Indigo

Indigo
Chapter 36 | More Careful


__ADS_3

Di kamar rawat no 208 RS Medistra Kusuma kedua orangtua Anggara dan ketiga sahabatnya menatap Anggara yang seperti tidur karena wajahnya terlihat damai tenang. Hal ini membuat orang-orang tersayangnya begitu cemas padanya.


Reyhan menilik jam dinding kamar rawat yang telah menunjuk pada pukul 16.00 sore. Ia dan sahabat-sahabatnya harus pergi pulang ke rumahnya masing-masing agar orangtua mereka tak menghawatirkan mereka bertiga.


"Tante, Reyhan, Freya, sama Jova mau pamit pulang ya Tan, Om. Besok pagi sekitar jam delapan kami kesini lagi kok."


"Loh, kalian bertiga tidak sekolah? Besok kan masih hari kamis, Nak."


"Akibat kejadian fatal yang terjadi sama Emily hingga meninggal dunia, besok sekolahnya diliburkan dulu Tan, jadi guru-guru besok bisa fokus ke satu rapat tentang peristiwanya Emily. Apalagi kami semua nggak tau pasti Emily bunuh diri atau tidak, karna di antara kami belum ada punya bukti yang kuat."


"Oh begitu ya Nak Jova, yaudah kalau begitu kalian pulangnya hati-hati ya. Ingat bawa kendaraan harus hati-hati gak boleh ngebut-ngebut, bahaya di usia kalian yang masih muda."


"Iya kalau kalian melanggar, masa depan kalian gelap jadi harus kasih Scarlett biar cerah."


"Ck, Ayah sempet-sempetnya malah bercanda."


"Hehehe maaf Ma, biar suasananya gak terlalu dingin, jadi lebih baik dibuat hangat. Seperti cintanya Ayah pada Mama."


Reyhan menyengir. "Udah bersuami tapi gombalnya boleh juga, kayaknya Om tertular virus gombalannya papanya Reyhan ya."


"Mungkin begitu Rey, Om kan sama papamu sahabat lama. Jadi apa-apa harus bersama hehe."


"Kan, istriku sayang." Agra memegang dagu Andrana lembut dengan sikap romantisnya.


"Aduh Yah, bisa lihat situasi gak sih? Ada sahabat-sahabatnya Anggara loh."


"Ehehehe gakpapa kok Tante gakpapa, anggap aja kami menonton drama kalian di layar bioskop," kata Jova dengan menggaruk tengkuknya.


Andrana menghela napasnya. "Oh iya kalian naik motor sendiri-sendiri?"


"Enggak kok Tan, soalnya Jova dan Freya punya supir pribadi di mobil taksi online."


'Anjir nyindir gue ini anak,' batin Reyhan.


"Oh pasti namanya Reyhan Ivander Elvano," tebak Agra yang aslinya memang sudah tahu.


"Tau aja sih Om," jawab Reyhan lesu.


"Ehehe iya Tan, ini Reyhan bawa kunci mobilnya. Kalau begitu kami pamit dulu ya Tan, Om."


"Iya oke hati- loh Freya, kok kamu diem aja?" tanya Agra lalu menghampiri gadis itu yang sedari tadi saat dokter Ello selesai melakukan pemeriksaan pada Anggara.


Freya menunduk dengan kedua tangan ia taruh depan, bibirnya bungkam seperti memang tidak ada niat untuk membuka suaranya. Agra yang sudah ada di depannya mengelus kepala Freya dengan tersenyum ramah namun rada sendu.


"Freya khawatir sama Anggara ya?"


"Om tau darimana?" tanya Freya yang akhirnya membuka suara.


"Kelihatan dari muka dan hatimu, udah jangan sedih gitu. Yakin aja, Anggara bakal gak masuk ruangan itu lagi kok. Mungkin si Anggara sadarnya besok pagi, ya jangan sedih gini. Kasian loh sahabat-sahabatmu."


Freya mengangguk mengerti. "Iya Om, kalau begitu Freya ikut pamit pulang."


Gadis itu mengangkat tangan Agra untuk menyalaminya lalu mencium punggung tangannya, begitupun dengan Andrana begitu sopan dan Andrana pun setelah diberi salam mamanya Anggara juga mengelus lembut kepala gadis polos tersebut.


Kemudian ketiga sahabat Anggara melenggang pergi meninggalkan kamar rawat no 208, tak lupa Reyhan menutup pintu setelah berada di luar. Dilanjutkan setelah itu mereka melangkah pergi ke lift untuk menuju ke lantai 1 dimana disana terdapat tempat lobby rumah sakit.


Pintu lift terbuka saat Reyhan menekan tombol otomatis untuk membuka lift, ketiga remaja SMA itu memasuki lift dan pemuda friendly tersebut menekan tombol tanda lift tertutup lalu sekaligus ia menekan angka 1 agar sampailah ke lobby. Tak butuh waktu lama, mereka telah turun di lantai 1 dan lift pun terbuka secara otomatis dengan lebar, meski di sore ini masih banyak pengunjung RS Medistra Kusuma yang terkesan lantai nomor ini begitu ramai akan pengunjung dan beberapa perawat yang berlalu lalang disana.


Reyhan, Freya, dan Jova berjalan melangkah keluar dari lobby. Dalam berjalan ke parkiran mobil, Freya hanya diam bungkam mulut membisu.


"Frey, kok diem banget? Kamu gak lagi kesurupan kayak Anggara waktu itu, kan?" tanya sahabat kang komedinya.


"Heh Nyuk Tres! Bisa gak sih kalau ngomong tuh di ayak dulu, jangan asal nyeplas-nyeplos bae kek emak-emak tukang adu domba."


