Indigo

Indigo
Chapter 56 | I Managed to Save You!


__ADS_3

Hari telah semakin berganti. Waktu-waktu telah banyak dilalui oleh semua orang terkecuali Reyhan yang masih terbaring lemah Koma, masa Kritisnya juga belum terlewati. Itulah yang ditakutkan kedua orangtuanya yang setia menjaganya, meskipun terkadang disalah satu orangtuanya ada yang pergi ke rumah untuk merawatnya sebentar lalu kembali lagi ke RS Wijaya. Kondisi Reyhan yang masih ditempat dan sama sekali belum ada perkembangan, tak bisa mereka tinggalkan anaknya begitu saja.


Dan sekarang di dalam ruang ICU, Jihan sedang mengangkat tangan kanan Reyhan untuk membersihkannya dengan handuk kecil yang beliau bawa di tas kecilnya. Tadi malam, saat selesai melakukan pemeriksaan pada Reyhan dokter Sam berkata bahwa semakin panjangnya Koma Reyhan, semakin kecil pula Reyhan untuk kembali sadar. Wanita paruh baya itu yang kini ada di dekat Reyhan kembali menangis terhisak, wanita itu sangat takut dan tidak rela kalau anaknya akan tiada.


Jihan menggenggam telapak tangan pucat dingin Reyhan dan menciumnya dengan air mata terus berderai. “Hiks! Reyhan, sudah tiga bulan kamu belum juga bangun, Nak. Mama nggak mau kalau kamu betul-betul tinggalin Mama sama Papa!”


“Kamu anak kesayangan satu-satunya dari Mama Papa, Sayang. Reyhan anak yang paling berharga buat keluarga, kamu yang paling mampu membuat suasana rumah menjadi kondusif dan hangat. Tanpa adanya kamu, Mama bakalan kesepian begitu juga dengan Papa. Sudah lama juga, Mama sama Papa gak denger suara kamu yang banyak celotehan panjang, yang jadi berisik banget. Gini-gini hati Mama di sini sepi, lho Rey.”


“Intinya Mama nggak mau kehilangan Reyhan, Reyhan pokoknya harus tetep kuat. Tolong, hanya itu saja yang Mama minta banget sama Reyhan,” ucap pilu Jihan seraya mengelus kepala anaknya.


Jihan dengan sangat rindu pada Reyhan, kembali memeluknya bersama mata yang beliau pejamkan. Sang ibu meletakkan kepalanya di atas dada sang anaknya yang hela napasnya masih begitu lemah begitupun detak jantungnya terdengar sepadan dengan lemahnya keadaan Komanya Reyhan. Di ruang rawat ICU hanya Jihan seorang yang menemani pemuda friendly itu, sedangkan Farhan berada di rumah beristirahat karena pria paruh baya berumur 50-an tahun itu tengah masuk angin.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Di ruang musik SMA Galaxy Admara, Angga yang penggemar musik tengah menyanyikan sebuah salah satu lagu Barat 'Westlife' dengan alunan nada merdunya bersama gitar hitam yang ada di dekapannya. Tak ada yang mengusik ketenangan Angga untuk bernyanyi karena ruangan itu kedap suara.


Pemuda tampan itu bernyanyi dengan merdu dan penuh penghayatan, karena ia memejamkan mata serta merilekskan pikiran, hal tersebut berpengaruh baik pada suara nadanya yang jarang ia bernyanyi semenjak baru 1 hari sahabat yang tak kalah tampan itu Koma. Di pertengahan Reff lagu, Angga berhenti memetik senar gitar untuk terus mengalun alat musik melodi tersebut. Pikiran rileks nya terbayang firasat-firasat tidak mengenakkan mengenai Reyhan waktu ia menjaga Freya di rumah sakit. Rasa untuk menaikkan mood harinya mendadak turun. Angga tak bisa tenang dalam waktu jangka yang lama selagi keadaan kondisi Reyhan masih memburuk.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Terlihat Freya dan Jova sedang melangkah bersama menuju ke ruang Perpustakaan untuk membaca buku novel di sana, namun disaat akan menaiki tangga lantai terakhir dua gadis itu mendapatkan Youra, Febrie, dan Claudie yang telah lama di Skors 3 minggu. Freya yang diberikan tatapan tajam sengit pada mereka bertiga yang dulu membully-nya, gadis itu menutupi wajahnya di bahu Jova karena saking takutnya, bahkan tangan yang bergandengan dengan Jova ia genggam saking takutnya kalau ia di lukai atau di kata-katai yang membuat hatinya sakit.


