Indigo

Indigo
Chapter 160 | Complete


__ADS_3

Bulir air mata di kedua pelupuk mata Freya muncul setelah mengutarakan keterkejutan secara kompak, sadis itu tidak menyangka akhirnya bisa bertemu pada kedua sahabatnya yang tentu ia rindukan. Dengan cepat, Freya bangkit berdiri lalu langsung menghambur memeluk erat tubuh Jova yang juga ikut berdiri dan mendekap tubuh mungil sahabat lugunya.


“Jova!! Aku kangen banget sama kamu! Kamu baik-baik saja kan, tadi?!” pekik Freya bahagia.


“Aku juga kangen banget sama kamu! Aku lumayan kok, kamu sendiri bagaimana? Baik-baik, kan?!”


Freya melepaskan tautan tangannya yang melingkar erat di pinggang Jova dengan mengangguk senyum. “Iya! Aku baik-baik saja, kok. Syukurlah, akhirnya kami bisa melihat kalian lagi!”


Jova tersenyum lebar dengan menatap Freya yang telah melepaskan kerinduannya masing-masing. Sementara Reyhan yang masih terduduk sambil memegang belakang kepalanya nang habis terbentur lantai, menatap Angga bersama hati leganya karena pada akhirnya ia bisa kembali bertemu pada sahabatnya.


Angga yang ditatap lega seperti itu oleh Reyhan, hanya melemparkan senyuman lemahnya. Hati ia juga ikut terenyuh dengan tidak menduga kalau puncaknya bakal bertemu pada kedua sahabatnya yang sudah dipisah tadi oleh sosok sesuatu.


Reyhan segera beranjak berdiri lalu cepat menghampiri Angga dan duduk berjongkok di sebelah sahabat Introvert-nya. “Angga! Lo oke-oke saja, kan?! Gue seneng banget bisa ketemu lagi sama lo.”


“Gue juga seneng, gue gak nyangka bisa kembali bertemu kalian berdua. Apakah kalian tidak mengalami gangguan teror dari arwah yang menghuni bangunan ini?” tanya Angga lemah.


Bibir Reyhan bungkam lalu menjawab pertanyaan sahabatnya yang memiliki indera keenam tersebut. “Seperti yang lo pertanyakan, gue dan Jova tadi diteror hampir banyak makhluk gaib di sekitar bangunan sini. Tapi, kalau dilihat-lihat kayaknya lo lagi gak baik-baik saja. Muka lo pucet banget, Ngga.”


“Gue nggak apa-apa.”


“Ih, bener lho! Mukamu udah persis kayak mayat hidup. Kamu diserang semua segala hantu yang bersinggah di tempat ini, Ngga?” tanya risau Jova sambil berjalan mendekati Angga begitupun Freya yang telah duduk bersimpuh di samping kekasihnya.


Angga bingung harus menjawab apa, terlebih semua kesakitan yang dirinya terima sungguh eksentrik dan tidak masuk akal. Bila dirinya menjawab secara gamblang dan mendetail, pasti mereka bertiga akan justru bingung maksud darinya.


Jova menggenggam telapak tangan Angga sesaat lalu melepaskannya agar sahabat lelakinya melihat ke mukanya. “Kok gak jawab? Berat, ya?”


Freya langsung merangkul lembut Angga dan mulai menatap Jova. “Sebenarnya sudah sedari tadi, dadanya Angga kerasa sesak. Kepalanya yang dia rasakan juga pusing, aku pun nggak tahu apa penyebabnya kenapa bisa bikin Angga kayak gini.”


“Dadanya Angga kerasa sesak? Kok bisa? Ada apa emangnya? Aku sih gak percaya kalau dia punya riwayat penyakit apapun,” timpal Reyhan.


Freya beralih menatap ke arah Reyhan. “Aku kenal Angga dari kecil, Rey. Terlebih tante Andrana sama om Agra membicarakan semua tentangnya Angga ke aku ... ya, kecuali kelebihannya. Aku yakin, ini pasti Angga terkena gangguan sesuatu yang membuat dia seperti ini. Betul kan, Ngga?”


Angga berdeham pendek dengan sedikit merapatkan bibir pucat miliknya bahkan tatapannya berpaling dari ketiga remaja tersebut. “Sebenarnya-”


“Wah, ternyata kalian mempunyai teman dekat, ya? Dendamku belum terbalaskan karenamu, lho.”


