Indigo

Indigo
Chapter 22 | Misunderstanding


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju Villa, Anggara terus memperhatikan sketsa gambaran tersebut. Anggara menyadari bahwa ada sebuah pergerakan bola mata sosok di gambar sketsa itu, arah bola matanya gerak ke arah kiri. Anggara terbelalak kaget sebelum Reyhan celetuk suara memanggil dirinya Anggara.


"Ngga."


Anggara reflek menoleh ke sahabatnya. "Eh ya, kenapa?"


Reyhan menghela nafasnya. "Udah, lo gak usah nyimak mulu itu gambar. Lo gak takut sama sketsa serem itu? Hih kalo jadi gue, udah gue buang daritadi."


Tak terasa, mereka berempat telah sampai di Villa kembali. Villa tersebut terang tak gelap, mungkin teman-temannya ada yang sudah telah menyalakan seluruh lampu di dalam Villa. Baru saja melangkah ke lantai teras Villa, salah satu dari teman sekelompok empat remaja keluar membuka pintu Villa karena empat temannya telah pulang kembali di Villa.


"Eh udah balik, gilak sih. Gue sama yang lain ngira lo pada tersesat di sono hehehe."


Cekatan Anggara memasuki kertas lusuh itu ke dalam saku jaketnya tanpa memperhatikan ia memasuki kertas tersebut. Pandangannya menatap Andra yang berada di ambang pintu disertakan senyuman pertemanannya.


"Ehehehe, ya kagak lah .. ya kali masa tersesat. Gini-gini, tapi otak gue hapal jalan loh. Gak cuma gue aja, tapi tiga sahabat gue juga ahahaha!"


"Hahahaha oke-oke, yaudah ayo masuk. Udah malem gini, gak baik di luar mulu," ajak Andra.


"Oke- eh Ndra, lu masak apa? Gue laper banget nih, pengen makan," keluh Reyhan sambil mengusap-usap perutnya.


"Elu, apa-apa doyan makan. Itu di dalem udah ada yang masak, tinggal nunggu si koki tuntas .. kita semua makan malem. Udah, ngapain kalian berdiri di teras situ terus, ayo masuk."


"Iya-iya Ndra, ini kita juga mau masuk kok," ucap Freya menjawab Andra.


Andra mengangguk lalu memundurkan langkahnya mempersilahkan teman-temannya masuk ke dalam Villa. Disaat satu langkah kaki kiri Anggara berjalan ke depan, Anggara merasakan perutnya bergejolak pertanda mual. Kepalanya yang tadi reda kini menjadi sakit kembali. Anggara menahan rasa sakit itu, tak memedulikan sakit tersebut yang hadir balik. Setelah melangkah masuk ke dalam Villa, rasa denyutan sakit kepala itu semakin saja merajalela. Terlalu pusing sehingga Anggara jatuh terduduk di lantai ruang utama.


Semuanya yang berada di dapur menoleh cepat pada suara terjatuh tersebut. Melihat Anggara yang jatuh terduduk seraya memegang kepalanya, tak ayal mereka semua berlari panik menghampirinya. Ketiga sahabatnya yang ada di depannya, sontak bergegas mendatangi Anggara. Bibir Anggara nampak mencekup kuat dan rapat, matanya terpejam amat-amat.


"Ngga! Ngga! Kamu kenapa, Ngga??!!"


"Ugh- akh!" Anggara hanya mampu tertatih-tatih menjawab si Freya. Sedangkan Reyhan yang panik langsung menarik lengan Anggara ke atas untuk membantunya berdiri.


"Ayo gue anter ke kamar!" Reyhan dengan tegas langsung merangkul tangan Anggara ke tengkuknya, lalu mereka berdua menaiki tangga hati-hati.


Sedangkan kedua sahabatnya dan keenam temannya melongo dengan wajah terkejut. Pada paginya, Anggara terlihat sehat-sehat saja hanya berwajah tidak semangat dikarenakan ia kekurangan tidur semalam. Di sisi Anggara, ia terus merasakan perutnya mual, pening juga berlebihan sehingga ia kalau tidak di bantu oleh Reyhan, kemungkinan Anggara akan ambruk terjatuh lagi seperti di lantai ruang utama.


Usai sampai di pintu kamar 001, tangan Reyhan satunya membentang untuk memegang gagang pintu yang dingin bersifat besi lalu membuka pintu tersebut lumayan lebar. Sementara itu, Anggara tak habis-habisnya merintih kesakitan.


Reyhan tetap menuntun Anggara hingga sampai di kasur tempat tidur. Dengan sangat perlahan, Reyhan membantu Anggara untuk duduk di kasur begitu juga ia sendiri ikut duduk di kasur. Reyhan menyuruh Anggara buat membaringkan tubuhnya.


Reyhan menatap wajah Anggara yang kembali memucat, tubuh tak berdaya seperti tidak bertenaga. Mulutnya membuka dan mengatakan 'sakit' pada sahabatnya yang kini masih ada di hadapannya. Reyhan bergegas menarik selimut tebal hingga ke batasan dada Anggara.


'Ya Allah Ngga, lo kenapa lagi sih? Tadi malem lo juga gini kan, tapi lebih parah sekarang.' Reyhan berbicara membatin dengan dipadukan hati yang kalut tak karuan. Rasa khawatir Reyhan terhadap sahabatnya begitu besar. Tersirat oleh benak otak dimana disaat hari-hari lalu, keadaan Anggara begitu sangat mencemaskan hingga membuat Anggara hilang kesadaran sampai selama 1 hari.


Melihat wajah cemas dari Reyhan, Anggara langsung mengerti apa yang di khawatirkan sahabatnya itu.


"Bukannya ... lo mau makan? Udah sana ..."


"Tapi Ngga gue gak mungkin ninggalin lo, nanti kalo lo butuh apa-apa gimana? Sedangkan kami semua ada di bawah," jawab Reyhan penuh risau.


Anggara menggeleng serta senyuman lemahnya. "Tinggal aja ... gue bisa ngelakuin sendiri, kok."


Reyhan mendesis pada suara lambat lemahnya si Anggara. "Y-yaudah kalo gitu, nanti gue bawain makanan buat lo ya."


"Gak, gue ... gak lagi pengen makan. Perut gue rasanya ... mual banget," tolak keluh Anggara sembari menyentuh perutnya merasa tak enak.


"Hah mual? Kok bisa- mau gue anterin ke kamar mandi?!"


Anggara menggeleng lagi. "Gue ... mau tidur aja Rey, siapa tau ... nanti sembuh sendiri ..."


Reyhan menggigit bibirnya lalu akhirnya mengangguk mengerti, sebelum Reyhan akan melangkah pergi dari kamar 001, ia merogoh ponselnya dan menunjuk layar ponselnya di hadapan Anggara.


"Nanti kalo lo mau butuh sesuatu, langsung aja chat gue apa enggak telpon. Gue bakal stand by kok, kalo lo butuh bantuan."