Tangan kanan Jova yang tanpa di gandeng oleh sahabat polosnya, gadis tomboy itu meraih kepala belakang sahabatnya dan mengusapnya dengan lembut. “Udah, nggak apa-apa. Tenang, aku di sini kok. Mereka gak bakal bisa macem-macem sama kamu kalau ada aku.”


Saat melangkah ke tangga, Jova yang sebagai pelindung tameng untuk Freya, menatap ketiga gadis hati Kriminal tersebut dengan sangat tajam dan kata-kata pengancam buat mereka keluar dari mulutnya Jova. “Sekali lagi lo bertiga ngelukai Freya dalam bentuk apapun, inget ini ... lo semua bakal habis di tangan gue!!”


Youra dan kedua sahabatnya yang sama-sama mempunyai hati bengis dan tukang pembuat keonaran di SMA elite tersebut, berdecih keki seraya melirik Jova yang menaiki tangga bersama Freya yang tengah diam ketakutan. Meskipun Freya berusaha untuk menjadi gadis pemberani untuk menghadapi siswi-siswi yang selalu mengganggunya dan sering mencari masalah, rupanya ia tak cukup nyali buat berani pada mereka, jangankan berani menghadapinya, karena mereka telah bermain fisik kelewatan batas kepada gadis polos itu, Freya juga tak berani lagi untuk bertatapan mata pada mereka bertiga yang sering dijuluki 'Cewek Jablay'.


Tak terasa Jova begitupun Freya sudah melangkah di undakan tangga terakhir, sekarang mereka tinggal menyusuri lorong kelas XII dan menuju ke ruang perpustakaan tujuan mereka yang sebenarnya. Dan sesampainya di ruang perpustakaan, ruangan tersebut begitu sangat sunyi dan sepi. Tak ada siswa dan siswi pun yang di dalam ruang perpustakaan kecuali kedua siswi ini yang sangat suka membaca buku dunia fiksi.


Guru penjaga perpustakaan juga tak terlihat entah sedang pergi kemana. Dua gadis sahabat tersebut acuh tak acuh dan memutuskan semakin ke dalam ruangan untuk mencari buku novel favoritnya masing-masing.


Freya tersenyum sumringah saat mendapatkan buku novel genre Fantasi yang ia inginkan, sementara di kiri gadis polos itu sedang sibuk mencari-cari buku novel genre Horor yang ia gemari. Seorang Jovata Zea Felcia yang dulu suka bertengkar pada Reyhan hanya karena sahabat lelakinya membaca novel tentang mengandung unsur menyeramkan dan di penuhi nuansa mistis, kini Jova malah menyukai novel genre Horor seperti Reyhan.


Sampai tiba-tiba saat sedang berkutat diri mencari buku genre yang menjadi favoritnya, ia menemukan salah satu buku yang bercover bentuk jam dinding nang sedikit transparan, judulnya juga membuat Jova menaikkan kedua alisnya kemudian menyusutkan keningnya sambil membolak-balikkan buku novel yang gadis itu pegang.


“Wah, covernya keliatannya menarik tuh. Judulnya apa, Va?” tanya Freya seraya berjalan mendatanginya.


Jova menyengir dengan kedua alis ia tarik-kan ke bawah. “Koma.”


“Hah? Seriusan kamu mau baca novel itu?? Eh tapi bentar deh, memangnya ada ya Koma yang dijadikan cerita novel? Mana masuknya di genre Horor, lagi.”