"Kamu tuh yang tukang adu domba! Mana kalau ngadu pasti kata-katanya ditambahin, mana lagi waktu itu kamu ngadu-nya ke Anggara. Udah tau si Anggara kalau ngomong apalagi ngeledek aku tuh pedes kayak sambel terasi."


"Makanya jangan cari gara-gara sama Neng Jovata. Karna kalau kamu berurusan sama aku, aku bakal buat kamu kehabisan kata-kata."


"Njir, bisa aja ni anak."


Pip !


Pip !


Reyhan menekan tombol kunci untuk membuka semua pintu mobil dengan otomatis lalu Reyhan membuka pintu depan persinggahan untuk mengemudi mobil sementara Freya dan Jova duduk di kursi belakang depannya Reyhan. Pemuda itu mulai menyalakan mesin mobilnya lalu ia melihat layar kecil yang biasa untuk menyalakan lagu musiknya melalui bluetooth ponselnya seperti kebiasaan yang dilakukan oleh sahabat introvert-nya.


Reyhan melihat layar kecil itu untuk menjalankan mobilnya dengan pertama ia mundurkan dulu lalu setelah ia berhasil, Reyhan membelokkan stir kemudi ke kiri untuk melajukan mobilnya keluar dari gang RS Medistra Kusuma.


Dalam perjalanan akan ke kota Jakarta, tak ada yang mengisi obrolan hanya terdengar suara AC mobil. Reyhan sedikit melirik mendongak ke kaca mobil bagian atas tengah, ia melihat Freya yang diam dengan kepala menyender di kaca mobil sampingnya sementara Jova memainkan ponselnya.


Jova ikut melirik ke Freya lalu menurunkan handphonenya disaat tahu sahabat yang membuat ia gemasnya berdiam bisu tetapi pandangannya menghadap jendela kaca mobil melihat kendaraan berlalu lalang kota Bogor.


"Frey, kenapa?" Jova memegang lembut pelan pundak kanan Freya hingga yang disentuh langsung menoleh ke ia.


"Aku gak kenapa-napa, cuman capek."


"Halah, gak usah bohong dong. Kamu tuh paling gak bisa berbohong sama orang-orang, udah jujur aja kamu kenapa. Diem begini pasti ada apa-apanya, ya kan?"


Freya menghela napas pendek. "Anggara gimana ya? Aku takut kalau Anggara besok bakal masuk di ruangan serem itu lagi."


Jova tersenyum lembut mengerti dan mulai merangkul sahabatnya lalu mengajaknya untuk bersandar kepala di pundaknya.


"Aduh, aduh Freya sahabatku paling cantik gemes yang aku punya .. hei, kamu nggak boleh takut begitu. Kamu juga jangan terlalu risau sama Anggara, Anggara pastinya bakal sadar kok besok sebelum jam dua belas siang. Udah dong jangan sedih gitu ah, kalau kamu sedih nanti aku peluk-peluk."


Freya menyandar kepalanya di bahu Jova dengan wajah sendunya. "Begitu ya? Tapi aku masih takut ... apalagi kata dokter jantung Anggara melemah, hanya karena benturan keras lagi di kepala, Anggara jadi langsung kondisinya seperti itu. Kalau begitu caranya, gimana kalau Anggara ..."


"Enggak cantikku Sayang, Anggara kan kuat. Orang nyawanya Anggara yang mau di rampas sama raja Iblis itu dengan cara ritual tumbal, aja gak berhasil kan. Belum saatnya Anggara akan ninggalin kita."


"Anggara kan umurnya panjang."


"Aamiin-Aamiin-Aamiin, udah ya jangan sedih lagi. Berdoa aja sahabat kecil kamu oke-oke aja besok, oke cantik?"


Freya menyeka air matanya yang mau jatuh lalu menganggukkan kepalanya. "Hm'em oke."


"Nah ini baru sahabatku, Reyhan, Anggara hehehe." Jova mengusap-usap bahu kiri Freya yang tangannya merangkul sahabat gadis polosnya.


Sementara Reyhan yang fokus menyetir hanya tersenyum dan mulai berbicara dalam hati.


'Maklum Freya se-khawatir itu, Anggara kan sahabat kecilnya. Meski gue dan Jova juga sedih banget sama keadaan lo, tapi daripada sedih begini mending saling menghibur. Lo yang disana harus cepet bangun Ngga, jangan lagi lo buat Freya nangis karna keadaan miris lo itu. Gue yakin lo sahabat Indigo kami yang mempunyai nyawa kuat.'


"Eh ciwi-ciwi cakep! Kalian dibelakang laper nggak? Kalau laper kita makan bakso yok. Tenang soal bayar, aku yang traktir."


"Wih beneran Rey?! Yakin nih kamu mau traktir aku sama Freya makan bakso?! Demi apa?!"


"Demi Allah, mau gak? Mumpung aku baik hati sama kalian hehe."


"Emangnya biasanya kamu hatinya gimana??" tanya Jova mengerutkan kening.


"Jangan pura-pura Amnesia! Kamu kan bilang kalau hatiku sadis, gimana sih. Gitu aja bisa dilupain. Mending tarik aja kata-katamu waktu kamu hujat aku itu."


"Iya-iya, by the way emangnya makan baksonya dimana?"


"Ya di warung bakso lah Bleng, masa di bawah kolong jembatan Ancol. Nanti dikira kita lagi ngepet dan mengundang pesugihan dukun."


"Mulutmu yak!"


"Ya habisnya kamu tanyanya aneh sih!"


"Oke-oke aku lagi ogah debat sama kamu nanti malah gak ada ujungnya. Apa untungnya aku debat sama cowok gak jelas kek kamu, maksudku itu tuh kita makan baksonya di warung sebelah mana? Aku rada asing tempat-tempat makan di kota Bogor, kalau kota Jakarta mah hapal bener diriku."


