Indigo

Indigo
Chapter 191 | Visitor


__ADS_3

Di dalam kelas macam biasa, ramai bak seperti di pasar hari Minggu. Namun terdapat salah satu siswi yang acuh tak acuh memperhatikan kondisi dan situasi kelas tersebut, ialah Freya.


Gadis Nirmala dengan rambut hitam legam tergerai lurus itu terus menatap foto kekasih tampannya melalui galeri album di ponselnya. Senyuman, mata iris abu-abu autentik itu membuat Freya tak bisa melepaskan rindunya terhadap Angga.


Sebetulnya di hati kecilnya sudah yakin bila suatu saat nanti Angga akan baik-baik saja, tetapi... Semua keuletan diri Freya dilunturkan oleh keadaan lelaki itu yang semakin memburuk. Terlebih 2 hari lepas, Angga sempat kembali dibawa ke ruang Radiologi untuk dirontgen bagian yang mengalami cedera. Memang benar, akibat dari pukulan keras dari besi itu membuat otak kecilnya terganggu dan parahnya lagi mengidap kerusakan.


Tentu Freya sudah mengetahui semuanya saat ia diberi informasi oleh Andrana sang ibunya Angga. Bagaimana bisa hatinya akan tenang jika telah begini? Yang ada kalbunya menjadi semakin kisruh.


Menatap wajah tampan Angga yang ada di dalam layar ponsel, seketika berhasil membuat mata Freya mengembun dengan pertanda air mata yang ia tahan akan berlinang. Gadis itu merapatkan bibirnya bersama tangan menekan bawah ujung matanya agar tak lolos meluncur ke pipi mulusnya.


‘Aku sudah berusaha mempercayai bahwa kamu akan baik-baik saja. Tapi, karena kabar yang sudah dikasihkan oleh mamamu, kepercayaanku terhadap kondisimu menjadi lenyap. Aku ingin kamu bangun, Ngga. Tidak melihat kamu yang terjebak dalam ambang maut ...’


“Aku takut kamu pergi. Aku belum siap jika harus rela melepaskan ketiadaan dirimu,” lirih Freya dengan dada yang terasa nyeri.


Akhirnya meskipun telah ditekan bawah kelopak matanya, air transparan itu tetap mampu bebas keluar dan mengalir ke pipinya. Padahal Freya sudah berupaya tidak mengundang kesedihan di kelasnya, tetapi apa yang ia usahakan sama sekali tak sanggup untuk dilakukannya.


Kenzo yang mendengar suara laun dari Freya, mulai bangkit dari kursi lalu melangkah mendekati gadis itu yang tangannya sibuk menghapuskan air mata dan matanya tak berpaling dari foto Angga.


“Freya?”


Freya dengan lemas, menolehkan kepala sekaligus mendongak ke atas untuk menatap seseorang berbadan tinggi yang berdiri di samping kirinya. “Eh, Kenzo?”


Pemuda yang memiliki mata biru tulen dari lahir itu, tersenyum sendu. “Aku ke sini hanya ingin minta maaf sama kamu, Frey ...”


“Lho? Kok, minta maaf? Emangnya kamu sendiri ada salah apa sama aku?” tanya bingung Freya.


“Iya, aku ada salah. Mungkin kesalahan yang membawa kefatalan, aku sudah membuat kamu menangis sepanjang hari karena Komanya Angga. Dan gara-gara aku yang meminta pertolongan pada kekasihmu, Angga menjadi korban dari Gerald. Aku tahu, pasti kamu menyesal karena sudah mau menolong aku waktu beberapa bulan yang lalu.”


Mata Freya mengerjap beberapa kali. “Kok, ngomong begitu?” Kemudian gadis itu menggeleng kepalanya dengan senyum. “Enggak, aku sama sekali gak ada rasa penyesalan karena sudah mau ikut nolongin kamu. Aku justru malah senang dan lega akhirnya kamu bisa terselamatkan dari jebakan Emlano yang diberikan untukmu.”


Kenzo terdiam usai mendengar jawaban pernyataan Freya secara seksama, sedangkan gadis cantik itu mengalihkan mukanya dari tatapannya sang teman.


“Jangan salahkan dirimu, ya? Itu hanya sebuah kecelakaan. Walau yang ngelakuin penganiayaan itu, mantanku untuk berusaha membunuh jiwa Angga.”

