocok untuk duduk menikmati pemandangan danau yang sangat luas tersebut. Freya mengangguk kepalanya tersenyum setuju pada ajakan sahabat friendly-nya, kemudian setelah itu Reyhan menarik perlahan lengan tangan sahabatnya untuk mengajaknya mendaki pada bukit yang sedikit curam untuk dinaiki.
Usai berhasil sampai ke puncak bukit, Reyhan mengajak Freya lagi untuk duduk bersantai di situ dengan kedua kaki selonjor begitupun Reyhan sendiri. Mata indahnya Freya memandang sebuah danau yang nampak enak dilihat serta ikut memukau hatinya seperti pemandangan di daratan ini, namun setelah itu Freya sedikit melirik Reyhan yang tengah memejamkan matanya dengan bibir menyungging senyuman lebarnya. Ada yang membuat Freya bingung pada situasi ini, seingatnya ia Reyhan sedang Koma di rumah sakit tetapi herannya mengapa ia bisa melihat sosok Reyhan yang ada di sampingnya?
‘Aku gak percaya ini, bener-bener gak percaya ... setahuku Reyhan masih Koma di rumah sakit Wijaya kota Jakarta tapi kenapa aku bisa-bisanya melihat Reyhan di sini?? Huh, bikin bingung aja deh. Apalagi pakaian seragam yang dipake Reyhan sama persis pas dia sebelum masuk rumah sakit waktu minggu yang lalu hari jumat sore. Ditubuhnya juga ada sedikit cahaya, apa yang aku temui ini bukan raga sahabatku, melainkan arwah sahabatku.’
‘Eh tapi tunggu dulu, deh. Kalau Reyhan arwah berarti dia gak bisa megang aku dong tadi .. sebenernya maksud ini semua apaan sih? Hmmm, kayaknya aku harus membuktikan sendiri deh kalau aku ini lagi sedang mimpi.’
Freya mengangkat tangannya setinggi wajahnya kemudian mencoba menampar pipinya dengan cukup keras.
PLAKK !
“Sssshh aduuuhh! Kok sakit, sih?!”
Reyhan yang mendengar tamparan di sebelahnya langsung membuka matanya penuh dan menolehkan kepalanya ke Freya. Melihat sahabat gadis polosnya menggerutu sembari mengusap-usap pipinya yang memerah akibat sahabatnya tampar sendiri.
“Ya ampun Frey! Ngapain kamu tampar itu pipi?! Kan sakit kalau di tampar, tuh lihat .. sampe merah gitu, kan pipi kamu.”
“Sakit banget Rey, kirain enggak.” Freya berkata dengan nada sedikit merengek.
“Yaiyalah sakit banget, mana ada kalau di tampar itu gak sakit. Mati rasa dong, berarti.”
"Kamu ngapain sih pake nampar pipi segala, kayak gak ada mainan aja yang kamu jadiin sasaran."
"Aku tuh tadi mau buktiin kalau aku tuh di sini lagi mimpi, eh kok pas aku tampar malah kerasa sakitnya. Aku gak mimpi dong!!"
Reyhan menaikkan satu alisnya tak mengerti sama sekali apa yang dimaksud oleh Freya. Freya yang masih tak percaya ini semua adalah sebuah kenyataan fakta, dengan lancang gadis itu menampar pipi Reyhan agak keras.
PLAK !
“Adiuh! Kamu apaan sih Frey, masa aku giliran yang di tampar?! Salah apa aku sama kamu? Hhhh ... baru kali ini seorang Reyhan Lintang Ellvano di tampar sama cewek, biasanya aja di tampar sama kucingnya Angga, Takeshi.”
“Eh aduh maafin aku Rey! Sakit, ya?!”
“Pake ditanya, ya jelas sakit lah Freya sahabatku yang cantik bikin gemes!” Reyhan langsung mencubit kedua pipi Freya dengan begitu gemas karena tingkah lakunya barusan.
“A-aduh, ampun-ampun ...!”
Reyhan kemudian melepaskan cubitannya dengan terkekeh pada ampunan Freya. “Hehehehe ... kamu itu kenapa sih, Frey? Aneh banget deh tumben. Kalau kamu-nya udah ngerasa sakit akibat pipimu kamu tampar berarti sama juga dengan aku. Dan artinya kamu gak mimpi, emang kenyataan kamu bertemu aku di sini .. jangan pikir, aku arwah lho, ya. Emangnya aku gak tau, apa daritadi kamu ngobrol panjang lebar di batin hatimu??”
‘Dasar bodoh ... aku lupa kalau Reyhan bisa baca hati dan pikiran, haduh.’
“Hahaha, don't worry Beautiful. Lain kali tolong jangan lupain kalau aku punya kelebihan itu yak. Dan jangan pernah bilang kalau kamu 'dasar bodoh' kamu kan anak pinter, jangan ngomong gitu, lah. Oke Cantikku?”
Freya tersenyum mengangguk. Gadis berjiwa polos ini sudah terbiasa pada pengucapan Reyhan yang mengatakan 'Cantikku'. Dari SMP Reyhan selalu bilang seperti itu kepada Freya, yaa istilahnya setengah menggoda sahabatnya sendiri.
“Nah, sip deh kalau begitu. Mending kamu enak-enakan tidur saja di sini, aku mau bobok juga soalnya hehehehe.”
“Yaudah kamu tidur duluan aja nggak apa-apa kok. Aku mau lihat-lihat danau dulu dari sini, nanti aku nyusul, deh.”
“Widih, pake acara nyusul segala hahaha! Oke-oke .. kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu bilang pangeran ganteng sahabatmu ini, yak.”
“Hadeh ... iya deh Rey, iya.”
“Good job !”