"Ya tau juga kali. Kemarin waktu aku sepulang dari RS Medistra Kusuma sama Rangga dan Andra, kami berempat mampir ke warung mie ayam bakso di pinggir jalan deket bengkel. Pokoknya kalian berdua santai-santai aja hari ini serta sebagai sahabat, aku akan traktir kalian dan setelah itu diriku akan mengantarkan kalian pulang dengan selamat oleh sang cowok ganteng ini yang sudah profesional ahli menyetir mobil."


"Idih sok ganteng banget dah. Tapi ngomong-ngomong keren juga sikapmu hari ini pada kami, gak sia-sia aku menghujatmu hanya untuk aku terhibur oleh ngambek-mu."


"Njir, sahabat gue cewek sinting."


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Di komplek Permata, Kyra di dalam kamar rumahnya tengah meringkuk di atas kasur empuknya hingga gadis sedih itu teringat akan sesuatu ialah sebuah secarik kertas dari Emily sebelum sahabatnya meninggal.


Kyra segera turun dari kasurnya lalu mengambil kertas pemberian dari sahabatnya di kantung jas almamater SMA-nya yang ia gantungkan di hanger. Setelah mengeluarkannya, Kyra berbalik badan dan menuju ke meja belajarnya lalu duduk di kursi. Gadis itu ingin mengambil buku diary kunci miliknya yang ia gembok sebagai buku privasinya.


Kyra membuka gembok buku diary-nya yang berwarna dominan ungu pastel, kemudian setelah di buka oleh sang empu Kyra mengulurkan satu tangannya untuk mengambil selotip kecil bermotif bunga sakura ciamik. Selanjutnya Kyra membuka lembar buku diary-nya yang di dalamnya berisi beberapa tulisan-tulisan indah tak kelam, gadis itu membuka lembar yang kosong untuk menempelkan kertas ucapan perpisahan terakhir dari Emily sebagai kenangannya selamanya.


Di atas sisi kertas, Kyra menempelkan selotip motif bunganya yang telah ia potong menjadi 3 sentimeter ke sisi atas kertas. Kyra menempelkan selotipnya di atas kertas tersebut dengan horizontal.


Kyra dengan rapi, mengembalikan semula guntingnya dan selotip motifnya ke tempatnya. Kyra setelah itu duduk tegak dengan menegakkan buku diary-nya yang lembar kosong itu sudah ditempel kertas kenangan dari sahabat SD tersayangnya. Seketika Kyra tak sengaja matanya beralih ke bingkai foto kecil yang di dalam ada fotonya Emily dengan wajah tersenyum lebar cantik sembari satu tangannya menyangga buku di posisi terbuka.


Mata indahnya yang menatap Kyra membuat Kyra sangat merindukan almarhumah sahabatnya. Ingin ia peluk Emily sayang namun hanya bisa memeluk bingkai fotonya saja. Kyra mengusap foto Emily di bagian wajahnya dengan lembut dan tanpa sadar Kyra kembali meneteskan air matanya hingga jatuh di foto yang sekarang Kyra pegang.


"Emily, aku rindu kamu. Kenapa kamu secepat ini ninggalin aku? Aku kangeeenn banget sama kamu."


"Andai aku Indigo, pasti sekarang hari ini aku bisa lihat kamu yang sudah menjadi arwah. Aku pasti seneng banget bisa bertemu kamu lagi, tapi aku rasa itu mustahil dan gak mungkin. Berharap tinggi saja mestinya nggak kesampaian."


Kyra langsung memeluk bingkai foto Emily dengan erat di imbuh juga bersama tangis lirihnya, betapa ia sangat terpukul kepada sahabatnya yang sudah tiada.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Malam hari mendatang dimana sekarang telah menunjukkan pukul jam 20.00


Andrana dan Agra nampak bersandar di kepala sofa, malam ini mata Agra sudah ingin menutup ibaratnya tinggal 2 watt. Sampai hingga itu Agra menguap dan sigap menutup mulutnya dengan satu tangannya yang telapak-nya ia kepalkan.


Agra memejamkan matanya bersama bersedekap di dada. "Mama nggak tidur? Udah jam segini kok masih melek matanya? Ayah udah ngantuk loh."


"Mama hari ini nggak bisa tidur Yah. Lihat anak kita yang seperti ini Mama gak bisa tidur dengan tenang apalagi lelap. Mama begadang aja buat jagain Anggara kalau kenapa-napa, Ayah tidur aja kalau memang udah ngantuk."


Seketika Agra membuka matanya lebar dan menghadap ke Andrana. "Eh gak boleh dong Ma! Mama gak boleh begadang, nih ya kalau mamanya sakit nanti pasti anaknya sakitnya nambah parah. Udah Ma, mending Mama tidur aja, tuh ngelihat wajahnya Mama sudah lelah gitu kok."


"Ih Ayah sadar nggak sih, ini semua salah kita! Gara-gara kita ninggalin Anggara, anak kita jadi seperti ini."


"Ssssstt iya Ma iya. Ayah tau kita salah, tapi bukan berarti Mama malem ini gak tidur, Mama pokoknya harus tidur karna ayah nggak mau Mama sakit juga."


Andrana menarik napasnya dengan panjang kemudian membuangnya pelan, sang ibu menatap gundah Anggara yang belum juga kunjung sadarkan diri. Agra yang matanya tadi sudah 2 watt kini menaik menjadi 4 watt akibat kaget istri tercintanya bertekad tidak tidur semalaman, sang ayah ikut menatap anaknya yang wajahnya terpasang masker oksigen. Namun menit kemudian...


"Eh Anggara kenapa Yah?!" Andrana beranjak dari kursi sofa dan berlari kecil menghampiri ranjang pasien yang Anggara terbaring disana.

