Indigo

Indigo
Chapter 126 | Guarded And Protected


__ADS_3

Setibanya di rumah Freya, kini sekarang Angga yang mengenakan jaketnya kembali usai ia kenakan untuk sahabat kecilnya, tengah menceritakan apa yang telah terjadi dengan Freya di tempat clubbing tadi bersama Gerald sang mantan sahabatnya pada kepada kedua orangtuanya gadis cantik tersebut yang sekarang Freya sedang berada di atas kamarnya buat menenangkan diri di sana.


Angga menghela napasnya panjang setelah menyelesaikan cerita faktanya mengenai Freya dan Gerald di dalam bangunan terlarang itu. “Begitu ceritanya, Tante, Om.”


“Astaghfirullah! Jadi tadi Gerald sudah membohongi Tante?! Gerald bilang, pergi bersama Freya untuk mengajaknya ke pesta ulang tahun temannya. Tapi ternyata, pacar anaknya Tante diajak ke tempat dugem?! Ya Allah Ya Robbi!” kejut Rani sampai mengelus-elus dadanya.


Lucas yang sudah berapi-api emosi terhadap Gerald, sampai memukul bangku kursi sofa yang beliau duduki. “Kurang ajar!! Berani-beraninya dia ingin mengambil keperawanan Freya untuk merusak masa depannya anak Om!”


“Om tenang saja ... semuanya yang hendak Gerald lakukan, gagal total. Jadi, Freya masih terselamatkan dari perilakunya. Kalau saja Angga nggak segera datang ke tempat itu untuk menolong Freya, kemungkinan besar terjadi, kehidupannya Freya akan runyam dan itu bisa mempengaruhi buruk masa depannya nanti,” ujar Angga.


“Kamu betul, Ngga! Terimakasih ya, Nak! Berkat dirimu menolong Freya, anak kami selamat dari perbuatan tercela yang dilakukan orang biadab itu!” ucap Lucas dengan memeluk erat tubuh Angga bersama hati bangga terhadap anaknya Agra dan istrinya yaitu Andrana.


“Sama-sama, Om.” Angga membalas pelukannya sang ayah Freya dengan tersenyum tipis.


Rani tersenyum lembut, ikut merasa bangga dan beruntung anaknya memiliki sahabat yang mampu melindunginya dari tercela serta marabahaya. “Angga, kalau boleh Tante tahu ... kamu tahu Freya berada di sana, darimana, Nak?”


Angga melepaskan pelukannya dari tubuh Lucas, begitupun suaminya Rani. Pemuda Indigo itu menatap beliau sang ibunya Freya. “Angga mempunyai sebuah bantuan yang bisa mengetahui keberadaan lokasi Freya tadi, Tan.”


Rani mengerutkan keningnya pelan dengan masih menyunggingkan senyum. “Apakah dari kekuatan Indigo yang kamu miliki?”


Angga menggelengkan kepalanya. “Bukan kok, Tante. Angga mempunyai suatu cara tetapi bukan berasal dari gaib tetapi alat kasat mata.”


Lucas dan Rani saling bertatapan bingung alat kasat mata apa yang Angga maksud, tetapi itu tidak penting sekarang. Yang terpenting sekarang adalah, anak semata wayang mereka selamat dari pelecehan seksual berkat atas Angga yang bak seorang pahlawan.


Setelah melakukan obrolan ringan yang terlihat akrab antara mereka bertiga, Angga memutuskan pulang ke rumahnya yang jaraknya hanya 5 langkah kaki saja. Angga membiarkan Freya beristirahat di dalam kamarnya untuk memulihkan kondisi tekanannya agar kembali membaik, terlebihnya kini pemuda tampan tersebut sedikit merasa lelah.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Pagi harinya, Lucas di ruang keluarga terlihat sedang menyeduh nikmati kopi hitam buatannya sang istri yang kini sedang di ruang dapur untuk menyiapkan sarapan di cuaca yang lumayan dingin ini terlebihnya di langit terlihat berwarna abu-abu pekat hendak ingin turun rintik-rintik air hujan.


“Ma, Freya belum bangun?” tanya Lucas yang menolehkan kepalanya untuk melihat ke arah Rani.


“Tadi Mama sempat lihat Freya bawa handuknya buat pergi ke kamar mandi. Mungkin sekarang anak kita balik ke kamarnya,” jawab Rani seraya tangannya sibuk mengambil beberapa piring untuk sarapan nanti bersama wajah sendunya yang terlihat.


