Indigo

Indigo
Chapter 114 | Mental Disorder


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan beberapa kilometer ke rumah sakit dan memarkirkan kendaraan di parkiran dalam gang RS Wijaya, kini sekarang Reyhan dan Jova telah tiba di lantai 4 untuk menemui ruangan tempat Angga dirawat.


Pemuda tersebut mengulurkan tangannya untuk menarik gagang besi pintu ruang kamar rawat ke, lalu membuka pintu itu. Mata Reyhan terbelalak tidak percaya sahabat Indigo-nya yang kemarin belum sadarkan diri, sekarang terlihat posisinya sedang bersandaran di bantal dengan kedua mata terbuka. Nampak Angga tengah diajak bicara asyik oleh kedua orangtuanya lelaki humoris itu yang duduk di kursi sofa panjang biru dongker.


“Sahabat gue sudah sadaaaaaaarr!!!” teriak Reyhan kencang dengan nada Tenor yang ia miliki seraya berlari kencang untuk memeluk tubuh Angga.


Jova yang sangat bahagia melihat Angga kembali siuman ikut berlari menyusul Reyhan yang telah berlari ke dalam ruang rawat. Angga yang baru saja akan menoleh dari Farhan dan Jihan ke Reyhan, sahabat Friendly-nya tersebut sudah duluan memeluk tubuh Angga.


“Kejutan apaan ini anjir?! Sore-sore udah dikasih kebahagiaan soal lo yang udah sadar, hahahaha!!”


Angga yang dipeluk oleh Reyhan yang mana sahabatnya begitu bahagia melihat dirinya telah sadarkan diri meski dari semenjak pagi tadi, hanya mengukirkan senyuman tipisnya dengan membalas pelukannya bersama satu tangannya saja. Jova yang memandang adegan alay Reyhan pada Angga, menggelengkan kepalanya kendati hati gadis jago bela diri itu sangat senang hari ini dikarenakan Angga sudah membuka matanya.


“Lebay amat sih kamu, Rey?! Kayak abis ditinggal Angga Koma bertahun-tahun aja.”


Reyhan yang mendengar protes komentar dari sahabat nang tadi debat sama dirinya saat di parkiran sekolah, menoleh sembari melepaskan pelukannya dari tubuh lemas Angga. “Itu mulut apa cabe setan, sih?! Yang bener aja dong kalau ngomong! Belum pernah dicium sama sandal jepit kali, yak?!”


“Harusnya, yang dicium sama sandal jepit tuh, kamu! Kunyuk Sutres sialaaaann!!!” sebal Jova gregetan dengan menjewer salah satu telinga Reyhan yang dekat di gadis Tomboy tersebut.


“Aaaaaakkhh!! Iya-iya maafin aku! Maaf- auw!!” Reyhan berusaha melepaskan jepitan dua jari Jova dari telinganya yang kini memerah akibat kuat sekali sahabat perempuannya itu menariknya.


Angga yang melihat nasib Reyhan yang begitu apes, hanya menyipitkan kedua matanya dengan lumayan merapatkan bibir pucat miliknya. Meskipun bukan Angga yang dijewer, namun pemuda tampan tersebut bisa merasakan betapa sakit ngilu-nya jika ditarik telinganya seperti apa yang Jova lakukan.


“Pa! Ma! Selamatkan anakmu ini, dong! Masa cuman ditonton doang, sih kayak lagi nonton bioskop di mall?! Kurang popcorn-nya, tuh!”


“Udahlah, Rey. Terima aja nasibmu sebagai cowok, kadang anak lelaki perlu digituin sama cewek biar kapok, hehehehe!” ucap Farhan membela Jova.


“What?! Gilak, malah belain nona Sableng! Aduh! Va!! Lepasin napa, sih?! Nanti kalau kupingku jadi panjang kayak peri Tinkerbell, bagaimana?! Tambah imut sama ganteng dong, aku!” rengek Reyhan membuat Jihan yang melihatnya terkekeh geli tanpa membantu anak semata wayangnya yang belum dilepaskan nasibnya itu.


“Amit-amit, dah! Itu wajah kebonya tolong dikondisikan, ya kalau ngoceh! Kamu tau, gak?! Kamu ngaca aja di cermin, cerminnya sampe pecah karena ngeliat mukamu yang sok kegantengan itu! Jadi, please deh ngaca dulu sebelum malu!”