DEG


Ketiga remaja itu langsung menoleh ke suara sosok perempuan dewasa yang memiliki suara yang lengking begitupula menyeramkan. Terlihat makhluk gaib yang sangat jago bermain biola telah ada didekatnya antara empat manusia.


Freya yang ketakutan langsung cepat berlindung di punggung milik Angga. Lelakinya menatap hantu itu dengan sorot mata tajamnya, sementara Jova dan Reyhan melotot karena sangat kaget pada pemandangan sosok wujud yang mengerikan.


Rupanya tidak satu hantu saja yang mendatangi mereka berempat, tetapi juga arwah berkisar umur 60-an tahun yang kedua tangannya memegang sebuah lilin dengan api kecil di atasnya bersama senyuman menyeringai. Bagaimana Jova dan Reyhan tak kaget setengah mati? Makhluk astral berwujud nenek tua itu, kini malah cepat menemukan mereka berdua dimana mereka tidak menuruti permintaan hantu tersebut kendati hanya untuk jebakan malapetaka yang direncanakan.


“Mati kita, Rey! Hantu yang mau jadikan kamu tumbal itu malah dateng ke sini, dong! Gawat, kita semua harus bagaimana?! Sedangkan kita berempat sudah naas terjebak di kawasan sini, kita gak akan bisa selamat!”


“Jangan bilang seperti itu. Masih ada cara sesuatu yang bisa mengusir mereka berdua, berpikirlah secara kritis untuk sekali ini saja. Jangan sampai ada yang lengah, bisa jadi dua makhluk itu memiliki taktik bahaya yang gak kita ketahui,” sabda Angga.


“Ya ampun! Lo bikin kami makin panik aja! Bagaimana caranya?! Kami gak tahu cara ngusir dua setan itu!” kesal Reyhan.


Freya yang ada dibalik tubuh lemas Angga, mengedarkan pandangannya untuk mencari sesuatu yang bisa menjadi kelemahan para hantu tersebut. Meski gadis cantik ini sebelumnya tidak pernah berurusan dengan makhluk tak kasat mata.


‘Hah, itu ada cermin besar !’ pekik Freya dari dalam hati saat matanya menatap sebuah cermin berukuran besar yang tersandar di tembok bagian kanan.


‘Tadi saja kan, Angga mengalahkan hantu pemain alat musik biola itu pakai sebuah cermin yang dia temukan di lorong atas. Sepertinya kali ini akan berhasil lagi jika kami menyerang makhluk itu pakai cermin yang aku lihat sekarang.’


Freya segera meraih punggung Angga untuk menarik-narik jaket jeans abu-abunya dengan pelan, tanpa menoleh terlebih dahulu ke arah pujaan hatinya, Angga langsung melimbai kepalanya ke samping untuk menatap cermin besar tersebut yang terletak dipojok dinding sisi kanan.


Tentu saja tadi Angga mendengar beberapa suara hati Freya sang kekasih perempuan Nirmala-nya.


Arwah tersebut yang meninjau kedua manusia itu, menarik senyuman iblisnya. “Apakah kalian ingin menyerangku dengan sebuah cermin itu? Tidak akan bisa!”


Angga dengan cepat langsung memeluk erat tubuh mungil milik Freya saat makhluk astral negatif itu menghancurkan cermin besar tersebut menggunakan mantra sihir biru tuanya yang ada di dalam tangannya. Gadisnya tidak boleh sampai terkena para kepingan kaca itu satupun saja.


Seperti Jova dan Reyhan juga cepat menjauh dari pecahan kaca itu yang menyebar kemana-mana. Sementara dengan napas yang masih terasa berat, Angga mengurai pelukannya dari tubuh Freya.


“Kamu gak kenapa-napa kan, Frey?” tanya Angga dengan menatap lekat gadisnya yang ada di dekatnya.


Freya menganggukkan kepalanya dengan tertampil ekspresi wajah yang bimbang. “Hantu itu sudah menghancurkan cermin besar yang ada di sana. Gak ada peluang kesempatan untuk melawannya.”


Angga menggeleng mantap dengan senyum masam lalu segera bangkit berdiri untuk memungut salah satu dari beberapa kepingan kaca cermin tersebut. Freya yang masih terduduk begitupun Reyhan dan Jova yang berdiri, memperhatikan Angga bersama bingungnya mereka.