Reyhan memberikan jari tangan kanan jempolnya pada Freya kemudian pemuda itu merebahkan dirinya dan mulai menikmati masa tidurnya dengan nyaman bersama semilir angin sepoi-sepoi tenang. Freya tetap duduk manis tak pergi kemana-mana, gadis tersebut masih memilih melihat-lihat pemandangan air danau yang berguna mencuci matanya dan menghilangkan rasa badmood-nya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Langit sore jingga begitu kencang anginnya hingga menerbangkan beberapa dedaunan pohon terbawa oleh hembusan angin. Sosok arwah gadis yang tengah duduk bersantai dengan wajah sumringah penuh kemenangan. Dingin tak mengapa karena Senja pakaiannya sangat hangat yaitu sweater wol Turtleneck berwarna hijau daun serta celana panjang berwarna krem.
Apa yang membuat Senja tersenyum kemenangan? Ya, ia berhasil membuat Youra, Febrie, dan Claudie malu berlipat-lipat ganda dan sengsara seketika. Ia juga puas telah membalas kejahatan kejamnya Youra dan kedua sahabatnya yang melakukan kriminal pembullyan terhadap Freya.
“Akhirnya gue berjaya buat lo bertiga semua sengsara! Enak bukan? Enak lah masa enggak hahahaha!”
“Bagaimana ya rasanya dipermalukan seperti tadi? Hmmm sangat menyenangkan bagi gue, dan ternyata ucapan seluruh anak-anak yang di sekolah sini mulutnya banyak yang pedes ya kayak mie Samyang daripada elo yang menjatuhkan harga diri Freya habis-habisan, Youra.”
“Gue harap lo kenang selalu sampe tua dengan perilaku tengik lo .. gue yakin banget lo pasti masih terbayang-bayang sama hinaan semua siswa-siswi hingga buat lo malu drastis setengah mati. Dan gue harap setelah kejadian yang memalukan tadi, lo pada kapok ganggu Freya lagi, ya tiga cewek pedar!”
“Yaaaahh, setelah kejadian yang mendebar heboh tadi, gue seneng. Seneng karna apa .. seneng Karna bales dendam gue ke elo bertiga telah terbalaskan dengan mulus!”
Senja mengangkat kedua tangannya ke atas langit dan berteriak sekencang-kencangnya.
“LO SENGSARA DAN GUE BAHAGIAAAA!!!”
Senja tertawa bahagia amat bahagia senang dan sukses membuat Youra melandai ke bawah karena di sulut-sulut hinaan parah kepada semua para siswa dan siswi tadi, terlebihnya Youra dibentak-bentak oleh Alexander Rosefel sang kekasihnya dikarenakan gadis hati jahat itu bermain fisik pada perempuan hingga terluka apalagi itu Freya yang sampai parah, hal itu membuat Alex terngiang-ngiang teringat oleh Almarhumah mamanya, orangtua yang pertama Alex cintai dalam hidupnya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Freya kini tengah tidur dalam posisi badan menghadap lurus sementara kepalanya menghadap ke kiri. Angin sejuk itu mampu membuat Freya nyaman berada di tempat tersebut apalagi bersama Reyhan, sahabat sang penghibur hatinya.
Entah gadis itu berapa lama tidur, Freya langsung mendengar suara alunan melodi gitar yang dimainkan oleh seseorang juru andalan bermain alat musik melodi ialah sebuah gitar. Terdengar sangat harmonis lantunan dari alat musik tersebut tiap dipetik senarnya, dan sekarang lantunan nada gitar tersebut dipadukan oleh suara seseorang yang nan merdu tanpa adanya Fals.
♫ Give me a reason
Why I'm feeling so blue
Every time I close my eyes
All I see is you
Give me a reason
Why I can't feel my heart
Every time you leave my side I just fall apart
And when you're fast asleep I wonder where you go
Can you tell me I want to know ♫
Freya bangkit posisi duduk dan kemudian bola matanya bergerak untuk mencari sumber suara lagu yang dinyanyikan itu, rasanya Freya sayup-sayup tahu suara siapakah itu hingga tibalah ia menemukan seseorang yang menyanyikan sebuah lagu POP Barat tetap bersama lantunan melodi gitarnya. Freya tersenyum hangat mengetahui yang menyanyikan lagu itu adalah Reyhan.
♫ Because I miss you
And this is all I want to say
I guess I miss you beautiful
These three words have said it all
You know I miss you
I think about you when you're gone
I guess I miss you
Nothing's wrong I don't mean to carry on ♫
♫ Uh oh uh oh
Uh oh oh
Uh oh uh oh ♫
Sandaran punggung di bawah pohon dengan dekapan gitar yang menjadi alat musiknya untuk Reyhan bernyanyi. Baru kali ini Freya mendengar Reyhan membawakan sebuah lagu Barat tahun 2002 diiringi gitarnya. Kaki kiri lurus sedangkan kaki kanan ia tekuk ia terus bernyanyi tanpa ada gugatan apapun.
Freya memutuskan berdiri jalan turun perlahan dari bukit tersebut lalu menghampiri Reyhan, nampaknya Reyhan tak sadar suara khas merdunya didengarkan oleh Freya dikarenakan pemuda itu menyanyi dengan mata menutup seakan-akan ia bernyanyi penuh penghayatan. Freya duduk kedua bersilang menghadap ke Reyhan dengan kedua tangan menopang antara dagu dan dua pipi halusnya, senyuman manis merekah di wajah gadis polos itu mendengarkan lagu yang sang sahabat nyanyikan.