__ADS_1


Agra ikut beranjak dari kursi sofa dan mendatangi anaknya yang terbaring lemah di atas kasur ranjang pasien. Andrana mengelus pipi kanan Anggara dengan memanggilnya volume kecil.


"Anggara? Kamu barusan tadi kenapa Nak?" tanya Andrana risau lagi.


Dikarenakan Andrana dan Agra melihat tubuh milik Anggara seperti di antara kaget spontan atau kejang. Tetapi di antara dua tersebut mampu membuat sang ibu khawatir duluan terhadap anaknya.


"Ma, mungkin Anggara kaget aja tubuhnya. Bukan kejang. Mama nggak usah khawatir ya, bisa aja kaget Anggara spontan karena lagi mimpi sesuatu," ujar Agra halus dengan menyentuh puncak kepala istrinya.


"Mimpi apa ya Yah kira-kira? Apa Anggara lagi mimpi buruk? Mimpi buruk kan tanda-tanda bahaya."


"Ma, jangan mengambil negatifnya ambil saja positifnya. Anggara mimpinya pasti mimpi yang membuat anak kita kaget, tapi bukan mimpi buruk."


"Ayah lupa, anak kita kan Indigo. Bisa saja dalam keadaan Anggara pingsan, ada sosok gaib lagi yang mencoba meneror anak kita bahkan dulu saking Anggara nggak kuat waktu kecil, anak kita sampai sakit demam dua minggu kan? Ayah ingat?"


"Iya Mama, Ayah ingat kok. Tapi sekarang Anggara bukan yang dulu, meski Anggara dapat hal yang menganggu-nya anak kita kuat kan menghadapinya dalam mimpi. Karna kalau anak Indigo itu biasanya cepet di terornya dalem mimpi alam bawah sadar."


"Yaudah sekarang Mama tidur ya, Ayah juga mau tidur. Oh iya daripada Mama takut Anggara kenapa-napa, mending Mama tidur aja di samping Anggara. Ayah tidur di sofa ya."


Andrana mengangguk pelan. "Iya Yah."


Agra tersenyum lalu berbalik badan dan mulai berbaring di atas kursi sofa nan empuk tersebut, sedangkan Andrana menarik kursi untuk duduk di samping ranjang pasien anaknya.


"Nak, Mama tidur disini ya biar kalau Anggara ada terjadi apa-apa Mama langsung bangun."


Sembari mengucapkan kata-kata itu, Andrana memeluk tubuh Anggara dengan satu tangan sementara kepalanya ia letakkan di atas dadanya bisa terdengar suara detak jantung Anggara yang masih lemah dan hela napas naik turun lambat. Andrana juga bisa merasakan kalau tangan anak putranya agak dingin.


Sang ibu mulai memejamkan mata untuk tidur di dalam ia mendekap tubuh sang anak lelakinya.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Dini hari pukul 01.00 munculah datanglah arwah gadis cantik yang berjalan ke arah Anggara tak lain itu adalah si Senja.


Arwah itu berhenti disaat ada di sisinya Anggara, pemuda tersebut belum ada tanda-tanda segera siuman, wajah masih terlihat pucat begitu juga bibirnya. Lampu kamar rawat yang tadi Agra matikan karena ia dan istrinya paling bisa tidur kalau lampunya mati, membuat gadis arwah cantik ini bersinar.


"Kok belum bangun juga sih Ngga? Mau fajar nih, bentar lagi pagi."


Senja mencoba menggenggam telapak tangan kiri Anggara yang di infus, begitu merasakan tangan Anggara rada dingin Senja mendesis.


"Ssssshh, duh kok tanganmu agak dingin gini sih?" Senja menatap Andrana yang tidur lelap lalu menoleh menatap Anggara kembali. "Tuh lihat deh, mamamu begitu sayang bahkan peduli banget sama kamu apalagi ayahmu. Kamu pokoknya harus hidup Ngga, kamu gak boleh mati dan bernasib takdir sepertiku."


"Kalau kamu Koma lagi seperti dulu, bakal rumit untukmu kembali ke ragamu kecuali roh milikmu tetap di dalam ragamu. Tolong sadar ya Ngga, kamu jangan terus-terusan pingsan begini. Kamu jangan bikin kesemua orang-orang yang menyayangimu khawatir sama keadaanmu. Demi mereka kamu harus bangun dan sadar Ngga."


"Kalau gitu aku pamit pergi dulu, maaf mampir-nya sebentar doang. Aku hanya ngecek kondisimu aja udah membaik apa belum, ternyata belum."


"Good bye my friend."


Swingh !


Gadis arwah itu yang tersenyum kini pergi dengan cara menghilang dalam sekejap mata. Meskipun Senja termasuk arwah yang kesepian dan butuh teman, akan tetapi Senja tak ingin Anggara menjadi arwah sepertinya, ia menginginkan Anggara tetap bertahan hidup.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Sinar mentari pagi yang menerobos masuk ke jendela dan burung yang berkicau dari atas langit biru cerah, membangunkan kedua orangtua Anggara yang tidurnya lelap.


Andrana membuka matanya perlahan lalu mulai berposisi bangun duduk dan mata kontaknya langsung ke arah wajah anaknya.


"Nak, kamu juga belum bangun?" Andrana mengelus sunar rambut Anggara dengan hampir menangis.


Cklek !


"Assalamualaikum Tante, Om selamat pagi."


Terdengar suara pintu dibuka dan suara salam ramah dari salah satu pemuda remaja yang mengenakan style kemeja coklat polos dengan kancing terbuka hal itu memperlihatkan kaus oblong warna krem miliknya yang ia pakai.


"Waalaikumsalam, eh ada Kang komedi dateng kesini," respon Agra dengan mengucek matanya.


"Ehehe iya Om, sesuai omongan kemarin jam delapan nyampe sini. Oh iya Om, Om sama Tante habis bangun tidur ya?"