Anggara cukup mengangguk dengan senyuman tipis bibir pucatnya. Secara itu, wajah Anggara berubah dengan drastis, pada sebelumnya itu, wajah Anggara terlihat orang sehat namun di ini, wajah Anggara terlihat orang tengah sakit. Reyhan menepuk pundak Anggara lalu pamit keluar kamar untuk menyusul para yang lainnya di bawah tangga. Tak lupa setelah di luar kamar, Reyhan menutup pintu kamar 001 dengan perlahan.


Cklek...


Dengan langkah lesu menuruni tangga, Reyhan telah di tunggu-tunggu oleh para lainnya di bawah. Mungkin mereka ingin menghujani deras banyak pertanyaan pada Reyhan soal Anggara yang parah secara tiba-tiba tadi. Terkecuali Andra yang tengah diam berdiri bersama senderan pundak serta kepala di bagian pintu Villa.


"Rey! Anggara gimana keadaannya?!"


Reyhan sudah menduga Freya yang pertama menanyai Reyhan tentang sahabat TK-nya. Wajah raut amat risau ternampak tergambar pada ekspresi muka gadis cantik itu.


"Anggara sekarang lagi tidur," jawab Reyhan tak bersemangat.


Rangga yang sedang menyiapkan hidangan makan malam, melangkah menjauh dari meja makan dan menghampiri Reyhan. Tangan Rangga menyentuh pundak Reyhan akan menanyainya.


"Anggara sakit apa Rey? Bukannya tadi pagi dia gak kenapa-napa?"


"Iya, Anggara waktu pagi emang gakpapa. Tapi gak tau sekarang malah kayak gitu."


"Ehm, Anggara ada keluhan nggak?" tanya Rangga menatap sendu Reyhan.


Reyhan mengangguk. "Keluhan pertama, kepalanya sakit. Keluhan kedua, perutnya mual banget."


"HAH?! ANGGARA LAGI HAMIL??!!" jawab Raka spontan membuat kesemua temannya menoleh sengit pada Raka yang berbicara seenak jidat.


"Gue tonjok mulut lo ya lama-lama! Mana ada cowok hamil!!" murka Reyhan yang kini lagi tak mau di ajak bercanda.


Rangga langsung mengusap punggung Reyhan dengan menyengir. "Kontrol emosi ya Rey, hehehehe."


Reyhan cuma menghela napasnya meredakan emosinya yang secara tiba-tiba itu. Sementara, Jova melangkah mendatangi Andra yang menunggu neneknya datang ke Villa. Andra beberapa kali menilik jam tangan sportnya yang semakin malam. Sebenarnya di hati Andra, tak percaya pada ucapan neneknya di pesan chat WhatsApp. Apalagi nenek Andra termasuk orang yang takut sendirian ke hutan kecuali ada orang yang menemaninya.


"Andra," panggil Jova sambil mencondong ke depan menatap wajah Andra yang fokus di depan.


Andra sedikit tersentak dan mengerjapkan matanya lalu menoleh ke arah Jova yang memanggilnya di sebelah. Andra menyerong badannya menghadap temannya yang tersenyum menatap Andra.


"Eh iya Va, kenapa?"


"Kamu ngapain? Nungguin nenekmu gak perlu sampe di sini juga kali, dingin tau di luar."


"Kalo aku gak nunggu di tengah pintu gini, nanti nenekku gak tau aku ada dimana."


Jova menepuk mukanya ia sendiri dengan tertawa geli pelan. "Hahaha, nenekmu pasti tau kok kalo kamu ada di dalem Villa."


Andra menanggapi Jova dengan cengengesan sama menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Namun ekspresi konyol pemuda itu berubah menjadi ekspresi nanar bingung, matanya terus mengamati di sana tetap setia menanti neneknya. Jova merapatkan bibirnya dengan mata yang ia sipitkan melihat ke arah depan, tak ada yang datang sama sekali.


"Va, kamu percaya nggak? Kalo nenekku itu nyuruh aku nunggu di Villa puncak hutan Bogor ini ... Secara itu, mama papaku ngerasa lumayan curiga sama aku yang pergi kesini. Satu lagi, nenek aku tuh orangnya takut gelap apalagi jalan di hutan luas ini."


Jova nampak berpikir dan mencerna segala ucapan Andra yang panjang lebar itu. Muka Andra menunjukan tanda gelisah, sementara satu telapak kakinya ia gerakkan terus menerus. Jova mendekap tubuhnya karena merasa kedinginan apalagi angin malam mulai mendatang lembut.


"Oh iya ya Ndra, tadi pagi pas kamu di chat sama nenekmu katanya dia bakal kesini sendirian. Wajar gak sih, kalo nenekmu sendiri aja takut banget jalan ke hutan gelap kek gini. Apalagi hutan Bogor ini terkenal gelap banget kalo malem."


"Menurut gue, semua ucapan yang nenek lo ungkapin di chattingan itu gak wajar Ndra." Terdengar suara Reyhan celetuk seraya melangkah menghampiri Andra dan Juga Jova.


Andra dan Jova berbalik ke belakang lalu Andra menanyai Reyhan, "M-maksud lo? Gak wajar gimana Rey?!"


"Gue ngerasa aja. Apalagi anehnya nenek lo gak pake izin anaknya mau di ajak kesini, anehnya lagi ... nenek lo mau dateng malem ini? Ini udah jam berapa Ndra, udah mau jam sepuluh. Tapi nenek lo yang lo tunggu dan juga kami semua yang nunggu, gak hadir-hadir juga."


"Gue takut, kalo semua itu adalah jebakan dari seseorang."


Jova terkejut dan langsung memukul kencang lengan Reyhan yang posisi tangannya menggenggam ponselnya.


"Nyuk! Jangan nakut-nakutin deh! Kebiasaan banget sih bikin orang jantungnya deg-deg ser!" protes Jova di balas Reyhan mendengus sebal.


"Aku ngomong sesuai batin hatiku, aku gak ngasal. Mungkin kalian liat aku biasa aja ya, tapi sedari tadi aku udah curiga sama neneknya Andra. Feeling aku udah gak enak. Dan aku gak percaya semua omongan apa yang neneknya Andra omong di chattingan."


Andra segera merogoh sakunya untuk mengeluarkan handphonenya dengan tangan gemetaran. Reyhan yang melihat gerak-gerik Andra, mengangkat satu alisnya.


"Lo mau ngapain?"


"G-gue mau coba telpon nenek gue Rey, nanya dia udah sampe mana. Kita denger aja sama-sama," jawab Andra dan langsung di beri anggukan kepala Reyhan dan Jova bersamaan.


Andra menelan ludahnya dengan bola mata bergerak mencari kontaknya nenek ia di WhatsApp. Setelah menemukan, Andra memencet tombol simbol telepon. Saat sudah menekan tombol simbol tersebut, kini tertera layar telepon. Tulisan di bawah gambar profil foto nenek Andra, berdering.


