Indigo

Indigo
Chapter 179 | Feel Guilty


__ADS_3

Di malam itu, sang dokter telah selesai memberi pemeriksaan ketat kepada pasien yang bernama Reyhan Lintang Ellvano.


“Dok, sudah empat hari ini Reyhan belum melewati masa Kritisnya. Apakah anak kami akan menuju ke fase serangan Koma seperti sahabatnya yang ada di ruang rawat ICU sebelah?” tanya Jihan.


Dokter pria itu yang sedang berada didekat pintu keluar ruang intensif pasien, tersenyum sendu pada Jihan maupun Farhan. “Kita Doakan yang terbaik untuk Reyhan ...”


Jihan menundukkan kepalanya dengan sedih, mana mungkin seorang ibu akan tenang dan baik-baik saja melihat kondisi parah anaknya yang seperti ini? Tetapi selang detik kemudian, bola mata Jihan terbelalak seketika saat melihat ada pergerakan salah satu jari dari tangan kanannya Reyhan.


“Reyhan?! Jarimu bergerak- kamu sudah sadar, Nak?!” pekik bahagia Jihan.


Sang dokter yang mendengar itu segera tangkas menghampiri Reyhan nang terbaring lemah di ranjang pasien untuk memastikan keadaannya antara pergerakan secara spontan atau tidak. Hati Jihan serta Farhan semakin berbunga menatap mulut anaknya yang bungkam kini terbuka tipis.


Dokter itu mulai memasang alat stetoskop miliknya di kedua telinganya lalu bagian bawahnya mulai beliau gunakan untuk mendengarkan irama detak jantung pasiennya. Setelah memeriksanya, sang dokter beralih membuka satu-persatu mata Reyhan tak lupa menyorotkan cahaya menggunakan senter kecil medisnya.


“Bagaimana, Dok?!”


Beliau menolehkan kepalanya ke arah Farhan yang detak jantungnya sudah berdegup kencang seraya memasukkan senter miliknya ke dalam saku kantong jas putihnya. Dokter tersebut nampak menunjukkan senyuman leganya.


“Alhamdulillah, suatu keajaiban dan Mukjizat datang untuk pasien. Reyhan kini telah berhasil melewati masa Kritisnya setelah mengalami kondisi terburuknya selama beberapa hari.”


Saking terkejut bercampur hati bahagianya, Farhan dan Jihan tak dapat berkata apa-apa kecuali kedua matanya saling membelalak dengan wajah semarak. Sementara mata Reyhan yang telah lama terpejam karena Kritisnya, sekarang terbuka perlahan serta memperlihatkan kembali mata cokelat hazel-nya.


“Reyhan?! Sayang?! Alhamdulillah, Ya Allah! Akhirnya kamu telah sadar! Mama dan papa senang sekali di malam hari ini!” pekik haru Jihan.


Mendengar suara yang tak asing di pendengarannya, membuat lelaki Friendly itu menolehkan kepalanya lemas ke arah sendang suara tersebut. Dikarenakan pandangannya telah menjelas, Reyhan sanggup mengetahui siapa yang berada di sisi kanannya.


“M-mama ... P-papa ...” panggil Reyhan dalam posisi mulut dan hidungnya masih terpasang masker oksigen.


Dengan tangisan bersama hati yang terenyuh, Jihan dan Farhan langsung meraih tubuh lemah Reyhan untuk mendekapnya sayang. Mereka berdua sangat bersyukur karena pada akhirnya anak semata wayangnya yang mereka miliki telah kembali sadarkan diri usai melewati masa Kritisnya.


Reyhan yang dipeluk hangat oleh kedua orangtuanya, hanya tersenyum saja bersama mata yang ia pejamkan untuk merasakan kelembutan dekapan dari mereka berdua. Sementara sang dokter serta begitupun beberapa perawat, tersenyum melihat pemandangan mengharukan ini.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Bersama wajah yang sangat muram, Agra dan Andrana memperhatikan dokter Ello yang sedang memberi pemeriksaan pada Angga. Terlihat telaten sekali beliau melakukan pemeriksaan tersebut terhadap anak semata wayangnya mereka yang masih belum ada perkembangannya sama sekali atau stuck di serangan Komanya.


