
Sosok berjubah hitam itu yang melihat kedatangan Reyhan dengan berteriak amarah, langsung menoleh dan menatap lelaki tersebut yang ia pastikan itu adalah orang terdekatnya Angga.
“Kau ... dasar, mengganggu ritualku saja!!!” raung makhluk pemuda itu seraya menutup keras bukunya hingga asap putih yang hendak keluar dari tubuh raga milik Angga, kembali masuk ke dalam.
Setelah ditutup pun, tubuh Angga terjun terjatuh kencang ke bawah hingga kepalanya terbentur keras pada atas batu lonjong tersebut tempat dimana ia terakhir terbaring. Reyhan yang menyaksikan jatuh sahabatnya, matanya terbelalak dengan napas memburu.
“Anggara!!!”
Reyhan segera berlari sekencang mungkin hingga dirinya menembus makhluk-makhluk dari anak buahnya pemuda tersebut yang ritualnya telah gagal karena kehadirannya Reyhan.
Reyhan yang telah di sampingnya Angga, langsung memegang kuat kedua bahu lemasnya untuk mengguncang-guncangnya. Karena tidak ada respon pergerakan dari Angga, Reyhan beralih merangkum wajah pucat sahabatnya lalu menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan raut panik setengah mati.
“Ngga! Bangun, Ngga! Angga?!” Reyhan terus berupaya menyadarkan sahabatnya yang tak kunjung membuka matanya.
Bibirnya telah kering, bagian luar matanya menghitam akibat siksaan dari ritual pencabutan kekuatan Indigo-nya yang hampir berhasil. Seluruh gigi putih Reyhan nang ada di dalam mulut, menggertak kuat. Napasnya memburu karena hatinya telah dibuat emosi tinggi oleh mereka yang sudah memperlakukan Angga seperti ini.
Reyhan melepaskan kedua telapak tangannya dari wajah pucat sahabatnya, lalu salah satu tangan miliknya memukul kencang batu besar tersebut dengan mata memerah karena emosinya sudah sangat terpancing dan tak terkontrol.
“Aaaaarrgh!!!” Reyhan langsung memutar tubuhnya lalu menunjuk kencang makhluk pemuda berjubah hitam itu yang nampak santai dari kemarahannya.
“Bangsat, lo!! Apa yang telah lo lakukan hingga sahabat gue kayak gini, hah??!!”
Sosok itu berdecih. “Kau ini siapa? Tamu yang tidak diundang, ya? Gara-gara dirimu, semuanya gagal!”
Reyhan tersenyum miring. “Bagus, dong kalau gagal! Lagipula lo gak akan bisa mengambil energi kekuatan Indigo yang Angga miliki! Semua itu akan mustahil bila terjadi.”
Makhluk pemilik aura negatif itu tertawa mendengar ucapannya Reyhan yang berjarak jauh darinya. “Kau ini manusia macam apa? Sedangkan, kau sudah tahu apa yang aku lakukan pada sahabatmu. Untuk apa kau bertanya denganku tentang situasi yang mengancam nyawa Angga? Banyak basa-basi!”
Rahang Reyhan kembali mengeras. ‘Beruntung gue cepat datang ke sini, kalau tidak ... gue bakal kehilangan Angga selamanya.’
Dengan patuh, para sekumpulan personelnya darinya menghilang setelah lelaki itu mengusirnya secara tangan kiri yang mengibas ke arah mereka.
“Baiklah, karena kau telah di sini. Mari kita bermain, pasti akan terasa menyenangkan.”
“Bermain?”
Pertanyaan Reyhan dibalas oleh serangan makhluk berjubah hitam itu dengan menjentikkan jarinya saja, hingga otomatis tersebut tubuh Reyhan terlempar jauh ke samping sampai melajang tembok yang bahannya kasar seperti dinding dalam gua.
“Akh!”
‘Dasar makhluk setan gak punya etika!! Ini yang dia maksud bermain? Iya, emang bener bermain. Bermain nyawa !’ rutuk Reyhan jengkel.
Baru saja akan hendak berdiri, sosok misterius berjubah hitam dengan memiliki suara Bariton dan tanpa wajah tersebut sudah menyergap leher Reyhan untuk mencekiknya. “Ini akibat telah mengacau aktivitas terbesarku untuk mencabut kekuatan Indigo yang ada di dalam jiwa sahabatmu!!”
“Sialan! Lepasin gue!!” sangkak Reyhan berusaha melepaskan kedua telapak tangan hitam pemuda tersebut dengan sekuat tenaga yang membelenggu lehernya secara menggencetnya kuat.