♫ You know I miss you
This is all I want to do
I know it doesn't sound too cool
But maybe I'm in love with you
You know I miss you
This is all I want to say
I guess I miss you
Nothing's wrong I don't mean to carry on ♫
♫ I just miss you ♫
♫ Yeah ♫
♫ It's true I miss you baby
And when you're walking out the door
__ADS_1
I know I miss you
You make me want to ask for more
I just miss you ♫
Kini Reyhan sudah sampai di penghujung lagunya dan di akhiri petik senar gitarnya yang melantun dengan indah. Karena lagu yang Reyhan nyanyikan usai, pemuda itu menghela napasnya lega karena bisa merasakan nadanya lepas tak berat sekali untuk ia nyanyikan. Reyhan membuka matanya dan terkejut karena di depannya sudah ada Freya yang tersenyum sumringah.
“Wiiiihh! Keren banget suara kamu, Rey!” puji sorak Freya dengan bertepuk tangan.
“Eh? Eeee ... hehehehe gitu, ya? Aku baru pertama kali ini nyanyi lagu Barat, biasanya juga lagu Indo sih.”
“Hebat banget deh pokoknya! Jarang banget aku denger kamu nyanyi penuh penghayatan .. biasanya teriak-teriak gak jelas gitu.”
“Yeuuu ... udah pinter ngeledek, ya kamu Frey sama aku. Hmmm!”
Lagi dan lagi Reyhan mencubit gemas pipi Freya membuat sahabatnya kembali mengaduh-aduh. Pemuda itu yang melepaskan cubitannya juga kembali terkekeh pada tingkah laku jahilnya.
“Kebiasaan deh .. suka cubit pipi orang, nanti kalau pipiku gak bisa balik lagi gimana hayo?”
“Lah kok, nggak bisa balik lagi? Emangnya kulit pipimu terbuat dari adonannya alien yang di luar angkasa??”
"Ih bukan! Kalau kamu kebiasaan cubit pipiku begini, yang ada nanti ini pipiku jadi melar! Mending kalau nyubit itu sama plastisin aja deh sana, biar barang kali bisa ngatasin kegabutan aneh kamu.”
“Weist! Ngambek deh, hahahaha!”
“Huh, apaan sih malah ketawa. Gak lucu, tau!”
"Ututututu, iya-iya deh .. jangan ngambek dong, Cantik. Nanti kalau masih ngambek lebih dari sepuluh menit aku nikahin kamu sama Angga, lho.”
Freya yang memalingkan wajahnya karena kesal pada Reyhan langsung menatap Reyhan karena terkejut pada ucapannya yang sangat amat rese itu.
“Ih apa-apaan sih?! Kita kan, masih SMA belum lagi kalau sudah lulus, pasti langsung lanjutin kuliah. Lagian pikiranmu selalu aneh banget deh! Sampai kapanpun, aku sama Angga tetep sahabatan gak mungkin sampe nikah segala.”
"Ah masaaaa? Yakin gak kebalikannya??"
Sudah ingin rasanya Freya capit mulut Reyhan segera, gadis itu sungguh sebal pada sahabatnya yang selalu saja tak lupa ingatan kalau meledek antara dirinya dan Angga. Freya memilih mengembungkan kedua pipinya dengan tatapan berpaling dari Reyhan yang tersenyum jahil.
Melihat Freya yang bungkam dengan wajah raut kesal tergambar membuat Reyhan memiringkan kepala dan berkata, “Ngambek, kah?”
“Menurutmu?” ketus Freya.
“Yaelah hahahaha! Lama-lama kamu sama Angga sama yak, tukang ngambek hehehe.”
“Gak ada hubungannya, kali!” jutek sahabat polosnya.
Reyhan tertawa dengan menggelengkan kepalanya membuat Freya makin keki pada sahabatnya yang menertawakannya kembali, namun 2 menit kemudian Reyhan berhenti tertawa dan menghembuskan napasnya. Penat juga tertawa itu.
“Kenapa berhenti ketawa? Capek? Ayo terusin aja ketawanya, kalau perlu sampai hari maut!”
“Ups, waduh parah nih cewek. Lebih ngeri galak kamu ya daripada Jova .. iya deh iya, maafin aku ya hehehehe.”
Freya menatap Reyhan dengan tatapan lunak. “Jangan ulangi lagi, lho ya. Nanti kalau kamu ulangi ledekan yang sama lagi, tanganku bakal mencapai mulutmu buat capit bibirmu!”
“Ya ampun kirain buat cabik bibirku!”
“Jangan aneh-aneh deh Rey, aku bukan cewek berhati psikopat yang kayak di film-film Thriller. Hmmmm ...”
Reyhan yang lihat Freya berdeham seperti tengah akan mengatakan sesuatu, mulutnya menganga sedikit. “....? Kenapa, Frey?”
Bola mata Freya yang nunduk ke bawah, ia gerakkan mendongak untuk menatap Reyhan. “Aku mau tanya sesuatu sama kamu, tapi agak aneh sih kalau misalnya aku nanya ke kamu.”
“Lah? Emangnya kamu mau nanya apaan ke aku?”
Freya menegakkan badannya di posisi ia duduk menghadap Reyhan. “Secara nyata aku, kan di sini bisa lihat kamu. Kamu seperti ragamu. Maaf Rey, aku yakin kamu bakal gak ngerti deh pertanyaanku.”
“Astaga, kan kamu belum nanya apa-apa. Gimana aku gak ngerti atau ngerti. Coba deh sekarang kamu tanya aja semuanya, daripada nahan-nahan gitu.“
“Ehm, begini ... Rey, sebelum itu aku tau banget kamu ada di mana. Bukan di sini tapi di rumah sakit, yang aneh banget aku kenapa bisa ketemu kamu di posisi kamu baik-baik saja? Kamu itu kondisinya sedang Koma di rumah sakit. Makanya itu aku bingung kenapa aku bisa-bisanya bertemu kamu di sini apalagi secara logis, ini kenyataan bukan khayalan.”