Lucas menghembuskan napasnya pelan sambil meletakkan cangkir kacanya di atas meja. “Gara-gara kejadian malam tadi, Freya sekarang jadi agak berubah, ya sifatnya. Pengen Ayah laporkan Gerald ke polisi biar di penjara!”


“Sudah, Yah. Jangan membicarakan hal tentang yang telah berlalu, Mama juga masih nggak menyangka kalau Gerald akan melakukan tindakan seperti itu terhadap Freya. Tetapi kata Angga tadi malam pas di ruang tamu bersama kita berdua, Freya dengan Gerald sudah putus hubungan.”


“Ayah malah justru bahagia dan lega, si Freya tidak ada lagi hubungan apapun sama Gerald! Lebih baik pisah saja itu lebih terbaik!”


Rani menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. “Iya, Yah. Mama juga seperti itu. Oh iya, kan sebentar lagi sarapannya sudah siap, Mama minta tolong dong Ayah panggilkan Freya ke bawah untuk sarapan.“


Lucas tersenyum mengangguk kemudian beranjak dari kursi sofa lalu melangkah menuju ke arah undakan anak tangga untuk mengajak anak perempuannya ke ruang makan. Namun baru saja menaikkan kakinya di salah satu undakan tangga, bel rumah dibunyikan oleh seseorang.


“Siapa itu, Yah? Pagi jam segini masa ada yang bertamu?”


“Sebentar ya, Ma. Biar Ayah yang membukakan pintu rumahnya.” Lucas balik badan ke belakang kemudian berjalan mengarah ke pintu rumah yang masih beliau kunci.


Lucas memutar kunci yang tergantung di bagian pintu untuk membukanya. Pria paruh baya tersebut sedikit kaget, rupanya yang membunyikan bel rumahnya adalah Angga. Nampak, Angga tersenyum dengan membawa piring plastik berisi beberapa potongan kue bolu cokelat yang aromanya begitu lezat dan menggugah selera di pagi hari.


“Assalamualaikum, Om. Angga tidak menganggu?” tanya Angga usai mengucapkan salam pada Lucas.


“Waalaikumsalam, Angga. Enggak, kok. Wah, kamu bawa itu? Kue bolu cokelat, ya?!” semangat Lucas menatap selera makanan pencuci mulut tersebut.


Angga menganggukkan kepalanya dengan masih tersenyum. “Ini buat Om, tante Rani, dan juga Freya kalau Freya mau.”


“Hahahaha! Terimakasih ya, Nak. Tapi lebih kamu masuk saja ke dalam. Oh iya, kamu sudah sarapan?”


“Belum, Om. Nanti Angga bakal sarapan di rumah.”


Lucas menarik tengkuk pemuda tersebut secara lembut untuk membawanya masuk ke dalam rumahnya Freya. “Kebetulan tante Rani habis masak, kamu mending sarapan di sini saja.”


Angga hanya diam tak menjawab, karena tubuhnya telah ditarik duluan oleh Lucas ke dalam rumahnya. Sang ayah Freya memanggil Rani yang masih berada di ruang dapur. Rani pun yang melihat kedatangan Angga dengan membawa piring berisi makanan pencuci mulut, tersenyum bahagia seraya menghampiri sahabat kecil dari anaknya.


“Eh, ada Angga!”


“Selamat pagi, Tante.” Angga menyodorkan piring plastik tersebut ke arah Rani. “Ini ada kue bolu cokelat, masih hangat.”


Rani menerimanya dengan senyuman penuh. “Wah, kamu rajin banget. Pagi-pagi udah bawain kami kue bolu segala, baunya juga enak. Pasti buatan kamu sendiri, ya?”


Angga tersenyum agak lebar. “Iya, Tante.”

__ADS_1


Di dalam ruang dapur, Angga hanya melihat kedua orangtuanya Freya saja tak juga dengan Freya. Terlihat bola mata pemuda tersebut mencari keberadaan gadis cantik itu yang belum sama sekali terlihat. “Freya belum bangun ya, Tan?


“Sebenarnya, Freya sudah bangun. Tetapi dia masih saja di kamar. Terakhir Tante lihat, Freya keluar kamar bawa handuk untuk pergi ke kamar mandi, lepas itu Tante nggak lihat Freya lagi. Apalagi anaknya Tante dan juga om dari tadi belum kunjung turun ke sini.”