"Iya nih Rey, kalau gitu Om mau cuci muka dulu ya. Freya sama Jova napa kok diam? Kayak lagi sakit sariawan."


"Ah enggak kok Om, Jova sama Freya sehat-sehat aja hehe," timpal Jova.


Reyhan memutar badannya kebelakang untuk menutup pintu kamar rawat sahabatnya yang masih terbaring lemah tak sadarkan diri. Agra beranjak dari sofa lalu segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka yang ada wastafelnya di dalam sana.


Freya berjalan melangkah ke Andrana yang kembali menatap Anggara lalu setelah berada di dekatnya gadis itu menyentuh bahu mamanya Anggara.


"Tante."


"Iya Sayang kenapa? Oh iya kamu sudah sarapan?" tanya Andrana menghapus air matanya yang mulai mengalir.


"Ehm sudah kok Tan, tapi Tan .. Tante habis nangis ya?" tanya Freya.


"Sekarang udah enggak kok Nak. Tante cuman berpikir tinggal empat jam lagi kalau Anggara belum siuman Anggara akan di bawa ke ruang ICU."


Freya menggigit bawah bibirnya seraya mata pandangan melihat Anggara yang masih senantiasa menutup mata. Kesemua yang ada di kamar rawat no 208 setia menunggu Anggara bangun dari ketidaksadaran dirinya yang termasuk begitu lama memasuki 1 hari.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Diam tak bersuara hanya menanti kesadaran Anggara datang, namun jam sudah menunjuk pukul 11.30


"Sayang, kamu kenapa belum bangun juga?! Sebentar lagi jam dua belas akan datang tapi kenapa Anggara belum ada niatan untuk buka mata. Hiks ... bangun dong Nak, jangan buat Mama, Ayah sahabat-sahabatmu takut seperti ini."


Andrana berusaha membangunkan Anggara dengan cara mengusap bahu kanannya yang lemas tersebut, air mata sang ibu jatuh mengalir menjadi air linangan bening. Tak hanya sang ibu saja, tetapi juga dengan sang ayah, serta sang para sahabatnya.


Reyhan meraup wajahnya stress. "Ayolah Bro, lu napa jam segini masih enakan bobok gini sih?! Apa lo gak kasian hah sama kami yang sedari tadi tuh diem hanya untuk nungguin lo sadar?"


"Apa lo akan seperti dulu lagi? Pingsan dalam waktu yang panjang, karna kalau lo gak bangun-bangun juga ... lo bakal kembali di baringkan ke ruang sana lagi," lanjut Reyhan sambil menyentuh kaki Anggara yang ditutup oleh selimut tebal.


"Seneng kamu ya Ngga, buat kami panik kayak begini? Ayo dong bangun jangan mimpi mulu, nanti malah bablas!" ucap Jova dengan nada setengah jengkel setengah khawatir.


"Jahat kamu Ngga! Daritadi gak bangun-bangun. Aku minta kamu harus bangun, aku gak mau kamu di bawa ke ruang yang bau obat-obatan itu hiks!" Freya dengan merengek menenggelamkan wajahnya di atas selimut Anggara seraya menepuk pundak kiri sahabat kecilnya beberapa kali.


"Anggara nggak kasian sama Mama? Mama tadi sampe mau begadang untuk jaga kamu ayah larang loh, tadi malam Mama sempet nggak bisa tidur karena khawatirkan kamu tapi sampai sekarang Anggara juga belum sadar? Atau benturan keras itu yang membuat kamu sulit untuk segera cepat siuman?" Agra setelah mengutarakan kata tersebut lalu mengelap air matanya.


Hingga tak terasa jam semakin berjalan dan meninggalkan jauh dari jam pukul 11.30


Cklek !


Pintu kamar rawat dibuka oleh sang dokter Ello beserta dibelakang beliau ada beberapa perawat. Dokter Ello berhenti melangkah disaat melihat kesedihan dari kedua orangtua dan sahabat-sahabatnya pasien tersebut yang akan beliau tangani.


Reyhan yang air matanya terlanjur membasahi pipinya melirik dokter Ello. "D-dokter?!" kejut Reyhan.


Reyhan berdiri tegak kemudian menghapus air linangan miliknya begitu juga yang lainnya baru tersadar kehadiran dokter Ello beserta perawat-perawat. Dokter Ello dengan wajah lara kembali melangkah menghampiri ranjang pasien milik Anggara begitupun para perawat yang mengikuti beliau.


"Selamat siang Bapak dan Ibu."


"Siang ... Dok, apakah Dokter kesini untuk memeriksa Anggara?" tanya Agra lara.


"Saya akan memeriksa Anggara nanti ya Pak dan mohon maaf sebelumnya, karena Anggara sampai saat ini belum juga ada tanda-tanda akan siuman, maka dari itu kami terpaksa membawa Anggara ke ruang ICU di ruang waktu Anggara mengalami Koma."


"Dok, emangnya ini sudah jam dua belas- eh loh cepet banget jamnya?!" Jova yang menengok jam dinding terkejut karena rupanya kini sudah jam 12.00


"S-s-sekarang Dokter?!"


"Benar Ibu, harus segera anak Ibu kami bawa ke ruang ICU untuk pemeriksaan lebih lanjut sekaligus pemantauan ketat. Jadi apakah Ibu, Bapak dan sahabat-sahabatnya Anggara setuju untuk kami bawa kesana?"


Andrana nangis terisak. "Baik Dok, kami semua setuju. Kalau itu memang terbaik untuk Anggara, kami merelakan."


Freya mengangguk dengan air mata terus saja membanjiri pipinya hingga ke ujung dagunya.


Dokter Ello menganggukkan kepalanya perlahan. "Mohon maaf sekali lagi ya Bapak dan Ibu."


"Tidak apa-apa Dokter, silahkan." Agra mempersilahkan sang dokter.