Dan kini pun sang nenek mengangkat telepon dari cucunya.


...NENEK...


^^^H-halo Assalamualaikum Nek..^^^


Iya Andra, kenapa?


^^^Nek, Nenek kapan datengnya sih? Daritadi Andra nungguin Nenek loh. Ini juga udah mau larut malem^^^


Oh nanti nenek datengnya agak telat


^^^Lah? Jam berapa Nek?^^^


Tengah malem, Ndra. Gakpapa kan?


^^^Anu Nek, Nenek yakin sampe sini tengah malem^^^


Iya Andra Sayang..


Kamu mau ya nungguin Nenek, jangan pulang dulu.. Pulangnya besok aja bareng nenek. Selamanya hehehe


^^^S-selamanya? Maksud Nenek apa?^^^


Udah, kamu juga bakal tau kok..


Yaudah, Nenek tutup ya Ndra, telponnya. Nenek ada urusan. Nanti nenek dateng kok


^^^I-iya Nek, hati-hati ya Nek^^^


^^^Assalamualaikum...^^^


...----------------...


Neneknya Andra tanpa menjawab salam dari Andra langsung mematikan teleponnya sang cucu. Andra langsung terheran-heran pada sikap neneknya, biasanya jika Andra mengucapkan salam menyapa ataupun mau berpisah pasti salam dari Andra dibalas olehnya.


Tanpa Andra sadari, selain Reyhan dan Jova mendengarkan isi ucapan telepon neneknya, teman-teman lainnya ikut nimbrung mendengarkan telepon sang nenek terkecuali Anggara yang masih tidur di dalam kamar 001.


"Tengah malem? Yakin beneran nenek kamu datengnya tengah malem?" tanya Freya memastikan.


"Iya Frey, kamu tadi denger sendiri, kan?"


"Iya aku denger kok. Terus kondisi nenek kamu pasti di tempat sepi banget ya, kayak di lagi hutan."


"Eh wait-wait, sepi banget kek kayak lagi di hutan? Berarti, nenek kamu ada di hutan? Hutan ini dong!" sangka Zara.


"Mungkin iya kali Zar, tapi kata nenekku tadi di telpon, dia lagi ada urusan."


"Urusan apaan sampe di hutan?" tanya Rena.


Andra menggedikkan bahunya. Dan tiba-tiba ada suara getaran notifikasi dari ponsel Andra.


Tring !


...NENEK...


[ Nenek ]


Ndra, kalo kamu tidur nanti jangan di kamar atas ya. Tidurnya di sofa aja, biar nanti kalo Nenek ngetuk pintu, Andra denger


...----------------...


Andra hanya read saja pesan chat dari neneknya tanpa ada niat membalasnya. Ia masukkan handphonenya dalam saku celana jeans lalu menutup pintu Villa karena angin berhembusan kencang.


Cklek !


"Siapa yang ngechat, Ndra?" tanya Rangga.


"Nenek gue, Ga."


"Dia ngomong apa?"


"Ehm, cuma bilang gue di suruh tidur di sofa aja nanti, Rey."

__ADS_1


"Lah? Kok gitu? Nenek yang baik gak mungkin menyuruh cucunya tidur di sofa dong," omel Raka.


"Katanya biar pas dia mengetuk pintu Villa, gue langsung denger."


Reyhan mengerutkan dahinya, merasa ada yang janggal dengan semua ini. Tetapi mungkin Reyhan terlalu bernegatif thinking pada neneknya Andra.


"Mending kita tidur aja dah yok, gak baik begadang malem-malem. Lo semua tidur di kamar atas, nah gue tidur di kursi sofa."


"Mau pake selimut? Nanti kalo kedinginan, bisa-bisa masuk angin loh," tawar Lala.


"Cieeee perhatian banget sih kamu La, sama Andra. Uh so sweet deh bak sepasang kekasih semanis gula. Baper banget jadinya gue."


"Ini aku pake sepatu Ka, mau aku sumpelin sepatuku ke mulutmu? Yang tukang mak comblang!"


Raka langsung meminta ampun dengan cengengesan. "Ampun bu jago eheheheh!"


"Enggak perlu La, mending kamu sama yang lain tidur aja deh sana. Aku tidur disini sambil nunggu nenekku nanti dateng. Oke?"


"Hmm oke deh kalo gitu, kita ke atas dulu ya," pamit Lala pada Andra.


"Yoi." Andra mengangkat jarinya membentuk simbol tanda 'oke'.


Raka menengok pintu kamar Anggara yang tertutup, sepertinya penghuni kamar tersebut telah tertidur lelap di dalam sana.


"Si Anggara tidur ya?" tanya Rena.


"Iya, mungkin udah bablas," jawab lantang Raka.


"M-maksud kamu bablas gimana?!" terkejut Freya mendengar suara lantang Raka.


"Maksudku bablas ke alam mimpi, bukan mati hehehe."


"Huh!" Reyhan dengan tampang sengitnya memberikan kepalan tangannya akan membogem Raka.


"Iya-iya, maap kali Rey. Marah mulu lo sama gue."


"Terserah gue!"


Raka langsung terdiam seribu kata, tak ada sebuah kata yang ingin Raka lontarkan pada Reyhan, sedangkan Reyhan yang menyadari telah ketus pada temannya langsung menghembuskan napasnya. Reyhan menyadari ia terlalu emosi pada temannya satu itu.


Setelah itu, teman-temannya Andra menaiki tangga dan masuk ke kamar pada nomor masing-masing. Di dalam kamar mereka, mereka langsung merebahkan diri di kasur dan akan menjumpai mimpi. Sementara si Andra berbaring di atas sofa, bantalnya ia sengaja ia letakkan di atas kursi sofa lalu segera membaringkan kepalanya di atas bantal tersebut.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Entah berapa lama mereka tidur, kini jam sudah menunjukkan pukul 00.00. Andra nampak sudah terlelap di tidurnya, tangan kanannya ia topang bawah kepalanya. Sementara di dalam kamar 001, yaitu kamarnya Anggara, Anggara dalam posisi tidur lurus namun tidurnya merasa tak nyaman. Kepalanya masih terasa berdenyutan, perut terus bergejolak tak enak ibaratnya mau muntah, tetapi tetap Anggara tahan. Dalam mata Anggara ia pejamkan ia terus berpikir apa penyebabnya ia bisa sakit separah ini.


Anggara sulit untuk tidur, padahal satu jam lagi akan dini. Sungguh tersiksa jika seperti ini. Anggara mencengkram selimutnya bagian atas perutnya, matanya Anggara mengernyit kuat serta deretan gigi putih rapi bersih Anggara menggertak kuat. Tangan yang sebelahnya tak ia buat apa-apa, kini tangannya meraih kepalanya dan menyentuhnya sedikit menekan.