Angga memutar badannya ke arah hantu perempuan umur 20-an tahun itu bersama tatapan tajamnya. “Lo memang sudah berhasil menghancurkan cermin ini, tetapi ...”


Angga mengubahkan bentuk bibirnya menjadi senyum miring. “Tetap saja kelemahan lo ada pada di setiap cermin.”


Arwah tersebut terkejut hingga melangkahkan kaki kirinya ke belakang. “Kamu kurang ajar!”


“Hahaha! Sekarang lo mau apa?” Tanpa pakai basa-basi lagi, Angga langsung melemparkan cermin yang ada di genggamannya ke arah hantu itu tepat pada sasaran yang lelaki tampan tersebut inginkan.


Ketiga remaja yang menatap Angga amat tercengang melihat bagian dada makhluk pemilik aura negatif tersebut mengeluarkan api alias terbakar hingga ia berteriak kesakitan lagi untuk kesekian kali. Freya yang ingin membantu kekasihnya, mengambil beberapa kepingan kaca ke dalam telapak tangannya lalu ikut melemparkan kencang puing-puing kaca yang gadis cantik itu bawa ke arah makhluk gaib tersebut dengan menepiskan rasa ketakutan hatinya untuk sejenak.

__ADS_1


“Rasain, nih! Rasain! Lebih baik kamu musnah saja daripada merenggut nyawa manusia lain yang ada di bangunan ini!!” seru Freya terus melemparkan beberapa kepingan kaca tersebut.


Arwah yang posisi sedang dilemparkan beberapa pecahan kaca itu semakin berteriak keras dimana jiwanya telah dipenuhi api yang membara, bahkan tulang nang ada di dalam sampai terlihat karena perbuatannya Angga begitupun Freya yang terus menyerangnya tanpa ampun dan belas empati.


Jova dan Reyhan yang menyaksikan kemahiran mereka berdua dalam berperang bersama, melongo. “Wow, anjay.”


Napas Angga kini terputus-putus karena tenaganya sudah ia gunakan untuk menyerang hantu yang ada di hadapannya bersama sang kekasih. “Sudah tidak ada lagi kesempatan lo untuk meneror semua manusia yang menginjak wilayah kematian lo di sekitar bangunan ini. Karena, sebentar lagi elo akan musnah dari tempat ini.”


Makhluk gaib bergaun navy yang terbuka, menggeram sakit sekaligus bercampur amarah terdalam kepada Angga. Tidak ada peluang lain untuk membebaskan diri dari api bakar yang mengungkung jiwanya, hingga pada akhirnya ia lenyap bagaikan abu debu yang terhempas oleh hembusan angin.


“D-dia sudah kalah?!” kejut Freya tak percaya.


Raga Angga yang nyaris limbung jatuh ke lantai, berhasil ia tahan dengan tangan menyentuh sigap dinding tembok dingin yang ada di sisinya kemudian menoleh untuk menatap lemah Freya nang matanya masih membulat sempurna karena kekalahan arwah perempuan berenergi negatif tersebut yang terlihat sangat nyata oleh saksi mata.


“Kamu hebat ...” ucap Angga.


Freya menoleh ke arah lelakinya yang wajahnya tetap masih pucat bahkan warna pudar itu tak segera menghilang karena Angga masih merasakan kesakitan yang ia terima meski dirinya konstan tahan. Kini, Freya menghampiri kekasihnya nang sekarang memejamkan matanya sambil menunduk.


“Cucu-cucu Oma yang Ganteng dan Yang Cantik, apakah kalian menyadari apa kesalahan kalian berdua terhadap Oma?” tanya hantu nenek tua itu seraya melangkah lambat mendekati Reyhan serta Jova dengan tetap memegang lilin apinya di tengah dada.


“Gak nurutin permintaannya Oma?” Setelah bertanya untuk membutuhkan kepastian, Jova langsung spontan menutup mulutnya sedangkan Reyhan menepuk dahinya rada kencang.


“Ngapain aku jawab?!” tanya gadis Tomboy itu dengan mata terbelalak sembari menatap Reyhan.


“Bego, sih!” geram Reyhan.


Hantu bergaun panjang krem dengan motif-motif bunga kecil itu, tertawa cekikikan bersama nada yang menyeramkan. Jangankan nada, wajahnya setara dengan seramnya yang tertera jelas. Hal tersebut kedua manusia itu berjalan mundur dengan detak jantung yang berdebar-debar.