Setelah mengunci kembali kancing baju pasien biru muda milik Angga untuk memeriksa detak jantungnya menggunakan stetoskop yang selalu dilingkarkan di leher beserta menyorotkan cahaya senter medis pada pupil mata kanan-kirinya lalu memasukkan alat senter medis tersebut ke dalam saku kantong jas putih, dokter Ello menghela napasnya dan segera meninggalkan ranjang pasien, sementara salah satu perawat tengah sibuk mengecek mesin alat Ventilator yang membantu laju pernapasannya Angga.


Usai semuanya tuntas, para tim medis keluar dari ruang rawat ICU pasien. Sedangkan kedua orangtuanya Angga hanya menatapnya saja kendati sesekali melemparkan senyumannya.


“Saya permisi dulu ya, Pak? Bu? Jika Anggara mengalami suatu gangguan atau pergerakan spontan seperti sebelumnya, segeralah panggil kami,” ujar perintah lembut dokter Ello.


“Itu pasti, Dok. Terimakasih ...”


“Baik, Pak. Assalammualaikum ...”


Agra sedikit membungkukkan badannya seraya menjawab salamnya dokter Ello begitupun Andrana yang suaranya terdengar serak. Setelah mereka tak terlihat lagi karena membelok arah ke suatu jalan, kedua orangtuanya Angga memutuskan kembali masuk ke dalam ruangan ICU dengan gaun baju hijau sesuai prosedur yang mereka kenakan.


Ruangan yang lumayan lingkup ini tetap selalu dipenuhi suara mesin monitor pendeteksi jantung untuk memadai kondisi detak jantungnya Angga saat ini. Dari suaranya memang terdengar lambat, disebabkan itulah karena keadaan detak jantung lelaki Indigo tersebut begitu lemah.


Andrana menarik kursinya lalu duduk tepat di sisi ranjang pasien Angga bagian samping kanan. Setiap menatap wajah lemas dan pucat anaknya, hati sang ibu terasa dicabik-cabik oleh gunting. Beliau mengangkat tangan kanannya Angga untuk menggenggamnya dengan perasaan yang sayang serta lembut.


Inilah yang membuat hati Andrana kurang baik-baik saja, merasakan kulit tangan Angga lumayan dingin. Kemudian wanita paruh baya bermuka cantik itu, menempelkan telapak tangannya Angga di salah satu pipi mulus putihnya. Air mata yang telah tertahan kini mengalir kembali membasahi pipinya hingga mengenai telapak tangan anaknya yang mana di jari telunjuknya terpasang jepitan Pulse Oximeter medis.


Meskipun demikian, wajah Angga yang sangat begitu pucat masih terdapat aura ketampanannya, sesuai pada hatinya yang dipenuhi segala kebaikan layaknya sesosok malaikat.


“Angga, ayo bangun ...” lirih Andrana seraya mengusap kepala putranya yang berambut hitam nan rapi dengan derai air matanya.


“Lihatlah, sahabatmu Reyhan yang mengalami Kritis sekarang sudah berhasil melewatinya. Dan untuk saatnya Reyhan dipindahkan ke kamar rawat inap. Lalu jika kamu, kapan? Mama ingin sekali kamu seperti Reyhan yang telah siuman, Sayang ...”


Agra hanya diam meratapi sang istri mengajak komunikasi pada Angga dengan nada parau meski air mata pria paruh baya itu telah lolos berlinang membasahi pipinya. Suasana dalam ruang ICU putranya tidak pernah kondusif akan tetapi tegang, mendebarkan, serta penuh kegundahan.


Di dalam pembalut perban yang melingkar dari kening hingga belakang kepala Angga, terdapat darah nang telah menembus perban tersebut di bagian dahi kanannya. Selang Intubasi Ventilator konstan setia berada di dalam mulut pemuda tampan nang telah terkena aniaya dari orang yang dendam kesumat kepadanya.