Angga menghela napasnya dengan pandangan menengok ke atas tangga. Wajar saja, tragedi tadi malam tersebut, cukup membuat jiwa Freya tertekan oleh ulahnya Gerald sang lelaki bengis. Namun di situ, Angga memiliki inisiatif untuk mengajak Freya turun ke bawah buat sarapan di ruang makan.


“Tante, biar Angga yang membujuk Freya buat sarapan. Angga tahu, Freya sampai sekarang belum turun ... karena dia nggak nafsu makan.”


Rani tertegun. “Anak Indigo memang tahu segala hal, ya? Hehehe. Yasudah kalau begitu, Tante juga sebetulnya ingin meminta tolong itu sama kamu, Nak.”


Angga menganggukkan kepalanya kemudian melangkahkan kakinya untuk menuju ke arah undakan anak tangga. Pemuda tampan tersebut sedikit menghembuskan napasnya, jikalau kemungkinan nanti Freya malah menolak ajakannya. Terlebihnya dari tadi malam, saat sampai di rumah, Freya terus saja bermuka suram dan murung. Tak ada sama sekali senyuman yang merekah di wajah cantiknya.


Setelah sampai di depan pintu kamar Freya, Angga spontan menempelkan salah satu telinganya di pintu cat putih sahabat kecilnya. Terdengar dari dalam ada suara robekan-robekan kertas dicampur suara tangisan yang memilukan hati. Dengan segera, Angga membuka pintu cepat apa yang terjadi di dalam kamar tidur gadis tersebut.


Setelah membuka pintu dan memasuki ruangan kamar nuansa warna peace, bola mata Angga bertemu sosok Freya yang tengah menghadap belakang seraya kedua tangannya sibuk merobek-robek sesuatu bersama isakan tangisannya. Perlahan, Angga kembali melangkah semakin memasuki kamar sahabatnya dengan wajah ekspresi gundah tanpa sadar.


Angga sedikit tersentak kaget melihat apa yang dirobek Freya hingga mengotori lantai kamarnya. “Foto siapa yang kamu robek?”


Freya menoleh ke arah sumber suara yang sedang menanyai dirinya. Ia terperanjat kejut saat melihat kehadiran Angga yang entah darimana. “Angga?! Kamu kok bisa ada di sini?!”


Angga menampilkan senyuman hangatnya seraya melangkah lalu duduk di pinggir kasur tepat sebelahnya Freya duduk. “Kenapa kamu robek foto-fotonya?”


Freya menolehkan kepalanya ke depan kembali lalu melanjutkan aktivitasnya untuk merobek foto-fotonya waktu bersama Gerald. Gigi gadis itu menggertak kuat bahkan air matanya terus mengalir membanjiri kedua pipi halusnya. “Hiks! Buat apa aku simpen tetap semua foto-foto cowok brengsek ini?! Dia sekarang sudah bukan apa-apanya aku!!”


Robekan foto yang sedang Freya robek dengan rasa tanpa sayang, itu adalah foto terakhir. Hingga pada akhirnya bersama rasa kecewa, marah, Freya membuang robekan foto itu ke sembarang arah. “Dasar lelaki bajingan!! Kalau aku tau sifatnya dia seperti itu, aku gak mau pacaran sama dia!!!”


Mata Angga sontak terbelalak sempurna saat Freya melontarkan ucapan kasar yang sebelumnya sama sekali tak pernah sahabat kecilnya lontarkan. Dan Angga dalam singkat waktu, Angga sanggup tahu bahwa Freya bisa berkata seperti itu karena ajarannya Gerald masa dulu dimana mereka masih melakukan hubungan cinta.


“Cowok biadab! Cowok brengsek! Cowok bangsat! Aku benci sama dia! Benci-benci-benci!!!” teriak Freya menangis kembali dengan menghentakkan kedua kakinya di lantai secara bergantian.


Angga yang sangat tidak tega melihat Freya seperti itu, segera menariknya ke dalam pelukannya dengan erat. “St-st! Kamu jangan bilang begitu, kamu nggak pantes berkata kayak gitu, Frey ...”


“Huhuhuhu! Aku nyesel, Ngga! Aku nyesel! Ternyata dia bukan cowok yang baik buat aku! Dia adalah cowok jahat yang paling aku temui!!!”


Angga kemudian mengelus-elus belakang kepala Freya dengan berusaha tetap tenang tidak panik karena kondisi sahabat kecilnya yang hancur begini, walau adegan buruk tersebut gagal dilakukan. Tetapi memori tentang itu mampu membuat Freya tertekan dan trauma.


