Indigo

Indigo
Chapter 35 | Lost Forever


__ADS_3

BRAK !!!


Reyhan tanpa sengaja saking tergesa-gesa sampai mendobrak pintu masuk ke dalam ruang kepala sekolah, yang sang pak Harden sedang mencatat-catat di berkas-berkasnya terkejut setengah mati pada kelakuan siswa yang duduk di kelas XI IPA 2.


"Astaghfirullah Ya Allah Ya Robbi, Reyhan Lintang Ellvano!! Sopan kamu dimana hah?! Asal dobrak pintu ruang kepala sekolah!"


"Hosh ... a-aduh Pak, maaf P-pak. Izinkan saya ... atur nafas sejenak hosh ... hosh ... hosh ..."


Pak Harden menganggukkan kepala dan meletakkan bolpoin-nya begitu juga satu lembar kertas formulir yang ia pegang di tangan kirinya. Beliau duduk tegak dengan kedua tangan ia tumpuk di atas meja lalu menatap Reyhan sangat intens serius.


Reyhan yang membungkukkan badannya sembari menyentuh dadanya untuk menormalkan napasnya, ia tegakkan badannya kemudian mata kontaknya fokus pada pak Harden seraya berjalan menghampiri beliau yang masih tengah duduk di kursi kantornya.


"Pak, Emily Michaela Sophia kelas sepuluh IPA lima .."


"Iya, kenapa dengan dia? Kok wajahmu terlihat panik seperti itu? Ada apa?"


"Emily bunuh diri Pak!!" lantang Reyhan dengan suara paniknya.


Mata pak Harden melebar sempurna. "Hah?! Bunuh Diri?!" Beliau mendengus napasnya lewat hidung. "Reyhan, tolong kamu jangan bicara yang tidak mungkin."


"Duh Bapak nih, memangnya muka saya ini lagi nge-prank?! Saya serius Pak! Jika Bapak tidak percaya dengan saya, Bapak bisa lihat dari luar jendela belakang!"


Pak Harden tanpa segan-segan beranjak dari singgahannya lalu berjalan cepat ke jendela kaca untuk melihat siswi yang bunuh diri, mata pak Harden terlihat antusias dan pada akhirnya beliau tersontak terkejut sedikit syok melihat satu siswi terbaring lemah menutup mata dengan wajah berlumuran darah nyaris hancur serta kepalanya yang bocor di sebuah parkiran khusus roda dua sebelah posisi kanan, tak lainnya itu ialah Emily.


Pak Harden segera pergi ke mic speaker sekolah samping mejanya dan langsung menginfokan penting kepada seluruh guru, siswa dan siswi SMA Galaxy Admara ini. Sementara Reyhan berdiri dengan wajah tam karuan paniknya dan dirinya juga belum sempet mengecek apakah Emily masih bernapas atau tidak.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Di kantin, nampak Freya, Jova dan juga Rangga berdiam diri menunggu Reyhan yang tak kunjung kembali ke kantin. Jova berpikir Reyhan meminjam buku novel minggu yang lalu ia baca dan kini ia membacanya kembali di dalam perpustakaan, di sisi lain Kyra berlari menghampiri Freya dan Jova tak lupa Rangga yang duduk di sebelah tempat duduk Reyhan yang kosong.


Freya yang lebih dulu melirik Kyra langsung menyerong badannya menghadap Kyra. "Kyra? Wah tumben kesini, kenapa Ky?"


Jova dan Rangga yang tidak menyadari ada Kyra di samping Freya ikut menyerong badannya menatap Kyra.


"Kak Freya, Kak Jova .. Kyra boleh tanya nggak?"


"Boleh dong Dek, mau nanya apaan?" tanya Jova penasaran.


"Kakak-kakak lihat Emily nggak? Emily, sahabatnya Kyra."


"Emily? Duh gak lihat Kakak mah Dek. Emangnya kamu sendiri gak tau sahabat SD-mu dimana??"


"Enggak tau Kak Jova, niatnya tadi mau nelpon Emily tapi HP-nya gak dibawa sama Emily, ponselnya ada di tasnya. Biasanya dia kalau istirahat pasti bawa HP kok."


"Haduh begitu ya Ky, hmm Kakak sendiri juga nggak lihat Emily dimana nih. Emily daritadi juga nggak ke kantin kakak lihat .. ya kan Va, Ga?"


Jova dan Rangga mengangguk pelan bersamaan lalu Rangga yang menurunkan ponselnya bertanya pada Kyra, "Sahabat Kyra ciri-cirinya bagaimana? Sebelumnya Kak Rangga belum pernah melihat Emily seperti apa, terlalu banyak anak-anak disini."


"Begini Kak Rangga, ciri-cirinya Emily itu rambutnya panjang sepunggung, warna rambutnya kuning agak kecoklatan, kulitnya putih seperti Kyra, Emily siswi kelas sepuluh IPA lima. Kakak Rangga lihat kah?"


Rangga nampak berpikir dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kanannya ia tempel di keningnya lalu memijatnya.


"Rambutnya panjang sepunggung, warna rambutnya kuning agak kecoklatan, kulitnya putih seperti Kyra, Emily siswi kelas sepuluh IPA lima." Rangga menirukan ucapan Kyra sembari berpikir.


"Aduh jadi mumet gue sumpah, soalnya anak perempuan sekolah disini tuh ciri-cirinya yang kamu sebutin itu nyaris semua sama loh."


"Gitu ya Kak Rangga, yaudah deh Kyra coba cari Emily di sekitar lain selain kantin. Kyra pergi dulu ya-"


"Kyra, Kakak-kakak bantu cari Emily yuk! Mumpung belum bel," ujar Freya bersemangat.


"Wah makasih Kak Freya, Kakak baik banget deh mau bantu Kyra. Hehehe ayo Kak, Freya, Kak Jova, Kak Rangga."


Kakak kelas Kyra mengangguk tersenyum semangat lalu hendak beranjak dari kursinya dan membantu Kyra untuk mencari Emily. Namun tiba-tiba terdengar suara pak Harden selaku kepala sekolah mengumumkan sesuatu lewat speaker sekolah.


"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, mohon perhatiannya sebentar wahai Bapak Ibu guru dan anak-anak. Hari ini saya meminta seluruh siswa siswi sekalian bapak ibu guru semuanya tolong untuk pergi ke parkiran pojok kanan luar sekolahan, ada sebuah kejadian tak terduga disana. Terimakasih atas kerjasamanya, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."


Pak Harden mengakhiri pengumumannya pada seluruh guru-guru dan semua siswa siswi SMA Galaxy Admara. Seketika kantin menjadi heboh ada apa di parkiran sebelah pojok kanan tersebut, tanpa lambat-lambat semua siswa siswi dan para guru-guru segera pergi ke parkiran khusus roda dua seperti yang diminta mohon tolong oleh kepada pak Harden.


Termasuk Jova, Freya, Rangga, dan Kyra pergi bersama-sama menuju luar sekolah. Sebagian banyak siswa dan siswi ada yang berlari berhamburan pergi ke parkiran, setelah banyak menelusuri koridor-koridor sekolah dan keluar dari lobby mereka semua pun tiba di parkiran sebelah kanan. Kyra yang berbadan pendek tidak bisa melihat apa yang terjadi di depan sana, ia sampai jinjit-jinjit dan lompat-lompat karena di depan persisnya adalah siswa siswi antara kelas XI dan XII. Badannya yang tinggi-tinggi sukar untuk Kyra memandang kejadian di depan yang ia tak tahu kejadian tak terduga apa yang dimaksud sang kepala sekolah.


Kyra menarik-narik jas almamater milik Freya di bagian pinggang. "Kak, kira-kira di depan ada peristiwa apa ya? Kyra gak bisa lihat apa-apa."


Freya menoleh ke Kyra. "Kakak juga nggak tau Ky, mana ke tutupan lagi."


"Ada yang terbaring disana, wajahnya banyak darahnya terus kepalanya juga kayak bocor gitu," ucap Rangga dengan tetap pandangan mata di depan.


"Kok kamu bisa lihat?!"


"Ya bisalah Va, kan aku tinggi gak kek kamu, pendek."


"Nyebelin banget sih!" Tanpa berpikir panjang karena jengkel, Jova mencubit pinggang Rangga.


"Akh aduh iya-iya ampun!"


Di depan sana terdengar banyak siswa dan siswi bergumam-gumam tentang peristiwa yang mengerikan tersebut sampai datanglah pak Harden dan juga Reyhan dari jauh belakang mereka yang berkerumunan. Kyra yang penasaran langsung menarik tangan Freya untuk menerobos kepungan para siswa-siswi sementara guru-guru sudah berada disana. Freya hanya pasrah ditarik adik kelasnya karena jiwanya telah meronta-ronta.


Begitu mereka berdua berhasil melewati kerumunan ramai para siswa dan siswi, Kyra syok dengan menutup mulutnya begitupun matanya terbelalak lebar termasuk Freya.


"HUAAA EMILY!!!"


Kyra berteriak lengking dan berlari menghampiri Emily yang banyak bersimbah darah, sahabatnya Emily menjatuhkan kedua lututnya di aspal lalu menarik Emily ke atas dua paha kaki Kyra.


"Hiks E-emily hiks! Kamu kenapa bisa kayak gini sih?! Ayo bangun dan lihat akuuu!!"


Kyra menepuk-nepuk pipi Emily tak peduli tangan Kyra kena darah sahabatnya, Kyra menangis sekencang-kencangnya dengan memeluk erat Emily yang tak bergerak. Jova dan Rangga sangat terkejut melihat kejadian musibah tragis ini.


"Berharap tenang semuanya, ambulans akan segera datang sepuluh menit lagi!" tegas pak Harden.


Reyhan yang ada di samping pak Harden hanya diam sembari menengok atas gedung sekolah, namun sayup-sayup Reyhan melihat ada ketiga gadis siswi yang ketahuan dilihat Reyhan langsung segera berlari entah kemana.


Pak Harden berhadapan dengan Reyhan yang menurunkan kepalanya dari setelah ia mendongak. "Reyhan mohon tolong kamu jelaskan, apa benar Emily bunuh diri? Apa kamu punya buktinya?"