"Nak, Mama berharap setelah Anggara diberi pemeriksaan disana, kamu segera bangun ya Sayang."


Andrana yang membelai rambut atas Anggara, membungkukkan badannya untuk mencium atas kening anak semata wayangnya. Andrana dengan rela mempersilahkan tim medis mendorong ranjang pasien untuk membawa Anggara ke ruang ICU. Namun akan tetapi disaat Andrana akan menjauh dari ranjang pasien, Andrana begitu terkejut tangan Anggara mencekal lengan mamanya dengan sangat lemas.


Agra, Reyhan, Freya, Jova, dokter Ello, sekalian beberapa perawat kaget bukan main melihat tangan kiri Anggara menggenggam lengan tangan kiri Andrana dalam mata yang masih pejam.


"Anggara, Nak, Sayang! Kamu udah sadar?!" senang Andrana dengan menangkup lembut wajah Anggara yang tidak sedingin tadi malam.


Andrana lebih terkejut hati senang, mulut Anggara yang bungkam pucat kering membuka sedikit lalu menghembuskan napasnya lemah. Tangan Anggara yang tak terlepas dari lengan Andrana, sang ibu kemudian melepaskan genggamannya tangan sang anak lalu bergantian Andrana yang menggenggam tangan kiri Anggara.


Dokter Ello langsung menghampiri dekat Anggara lalu mulai memasangkan earpieces stetoskop ke masing-masing telinganya lalu sang dokter mulai menempelkan diafragma stetoskop ke dada pasien. Bisa dokter Ello dengarkan detak jantung milik Anggara yang sebelumnya kemarin terdengar lemah kini sudah kembali normal. apakah ini adalah Mukjizat?


Dokter Ello kemudian melepaskan earpieces stetoskopnya dari kedua telinga lalu beliau mengeluarkan senter kecil medis lalu menyalakan senter tersebut dan beliau menyorotkan cahaya senter medis disaat dokter Ello membuka satu mata Anggara lalu mata Anggara sebelahnya.


Dokter Ello menilik jam arlojinya kemudian menatap Andrana dan Agra satu persatu. "Selamat ya Pak, Bu hari ini Anggara tidak jadi kami bawa ke ruang ICU dikarenakan lima menit lagi Anggara akan segera benar-benar siuman."


Kedua orangtua Anggara dan ketiga sahabat Anggara terkejut dengan mulut menganga bahagia mendengar ucapan beliau Ello Hanendra.


"Dokter serius?! Tidak berbohong kan?!"


"Saya serius Ibu, saya benar-benar tidak menduga ini terjadi, kami turut senang pada kondisi Anggara saat ini."


"Ayah! Alhamdulillah anak kita akhirnya sebentar lagi akan sadar hiks!"


Andrana memeluk Agra sang suami dengan erat dibalas pun oleh Agra mendekap istrinya penuh bahagia pada akhirnya anak semata wayang putra mereka keadaannya kembali membaik.


Dokter Ello menatap wajah Anggara yang ternampak tenang, namun di ekspresi sang beliau tertera lumayan sedih menatapi pasien tersebut.


"Ibu, Bapak sekarang saya ingin menyampaikan suatu lagi pada kalian," ucap dokter Ello sembari berbalik badan.


Sepasang suami istri tersebut melepaskan pelukannya masing-masing dan menatap mata dokter sungguh-sungguh.


"Iya Dok, mau menyampaikan tentang apa?" tanya Andrana.


Dokter Ello tersenyum. "Bapak dan Ibu bisa ikut ke ruangan saya, mari."


Dokter Ello berjalan lebih dulu ke pintu kamar rawat untuk keluar, sementara Andrana, Agra, Freya, Jova, dan Reyhan saling menatap. Andrana serta suaminya mengangguk bersamaan pada komando ramah dari dokter Ello Hanendra.


"Mama sama ayah pergi ke ruang dokter dulu ya Nak," ujar Andrana lembut dengan mengusap bahu kanan Anggara yang masih menutup mata.


Andrana setelah itu pergi bersama Agra dan dokter Ello ke ruangan beliau sedangkan ketiga sahabat Anggara menemani pemuda si Introvert tersebut.

__ADS_1


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Setelah menempuh perjalanan menuju ke ruangan dokter Ello dengan perlu menelusuri beberapa lorong rumah sakit, tibanya mereka di depan pintu ruangan.


Dokter Ello membuka pintu ruangannya dan mempersilahkan dengan sopan Andrana dan Agra masuk ke dalam. Usai menutup pintu, dokter duduk di kursi ruangannya begitupun juga kedua orangtua Anggara duduk di persinggahan dua kursi yang telah tersedia.


"Jadi, dokter ingin menyampaikan tentang apa ya? Hingga menyuruh kami ke ruangan anda?"


Dokter Ello menumpukkan kedua tangannya di atas meja dokternya lalu duduk tegak, tatapan berarti dari sang dokter membuat kedua orangtua Anggara sedikit mulai gugup.


"Jadi begini Bapak serta Ibu, saya disini ingin menyampaikan sesuatu tentang cidera kepala yang di alami oleh Anggara Veincent Kaivandra. Pada kondisi kepala Anggara yang luka, suatu saat akan semestinya sembuh. Namun, akan lebih baik sekali lagi Bapak dan Ibu harus menjaga Anggara untuk tidak terjadi lagi benturan kepala yang keras, karena pada dasarnya luar kepala Anggara telah luka jadi kalau itu sampai terulang kembali luka Anggara yang menutup kembali terbuka."


"Jadi saya mohon pada Bapak dan Ibu demi keselamatan jiwa anak kalian, tolong jangan sampai terkena benturan keras ataupun pukulan kuat yang membuat kepala Anggara terluka apalagi hingga sampai berdarah, dikarenakan kalau terjadi ada dua antara yang terbilang sangat fatal."