“Ini buktinya ada di tanganku. Hmmm, nggak ada salahnya kan kalau aku baca ceritanya? Yaudah yuk, mending kita baca bukunya keburu nanti malah bel istirahat selesai.”


Freya mengangguk setuju dan berbalik badan untuk berjalan mengarah ke meja dan kursi khusus membaca buku novel yang tak jauh darinya begitupula dengan Jova.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Di komplek Permata, Lucas tengah meminum kopi di ruang keluarga namun saat sudah tiga kali tegukan, Lucas dengan reflek meletakkan cangkir tersebut di meja secara tak santai membuat istrinya yang memperbaiki 3 kancing kemeja yang terlepas dengan cara menjahitnya, begitu terkejut karena suara tersebut yang kena reflek suaminya.


“Kenapa sih, Yah?” tanya Rani berhenti melakukan kegiatannya.


“Ma, walau kejadian itu sudah lama banget ya tapi Ayah masih nggak terima Freya diperlakukan seenaknya seperti itu seperti preman yang di hajar secara brutal!”


Rani menghela napasnya dengan menipiskan bibirnya. “Mama juga seperti sama Ayah, tapi Ayah inget kan waktu Freya masih di rawat dalem rumah sakit Wijaya?”


Flashback On


“Nak, kamu tau lokasi alamat rumah Youra, Febrie, sama Claudie?” tanya Lucas dingin.


Freya meringis mendengar pertanyaan sang ayah. “Ayah kenapa tiba-tiba tanya alamat rumah mereka bertiga?”


“Lihat keadaan kamu yang seperti ini, Ayah mau laporin tiga anak itu ke polisi!”


Freya dan Rani sama-sama kaget mendengar jawaban Lucas yang raut wajahnya begitu marah dan tak terima atas semua itu. Freya yang bersandar di ranjang pasien manual langsung bangkit posisi duduk dan menatap kejut ayahnya.


“J-jangan Yah!! Freya mohon jangan laporin Youra, Febrie, Claudie ke polisi! Kasihan mereka kalau di penjara!”


“Kenapa kamu kasihan? Mereka sudah buat kamu masuk rumah sakit, lho Nak!!! Peristiwa itu sudah termasuk kasus kriminal, kalau mereka dibiarkan mereka akan selalu menindas kamu!!”


“Tapi Freya sudah nggak apa-apa kok! Freya juga udah mulai sehat, jadi lebih baik tolong jangan memperbesar masalah ya, Yah? Lagian kejadian itu sudah berlalu, kok. Begitu juga dengan pak Harry, pak Harden .. jangan laporin Youra, Claudie, dan Febrie ya Pak. Saya sudah baik-baik saja kok, luka saya juga tidak terlalu parah bahkan cidera. Tolong ya Pak, Yah?”


Flashback Off


Lucas yang mendengar Rani bercerita pada masa yang telah lampau, bersedekap di dada dengan menyenderkan punggungnya di sandaran sofa. Pria itu memejamkan matanya sejenak sementara Rani terus menatap suaminya. 2 menit kemudian, akhirnya Lucas bersuara dan menatap sang istri yang tersenyum manis dengan wajah teduhnya.


“Apa mereka bertiga bisa dipastikan nggak ganggu anak kita lagi Ma, setelah di Skors tiga minggu? Ayah khawatir anak kita ada insiden lagi di sekolah. Kalau bukan anak kita yang memohon untuk tidak melaporkan tiga anak siswi bejat itu, Ayah gak segan-segan laporkan mereka. Biar tahu rasanya di kurung dalam penjara.”


Rani mengelus bahu suaminya dengan penuh rasa cinta. “Sudah Yah, Freya kan ada sahabat-sahabatnya di sekolah apalagi ada Angga juga lho di sana. Mama rasa mereka bertiga takut kalau sudah berurusan dengan Angga, nggak hanya sahabat kecilnya aja tapi Jova yang mantan bela diri katanya.”


“Iya. Karate, kan?”

__ADS_1


“Nah itu Ayah tau, sudah ya Yah. Ayah jangan banyak pikiran ke Freya nanti Ayah malah cepet mudah sakit.”