Reyhan menatap berani pak Harden. "Saya tidak punya buktinya Pak, tetapi disaat saya sedang berada di perpustakaan secara tiba-tiba saya melihat ada seorang siswi yang jatuh dari rooftop sekolah, saya tahu itu karena perpustakaan SMA ini hampir dekat dengan rooftop lantai terakhir, kan Pak."


"Iya betul Reyhan, tetapi kenapa kamu bisa bilang kalau Emily bunuh diri? Kamu di dalam perpustakaan kan, bukan di atas rooftop sekolah?"


"Benar Pak, waktu itu saya ada didalam perpustakaan dengan pak Arya. Tetapi jika itu mungkin, Emily bunuh diri kan Pak, tidak mungkin juga kalau Emily di dorong ketiga siswi yang di atas rooftop-"


"Tunggu-tunggu, 'tiga gadis siswi di atas rooftop'? Siapa mereka?" tanya pak Harry.


"Maaf Pak, saya tidak tahu betul mereka siapa. Tapi yang jelas tadi barusan saya lihat mereka bertiga di atas sana," tunjuk Reyhan arah atas gedung sekolah.


"Tapi mereka sudah lari duluan Pak."


Jova mengerutkan keningnya seraya melihat sekeliling hingga ia mendapati tiga siswi yang nampak senyum-senyum senang. Jova tidak mengerti mengapa mereka bertiga malah senang seperti itu di atas musibah tragedi tentang Emily yang diduga bunuh diri.


"Woi Eliana, Rainey, Gantari! Kenapa kalian keliatan seneng gitu ada musibah yang terjadi sama temen kalian bertiga? Happy banget perasaan dari sini," curiga Jova.


"Halah lo ngapa yang sewot sih perusak?" Suara Youra celetuk itu membuat Jova naik darah dan menghadap pada gadis IPS 2 tersebut.


"Napa?! Lo gak suka, hah?! Mau gue sewot kek, sedih kek, ngamuk kek .. bukan urusan lo anjir!!"


Youra bersedekap di dada. "Lagian musibah begini aja, Kyra lebay banget."


"Lebay lo bilang??!! Heh setan, Kyra nangis karna sahabat dia kondisinya sekarat! Itu yang lo katakan lebay?!"


Youra yang ingin menjawab dengan nada membentak, terpotong karena sudah terdengar suara sirine mobil ambulans menuju gang SMA Galaxy Admara. Freya yang menenangkan Kyra menangis tersedu-sedu, bola matanya beralih menatap mobil ambulans RS Wijaya.


Sebenarnya Kyra bersyukur Emily masih bernapas meskipun dirinya tak segera sadarkan diri pada darah kepalanya telah banyak mengalir dengan itu Kyra menekan kepala Emily agar darahnya tidak menerus keluar. Kini para petugas paramedis yang mengenakan seragam putih menghampiri korban dan segera mengangkatnya ke atas kasur roda. Kasur yang putih bersih itu menjadi bercak-bercak darah oleh terkena darahnya Emily.


Bola mata Reyhan turun kebawah disaat ia melihat sebuah satu kertas gulung jatuh dari kantung seragam jas almamater Emily yang berdarah kotor berdebu. Dengan antusias, Reyhan melangkah mengambil kertas gulung itu dan hendak membaca isi dalamnya.


Reyhan membuka gulungan kertas tersebut lalu membacanya, di sampingnya terlihat ada seluruh teman-teman kelasnya termasuk Jova dan Rangga. Perlahan demi perlahan Reyhan membuka isi dalam secarik kertas tipis tersebut.


Apa yang Reyhan baca adalah tulisan kata-kata perpisahan untuk terakhir.



Reyhan dan yang lain membaca kertas tersebut dengan sangat saksama hingga pada hampir penghujung kalimat akhir, pemuda tersebut serta semuanya yang membacanya begitu pilu hatinya disaat telah membaca kertas tulisan dari Emily untuk Kyra. Apakah benar jika Emily bunuh diri? Bahkan pagi ini sudah menggemparkan seluruh siswa siswi dan para guru-guru.


Bu Hana guru wali kelas X IPA yang mengenakan hijab panjang membuat beliau terkesan guru yang tak bisa bernada tinggi, hanya mampu bernada lemah lembut segera mengeluarkan handphone-nya dari saku rok panjang untuk menghubungi satu orangtua Emily yang diyakini adalah bundanya. Bu Hana akan memberi kabar bundanya Emily jika anaknya akan dilarikan ke RS Wijaya.


Karena kertas yang di pegang Reyhan tersebut untuk Kyra, pemuda itu melangkah perlahan ke Kyra yang hendak naik mobil ambulans.


"Kyra, tunggu sebentar. Sebelum kamu pergi ke rumah sakit, Kakak mau kasihi satu kertas dari Emily."


Melihat Reyhan mengulurkan tangannya untuk memberikan kertas tipis lembar tersebut tanpa bertanya langsung menerimanya dengan wajah sembab penuh air mata.


"Makasih Kak Reyhan."


"Iya sama-sama, semoga setelah nanti disana Emily baik-baik saja ya."


Kyra mengangguk berusaha tersenyum lalu segera menaiki mobil ambulans dibelakang. Freya yang diam berdiri menatap Kyra naik ke mobil ambulans, bahu Freya di sentuh pelan oleh pak Harry wali kelasnya.


"Iya Pak ada apa?" tanya Freya sembari menghadap pak Harry.


"Freya, akan lebih baik kamu masuk ke mobil ambulans untuk menemani Kyra nanti dirumah sakit, orangtuanya Emily sedang dihubungi oleh bu Hana dan nanti akan kemungkinan bundanya Emily segera menyusul ke rumah sakit."


"Oh baik Pak Harry, baik kalau begitu." Freya membungkukkan badannya sedikit lalu kemudian menegakkan badannya untuk bertaut tangan dengan guru wali kelasnya rasa sopan santun.


Usai itu Freya melangkah ke mobil ambulans dan menaikinya serta selanjutnya gadis itu duduk di samping Kyra yang menggenggam tangan sahabatnya dengan rasa hati cemas meliputi. Pintu belakang mobil ambulans ditutup oleh salah satu petugas paramedis.


Mobil ambulans pada akhirnya melaju dengan suara sirine usai petugas paramedis tersebut telah masuk ke dalam pintu mobil samping kemudi. Kesemua yang menatapi mobil ambulans nang semakin menjauh dari wilayah sekolah penuh nada sendu, khawatir menjadi satu terkecuali siswi-siswi yang hatinya sungguh antagonis ialah Youra, Febrie, Claudie, Rainey, Eliana, dan Gantari.


Jova melipat kedua tangannya di dada dengan merenungkan sejenak bersama pikirannya, mengapa Emily bisa menjadi seperti itu bahkan kejadian peristiwa tersebut terbilang cukup parah dan apalagi Emily sampai menuliskan kata-kata perpisahan akhir di sebuah secarik kertas untuk dibaca oleh Kyra sahabat tersayangnya. Sedangkan Reyhan merasa sangat curiga di pada sebelumnya rasa kecurigaannya masih setengah namun ini sudah penuh.


3 siswi yang di atas gedung sekolah nampak misterius di gelagatnya masing-masing yang sama. Reyhan sempat menduga ada hubungannya mereka bertiga dengan Emily.


Jova mengedarkan pandangannya ke salah satu fokus arah yaitu Rainey, Eliana, dan juga Gantari. Wajah mereka masih saja terlihat gembira padahal semuanya sedang cemas pada keadaan Emily nantinya.


'Gue curiga sama itu anak-anak disana, kenapa mereka malah seneng disaat Emily sekarat. Oh apa jangan-jangan tulisan-tulisan hinaan brengsek itu, mereka yang tulis? '


Reyhan yang berada di dekat persis Jova langsung mengetahui dan mendengarnya apa yang di batin oleh sahabatnya, pandangan Jova yang ada di arah ketiga siswi itu membuat Reyhan ikut mengedarkan pandangannya ke Gantari, Rainey, Eliana.


"Eh kalian yang disana! Ngapain lo pada ketawa-ketiwi gak jelas? Temen kalian yang kondisinya butuh pertolongan medis, kalian malah hura-hura."


Ucapan lantang Reyhan membuat ketiga siswi itu terdiam, sementara Reyhan mengeluarkan kertas kusut yang ia temukan di depan kelas X IPA 5. Pemuda itu kemudian melebarkan kertas tipis kotor tersebut dan ia perlihatkan ke ketiga gadis tersebut.


"Kakak mau kalian jawab pertanyaan Kakak soal kertas ini, apa ada di antara kalian berani menulis kata-kata tidak pantas macam ini? Ada yang mau mengakui?"


'Duh gawat nih, sialan itu Kakak kelas cowok itu! Kenapa kertasnya bisa ada di dia. Gawat kalau semuanya tersebar kalau pelakunya-'


"Siapa? Siapa pelakunya hah? Biar Kakak tebak, kalian kan yang melakukan ini semua. Terutama yang membuat Emily bisa seperti itu? Ayo jawab!"


"Ada apa Reyhan?" tanya pak Harden menghampiri Reyhan.


"B-bukan apa-apa Pak! Itu tadi Kakak kelasnya aja yang lagi menunjukkan kertas omong kosong!" tukas Rainey yang batinnya tadi di potong oleh Reyhan.


"Heh adek kelas congor-"


Srek !


Seketika Rangga merebut kertas yang di pegang Reyhan. "Ga, elo-" Rangga langsung mengedipkan matanya sebagai isyarat kode.


"Ada apa Rangga? Itu kertas apa?" tanya pak Harry yang sudah berada di samping pak Harden.


"Bukan kok Pak bukan, ini hanya kertas catatan tugas saja. Bukan apa-apa selain itu," ujar Rangga cepat.


Reyhan membuka mulutnya menganga tak mengerti apa yang dimaksud oleh Rangga, ia memilih diam tetapi matanya tetap tajam menatap ketiga gadis siswi tersebut yang mulai gelagapan.


