Indigo

Indigo
Chapter 41 | Giving it Over And Over


__ADS_3

Johan kembali ke ruang UKS dan tak lupa menutup pintu kemudian berjalan duduk di kursi, pemuda berumur 19 tahun tersebut mematikan ponselnya lalu menatap balik pemuda berumur 17 tahun tersebut masih senantiasa menutup mata. Johan mencoba menyentuh kening Reyhan dan ia sedikit mendesis disaat merasakan kening Reyhan panas.


"Anjir panas! Ini anak tau sakit kenapa gak izin aja dah, tapi kenapa Reyhan keringetan? Mana mukanya pucet gitu lagi."


Johan mengulurkan tangannya untuk mengambil termometer alat pengukur suhu tubuh, ia hanya mengecek berapa derajat ukur suhu tubuh adik kelasnya. Johan memasangkan termometer bagian ujung ke tubuh Reyhan yang sesuai untuk mengukur suhunya.


Cklek !


Johan menoleh ke arah pintu yang terdapat 3 guru pria melangkah ke Johan dan Reyhan. Mereka adalah kepala sekolah, guru penjaskes, dan guru wail kelas XI IPA 2 yang tak lain pak Harden, pak Robby, serta pak Harry. Johan berdiri dan mulai menyapa dengan rasa sopan santun.


Pak Harden selaku kepala sekolah di SMA Galaxy Admara, melangkah lebih dahulu ke kasur tempat muridnya terbaring lemah, ia menatap wajah muridnya yang begitu pucat.


"Johan, bagaimana dengan Reyhan?" tanya pak Harry.


"Kesadaran Reyhan belum kembali Pak, dan sementara itu Reyhan sedang demam. Saya juga lagi mengecek suhu tubuh Reyhan Pak."


Johan perlahan mengambil termometer yang mengempit di ketiak kanan Reyhan, Johan melihat dengan sungguh-sungguh berapa ukur suhu tubuh adik kelasnya. Johan begitu kaget melihat ukuran suhu tubuh Reyhan.


"Suhu tubuh Reyhan berapa, Han?" tanya pak Robby yang duduk di pinggir kasur UKS kosong.


"Namanya juga demam Pak, suhu tubuh Reyhan tiga puluh delapan koma enam derajat celcius. Kalau semisalnya lebih dari itu Reyhan bisa dikatakan demam tinggi, Pak."


"Astagfirullah tiga puluh delapan koma enam derajat celcius itu sudah bisa dibilang rada tinggi lho, Han! Yasudah sini berikan ponselmu, Bapak akan menghubungi orangtuanya Reyhan."


"Baik Pak Harden, ini ponselnya." Johan memberikan handphonenya pada pak Harden membiarkan sang kepala sekolah untuk menghubungi orangtua Reyhan salah satunya adalah Farhan.


"Pak, tadi sebenarnya saya sudah menyuruh Reyhan untuk pergi ke UKS sebelum pelajaran olahraga dimulai, tetapi Reyhan menolak malah ingin ikut saya dan para teman-temannya ke lapangan. Dan disaat pertengahan saya memberi materi pada anak-anak kelas sebelas IPA dua, Reyhan seperti ketakutan hebat dan syok secara tiba-tiba hingga pada akhirnya Reyhan kehilangan kesadarannya," jelas pak Robby.


"Haduh begitu ya Pak, kenapa bisa seperti itu ya? Apa Reyhan sedang mengalami depresi atau trauma?"


"Kalau itu saya tidak tahu Pak."


Pak Harry berdecak dengan menggeleng kepalanya iba. Pak Robby mengambil minyak angin aroma terapi, usai membuka tutup botol kaca minyak angin tersebut beliau segera mendekatkan ujung minyak angin itu ke dekat dua lubang hidung Reyhan agar demi sedikit dalam napas Reyhan yang masih menghela, menghirupnya untuk membantu mengembalikan kesadaran Reyhan.