Andrana menelan salivanya susah payah dengan jantung berdebar kencang. "Dua antara itu apa saja Dok yang bisa membuat anak kami terbilang sangat fatal?"


Dokter Ello menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. "Dua antara itu adalah Koma atau taruhan nyawa."


DEG !


Agra dan Andrana terdiam seperti patung es batu beku mendengar untaian kata dokter Ello yang berwajah gundah.


"Dokter berbicara yang betul-betul, apakah anda sudah memastikannya jika itu terjadi anak kami bisa menjadi fatal seperti anda sebutkan??"


"Saya berbicara tidak dengan mengada-ngada Bapak, saat saya mengobati luka kepala Anggara akibat Anggara terbentur keras lagi di lantai waktu ada dalam kamar rawat, saya bisa memastikan bahwa jika itu terjadi sekali lagi dampaknya akan sangatlah fatal, ya seperti dua antara saya sebutkan. Tetapi itu tergantung keadaan Anggara saja Koma atau taruhan nyawanya, namun saya harap Anggara tidak akan terjadi lagi pada kecelakaan insiden yang dialaminya."


"Baik Dok, saya dan istri saya paham sekali. Kami akan berusaha untuk menjaga Anggara agar tak terjadi hal seperti itu lagi, maaf atas kelalaian saya dan istri saya Dok."


"Tidak mengapa-ngapa Pak, oh iya kalau saya boleh tahu apakah Bapak dan Ibu memiliki pekerjaan ketat yang membuat anda dan istri anda meninggalkan Anggara begitu lama?"


"Tentu saja Dok, saya dan Istri saya bekerja di perusahaan kantor ternama di kota Semarang dan sebenarnya saya dan istri saya bekerja disana karena saya ingin mengikuti kakak saya atau bibinya Anggara yang tinggal di kota Semarang."


"Waduh jauh sekali ya Pak."


"Iya Dok sedangkan kami dan Anggara tempat tinggalnya di kota Jakarta."


"Oh, asli kota Jakarta? Saya kira kota Bogor, baik-baik maafkan saya."


"Iya Dok tidak apa-apa."


"Baik Pak, untuk sementara Anggara belum sembuh pulih total Anggara di larang untuk beraktivitas yang membuat anak Bapak dan Ibu lelah ya. Jika Anggara sampai kelelahan hal itu kambuh cideranya bisa mendatang dan sekaligus kesadaran Anggara langsung menurun."


"B-baik Dokter, tetapi jika anak kami tidak sadarkan diri akibat kelelahan butuh menunggu beberapa lama?"


"Tergantung tubuh Anggara saja Bu, jika tubuh Anggara posisinya sehat pingsan itu hanya berangsur selama beberapa menit saja namun kalau tubuh Anggara kurang fit atau lagi tidak fit ketidaksadaran tersebut berangsur selama beberapa jam."


"Astaghfirullah kenapa bisa separah itu," lirih Andrana dengan menyentuh keningnya memejamkan mata sejenak.


Dokter Ello tersenyum pilu. "Oh iya untuk obatnya bisa wali orangtuanya Anggara ingat, hanya diminum saat cidera kepalanya kambuh saja ya. Apakah Bapak dan Ibu paham ucapan dari saya?"


"Paham Dok kami paham sekali, terimakasih banyak atas kesampaian tentang ini yang membuat saya dan istri saya lebih berhati-hati mengenai Anggara. Terimakasih sekali Dokter."


"Iya Pak sama-sama, apakah di antara Bapak dan Ibu ingin bertanya sesuatu pada saya sebelum pergi?"


"Oh tidak ada Dokter," tanggap Andrana senyum.


"Baik Ibu, semoga Anggara secepatnya pulih ya agar bisa beraktivitas kembali di lingkungan dalam rumah, lingkungan luar dan lingkungan sekolah."


"Aamiin, terimakasih banyak lagi Dokter Doanya pada anak kami berdua. Kalau begitu saya dan istri saja izin pamit keluar ya Dok, terimakasih."


"Baik Pak, Bu sama-sama kembali."


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Suara sayupan terdengar di kedua telinga Anggara, perlahan ia membuka matanya lemah yang sayu. Disaat ia sudah membuka matanya setengah, pandangan luar Anggara nampak blur buram tidak jelas tapi pemuda itu merasakan ada 3 orang di dekatnya.


Reyhan yang menatap wajah Anggara mencondongkan dirinya. "Anggara? Eh lo dah sadar nih?!"


Anggara tak menjawab namun bola matanya mengarah ke arah Reyhan yang ada di sebelah kanannya.


Cklek !


"Eh Tante sama Om udah balik?"


"Udah dong Va, ini buktinya Om sama Tante sudah disini hehe," jawab Agra cengengesan.


"Tante, Om Anggara sudah siuman," ucap Freya dengan senyum merekah.


"Anggara sudah sadar Nak?!" Andrana berlari ke samping Anggara.


Pandangan yang sedari tadi jelas, Anggara hanya diam menatap langit-langit dinding putih, kepalanya juga rada cenat-cenut.


"Anggara! Alhamdulillah Ya Allah akhirnya kamu sadar juga hiks Mama seneng banget!"


Anggara yang sedikit menggerakkan kepalanya lumayan menghadap Andrana, melihat sang Ibu mengeluarkan air mata mengalir membasahi pipi.


Anggara mulai melepaskan masker oksigen yang terpasang di wajahnya lalu ia membuka mulutnya dan mengeluarkan suara nada lemah.


"M-mama ... kenapa nangis?"


"Mama nangis bahagia Nak, Mama kira Anggara bakal terjadi apa-apa tapi ternyata sebaliknya ya."