__ADS_1


Kenzo menggigit bawah bibirnya lalu berinisiatif untuk mengeluarkan seutas tisu kering dari kantong jas almamater seragam OSIS-nya. Lalu kemudian, Lelaki tersebut mengulurkan tangannya buat menyodorkan tisunya kepada Freya.


“Kamu lap air matanya, ya? Aku ada satu buah tisu buat kamu. Maaf, cuman bisa ngasih yang sederhana.”


Freya menolehkan kepalanya kembali lalu tersenyum ke Kenzo yang telah memberinya sebuah tisu kering nang masih terlihat bersih. Gadis itu dengan lembut, menerimanya. “Gak apa-apa, kok. Makasih ya, Zo?”


Kenzo menganggukkan kepalanya sembari memperhatikan Freya yang mulai menyapu seluruh air mata nang telah terlanjur melumuri kedua pipi putihnya. Di sisi lain, wajah gadis lugu cantik itu terlihat pucat kendatipun fisiknya sedang tidak sakit, melainkan hatinya yang tengah terluka dalam kepahitannya.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Kota Bogor - RS Medistra Kusuma


Di dalam ruang ICU yang terletak di lantai 4, dokter Ello tengah sedang memeriksa detak jantung Angga dengan menggunakan stetoskopnya. Tentunya beliau dapat mendengar bahwa irama dari detak jantung pasien Komanya begitu lemah, membuat dokter Ello tak bisa menampilkan senyumannya bahkan mengubah hatinya menjadi lega.


Usai pemeriksaan telah selesai yang dilakukan oleh tim medis, beliau mulai kembali menutup seluruh kancing nang ada di baju biru muda pasiennya Angga. Di sisi lain, beberapa perawat hanya bisu menatap nanar wajah pucat dari lelaki tampan tersebut yang sudah menjadi pasien hingga menginjak akhir bulan ini.


“Dok, melihat kondisi pasien Anggara yang selalu seperti ini apakah pasien sanggup bertahan? Bahkan seringkali pasien kehilangan detak jantungnya ...” ungkap pelan sang perawat yang telah membuka suara.


Perawat yang berdiri di samping tiang infusnya Angga, menundukkan kepalanya dengan ekspresi lara. “Saya tahu, Dok ... apalagi keadaannya pasien Anggara cukup mengancam nyawa.”


Dokter Ello hanya diam lalu mengangkat tangan kiri Angga untuk menggenggam telapaknya yang beliau rasakan tangan pasiennya lemas serta mendingin. Sang dokter memejamkan matanya sekaligus menghembuskan napasnya dengan lambat setelah mampu merasakan kondisi suhu tubuh serta metabolisme raganya Angga.


“Sepatutnya memang sekarang di ruangan rawat intensifnya pasien Anggara telah dilengkapi oleh CCTV di sudut dinding. Jadi pasien bisa aman dan tercegah dari celaka yang terjadi seperti waktu beberapa bulan silam,” ujar perawat lainnya seraya menengok kamera kecil pemantau yang terpajang di salah satu sudut dinding ruang ICU.


“Benar, Suster.”


Salah satu tangan dokter Ello mulai melepas dari telapak kirinya Angga untuk menarik selimut tebal yang sebelumnya beliau singkap hingga bawah perut untuk melakukan pemeriksaan. Kemudian usai menyelimuti tubuhnya sang pasien, beliau perlahan meletakkan tangan Angga di atas perut dengan masih tanpa sumringah di wajahnya.


Kini dokter Ello menganggukkan kepala bersama melemparkan senyuman tipisnya pada kesemua perawat yang ada di dalam ruangan ICU ini untuk memberikan kode segera bersama meninggalkan ruang intensif yang suasananya terasa dingin dan lembab tersebut.


Para tim medis menggerakkan kakinya untuk balik badan menuju luar ruang ICU yang di ruang tunggu terdapat keluarganya Angga nang senantiasa tidur lelap di kursi panjang.


Tidak tahu, kah mereka yang sehabis keluar dari ruang rawat intensif itu? Bahwa tanpa mereka rasakan dan sadari ada banyak makhluk tak kasat mata mengintainya secara diam tidak bersuara. Tatapan para hantu tersebut nanar, walau mereka layaknya memakai pakaian code putih disertakan sinar cahayanya yang meliputi jiwanya.

__ADS_1


Seorang gadis kecil yang mengenakan gaun putih suci lengan pendek dengan memiliki umur 5 tahun, melangkah perlahan menghampiri Angga yang terbaring lemah di atas ranjang pasien bersama alat-alat medis fundamental nang selalu terpasang di raganya.