Di sela-sela kesakitan yang diterima Anggara, Anggara merasakan ada sesuatu yang menetes di pipi kanannya. Bau busuk menyeruak ke penciuman hidung Anggara. Perlahan demi perlahan Anggara mencoba membuka matanya. Nyawa Anggara hampir saja melayang, melihat wanita arwah pembawa dendam itu berposisi memalang tengkurap menghadap Anggara. Darah segar menjijikan itu terus menetes mengenai pipi Anggara satu-satu.


Lagi-lagi dan lagi, Anggara tak bisa berkutik sedikitpun, suaranya tercekat, lidahnya terasa kelu, mulutnya terbungkam layaknya terkunci gembok. Keringat dingin merembes ke pelipis pemuda itu dan detak jantungnya berpacu lebih cepat daripada sebelumnya ia melihat wanita itu di mata batin penerawangannya.


Mata sang Anggara terpaku kuat pada tatapan mata wanita arwah itu yang bersorot tajam penuh kejanggalan, wanita arwah itu nampak seperti menyimpan sesuatu membahayakan. Hipnotis.


Dalam sekejap waktu, kepala Anggara pusing berputar-putar seperti wahana bianglala. Pandangan mengabur tetapi Anggara mencoba tetap sadar. Sialnya dan malangnya pada lelaki Indigo itu, diberikan tiupan asap hitam yang keluar dari mulut wanita arwah tersebut yang bernamakan Mtyda. Semacam hembusan meniup wajah serta rambut Anggara, Anggara tak berjaya menetapkan dirinya sadar. Pandangan menggelap lalu kemudian Anggara tak ingat apa-apa lagi setelah itu.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Tak tahu berapa lama mata Anggara menutup alias pingsan imbas dari pemberian wanita arwah itu, sekarang Anggara berada di sebuah tempat dalam rumah terbengkalai, kotor dan berdebu. Kepala Anggara yang berkeadaan mendongak atas, sementara tangannya dan kakinya di ikat kuat di kursi kayu. Sama seperti waktu Reyhan di sekap bersama anak buah raja Iblis yang merasuki jati diri Cameron.


Anggara menegakkan kepalanya menghadap lurus depan, betapa kagetnya ia di hadapi oleh arwah laki-laki umur sekiranya anak kuliahan. Mata tajam itu melihat ke arah Anggara dengan senyuman sombongnya. Detak jantung Anggara berdegup kencang kembali. Beberapa kali ini dan akhir-akhir ini, Anggara di hadapi oleh makhluk sosok tak kasat mata. Arwah kuliahan tersebut, maju mendekati Anggara, penampilan setelan pakaiannya terlihat memakai yang berjenis kasual namun nampak compang-camping.


"Kamu udah bangun? Bagus lah kalo begitu."


Anggara mengernyitkan dahinya, sedangkan wajahnya berekspresi berang. Bukankah tadinya sebelumnya ia pingsan, hanya ada wanita arwah berumur 32 tahun itu? Tetapi mengapa kini Anggara tengah dihadapi sosok lelaki lebih tua daripada umur Anggara, dan itu merupakan sosok tak kalah seram dari wanita arwah tersebut?


Dada dari lelaki depan mata Anggara nampak berlubang luka-luka seperti bekas dari tembakan, sementara lehernya terbuka menganga lebar hingga terlihat daging serta tulang rahangnya. Tangan dan kaki Anggara sedang terbelenggu oleh tali yang sangat amat kencang.


"Gak ada yang bisa membantumu dari ikatan tali itu. Kamu juga gak bisa keluar dari tempat ini hahahahaha!"


Anggara mengerang kuat, rahangnya mengeras. Anggara tak takut pada sosok menyeramkan itu, malahan Anggara terlihat menantang arwah lelaki kuliahan tersebut.


"Ancaman lo, gak bakal bisa buat gue takut!"


"Loh-loh, kok kamu marah? Hahahaha, heh dengerin aku," ucap lelaki muda arwah itu sambil mencondongkan wajahnya di dekat muka Anggara.


"Kamu udah disini, temen-temenmu pada gak tau kalo kamu di culik di tempat ini. Jadi kamu bisa apa? Keluar dari sini? Atau pengen menyerang aku yang umurku lebih tua darimu yang masih anak SMA??"


"Hari ini dan mulai dari sekarang, aku akan membuat dirimu menderita yang akan buat kamu sendiri gak bakal bisa lupain di kejadian setelah ini."


Seketika Anggara tersentak, ia tahu arwah itu mau melakukan penderitaan untuk Anggara bagaimana. Anggara menggelengkan kepalanya kuat tanpa bersuara, namun gelengan itu hanya di respon senyuman arwah itu yang di ukir ke samping. Sungguh arwah itu ingin maunya sendiri.


"Tunggu aja apa yang akan aku buat kamu menderita."


Whush !


Dalam sekejap mata, arwah pemuda itu menghilang dari pandangan Anggara. Pikiran Anggara menjadi kalut, gelisah, dan gusar. Perasaan hati yang jadi firasat buruk menggumpal di hati Anggara, sebisa mungkin dengan usaha tenaganya, Anggara harus bisa terlepas dari ikatan kencang itu serta berhasil keluar dari rumah terbengkalai tersebut.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Di dalam Villa, Andra masih senantiasa tidur lelap di atas sofa. Namun tidurnya terganggu dikarenakan ada suara gaduhan dari dapur. Mungkinkah ada yang memasak malam-malam seperti ini?


Andra mengerjapkan matanya lalu mengucek matanya, ia bangkit posisi duduk untuk mengumpulkan nyawanya sebentar kemudian mata pandangan Andra beralih ke dapur. Andra memicingkan matanya melihat seseorang dengan betul-betul, orang tersebut nampak berkutat dalam kesibukannya di dapur dekat kompor api.


'Itu siapa ya? Apa itu nenek?'


Andra menggeleng kepalanya kuat, itu bukan neneknya tetapi apa yang di lihat Andra pada seseorang yang menghadap belakang, terlihat itu adalah postur tubuh lelaki. Mulai dari gaya rambut, model pakaian sampai sepatunya. Andra tentu mengenali orang tersebut. Anggara.


'Anggara? Ngapain dia di dapur? Mau masak kali, yak.'


Andra bertekad hendak akan menghampiri temannya yang berada di dapur. Tetapi anehnya kalau Anggara mau memasak, kenapa Anggara malah memainkan pisau serta sebagian ada yang ia bersihkan agar pisau itu bersih mengkilap?


"Ngga? Lo udah sehat?" tanya Andra yang ada tepat di belakang Anggara.


Gerakan Anggara terlihat aneh, ia berhenti memainkan pisau itu lalu badannya menegak kemudian langsung menoleh ke arah Andra. Wajah tampangnya dingin datar menatap Andra yang menanyai dirinya.


'Wajah Anggara kok beda banget dah tampang-tampangnya, apa dia lagi sakit makanya wajahnya kek begitu ?'


SRAANNG !