Lucas menghembuskan napasnya membuang rasa amarahnya dan cemas-nya, kemudian pria paruh baya tersebut mengangkat cangkir kopinya dan mulai menyeduh kopi panasnya hasil buatan Rani, sementara Rani yang ada di tepat sisinya Lucas kembali juga melanjutkan aktivitasnya menjahit.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Freya membuka lembaran halaman berikutnya pada buku novel Fantasi-nya yang berjudul 'Time Loop To 'The Kingdom World 1876' sedangkan Jova mengubah mukanya menjadi raut konyol sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“Va, kamu wajahnya kenapa begitu deh? Kayak mumet ngerjain tugas Matematika atau Fisika, aja hahaha.” Freya tertawa pelan karena di dalam ruang perpustakaan dilarang berisik.


“Ini Frey, aku agak aneh aja sama ini alur ceritanya. Tapi aku juga rada-rada kagum sama cerita novelnya. Kayak Reyhan nggak, sih?”


“Apanya yang kayak Reyhan? Mukanya??”


“Nggak mungkin mukanya, kan ini cuman cerita tulisan, bukan film. Ini tuh ceritanya si tokoh utama Koma karena gara-gara kecelakaan ketabrak mobil truk tapi truk Pertamina, pas sudah dilarikan ke rumah sakit cowok protagonis yang menjadi salah satu tokoh utama di novel ini dia dinyatain lumpuh dan Koma dibarengi keadaan Kritis. Kekurangan oksigen dalem otak sih yang jadi berakibat Koma.”


“Waduh, udah sama kayak Reyhan dong itu mah kejadiannya. Terus, yang buat mukamu begitu apaan? Aku yakin banget itu bukan sekedar kesamaan apa yang Reyhan alami sampe sekarang.”


“Aku baru tau lho, ada jiwa terpisah dari raga. Kayak di dalem cerita novel yang aku baca. Ini genre Horor atau Fantasi, sih? Salah kasih tempat buku deh keknya si pak Arya.”


“Fantasinya bagaimana coba?” tanya Freya yang justru malah penasaran sampai menutup buku novel Fantasi-nya yang baru sampai tiga Bab gadis itu baca.


“Apa ini ada kaitannya sama Reyhan kali, ya? Masa iya sih dalam keadaannya yang Koma sampe selama ini Rohnya melayang ke suatu alam tempat? Bunga mimpi gak sih kalau diartiin?”


“Gimana yaa, aku juga bingung. Tapi sih kalau Reyhan lagi mimpi, emangnya dia mimpi apaan? Apalagi sampai tiga bulan ini.”


“Kalau di cerita bacaan ini sih, Rohnya sedang berjuang untuk kembali ke raganya yang lagi Koma di rumah sakit. Alurnya samar-samar Fantasi, terus alur Horor-nya kuat banget. Aku aja sampe merinding nih karna terlalu mendalami novel ini.”


Jova memiringkan kepalanya dengan bola mata melirik ke atas. “Hebat bener ye yang ngerangkai cerita ini apalagi ditambah imajinasinya sangar.”


“Biasanya sih kalau yang sampai dibukukan dan diterbitkan, Author-nya sudah profesional banget. Anak seusia kita saja ada yang sudah hebat namanya buat naskah novel, mungkin anak SD atau SMP ada yang bakat.”


“Betul. Ehm tapi, gak mungkin deh kalau Rohnya Reyhan sama seperti di cerita yang aku baca. Novel kan cerita hasil karangan penulis dan belum tentu kalau itu benar-benar ada di dunia nyata, mending gak aku pikir-pikirin, lah. Oh iya Frey, Angga kemana yak? Kok dari tadi perasaan aku gak lihat anak itu?”


“Nggak tau, sih. Mungkin lagi nenangin diri di suatu ruangan atau lagi adem hati di Rooftop sekolah.”


“Angga kebiasaan, apa-apa suka menyendiri. Gak pernah tuh sekali-kali nimbrung ngobrol sama temen-temennya, boro-boro gitu, sama sahabat-sahabatnya juga harus diomelin sama Reyhan!”