“Koma?! A-aku Koma di rumah sakit?!” kejut Reyhan.
“Iya Rey! Tubuh lemah kamu sedang Koma di sana, akibat kecelakaan ketabrak mobil truk minggu yang lalu. Gak hanya mengalami Koma saja, tapi dua lagi yang kamu alami ... lumpuh dan terakhir Kritis.”
“B-beneran?! Kamu lagi gak ngarang cerita, kan?!”
“Buat apaan sih, aku sampai bohong sama kamu? Aku bercerita apa adanya. Itu yang hari ini masih aku pikir-pikir dalem otakku, di depan mata aku lihat kamu bisa berjalan, di depan mataku aku bisa lihat kamu yang baik-baik saja nggak bermuka pucet kayak setengah mayat.”
Reyhan terdiam dengan tatapan terpaku di dekat wajah cantiknya Freya yang intens menatap sahabat lelakinya. Tetapi beberapa menit kemudian Reyhan tersenyum pada Freya.
“Frey, kalau aku Koma mana bisa aku merespon segala omonganmu apalagi banyaknya pertanyaanmu tadi? Lagian juga yang paling jelas mataku terbuka, kan nggak merem tidur sama seperti orang yang lagi Koma. Sudah ya, mending kamu nggak perlu mikirin itu .. lebih baik sekarang kamu bersenang-senang saja di sini sama aku, sayang banget lho tempat yang bagus seperti ini kamu buat mood mu jelek.”
“A-aku takut kalau ternyata kamu sudah jadi arwah! Bukan karna takut suatu ketika kamu bakal mengubah wujud mu jadi nyeremin, tapi arwah dan manusia gak bisa selamanya bersama!”
Reyhan menempelkan telapak tangannya di kening sekaligus wajahnya yang menjadi tertutup, lalu lantas itu Reyhan melepaskan telapak tangannya tersebut. Mencoba menenangkan pikiran sahabatnya yang paniknya kumat.
“Hei-hei, dengerin aku dong. Aku ini bukan arwah seperti kamu kira. Nih ya aku panjat pohon aja masih pake atraksi manusia bukan atraksi setan yang melayang. Pikiran kamu tolong jangan negatif, lah Cantik ...”
Freya terdiam dan menundukkan kepalanya, Reyhan tersenyum ramah mengambil gitarnya yang ia letakkan di rerumputan. Reyhan perlahan meraih kepala bagian belakang Freya kemudian mengelusnya seperti yang ia lakukan pada kasih sayangnya dengan adik sepupunya.
“Mau nyanyi nggak? Aku iring pake gitar kalau kamu mau,” tawar lembut Reyhan.
Freya mendongakkan kepalanya. “Nyanyi lagu, apa?”
“Hmmm ...”
“Aha! Nih-nih, kamu tau gak lagu ini?”
♫ Once upon a time
Ada sebuah bintang
Yang bersinar terang di hatimu
Ku akan datang lagi
Menjemputmu dengan cinta
Kan kubagikan semua bintangku ♫
Seketika mata Freya berbinar. “Wah aku tau lirik nada lagu itu!”
Kemudian Freya menyambung lagu tersebut setelah reff pertama yang Reyhan nyanyikan bersama iringan gitarnya.
♫ Kumiliki bintang
Bukan bintang biasa
Ku bisa hapuskan semua dukamu
Ku tak akan menghilang
Slalu ada di hatimu
Memberi bintang hanya untuk cinta ♫
Reyhan menganggukkan kepalanya dengan tersenyum sangat ramah seraya terus memainkan gitarnya menjadi sebuah lantunan nada sesuai lagu yang Reyhan dan Freya nyanyikan. Dengan rasa kepercayaan diri antara mereka berdua, mereka mulai bernyanyi bersama-sama layaknya seperti melakukan Duet lagu POP.
♫ Dan yang terbaik
Selamanya bersama
Akan kubagikan
Bintangku demi cintamu
And when you keep on believing
Thousand ones can be sees by running
The miracles can do things though can't do ♫
Bernyanyi penuh gembira dan penghayatan yang sama serta duduk bersantai bersama di tepi danau yang amat luas. Suara khas nada merdu mereka sangat begitu pas menyanyikan lagu berjenis POP, tak ada yang menggunakan nada fals, semuanya di antara Reyhan dan Freya nada suaranya begitu sempurna. Hal itu Reyhan berhasil membuat pikiran hati gadis sahabat polosnya menjadi sungguh tenang.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Angga mengerem motornya perlahan saat telah tiba di depan gerbang rumahnya Jova, dengan segera Jova yang duduk menghadap samping langsung turun dari motornya Angga.
“Makasih ya Ngga, udah anterin aku sampe rumah.”
“Iya sama-sama, kalau begitu aku langsung balik ke rumah ya.” Angga berucap sembari mulai siap-siap menjalankan motornya.
“Oke, hati-hati di ja-"
Ungkapan Jova terhenti saat melihat Angga yang menundukkan kepalanya tiba-tiba dengan memegang kening bagian tengahnya yang kaca helmnya posisi terbuka.
“Ngga? Kamu kenapa?? Kepalanya sakit lagi, ya?!” cemas Jova mendekati Angga.
“A-aku nggak apa-apa kok, cuman agak pusing dikit.” Angga menegakkan badannya begitupun kepalanya. “Aku pulang, ya."
Jova bingung harus apa namun Angga nampak bersikeras untuk pergi pulang yang jarak arah jalurnya begitu jauh dari kompleknya Jova. Sayangnya keseimbangan Angga di motornya menjadi hilang mengakibatkan oleng ke samping.
“Woi!” lantang teriak Jova seraya menahan badan Angga sekaligus juga motornya.