Pak Harden menempelkan layar ponsel Johan yang sedang menunggu angkatan telepon dari Farhan, Johan melihat meja yang sedikit berserakan dan ingin berniat merapikannya, sementara pak Harry selaku guru wali kelasnya Reyhan sedikit memijat lengan tangan muridnya untuk melancarkan peredaran darahnya agar lancar tak tersumbat.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Reyhan yang sudah menetap dalam keadaan yang sama, oksigen nang berkurang itu kini mulai berkumpul demi sedikit. Suplai otak pada tekanan darah Reyhan yang menurun kini mulai normal kembali. Suara samar-samar yang mengusik telinga Reyhan membuat pemuda itu reflek membuka matanya secara pelan-pelan namun lemah. Bentuk postur tubuh yang sama dengan Reyhan tetapi pandangan tersebut nampak masih memburam, hingga menunggu berselang menit kemudian Reyhan bisa melihat siapa yang berdiri di dekatnya.


Seorang pria paruh baya berwajah hampir mirip dengannya, mengenakan style jaket biru dongker bisa Reyhan kenali itu adalah Farhan yang berwajah amat khawatir pada kondisinya.


"Reyhan, Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga ... kami di sini takut banget kamu kenapa-napa, jadi bagaimana keadaanmu?" tanya Freya yang usai balik dari dapur kecil UKS dan membawakan gelas berisi teh hangat.


Reyhan tak menjawabnya, dikarenakan pusing kepalanya membuat ia sukar untuk mengeluarkan suara bahkan sekujur tubuhnya masih lemas dan tidak enak sekali.


Freya tersenyum lembut. "Yaudah gak usah dijawab juga nggak apa-apa kok, yuk bangun dan minum teh hangatnya supaya badanmu agak enakan."


Reyhan yang hendak bangun duduk, sudah ada Farhan sigap menopang punggung anaknya agar tak terjatuh. Sementara Jova menegakkan bantal tidur kasur UKS dan ia sandarkan di tembok. Farhan dengan perlahan membantu Reyhan untuk bersandar di tembok yang sudah ada pelindung empuknya yaitu bantal.


Freya mendekatkan gelas teh hangat pada Reyhan dengan tulus lalu langsung diterima oleh Reyhan bersama senyuman lemahnya. Satu tegukan saja sudah cukup untuk Reyhan.


"Sini tehnya." Jevran mengambil gelas tersebut dari tangan Reyhan lalu ia letakkan di atas meja sebelah kasur.


Jova mencondongkan badannya mendekat ke Reyhan. "Rey, gimana badannya? Udah enakan kah?"


Reyhan menggeleng berkata tidak atau belum, sedangkan Reyhan menatap beberapa orang yang ada di dalam UKS yaitu pak Harry, pak Robby, pak Harry, Johan, Raka, Joshua, Andra, Kenzo, Ryan, Zara, Lala, dan Rena. Tatapan dari 12 orang tersebut nampak gundah yang menatap Reyhan.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam," jawab mereka yang ada di dalam UKS terkecuali Reyhan.


Terlihat Aji menenteng tas pundaknya Reyhan dengan senyuman yang merekah di wajahnya, Aji berjalan menghampiri Farhan lalu meletakkan tas pundak Reyhan di sebelah kaki Reyhan yang masih mengenakan selimut.


"Ini Om Tasnya Reyhan, hari ini Reyhan pulang cepet kan dan harus beristirahat di rumah? Nah ini tasnya dan lo pulang aja Rey."


"Betul Reyhan, lebih baik kamu pulang saja ke rumah dan beristirahatlah hingga benar-benar kamu sehat total. Dan untuk besok hari yang akan datang, kamu izin saja tidak perlu masuk sekolah, Bapak takutnya sakit kamu bisa menjadi parah. Bapak tidak ingin seperti itu."


"Apa yang disarankan pak Harry benar Rey, kamu harus istirahat total di rumah. Jangan dipaksa kalau kamu memang lagi tidak enak badan, demam kamu hampir saja mencapai demam tinggi. Istirahat dan tidur di rumah ya Nak," ucap pak Harden.


"Nah sama juga minum obatnya ya Reyhan, biar sembuh sakitnya."


"Lah Pak? Memangnya ngomong begitu, Pak Rob belikan Reyhan obat?" tanya Johan.


"Enggak sih, tapi kalau mau Bapak belikan."