"Baik anak-anak semuanya, bertenang dulu dan dengarkan info dari saya."


Komando pak Harden langsung cepat membuat kesemua siswa siswi diam hening sunyi dan mata pandangan fokus di pak Harden di depannya.


"Baik terimakasih anak-anakku semuanya. Untuk hari ini, pelajaran kita ditunda dulu dan silahkan ambil tas kalian lalu pulanglah ke rumah masing-masing. Kejadian peristiwa musibah tadi akan di runding oleh saya termasuk oleh bapak ibu guru lainnya."


Kesemua siswa siswi yang mendengarkan info dari sang kepala sekolah mengangguk lalu berbalik badan untuk mengemasi barang-barang mereka di kelas lalu pulang ke rumah masing-masing. Tentunya setelah semua murid-murid SMA Galaxy Admara pulang, seluruh guru-guru dan Bapak kepala sekolah segera mengadakan rapat di ruang guru.


Di dalam kelas XI IPA 2, Reyhan tengah menenteng tas punggungnya di pundak kirinya begitupun Rangga. Jova nampak tengah sibuk memasukkan buku paket, buku tulis, dan alat tulis Freya ke dalam tas. Dengan rasa peduli pada sahabatnya, Jova akan membawa tas ransel pics Freya yang sekarang gadis tersebut berada di RS Wijaya.


"Gak nyangka bakal pulang cepet, eh by the way abis ini kalian mau langsung pulang apa gimana?" tanya Andra yang menutup resliting tasnya.


Reyhan menengok jam dinding kelas yang masih menunjuk pukul 10.00


"Ke Anggara aja deh gue, sekalian mau ngomongin soal perisitiwa tadi," ucap kata Reyhan.


"Ke Anggara? Wah gue ikut!" celetuk Aji.


"Kak Aji!!"


Seorang gadis yang tak lain adik perempuannya Aji bernama Adna Rivelda Valentina. Adna duduk di bangku kelas X IPA 5 tentunya teman kelasnya Kyra dan Emily termasuk 3 geng pembully tersebut.


Aji menoleh ke sumber suara Adna, dan pemuda itu sudah sempat menghela napasnya panjang.


"Kenapa Na?" tanya Aji.


"Kakak, ayo buruan pulang! Udah di telpon sama mami loh!" ucap Adna dengan menarik-narik lengan Aji.


"Kenapa sih? Kakak mau jenguk kak Anggara di rumah sakit kota Bogor."


"Aduh Kak, gak bisa. Nanti soalnya ada acara keluarga dirumah kita, jadi nanti Kakak sama Adna pergi ke supermarket dulu buat belanja kebutuhan yang disiapin acara nanti sore. Ayo Kak, ini barang-barang yang harus kita beli sudah mami kirim di chat WhatsApp-nya Adna lho."


"Haduh ada-ada aja sih, yaudah deh iya-iya kita pergi kesana dulu. Yah jadi gagal lagi deh buat jenguk Anggara, padahal udah kepengen jenguk Anggara disana loh weh."


"Tenang Ji, kapan-kapan lo bisa jenguk Anggara kok. Mending sekarang lo buruan deh sana pergi belanja sama Adna," titah Rangga.


"Hhh oke, gue duluan ya Rey, Ga, Ndra, Va, La."


Kesemua temannya yang ia sebutkan mengangguk tersenyum, Aji melenggang pergi menarik tas selempang-nya lalu mengikuti Adna yang sudah pergi duluan dari kelas.


Andra menoleh ke Reyhan. "Reyhan, gue boleh jenguk Anggara gak sama lo, Rangga?"


"Yups, boleh kok disini gak ada yang ngelarang juga," respon Reyhan ramah.


"Jova, mau ikut aku, Rangga, sama Andra?" tanya Reyhan.


"Enggak dah Rey, aku sama Lala nyusul Freya ke rumah sakit Wijaya aja. Sekalian ingin tau kondisi Emily sudah membaik atau belum."


"Oh oke deh kalau begitu, yaudah yok keluar bareng-bareng," ajak Reyhan keluar dari kelas.


Sementara itu Lala juga sudah membawakan tas Kyra beserta tas Emily, karena tas Emily lumayan kecil Lala memasukan tas kecil pundak Emily ke dalam tas punggungnya saja agar ia tak membawa beban berat. Akhirnya dua gadis siswi dan tiga pemuda siswa melangkah keluar dari kelas lalu segera pergi ke rumah sakit yang berbeda antara rumah sakit kota Jakarta dan rumah sakit kota Bogor.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Di dalam kamar rawat 208 RS Kusuma, Anggara nampak melepaskan headset lagunya dari kedua telinga, ia mencabut kabel headset hitamnya yang ia pasang di colokan lubang kecil bagian handphone-nya. Anggara meletakkan headsetnya ke atas meja nakas sementara ponselnya ia taruh di sampingnya begitu saja.


Anggara meraih remote televisi yang ada di atas meja nakas, tanpa kesukaran pemuda itu berhasil mengambil remote tersebut. Anggara menekan tombol power untuk menyalakan televisinya yang ia akan tonton, sayangnya saat televisi menyala tak ada channel yang sangat membuat Anggara tertarik. Namun setelah Anggara memencet angka 1 dan 9 pemuda itu menemukan sebuah film horor bahasa indo, mulanya yang terlihat adalah seseorang banyaknya remaja berlibur di jalan tapak hutan terlarang.


Nuansa alam hutan yang mencekam di dalam film tersebut hal itu membuat Anggara tak ingin memindahkan channel televisi dikarenakan menurut ia film ini sudah membuat Anggara tertarik duluan. Anggara kembali menyenderkan punggungnya dan akan menikmati film horor yang dibuat oleh negara Indonesia.


Di setiap alur film yang Anggara amati berhasil membuat Anggara bergidik ngeri pada suatu adegan mematikan dimana sang pemain utama memburu hantu yang tak mungkin bisa pemain utama itu lihat. Terlihat menantang, tetapi adegan tersebut akan terus berlangsung yang akan membuat seluruh penonton film ini ketakutan, entah kalau Anggara yang memiliki jiwa pemberani.


Kedua mata Anggara yang sipit terfokus pada sosok makhluk halus di film tersebut, sosok itu berjalan tanpa kaki menapak di tanah. Ia melayang, melayang ke pemain utama yang memegang handycam untuk memvideokan makhluk gaib tersebut. Wajah sosok itu yang tak terlihat membuat Angga menjadi semakin penasaran hingga menyipitkan dua matanya.


Sosok gaib itu melayang cepat ke pemain utama hingga terjadilah Jumpscare lalu parahnya lagi di luar film Anggara dikagetkan jantungnya oleh suara dobrakan pintu yang dibuka kencang oleh satu orang.


BRAKK !!!


"Assalamualaikum Abang Anggara ganteng!"


Anggara yang mengelus dadanya dan menormalkan detak jantungnya yang berpacu sangat cepat, sembari menatap sahabat resenya.


"Anjir lo Rey! Gak kasian apa sama kesehatan jantung sahabat lo, asal pake ngagetin segala lagi. Untung Anggara gak jantungan, kalau iya .. bisa-bisa kehilangan satu sahabat dah lo."


"Gak usah lo tegur Ga, memang kalau dilihat gelagatnya si Reyhan pengen cepet gue mati," ucap Anggara nada jengkel.


"Ya Allah Ngga, gak gitu juga kali. Lagian kalau lo mati gue mana ada bisa modus sama lo?"


"Gilak ini bocah, bisa-bisanya ngomong gitu! Heh sadar dikit lah!"


Rangga menjitak kepala Reyhan cukup keras hingga Reyhan mengaduh-aduh memegang kepalanya.


"Setan lo Ga! Sakit tau pala gue!" protes Reyhan tak terima.


"Hhh udah-udah, oh iya kok kalian bisa pulang cepet?"


"Kita bertiga bolos!" ketus Reyhan.


"Bolos? Kalian bertiga nggak dispen sama guru? Buat menyita pelajaran di sekolah?"


"Yaelah percaya banget sama mulut gue Ngga, enggak itu kita tadi pulang cepet karena tadi ada kejadian di luar gedung sekolah."

__ADS_1


"Iya Ngga, makanya seluruh anak-anak SMA Galaxy Admara dipulangkan terus kayak pak Harden kepala sekolah dan guru-guru lain disana sedang merundingkan peristiwa tadi," jelas Andra.


"Emangnya peristiwa apa? Parah?" tanya Anggara mengerutkan keningnya.


"Kalau itu bisa dibilang parah sih Ngga, orang anak siswi kelas sepuluh sekarang lagi dilarikan ke rumah sakit Wijaya."


"Rumah sakit Wijaya?? Apa tadi ada kecelakaan??"


"Lebih parah ngenes dari itu, dia-"


"Lo tau kan Emily Michaela Sophia, sahabat akrabnya Kyra?"


"Iya tau gue, emang kenapa?"


"Dia bunuh diri."


"HAH?!" Mata Anggara mencuat. "Eh jangan sembarangan ngomong ya lo! Yang bener aja bunuh diri, pasti hoax."


"Astaghfirullah, lo gak percaya sama gue nih? Noh buktinya Emily jatuh dari gedung sekolah."


"Gini Ngga gini, sebenarnya kami belum tau pasti Emily bunuh diri atau lagi di sengajakan sama ketiga cewek kelas sepuluh IPA lima. Karena kata Reyhan tadi, dia ngeliat tiga cewek pake seragam lengkap nih kek kami bertiga ada di atas gedung sekolah," ujar Rangga.


"Tapi diduganya Emily bunuh diri sih Ngga, soalnya Emily sempat menuliskan kata-kata perpisahan terakhir buat Kyra di kertas. Gue nemuin pas kertas gulung itu jatuh dari kantong jas SMA almamater-nya Emily," timpal Reyhan detail.


"Lo bawa kertasnya?"


"Enggak lah Ngga, tau kalau itu buat Kyra yaudah gue kasihi aja buat dia baca."


"Oh begitu, tapi Emily sekarang dilarikan ke rumah sakit Wijaya?" tanya Anggara.