Tetapi Reyhan tak bisa melepaskan kedua telapak tangannya secara terus-menerus, karena pemuda itu sengaja menggunakan mantra tenaga dalamnya untuk membuat kedua telapak tangannya dilumuri sengatan listrik bila Reyhan menyentuhnya.
“Dasar curang, lo!!” Ini Reyhan malah semakin emosi dan tanpa ada rasa takut sama sekali, padahal cekikan yang diberikannya bertambah kuat hingga wajahnya memerah karena tak dapat meraup oksigen.
“Kau ini hanya manusia biasa yang tidak bisa apa-apa untuk melawan aku, jadi ... kau harus tamat hingga seperti manusia-manusia yang telah menjadi tulang berulang di dalam suatu ruangan tempat dimana aku simpan mereka.”
DEG
‘M-maksud manusia-manusia yang telah menjadi tulang berulang itu, adalah semua tengkorak yang berserakan di dalem ruangan gelap tempat Kenzo disekap tadi? Itu artinya sebentar lagi gue akan mati?! Chaotic !’
Di sisi lain, Angga masih tergelimpang lemah di atas batu lonjong yang berukuran besar itu. Kedua matanya tetap di keadaan yang sama, terpejam dengan tenang. Entah sampai kapan ia akan terus hilang kesadaran layaknya seperti kondisi ini. Sedangkan saja, nyawa Reyhan tengah dalam bahaya dihadapannya sosok lelaki misterius sang pemakai jubah hitam.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Jova merapatkan bibirnya sembari menatap nanar lorong arah kiri. Entah mengapa feeling-nya kali ini tidak enak serta tak beres, pikirannya kalut dan membawa negatif non positif. Sampai akhirnya Jova menarik lengan tangan kanan Freya untuk mengajaknya pergi dari teman-temannya.
“Eh, Va! Kita mau kemana?!” pekik Freya saat lengan tangannya ditarik kencang oleh sahabat Tomboy-nya.
“Kita susul Reyhan sekarang!” tegas Jova tetap menarik tangan mungil Freya.
“Tapi, kan tadi Reyhan nyuruh kita tetap di sini. Kamu nggak boleh melanggar, dong!”
“Ih, jangan kebanyakan nurut mangkanya! Firasatku udah gak enak banget soal itu cowok!” cerca Jova.
Freya kini hanya bisa pasrah menuruti ajakan Jova, apalagi langkahnya disengaja dipercepat agar Freya ikut berlari. Sementara mereka berlima yang ada di belakang hanya diam seperti patung saja memperhatikan kepergian kedua gadis cantik itu yang lama-kelamaan punggungnya tak terlihat karena sudah melewati jalan pembelokan bagian kanan lorong.
“Emangnya apa yang terjadi sama Reyhan?” tanya Jevran dengan raut agak khawatir pada tetangganya.
Pertanyaan Jevran hanya dijawab beberapa temannya dengan menggedikkan kedua bahunya karena tidak tahu sama sekali apa yang sekarang dialami oleh Reyhan.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Kedua mata Angga yang pejam, mengernyit perlahan saat ia sayup-sayup menangkap suara erangan dari sekitarnya. Dengan lemah, mata pemuda tampan tersebut terbuka dan langsung meraba kepalanya yang terasa amat sakit.
Gue gak kenal elo, pengen asal tamatin nyawa orang aja! Dasar setan gak punya otak! Lepaskan gue !!!
Hahahaha! Kau bisa apa untuk melepaskan diri dari tanganku yang sedang mencekal lehermu ini? Kau menyelamatkan Angga, maka risiko datang padamu, wahai Pecundang !
__ADS_1
Apa?! Gue Pecundang?! Lo yang Pecundang, Iblis Keparat !!!
Oh, begitu? Kau tidak sadar, posisi kau sedang dimana? Kau tidak tahu nyawamu sudah berada diujung tanduk? Hm?!
Setelah memfokuskan pandangannya ke atas langit-langit dinding ruangan yang dingin, dengan laun kepala Angga menoleh ke dua sumber suara yang nampak berkomunikasi dengan seru dan menegangkan.
Angga terkejut melihat aksi sosok makhluk pemuda berjubah hitam itu yang menyiksa Reyhan secara fisik dimana mencekik lehernya. Meski melihatnya dari jarak jauh, Angga sanggup menatap wajah merah dan pucat sahabatnya.