Hela napas yang ada di dalam dadanya bergerak naik-turun dengan lamban, sangat lamban. Angga pun tetap terpasang oleh beberapa kabel medis EKG yang menempel di badannya selama kondisinya masih Koma yang keadaannya sungguh begitu kronis.


“Angga tidak berniat untuk meninggalkan Mama dan ayah, kan? Jangan ya, Nak? Mama mohon jangan pergi ...”


Andrana merapatkan bibirnya sesaat dimana air matanya telah sulit beliau bendung. “Kamu tahu, kan? Freya itu sayang sekali denganmu. Dia tidak mungkin mau kehilangan seorang kekasih yang Freya cintai seperti kamu, Angga.”

__ADS_1


“Apakah kamu tidak merasa kasihan dengan Freya yang terus menangisi kamu? Sadar, ya? Angga harus sanggup bertahan melewati semuanya ini. Mama yakin banget, kamu kuat! Kamu pasti bisa melampaui masa serangan Koma yang dirimu derita.”


Isakan tangis Andrana kini balik terdengar di telinga Agra, membuat beliau beringsut duduk berlutut di lantai lalu mendekap setengah tubuh istrinya yang tetap menangisi terhadap kondisi parahnya Angga yang menderita serangan Koma.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Pagi harinya yang tiba dengan disuguhkan cuaca suana turunnya air hujan, seorang pemuda berbadan tinggi sedang melangkah sambil melihat layar ponselnya yang di situ terdapat chat dari kontaknya Freya. Lelaki tersebut kemudian menganggukkan kepalanya setelah paham atas informasi dan lokasi yang telah Freya kirimkan padanya.


Setelah tiba di tujuan, lelaki itu membelok arah ke kiri untuk menemui kedua orangtuanya Angga yang tengah duduk di kursi tunggu depan luar ruang rawat ICU tempat pembaringan lemah anaknya.


“Yang mau dipijat, mana lagi?” tanya Agra usai memijat kedua kaki istrinya dengan penuh kasih sayang.


“Bahu kanan sama kiri, Yah. Rasanya pegel banget,” jawab Andrana menganjur suaminya yang bibirnya tetap tersenyum menatapnya.


“Siap, serahkan saja dengan Ayah.” Agra dengan tulus bersama suara nan lembut, mulai beralih mengerjakan tenaga tangannya untuk memijat kedua pundak Andrana secara sekaligus.


Hingga kemudian, pria paruh baya itu mencondongkan kepalanya ke depan untuk menatap istrinya yang berposisi membelakanginya. “Gimana? Lumayan enakan, belum?”


“Hm'em ... kalau dipijat pakai tangannya Ayah, rasanya enak sekali seperti dikasih obat koyo.” Andrana menanggapi Agra bersama senyumannya dengan memejamkan mata untuk merasakan nikmatnya dipijat oleh sang suami.


Agra mengeluarkan dengusan sekaligus senyuman lebarnya. “Mama bisa saja, pijatan dari tangan suami rasanya seenak di Surga, ya?”


Andrana tertawa pelan pada celotehnya Agra. Ya, setidaknya mereka mampu menghibur hati diri walau tentunya sepasang suami-istri tersebut tetap menjaga sang anaknya yang masih dalam pemantauan ketat di dalam ruangan intensif.


“Selamat pagi, Om Agra dan Tante Andrana.”


Sapaan dari suara lelaki pada mereka, membuat Andrana membuka matanya begitupun Agra menghentikan kerja lembutnya lalu menoleh ke arah seorang pemuda itu yang usianya masih sekitar 17 tahun. Remaja tersebut juga menampakkan senyuman tipisnya dengan kedua tangan saling ia taruh depan untuk menunjukkan rasa sopannya.


“Selamat pagi juga ... kamu siapa ya, Nak?” tanya respon Andrana dengan penuh suara nada lemah lembut bersama senyum manis yang beliau patri.