"Betul Ngga, kami sempet kira Emily sudah meninggal tetapi dia masih hidup meskipun dia masih kondisinya gak sadarkan diri ditambah sekarat."


"Oke Ga, gue tau itu."


Reyhan memutar badannya kebelakang untuk melihat film yang di tonton Anggara pagi ini, sebuah film horor Indo berjudul Jalan Tapak Terlarang.


"Beh, lo pagi jam segini udah nonton horor. Gak takut, apa?" tanya Reyhan meledek Anggara.


"Ngapain gue takut? Ya gak lah biasa-biasa aja, cuman tadi ada jump scare-nya sekaligus dobrakan pintu dari lo yang buat gue nyaris kepleset ke dunia akhirat!"


"Pppfft hahahaha sorry dong Ngga, gak tau gue kalau lo lagi nonton film horor."


"Gak usah ketawa, gak ada yang lucu!" kesal Anggara.


Anggara mengembuskan napasnya lalu kedua matanya mulai mencari-cari seseorang yang menurut ia kurang.


"Eh loh Rey, sahabat kita yang lain kemana? Ini cuman lo, Rangga, sama Andra doang yang jenguk gue?"


"Oh Jova sama Freya, mereka dirumah sakit Wijaya."


Anggara reflek duduk tegak dengan mata terbelalak lebar. "Hah?! Dirumah sakit?! M-maksudnya?!"


Reyhan yang mendengar dan melihat wajah Anggara yang panik langsung terkaget dan reflek berlari dan mengelus punggung Anggara untuk menenangkannya dengan mulut menyengir meringis.


"Tenang Ngga, tenang jangan di ambil salah paham dulu oke. Jadi begini loh, Freya sama Jova itu kerumah sakit nemenin Kyra yang posisinya itu juga nemenin Emily sampai bundanya dateng. Bukan Freya sama Jova masuk rumah sakit terus dirawat. Tenang, yang dapet musibah cuman Emily doang kok dua sahabat cantik kita enggak hehehe."


"Oh ternyata gitu, yaya gue paham," lirih Anggara dengan bernapas lega.


"Elo sih! Ngomong tuh yang bener. Harusnya lo tuh ngomong sama Anggara tuh begini 'Jova sama Freya lagi dirumah sakit Wijaya nemenin Kyra' bukan begini 'Jova sama Freya dirumah sakit Wijaya' itu mana bener njir!"


"Sialan sakit punggung gue, encok gue salahin elo pokoknya. Heh Ndra, apa bedanya sih hah itu kalimat-kalimat? Sama aja tuh, kalau gue bilangnya 'Jova sama Freya masuk rumah sakit' nah itu baru beda cerita lagi. Dah bener kan gue tadi."


"Tetep salah! Itu salah bego!" damprat Andra.


"Bener lah masa salah sih?!"


"Salah! Titik gak pake koma!"


"Tapi kan kalimat gue udah perfect Andra Jaka Saputri!"


"Kalau gue bilang salah juga tetep salah Reyhan Lintang Ellvani!"


Anggara dan Rangga saling menatap dengan menggelengkan kepalanya bersamaan, Rangga bersedekap di dada lalu mulai melegakan tenggorokannya.


"Ehem! Berantemnya jangan disini, gak laku. Sono minggat pergi ke tempat acara boxing sapa tau nanti di kasih duit," ucap Rangga mengejek.


Anggara yang mendengarnya hanya diam sembari menutup mulutnya dengan kepalan tangannya berusaha tak tertawa apa yang di lontarkan Rangga si wajah nyaris mirip dengan Anggara.


"Dia dulu yang mulai!" lantang Reyhan dan Andra saling menunjuk.


Anggara mendengus. "Udah jangan berantem lagi, hal perkara sepele aja masa diributin. Reyhan gue mau tanya sama lo, lo itu kenapa bisa bilang Emily bunuh diri? Emangnya lu saksinya?"


"Eeee kalau itu gue setengah saksi."


"Hah? Maksud?"


"Setengah saksi maksud gue, gue belum pasti juga kalau Emily itu bener-bener ngelakuin aksi bunuh diri. Tapi gue sempet ngeliat Emily jatuh ke bawah dan itu posisi gue ada di dalem perpustakaan saat mau pinjem buku sama pak Arya."


"Ini sekarang juga semua guru lagi rapat bersama kok, dan biar mungkin aktivitas mereka gak terganggu jadinya semua murid disuruh pulang cepet," sambung Reyhan.


Anggara mengangguk paham. "Soal Emily, gue harap dia masih baik-baik saja. Bisa kasian si Kyra kalau sahabat SD-nya itu terjadi hal yang gak diinginkan."


"Iya Ngga, kami berharap juga seperti itu. Meski mungkin Emily bunuh diri, tetapi Emily masih bertahan hidup." Andra berujar.


"Woi Ga, kertasnya mana? Itu tadi kertas malah lo simpen segala sih?! Udah tau gue mau nanya serius itu tiga bocah tadi."


"Elo masalahnya terlalu gamblang! Udah tau situasinya tadi lagi gak enak lo malah ambil-ambil problem, lo jangan asal nuduh sama mereka kalau mereka gak ada salah Rey."


"Tapi gelagatnya aja udah aneh, bahkan waktu gue tanya kenapa mereka seneng-seneng gitu, mereka takut tuh terus diem. Aneh kan apalagi wajahnya kek habis melakukan korupsi."


"Mungkin mereka takut karna lo mukanya serem," ucap Andra sinis.


"Emangnya gue preman apa, serem-serem gitu?"


"Bukan, tapi setan."


"Anjir sialan lo bambang kulit pisang!"


Anggara menatap Rangga. "Emangnya kertas apa yang lo simpen, Ga? Kertas apa yang buat masalah?"


"Kertas ini." Rangga merogoh saku celana panjang SMA-nya lalu mengeluarkan sebuah kertas kusut yang di lipat oleh Rangga tadi di luar gedung sekolah.


"Nih coba lo lihat dan baca, kertas ini ditemuin sama Reyhan di depan pintu kelas sepuluh IPA lima," ujar Rangga sembari menyodorkan secarik kertas kusut tersebut ke Anggara.


Anggara pun menerimanya lalu melebarkan kertas kusut tipis itu dan langsung melihat beberapa kalimat yang berisi perkataan pedas menohok hati.



Bola mata Anggara bergerak membaca seluruh isi tulisan kalimat-kalimat yang sangat tidak pantas dibaca, di setiap Anggara membacanya pemuda tersebut menarik napasnya panjang lalu membuangnya pelan. Sampai di kalimat yang ada di bawah, dimana tulisan tersebut semua menggunakan huruf kapital, tiba-tiba saja Anggara berteriak melepaskan kertas itu reflek lalu memegang kepalanya. Kesemua yang menjenguk Anggara tentu tahu termasuk Reyhan bahwa Anggara sedang kesakitan pada cidera kepalanya yang kambuh.


"Eh udah-udah gak usah dibaca lagi! Sini mendingan lo senderan aja balik, gue mau ambilkan obat lo dulu di meja. Tahan bentar ya!"


Reyhan yang bernada panik segera berlari usai menyandar punggung Anggara di bantal yang posisi tegak, berlari menuju ke meja nakas dan mengambilkan satu butir obat pil putih resep dari dokter lalu juga kemudian sekaligus mengangkat gelas air putih untuk sahabatnya minum.


Reyhan mendatangi Anggara dan mengangkat tangan kanan sahabatnya untuk memberikan obat pil tersebut.


"Ayo diminum dulu obatnya, minum air putihnya pelan-pelan aja gak usah pake buru-buru," ucap Reyhan cemas.


Tanpa membalas ucapan Reyhan, Anggara segera memasukkan obat pil-nya kedalam mulutnya lalu gelas berisi air putih bersih tersebut yang juga diberikan oleh Reyhan, Anggara teguk perlahan hingga setengah. Reyhan mengambil gelas yang Anggara pegang kemudian ia letak gelas tersebut ke meja nakas kembali.


'Pasti diem-diem Anggara menerawang soal yang nulis kalimat di kertas itu. Kalau lo menerawang dengan kondisi lo yang belum sehat, mending gak usah Ngga daripada lo gini-gini terus penderitaannya.'


Anggara yang berada di dekat Reyhan sangat mengerti dan tahu apa yang sedang Reyhan renungkan, pada batin hatinya tentu bisa Anggara baca meskipun dirinya masih belum sehat dan pulih sepenuhnya. Anggara tak mungkin menjawab batin Reyhan dengan suara mulutnya, bisa-bisa kalau Anggara lakukan teman-temannya akan tahu bahwa Reyhan bisa membaca pikiran semua orang terlebihnya memiliki auranya.


Mata Anggara sedikit menutup, ia membuang semua pikiran yang membuat ia berpikir. Sementara Andra dan Rangga terus menatapi Anggara pada kondisi cidera kepalanya yang kambuh.


"Oh iya Ngga, gue lupa nanya keadaan lo gimana. Meski lo masih sakit seperti ini, apa lo ada rasa sedikit sembuhnya? Seberapa maksud gue?" tanya Andra.


"Delapan puluh lima persen, itupun kalau malah parah bisa jadi sembilan puluh persen lebih. Tapi gue tetep gakpapa kok, ya itu sudah jadi titik takdir gue yang seperti sekarang."


"Hmmm." Wajah Andra terlihat gundah. "Tapi Ngga, cidera kepala itu bukannya sembuh dengan sendirinya ya .. terus lo itu minum obat biar sakitnya bisa langsung sembuh kalau mengonsumsi banyak obat?"


"Sebenernya obat yang dikasih suster itu obat untuk penghilang rasa sakit aja, itu kata dokter waktu periksa gue."


"Oh gitu ya, kenapa gue jadi malah prihatin sama keadaan lo dah. Bener-bener sedih liat keadaan lo yang menderita begini," tutur kata Rangga pilu.


"Halah gak usah lebay, suatu ketika gue bakal sembuh total kok meski gue gak tau cidera ini sembuh hilangnya kapan."