“Bodo amat! Emangnya aku peduli?! Huhu, apes banget jadi cowok! Mending gue jadi cewek aja kalau tau endingnya bakal ngeri begini!”


“Jova, sudah ...”


Mendengar pungkas suara lemah dari Angga, bak macam di sihir, Jova langsung melepaskan jari tangannya tersebut dari telinga Reyhan. Di situ, Reyhan menggerutu kesal karena ulah gadis sahabatnya yang baginya sudah keterlaluan karena menjewer telinganya yang hampir lepas dari letaknya. Sementara Jova menghadapkan tubuh idealnya ke Angga lalu menatap pemuda tampan itu dengan cengengesan sembari meminta maaf.


“Sakit banget ya, Nak telinganya? Sampe memerah begitu, lho. Untung aja ada nak Angga, hehehe.”


Reyhan yang mengusap-usap telinganya yang bersemu merah udang dengan kedua tangannya sekaligus, menolehkan kepalanya ke arah sang ibu. “Ah Mama! Ketularan Papa kali, ya?! Masa ngomongnya sesudah Angga tandang duluan?!”


“Good job, Ma!” seru Farhan seraya merangkul sayang sang istri cantiknya yang ada di tepat sebelahnya pria paruh baya berusia 50-an tahun itu.


“Sekongkol rupanya,” geram Reyhan.


Baru sadar, yang telah datang ke kamar rawat Angga hanyalah Jova dan Reyhan saja, membuat kening Jihan berkerut heran. “Eh, tumben Tante lihat cuman kalian berdua hari ini yang dateng, biasanya kan sama Freya juga, yah? Sekarang Freya dimana? Nggak kalian ajak?”


Reyhan dan Jova saling melemparkan pandangan mereka terkecuali Angga yang menundukkan kepalanya pada pertanyaan dari wanita paruh baya tersebut. Jova pun yang tak mau lama-lama menjawab, langsung merespon lantang.


“Oh si Freya, Tan?! Dia lagi sama cowok barunya! Semenjak Freya punya, dia selalu sibuk dan gak pernah dateng ke sini.”


Angga tersentak kaget dengan jawaban lantangnya Jova yang dari mukanya mengekspresikan murka. Lelaki tampan itu yang berada di atas ranjang pasien, menarik wajahnya ke atas mengarah ke sahabat perempuannya satu tersebut.


“Eh bentar-bentar! Maksudnya Nak Jova, Freya sudah memiliki pacar?! Begitu, Nak?!”


“Jova!” panggil Angga terpaksa menekan nadanya.


Jova pun yang dipanggil sahabatnya dari belakang langsung menoleh cepat dengan menaikkan kedua alisnya dan langsung dijawab Angga bersama gelengan kepala secara samar-samar. Reyhan yang tadi telah mendengar respon lantang Jova, auto menepuk keningnya.


Jova mengedipkan kedua matanya berkali-kali lalu menoleh menatap sang ibu Reyhan dengan cengengesan. “Eh bukan, Tante! Bukan! Maksudnya Jova, Freya punya cowok baru tuh bukan pacar .. tapi temen baru yang ada di komplek Permata! He'eh Tante, gitu!”


Jihan tersenyum sumringah dengan mendengus. “Oalah kirain cowok baru tuh, pacar. Tante kaget, ternyata temen baru yang ada di kompleknya. Siapa namanya? Kok Tante jadi penasaran, ya?”


“Oh, kalau namanya tuh jelas Jova tau, Tan. Namanya adalah Arseno!”


BRUUUUSSHH !!!


Sangking kagetnya penuturan tanggapan Jova lepau Jihan, Reyhan menyemburkan minuman pocari sweat kalengnya di lantai ruang rawat. Pemuda itu lekas mengelap mulutnya, kemudian menolehkan kepalanya menatap Jova, sementara Angga hanya membuka mulutnya agak menganga.


“Udah plus sinting ini bocah?!” kemam Reyhan.

__ADS_1


“Oalah namanya itu, toh? Tapi denger-denger namanya Arseno, kok Tante malah jadi familiar, ya?”