“Ngga! Eh woi, bahayain nyawa kamu tuh! Cidera-mu pasti kambuh balik, nih! Ayo masuk ke rumahku dulu. Noh lihat di kaca spion, mukamu langsung pucet gitu lho!”
Bukan hanya sakit kepalanya yang menyerang tetapi juga dengan rasa mual di perutnya, sudah di simpulkan sakit Angga kembali mendatangkan kambuh. Jova tak mungkin membiarkan Angga pergi dalam kondisi Angga yang kembali seperti dulu apalagi pemuda ini mengendarai motornya di jalan raya.
Angga melepaskan helmnya langsung dan ia sampirkan di kaca spion motornya, terasa sangat berat sakit kepalanya karena memakai helm bahkan Angga sampai memijat tengkuknya dengan jari-jari tangan kanannya. Mata lelaki pemuda Indigo itu juga mengernyit kuat saking hebatnya sakitnya tersebut layaknya bak seperti di pukul oleh palu beberapa kali.
“Haduh ...! Udah ayo Ngga, mending kamu masuk dulu di rumahku. Kamu gak bisa pergi pulang kalau kondisimu lemes gini, bahaya nanti pas di jalan raya apalagi malem gini banyak truk-truk berlalu lalang. Aku gak mau loh kamu kecelakaan kayak Reyhan!”
“Kalau ngomong tuh jangan yang seperti itu bisa nggak, sih? Aku bakal baik-baik aja kok ...”
“Gak ada! Gak ada!” Jova menarik tangan kiri Angga. “Aku gak mau kamu kenapa-napa! Cukup Reyhan sama Freya yang di sana, kamu jangan!”
Angga menghembuskan napasnya dan pada akhirnya ia menuruti Jova, perlahan ia turun dari motornya dibantu oleh sahabat tomboy-nya. Benar saja, seluruh tubuh Angga mendadak lemas dampak dari kambuhnya cidera tersebut.
“Kudu aku papah, nih .. kalau enggak, kamu bakal bisa jatuh!”
Baru saja akan memapahnya, Angga sudah jatuh duluan karena keseimbangan tubuhnya kurang.
“Eh Ngga! Kamu gakpapa?! Hadeh, baru juga diomongin malah jatuh beneran. Sini-sini aku bantu kamu berdiri!”
Tepatlah itu, di jauh sana terlihat ada seseorang anak lelaki remaja berumur 14 tahun berjalan mendekat sembari menikmati hidangan makanan dinginnya di malam angin ini, siapa lagi kalau bukan Novaro si adiknya Jova. Sementara itu, Jova perlahan membantu Angga untuk berdiri.
“Kak Jova?! Bang Angga?!”
__ADS_1
Jova dan Angga kompak menoleh pada suara Nova yang memanggilnya setengah berteriak, saking beratnya rasa sakit pandangan milik Angga rada buram sehingga ia tak mengenal siapa yang memanggilnya ia dan juga Jova.
“Woi! Jajan malem-malem! Mana belinya es krim tusuk, lagi! Emang gak ada akhlak satu bocah ini!” sarkas Jova menunjuk Nova yang tengah asyik memakan es krimnya.
Nova yang sudah di dekatnya antara Jova dan Angga merasa tak terima dikata-katakan oleh kakak perempuannya. “Apaan sih, Kak?! Orang Nova beli es krim! Bukan nyolong! Itu kata-katanya di servis dulu aja, udah rusak masih aja di pelihara!”
“Maksud kamu mulutnya Kakak rusak, gitu?! Wah adek laknat sumpah! Nanti kalau ketauan sama mama papa kamu makan es krim malem-malem pokoknya Kakak gak mau tanggung jawab, lho ya!”
“Yaudah terserah, lagian mama papa lagi pergi keluar kok .. have fun deh bisa makan es krim malem-malem,” ujar Nova sembari menjilat-jilat es krim blueberry-nya.
Namun seketika itu Nova melihat Angga yang wajahnya sangat lemas. “B-bang Angga, okay nih?! Mukanya pucet bener!”
“Eh lupa bawa Angga ke dalem! Kasian anak orang kedinginan nanti, huh gara-gara kamu tuh, Nov!”
“Kok bisa-bisanya salah Nova nih lho?! Orang yang mulai Kakak, kok!”
“Udah-udah! Tuh mending kamu giring motornya bang Angga ke dalem teras rumah, Kakak mau bawa bang Angga ke dalem. Ayo Ngga, pelan-pelan aja nggak usah buru-buru.”
“Huhh!! Yaudah iya-iya! Kasian juga bang Angga lemes gitu gara-gara Kakak!”
“Nah, kan .. nah kan! Ujung-ujungnya pasti nyerang balik!” Jova setelah itu memutuskan memapah Angga sampai ke dalam rumahnya ialah ruang tamu sedangkan si Nova menggiring motor Angga ke dalam teras rumahnya.
Di dalam rumah usai membuka pintu, Jova menyandarkan punggung sahabat Introvert-nya perlahan di sandaran kursi sofa empuk miliknya. Tangan Angga meraih kepalanya untuk menyentuhnya, Angga menelan salivanya karena sakitnya yang belum mereda.
“Kamu tunggu dulu di sini, ya! Aku buatin teh dulu di dapur, oke?”
Angga menganggukkan kepala lemah dengan mata yang ia tutup, Jova beranjak dari sofa gesit pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat Angga. Nova masuk ke dalam rumahnya kemudian menutup pintunya tanpa ia kunci, anak remaja SMP kelas VIII itu menghampiri Angga dan duduk di sebelahnya sedangkan kedua tangan Angga meraba kancing jas almamaternya untuk membukanya.
“Sakit banget ya, Bang??”
Angga menganggukkan kepalanya tanpa bersuara. “Abang bawa obatnya, kan?” tanya Nova mulai ikut khawatir.