"Kami harap lo secepatnya sembuh ya Ngga, agar lo bisa masuk sekolah lagi bersama kami semua."


"Mending hari ini lo gak usah banyak pikiran dulu ya Ngga, dibuat istirahat aja biar cepet sembuh. Gue juga gak tega ngelihat sahabat gue gini mulu."


Anggara mengangguk senyum simpel yang merekah di wajah lumayan pucatnya melihat dan merasakan Reyhan yang memiliki sifat perhatian pada orang-orang yang ia sayangi.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


2 jam telah berakhir namun belum ada tanda-tanda dokter yang menangani kondisi parah Emily keluar. Kyra tak berhentinya menangis terhisak-hisak di kursi tunggu luar ICU. Disitu Kakak-kakak kelas perempuan tulusnya hanya bisa memberikan ketenangan pada Kyra.


"Huhuhu hiks hiks huhuhu!"


"Kyraa ... udah ya jangan nangis terus, pasti Emily baik-baik saja kok," lirih Freya sambil mengusap-usap punggung Kyra dengan menempelkan kepalanya ke puncak kepala adik kelasnya yang terbilang tetangganya.


"Hiks Kakak! K-kyra hiks- takut Emily k-kenapa-napah huaaa!!" Tangisan Kyra semakin kencang, malahan sekarang Kyra mendekap tubuh Freya dan menangis dalam pelukannya.


"Enggak Dik enggak kok, kamu gak boleh mengomong seperti itu. Kamu harus yakin Emily akan baik-baik aja setelah ditangani dokter dan suster-suster, oke?"


"Hiks! Huhuhuhu!"


"Kyra jangan nangis dong Adikku Sayang, kalau Kyra nangis mulu nanti cantiknya hilang diserap sama Kak Lala."


"Va, elo tuh Kyra lagi sedih malah sempet-sempetnya bercanda. Mana bawa-bawa gue lagi, huh gak jelas lu. Ehehehe, Kyra berdoa aja sama Allah agar Emily baik-baik aja dan tetap bersama Kyra."


Freya mengelap air mata Kyra dan memeluknya kembali seraya mengelus-elus lembut kepala bagian belakang Kyra. Dan tidak lama menit kemudian datanglah wanita paruh baya berumur sekitar 42 tahun berlari dengan air mata terus berjatuhan menetes di lantai, itu adalah bundanya Emily.


Bundanya Emily berhenti berlari dan dengan wajah panik khawatir menatap Kyra dan siswi-siswi kelas XI IPA 2.


"Nak bagaimana Emily Nak?! Emily baik-baik saja kan??!!"


"T-tante, Emily lagi ditangani oleh dokter di ruang ICU. Sampai sekarang dokter juga belum keluar, Tan. Kita semua berdoa saja supaya Emily tidak terjadi apa-apa ya Tante," ucap sopan Lala yang berdiri di hadapan bundanya Emily.


Cklek !


Bertepatan usai Lala menenangkan hati bundanya Emily, kini seorang dokter wanita membuka pintu ICU dan keluar dari ruangan. Menatap semua yang menunggu Emily.


Kesemuanya yang melihat dokter telah keluar dari ruang ICU. "Dokter! Bagaimana dengan anak saya satu-satunya?! Anak saya b-baik saja kan, Dok?!"


"Mohon tenang Ibu, sekarang Emily telah sadar akan namun kondisinya masih sangat lemah."


"J-jadi, Emily sudah sadar Dok?!" tanya Freya memastikan dengan wajah kagetnya.


"Iya Mba, Emily telah sadar dari pingsannya hanya saja keadaannya sangat lemah. Jadi tolong panggil kami jika ada terjadi sesuatu pada Emily ya, Bu."


"Baik Dok terimakasih, dan apakah saya boleh melihat anak saya didalam Dok?"


"Tentu, Bu. Kalau begitu saya permisi ya Ibu Mba-mba, Assalamualaikum."


Mereka menjawab salam dari sang Dokter kemudian itu bundanya Emily mendorong sedikit pintu ICU lalu masuk ke dalamnya tanpa lupa menutup pintu.


Cklek...


Kyra sangat senang mendengar Emily telah siuman dari pingsannya walau sahabatnya di dalam keadaannya sangatlah lemah, tak hanya Kyra saja yang senang dan bersyukur namun juga dengan Freya, Jova, serta Lala.


Sementara di dalam, Bundanya Emily melangkah senang melihat anak gadisnya posisinya sudah membuka mata akan tetapi setengah terbuka.


Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seorang wanita paruh baya yang menangis bahagia di sampingnya, ia ukir senyuman lemahnya dan menyebut namanya dengan nada lemah serak.


"Bunda ..."


"Iya Nak, ini Bunda. Hiks Alhamdulillah Nak kamu akhirnya sadar Sayang."


Emily dengan tangan lemah mengangkatnya untuk menghapuskan linangan air mata dari sang ibu.


"Bunda kok ... nangis? ... jangan nangis Bun, Emily ... nggak suka Bunda ... nangis ..."


"Bunda udah gak nangis kok Sayang, nih udah gak nangis." Bundanya Emily mengusap air matanya langsung dan mulai tersenyum lebar.


Emily tetap tersenyum lemah dan mulai membuka suaranya kembali. "Bunda, Kyra ... dimana? ... Kyra ..."


"Oh Kyra, Kyra ada diluar Sayang. Mau Bunda panggilkan? Sebentar ya Nak, Bunda suruh Kyra masuk kesini dulu."


Bundanya Emily yang bernama Fana segera berlari dan keluar dari ruangan. Fana yang keluar dari ruang ICU menjadi pusat perhatian oleh Kyra, Freya, Jova, dan Lala.


"Kyra, kamu dicari sama Emily didalam. Lebih baik kamu masuk yuk, mungkin Emily ingin melihat kamu."


"Baik Tante! Kyra akan masuk kedalam."


"Sama Freya dan lainnya juga masuk aja sekalian daripada menunggu lama dari luar, Ayo Freya, Lala, Jova."


Fana mengajak anak SMA tersebut termasuk sahabat anaknya masuk ke dalam ruangan ICU. Sampai di dalam, Kyra berlari ke ranjang pasien Emily dengan senang amat bahagia.


"Emily! Alhamdulillah aku seneng banget lihat kamu telah sadar, aku kira kamu akan gak baik-baik saja!"


Emily hanya tersenyum lemah menatap sayu sahabatnya yang tengah senang ia telah siuman, namun tubuhnya terasa sakit-sakit sehingga ia akan menahan rasa sakit itu yang sangat hebat.


"Kyra ... aku rindu sama k-kamu."


"Aku juga rindu banget sama kamu Ly, kamu baik-baik saja kan?! Gak ada yang sakit-sakit selain keadaanmu yang lemah kata dokter?!"


Emily lagi-lagi menjawabnya hanya tersenyum lemah, tak menjawab iya atau tidak. Kyra menggenggam tangan kanan Emily dengan cara mengangkatnya lalu ia tempelkan telapak tangan Emily di antara hidung dan mulutnya.


"Ly, kenapa tanganmu dingin gini sih? Kamu tapi baik-baik aja kan? Gak mungkin kamu tinggalin aku dan semuanya??"


Gadis yang terbaring mengenakan baju pasien lengan pendek hanya lagi tersenyum membuat Kyra bingung mengapa di setiap pertanyaannya ia hanya tersenyum tak menjawab apapun selain gerakan sunggingan bibir.


"Kok cuman senyum doang sih Ly? Senyuman kamu juga seperti tanda-tanda, kamu gak apa-apa kan?"


"Kyra ... kamu sudah ... menerima kertas yang aku tuliskan untuk kamu? Apa kamu baca? Atau ... kamu ... buang?"


Kyra menggeleng tersenyum tipis. "Nggak kok Ly, aku simpan. Untuk membacanya maaf aku belum baca, emangnya itu kertas apa yang kamu tulis buat aku? Tugas catatan Kimia dari bu Erna kah ya?"


"Mau nggak ... kamu bacain tulisannya ... buat aku?"


"Oke, sebentar aku ambil dulu kertasnya," ujar Kyra tangkas merogoh kantung seragam jas almamater-nya lantas ia melebarkan kertas yang tadi ia lipat usai diberikan oleh Reyhan.


"Tulisanmu bagus banget ya sampai sekarang hehehe, yaudah aku bacain yak."


Kyra dengan semangat mulai membacakan semua tulisan-tulisan indah dari sahabatnya.


"Hai Kyra Letica Francesca sahabatku yang paling baik dan setia .. sudah lama banget ya kita nggak bertemu padahal sih baru tiga minggu doang yak, tapi aku keburu kangen kamu duluan. Kalau kamu kangen aku gak? Kyra aku mau bilang makasih banget sama kamu karna kamu sudah mau jadi sahabatku semenjak kita SD dulu, tawa-tawa bareng dan lain-lainnya yang membuat kita selalu bersama deh. Susah sih nyari sahabat yang kayak kamu gini hehe .. oh iya Ky sebelum aku akhiri ini, aku juga mau minta maaf kalau aku berbuat kesalahan ya selama ini. Aku harap kamu mau memaafkan diriku."


"Dan maaf, kalau hari ini aku membuat kamu menangis karena aku. Jika kamu mau tahu kenapa aku pergi, kamu suatu saat akan tahu sendiri kok .. maaf pagi ini sudah membuatmu mengundang air mata begitu juga semuanya termasuk kakak-kakak kelas kita yang begitu tulus denganmu dan denganku."


Kyra membacakan tulisan kertas dari Emily dengan sampai mata berkaca-kaca akan mengeluarkan air linangan bening dari matanya.


"Aku tahu kamu sedih, aku tahu ini adalah perpisahan terakhir antara kamu dan aku Kyra. Aku harap setelah kamu membaca kertas ini yang aku tulis untukmu, jangan lupa kamu kenang yaaa. You are my best friend ... from Emily Michaela Sophia."


Tangisan Kyra kembali pecah dengan menatap Emily dengan meringis sedih terkejut pada tulisan-tulisan kata perpisahan terakhir untuknya.