Anggara mengambil pisau tersebut dari tempatnya secara kasar. Pisau itu ia genggam kuat bersama cekalan satu tangannya, dan ia maju melangkah mendekati Andra dengan tampang dinginnya. Andra yang takut Anggara menggenggam pisau serta maju ke arahnya, Andra reflek memundurkan langkahnya.


Semakin Andra mundur langkah, Anggara semakin maju langkah ke Andra, hingga Andra di cengkram kerah jaketnya oleh Anggara. Anggara sengaja mendorong Andra sampai mengenai tembok dapur.


"Ng-ngga? L-lo mau ngapain?! Apa yang mau lo lakuin sama pisau itu?!"


"Ini?" Anggara mengangkat pisau itu dengan suara dinginnya sama dingin wajahnya.


Andra mengangguk dan Anggara berdecih remeh. "Ya lo kira aja gue bakal ngelakuin apa sama pisau ini. Buat gores ini ke wajah lo."


DEG !


"Anggara- lo jangan bercanda deh, please ini udah tengah malem banget. Jangan nakutin gue Ngga."


"Cih, gue gak peduli lo mau takut apa gimana, yang jelas gue bakal sayat muka lo pake ini pisau."


"Mau leher atau muka yang gue sayat? Ayo pilih."


"JANGAN GILA NGGA!!"


Suara menggelegar Andra menggema kencang hingga membuat kesemua teman ia serta sahabat-sahabatnya Anggara terbangun lalu mereka bergegas turun dari tangga.


"Ndra kenap-" Ucapan Reyhan terpotong disaat ia melihat Anggara menggenggam pisau dengan sementara tangan kosongnya mencengkram erat kerah jaket Andra.


"Anggara?! Lo mau apain Andra?!"


"Sialan, ada pengganggu baru," lirih gumam Anggara melirik Reyhan sebal.


"Pengganggu baru? Maksud lo apa? Ampun dong Ngga, ini udah malem loh bentar lagi hari mau fajar. Jangan becanda ah," ujar Reyhan dengan nada seperti biasanya.


"Gue? Becanda? Gak, gue gak bercanda. Gue mau ngelakuin sesuka gue. Tapi karena ada pengganggu, kayaknya lo deh yang harus gue kasih ngerti."


Reyhan tak mengerti maksud dari Anggara. Suaranya menandakan sangat dingin beda yang Reyhan dengar serta yang lain-lainnya. Freya yang terdiam bingung pada tingkah bicara sahabat kecilnya, matanya terbelalak saat Anggara mendekati Reyhan lalu mencengkram kerah kemejanya, sementara itu pisaunya ia dekatkan di leher Reyhan yang kini sebatas 2 sentimeter.


"Mau gue kasih ngerti, agar lo gak ganggu gue?"


"Anggara, lo kenapa sih malem ini?! Gue gak ngerti apa maksud lo. Jauhkan pisau itu dari gue, lo mau apain gue sama pisau itu?!" Detak jantung Reyhan berdebar sangat cepat, wajahnya sangat ketakutan yang melanda.


"Tenang, lo bakal tau kok."


"Anggara! Kamu kalo bercanda jangan kebangetan deh! Kasian Reyhan takut begitu!" protes Freya mulai takut pada tekad Anggara.


"Lo tau apa? Diem deh gak usah banyak protes!!"


Freya terkesiap mendengar perkataan Anggara yang tak pantas ia ucapkan untuk dirinya. Freya tahu betul sifat Anggara terhadapnya yang selalu menyebutnya kata 'kamu' bukan 'lo' jika Anggara memanggilnya. Freya mulai curiga dan ada suatu kejanggalan yang terjadi pada Anggara, ia yakin itu bukan Anggara yang sesungguhnya.


"Kamu bukan Anggara! Dimana Anggara yang asli?! Aku tau, kamu lagi menyamar menjadi Anggara. Iya, kan??!!"


'Brengsek, cewek ini bisa-bisanya tau kalo aku menyamar menjadi Anggara .. cewek yang kayak dia gini, harus aku singkirkan !'


Arwah yang menyamar menjadi Anggara melepaskan cengkraman dari kerah kemejanya Reyhan, lalu dengan kasar arwah itu menendang Freya yang mengenai dada bagian tengah.


DUAGH !!


"AKH! SAKIITT!!!"


Mendengar teriakan Freya yang kesakitan dengan tangan menempel di dada, membuat Jova dan yang lainnya menghampiri Freya. Reyhan menatap sengit pada arwah itu semeskipun yang Reyhan sangka adalah Anggara. Tanpa ba-bi-bu, Reyhan membalas perbuatannya yang telah membuat Freya berteriak kesakitan. Reyhan membogem wajah Anggara dengan kuat hingga wajah Anggara lebam serta sudut bibirnya berdarah.


BUAGH !!!


"Sahabat brengsek! Apa lo gak sadar yang udah lo lakuin sama Freya, hah?! Dimana otak etika lu, dimana otak akal sehat lo, DIMANA!!!"


Anggara yang tak terima di bogem mentah oleh Reyhan, langsung tanpa basa-basi Anggara memukul perut Reyhan dengan kepalan tangannya.


BUGH !!!


Merasa belum puas, Anggara menendang kencang perut Reyhan hingga kepala Reyhan membentur lumayan keras bagian atas kursi meja makan.


"REY!!" Andra, Rangga, dan Raka berlari menolong Reyhan yang mendesis merintih kesakitan. Sementara Anggara bersedekap di dada dengan gaya santainya.


"Jangan kamu pikir, aku percaya itu aslimu!! Aku udah yakin sekali, kamu bukan Anggara yang kami kenal!! Jadi, kasih tau kami .. dimana Anggara???!!!"


Jova, Lala, Zara, dan Rena sangat amat terkejut luapan amarah dari Freya. Suara serak dan tangisan karena tendangan kuat dari arwah yang tengah menyamar menjadi sahabat kecilnya, membuat arwah itu mencuatkan matanya. Walaupun dimata para mereka itu wujudnya sang Anggara, tak juga dengan Freya. Freya kenal Anggara dari kecil, jadi ia tahu sekali sifat-sifat dari Anggara.


"Anggara yang aku kenal, dia orangnya lembut! Enggak kasar seperti apa yang kamu lakukan barusan!!!"


"Kamu bisa menipu kesemua temanku dan sahabat-sahabatku, tapi aku gak bisa kamu tipu!! Jadi sudahi semua ini!!"


"Lo gak percaya? Gue Anggara, sahabat lo dari TK."


"Oke kalau begitu, sebutin nama lengkapmu. Jika kamu benar-benar Anggara." Freya menatap serius pada arwah itu.


"Gampang. Anggara Veincent Kaivandra, kan?"


Jova mengerutkan dahinya, benar nama lengkap sahabatnya adalah itu. "Coba sebutin nama lengkapku, Freya sama Reyhan."


Arwah itu berdecih smirk. "Jovata Zea Felincia, Freya Septiara Anesha, Reyhan Ivander Elvano."