Lelaki berambut hitam yang menutupi seluruh keningnya, menoleh ke arah Angga yang terbaring lemah di ranjang pasien melalui jendela kaca ruang ICU lalu beralih menatap sang ibunya pemuda Indigo.


“Perkenalkan nama saya Kenzo Revansar Rafael, teman satu kelasnya Angga.”


“Oalah ya ampun, kamu temannya Angga? Iya, Nak. Ada perlu apa kamu datang ke sini di cuaca hujan-hujan seperti ini?”


Kenzo melenyapkan senyuman bibirnya menjadi sendu dengan hati yang penuh rasa bersalah. “Tujuan saya datang ke sini karena ingin meminta maaf kepada Tante dan juga om Agra.”


Kenzo menghembuskan napasnya dengan berat seraya menundukkan kepalanya lara. “Sebenarnya, saya yang telah membuat Angga masuk rumah sakit hingga mengalami serangan Koma ...”


“Hah?! Aduh-aduh, maafkan Tante! Tante mendadak menjadi blank karena mendengar ungkapanmu. Sini, lebih baik kamu duduk terlebih dahulu.”


Andrana menggeser tempatnya lalu menepuk-nepuk kursi yang beliau duduki bersama Agra untuk mempersilahkan Kenzo duduk di sebelah mereka. Kenzo yang diberikan perintah lembut dari ibunya Angga, menganggukkan kepala lalu maju selangkah dan menduduki pantatnya di kursi ruang tunggu yang terbuat dari aluminium.


“Coba kamu sekarang ulangi dari maksud ucapanmu tadi. Tante kurang mengerti apa yang kamu katakan pada kami berdua,” suruh Andrana.


Kenzo kembali menundukkan kepala disambung dengan seluruh jemari tangan ia saling tautkan. “Awal dari tragedi yang membuat Angga dan Reyhan teraniaya oleh Emlano maupun Gerald, adalah saya sendiri ...”


“Sepertinya saya sudah salah besar karena telah meminta pertolongan kepada Angga melalui pesan chat lewat kontaknya. Andai jika bukan Angga yang saya minta bantuan, mungkin Angga tidak mungkin mengalami Koma untuk kesekian kalinya.”


“Apakah ada suatu permasalahan atau keadaan darurat yang membuat kamu terangsang meminta pertolongan pada Angga?” tanya Andrana sesudah mendengar penjelasannya Kenzo.


“Benar, Tante. Permasalahan itu adalah, saya dijebak oleh salah satu seseorang lelaki yang bernama Emiliano Baskatar Leonard.”


“Emiliano Baskatar Leonard?! Bukankah itu adalah seorang pelaku yang menganiaya Reyhan hingga Kritis?” kejut Andrana.


Kenzo mengangguk pelan. “Iya, Tante. Benar.”


Wajah sumringah Agra tergantikan menjadi datar dan dingin dengan menatap Kenzo. “Emiliano Baskatar Leonard? Seorang anak Indigo seperti Angga yang mempunyai aura negatif. Ya, saya tahu semua itu apa yang telah dilakukan oleh dia terhadap anak saya.”


Kenzo melebarkan dua matanya. “Om tahu darima- ‘Oh, iya. Pasti ayahnya Angga juga Indigo seperti anaknya yang mengalami Koma’ Maafkan saya, Om. Saya baru ingat kalau Om juga memiliki mata batin.”


“Tidak apa-apa.”


Kini Kenzo menatap lekat mata abu-abu autentik yang dimiliki oleh Agra. “Maafkan saya sekali lagi, Om. Saya bodoh, tidak seharusnya saya meminta pertolongan Angga yang menggenggam kekuatan Indigo di jiwanya. Ini semua salahnya saya.”


“Jika Om Agra dan Tante Andrana tidak ingin menerima permintaan maaf besar dari saya, juga tidak mengapa. Saya akan berusaha memaklumi atas apa kesilapan yang saya tindaki.”