"Emily, apa maksudnya semua ini?! Kenapa kamu menulis kata-kata seakan ini hari perpisahan terakhir antara kita?! Kenapa Ly?! Kenapa??!! Hiks hiks hiks!!"


Fana, serta kakak-kakak kelasnya terkejut minta ampun mendengar Kyra membacakan tulisan kata-kata menyayat hati sampai ujung. Fana menutup mulutnya dengan mata berair akan mengeluarkan air beningnya.


"Emily jawab aku Ly!! Tolong jawab aku!! Jelasin apa maksud kamu dengan kertas ini!! K-kenapa? Kenapa di tulisan ini ada 'aku pergi' kenapa Ly?!"


"Makasih sudah mau membacakan tulisanku ya Ky, kamu memang sahabat terbaikku. Maafin aku ... ini hari pertemuan akhir kita ... sekali lagi aku minta maaf jika pernah buat salah sama kamu ... Bunda ... Kak Freya ... Kak Jova ... Kak Lala dan semuanya yang d-disana."


Tubuh Emily semakin memucat, bibirnya bergemetar di pucat keringnya, dadanya terasa seperti terhimpit oleh besi serta kepalanya yang serasa mau pecah.


"Emily! Kamu jangan bikin aku takut hiks! Kamu pokoknya gak boleh pergi tinggalin kami semua hiks! GAK BOLEH!!!"


Teriakan Kyra yang menggema itu membuat seluruh penjuru ruangan ini menjadi suram menyayat hati. Emily menitik tetes air matanya yang keluar dari bawah matanya.


"Emily aku mohon, kamu jangan tinggalin sahabatmu ini! Kamu gak bisa seenaknya tinggalin aku begitu saja!! Ini gak adil, aku baru saja pulang dari Bandung kamu mau ninggalin aku?! Aku selama ini udah rindu banget pengen ketemu kamu, tapi senda gurau kita tadi di sekolah hanya sesaat saja! Dan yang sekarang aku lihat ... buat aku gak rela kamu pergi huhuhuhuhu!!"


Di layar monitor pendeteksi jantung terlihat angka HR medis menurun menandakan detak jantung Emily melemah, tangan Emily yang di genggam erat oleh Kyra semakin mendingin seperti bahan dalam lemari es.


"K-k-kyra ... mau k-kan kamu p-peluk a-a-aku untuk t-terakhir ..."


Emily dengan lemah membentangkan kedua tangannya bersama senyuman lemahnya dan mata sedikit menutup, detak jantung Emily lebih semakin melemah dan kini tubuh Emily menjadi bergemetar tetapi kedua tangannya membentang menginginkan sahabatnya memeluknya sebelum ia pergi meninggalkannya selama-lamanya.


Kyra mengangguk lalu memeluk Emily dengan sangat erat, tangisannya semakin kencang satu harapan Kyra Emily tak meninggalkannya.

__ADS_1


"Emily aku mohon jangan tinggalkan aku hiks hiks! Kalau kamu pergi, siapa yang bisa hibur aku?! Siapa yang selalu menemani aku?! Jangan Emily jangan! Kamu satu sahabat yang aku punya! Tolong jangan pergi! Kamu harus bertahan hiks hiks!"


"J-j-jangan n-n-nangis ..."


"Huhuhu makanya jangan tinggalin aku! Aku gak mau kalau kamu pergi Emily!!"


"K-k-kyra ... aku gak bisa ..."


"Huaaa kenapa??!! Jangan bilang gak bisa dong!! Harus bisa hiks hiks!"


Emily memeluk lemah Kyra dengan air mata mengalir ke pipi dengan tetap tersenyum, namun hatinya sebetulnya ada menyimpan rasa dendam entah kepada siapa. Kyra menangis namun sudah tak lagi mengeluarkan suara tangisannya, ia setengah ikhlas sahabatnya pergi selamanya.


"Makasih ... Kyra ... maka .. sih ..."


Suara alat detektor jantung yang mengiung sepenjuru ruangan ICU bersamaan dengan kedua tangan Emily yang memeluk hangat tubuh sahabatnya perlahan melonggar dan melonggar lalu kedua tangannya tersebut jatuh ke kasur. Kyra yang syok langsung menegakkan kepalanya melihat wajah Emily yang matanya sudah menutup.


"Emily ... hei Emily jawab aku, kamu masih dengar suara aku kan?!"


Emily sudah tidak merespon kembali, layar monitor di bagian grafik HR medis tertera angka 0. Kyra dengan panik mengguncang-guncang tubuh Emily dengan sangat kencang.


"Emily bangun Emily bangun huaaaa!!!"


Fana berlari dan menangkup kedua pipi anaknya yang sudah sangat dingin sembari menangis kencang melihat anaknya menutup mata dan sudah tak ada pergerakan lagi. Dengan segera Fana menekan tombol merah darurat yang langsung terhubung oleh tim tenaga medis.


Tak menunggu beberapa lama, sang dokter dan para perawat berseragam putih berlari memasuki ruang ICU dan menghampiri Emily yang kondisinya butuh pertolongan untuk mengembalikan detak jantungnya kembali yang telah berhenti.


Dokter menyuruh kesemua yang panik pada keadaan Emily keluar dari ruangan agar Dokter tersebut bisa fokus pada penyelamatan untuk satu pasien tersebut. Fana bundanya Emily, Kyra, Freya, Jova, dan Lala mengangguk lantas berjalan keluar dari ruang ICU dan menunggunya diluar sana.


Di luar ruangan ICU, jantung para mereka dibuat marathon akibat kondisi Emily yang hilang detak jantungnya. Fana tak habis-habisnya mondar-mandir dengan tangisan membanjiri pipinya. Jova dan Lala bersama-sama mencoba menenangkan Fana dalam kecemasannya terhadap anak putrinya, sementara itu Freya menenangkan ketakutan Kyra dengan cara memeluknya sembari mengelus lembut punggungnya di kursi tunggu.


20 menit kemudian dokter wanita itu keluar dari ruang ICU dengan wajah letih dan prihatin. Fana yang melihat dokter telah berdiri di luar ruangan segera berlari dan memegang kedua bahu beliau dengan wajah cemasnya tak karuan.


"Dokter! Bagaimana dengan anak saya?! Anak saya masih bisa di selamatkan kan Dok?! Iyakan?!"


Dokter menundukkan kepalanya sedih lalu mendongak menatap mata Fana. "Mohon maafkan sebesar-besarnya kami Ibu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan jiwa anak Ibu, namun Allah berkehendak lain ... Emily sudah tidak bisa diselamatkan kembali."


DEG !


Ibarat di sambar oleh halilintar dari langit, mendengar kabar duka dari dokter semuanya terkejut setengah mati apalagi Kyra dan Fana yang tangisannya pecah. Dokter menundukkan kepalanya dengan wajah sangat gundah.


"Ibu, pemakaman jenazah Emily segera dilaksanakan besok pagi ya Bu. Kalau begitu saya permisi dulu, Assalamualaikum."


"W-waalaikumsalam, Dok." Freya, Jova, dan Lala menjawab salam bersamaan.


Dokter yang melenggang pergi bersama perawat-perawat dengan muka pilu masing-masing, sekarang Fana dan Kyra pergi berlari ke dalam ruang ICU lalu menghampiri ranjang pasien dan langsung memeluk Emily yang sudah tak bernyawa.


"Emily kamu beneran ninggalin kami nih hiks! Kamu jahat banget sih! Bangun dong, jangan kayak begini hiks hiks!" kecewa Kyra dengan memeluk sayang sahabatnya.


"Emily anak keluarga Bunda satu-satunya, kenapa kamu pergi secepat ini Sayang? Bunda sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain Emily. Ayah sudah meninggal semenjak Emily masih kecil, tapi sekarang Emily juga menyusul ayah di alam sana? Nak, Bunda nggak menyangka Emily meninggalkan Bunda untuk selamanya."


"Hiks! Sebenarnya apa yang terjadi dengan kamu Nak, kenapa kata bu Hana kamu bisa jatuh dari atas gedung sekolah hiks hiks! Bunda tidak percaya kamu melakukan bunuh diri, Bunda yakin Emily tidak mungkin seperti itu. Pasti ada seseorang yang mencelakai kamu, ya kan Nak hiks hiks! Maafkan Bunda ya Sayang, Bunda gagal menjaga kamu hingga kamu berakhir meninggalkan Bunda dan sahabat terbaikmu seperti ini."


Fana terus mendekap tubuh anaknya yang sudah tidak bernyawa tersebut, tubuhnya berkulit pucat pasi begitupun bibirnya yang bungkam.


"Tapi Bunda harus iklhas Emily pergi, iya Bunda harus iklhas. Bunda sayang sama Emily sayang banget sama anak Bunda."


Fana memberikan ciuman di kening Emily dengan masih ada air mata berderai, Kyra yang masih belum ikhlas perlahan-lahan juga mencoba untuk mengikhlaskan kepergian sahabatnya yang selama ini ia sayangi dan ia beri perhatian seumur panjangnya.


Siswi-siswi kelas XI yang berdiri dengan rasa iba penuh rasa duka, salah satu siswi ialah Jova keluar sebentar dari ruangan dan akan menelpon Reyhan soal kabar hari duka pada pagi menjelang siang ini.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Kelima pemuda remaja di dalam kamar rawat no 208 RS Kusuma yang fokus menonton film horor indo di televisi tiba-tiba keheningan cipta terpecah disaat ada suara ringtone ponsel yang berasal dari saku celana seragam SMA Reyhan. Pemuda tersebut yang terkaget langsung mengeluarkan kata-kata beracunnya.


"Bangs*t bajingan!"


Anggara yang mendengar suara latah dari Reyhan selalu tak bisa menjaga mulutnya, melotot ke Reyhan.


"Astaghfirullahaladzim! Elo anak Iblis apa anak Allah sih hah? Jaga mulut lo!"


"Eh maaf Ngga gue latah lagi hehehe, jangan marah lah. Kan gak ada Freya disini."


"Gak ada Freya ... gak ada Freya, buruan cepet angkat telponnya! Keburu mati entar!"