“Kalian ini sangat Durhaka! Kalau orang tua meminta bantuan, harusnya di wujudkan. Tetapi, kalian justru lain dan tidak sesuai ekspektasi harapanku!”


Gigi Reyhan menggertak kuat. “Suruhan lo hanya akan menimbulkan maut bagi kami berdua bila melakukannya!”


‘Kalian harus bisa. Kalian harus sanggup melenyapkan hantu itu yang sekarang ada dihadapannya kalian berdua, gue yakin kalian mampu mengusirnya dan mengantarkannya ke alam baka yang jauh tajam dibanding hutan belantara ini.’


Angga hanya mendiamkan kedua sahabatnya yang mau terpojok ke dinding tanpa ada niatan untuk menolongnya. Lelaki Indigo tampan tersebut hanya ingin menguji kemampuan mereka dalam menghapuskan makhluk gaib itu dari dunia, karena Angga sangat yakin Reyhan dan juga Jova akan berhasil mengalahkan hantu aura negatif tersebut.


Mulut Freya terbungkam dengan kedua tangan saling berpegangan di bahu yang berdekatan di lengan tangan Angga. Ia begitu cabar hati bila kedua sahabatnya yang di sana terluka karena arwah berupa nenek tua tersebut.


“Udah, dong! Pergi aja sana!” usir Jova tetapi tidak berhasil membuat hantu itu menghentikan langkahnya.


“Pergilah lo dari sini! Lo gak pantas bersinggah di dunia ini selamanya! Tempat lo bukan di sini, tapi alam baka yang lagi nungguin elo ke sana!” murka Reyhan berusaha berani menghadapi makhluk astral itu meski tetap berjalan mundur bersama Jova secara beriringan.


“Kalian telah terbelenggu oleh perangkapku, tidak ada satupun yang bisa mencegah aksiku untuk kalian usai ini.”


“Mampus! Kok bisa aja, sih ...” takut Jova terus berjalan mundur sejajar dengan langkahnya Reyhan yang berada di sampingnya.


Tawa kencang menyeramkan yang dikeluarkan oleh hantu arwah nenek itu dari mulut, mampu menaikkan suasana malam mencekam di dalam bangunan terbengkalai ini. Kedua matanya saling menatap tajam dua manusia tersebut meneguk salivanya susah payah karena tidak ada lintasan lain untuk membuat mereka bebas dari belenggu perangkapnya.


“Tolong jangan bunuh kami dengan senjata gaib itu, kami tidak ada sama sekali mengganggu elo!” sarkas Reyhan membentak.


“Iya, benar. Kalian memang tidak menggangguku, tetapi kalian telah tidak mau menuruti keinginanku! Apa susahnya kalian mengabulkan permintaanku?”


“Kami berdua jelas tidak akan menuruti segala keinginan Oma! Karena kami sudah tahu, bila kami melakukannya yang ada kami berdua bisa berakhir mati di bangunan ini!” buras Jova meski irama detak jantungnya sudah tak terkontrol.


Reyhan tidak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan ini semua, terlebih nyawanya sudah berada di ujung tanduk begitupun dengan Jova. Ia berusaha tetap tenang lepau berpikir kritis seperti apa yang Angga sabda tadi sebelum berperang. Kepalanya harus dingin dan pikiran negatif yang ada dibenaknya juga harus ia hilangkan.


...Kalian harus bisa. Kalian harus sanggup melenyapkan hantu itu yang sekarang ada dihadapannya kalian berdua, gue yakin kalian mampu mengusirnya dan mengantarkannya ke alam baka yang jauh tajam dibanding hutan belantara ini...


Tatkala Reyhan terperanjat saat mengingat kata-kata relung hati Angga untuk ia dan Jova. Entah mengapa sahabatnya itu begitu yakin kalau dirinya begitupun gadis Tomboy-nya tersebut sanggup melenyapkan makhluk astral pemilik aura dan energi negatif itu.


Perlahan Reyhan melirikkan bola matanya ke arah Angga dan menatapnya. Dilihatnya, lelaki tampan berkulit putih itu sedang menganggukkan kepalanya secara samar bahkan seraya tersenyum tipis.


Reyhan kembali meluruskan pandangan lalu memejamkan matanya dengan sedikit kuat. ‘Apa maksudnya Angga?! Gue dan Jova gak bisa seperti dia yang sanggup mengantarkan hantu ke alam baka. Apa ini saatnya kami menunjukkan kelebihan lain untuk setan nenek tua itu? Argh, rumit.’