“Dan untuk menebus kesalahan fatal saya terhadap Angga, saya akan memenuhi semua biaya pengobatannya Angga! Om dan Tante bilang saja pada saya, pengobatan biaya Operasi, Terapi, Rontgen atau lainnya. Saya yang akan mencukupi semua membiayainya! Saya dari keluarga yang mampu, kok! Jadi saya sanggup melakukannya!”

__ADS_1


Tindakan antusiasme dari Kenzo yang ingin mencakupi segala biaya pengobatannya Angga, membuat Agra dan Andrana tercengang. Lelaki yang duduk bersama mereka juga sangat terlihat memiliki rasa jiwa yang bertanggung jawab.


“Nak, ini bukan salah kamu, kok! Kamu bukanlah sang pelaku yang membuat Angga Koma, pelakunya adalah Gerald Avaran Dedaka yang sekarang sedang mendapati ganjarannya di kantor polisi bersama rekannya yang bersekongkol dengannya.”


“T-tapi, Tante! Jika saya tidak meminta pertolongan pada Angga, semuanya gak akan terjadi! Intinya semua adalah kesalahannya saya. Dan tolong maafkan saya!”


Agra menghela napasnya lalu beranjak dari kursi lalu berjalan tiga langkah ke Kenzo kemudian duduk di sebelah teman putranya yang satu sekolah dengan pemuda bermata biru tersebut.


“Om, maafkan saya ...”


Agra tersenyum lalu merangkul Kenzo yang wajahnya penuh rasa bersalah. “Sudah, ini bukan salahmu. Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu yang padahal saja kamu tidak bersalah.”


“Tapi saya merasa begitu, Om Agra ... di saat waktu saya melihat berita tragedi aniaya itu, saya sangat tidak tenang karena ada rasa hati menyesal karena telah meminta pertolongan pada Angga. Bukan hanya Angga saja, kan yang terlibat? Tetapi juga Reyhan sahabat anaknya Om.”


Agra menghela napasnya panjang lalu mengusap bahu sebelah kanan anak muda lelaki itu. “Lupakan saja, lagipula ini bukan salahmu. Orang yang bersalah itu sudah ada di tangannya polisi, jadi bukan dirimu, lah yang pelaku sebenarnya.”


Kenzo memejamkan matanya lalu menghembuskan napasnya lemah. Entah mengapa rasa bersalah dan menyesal itu tetap melekat di hatinya, Agra yang mengerti posisi keadaan perasaan hati Kenzo, tetap merangkul tengkuknya seraya terus mengusap pundak teman putranya.


“Sudah. Jangan kamu pikirkan lagi, hilangkan rasa bersalah itu. Kamu sama sekali tidak memiliki silap apapun terhadap anak saya.”


Kenzo menghempaskan napasnya lirih. “Iya, Om ...”


“Anak pintar- eh? Em? Kenzo, itu sisi lehermu kenapa agak memar? Kamu habis terjatuh?” tanya Andrana dengan lumayan menunjuk bagian leher milik Kenzo.


“Oh, ini ...” Kenzo menyentuh lehernya di tepat bagian luka memar yang sedikit berwarna ungu kebiruan. Wajah pemuda itu pun nampak bingung harus menjawab apa kepada orangtuanya Angga, karena tentang hal itu adalah masalah keluarga pribadinya.


“Kamu diberikan kekerasan fisik pada ayahmu, ya? Tanpa menjawab, saya sudah tahu apa yang terjadi padamu, Kenzo.”


Kenzo seketika mengubah duduknya menjadi tegap, matanya juga melotot karena apa yang ditebak oleh Agra sangat benar tanpa sedikitpun meleset. ‘Ternyata kekuatan Indigo luar biasa, ya.’


“Sudah biasa jika ada orang yang memiliki sebuah kekuatan Indigo. Mereka akan mengetahuinya mulai dari masa lalu hingga masa depan seseorang,” jawab Agra pada suara hati Kenzo.


Kenzo semakin tersentak sampai reflek menatap wajah tampannya Agra yang telah berusia 50-an tahun. “I-iya, Om! Iya.”