Reyhan terkejut semuanya benar sekali tak ada yang salah. Namun emosi Reyhan menjadi meluap-luap karena Anggara telah menyakiti Freya sampai menangis. Reyhan bangkit berdiri dengan tangan menyentuh perutnya karena terasa amat kram. Kata-kata ucapan dari Reyhan membuat yang menerima ucapan itu tersenyum miring.


"Tetep gimanapun, lo cowok brengsek! Sahabat brengsek, teganya lo sampe nyakitin Freya, tetangga lo bahkan sahabat kecil lo sendiri, Anggara!!"


"Frey, sudah terbukti kan, dia Anggara. Anggara sahabat kita yang udah berubah!!"


Freya menggeleng kuat. "Enggak Rey! Dia tetap bukan Anggara! Aku udah ngerasain kejanggalan, dia bukan Anggara!"


'Perempuan ini ternyata punya aura terbuka, aku harus pergi dari sini. Agar disaat Anggara sampai di sini, mereka mengira itu adalah Anggara.'


Arwah itu melangkah pergi meninggalkan mereka yang terdiam melihat kepergiannya. Membuka pintu Villa tersebut lalu menutupnya secara membanting cukup kuat.

__ADS_1


BRAKK !!!


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Di dalam rumah terbengkalai tersebut, Anggara berusaha menggerakkan tubuhnya sambil terus berusaha melepaskan ikatan yang membelenggu kedua tangannya serta kakinya, namun karena Anggara bergerak berlebihan, tiba-tiba kursi kayu itu oleng dan jatuh bersamaan pada Anggara di situ.


BRUGH !


Kepala Anggara setengah terbentur oleh lantai dingin, di lantai tersebut banyak kepingan kaca berserakan beserta debu-debu kotor yang tidak sehat untuk di hirup. Di sela-sela itu, tangan Anggara dibelakang tidak sengaja menyentuh serpihan kaca di bawah tangannya. Anggara dengan cepat meraba serpihan kaca itu. Akhirnya Anggara berhasil mengambilnya! Kemudian tangan Anggara perlahan mengiris tali ikatan itu agar terputus.


Meskipun Anggara terlalu kesulitan untuk memutuskan tali itu dari tangannya hingga kening Anggara berkeringat, tapi pada akhirnya Anggara berhasil terlepas dari belenggu tali tersebut. Tangan berhasil bebas selanjutnya pemuda Indigo itu tangkas melepaskan tali ikatan dari kaki-kakinya.


Anggara membangkitkan tubuhnya dan berdiri secara perlahan. Leher Anggara terasa sakit dan memar karena sedari tadi ia pingsan posisi kepalanya mendongak atas, belum lagi kepalanya menyerang balik sakitnya. Anggara tak ingin memedulikan sakit yang ia alami daritadi itu, Anggara cepat-cepat bergegas keluar dari tempat tak layak di tempati dan menemui kesemua teman dan sahabat-sahabatnya di Villa.


Usai berhasil keluar dari rumah tua itu, Anggara berlari kencang meninggalkan rumah tersebut sebelum arwah yang tadi tak mengetahuinya kalau Anggara telah kabur dari dalam rumah terbengkalai tersebut. Anggara berlari kencang tanpa ia tahu harus pergi alur kemana yang benar, lebih baik Anggara mengikuti nurani hatinya saja.


Anggara mengambil jalan lurus tanpa membelok kanan ataupun kiri, ia berharap ia bisa kembali ke Villa yang tadinya Anggara sempat di culik oleh wanita arwah pembawa dendam itu.


Semakin Anggara memperlaju larinya semakin pula pening sakit kepala Anggara menjadi-jadi, tak ada hentinya bekerja menyerang. Sampai tiba-tiba Anggara menemukan bangunan tinggi bertingkat. Yaitu Villa yang Anggara serta lainnya datangi.


Anggara menghentikan larinya setelah berada di depan pekarangan Villa, suasana Villa begitu amat sepi. Anggara membungkukkan badannya mengaturkan napasnya yang tersengal-sengal. Anggara kembali menegakkan badannya lalu menghembuskan napasnya lega akhirnya ia bisa kembali di Villa itu. Namun saat tangannya berinisiatif mengetuk pintu, Anggara teringat pada ucapan arwah lelaki anak kuliahan tersebut tentang penderitaan yang akan di dapatkan dan diterima Anggara. Anggara berharap penuh tak ada kejadian apa-apa di dalam nanti.


Tok...


Tok...


Tok...


Cklek !


Suara ketukan pintu yang Anggara ketuk, kini dibuka oleh gadis cantik berponi menyamping kiri. Itu adalah Freya, Freya sangat terkejut sekaligus bingung. Ia terlihat menatap Anggara sungguh-sungguh. Mata Freya langsung berbinar setelah menatap wajah Anggara. Tentunya ia senang ini adalah sahabat kecilnya yang ia kenal.


"Anggara! Kamu kembali, hiks!"


"Frey, kamu nangis? Kenapa? Ada apa-"


Dibelakang, Reyhan langsung menarik pundak Freya mundur kebelakang seolah Reyhan melindungi Freya dari Anggara. Reyhan menatap penuh emosi pada Anggara. Anggara sendiri bisa merasakan hati Reyhan sangat marah padanya.


"Rey, Freya kenapa-"


"Apa? Napa lo balik, hah??!!"


"A-apa maksud-"


"Gak usah pura-pura bego deh! Heh, apa lo gak inget? Lo udah nyakitin Freya sampe dia kesakitan, tau gak!!!"


"Gue nyakitin Freya? Sumpah Rey, gue gak ngelakuin itu! Lo tau sendiri kan, gue gak bisa kasar sama cewek terutama Freya! Sahabat kecil gue!"


"Alah omongan lo tuh basi! Disini ada saksinya!"


"Bener, lo sendiri yang bikin Freya nangis kesakitan. Lo nendang Freya sampe dia jatuh keras di lantai," tutur Raka.


Anggara tersentak. "T-tapi gue gak nendang Freya, gue bener-bener gak kayak gitu."


"Gue, barusan bebas dari satu arwah yang culik gue tadi. Sebelum itu, gue gak tau apa yang sudah terjadi sama kalian disini!"


"Gue tau, gue udah tau semuanya. Arwah itu sengaja menyamar menjadi gue, sehingga kalian ngira itu gue. Padahal Enggak. Posisi gue disaat itu, di sekap dalem rumah tua!"


"Maaf Ngga, gue gak mau percaya sama lo. Kenyataannya juga begitu, lo sendiri yang nyakiti Freya!!"


"Rey tolong percaya sama gue-"


"Tadi lo nonjok perut gue kan? Dan gue belum membalas perbuatan brengsek lo. Jadi, biar impas lo harus rasakan ini!"


JLEB !!!