"Eh aduh tidak usah Pak, jadi merepotkan kalau begitu. Anak saya pasti akan sembuh kalau sudah istirahat total kok. Kalau begitu saya dan Reyhan pamit pulang dulu ya Pak dan semuanya. Terimakasih banyak untuk tadi, dan terimakasih juga untuk pak Harden yang telah menghubungi saya."

__ADS_1


"Baik Pak sama-sama," respon pak Harden tersenyum lebar.


Reyhan yang telah mengikat tali sepatunya dengan gerakan tangan lemas, Farhan mulai menuntun jalan anaknya keluar dari ruang UKS.


"Lekas sembuh ya Reyhan," ucap Freya dari belakang.


"Ho'oh, besok kalau dah sembuh jangan lupa senyuman ramahnya dipancarkan yaaaa!!" teriak Jova menyemangati Reyhan.


Reyhan menoleh ke belakang kemudian menganggukkan kepalanya tersenyum lemah.


"Bray! Nanti gue mampir ke rumah lo ya buat jenguk tetangga friendly gueee!!"


"Anjir lu Vran! Budeg lama-lama telinga gue dengerin suara lo yang nge-bass sama kek gitar listrik!" omel Aji mengusap-usap telinga dirinya sendiri.


Reyhan tak tertawa tetapi hanya memberikan anggukan senyuman lemahnya lalu berbalik menoleh menghadap depan. Di luar ruang UKS, jalan Reyhan sempoyongan dan tak seimbang namun beruntungnya di sisinya ada sang ayah yang setia membantu sang anaknya menuntun hingga sampai ke dalam mobil nanti. Di sepanjang lorong dan koridor sekolah, entah mengapa yang mereka berdua lewati begitu senyap serta sunyi. Reyhan merasakan kejanggalan bahkan merinding sementara Farhan tidak sama sekali, beliau merasa biasa-biasa saja pada situasi sepi ini.


Hingga bola mata Reyhan tak sengaja mengarah ke satu pintu kelas yang di ambang pintu terdapat wujud Arseno menyeringai pada Reyhan, tak hanya satu kali ia tampakkan tetapi beberapa kali setiap Reyhan melintasi kelas-kelas. Jantung Reyhan berdegup amat kencang, telapak tangannya mengepal kuat, bibirnya ia katup rapat tak kuasa menatap arwah tersebut yang begitu menakutkan.


Farhan yang menggenggam lengan Reyhan untuk menuntunnya tiba-tiba menoleh ke anaknya yang gelagat wajahnya aneh.


"Rey, ada apa? Kok wajahmu ketakutan begitu?" tanya Farhan sedikit risau.


Reyhan tersentak dan menoleh cepat ke arah Farhan lalu menggelengkan kepalanya. "B-bukan apa-apa kok Pa."


Farhan celingak-celinguk untuk melihat sesuatu yang membuat Reyhan ketakutan, namun apa yang Farhan lihat tidak ada tetapi jelas-jelas di setiap beliau dan Reyhan lintasi arwah yang meneror Reyhan menampakkan wujudnya.


Usai melewati beberapa koridor sekolah dan keluar dari lobby sekolah, kini Farhan dan Reyhan sampai di parkiran khusus roda empat yang dikatakan mobil. Farhan membuka kunci mobil secara otomatis pada remote mobilnya. Reyhan membuka pintu mobil sebelah kiri sementara Farhan membuka pintu kursi kemudinya. Mereka berdua memasuki mobil dan mulai melaju meninggalkan bangunan sekolah.


Di perjalanan menuju ke komplek Kristal, Reyhan terus memijit keningnya yang terasa pusing. Matanya memejam untuk meredakan pusingnya yang belum kunjung hilang-hilang.


"Nak, masih pusing kepalanya?"


"Masih Pa," jawab Reyhan lirih.


Reyhan berulang-ulang mengeluh mendesis hingga ia membuka matanya kembali dan melihat arah depan, lagi-lagi arwah itu menampakkan dirinya dan kini ia tengah berposisi merangkak di atas kap mesin mobil, Arseno memperlihatkan darah mulutnya yang saling menetes mengenai kap mesin, bola mata yang bergelantungan itu membuat dada Reyhan menjadi sesak sedangkan ada suatu cairan yang mengalir keluar dari kedua lubang hidung Reyhan.