Gadis arwah kecil yang mempunyai wajah berseri itu, berhenti berjalan setelah jiwanya berada di depan persis ranjang pasien. Bola mata indahnya bergerak ke arah kanan untuk menelisik muka pucat manusia tampan itu.


Di bagian wajahnya Angga, terdapat sebuah lingkaran hitam di matanya, bibirnya kering, matanya tetap terpejam damai seolah-olah rohnya sedang menempuhi semua mimpi.


Melihat gadis kecil arwah itu berada di dekatnya manusia lelaki Indigo tampan tersebut, sekelompok hantu pemilik aura positif melangkah dan ada sebagian yang mengambang. Dengan senyuman nang sengaja makhluk astral anak kecil itu berikan untuk Angga, ia meraih telapak tangannya untuk digenggamnya ringan.


“Kak Angga masih ingat aku? Eva, Kak.”


Ya, Eva. Sosok arwah gadis kecil yang dulu sempat menjadi negatif akibat dari kejahatannya sang ibu yang pernah menyandera dirinya hingga nyawanya terenggut perlahan-lahan, serta sesosok hantu terakhir yang Angga bantu untuk mengantarkannya ke alam abadi.


Salah satu telapak tangannya Eva mengelus lembut bawah telapak tangan Angga yang memang terasa dingin bila disentuh apalagi jika sampai diusap. Meski telah diberikan rangsangan sentuhan, namun lelaki tersebut tak dapat membuka matanya sekalipun yang di sisinya ada sekelompok para arwah nang dahulu pernah Angga tolong untuk melenyapkan dendam yang melekat di hati serta membuka kunci untuk menempatkan mereka di alam peristirahatan nang layak dihuni selamanya.


“Nak, bukalah matamu. Dan lihatlah betapa rindunya mereka padamu hingga sampai saat ini,” ungkap sang arwah wanita paruh baya yang menggendong bayinya.


“Tidak akan indah bila kamu pergi meninggalkan semua orang yang amat menyayangimu, mereka pasti akan merasa terpukul dan berduka jika dirimu pergi. Saya tahu, kamu adalah anak yang kuat.” Hantu pria paruh baya dari suaminya sang ibu nang membawa bayinya, berujar seraya menatap nanar muka lemas Angga.


“Kakak gak boleh menyusul kematiannya raga kami, masih banyak dari mereka yang menyayangi Kak Angga. Bahkan mereka pastinya nggak rela kalau Kakak pergi dari dunia dan menjadi bagian keluarga kami semuanya,” tutur arwah anak laki-laki yang berusia 10 tahun.


“Cepatlah untuk sadar ya, anak Ganteng? Kamu pantas menikmati ketentraman di dunia bersama lainnya yang setia menantimu,” celetuk sang wanita lansia yang tentunya merupakan makhluk gaib.


“Kehadiranmu mendamaikan hidupnya mereka. Jika kamu sanggup bangun dari kondisi yang begitu maut ini, kamu akan selalu mendapatkan bahagia bersama mereka tanpa jeda. Yakinlah, karena semua penderitaanmu sebentar lagi bakal usai.”


Sang pria lansia yang berkisar umur 65 tahun dan menggunakan tongkatnya untuk menopang jiwanya, tersenyum pilu usai mengeluarkan perkataan pada manusia anak muda remaja tersebut.


Kendati Angga Indigo tetapi jika kondisinya diserang oleh Koma kronisnya, dirinya tak mampu merasakan keberadaannya mereka yang merupakan sosok hantu dan mendengar seluruh rentetan ucapan mereka semua. Mereka sengaja turun ke dunia untuk mengunjungi Angga yang dirawat dalam bangunan rumah sakit ini, sekaligus berterimakasih kembali karena berkat pemuda tampan itu, mereka sanggup menggapai kebahagiaan yang abadi serta bisa beristirahat dengan tenang.


Tentang penderitaannya Angga yang sebentar lagi akan usai, mungkinkah? Sedangkan kondisi Komanya terbilang mustahil bila sanggup melewatinya, dan telah berkali-kali nyawa Angga nyaris terangkat akibat musibah yang menimpanya hingga 2 bulan terakhir.


Semoga saja suatu saat nanti ada sebuah keajaiban yaitu Mukjizat yang dikirimkan oleh Tuhan untuk Angga supaya mampu menafikan segala serangan mautnya yang diterima, dan kembali membuka mata.


INDIGO To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2