Farhan memutar bola matanya malas. “Malah jadi keinget itu nama setan cowok yang dulu mau bunuh anakku.” Kemudian Farhan menoleh menatap sang istri. “Ma, kita ke kantin yuk berdua. Denger nama arwah nggak ada otak itu, buat Papa jadi laper.”


Jihan menganggukkan kepala. “Kalian bertiga mending ngobrol-ngobrol aja. Malah bagus, kan Tante sama Om pergi ... jadinya kalian bisa bincang-bincang soal keseharian masa muda kalian ini, hehehehe!”


“Siap, Tante!” seru Jova seraya mengacungkan satu jari jempolnya dengan wajah riangnya.


Setelah memperhatikan kepergian sepasang suami-istri tersebut meninggalkan salah satu ruang rawat yang ada di lantai 4 RS Wijaya, Reyhan saatnya mengambil komentar gratisan buat Jova. Sedangkan gadis itu mukanya nampak santai saja.


“Woi! Kamu ngapain make nama 'Arseno' buat cowok yang kamu ngarang itu ke mamaku?”


“Lho! Ya, enggak apa-apa, dong! Nama 'Arseno' kan bagus dan terkenal populer di kota Jakarta. Kalau aku kasih nama Parjo, kaget lagi, kamu-nya!”


“Kenapa? Jangan bilang kamu kangen ya sama itu arwah yang namanya Arseno Keindre?” tanya Jova dengan senyum nyengir.


“Matamu! Ya gak mungkin, lah! Masa sama arwah aku kangenin? Cewek gendeng!”


Jova menganggukkan kepala sekaligus bersedekap di dada. “Berarti, kalau Angga mati terus jadi arwah ... arwahnya Angga gak kamu kangenin, dong?”


“Heh Markonah! Itu otaknya gak pernah disambung sama kabel, ya?! Kenapa nyambungnya jadi ke Angga, coba?!”


“Otakmu tuh yang gak pernah disambung sama kabel! Kalau ngomong sebaiknya disinkronkan dulu, ya! Daripada aku staples itu lambe!”


“Otakmu yang gak pernah disambung sama kabel!” sarkas Reyhan tak mau mengalah.


“Kamu, kambing jenggotan!” dongkol Jova.


“Kamu, kuda lumping!”


Angga menatap kedua sahabatnya itu satu persatu yang debatnya belum usai. Sebuah perdebatan yang tak jelas dan terdengar kekanak-kanakan. Hal tersebut Angga yang harus mendengar kebisingan perang mulut antara Reyhan dan Jova, menepuk keningnya yang tertutupi oleh rambut hitamnya dengan menghembuskan napasnya pelan. Sudah pusing, tambah pusing lagi mendengar perdebatan tak jelas macam itu.


Dan tentang persoalan mengenai Freya yang melakukan hubungan cinta dengan Gerald, memang sebaiknya pria dan wanita paruh baya kedua orangtuanya Reyhan tersebut tak perlu sampai tahu soal ini. Biarkanlah itu menjadi suatu pribadi mereka berdua. Angga pun sebenarnya juga sudah tidak ingin memikirkan sepasang kekasih itu, yang terpenting Freya sang sahabat kecilnya nang ia miliki tersebut tak dilukai hatinya oleh lelaki bermata hijau seperti Gerald.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Kedatangan Angga di pagi hari yang sudah disuguhi rintik-rintik air hujan yang makin deras dari balik luar jendela, mereka yang sibuk bersenda gurau, menjadi diam senyap. Laki-laki itu yang tak ingin menghiraukan tatapan benci mereka, memutuskan kembali berjalan menuju tempat dimana bangkunya berada. Namun saat tiba di bangkunya yaitu yang letaknya paling pojok sendiri, Angga terdiam layaknya orang patung.


Meja yang seharusnya menjadi tempat untuk meletakkan barang-barangnya buat belajar, dan kursi lepau untuk ia duduki, menjadi kacau. Bangku milik Angga telah dihancurkan oleh seseorang, itu yang ia terawang. Sementara yang membuat hatinya seperti ditusuk oleh pisau belati, waktu melihat sebuah kertas putih blangko panjang yang dipajang di bagian kerusakan mejanya dengan bersama tulisan spidol merah....