“Udahlah, maklumin aja sifatnya Angga begitu. Yang penting dia cowok yang baik gak kayak anak cowok berandalan.”


“Yakali Angga cowok berandalan, orang dia kan anak rumahan. Nongkrong bareng lainnya aja bawaannya suka malesan. Tapi meskipun begitu, Angga paling rela yang namanya ngorbanin diri buat kita semua.”


Freya menggertak giginya dengan wajah resah. “Udah ih jangan di bahas yang tentang itu, gak bisa ngebayangin kalau kejadian itu terjadi lagi sama Angga buat kedua kalinya.”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Hari ke 7 ialah hari Minggu.


Angga membuka matanya perlahan lalu menatap apa yang pemuda itu lihat. Angga mengerutkan keningnya, ia sebelumnya belum pernah memijak tanah tersebut yang di lingkungannya begitu gelap di tambah mengerikan.


“Apa gue ada di alam mimpi?” tanya Angga sendiri seraya berjalan menyusuri tempat asing tersebut.


Cprat !


Angga tak sengaja menginjak genangan air darah di bawahnya membuat sepatunya bernoda darah yang masih segar. Angga baru menyadarinya bahwa ada sebuah jejak darah sepatu yang mengarah lurus ke pintu reyot coklat yang posisinya tertutup rapat. Angga mengikuti jejak itu sampai-sampai ia menghembuskan napasnya kasar saat akan membuka pintu reyot itu.


“Pintu yang sudah tua begini kenapa pakai di gembok segala?!”


Tak ada jalan lainnya selain harus membuka pintu reyot tua tersebut, dikarenakan di belakangnya adalah jalan buntu. Angga masih tak mengerti maksud dari mimpi ini apa, mau tak mau ia perlu mencari kunci untuk membukakan gembok besi yang sedang ia pegang. Angga celingak-celinguk mencari keberadaan kunci gembok tersebut, hingga akhirnya ia mendapatkan beberapa jerami bentuk kotak yang disandarkan di tembok batu bata. Angga segera melepaskan gembok itu dan pergi ke jerami-jerami itu, siapa tahu rupanya kunci itu tersembunyi di jerami tersebut.


Angga menyingkap para jerami itu dan sedikit membuka-buka dalam jerami tersebut. Pikirnya, kunci itu di selip ke dalam jerami. Namun ia tak menemukannya sama sekali. Angga menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap sekeliling untuk mencari-cari kunci yang susah sekali ia jumpa. Akan tetapi, Angga tak mudah menyerah begitu saja hanya karena benda kecil untuk membuka pintu reyot tersebut.


Kini mata Angga terpusat di genangan air darah di atas tanah usai pemuda itu berbalik badan. Angga mempunyai feeling kalau kunci itu ada di dalam genangan darah yang tadi ia tak sengaja menginjak air tersebut yang membuat sepatunya kotor. Angga berjalan kembali dan berjongkok di hadapan genangan tersebut. Terpaksa ia mencelupkan salah satu tangannya untuk mencari secara meraba-raba kunci yang mampu membuka gembok pintu reyot yang ada di belakangnya.


Disaat tangan Angga bergerak meraba letaknya kunci itu, munculah sosok sahabat yang tak mungkin ia tak ingat di bayangan genangan air darah tersebut. Kedua mata Angga terbelalak sempurna disaat sosok sahabat itu merupakan wajah Reyhan yang terdapat goresan luka, bibir yang pucat disertakan rambutnya yang acak-acak berantakan. Mukanya tergambar jelas meminta tolong, baru saja Angga akan mengeluarkan vokal huruf R untuk menyebut nama Reyhan, wajah bayangan betul-betul sahabatnya itu menghilang dalam sekejap mata, dan bersamaan setelah melihat sosok Reyhan Angga seperti menangkap benda kecil yang lumayan panjang.


Di seraya mulutnya menganga, Angga mengangkat tangannya yang berlumuran darah tepat ia telah memegang benda yang belum ia ketahui. “Akhirnya! Dapet juga ini kunci!”