“Jangan ... jangan ...” Dengan nada yang sangat lemah, Angga memaksakan tubuhnya untuk bangkit bangun lalu menurunkan kedua kakinya dari tempat baringnya ke lantai semen berwarna hitam.
Namun waktu ingin menyeimbangkan tubuhnya yang tidak normal, Angga kembali terjerembab karena tenaganya sudah benar-benar berkurang. Tetapi demi sahabatnya, ia harus mengorbankan raganya. Tidak peduli apa yang akan terjadi padanya nantinya.
Tubuh Reyhan sekarang melemas tak berdaya karena ia memang sulit menggapai oksigen untuk dirinya masukkan ke dalam tubuhnya. Napasnya tercekat, terlebih pemuda tersebut tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan diri dikarenakan kedua telapak tangan milik makhluk durjana berwatak iblis itu telah mengeluarkan sebuah sengatan listrik. Bila Reyhan tetap bersikeras, nyawanya akan langsung melayang.
‘Akankah gue mati? Gue bakal mati, nih? Masa gue mati, sih? Terus apa kabar dengan Dosa-dosanya gue?! Gue belum sempet nebus semua Dosa gue, tolong please !’ panik Reyhan dalam hati bersama mata terpejam kuat.
Entah ini disebabkan apa, Reyhan terbebas dari cekikan maut yang akan membawanya ke kematian. Langkah kaki pemuda tersebut nampak mundur-mundur secara dipaksa oleh seseorang yang menyerangnya.
“Jangan coba bunuh sahabat gue ... lo gak ada hak apapun untuk membunuh dia yang nggak bersalah!”
Reyhan langsung terjatuh di lantai dengan mulai memegang leher depannya. “Uhuk! Uhuk! Siapa yang udah nolong gue barusan?”
Reyhan berusaha mengangkat wajahnya yang mana kepalanya terasa pening akibat serangan maut tadi. Kedua mata sipit lelaki Friendly tersebut melotot saat menatap Angga yang merengkuh leher sosok makhluk berjubah hitam pemilik aura dan energi negatif.
Dengan rasa hati benci, Angga langsung bersama sekuat tenaga yang ia punyai membanting pemuda tersebut ke lantai meski kemudian tubuhnya ambruk kembali di lantai yang dingin tersebut, napasnya juga masih saja engap-engap. Bahkan untuk ia atur sangat begitu sukar lepau ia lakukan.
“Beraninya kau!!!”
“Iya, berani. Kenapa?” Reyhan menggelengkan kepalanya takut saat mendengar jawaban lemah Angga yang sungguh menantang kemurkaan dari sosok lelaki misterius membahayakan itu.
“Emang gila! Lo nyari mati sama setan iblis itu?” gumam Reyhan dengan nada geram sekaligus.
“Cih, kau ini sudah lemah! Tidak pantas kau bertutur sok berani seperti itu padaku,” sangkaknya.
Angga kembali bangkit berdiri meski keseimbangannya sudah tidak konsisten, sorot matanya menajam ke arah makhluk berjubah hitam itu. Meski tubuhnya terasa sakit-sakit begitupun kepalanya, tetapi tidak ada kata pasrah dan menyerah untuk menerjangnya. Ia harus musnah dari bangunan kastil gaib ini sesingkatnya sebelum semuanya berubah jadi kandas.
“Lo ada hak apa mengatur-atur gue? Lo seorang prioritas gue? Bukan, kan?” Nyali Angga semakin menanjak tinggi untuk menerabas sosok makhluk yang sudah gagal merampas kekuatan Indigo dari jiwa dan raganya.
Pandangan makhluk misterius berjubah hitam, Angga, dan Reyhan teralihkan saat ada dua seorang perempuan yang tiba masuk di ambang pintu ruangan ritual. Kedua mata antara lelaki berambut hitam dan cokelat itu mencuat karena situasi yang membahayakan seperti ini, seharusnya mereka berdua tidak diperkenankan masuk.
“Freya?! Jova?! Kenapa kalian datang ke sini? Tempat ini berbahaya untuk kalian berdua!” tegas Angga yang berwajah pucat itu.
Reyhan sontak bangkit berdiri dengan tertatih-tatih seraya masih memegang lehernya yang memerah dan menatap wajah cantik kedua sahabatnya. “Tadi, kan sudah aku peringati kalian berdua buat tetap di sana. Tapi kenapa kalian malah nyusul aku?!”