"Rey, kamu kenapa megang dada git- eh Ya Allah Astaghfirullahaladzim! Nak, kamu mimisan?!" Farhan segera mengambilkan selembar tisu yang ada di kotak tisu tepat di atas pemutar musik mobil.


Farhan memberikan secarik tisu kepada Reyhan yang memegang dadanya dikarenakan napasnya entah kembali merasa sedikit terhambat oleh akibat Arseno yang sedang tengah menertawakan penderitaan Reyhan.


Reyhan segera menerima tisu yang Farhan berikan lalu kemudian ia bersihkan darah hidungnya dengan cara menutul-tutul dan setengah mengusapnya supaya biar bersih. Kepala Reyhan lebih pusing dibanding tadi hingga ditambah sampai keliyengan. Reyhan mencoba tetap bertahan dan menahan rasa kesakitannya agar Farhan tak mengetahuinya.


"Nggak perlu Pa, Reyhan gak apa-apa kok. Itu karena Reyhan pusing aja apalagi kecapekan, dampaknya jadi seperti itu, Papa. Langsung pulang saja ya."


"Hmm yasudah kalau begitu, kamu juga harus istirahat di kamar dan tidur. Nanti sampai rumah obatnya di minum dulu ya Rey sebelum istirahat tidur, yang penting demam-mu harus turun dulu."


"Iya Pa, nanti Reyhan minum."


Farhan nampak dilanda cemas pada Reyhan, sang ayah tersebut terlihat begitu peduli dan sayang pada putranya sama dengan sang ibu yang selalu menaruh perhatian kasih sayangnya. Di dalam mobil, Reyhan memutuskan untuk tidur saja sampai tiba di kompleknya. Di sisi lain, Arseno telah menghilang melesat dengan menampilkan senyuman sadisnya pada manusia berstamina lemah tersebut jika dihadapkan atau berhadapan pada arwah beraura negatif.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Setelah menempuh perjalanan dan tiba di rumah, nampak Reyhan tengah duduk di pinggir kasurnya sembari menatap kontak WhatsApp Anggara di layar ponselnya. Reyhan yang ingin mengabari apa yang ia alami, namun ia mengurungkan niatnya dan keluar dari aplikasi tersebut.


Reyhan menghempaskan napasnya sembari membaringkan tubuhnya di atas kasur empuknya, mata sipitnya memandang langit-langit dindingnya dengan membayangkan betapa mengerikan kejadian tadi di sekolah yang membuat ia menjadi menyebabkan phobia dimana mengalami ketakutan yang berlebihan ataupun kecemasan, Reyhan memutuskan menghilangkan peristiwa tersebut yang masih terngiang-ngiang di benaknya dengan cara memejamkan matanya untuk tidur tanpa pemuda itu mengganti pakaian tetap mengenakan seragamnya.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Pemuda yang berambut hitam menutupi keningnya tengah mengamati layar ponselnya yang terdapat banyak tulisan-tulisan yang diyakini itu adalah suatu informasi berita nang beredar sekitar 1 minggu yang lalu. Lagi-lagi tragedi peristiwa kecelakaan yang menewaskan seseorang yang lain ialah pengendara motor, pemuda remaja berumur 17 tahun kronologisnya pemuda yang melintasi JL Jiaulingga Mawar dan mendapatkan kejadian yang berdampak meninggal dunia. Motor tergelincir masuk ke bawah jurang sedalam 30 meter.


Anggara mengerutkan keningnya semakin tak mengerti mengapa Arseno meneror orang-orang yang melewati JL Jiaulingga Mawar si tempat kawasan wilayah sosok itu, bahkan Anggara sedikit setengah berpikir bahwa Arseno memiliki sebuah dendam besar namun Anggara mengacuhkan bayangan itu yang baginya tak memungkinkan. Pastinya ada alasan tepat mengapa Arseno begitu banyak menelan korban yang melintasi jalan pintas tersebut.


Kini Anggara mematikan ponselnya langsung tanpa kembali ke menu utama, pemuda Introvert tersebut merenungkan pikirannya bermaksud memutarkan otaknya pada ucapan Arseno yang membuat Reyhan celaka sekaligus akan di teror secara bertubi-tubi. Apalagi Anggara sudah mempunyai firasat tidak enak mengenai Reyhan lagi, karena ingin memastikan keadaan sahabat friendly-nya, pemuda itu langsung cepat menelponnya.