“Sudah, jangan disesali lagi. Semuanya sudah berlalu, kok. Kamu dan aku juga baik-baik saja dari peristiwa itu ... terlebihnya lagi, kamu telah selamat dari perilaku Gerald waktu sama kamu tadi malem.”


“T-tapi makasih, kamu kemarin udah nyelametin aku dari Gerald, hiks!”


Angga tersenyum lembut dengan tangan tetap mengelus lembut belakang kepala Freya. “Iya, sama-sama. Sekarang kamu yang tenang, ya? Gerald sekarang sudah menjauh darimu, dia sudah pergi dari kehidupanmu. Kamu nggak perlu lagi takut, gelisah, atau apapun yang mengekang jiwamu. Ada aku di sini menjagamu.”


Freya memeluk tubuh Angga yang sebelumnya hanya diam. Mendekapnya erat dengan rasa hati setengah bangga. “Huhu! Aku gak bisa bayangin kalau kemarin kamu gak cepet-cepet dateng buat nolongin aku, pasti aku bakal menjadi perempuan terburuk gara-gara dia! Makasih, Ngga! Makasih, huwaaaa!!”


Salah satu tangan Angga yang masih menempel di punggung Freya untuk memeluknya, telapak tangannya ia gerakkan buat menepuk-nepuk punggung dari tubuh mungil gadis tersebut agar tangisannya mereda. “Jangan nangis, lagi ... nanti kalau kamu nangis mulu, kan sayang stok air matanya habis karena kamu keluarin terus dari tadi.”


“Apaan, sih?!” rengek Freya.


Angga tertawa renyah sementara gadis tersebut melonggarkan pelukannya dari tubuh Angga lalu melepaskannya perlahan, begitupun juga dengan lelaki tampan tersebut. Di dalam kamar, Angga menghapuskan air mata Freya sampai tak membekas lagi di kedua pipi putih halusnya.


Freya menatap Angga bersama mata sembabnya. “Kamu waktu itu kenapa bisa tahu kalau aku ada di sana? Apa kekuatan Indigo-mu yang membantu kamu untuk menolong aku?”


Angga tersenyum menggelengkan kepalanya usai mengelap sisa air mata sahabat perempuannya. “Sebenarnya begitu, tetapi aku juga menggunakan alat sesuatu yang bisa menemukan lokasi dimana kamu berada tadi malam bersama Gerald.”


“Alat apa?” tanya Freya bernada parau.


“Kamu masih ingat, gak waktu pagi kemarin hari Sabtu?”


Freya berdeham memikir apa yang Angga pertanyakan barusan. “Soal kamu yang pinjem HP-ku?”


Angga menganggukkan kepalanya mantap. “Betul. Soal rahasia tentang aku yang otak-atik ponselmu, sebenernya aku memasang aplikasi pelacak yang udah terhubung di HP-ku. Aku sengaja melakukan itu agar aku bisa tahu kemana saja kamu pergi dengan Gerald yang sekarang menjadi mantanmu.”


“J-jadi itu rahasianya?” tanya Freya kembali dengan mata tak berkedip karena kaget pada tanggapan responnya dari Angga.


Angga semakin mengukirkan senyumannya menjadi lebar yang membuat pemuda tampan itu terkesan memiliki aura Malaikat yang terpancar dari wajahnya. Benar sekali apa yang Angga katakan waktu sahabatnya Freya itu masih di rumah sakit, Angga memang ingin melindungi dirinya dari keburukan yang membuat hidupnya berubah jadi melarat.


“Frey, kan sudah aku bilang waktu minggu yang lalu. Aku pasti akan melindungi dan mencegah kamu dari marabahaya yang membuat hidupmu tidak baik-baik saja, alias hancur. Aku juga sempat berjanji, kalau Aku bakal terus menjagamu. Tentunya mesti aku tepati janjiku.”


Tanpa sadar Freya yang menatap wajah Angga yang mana Angga kini tak memirsa dirinya, membentuk senyuman terharu pada kebaikan sahabat kecilnya, bahkan hatinya ikut terenyuh. Dengan reflek, Freya memeluk tubuh Angga kembali, membuat Angga menolehkan kepalanya ke arah Freya yang mendekap tubuhnya.


“Kamu memang penyelamatku, Ngga! Kamu adalah seorang bak seperti perisai senjata prajurit yang melindungi aku dari segala serangan dan juga bahaya.”