Freya beralih menatap Angga dengan tatapan risau, sedangkan kekasihnya yang berada di jarak jauh darinya hanya menggelengkan kepala untuk tidak mendekatinya sementara. Situasi ini sangatlah bahaya bila Freya tetap bersikeras menghampirinya.
Sosok pemuda misterius dengan muka tak kasat mata alias hitam gelap itu, bersedekap angkuh di dada sambil menatap Freya yang meninjau posisi Angga nang terlihat lemah.
“Pendamping hidupmu?” tanya sosok itu dengan menoleh ke belakang untuk menatap Angga yang sudah terduduk di atas lantai bersama kedua tangan menopang di lantai semen.
“Jangan macam-macam! Dia gak tahu apa-apa tentang ini!” damprat Angga dengan menatap tajam makhluk berjubah hitam itu yang seperti ingin memperlakukan sesuatu pada Freya.
Tanpa pakai basa-basi lagi, makhluk pemuda misterius itu langsung mengangkat tangannya yang terbentang untuk membuat tubuh mungil Freya mengambang kencang ke atas udara. Hal tersebut berhasil membikin gadis cantik lugu itu tercengang setengah mati.
“Waaaaaaa!!! Aku mohon turunkan aku, huhuhuhu! Aku salah apa sama kamu??!!” teriak Freya dari atas dengan kedua kaki panjang meronta-ronta sembari mengeluarkan air bening dari matanya karena ketakutan.
“WOI! APA YANG PENGEN LO LAKUIN SAMA FREYA, DEMIT MUKA RATA??!! TURUNIN, GAK??!!” pekik Jova karena emosinya mendadak terpancing.
“BANGSAT!!! GUE AKAN BUAT PERHITUNGAN DENGAN LO KALAU LO BERAKHIR NYAKITIN SAHABAT GUE!!!” raung Reyhan ingin membalas perbuatan dirinya yang telah membuat raga Freya melayang jauh di atas udara apalagi nyaris kepalanya terantuk dinding ruang.
“Lepaskan Freya sekarang juga!!!” Emosi Angga semakin meluap karena perilaku bengisnya apalagi hingga memperlakukan kekasihnya seperti itu di atas udara.
“Anggaaaa!! Jovaaaa!! Reyhaaaan!! Hiks! Tolongin aku! Lepaskan aku dari sini! Aku takuuuuut!!!”
Reyhan yang tidak ingin sahabat perempuannya lebih bahaya dan parah dari ini, langsung berancang berlari kilat lalu menubruk tubuh pemuda berjubah hitam itu yang tetap pada di mantranya. Otomatis tersebut, mantra sihir yang ia kenakan di raga Freya terlepas begitu saja usai Reyhan sengaja melajangnya.
“Aaaaaaaaaa!!!”
“Freya!!!” Angga tangkas berlari sekuat tenaga dengan tergopoh-gopoh untuk menangkap tubuh mungil gadis cantiknya dari bawah. Namun karena terlalu memaksakan keadaan yang sangat lemah, ujungnya dirinya terjatuh keras dengan kaki langsung terkilir.
BRUGH !!!
“UGH!”
Bertepatan saat Angga terjatuh tersungkur di lantai dengan posisi tubuh terlentang non terlungkup, dirinya ditimpa oleh raga Freya dari atas secara kuat. Memang jujur sakitnya berlipat-lipat, tetapi ia sangat bersyukur kekasihnya tidak mengalami luka luar maupun dalam sekalipun dikarenakan gadis itu terjerembab di atas tubuh lelaki tampannya.
“M-makasih, Rey ...” Ucapan terimakasih dari Angga yang terdengar bertambah lemah, digubris oleh Reyhan dengan menoleh ke arahnya.
“A-angga?! Maafkan aku!” Freya langsung menyingkirkan diri yang menindih tubuh Angga.
“Jangan minta maaf. Yang penting kamu tidak kenapa-napa ...”
Baru saja akan mendatangi kedua sahabatnya yang ada di daerah sana, makhluk berjubah hitam itu malah sudah duluan bangkit berdiri. Meski tanpa ada wajah yang menunjukkan ekspresi apapun di depan mata, tetapi lelaki tersebut nampak sangat murka kepada Angga.
__ADS_1
Mengapa Angga? Harusnya Reyhan, kan? Karena Reyhan yang telah sengaja menabrak tubuhnya sehingga mantranya lepas yang membelenggu raga milik Freya.
“Kau ...” Tangan sosok itu terulur ke depan untuk mengangkat tubuh lemah Angga yang terbaring di lantai tersebut.