"Anjir galak banget sih lo Ngga, keknya tadi gak abis makan cabe deh. Iya-iya nih gue angkat bentar biar hati lo puas!"


Reyhan mengeluarkan ponselnya dari kantung saku celana dan setelah itu ia melihat layarnya, baru tahu kalau yang menelpon adalah Jova tiba-tiba firasat Reyhan tidak baik alias buruk.


"Kenapa gak di angkat? Siapa yang nelpon?" tanya Rangga.


"Yaudah lah buruan di angkat siapa tau itu penting lagi," komando Andra.


"Tapi gue punya feeling non good njir."


"Udah, angkat aja dulu telponnya gak usah mikir negatif thinking dulu kalau gak memungkinkan."


Reyhan mengangguk nurut pada Anggara lalu segera menggesek layarnya ke atas pada tepat tombol hijau untuk mengangkatnya.


...NONA SABLENG SEJAGAT RAYA...


Assalamualaikum, Rey


^^^Waalaikumsalam, Va iya kenapa nelpon aku?^^^


Aku ganggu kamu gak?


^^^Ya enggak lah, kenapa Va kenapa?^^^


Reyhan aku mau mengabari sesuatu sama kamu nanti abis aku kabari ke kamu jangan lupa sebarin ke Anggara, Andra sama juga Rangga ya


^^^Oke, bakal aku kabari nanti. Emangnya kamu mau ngasih kabar aku apa?^^^


Kabar buruk Rey, Emily meninggal di ruang ICU. Baru ini meninggalnya, Rey


^^^Ya Allah! Innalilahi Wa Inna Ilaihi Raji'un^^^


Pelaksanaan pemakamannya Emily besok pagi Rey, kita ikut ke pemakaman Emily besok gimana Rey?


^^^Ya harus lah, apalagi itu adalah adik kelas kita. Pasti ada banyak guru dan anak-anak SMA Galaxy Admara besok ikut ke pemakamannya Emily untuk memanjatkan doa bersama agar arwahnya Emily bisa tenang^^^


Iya Rey benar, wah soal itu kamu tau bener ya


^^^Yaiyalah aku kalau hal seperti itu pasti juga paham, oh iya nanti kamu pulang jam berapa nih?^^^


Mungkin agak nanti Rey, emangnya kamu mau pulang?


^^^Aku sama yang lain nungguin om Agra sama tante Andrana balik, kasian aku sama Anggara ditinggal mulu^^^


Oh oke-oke, yaudah kalau begitu aku tutup dulu ya Rey. Assalamualaikum


^^^Oke Va, Waalaikumsalam^^^


...----------------...


Reyhan mematikan telponnya Jova lalu meletakkan tasnya di kursi sofa kemudian mengabari kabar buruk bahwa Emily meninggal dunia jam sekian dan pelaksanaan pemakaman akan dilaksanakan besok pagi.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Pagi hari rabu dimana ini hari penuh duka bersama pada pelaksanaan maka Emily di kota Jakarta, Anggara tak bisa datang dikarenakan ia masih di rawat dalam rumah sakit apalagi dirinya belum sembuh sepenuhnya. Sementara itu Anggara posisi pagi cuaca berangin ini ditinggal sebentar oleh kedua orangtuanya karena ada keperluan di rumah nenek dan kakeknya Anggara tepatnya di kota Jakarta.


Mungkin jam sekarang mereka yang ada di pemakaman Emily tengah memanjatkan doa bersama disana, dan Anggara entah harus bagaimana. Anggara mengambil handphonenya yang ia letakkan di kasur lalu segera membuka kontak chat WhatsApp Kyra untuk mengechat ia tak bisa datang ke pemakaman sahabatnya, setelah sudah mengirim chat pada Kyra Anggara menengok kantong cairan infus miliknya yang dalamnya sudah mau habis.


Anggara terpaksa menyongsong badannya untuk menekan nurse call si alat fungsi pemanggil perawat untuk meminta tolong pada beliau mengisikan kantong cairan infusnya, tak berselang lama nada suara panggil muncul serta lampu yang dipasang di depan kamar rawat Anggara menyala dan langsung dapat diterima suara oleh perawat dengan sopan, Anggara mulai meminta tolong bahwa kantong cairan infus miliknya hampir habis dan setelah itu perawat yang nada suara lelaki mengiyakan dengan lembut sopan pada permintaan bantuan dari pemuda pasien tersebut. Anggara mengakhirinya lalu mematikan nurse call dan ia kembalikan ke tempat asalnya tepatnya di belakang samping kepala Anggara.


Baru saja ingin berbalik usai mengembalikan nurse call, sialnya kepala Anggara terasa sakit berdenyutan kembali. Ia sangat sengsara kalau ini mendatang lagi, pemuda itu mengerang kesakitan sembari meraba-raba bungkusan obatnya untuk ia segera minum supaya sakit itu mereda. Setelah berhasil mengambilnya langkah selanjutnya Anggara membuka satu bungkus obat pil di dalamnya, rasa sakit kepala Anggara membuat Anggara kesukaran alias lemah untuk membuka bungkus plastik blister obat hingga pada akhirnya karena Anggara masih tak kuat, satu bungkus obat itu terjatuh di lantai.


Anggara berdecak kesal, pemuda itu membungkukkan badannya dengan memegang kepalanya untuk mengambil bungkusan obat pil tersebut, dikarenakan belum mempan Anggara memajukan tempatnya agar ia mudah mengambilnya.


Oh tidak lagi, karena Anggara terlalu kurang menjaga keseimbangannya sementara kepalanya sudah terasa sakit dan perutnya terasa mual, Anggara terjatuh dari kasur ranjang sedangkan tangan kiri Anggara menyenggol tiang infusnya yang membuat dirinya dan tiang infus tegak tersebut jatuh ambruk keras bersamaan.


BRUGH TRANNGG !!!


"AAAAKKHH!!"


Anggara berteriak dan meringis kesakitan disaat tubuhnya menghantam lantai sementara kepalanya terbentur sangat kuat. Anggara meraih keningnya yang terasa janggal, terasa berair keningnya dan saat Anggara cek untuk melihat tangannya setelah memegang kening kanannya, rupanya...


"D-darah ..."


Pandangan Anggara tiba-tiba menjadi berkunang-kunang, dadanya terasa sangat sesak kembali.


"J-jangan Ngga! L-lo harus k-kuat! Lo gak boleh lemah!"


Anggara menguatkan dirinya dengan mencoba bangkit duduk, namun usahanya sia-sia. Anggara terbaring di lantai dan pada kemudian akhirnya pandangan ia menggelap sementara matanya sudah menutup.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Seorang gadis arwah ialah Senja berjalan berkeliling di seluruh RS Kusuma untuk menikmati harinya.


"Hm bosen banget gue, mana sepi lagi ini lorong lantai enam. Apa gue pergi ke kamar rawatnya Anggara aja kali ya? Siapa tau gue bisa memulai dari awal berteman samanya- eh tapi kalau ada yang jagain Anggara gimana dong? Halah udahlah coba samperin dulu."


Senja tanpa menggunakan waktu lama segera menggunakan keajaibannya sebagai arwah yaitu teleportasi ke lokasi kamar rawat milik Anggara.


Swingh !


Satu detik kemudian Senja telah sampai dalam kamar rawat temannya yang lupa dirinya siapa ralat, tak ingat dirinya siapa.


"Lah? Kemana itu cowok? Kok di kasurnya gak ad- eh Anggaraaa!!"


Melihat Anggara tergeletak lemah di lantai, Senja langsung dengan panik berlari menghampiri manusia Indigo itu dan menjatuhkan kedua lututnya.


"Ngga, Anggara kamu kenapa Ngga?!"


Senja menggoyang-goyangkan bahu kiri Anggara yang posisi hadap Anggara membelakangi Senja. Senja dibuat senam jantung melihat Anggara tak merespon panggilannya.


"Ngga, Anggara hei kamu kenapa sih?!"


Senja sekarang merubah posisi Anggara terbaring lurus hadap depan, begitu tahu kening kanan Anggara berdarah yang menembus perban yang ia kenakan apalagi wajahnya memucat membuat sosok arwah gadis itu terkejut.


"Berdarah?! Haduh Ngga gimana nih- eh Ngga aduh bangun dong ah! Adududuh gawat nih gawat, mana ini cowok gak bangun-bangun lagi!"


Senja menepuk-menepuk pipi Anggara untuk menyadarkan dari pingsannya. "Gilak kok pipinya agak dingin sih, mana mukanya pucet banget. Hah! Apa jangan-jangan Anggara udah ..."


Senja segera menempelkan sisi jari telunjuk tangan kanannya ke hidung Anggara. "Masih bernafas, tapi kok lemah banget sih?!


"Haduh gimana dong?! Kalau dibiarin lama-lama Anggara juga bisa meninggal, gue minta tolong siapa coba? Masa minta tolong sama dokter, kan gue setan mana bisa liat!"


Cklek !


Senja terkejut dan menoleh pada satu orang lelaki dewasa sekitar umur 23 tahun mengenakan seragam putih dengan membawa sebuah kantong cairan infus baru.


"Akhirnya ada suster!" pekik Senja senang bernapas lega.


Perawat tersebut nampak terkejut melihat seorang pasien terbaring tak sadarkan diri di lantai.


Perawat lelaki tersebut meletakkan kantong cairan infus itu ke kasurnya Anggara.


"Mas-mas, bangun Mas!"


Perawat tersebut menepuk pipi Anggara beberapa namun Anggara juga belum kunjung sadarkan diri. Perawat itu panik karena kening Anggara berdarah ditambah lagi napas hela dadanya begitu lemah. Sang perawat kemudian berdiri berlari menekan tombol merah emergency untuk memanggil dokter Ello beserta perawat-perawat lain.