__ADS_1


Angga terkekeh geli pada perkataan Freya yang penuh bangga dengannya. Pemuda tersebut mengusap-usap puncak kepala gadis cantik itu. “Kamu bisa saja. Ini sudah dari tanggung jawabku untuk menjaga dan melindungi kamu, sebagai sahabat.”


“Ngeong ...”


Freya melepaskan dekapannya dari tubuh sahabat lelaki Introvert-nya lalu menundukkan kepalanya ke lantai karena mendengar suara kucing peliharaannya yang kini tangan berbulu putih sutranya menowel beberapa kali kaki kanan majikannya yang terbungkus oleh celana cokelat mocca panjangnya.


Kedua mata belo kucing Persia milik Freya yang bernama Meiko sesuai pada kalung imut nang melingkar di leher hewan menggemaskan tersebut, seolah meminta dibopong oleh gadis cantik itu yang habis menangis. Dengan segera, Freya membungkukkan badannya untuk mengangkat tubuh peliharaannya yang memiliki berat 5 kilogram.


Usai Freya mengangkat Meiko dan membopongnya lalu menempelkan tubuh hewan itu di dadanya, kucing Persia berbulu putih lebat tersebut mendengkur bertanda bahagia dan sayang pada majikannya yang merawatnya sepenuh hati dari semenjak peliharaannya masih bayi.


Sedangkan Angga hanya diam bungkam saja dengan melihat mata belo Meiko, nampak pemuda itu tengah mendengarkan suara batin kucingnya Freya. “Tuh, Meiko bilang sama kamu. Jangan nangis-nangis lagi, nanti mukanya jadi jelek.”


“Ih, masa?!” kejut Freya tak percaya, karena memang dasarnya gadis pemilik kucing Persia menggemaskan macam Meiko ini tak mengerti bahasa peliharaannya sendiri.


“Nggak percaya? Iya, kucingmu bilang seperti itu sama kamu. Ya kan, Ko?” tanya Angga dengan menatap Meiko yang sibuk mendengkur keras.


“Ngeong ...”


“Tuh, dia bilang 'iya, bener banget'.” Mendengar jawaban Angga, Freya langsung memanyunkan bibirnya bersama sambil membelai-belai sayang tubuh bulu halus sutra kucing miliknya.


“Ih! Kok kamu bisa ngerti bahasa Meiko, sih?! Aku aja yang majikannya Meiko, gak ngerti sama sekali bahasanya setiap hari. Aku cuman tau dari gerak-geriknya kalau minta gendong, makan, mandi, ngajak main. Itu doang, lho.”


Angga mencondongkan badannya ke Freya beserta mendekatkan wajah raut jahilnya pada gadis tersebut yang sekarang cemberut. “Iri? Bilang bos!”


Freya mendengus sebal lalu satu tangannya ia lepaskan dari tubuh berat Meiko untuk mendorong badan milik Angga nyaris pemuda tampan tersebut terjengkang anjlok ke lantai. “Kamu menyebalkan!”


“Hahaha! Ampun.”


Angga kemudian beranjak dari pinggir kasur Freya dengan mengusap tengkuknya, sementara sahabat kecilnya tengah fokus membelai sayang Meiko sang kucing hewan peliharaannya. “Keluar, yuk. Gak enak juga aku berlama-lama di kamarmu, kecuali kalau di sini banyak orang. Lah, ini cuman aku sama kamu doang di sini.”


“Meiko nggak kamu sebut?” tanya Freya mendongakkan kepalanya ke atas karena Angga lebih tinggi daripadanya.


“Meiko, kan kucing. Bukan orang, Frey. Lagipula manusia dan kucing beda jauh, kali. Ayo keluar bareng-bareng. Nanti dikira mama sama ayahmu, aku berbuat macem-macem denganmu di dalem kamar, lagi.”


Freya menatap Angga dengan mata tak berkedip lalu kedua matanya menyipit hendak mengeluarkan tawanya kembali yang sempat pudar. Hahaha! Aneh kamu, Ngga. Ya gak mungkinlah, orangtuaku menerka-nerka kamu yang begitu. Kamu, kan cowok yang baik-baik dan gak kurang ajar.”


Bibir Angga nyengir dengan kening berkerut. “Hehe, begitu, ya? Udah ayo, nanti sarapannya keburu dingin. Aku tadi juga bawain kue bolu rasa coklat ke rumahmu, tuh sekarang ada di ruang makan.”