Benar dugaan Angga, ia memegang kunci emas itu kemudian cepat-cepat berlari ke arah pintu reyot tua daripada membuang-buang waktu. Angga sedikit mengangkat gembok aluminium itu untuk memudahkan ia memasang kunci emas tersebut. Angga lantas itu memutar kunci yang berhasil ia temukan meskipun tadi cukup rumit menjumpainya.


Cek !


Cek !


Ckrek !


Usai berusaha membuka gembok itu yang dalamnya sudah berkarat karena tua, akhirnya Angga berjaya membuka gembok aluminium. Tak sampai di situ saja, Angga perlu melepaskan rantai besi yang mengikat kuat di bagian gagang pintu reyot.


Angga menjatuhkan rantai besi itu begitu saja di tanah setelah melepaskannya kemudian perlahan tangannya membuka pintu reyot tersebut yang aura dalamnya mulai terasa mencekam-nya.


Krieeeeettt !!

__ADS_1


Suara decitan pintu terdengar nyaring sampai ke masing-masing telinga Angga hingga pemuda Indigo itu memicingkan kedua mata sipitnya. Tempat ini memang sudah tidak masuk akal, bagaimana mungkin di tempat seperti rumah terbengkalai tadi terhubung tempat gua yang asal seharusnya di hutan?


Kaki Angga melangkah masuk ke dalam gua yang banyak sekali jaringan laba-laba di seluruh dinding kanan kiri serta di atas pun juga terdapat jaringan hewan kecil ialah laba-laba berwarna hitam. Tiba pada akhirnya suatu salah satu organ sebagai untuk nyawa manusia yang Angga nampak.


“Jantung?!”


Keringat dingin Angga bercucuran dengan deras. Yang ia lihat bukan jantung seukuran milik manusia namun ukurannya sangat besar layaknya jantung raksasa. Apalagi yang membuat Angga enggan maju mendekati organ jantung raksasa tersebut, jantung itu berdenyut-denyut seperti cara kerjanya jantung normal pada umumnya.


“Uhuk ... tolong ...”


Angga yang terdiam tanpa ada niatan maju mendatangi organ raksasa yang pertama kali ia lihat depan mata, tiba-tiba ia mendengar suara Reyhan yang meminta tolong dengan nada amat sangat lemah. Mendengar suara sahabatnya, Angga menjadi berlari ke jantung tersebut yang penuh dengan lumuran darah dan lendir yang menjijikkan.


“Reyhan! Lo ada di dalem sana?!” Tak ada jawaban respon usai ia berlari. Angga yakin sekali ia tak sedikitpun dijebak oleh makhluk apapun. Yang jelas sekarang Reyhan membutuhkan pertolongan.


Pikiran Angga mendadak kalut untuk mengeluarkan Reyhan yang menurutnya sahabat itu ada di dalam organ jantung raksasa yang nempel di tembok gua. Kepala Angga bertoleh kanan kiri secara giliran mencari benda tajam untuk membuka organ tersebut.


“Sialan! Gue harus gimana- eh?!” Mata Angga menangkap benda tajam di pojok tembok kanan organ jantung raksasa yang masih ada detak denyut.


Angga menghampiri sebuah parang yang tergeletak di sana. Angga membungkukkan badannya untuk memungut parang tersebut yang sangat berguna membelah jantung raksasa yang kini Angga lirik dengan bola mata.


Sembari membawa parang tajam, Angga berjalan cepat ke hadapan organ jantung raksasa tersebut yang firasatnya berkata bahwa sahabatnya ada di dalam sana. Kemudian setelah ada di depan organ itu, Angga mengangkat parang tersebut setinggi-tingginya sampai ujung atas organ jantung lalu menusuknya dan mulai membelahnya dari atas sampai ke bawah. Walaupun tangan Angga gemetaran dikarenakan baru ini ia membelah organ tubuh apalagi jantung manusia.