Anggara terdiam mematung disaat perutnya tertembus oleh pisau mengkilap yang ditusuk oleh Reyhan. Darah segar mengalir keluar dari perut Anggara. Freya sangat terkejut belum sempat ia meyakinkan Reyhan kalau tadi itu bukan Anggara aslinya. Namun sudah terlambat, Reyhan yang emosinya sudah tak terkendali melakukan hal mengerikan pada Anggara, dan itu adalah ancaman nyawa.


JLEB !!!


Reyhan dengan paksa melepaskan tembusan pisau itu dari dalam perut Anggara. Mulut Anggara berkomat-kamit, pandangan ia menunduk melihat perutnya bersimbah darah segar. Anggara menatap Reyhan dengan wajah pasrahnya.


"R-rey ..." lirih Jova melihat perut Anggara telah berdarah akibat tusukan pisau tajam.


Tanpa kata-kata Anggara menerobos masuk ke dalam Villa sambil memegang perutnya yang terus mengalir berdarah. Anggara ingin segera mengambil kertas lusuh sketsa itu dalam kamarnya yang sebelum ia tidur ia meletakkan kertas itu di atas meja nakas.


"LO MAU KEMANA BRENGSEK???!!!"


Suara amarah Reyhan tak Anggara pedulikan, ia fokus pandangan di depan dan menaiki tangga cepat lalu pergi ke kamarnya. Tak lama kemudian Anggara keluar dengan memegang lembaran kertas lusuh. Namun saat di atas tangga ingin menuruni tangga, tubuh Anggara ambruk dan itu membuat ia jatuh terguling-guling dari atas tangga sampai jatuh di lantai bawah tangga, sementara kepalanya kembali terbentur keras.


"NGGAAAAAAAA!!!"


Freya berteriak nyaring sambil berlari kencang menghampiri sahabat kecilnya yang telah terkapar di lantai.


"HUKK! UHUK UHUK UHUK!!!" Anggara terbatuk keras hingga muncul cairan merah pekat muncrat dari mulutnya sampai mengenai sedikit wajahnya.


Freya duduk dengan lutut menopang lantai, tangannya menangkup wajah Anggara dengan memanggil-manggil nama Anggara panik. Mata Anggara menatap lemah wajah Freya yang air matanya mengalir membasahi pipinya, Anggara tak sempat mengatakan apapun dari Freya karena ia sudah terburu matanya menutup dan hilang kesadaran. Freya yang melihat mata Anggara menutup, langsung mengguncang-guncang tubuh Anggara kencang.


"Ngga?! Ngga, kamu denger aku??!!"


Tak ada respon dari Anggara lagi, tangisan Freya semakin deras karena sudah tidak ada pergerakan Anggara sama sekali, wajah damainya serta muka sedikit bersimbah darah membuat Freya gusar kalut menjadi satu.


"Hiks Anggara, bangun Ngga!! Kamu jangan bercanda huhuhuhu!!"


"Banguuuuuunn!!!" Freya beralih menarik-narik kerah jaket hitam Anggara dengan kencang memintanya Anggara bangun dari ketidaksadaran dirinya.


Rangga yang berada di ambang pintu sana berlari kencang jongkok memeriksa keadaan Anggara, semuanya yang berada di sana ikut berlari seperti Rangga. Rangga menyingkirkan tangan Anggara yang menyeka lemah darah perutnya. Tangan Anggara kini sudah sangat lemas tak berdaya.


Setelah Rangga memeriksa kondisi luka darah Anggara, ternyata tusukannya sedikit dalam. Rangga tetap bertenang lalu bangkit dari sisi Anggara.


"Kalian tunggu disini dulu."


Rangga berlari ke tangga untuk mengambil tasnya di dalam kamarnya. Usai itu Rangga keluar dari kamar bergegas lari cepat menuruni tangga lalu berjongkok di samping Anggara lagi sambil mengeluarkan kain.


"Kamu mau ngapain Ga?!" panik Freya dalam tangisnya.


"Aku mau hentikan perdarahan perutnya Anggara, kalo gak di hentikan cepet bisa-bisa Anggara kehabisan banyak darah." Rangga mengucapkan itu sambil menyingkap baju oblong merah Anggara hingga ke batasan ulu hatinya dan sedikit menekuk ujung baju merah Anggara agar tak menganggu konsentrasi Rangga untuk menolong Anggara yang tengah sekarat.


Darah itu lengket menempel di baju Anggara hingga Rangga harus perlahan menyingkap baju Anggara. Terdapat luka setengah dalam yang membuat Freya semakin takut pada keadaan Anggara. Rangga sigap langsung menempelkan kainnya di atas perut Anggara yang luka tersebut, Rangga lumayan menekan kain itu agar darahnya Anggara tak keluar.


Andra yang juga sama panik yang lain, berjongkok di samping Anggara dan mulai memeriksa denyut nadi tangan Anggara begitupun pernapasan hidung Anggara. Oh tidak! Denyut nadi tangan Anggara dan pernapasan hidung Anggara melemah.


"Gawat! Denyut nadi Anggara sama napasnya lemah banget!" kalut Andra cemas.


Rangga menoleh ke Andra. "Ndra, tolong tekan kainnya dulu bentar. Gue mau telpon ambulans rumah sakit Bogor Kusuma."


Andra mengangguk antusias lalu menggantikan Rangga untuk menekan kainnya di atas perut Anggara supaya darah perut Anggara tak bebas keluar. Rangga merogoh ponselnya dan melangkah sedikit menjauh dari kesemua temannya.


Rangga menekan tiga angka yang langsung tertuju pada kontak, ia akan menghubungi pihak rumah sakit kota Bogor.


Freya mendengarkan Rangga disaat nomor pihak rumah sakit Bogor telah mengangkatnya. Dan di pertengahan telepon, Rangga dan sang petugas pihak rumah sakit malahan berdebat hingga Rangga bermohon-mohon untuk sang petugas ambulans datang cepat ke lokasi tempat Villa ini.


'Aduh, kok malah debat sih? Rangga, cepet dong ...'


Usai membatin, Freya menatap wajah Anggara yang lemah tak sadarkan diri, wajahnya sangat pucat sementara Reyhan diam tak berkutik di belakang Raka yang mengkhawatirkan Anggara. Setelah beberapa segala hal Rangga memohon-mohon pada petugas medis, Rangga nampak bernapas lega dengan tersenyum mengangguk lalu mengakhiri teleponnya pada petugas medis yang tadinya menolak untuk menuju ke Villa di puncak hutan Bogor ini.


Rangga kembali berbalik badan lalu menghampiri para temannya disana, Rangga tahu Freya dan Jova sangat cemas pada Anggara. Rangga tersenyum menenangkan dua gadis itu.


"Tadi udah aku telpon pihak rumah sakit Kusuma, katanya dua jam lagi mereka bakal sampe."


"Dua jam?! Lama banget sih!" kejut Freya.


"Lumrah kan, Frey ... puncak sini tuh jauh banget. Butuh waktu mereka sampe di Villa ini, udah kamu jangan risau. Anggara bakal baik-baik aja kok," ujar Rangga lembut.