“Jangan! Aku mohon jangan lakukan sesuatu pada Angga! Tolong jangan siksa dan sakiti dia!!” pekik histeris Freya saat tak berhasil menggapai tangan kekasihnya yang telah diangkat ke atas udara bersama tubuhnya seperti dirinya tadi.
“ANJENG!!! LEPASKAN ANGGA!!!” Teriakan Reyhan menggema seluruh ruangan di sini.
Makhluk berkarakter jahat dan pemilik aura serta energi negatif itu hanya mengacuhkan suara Reyhan begitu juga Freya. Kemudian setelah itu, ia mendongak ke atas untuk menatap wajah lemas dari Angga yang raganya mengambang di atas udara.
“Mungkin jika kau mati di tanganku, aku akan terasa lebih mudah untuk merebut kekuatan Indigo milikmu yang masih berada di dalam jiwamu. Haha!”
“Dasar Iblis Kalap!!! ELO KALAU BERMIMPI JANGAN KEJAUHAN! LO TIDAK AKAN PERNAH MAMPU MERAMPAS SEMUA KEKUATAN INDIGO ANGGA YANG DIA GENGGAM DARI JIWA!!! LO GAK ADA HAK SAMA SEKALI UNTUK MENGAMBILNYA PAKSA, KEPARAT!!!” lolong Jova dengan emosi yang amat menggebu-gebu, bahkan napasnya memburu hebat karena dibuat oleh makhluk pedar tersebut.
Angga menatap Jova dengan nanar, mendengar seluruh segala rentetan percakapan emosi yang keluar dari mulut sahabatnya. Tetapi apakah ada kesempatan emas? Tidak, Angga justru dilempar kencang dari sihir makhluk itu hingga membentur tembok pojok ruangan.
DUAKH !!!
Kedua sahabatnya dan kekasihnya hanya diam mematung tak bisa berbuat apa-apa, karena seluruhnya telah dikunci oleh sosok berjubah hitam itu. Maka bila mereka bergerak untuk mendatangi Angga, tamatlah sudah riwayat mereka semua.
Sementara, Angga yang raganya terlungkup di atas lantai usai terbentur dinding secara dahsyat, mengerang kesakitan pada kepalanya yang dirinya pegang saat ini. Perlahan-lahan juga cairan merah gelap turun merembes dari salah satu lubang hidung lelaki berwajah tampan tersebut.
Waktu ingin menyeka darahnya yang keluar dari hidung mancungnya, sebuah benda berbentuk kotak persegi panjang jatuh di lantai. Benda apakah itu?
Kepala Angga yang sudah terasa amat pening, tangannya mulai meraba benda alat tersebut yang kono dan berdebu. Dengan dibantu tangan sebelahnya, Angga mengangkat apa yang ia pegang.
Setelah ia membalikkan posisi benda itu, Angga melihat seorang dirinya yang ada di dalam pantulan alat tersebut. Ia bisa menatap wajahnya yang begitu pucat layaknya bak hampir seperti mayat, beserta darahnya yang telah keluar dari lubang hidungnya.
‘Cermin? Apakah cermin kuno ini memang telah disediakan dari dulu di tempat ruangan ini?’ batin Angga menatap nanar cermin itu yang telah ada pantulan sosok dirinya.
“Angga lagi lihat apaan, ya?” gumam Jova penasaran pada apa yang ditatap oleh sahabat lelakinya diujung sana.
“Kayak ... cermin,” lengai Reyhan dengan menyusutkan kedua mata sipitnya setelah ia meninjau betul-betul apa yang Angga longok.
‘Cermin? Apa jangan-jangan Angga ingin mengalahkan dia pakai alat itu? Tetapi bagaimana dengan kondisinya yang sedang lemah? Enggak! Aku nggak boleh berpikiran negatif dahulu.’
“Kau ... sial! Mengapa kau bisa menemukan cermin yang ada di sana, hah?!” berang sosok itu dengan melangkahkan kakinya mundur untuk menghindari alat pamungkas yang tengah dipegang oleh Angga.
‘Eh, takut dia? Hahaha, mampus! Apa mungkin itu kelemahan lo yang sebenarnya?’ cakap Jova dalam relung hati dengan raut bahagia melihat sang berjubah hitam itu yang nampak ketakutan.
“Bukankah itu kesalahan lo sendiri yang sudah melemparkan tubuh gue ke sini? Baguslah. Itu artinya gue telah menemukan satu titik kelemahan lo untuk musnah dari bangunan kastil.”