“D-dalem kantong saku celana ...” jawab Angga lirih.
“Nova keluarin ya, Bang biar nanti langsung diminum obatnya.”
Angga hanya memberikan anggukan kepalanya lagi, Nova kemudian merogoh saku celana SMA Angga untuk mengeluarkan bungkusan obatnya. Nova terkejut melihat bentuk obatnya Angga yang banyak berbentuk pil.
“Anjay! Ini obat sakit atau obat narkoba, yak?! Banyak bener jumlahnya.”
“Ya obat sakit, lah Nov! Masa obat narkoba?! Sahabatnya Kakak gak ada bermain macem-macem yang bikin meregang nyawa! Dasar ... oh ini Ngga, diminum dulu teh angetnya dilangsungkan minum obat juga gak masalah kok.”
“Gak Kakak kasih racun Baygon, kan tehnya bang Angga?!”
“Astaghfirullahaladzim! Emangnya Kakak sakit jiwa, apa?! Sahabat Kakak, ini! Bukan musuh bebuyutan!”
Kepala dan punggung Angga yang bersandar di sandaran kursi sofa, perlahan ia tegakkan lurus dan tangan yang memegang kepalanya ia gunakan untuk mengambil bungkusan obat yang di dalamnya berisi beberapa obat pil. Usai mengambilnya di atas meja, dengan tenaga lemas Angga tekankan bungkusan kemasan blister obat pil tersebut menggunakan jarinya untuk membuka dan mengeluarkan satu butir obat pil. Bersama teh hangat, Angga memasukan obat itu dalam mulutnya dibantu teh yang ia minum buat mendorong obatnya ke dalam tubuhnya. Angga sempat menurunkan gelas teh hangatnya yang dibuat oleh sahabatnya kemudian meneguknya teh tersebut hingga sampai setengah.
Pemuda itu lantas meletakkan gelasnya di atas meja, Jova yang sedari tadi memperhatikan Angga mulai bertanya, “Gimana Ngga? Udah agak mendingan?”
Angga menolehkan kepalanya dengan tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. “Makasih, ya. Maaf aku udah ngerepotin kamu.”
Gadis tomboy itu yang telah melepas jas almamaternya di dapur tadi mengibaskan tangannya dengan wajah menyengir. “Halah yaelah, gak usah pake bilang gitu kali Angga. Kita kan sahabatan udah dari lama, anggep aja ini rumahmu sendiri .. nggak usah berasa kayak tamu baru yang mampir di rumahku.”
Angga tersenyum mesem. “Oke-oke, aku paham kok. Hmm, kalau begitu aku pulang, ya.”
“Ya ampun baru aja sakitnya reda, masa udah mau pulang aja, sih? Di sini aja dulu. Lagian mama sama papa belum pulang, kok. Istirahat bentar mending dong sekalian pulihkan tenaga buat nanti kamu kendarai motor, coba lihat dari jendela .. anginnya sepai-sepoi gitu lho. Kamu juga gak boleh kedinginan, nanti aja pulangnya.”
“Gangguin istirahat kamu. Kamu harusnya mandi terus istirahat biar gak sakit, makanya dari itu aku pulang aja.”
“Nggak, lah. Aku di sini juga sekalian nunggu mama papa pulang- eh Nov, mama sama papa pergi kemana??”
“Gak tau sih Kak, orang tadi bilangnya 'pergi sebentar' gak tau kemana,” jawab Nova sambil bermain game Action-nya.
“Perginya pasti mobil kan, ya nah habis itu mama papa pake baju kondangan, nggak?”
Nova berhenti memainkan game-nya dan menoleh menatap kakaknya pada pertanyaan anehnya itu. “Ngapain coba pergi pake baju kondangan malem-malem segala?! Ya kagak, lah Kak! Aneh banget dah pertanyaannya. Pake baju kasual biasa gak pake baju macem-macem!”
"Oh kirain pake baju latihan Wushu,” ujar santai Jova.
“Malah nambah Stress!” kesal Nova.
“Bilang apa, kamu?!”
“Gak ada. Kalau gitu mending Nova pergi ke kamar dah, mau nge-game PS .. Kakak sama Abang lanjutin aja obrolan anak SMA-nya. Gak enak ganggu yang Nova sebatas seorang anak SMP.”
"Nah tuh, tau. Yaudah sana!” usir kakaknya.
Dengan wajah jengkelnya pada saudara kandungnya, Nova beranjak dari kursi sofa dan meninggalkan Angga serta kakak perempuannya.
“Nov, yang tadi thanks ya udah nolongin Abang.”
Nova menolehkan kepalanya ke Angga. “Oh soal motor Abang tadi? Asyiap! You re welcome, Bang. Udah ya Bang, Nova mau pamit ke kamar dulu.”
“Oke,” singkat Angga.
“Idih tumben pinter ngomong bahasa Inggris? Biasanya pinternya pake bahasa alien, tuh.”
“Ya lama-lama pinter lah! Yakali lama-lama makin dongo! Pikir pake otak dong Kakakku Sayang! Huh, nyebelin banget daritadi! Udah ah mending melipir ke kamar aja daripada kena Kualat hanya karna cuman ngeladenin Kakak!”
“Yaudah sana! Ke kamar tinggal ke kamar, gak usah banyak cemoles!”
Nova mempercepat jalan langkahnya meninggalkan kedua mereka yang masih duduk di kursi sofa, Angga menggelengkan kepalanya mendengar perdebatan antara sang kakak perempuan dan sang adik laki-laki. Jova yang juga rupanya jengkel pada Nova memilih menyadarkan punggungnya untuk melunakkan hati kesalnya pada adik satunya itu.