Andrana memeluk hangat tubuh Anggara yang masih lemas dan di balas Anggara melingkarkan kedua tangannya untuk memeluk Andrana dengan bibir menyungging tersenyum.


'Mama ayah akan sebisa mungkin menjagamu.'


'Menjaga? Sebisa mungkin menjagamu bagaimana maksudnya mama? ' batin Anggara.


Andrana melepaskan pelukannya begitupun juga dengan anaknya. Tatapan penuh arti dari Andrana menunjukan dirinya begitu rindu pada Anggara meskipun ia hanya pingsan bukan habis pergi jauh.


"Lo itu yak sumpah bikin kami semua nyaris jantungan. Hampir aja lo dibawa ke ruang ICU," ujar Reyhan rada ketus.


"Ruang ICU ... kenapa?"


"Keadaan lo waktu itu menyedihkan banget tau nggak sih Ngga. Tapi ya sekarang gue lega lo akhirnya sadar meskipun tadinya lo mau di bawa ke ruang ICU tadi gak jadi."


"Cuman buat hampir jantungan aja kan?"


"Apanya njir, lo juga buat kami nangis tau!"


"O-oh maaf kalau gitu, gue teledor gak bisa jaga keseimbangan waktu ambil obat gue yang jatuh."


"Enggak apa-apa kok Anggara, yang penting kami semua senang kamu bangun sadar," kata Freya tersenyum lembut.


Anggara mengangguk tersenyum hambar mengetahui rupanya ia sudah membuat semua orang yang menyayanginya menangis oleh karna-nya.


"Nak, kamu kenapa sih waktu kamu kesusahan ambil obatnya gak hubungi Mama atau nggak ayah? Atau enggak lagi panggil suster buat minta tolong ambilkan, kan biar gak gini jadinya Anggara."


"Anggara, nggak mau ngerepotin jadi lebih baik tandang sendiri."


"Iya Mama tau Anggara gak suka ngerepotin, tapi apa salahnya Anggara minta bantuan. Kalau saja Anggara minta tolong kemarin, Anggara gak bakal jatuh terus kepalamu terbentur luka berdarah lagi, ya kan?"


"Eee i-iya Ma maafin Anggara ya buat semuanya juga."


"Iya-iya Ngga, udah deh gak usah kamu pikir. Oh iya kepalamu gimana? Masih sakit? Kalau masih sakit Ayah ambilkan obat."


"Enggak Yah, kepala Anggara lagi nggak sakit kok tadi iya sekarang sudah enggak."


"Oh gitu, yaudah deh aman. Kalau gitu Anggara mau apa? Makan? Minum?"


Anggara menggelengkan kepalanya pada Agra dan ayahnya pun hanya mengangguk mengerti.


"Heh cowok Einstein, terakhir ini aja kamu kek begitu yak, Awas aja kalo bikin kami khawatir lagi."


"Sejak kapan kamu ngasih Anggara julukan Einstein, Va?" tanya Reyhan.


"Sejak negara kita dijajah dinosaurus!"


"Buset! Eh kita belum lahir woi! Tapi kalau aku udah gede gini terus masih ada zamannya dinosaurus, aku pasti pergi ke zaman itu lalu aku foto-foto deh abis itu ku masukin ke Facebook dan Instagram jadi akun terviral dah aku."


"Iya tapi semua itu tinggal kenangan, kan cuman tinggal nama doang orang kamu sudah matek di santap."


"Ya tau lah itu! Lagian aku juga lagi lihat dinosaurus kok, mana deket lagi."


"Hah?! Mana-mana?! Ada dimana dinosaurus-nya?!" Jova menengok-nengok kanan kiri bergiliran secara cepat.


"Ya kamu itu, si dinosaurus T-rex yang kerjaannya ngamuk tanpa sebab hahahaha!"


"Anjrit! Gue lagi serius malah mengejek gue, nih-nih rasain lo dari balesan gue!!"


DUKH !


"Aaaauuwww! Sial kaki gue memar!" umpat Reyhan mengangkat kakinya yang di injak kuat oleh sepatu Jova sementara kaki satunya melompat-lompat seperti lagi bermain engklek.


"Va! Tega kamu yak! Udah kakiku di injek, kotor lagi sepatuku! Gak tau apa sepatuku habis aku bersihin di rumah?!"


"Gak. Sukurin suruh siapa ngeledek sang Inyong? Hahahaha mampos!"


Freya menggelengkan kepalanya beberapa kali yang ada di sampingnya Anggara sementara Anggara hanya diam bungkam menonton aksi debat antara Jova dan Reyhan.


Reyhan menurunkan kakinya lalu menatap Anggara. "Eh Bang, lu suka buka-buka Facebook ama Instagram gak? Suka posting-posting gitu maksud gue."


Anggara yang berbaring hanya bisa menjawab, "Gue gak demen semuanya."


"Anjir buset hahahaha, manusia langka lo rupanya gak demen-demen gitu kek mau di nikahin sama mba kuntilanak."


"Salah, tapi suster gepeng. Karna ini rumah sakit, berarti gue di nikahin sama setan suster gepeng yang dulunya mati kejepit lift."


"Anjir siang-siang bikin gue merinding!"


Kedua orangtua Anggara dan sahabat-sahabatnya Anggara tertawa mendengar celotehnya pemuda sang Introvert dan pemuda sang pelawak tersebut.


Kesedihan yang menghampiri tangisan kini berbalik menjadi kebahagiaan mengundang gelak tawa. Kamar rawat no 208 kembali kondusif karena berkat celoteh panjangnya Reyhan dan sekarang ditambah celoteh pendek Anggara yang suara nadanya masih terlihat lemas. Namun hal itu tingkah bicara Anggara yang seolah terdengar cuek malah membuat kesemua orang-orang yang ia sayangi tertawa karena olehnya.


INDIGO To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2