Freya beranjak berdiri tanpa pandangan berpaling dari wajah tampannya Angga. “Oh iya, kah? Kamu yang buat sendiri kue bolu coklatnya?”


Angga menghela napasnya pada pertanyaan ringan Freya yang masih saja membelai-belai bulu sutra lebat yang ada di tubuhnya Meiko. “Sudah tau, ngapain tanya?”


Freya cengengesan dengan raut aura wajah yang terlihat cerah kembali dan sudah tak lagi muram seperti sebelumnya. Hal itu membuat dari hati Angga yang kalut menjadi berubah tenang karena sahabat kecilnya ini tidak lagi menunjukkan ekspresi laranya. Sembari melangkah ke luar kamar tanpa membersihkan beberapa robekan foto yang berserakan di lantai, Angga mengusap-usap kepala Freya tak lupa bersama senyumannya.


“Soal tadi malam, nggak usah dibuat pikiran, ya? Pikirkan kamu yang sekarang.”


“Tapi aku gak bisa ngelupain,” cicit Freya respon.


Angga menolehkan kepalanya cepat pada sahabat gadis cantiknya yang tubuh posturnya memiliki tinggi 164 sentimeter. “Eh, kamu nggak bisa melupakan Gerald?!”


Lagi-lagi Freya mendengus mendengar Angga yang salah paham pada ucapannya tadi, membuat gadis itu spontan memukul bahu lelaki tersebut. “Astaga, bukan! Maksud aku gak bisa ngelupain tragedi tadi malam di bangunan tempat aneh itu!”


“Aduh, sakit! Iya-iya. Bisa nggak, sih ngomongnya gak usah pake acara mukul segala? Aku kira kamu gak bisa ngelupain cowok itu yang-”


“Udah, ah! Gak usah dibahas. Toh, lagian dengan aku menyobek semua foto Gerald sama aku waktu dulu, aku mampu melupakan dia sekaligus membuang memori tentang kebersamaan dia dari otakku. Buat apaan cowok bangsat kayak gitu aku pertahankan?”


“Hust, tuturnya dijaga. Gak boleh lagi berkata gitu, perempuan bergaya anggun kayak kamu, tidak pantas menyebut kata kasar seperti itu,” pungkas Angga menutup mulut sahabat kecilnya dengan satu tangan saja.


Freya dengan tangan lemah lembut, menyingkirkan telapak tangan Angga dari mulutnya. “Iya, aku minta maaf. Lain kali aku nggak bakal ngomong gitu lagi. Habisnya aku terlanjur benci sama Gerald jahat itu.”


“Aku tau dia jahat. Tapi sebaiknya daripada tentangnya mengotori otak dan hatimu, lupakan saja, ya? Gerald, kan sudah pergi darimu. Jadi buat apa kamu pikirkan dia lagi?”


“Iya, kamu bener.” Freya menatap mata Angga yang memiliki mata iris warna abu-abu autentiknya nang berasal dari keturunan Agra. “Sekali lagi aku minta maaf ya, Ngga?”


“Iya, nggak apa-apa ...” Terima Angga dari permintaan maaf sahabat perempuannya dengan nada super lembut membuat Freya merasa lebih nyaman berada di sampingnya Angga. Bahkan pemuda Indigo tersebut kembali mengusap-usap ujung atas kepalanya Freya.


Bagi Freya, sahabatnya yang bernama Anggara Vincent Kavindra ini adalah perisai senjata prajurit yang sanggup melindunginya dari segala marabahaya dan juga seperti seorang kakak saudara kandung lelaki yang selalu bisa menjaga adik perempuannya. Betapa beruntungnya gadis tersebut memiliki sahabat yang aktraktif macam Angga. Tak terbayangkan jika tragedi malam Minggu kemarin benar-benar terjadi, tentunya mesti kehidupannya menjadi hancur setengah mati yang akan mempengaruhi masa depannya esok nanti.


Berkat karena adanya Angga disaat hatinya sangat kecewa, bercampur amarah emosi berapi-apinya tadi, jiwanya yang tertekan akibat perlakuan Gerald nang hendak merampas rakus keperawanannya yang ada di dalam dirinya, kini tertekannya jiwa sedikit demi sedikit mengendur. Ditambah pancaran aura moleknya Angga terhadap gadis cantik tersebut yang membuat Freya merasa amat nyaman serta merasa terjaga begitupun terlindungi.


*I**NDIGO* To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2