“Sama adik itu yang ngalah, jangan debat seperti itu. Nggak baik buat keluargamu nanti kalau keseringan debat gak jelas kayak begitu.”
“Beh, gak kamu aja yang keseringan debat sama Reyhan! Sampe pusing aku sama Freya dengerin kalian debat mulu! Ya, debat urusan cowok, sih.”
“Aku gak mungkin debat mulut kalau bukan Reyhan dulu yang mulai ngajak aku perang mulut. Sudah terbiasa sih kalau soal begituan, tapi bikin capek bener.”
"Nah tuh, kan! Tapi ya aku akui, gak ada Reyhan yang di sekitar kita rasanya aneh banget. Reyhan, kan kalau udah dateng langsung cosplay jadi pasar .. auto rame!”
Angga menampilkan senyumannya dan menghembuskan napasnya dengan wajah pilu, ditambah lagi sekarang sahabat kecilnya belum kunjung sadar juga di rumah sakit membuat Angga semakin tak bisa tenang sampai sekarang, rasa risau miliknya meliputi hatinya saat ini. Sebetulnya tadi Angga ingin sekali marah pada kelakuan pedar-nya antara tiga gadis yang bully Freya, namun Angga berhasil memendam emosi serta amarahnya yang nyaris memuncak. Memang sudah dasarnya, Angga mampu bisa meredam tindakan tersebut.
Sunyi senyap-nya ruang tamu karena tak ada pembicaraan lagi di antara Jova dan Angga. Tidak betah merasakan kediaman tempat, Jova memutuskan membuka obrolan yang tak lain bertanya pada Angga kembali.
“Angga, aku mau tanya penting nih soal sesuatu yang gak aku nyangka banget.”
“Apa?” tanya Angga dengan masih pandangan hadap depan.
“Tadi, pas kamu gendong Freya ke UKS .. aku nge-denger suara barang jatuh di salah satu dalem pintu WC. Karena aku penasaran, aku coba buka itu pintu dan tiba-tiba aku nemuin cewek yang gak aku kenal lagi berdiri di sebelah kloset. Menurutku dia bukan siswi Galaxy Admara, deh.”
“Lalu? Kamu masih inget ciri-ciri cewek yang kamu temukan di dalem pintu WC?”
"Inget kok. Rambutnya hitam panjang kayak Freya, pakaiannya itu anak cewek pendaki, badan semampai seratus tujuh puluh-an sentimeter kalau gak salah, dan ini yang paling terakhir .. cewek itu bukan manusia tapi hantu!”
Seketika setelah mendengar ciri-cirinya dari Jova secara seksama, Angga menolehkan kepalanya cepat. “Hantu?!”
“Iya! Nah itu yang pengen aku tanyain ke kamu banget, aku tuh bisa lihat makhluk gaib?! Kayaknya aku bukan anak Indigo sepertimu, deh!”
“Baru pertama kali ini, kamu lihat hantu?”
“Dua kali tepatnya sih, yang pertama arwah wanita, arwah cowok di Villa puncak hutan Bogor, yang kedua arwah cewek remaja tadi aku ceritain ke kamu.”
‘Apa cewek yang di lihat Jova tadi, Senja Intara Alandara? Ngapain setan itu di toilet, apa ada sesuatu di sana?’
“Aku bukan di teror kayak Reyhan, Ngga .. tapi aku dikasih tau soal orang yang ngelakuin kejam itu ke Freya. Awalnya aku gak percaya arwah cewek itu baik, tapi semakin lama-lama aku perhatiin dari gelagatnya, ternyata cewek arwah itu baik dan nolong aku buat nemuin pelaku yang udah bikin kekerasan fisik ke Freya. Udah aku curigai sama aku tebak! Kalau yang bikin Freya pingsan itu si geng Cewek Jablay genit!”
“Saat aku menerawang maksud yang dilakuin arwah cewek itu di lapangan, dia sengaja balas dendam perbuatan tercelanya Youra, Claudie, dan Febrie.”
"Gak bakal aku tanya kamu bisa seperti itu, udah terbukti jelas kamu itu anak Indigo!”
“Hmm. Aku juga baru tau kalau kamu bisa lihat sosok gak kasat mata kayak kelebihan ku, bisa jadi di salah satu keluargamu mempunyai indera keenam. Gini deh aku tanya sama kamu, kamu pernah denger atau sayup-sayup pernah dengar entah itu dari sepupumu, bibimu, pamanmu, kakekmu, nenekmu, atau mungkin terlebihnya orangtuamu sendiri kalau di salah satu antara mereka ada yang mampu melihat sosok gak terlihat?”
“Sori Ngga, aku kalau keterkaitan hal-hal gaib atau supranatural begitu, gak ngeh alias males. Jadinya aku gak tau dan gak mau tau pembahasan tentang arwah-arwah gitu. Tapi sekarang aku malah tertarik hubungan tentangnya makhluk gaib yang selalu kamu lihat dari semenjak masa dini.”
“Yaudah gakpapa kalau begitu.”
“Eeeenngg ... kamu nggak marah, kan sama aku? Atau malah sebaliknya?”
Sahabatnya menyunggingkan senyuman miringnya dengan sedikit mendengus, tatapannya tetap standar tidak marah atau sebagainya.
“Ngapain segala aku marah sama kamu? Cuman itu doang, kalau kamu nggak tau bagiku gak masalah kok. Suatu saat nanti pasti kamu bakal tau sendiri, oke?”
“Hm, oke. Huft ...”
Jova menghela napasnya dan kembali menyandarkan punggungnya di sandaran sofa begitupun juga dengan sahabat pemuda tampan Introvert-nya yang wajahnya tak sepucat tadi akibat kambuhnya cedera kepala tersebut. Sebentar lagi Angga akan berpamitan pada Jova untuk pulang ke rumah dikarenakan ini telah jam pukul 18.30
Tring !