Akan tetapi Anggara malah mengurungkan niatnya karena setahu ia ini sudah jam pelajaran usai istirahat di bunyikan.


"Apa harus, gue pergi ke jalan itu? Bisa saja itu kesempatan gue untuk menerawang apa yang sebenernya terjadi dengan arwah itu."


"Nak, baru kemarin keluar dari rumah sakit .. kamu mau pergi? Mama apalagi ayah nggak bakal izinkan kamu pergi sebelum Anggara sehat."


Wajah Anggara menjadi suram dan murung pada kehadiran Andrana yang langsung tidak mengizinkan ia pergi. Anggara kembali duduk di pinggir kasur seraya menatap mamanya yang berjalan pelan sambil membawa nampan berisi nasi goreng toping telur dadar beserta segelas air putih penuh.


Andrana lalu duduk di tepat samping anak semata wayangnya. "Kamu mau ngapain pergi ke sana, Nak? Jalan sana sekarang rawan banget banyak kecelakaan, apalagi kondisi kamu yang begini ... ck, Mama takut Anggara kenapa-napa nantinya."


Anggara yang menunduk langsung mendongak menoleh ke Andrana. "Anggara hanya ngecek kejadian sebelum arwah itu meninggal dan gentayangan, Ma. Hanya itu saja Anggara akan langsung pulang."


"Nggak bisa Nak, kamu belum boleh pergi keluar. Apa Anggara lupa omongan dokter waktu itu? Anggara harus istirahat total untuk penyembuhan-mu. Nurut aja kata dokter, itu yang terbaik untukmu, Ngga."

__ADS_1


Anggara menghela napasnya pelan. "Mama memang benar dan dokter juga, tapi gak tau kenapa firasat Anggara begini terus apalagi fokus bayangan Anggara di Reyhan dan itu gak pindah. Anggara hanya harap satu Ma, semoga itu cuma ancaman dari arwah itu."


"Mama percaya sama kamu, tetapi Mama minta tolong sama Anggara ya .. untuk sementara Anggara hindari banyak pikiran."


Anggara mengangguk memahami. "Nanti setelah jam pelajaran sekolah, Anggara coba telepon Reyhan. Anggara hanya mau memastikan kondisi Reyhan."


"Iya Nak, yaudah sekarang Anggara sarapan ya. Kasian tuh nasinya gak di makan, nanti nangis."


Anggara menghembuskan napasnya. "Dongeng itu."


"Hahahahaha! Iya-iya, sudah deh kamu makan nasi gorengnya. Mama turun dulu ya mau nyiram bunga, nanti kalau Anggara butuh apa-apa jangan sungkan minta bantuan Mama atau gak ayah, chat aja apa nggak telpon."


"Ya Ma."


Andrana tersenyum manis kemudian wanita tersebut beranjak dari kasur anaknya lalu melangkah pergi keluar kamar tak lupa menutup pintu anak semata wayangnya.


Cklek !


Anggara menyerong badannya yang di hadapannya sudah ada hidangan sarapan lezat buatan Andrana Lufa Margareta. Anggara menggelengkan kepalanya cepat untuk membuang bayangan parak di benak otaknya yang sempat muncul kembali.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Reyhan membuka matanya cepat, sepertinya ia sudah kebablasan tidur terlalu lama dan lihatlah langit di luar sudah gelap kini pukul jam 21.00 apalagi ia belum sama sekali melepas seragamnya bahkan melaksanakan mandi. Perlahan Reyhan bangkit dari tidurnya dengan tubuh yang lemah, lampu kamar Reyhan juga belum diberi penerangan dengan itulah Reyhan mulai beranjak untuk menghidupkan lampu kamarnya, namun deg! Kerah bagian seragam putih Reyhan ditarik kencang dari belakang membuat Reyhan terpental jatuh ke kasur spring bed-nya.


BUG !