“Kenapa ayahmu bisa sekeras itu hingga sampai ke fisik padamu? Apakah di rumah ada suatu percekcokan masalah keluarga?” tanya Andrana dengan intonasi nada hati-hati.


Kenzo beralih menggunakan tangannya yang untuk menyentuh lehernya ke tengkuknya buat mengusapnya. “Ya begitulah, Tante. Dari saya kecil sudah selalu seperti itu.”


Andrana yang tidak ingin ikut campur masuk ke dalam suasana keluarga Kenzo, hanya tersenyum lalu mulai memutar tubuhnya beberapa derajat untuk mengambil kotak bubur ayam yang telah suaminya beli tadi di pinggir jalan RS Medistra Kusuma sebelum turun hujan.


“Kenzo sudah sarapan, belum? Kalau belum, ini Tante ada sekotak bubur ayam untukmu,” ujar sang ibunya Angga seraya menyodorkan kotak yang berisi bubur ayam nang masih hangat.


Kenzo mengangkat kedua tangannya ke depan dadanya untuk menolak pemberiannya Andrana. “Eh, tidak usah, Tante! Saya sudah makan, kok di rumah.”


“Jangan berbohong. Sebelum kamu datang ke sini, kamu tidak makan apa-apa. Kamu malah belain-belain ke rumah sakit untuk meminta maaf tanpa memedulikan pencernaan yang ada di dalam perutmu.” Agra menghela napasnya dengan senyum sambil mengambil kotak bubur ayam dari tangan Andrana dan lekas memberikannya pada Kenzo.


“Di makan saja. Jangan sungkan,” anjur Agra.


“Tapi, Om? Bukannya ini bubur untuk di salah satu antara kalian? Saya tidak bisa menerima makanan ini apalagi milik orang lain,” tolak pelan Kenzo.


“Tidak masalah. Saya bisa membelinya lagi setelah hujan reda, sekarang berhenti untuk menolak dan makan, lah bubur ayam ini. Mumpung masih hangat, kamu jangan paksakan untuk tunda makan di jam pada waktunya, nanti kamu bisa terkena sakit Mag.”


Tanpa ada kata menyangkal lagi, Kenzo menganggukkan kepalanya walau hatinya ragu. “Baik, Om. Terimakasih ...”


Agra melebarkan senyumannya. “Iya, sama-sama.”


Kenzo bersama senyuman tipis, meletakkan kotak bubur ayam tersebut di atas kedua paha kakinya lalu mulai membuka tutup kotak yang terbuat dari sterofoam kemudian melepaskan ujung buntelan plastik bening untuk menuangkan kuah buburnya.


“Om Agra? Tante Andrana? Saya Doakan semoga Angga segera bangun dari Komanya. Anak kalian telah banyak meletakkan jasa dan menorehkan kebaikan pada kami semua, jadi Angga sangat pantas untuk di Doakan untuk lekas sadar.”


“Subhanallah, terimakasih sekali ya, Nak.” Andrana yang mendengar rentetan ucapannya Kenzo, merasa amat tersentuh hatinya dan terenyuh.


“Terimakasih ya, Kenzo.” Agra ikut tersentuh sambil menepuk-nepuk lembut punggung pemuda berambut hitam serta bermata biru tulen itu.


Kenzo menambahkan sunggingan senyumannya kepada orangtuanya Angga seraya menganggukkan kepalanya secara sayup. Kini sekarang ia mulai beraktivitas ringan untuk mengisi perutnya yang telah kosong selama 20 menit.


Agra menatap tenang Kenzo yang sedang memakan bubur ayam dari pemberiannya. Aura remaja muda itu terlihat bersih dan positif, tak sedikit saja mempunyai sisi ketaksaan di hati beserta jiwanya. Walau kehidupannya di keluarga sangat kelam yang termasuk golongan anak broken home.


Dan sedikit demi sedikit, rasa bersalah yang ada di hati Kenzo berangsur menghilang karena ungkapan tutur dari ayahnya Angga yang mempertuankan sebuah kekuatan Indigo layaknya seperti anak putra tunggal semata wayangnya.

__ADS_1


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2