Suara notifikasi WhatsApp grup berbunyi dari asal handphonenya Jova terkecuali Angga karena lelaki itu sengaja mematikan data selulernya, alasannya tak ingin terganggu aktivitasnya dengan suara notifikasi-notifikasi di ponselnya. Jova nampak intens sekali mengecek isi grup 'Kelas XI IPA 2 PRESTASI' yang tertera seorang satu Admin ialah pak Harry mengirim pesan chat melalui grup-nya kepada seluruh para siswa-siswinya. Banyak sekali beberapa kata pesan yang telah pak Harry kirimkan.
Angga yang sudah pastinya tahu siapa yang mengirim pesan chat tersebut langsung bertanya pada Jova. “Pak Harry ngirim chat apa, Va?”
“Wow, SMA kita diliburkan selama empat hari, lho dari chat-nya pak Harry. Alasannya karena kejadian peristiwa musibah yang dialami satu siswi, Freya. Mungkin besok para guru terang-terangan berunding soal permasalahan kriminal itu, deh. Huh! Aku harap mereka bertiga langsung kena kasus di tangkap polisi! Gak terima aku, Freya digituin sampe masuk rumah sakit terlebihnya sahabat kita belum sadar!!”
“Kamu pasti juga gak terima sahabat TK-mu dilukai separah itu gara-gara tiga cewek biadab, bangs*at, brengsek, bajingan, anak anjing itu!!”
Mulut Angga terbungkam saat itu juga saat mendengar suara ucapan tak pantas dikatakan dilontarkan Jova dengan hati amukan emosi. Tangan Angga mengulur dan mengusap-usap pundak sahabatnya untuk menghilangkan mencak-mencak Jova yang seperti gunung berapi meletus.
“Iya Va, iya ... tapi kamu jangan berbicara seperti itu, kamu itu cewek seharusnya perkataanmu di jaga,” tutur nasehat Angga dengan nada halus.
“Jadi, yang boleh ngomong kek begitu cuman cowok doang? Cewek gak boleh??” ketus Jova.
“E-enggak gitu juga, kali. Bukan begitu maksudku.”
"Abisnya aku udah terlalu muak banget sama mereka bertiga, Ngga! Bukanya tobat malah tambah maksiat! Mana ada sih sahabatnya terima kalau sahabatnya diberi kekerasan fisik apalagi termasuk mentalnya?! Kalau di dunia ini gak ada hukum, udah aku gorok lehernya mereka habis itu aku kirim ke danau biar di makan sama Deinosuchus!!”
Angga melongo tak percaya pada emosi Jova yang memuncak berlebihan. Seekor Deinosuchus tentunya adalah hewan reptil buaya yang berada di negara Amerika, dimana berat badan buaya yang dibilang punah dan diyakini masih hidup adalah 2.500-5000 kilogram dengan panjang tubuh dipercayai mencapai 10-12 meter.
Rupanya perempuan bisa mengalahkan amukan dari seorang lelaki contohnya Reyhan. Jova kalau sudah kumat emosinya seperti cacing kepanasan terkena sinar matahari, sukar untuk di lunakkan pastinya. Angga hanya bisa menenangkan hati sahabat tomboy-nya yang wajahnya telah merah padam, dengan terus mengusap bahu Jova.
Jova memejamkan matanya. “Untung libur beberapa hari, jadinya kamu bisa istirahat penuh di rumah.”
“Hm'em, tapi stop marah-marahnya, ya? Udah malem jangan banyak emosi .. nanti bisa cepet tua atau lansia kalau gitu caranya.”
“Ih, ogah lah! Masih pengen nikmatin masa muda aku tuh.”
“Nah kalau gitu makanya jangan sering marah-marah daripada beneran cepet tua. Aku cuman nasehatin lho ya, enggak doain kamu.”
“Hm, understand.”
“Oke, alright.”
Begitulah sikap Jova, sebenarnya sudah mirip dengan sikapnya Reyhan 12:12 bahkan banyak yang menjodohkan antara mereka berdua yang sangat sejoli itu, siapa lagi kalau bukan para teman-temannya? Mustahil, mereka berdua hanya sebatas saling setia dalam persahabatan, bukan saling setia dalam percintaannya. Bagi Jova dan Reyhan itu tak akan terjadi kalau mereka berdua sampai menjadi lebih dari sahabat atau berpacaran.
Sedangkan Freya dan Angga, mereka berdua selalu saja menjadi bahan pembicaraan para tetangganya hampir satu Komplek. Melihat keakraban Angga serta Freya bisa dikatakan sepasang kekasih atau saudara kandung dikarenakan mereka yang terlihat serasi dimata orang. Angga suka pada Freya bukan berarti cinta tetapi suka dalam sahabat yang mana sifat kepolosan Freya nang lewat batas serta kebiasaan uniknya yang suka kekanak-kanakan seolah-olah penghibur susana hatinya Angga.
__ADS_1
Hari yang lalu sebelumnya menyenangkan penuh canda tawa bersama, sekarang berubah total drastis menjadi senyap suram akan kejadian dimana salah satu sahabat di antara mereka tengah berada di ambang maut antara akan hidup atau tiada. Tanpa adanya alat penunjang hidup seorang Reyhan mungkin nyawanya sudah terangkat dan arwahnya menuju ke dunia akhirat. Malah hari ini ditambah oleh kondisi Freya yang penuh tanda tanya, gadis itu bukan Koma namun hanya masih pingsan belum kembali kesadarannya di RS Wijaya. Sungguh menghawatirkan hati Rani Lucas sang orangtua pemberi kasih sayangnya, serta Angga Jova sang sahabat setianya.
Indigo To Be Continued ›››