Freya yang menggenggam tangan Anggara, menoleh murka Reyhan. Freya melepaskan genggamannya dari tangan Anggara lalu berdiri.


"Lihat! Apa yang udah kamu perbuat! Kamu melukai Anggara, sahabat kamu juga Reyhan! Kenapa sih, kamu susah banget percaya sama Anggara?! Kalau Anggara ada apa-apa, apa yang bakal kamu lakukan?!"


"..."


"Jawab Rey! Jangan diam aja!!"


"A-aku bakal tanggung jawab ..." lirih Reyhan menunduk tak berani menatap Freya.


"Salah paham malah jadi malapetaka, kan! Jangan berprasangka buruk dong!!"


"A-aku minta maaf-"


"Kamu telat Rey! Anggara sudah kayak gini, tapi kamu baru minta maaf sekarang? Kamu baru menyadari sekarang??!!"


"Aku kecewa sama kamu Rey!"


Jova yang mendengar amarah Freya yang menggebu-gebu langsung bangkit berdiri dan mengusap-usap punggungnya Freya. Jova sangat terkejut, Freya bisa semarah ini, malahan amarahnya Freya bisa melebihi dari amarah Jova.


"Udah-udah Frey, redain dulu emosi kamu ... Reyhan kan, udah minta maaf."


"Telat Va! Reyhan telat! Kalo Anggara kenapa-napa, aku harus gimana?! Aku gak mau tante Andrana dan om Agra khawatir!"


Jova terus mengusap-usap lembut punggung mungil Freya menenangkannya.


Tak terasa juga dua jam telah berlalu di keadaan suasana yang menegangkan. Tiba-tiba terdengarlah suara sirine ambulans yang makin lama mendekat. Seseorang paramedis yang berparas seragam putih bersih turun dari mobil lalu mengambil kasur roda dari belakang mobil ambulans.


Setelah paramedis itu mendorong kasur roda di dekat sisi Anggara, bersama-sama beberapa paramedis langsung mengangkat tubuh Anggara ke kasur roda. Usai itu Anggara di dorong bersama kasur roda menuju mobil ambulans. Freya yang menenteng tas pundaknya akan beranjak pergi akan ikut Anggara.


"Frey- aku khilaf, tolong maafin aku-"


"Halah udah lah!"


Hati Reyhan begitu sakit, Freya masih tak mau memaafkan dirinya. Reyhan menyadari ia telah salah paham dengan Anggara hingga membuat Reyhan melukai dirinya Anggara.


Usai Anggara dimasukkan ke dalam mobil ambulans dan Freya menaiki mobil ambulans itu, mobil ambulans pergi meninggalkan Villa. Reyhan mengambil kertas lusuh sketsa sosok wanita menyeramkan. Dalam tatapan nanar Reyhan, ia sedikit berpikir apa hubungannya dengan ucapan Anggara tadi sebelum ia melukai dan kertas sketsa itu.


Secara tiba-tiba munculah sosok lelaki muda mirip sekali dengan Anggara. Reyhan tersontak kaget pada kehadirannya.


"Selamat ya, kamu sudah termakan oleh omonganku hahahaha!"


"Jadi elo yang nyamar jadi sahabat gue!!"


"Kalo iya emang kenapa? Sayang banget keadaannya Anggara sekarang, ya aku berharap dia mati habis ini."


"Oh iya sebenernya selama ini yang ngechat Andra, bukan neneknya tetapi mamaku. Harusnya yang menjadi korban adalah Andra, bukan Anggara, tapi karna aku mencium bau aura luar biasa dari Anggara, kami membuat dia menderita. Siapa tau aja, abis itu dia kehilangan semua kelebihannya."


"Aaaarrgghh!!" Reyhan mengerang marah.


"Freya, sahabat kecilnya Anggara ... wah-wah ternyata dia mempunyai aura yang sangat terbuka juga ya, bahkan saat aku meyakinkan kalian semua kalau aku adalah Anggara, Freya tak semudahnya itu percaya dengan aku. Tapi, kamu sendiri yang malah terkena hasutan aku. Dasar, kamu itu sahabatnya atau sahabat abal-abalan doang, hah??"


Darah para kedelapan remaja itu berdesir cepat melihat kedatangan wanita berwujud menyeramkan bak arwah. Reyhan dengan gemetaran melihat sketsa gambar itu serta wanita menyeramkan itu bergantian.


Disaat wanita arwah itu tak sengaja melihat Rangga tengah menggenggam sebuah ponselnya, wajah dan sorot mata pada wanita menyeramkan itu menjadi menunjukan tanda kaget bercampur takut. Reyhan yang melihat gelagat wanita arwah tersebut secara seksama. Langsung lah, bisa terbaca oleh Reyhan, wanita arwah itu takut sekali kamera pada handphone Rangga. Tak wanita itu saja tetapi lelaki muda anak kuliahan juga berekspresi sama seperti wanita pembawa dendam itu.


Reyhan sesegera merebut handphone Rangga lalu mencari kamera di aplikasi HP-nya Rangga. Rangga yang melihat Reyhan spontan begitu, hanya diam tanpa memprotes dengan tetangganya itu.


"Gue gak terima semua siasat buruk kalian berdua sama Anggara! Jadi sebagai balasan terakhir gue untuk kalian berdua, kalian harus lenyap sekarang ini!!"


Reyhan menatap smirk pada kamera HP Rangga bagian belakangnya. "Cih, cahaya ini ... gue yakin, lo berdua takut cahaya kamera ato pun di potret."


Reyhan memposisikan arah HP Rangga pada dua arwah negatif tersebut. Entah kenapa, saking luapan amarah Reyhan, ia tak menjadi takut dengan arwah-arwah menyeramkan itu. Reyhan memencet tombol potret dalam kamera ponsel Rangga dengan cepat beberapa kali dengan perasaan hati benci.


Ckrik !


Ckrik !


Ckrik !


Ckrik !


Potretan yang menimbulkan flash cahaya dari ponsel Rangga, membuat para arwah itu berteriak kesakitan luar biasa. Wajah serta postur tubuh yang mirip seperti Anggara berubah menjadi wujud aslinya. Tentunya mengerikan di lehernya yang menganga hingga terlihat dagingnya dan tulang rahangnya.


Bersamaan dua arwah itu yang merupakan ibu dan anak menghilang lenyap seperti butiran debu. Kedua kaki Reyhan melemas hingga ia jatuh terduduk posisi kedua lutut menopang di lantai. Tangannya mengepal di lantai, air mata menetes jatuh di lantai. Ia begitu menyesal apa yang sudah ia lakukan pada Anggara. Hisakan tangis terdengar menyayat hati, terbaca pikiran dan hati kalau Reyhan ini sangat begitu menyesali perbuatannya yang telah salah paham terhadap sahabatnya.

__ADS_1


"Anggara, maafin gue ..."


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2