Senja berjalan mundur sampai pojok dinding samping jendela, disaat dokter Ello dan para perawat lainnya datang ke kamar rawat Anggara. Dokter Ello bergegas berlari dan berjongkok yang Anggara tak sadarkan diri, kening yang berdarah itu tetap berusaha dokter Ello tenang dan meminta tolong pada perawat-perawat untuk mengangkat tubuh Anggara bersamaan ke kasur. Dengan kompak perlahan Anggara di angkat perlahan oleh beberapa perawat dan juga dokter Ello ke kasur ranjang, sementara perawat lain yang mengantarkan kantong cairan infus berinisiatif diri untuk menegakkan tiang infus.


Selanjutnya dokter Ello memeriksa detak jantung Anggara dan sang dokter menggelengkan kepalanya saat ia mendapat suara detak jantung Anggara yang lambat serta lemah, satu perawat langsung tangkas mengambilkan masker oksigen yang terpajang di atas ranjang pasien lalu beliau pasangkan ke hidung sekaligus mulut Anggara. Dokter Ello mengambil senter kecil medis dari kantung jas dokternya lalu ia nyalakan dan ia sorot ke mata Anggara yang beliau buka satu persatu.


Mata Senja terus terpaku pada kondisi Anggara yang sangat menghawatirkan, sedangkan satu perawat pergi keluar dari kamar rawat untuk mengambil semacam alat-alat medis lainnya untuk menggantikan perban baru yang perban tersebut sudah tertembus oleh darah luka kening Anggara. Dan tak butuh waktu menanti, Perawat datang membawa sebuah wadah tutup alat sterilisasi kecil aluminium bentuk kotak yang berisi kapas-kapas kecil, perban kasa dan alat-alat sterilisasi lainnya.


Dokter Ello dengan perlahan membukakan perban kasa yang melingkar di kening Anggara hingga belakang kepalanya, Senja menutup matanya disaat ia melihat luka parah di kening kanan Anggara. Dokter Ello tetap tenang lalu menghadap ke wadah alat sterilisasi yang sudah di letakkan samping tangan kanan Anggara oleh perawat, dokter Ello kemudian memakai sarung tangan medis lalu mulai mengambil kapas kecil untuk membersihkan luka darah di kening Anggara yang muncul lagi.


Perawat yang menegakkan tiang infus tersebut sekarang menggantikan kantong cairan infus ke yang baru. Setelah darah luka Anggara telah bersih. Entah berapa lama menit Senja menutup matanya dengan kedua tangan kemudian ia membuka matanya bersama menurunkan kedua tangannya. Dilihatnya kening Anggara posisinya sudah di lingkarkan oleh perban kasa dengan rapi namun masih tertembus darah yang akan keluar.


Dokter Ello menatap pasien tersebut yang wajahnya kembali memucat seperti dulu, hela napas hidung dan dada terlihat lemah.


Cklek !


Kini yang membuka pintu sekarang adalah Andrana dan Agra, mereka berdua syok melihat dokter Ello melepas sarung tangannya bahkan melihat anaknya yang kembali memakai masker oksigen yang setengah menghiasi wajah pucatnya.


Dokter Ello yang melihat kedua orangtua dengan wajah sendu menghampirinya.


"D-dok a-apa yang sudah terjadi? Kenapa anak kami dipasang alat oksigen itu lagi, Dok?!" panik Andrana.


"Sebelumnya mohon maaf Pak, Bu tadi saya melihat Anggara posisinya terbaring di atas lantai, kening bagian kanannya juga kembali luka berdarah parah bisa jadi Anggara terjatuh lalu terbentur keras kembali kepalanya maka dari itu sekarang kondisi anak Bapak dan Ibu sedikit merisaukan apalagi Anggara saat ini juga belum sadarkan diri."


"Astaghfirullahaladzim Ya Allah," lirih Andrana dengan menutup mulut pakai tangan.


"L-lalu Dokter, kapan anak kami akan bisa sadar kembali?" tanya Agra mulai mengeluarkan air mata.


"Kita tunggu saja ya Pak, karena ini masih jam sembilan berarti nanti saya akan datang ke kamar rawat Anggara pada jam sepuluh untuk melakukan pemeriksaan pada Anggara, karena detak jantung milik Anggara melemah jadi saya harus pantau dalam pemeriksaan nanti."


DEG !


"M-melemah Dok?!" kompak Andrana dan Agra.


"Iya Pak, Bu. Nanti saya akan datang kesini lagi kalau begitu saya permisi dulu. Assalamualaikum.


"Waalaikumsalam."


Setelah menjawab salam dari dokter Ello dan beliau melenggang pergi diikuti oleh beberapa perawat termasuk perawat yang menggantikan kantong cairan infus baru, Andrana dan Agra memasuki kamar rawat anaknya. Agra menutup pintu kamar rawat no 208 dan Andrana berlari kecil menghampiri Anggara yang tengah tidak sadarkan diri.


"Nak, Anggara? Kenapa kamu bisa seperti ini lagi sih hm? Kalau Anggara susah ngelakuin sendiri kenapa gak menghubungi Mama atau ayah?"


Andrana mengelus puncak kepala Anggara. "Ayo Sayang, bangunlah. Maafin Mama dan ayah ya Nak, gak seharusnya kami meninggalkan Anggara disaat Anggara masih seperti ini. Mama janji gak akan tinggalkan Anggara selama Anggara masih dirawat, tapi Mama minta ayo Anggara bangun."


Andrana semakin mengeluarkan tangisannya dan ia benamkan wajahnya di dada anaknya dengan menangis tersedu-sedu.


"Udah Ma udah, jangan nangis begini. Pasti Anggara baik-baik saja kok," lembut Agra mengelus punggung istrinya.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Cklek !


Senja yang diluar jendela mengintip siapa lagi yang datang di kamar rawat Anggara, ternyata itu adalah ketiga sahabat Anggara yang telah selesai di makamnya salah satu siswi kelas X IPA 5, mereka bertiga nampak sudah tidak lagi mengenakan baju serba hitam dikarenakan mereka sudah mengganti baju sebelum mereka pergi ke RS Kusuma bersama-sama. Itu yang mereka rencanakan saat di pemakaman.


Reyhan yang membuka pintu perlahan terkaget begitupun Freya dan Jova yang ada dibelakangnya. Mata mereka bertiga terbelalak lebat dengan mulut terbungkam.


Agra menoleh ketiga sahabat anak putranya sembari mengusap air matanya. "Eh Reyhan, Freya, Jova. Kalian sudah datang? Sini," ajak Agra.


Freya berlari menghampiri Anggara yang terbaring lemah disana lalu setelah berada di dekatnya, Freya mencoba menyentuh pipi Anggara dan menepuknya perlahan.


"Ngga? Kamu tidur kan?"


"Hiks, enggak Sayang. Anggara pingsan, dari jam sembilan tadi."


"A-anggara pingsan lagi, Tan?! Kenapa?!" panik Reyhan bertanya.


"Tadi diduga dokter, Anggara jatuh dari kasur dan kepalanya terbentur keras lagi di lantai lantai, nak Reyhan."


"Tidak luka berdarah kan, Tante?! Enggak kan?!" Kini Jova yang bertanya penuh kecemasan terhadap sahabat Introvert-nya.


"Ada luka paran di kepala Anggara, makanya dari itu jantung Anggara melemah," ucap Agra lara.


Cklek !


Kesemua yang khawatir pada keadaan Anggara yang belum kunjung sadar, menoleh ke seseorang yang membuka pintu dan masuk ke dalam. Siapa lagi kau bukan dokter Ello dan satu perawat yang ada dibelakangnya.


Kesemua yang berlinangan air mata langsung menghapusnya disaat dokter Ello telah hadir disini bersama satu perawat bersamanya.


"Mohon waktunya sebentar Pak, Bu, Nak kami ingin mengecek Anggara sekaligus melakukan pemeriksaan sebentar, ya."


"Baik Dok silahkan," ujar Agra mempersilahkan anak putranya di periksa.


Dokter Ello berdiri di tepat samping Anggara dan mulai memeriksa kembali detak jantungnya melalui stetoskop kemudian setelah itu dokter Ello juga kembali membuka mata Anggara dan menyorotkan dengan senter kecil medisnya ke mata Anggara satu persatu saat ia buka bersama hanya ibu jari tangan kanannya.


Jova yang ada di sebelahnya Reyhan mencengkram kemeja kotak-kotak biru kelabu Reyhan bagian lengannya, gadis itu sudah sangat takut pada kondisi Anggara yang sedang melakukan pemeriksaan dengan dokter Ello sementara perawat mencatat-catat sesuatu dengan alatnya. Tak hanya Jova saja yang sangat takut tetapi Reyhan, Freya, Andrana, dan Agra ikut takut pada kondisi keadaan Anggara yang kata beliau sedikit merisaukan.


Usai selesai melakukan pemeriksaan untuk Anggara, dokter Ello melangkah menghampiri kelima orang yang sama-sama menyayangi Anggara.


"Dok, apakah tidak ada masalah pada anak kami berdua?" tanya Agra berusaha tenang.


Dokter Ello menarik napasnya lalu membuangnya perlahan. "Mohon maaf lagi Bapak dan Ibu ada yang perlu lagi saya sampaikan, saat saya melakukan pemeriksaan Anggara detak jantungnya tetap masih melemah. Jadi hari ini kita semua tunggu Anggara siuman sampai besok siang pukul jam dua belas tepat ya, jika memang Anggara sampai besok jam yang saya tentukan belum kunjung sadar, terpaksa kami akan membawa Anggara ke ruang ICU kembali untuk pemantauan ketat serta pemeriksaan yang lebih lanjut."


Kesemua orang yang cemas pada Anggara sangat amat terkejut mendengar penyampaian dari dokter Ello yang cukup mendebarkan apalagi beliau tak bisa menyembunyikan wajah ekspresi sedihnya. Dokter Ello kemudian pamit pergi dari kamar rawat diikuti oleh sang perawat.

__ADS_1


Wajah Anggara nampak damai dalam mata yang senantiasa tertutup tenang, bibirnya yang bungkam kembali pucat mengering, hela napas lemah hidungnya terlihat pada embun-embun dinding masker oksigen transparan yang membantu Anggara tetap ada oksigen dalam tubuhnya dengan alat ventilator.


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2