Sayatan yang Angga berikan sampai ke bawah, munculah kini cairan hijau tua yang siapapun mencium baunya akan terasa pening kepalanya. Cairan hijau berupa racun mematikan itu tumpah ke tanah. Angga bisa melihat dari luar terdapat jelas Reyhan terbaring lemah bersama ikatan tali tebing yang membelenggu kedua tangannya dan juga kedua kakinya. Angga susah menggapai Reyhan untuk menariknya bebas keluar, hingga satu terpikirkan oleh pemuda Indigo tersebut. Angga melihat ternyata organ jantung raksasa itu digantung dengan akar besar yang berduri.


Satu-satunya cara untuk cepat mengeluarkan dari organ raksasa tersebut yaitu melompat tinggi dan memotong akar besar itu. Ya, Angga mendongakkan kepalanya kemudian melompat tinggi sebisa mungkin, disaat Angga telah lompat dengan cekatan langsung sebelum ia jatuh mendarat ke bawah, ia memotong langsung akar besar tersebut tanpa adanya gagal.


Bersamaan organ jantung raksasa itu jatuh tergeletak Angga menjatuhkan satu lututnya dan langsung tak sengaja menatap sahabatnya yang harus dikeluarkan dari dalam organ raksasa tersebut. Angga membuang parang yang sebagai alat untuk membantunya, kemudian berdiri dan menyingkap sisi belahan jantung dan kemudian mengangkat badan Reyhan untuk ia seret keluar. Sebelum itu, Angga perlu menahan napasnya sampai ia berhasil membebaskan sahabatnya dari perangkapan menjijikkan itu.


Angga terus menyeret Reyhan dan memungkiri racun cairan hijau mematikan tersebut. Setelah merasa sudah cukup jauh dari cairan itu dan organ jantung raksasa yang sudah tidak lagi berdenyut usai manusia sahabat pemuda Indigo itu berjaya dikeluarkan. Angga membuang napasnya lepas sesudah ia tahan demi keselamatan nyawanya sendiri dari racun cairan hijau itu yang mengeluarkan asap-asap kecil, semampu-mampu dan kuatnya Angga ia tidak bisa menahan napasnya dalam waktu jangka lama.


Angga membaringkan pelan tubuh Reyhan di tanah, lalu Angga berjongkok tepat di sebelahnya Reyhan terbaring. “Rey? Lo bisa denger suara gue??”


Mata Reyhan yang terpejam begitupun mulut pucatnya yang bungkam membuat Angga sedikit panik terhadapnya. Angga mencoba menepuk-nepuk pipi Reyhan yang terdapat goresan luka. “Rey, ayo bangun!”


Reyhan tetap tidak bergeming, sudah menduga sahabatnya tengah tidak sadarkan diri. Sahabatnya kemudian melepaskan tali-tali yang mengikat kuat di pergelangan kedua tangan Reyhan begitu juga di pergelangan kedua kakinya. Usai sudah, Angga memutuskan memutar badannya membelakangi Reyhan sembari mengangkat dua tangan lemas sahabatnya untuk membopongnya ke belakang punggung.


Tiba-tiba gua berguncang hebat seperti akan runtuh, Angga secepatnya mungkin mengangkat Reyhan ke punggungnya kemudian dengan sekuat tenaga maksimal, Angga bangkit bersama membawa Reyhan pergi dari tempat aura mengerikan itu. Baru saja melangkahkan kaki seraya menahan beban Reyhan, Angga merasakan ada benda besar yang mengikutinya. Saat menolehkan kepalanya ke belakang, Angga terkesiap dari jauh sebuah batu bulat raksasa menggelinding cepat ke arahnya begitupun Reyhan yang ia bawa.


“Kalau gue diem aja di sini, bisa-bisa Reyhan dan gue bakalan jadi geprek!” Angga mengucapkan itu seraya berlari kencang dari kejaran batu raksasa tersebut.


Di pertengahan tempuh lari marathon, Angga melihat lorong masuk yang bercahaya putih seolah itulah jalan keluarnya. Angga menambah kecepatan langkah larinya agar sampai tiba masuk ke dalam lorong cahaya itu.


“Ngga ...” panggil Reyhan lemah usai tersadar dari pingsannya.