Reyhan yang sempet memejamkan matanya kuat, ia buka matanya dengan mengerjapkan-nya beberapa kali. Reyhan begitu sangat syok, rupanya ia di teror lagi oleh Arseno yang sedang merayap-rayap di dinding. Ditambah Reyhan meringis ketakutan Arseno mempunyai kuku runcing tajam di masing-masing jarinya pada kedua tangannya. Kepalanya nampak memutar mengarah ke arah Reyhan. Tubuh Reyhan yang posisinya terlentang di atas kasur terdiam mematung dengan mata terpaku tak bisa ia alihkan, bibirnya terbungkam terkunci oleh gembok, dan seluruh tubuhnya nampak seperti dilem oleh lem super lengket. Pemuda tak tahan oleh tatapan dari arwah negatif tersebut tak bisa berbuat apa-apa.


'T-tolong ... s-sakit, dada gue sakit !'


Reyhan hanya mampu membatin saja apa yang ia minta tolong pada seseorang, malah justru tak ada yang bisa mendengarkannya sama sekali. Ingin berteriak meminta tolong pada Farhan dan Jihan tetapi sayangnya bibirnya tak bisa terbuka oleh situasi mengancam ini. Hingga pada ujungnya, Arseno melompat ke kasur Reyhan. Tubuh Reyhan kembali bergemetar hebat, detak jantungnya berdegup begitu amat marathon disaat Arseno ada di atasnya sedangkan dirinya di bawahnya.


"Akhirnya aku benar-benar menepati ucapanku huahahaha! Bahwa ... aku memberikan teror padamu secara bertubi-tubi. Dan malam ini akan menjadi malam yang menghiburku!"


GREP !!


Arseno mencekik leher manusia tersebut tanpa ada rasa sedikit kasihan sama sekali. Suara geraman Arseno kini dipadukan suara erangan kesakitan dari Reyhan, Reyhan berusaha meronta-ronta dengan cara mendorong-dorong kuat kedua tangan arwah itu yang mencekik lehernya. Napasnya terasa tercekat, wajahnya memerah karena oksigen yang masuk juga tak berhasil sedangkan pemuda terbatuk-batuk.


Karena Reyhan dekat meja nakas, satu tangannya meraba-raba gelas kosong di atas meja nakas. Reyhan menangkapnya dengan tangkas kemudian hendak memukul gelas itu ke kepala Arseno. Namun sialnya Reyhan hanya memukul angin saja dikarenakan Arseno menghilang begitu melesat cepat, tetapi sebetulnya percuma saja menyerang arwah itu sebabnya sosok itu adalah makhluk astral yang tak mudah untuk diserang.


Bola mata Reyhan mencari keberadaan Arseno yang telah menghilang tanpa jejak itu, tanpa melihat ia meletakkan gelas kosong tersebut di atas meja nakas, Reyhan terus membolak-balik bola matanya berwaspada kalau Arseno tiba-tiba muncul lagi dan melakukan trik.


Tetapi yang terjadi selanjutnya...


Bugh bugh bugh bugh !!!


Reyhan dilempari buku-buku novelnya dari rak kecil khusus untuk novel genre Horor dan Thriller. Lemparan itu begitu kuat hingga mengenai tubuhnya bahkan ada yang mengenai kepala Reyhan, sangat sakit karna semua buku novel Reyhan tebal-tebal nan empuk keras. Lemparan yang tak ada wujudnya terus menjadi-jadi bahkan Reyhan sampai membentengi kepala dan wajahnya menggunakan kedua tangannya. Tak hanya kejadian itu saja, namun ada ribuan tulisan darah 'matilah' di sekeliling dinding tembok kamar Reyhan bahkan pintu kamarnya juga dituliskan seperti itu. Rupanya menyiksa Reyhan dari sini, bau darah busuk menyengat menusuk di penciuman hidung Reyhan membuat Reyhan ingin muntah.


Reyhan yang sudah terbebas dari perangkap tubuhnya, ia beranjak dari kasur dan berlari keluar dari kamar. Tunggu dulu, Arseno belum puas membuat manusia itu tersiksa dan kesakitan.


BUGH !!!


"ARGH!!!"


Reyhan jatuh tersungkur disaat kursi yang berhadapan di meja belajarnya melayang menghantam punggung Reyhan dengan amat sangat keras sekali. Reyhan menguat dirinya dan bangkit membuka pintunya tergesa-gesa dan segera menuju ke wastafel kamar mandinya.