'MANUSIA PEMBUNUH!!!' itulah sebuah kata-kata pedas yang tertera di dalam kertas karton panjang tersebut. Angga tak protes pada siapa yang melakukan ini padanya, karena apapun perkataan itu, Angga bukanlah seorang pembunuh yang mereka duga selama ini.


Kini Angga berjongkok perlahan tanpa melepas ranselnya, kemudian tangannya yang gemetar itu mulai mencabut kertas itu yang ditempel dengan selotip bening. Laki-laki tampan bermuka muram tersebut menatap nanar tulisan salah paham itu. Saat hendak meremat-remat kertas karton yang ia pegang untuk ia buang ke tong sampah halaman luar kelas, jantung Angga serasa ingin lepas dari tempatnya saat mendengar suara teriakan sang guru pria yang bernada Bass.


“ANGGARA! APA YANG SEDANG KAMU LAKUKAN DI BELAKANG POJOK SANA??!!”


Angga menelan ludahnya kemudian memberanikan diri menoleh ke sang guru wali kelasnya yang nampak marah padanya. Guru pria itu amat terkejut saat berjalan mendekati Angga. “Ya ampun!!! Apakah kamu sudah gila, Anggara?!”


“Bukan-”


“Ini bangku milik sekolah, tapi kamu malah seenaknya merusaknya!!! Murid tidak tau di untung!!” bentak beliau seraya melotot menatap mata Angga.


“Pak, mohon dengarkan saya dulu! Bukan saya yang melakukannya! Disaat saya masuk ke dalam kelas, bangku ini sudah rusak parah seperti ini, Bapak!”


Guru pria itu yang memiliki kumis tipis, menggelengkan kepalanya dengan raut tak percaya pada ucapannya Angga. “Kamu itu dulu sudah membunuh Zhendy, dan sekarang kamu mau membohongi saya dengan kelakuan sakit jiwamu?! Ikut saya sekarang!”


Guru tersebut yang begitu emosi pada muridnya yang tak bersalah itu, menarik kuat lengan tangan Angga hingga laki-laki berumur 12 tahun tersebut reflek melepas kertas karton yang telah ia remat. “Lepaskan saya, Pak! Saya tidak salah apa-apa-”


“DIAM KAMU!!!” bentak beliau lagi membuat Angga seketika diam tidak meronta pada tarikan tangan dari guru wali kelasnya.


Sementara siswa-siswi yang lain menyoraki Angga dengan sebuah kata 'dasar pembunuh' dan 'sakit jiwa' secara kekompakan, terkecuali Gerald yang menyimpan dendam besar pada dirinya serta memendam niatan untuk memberi pelajaran hebat buat laki-laki yang sering ia perlakukan tidak baik tersebut.


BRUGH !!!


Guru pria itu dengan wajah sadisnya, mendorong tubuh salah satu anak muridnya hingga Angga jatuh di lantai begitu keras. Beliau kemudian bersama napas turun-naik secara cepat mendekati siswa kelas VI tersebut yang sudah beliau dorong beberapa sentimeter.


Angga memundurkan kepalanya saat dirinya ditunjuk kencang menggunakan jari telunjuk oleh gurunya. Ada rasa takut yang menyelimuti hatinya, dirinya tidak siap kalau benar-benar diberikan kekerasan dengan guru wali kelasnya yang telah termasuk KDRT.


“Kamu benar-benar mengecewakan guru-guru di sini!! Gara-gara ulah kriminal kamu terhadap Zhendy, sekolah ini menjadi terkenal buruk karena kejahatan yang kamu lakukan masa itu!!!”

__ADS_1


“Sepertinya benar apa yang dikatakan warga sekolah di SD ini, kamu adalah siswa yang sakit jiwa. Buktinya kamu merusak barang milik sekolah tanpa sebab!”


“Sudah saya bilang kan, Pak!! Bukan saya yang merusaknya! Andai saja di sini ada CCTV, semua akan terbukti siapa yang melakukannya! Tolong percaya dengan saya!”


PLAK !!!


Guru tersebut dengan main tangan, menampar pipi putih siswa laki-laki tampan itu. Tamparan yang sangat kencang hingga menimbulkan kemerahan di salah satu pipinya. “Berani-beraninya kamu membentak saya! Gak usah jagoan kamu di sekolah ini! Nilai raport kamu saya kosongkan!”