Angga melirik ke belakang dengan tersenyum lebar. “Tenang gak usah takut, lo hari ini selamat Reyhan dan lo nggak mungkin mati!!”


Mata Reyhan yang setengah buka menatap Angga dan mengukirkan senyuman lemah. “Makasih, lo sudah nyelametin gue ...”


Angga mengangguk kepalanya semangat. Tak terasa Reyhan dan Angga telah akan memasuki lorong bercahaya tersebut. Ini terakhir Reyhan disiksa dalam tempat asing itu, berkat kehadiran sahabat setianya untuk berniat menolong dirinya, Reyhan akhirnya terselamatkan dari ancaman nyawanya.


Swlash !


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


“Mas? Mas bangun, Mas.”


Angga mengernyitkan matanya merasa terusik pada panggilan salah satu perawat, Angga kemudian membuka matanya dan mengerjapkan beberapa kali. Punggungnya sangat pegal karena posisi tidurnya yang membungkuk sementara kepalanya ada di atas ranjang pasien milik Reyhan.


Angga tersentak dan terbangun posisi duduk dan menatap sekeliling ruangan. “Eh Dok, Sus?! Ada apa ya?!”


Dokter Sam tersenyum ramah pada Angga yang terlihat linglung usai terbangun dari mimpinya. “Mohon maaf ya, Angga. Ini sudah waktunya untuk Dokter melakukan pemeriksaan pada Reyhan. Bisa menunggu di luar sebentar?”


“B-bisa Dok! Bisa, saya minta maaf sekali karena telah ketiduran di sini. Maaf Dok, Sus.”


“Tidak apa-apa, Mas.”


Angga tersenyum hambar pada salah satu perawat lelaki yang menjawabnya dengan sopan. Angga segera melepaskan genggamannya dari lengan tangan kiri Reyhan lalu beranjak dari kursi kemudian melangkah keluar dari ruang rawat ICU. Di luar, ia di tatap senyum oleh Jihan, Farhan, Jova, dan Freya.


“Hayolo, malah enakan tidur di dalem,” ucap Jova dengan cengar-cengir.


“Apaan, niatnya aku gak tidur malah ketiduran,” jawab Angga dengan mengusap tengkuknya yang dingin.


Angga berjalan dua langkah dan melihat dokter Sam yang telaten memeriksa perkembangan kondisi Reyhan yang Koma panjang. Usai menyorotkan kedua mata Reyhan dengan cahaya senter kecil medis dan memeriksa detak jantung milik Reyhan dengan Stetoskop, dokter Sam menengok layar monitor pendeteksi jantung. Sang dokter lantas itu nampak sedang berdialog pada para perawat yang salah satu perawat tengah mengecek kantong cairan infus dan kantong darah yang digantung di tiang infus.


Tak berapa lama menit kemudian setelah melakukan pemeriksaan, dokter Sam keluar tanpa perawat-perawat yang masih di dalam. Senyuman yang merekah di wajah sang dokter sepertinya beliau akan berkata sesuatu bahkan beliau ditatap serius oleh ketiga sahabat Reyhan dan kedua orangtuanya Reyhan.


“Pak, Bu, Nak ... saya ingin menyampaikan kabar baik untuk kalian.” Seketika mereka berdiri dari kursi tunggu terkecuali Angga yang masih berdiri.


“Reyhan akhirnya telah melewati masa Kritisnya yang begitu panjang, namun mohon maaf ya Pak, Bu. Sampai sekarang ini Reyhan belum ada tanda-tanda untuk bangun dari Komanya. Tapi setidaknya ada jalan perkembangan Reyhan sedikit demi sedikit, semoga saja dengan Reyhan berhasil melewati keadaan Kritisnya ada keajaiban dari Allah untuk membangunkan Reyhan Lintang Ellvano dari Koma panjangnya.”


‘S-sahabat gue berhasil melalui masa Kritis?! Itu artinya dari semua perjalanan mimpi gue tadi adalah sebuah pertanda?! ’

__ADS_1


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2