Setelah berlari kencang ke wastafel, Reyhan tiba di depan wastafel. Menahan dirinya yang akan muntah dengan cara menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, dilihat dari cermin wajah Reyhan begitu pucat bahkan bawah kantung matanya sedikit hitam. Tubuhnya yang begitu lemas, Reyhan sangga kedua tangannya di atas wastafel. Beberapa menit kemudian Reyhan memutuskan untuk mencuci mukanya sebanyak 5 kali.


"Sampai kapan gue akan di teror seperti ini? Jujur, sekuat-kuatnya gue tetapi gue gak kuat menghadapi arwah itu."


"Gak, gue gak bisa begini. Gue juga nggak ada niat buat ceritain ini semua ke sahabat-sahabat gue, bokap nyokap gue, dan semuanya. Gue gak mau mereka ikut terlibat masalah dan teror ini."


Reyhan berdiri dan berdiam di situ untuk menenangkan dirinya sejenak lalu berbalik badan menuju ke kamarnya kembali dengan nyali berani mencapai 60 persennya. Sesampainya di kamar, sungguh sudah macam kapal pecah. Buku-buku berserakan dimana-mana, seprei kasurnya tak beraturan pada rapinya. Bingkai-bingkai fotonya juga berjatuhan tergeletak dilantai, beruntungnya tak ada satupun keretakan pada bingkai-bingkai foto kesayangannya.


Reyhan memunguti semua bingkai foto yang tergeletak dilantai hingga Reyhan membalikkan posisi bingkai fotonya yang terdapat foto persahabatannya antara ia dan ketiga sahabat SMP-nya. Reyhan nampak mengukirkan senyuman lebarnya jika melihat aura ketiga sahabatnya yang begitu cocok dengannya, tetapi senyuman Reyhan menjadi menipis dan memudar karena kedatangan Arseno Keindre.


"Bahagia sekali dirimu, tetapi aku sudah memastikan dan berharap senyuman-mu pada mereka adalah untuk terakhir."


"A-a-apa maksud lo? Hah?!"


"Kehidupanmu akan berakhir sebentar lagi, dan kamu akan meninggalkan orang-orang yang kamu sayangi terutama ketiga sahabatmu yang ada di dalam foto itu. Siaplah saja, jiwamu tidak akan aman. Anggara salah satu anak Indigo itu, tak akan bisa membentengi siasat-siasat istimewaku khusus sahabatnya Anggara yang berhati ramah, itulah kamu."


Mata Reyhan terbelalak sangat lebar dengan mulutnya sedikit menganga, tak menyangka rupanya Anggara sudah mengetahui tentang Arseno bahkan ia yang di teror bertubi-tubi oleh Arseno. Arseno menghilang lagi dan menyisakan tawa menakutkan beserta menyeramkan.


Reyhan tersentak kaget melihat darah menetes mengenai bingkai foto bagian posenya dirinya di antara Anggara, Freya, dan Jova. Begitu mengetahui darah itu berasal dari lubang hidung Reyhan dan hal tersebut mengalir mengenai bibirnya, Reyhan segera menyekanya dengan telapak tangannya. Kepalanya terasa pusing, tubuhnya terasa lemas tetapi mau bagaimana lagi? Ia harus membersihkan kamarnya sebelum disalah satu kedua orangtuanya masuk ke dalam kamarnya. Di rumah sudah sepi, Farhan dan Jihan telah tidur di kamar mereka berdua sementara Reyhan menata semua buku-buku novelnya ke rak bukunya semula, dilanjutkan setelah itu memajangkan bingkai-bingkai foto lalu mengembalikan kursinya pada asal tempatnya.


Reyhan melakukan aktivitas tersebut dengan tubuh yang begitu lemah apalagi ia masih belum sembuh dari demamnya. Reyhan menyentuh keningnya yang masih terasa pusing, di seraya itu Reyhan mengulang memori ujaran Arseno menit yang lalu dimana jiwanya tak akan aman dan itu artinya nyawanya ia saat ini dalam posisi terancam bahaya.

__ADS_1


"Apa gue akan mati setelah itu? Ninggalin semua orang-orang yang gue sayangi."


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2