Angga menggelengkan kepalanya kuat dengan menyentuh pipinya yang terasa panas. Bulir air matanya berhasil lolos untuk merembes mengalir ke pipi-pipinya. Kemudian tanpa basa-basi, beliau meninggalkan Angga begitu saja dan membanting pintu kelas. Remaja tersebut tahu dirinya sekarang kondisinya tengah dikeluarkan dari kelasnya.


Dengan geram karena penyesalannya ia sendiri bersekolah layaknya di tempat alam baka ini, Angga mengepalkan salah satu telapak tangannya lalu ia sisi telapak tangannya ia pukulkan di lantai halaman kelas tersebut. Isakan tangis terus terdengar di suara milik laki-laki tampan itu yang nasibnya begitu naas.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


“Ayo! Ayo! Ayo! Yeah akhirnya menang, yuhu!!” sorak gembira Reyhan saat dirinya berhasil mengalahkan para lawan perang di game ponselnya.


Saat Reyhan sedang menikmati level berikutnya di aplikasi game favoritnya, pemuda tersebut terdiam sejenak waktu mendengar suara isakan tangisan lirih yang berada di sekitar kamar rawat sahabatnya. “Please, pagi-pagi jangan nakutin gue pas lagi main game, napa?”


“GUE BUKAN PEMBUNUH!!!”


“Kuntilanaknya mamak gue!!!” lantang Reyhan reflek duduk tegak sampai HP-nya terlempar jatuh ke lantai disebabkan karena pemilik ponsel itu terkejut bukan main pada suara teriakan dari pemuda tersebut.


Reyhan seketika langsung membungkukkan badannya untuk memungut ponsel Android jenis Oppo tersebut lalu mengecek apakah ada yang rusak di bagian luar ponselnya. “Aduh, handphone kesayangan gue! Untung aja gak rusak ampe pecah. Siapa sih yang teriak gak jelas begitu?! Ngagetin gue bae, dah!”


Reyhan yang posisi bibirnya mengerucut karena kesal dikagetkan dengan suara teriakan tiba-tiba itu, mendongakkan kepalanya seraya menegakkan balik badannya. Pemuda humoris tersebut yang sibuk mengelus-elus sayang benda pipih-nya, melongok saat melihat Angga yang terbangun dari tidurnya dan sekarang keadaan sahabatnya tengah menutupi seluruh wajah tampannya memakai kedua telapak tangannya. Jangankan seperti itu, tubuh sahabatnya Reyhan gemetar hebat.


“Brother Angga?! Lo baik-baik aja?!” tanya Reyhan cemas sembari melempar ponselnya ke sofa sembarang arah.


Lelaki itu yang memiliki rasa peduli, berlari menghampiri Angga kemudian memegang pundak kirinya dari belakang punggung pemuda tampan tersebut. Benar saja, Reyhan tak salah lihat meski ini masih sangat pagi, tubuh sahabatnya gemetar hebat. Hal itu membuat Reyhan berubah menjadi panik bersama raut muka khawatirnya.


“Ngga! Lo kenapa, sih?! Ada apa?! Lo habis mimpi buruk?!”


Angga langsung membuka jari-jari telapak tangannya dengan masih tubuh gemetar akibat dari mimpi buruk masa kecilnya yang meneror jiwanya. Namun pemuda tersebut amat terkejut saat seluruh ruangan kamar rawat tempatnya ini menjadi berubah gelap gulita ditambah asap-asap putih bawah yang mengemuka terlihat.


Detak jantung Angga semakin berpacu kencang saat dirinya melihat jelas beberapa siswa-siswi yang sebagai orang masa lalunya di sekolah SD Bakti Siswa yang kini usia mereka 17 tahun, sama dengan umurnya lelaki Indigo itu. Wajah Angga memucat drastis menatap sorot mata sinis, serta senyuman menyeringai dicampur hatinya para mereka yang sangat benci padanya. Parahnya, mereka semua membawa senjata tajam untuk membacok pemuda tampan tersebut.


Mulut mereka saling mengatakan 'pembunuh' secara berulang-ulang dengan mode cepat. Mereka semua yang ada di hadapannya Angga, mengangkat senjata tajam mengerikan itu untuk siap menghujam tubuh Angga. Beralih lagi, kemudian usai mereka mengatakan dirinya pembunuh, mereka mengucapkan sebuah kata yaitu 'harus mati' itupun secara sama dengan perkataan mereka yang pertama, yakni berulang-ulang.