Angga kemudian menggunakan otot tenaga maksimalnya untuk membawa cermin kotak persegi panjang itu ke depan. Mungkin ia tidak menyerangnya, tetapi menggunakan cermin ini sebagai pelindung dirinya bila sihir mantra itu menuju ke arahnya. Ya, itulah yang barusan Angga terawang dengan penuh pasti.
“Apa yang ingin kau lakukan dengan benda itu?!”
“Menurut lo saja? Baiklah, mungkin lo sudah terlalu banyak menunjukkan kesombongan yang ada di hati. Tetapi, bersiaplah ... rasa sombong itu akan lenyap sebentar lagi bersama hangusnya raga lo dari ruangan ini.”
Bertepatan setelah Angga berujar itu dengan cukup mengintimidasi hati sosok makhluk misterius, kelima temannya datang dan terkejut melihat situasi dalam ruangan ini.
“Apa yang terjadi? Kenapa kondisi Angga acak-acakan gitu, dan ... orang yang pake pakaian serba hitam itu siapa?” tanya Jevran secara nada bergumam.
Angga tidak menyadari kedatangan beberapa temannya yang tiba diambang pintu ruangan, ia lebih fokus pada satu pandangan. Dan sekarang dirinya berhenti melangkah waktu telah berdekatan pada batu lonjong dengan ukuran besar yang tadi tempat ia terbaring bersama siksaan luar biasa nang menyakitkan.
“Kau harus mati!!!”
Angga langsung membentengi tubuhnya menggunakan cermin itu saat sihir hitam mantra dari sosok tersebut melintang lurus ke arahnya.
DUM !!!
Kedelapan remaja tersebut yang menyaksikan pertarungan sengit antara Angga dan makhluk sosok pemilik energi negatif itu, begitu getir. Getir bila pemuda Indigo tersebut berakhir kalah dari serangan maut yang dikirimkan olehnya.
Keringat dingin Angga kembali keluar dan meluncur dari kening sampai merembes ke pelipis matanya, napasnya seketika balik terputus-putus seperti sebelumnya. Telapak tangan kanannya yang menggenggam gagang bagian pegangan dari belakang senjata pamungkas itu, bergetar hebat. Ia mulai tidak sanggup menahannya dikarenakan tenaganya sudah hampir hilang.
Kedua kakinya yang diam menetap di posisi, menjadi beringsut terseret mundur akibat serangan sihir hebat dari makhluk tersebut yang nyaris kewalahan. Angga memejamkan matanya erat waktu kepalanya macam dipukul oleh palu berkali-kali dengan jumlah yang banyak. Darah dari lubang hidungnya semakin mengalir hingga melintasi bibir tipis pucat keringnya.
‘Tolong, gue sudah tidak kuat ...’
Kedua alis cokelat tebal Reyhan dan sepasang matanya melebar setelah mendengar suara ini...
...Tolong, gue sudah tidak kuat......
Suara dari hati Angga jelas terdengar di telinganya Reyhan. Ingin menolongnya untuk menuntaskannya bersama-sama, tetapi itu akan sangat membahayakan keselamatan nyawanya.
PYAAAAARR !!!
Cermin itu pecah setelah mengalami beberapa keretakan karena sihir yang disasarkan oleh makhluk tersebut, bahkan setengah serangan sihir hitamnya berjaya menusuk dan menembus ke dalam raga Angga hingga tubuh lelaki pemilik indera keenam itu terpelanting kembali ke belakang dan terguling-guling kencang beberapa sentimeter.
Sementara akibat pecahnya cermin kuno sekaligus senjata pamungkas itu, berjaya membuat sihirnya memantul balik ke arah makhluk tersebut hingga membikin dirinya langsung terbakar oleh api yang membara.
Delapan remaja itu amat Syok melihatnya bahkan mendengar teriakan sakit yang menggelegar dari makhluk berjubah hitam. Bahkan mereka menatapnya tidak percaya melihat kepergiannya sosok tersebut yang hangus dan menyisakan debu nang bertebaran ke atas, sedangkan jubah hitamnya tertinggal begitu saja di atas lantai semen.
Tetapi pandangan mereka justru berbalik beralih ke arah Angga yang telah berhasil memusnahkan makhluk berkarakter iblis itu dari dunia. Detak jantung mereka berdebar saat menatap tubuh lelaki tampan tersebut yang sama sekali tak ada pergerakannya sedikitpun, posisinya juga memunggungi mereka semuanya.
__ADS_1
INDIGO To Be Continued ›››