“Waaaa!!! Jangan!! Jangan bunuh gue tolong!!! Pergi kalian semua!! PERGI!!!” teriak Angga ketakutan.


“Gue bukan pembunuh!! Dan gue gak salah!!! Hiks pergi! Pergi! Pergilah!!!” teriak pemuda itu lagi dengan memundurkan pantatnya hingga kepalanya otomatis membentur tembok belakang.


Reyhan yang masih setia di samping sahabatnya, begitu kebingungan pada Angga yang berteriak-teriak mengusir seseorang yang bagi lelaki humoris itu, mereka tak kasat mata. Bahkan wajah Stress milik sahabatnya membuat Reyhan meneguk salivanya susah payah, kedua tangannya saling mengguncang-guncang tubuh Angga untuk menyadarkan sahabatnya dari delusi yang tengah meneror jiwanya tersebut.


“Sadar Ngga! Sadar!! Mereka itu nggak ada!! Lo hanya berhalusinasi!” pekik Reyhan dengan nada menyentak.


Bersama isakan tangisnya, Angga menoleh kencang. “Mereka ada!! Mereka ada!! Mereka ada di depan sana!! Mereka mau bunuh gue, Rey!! Lo harusnya bisa lihat karena lo bisa!!!”


Angga berteriak secara membentak Reyhan dengan menunjuk-nunjuk mereka yang terlihat di depan matanya. Namun Reyhan menjawabnya bersama gelengan kepala kuat. Sementara bayangan mereka yang Angga yakin itu adalah nyata bukan khayalan ia saja, tertawa iblis dengan sangat kencang hingga membuat gendang telinga Angga serasa mau pecah, dan membuat kepalanya terasa sakit.


Angga dengan segera membentengi kedua telinganya memakai sepasang tangan miliknya, sedangkan matanya ia tutup sangat rapat. “Hentikan! Gue bilang hentikan! Kalian salah paham! Bukan gue yang membunuh Zhendy!! Bukan gue pelakunya!! Arwah itulah yang sudah melakukan kriminal terhadap sahabatnya Gerald!!!”


Tiba-tiba tak ada angin atau apapun, suara mereka senyap yang sebelumnya menertawakan Angga secara bersamaan. Nuansa gelap gulita yang ada di sekelilingnya pemuda Indigo tersebut dan Reyhan, nampak terasa berubah. Hal itu, Angga kembali membuka matanya dan langsung menatap ke depan. Tempat gelap gulita beserta asap-asap putih di bawah juga telah menghilang menjadi balik seperti semula.


“Angga, di sini nggak mereka yang lo lihat. Lo hanya mengalami delusi halusinasi saja,” ucap Reyhan dengan nada melunak.


Bersama bibir yang gemetar sekaligus muka pucat nang dicampur peluh keringat, Angga kembali menolehkan kepalanya kencang ke arah Reyhan yang ada di tepat sebelah kanannya. “T-tadi ada, Rey! Gue nggak bohong! Mereka tadi benar-benar ada di depan mata persis!”


Baiklah, Reyhan kini telah peka. Jiwa mental sahabatnya itu terganggu oleh bayangan-bayangan masa lalunya yang terus mengintai benaknya hingga berubah kronis macam ini. Angga sekarang spontan menekuk kedua kakinya, lalu kemudian kedua tangannya saling menangkup kepalanya sedangkan wajah pucat tampannya itu ia benamkan di atas lututnya.


“Gue bukan seorang pembunuh ... gue bukan seorang pembunuh,” lirih Angga bernada parau.


Reyhan yang tak sanggup melihat sahabatnya dimana posisinya di dalam tengah jiwanya terganggu hingga mengalami delusi serta halusinasi seperti tadi, pemuda humoris tersebut yang memiliki rasa empati, mendekap tubuh Angga bersama linangan air mata.


“Iya, Ngga, iya. Gue tetep percaya lo bukan seorang pembunuh. Tapi gue mohon, lo jangan seperti ini. Oke?”


Reyhan berusaha menenangkan jiwa sahabatnya dari masa lalu kelamnya yang terus saja menghantui di benak bayangan dalam estimasinya.


Indigo To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2