Hantu nenek tua itu dengan cepat mengangkat lilin api yang telah menjadi senjata pedang, ke atas lalu segera mencambuknya tepat ke arah dua manusia yang sedang ketakutan itu.


BATS !!!


“JOVA!! REYHAN!!!” teriak kencang Freya dengan air mata turun ke pipi mulusnya waktu senjata gaib itu mencambuk salah satu anggota tubuh kedua sahabatnya hingga mendatangkan darah segar yang keluar.


Reyhan dan Jova saling menurunkan tangannya yang setelah untuk membentengi wajahnya mereka. Kedua remaja itu kemudian menatap nanar darah segar yang mengalir dari sisi telapak tangan.


Jova memegang pergelangan tangannya menggunakan tangan bagian kanan sambil merintih kesakitan saat merasakan perih di sana. “Sakit, tau! Katanya sayang?! Kok nyakitin?!”


Reyhan meringis tertatih dimana darah segar itu terus mengalir deras dan tanpa lama-lama untuk menatap, lelaki tersebut menyeka darahnya pakai tangan satunya agar dirinya tidak kehabisan banyak darah karena ulah kejinya sang makhluk halus.


“Bagaimana sensasinya? Pasti enak, kan?” tanya angkuh arwah itu.


“Enak, Oma! Enak! Ya sakit, lah!” protes Jova dengan menahan rasa perihnya di telapak tangan miliknya.


Reyhan menoleh cepat ke arah sahabatnya dengan tatapan tajamnya. “Kamu jangan terus menyaut dia!”

__ADS_1


“Biarin, kesel! Kan setiap seorang nenek harus menyayangi cucunya, lah ini beda jauh banget!”


“Emangnya itu Oma-mu?”


“Kamseupay! Ya bukan, dong!” ujar Jova sambil melotot pada pertanyaan konyol Reyhan.


Arwah itu yang mendengar mulut berisik dari kedua manusia tersebut, kembali tertawa seram. “Ingin merasakan sensasi yang lain, tidak? Amarahku belum reda karena kalian.”


“Mamaaaa! Papaaaa! Jova mau pulaaaaaang!!!” pekik gadis itu yang makin bimbang dengan tetap terus berjalan mundur seiras langkahnya Reyhan.


‘Dinginin kepala, Rey. Dinginin kepala ... lo harus tenang, lo harus tenang.’ Itulah rutuk yang ada di dalam hatinya Reyhan, meski panik tak karuan tetapi ada cobanya ia tetap damaikan pikiran negatifnya.


“Ih, kamu bisa diem gak?! Jangan bikin anak orang semakin panik, dong!” sebal Reyhan dengan menoleh ke arah Jova yang terus berteriak memanggil kedua orangtuanya karena ketakutan.


Jova menatap Reyhan secara memelas. “Atut- aduh! Apaan, nih?”


Jova segera menolehkan kepalanya ke belakang. Hal itu berhasil membuat kedua mata gadis itu membulat langsai saat ia melihat rupanya ia menabrak dinding tembok begitupun juga dengan Reyhan yang masih berada di sampingnya.


“Mampus kita, Rey! Kita udah mepet di belakang tembok! Kacau-kacau!” bimbang Jova makin menjadi-jadi.


“Gawat ini, mah ...” laun Reyhan dengan geram sambil menoleh dan menatap hantu itu yang tetap melangkah menghampiri, sementara tangannya yang memegang gagang senjata astral nampak mengepal bersama rambut kusut yang menyibak ke atas untuk menghasilkan rasa amarahnya.


“Baperan amat, sih jadi setan? Gitu aja marah!” omel Jova yang padahal hatinya sangat semrawut disebabkan kepanikan yang melanda.


“Aaaaaaarrgghh!!! Aku benci darah yang menyatu!!!”


Reyhan, Jova, dan Freya terkejut bukan main pada teriakan lengking dari makhluk nenek tua gaib tersebut yang secara tiba-tiba. Ia menangkup wajahnya lalu jiwanya perlahan berprofesi menjadi debu asap hitam yang menyelimutinya.


Kedua remaja itu yang usai diserang satu kali olehnya, matanya berkedip-kedip dengan mulut menganga lumayan lebar. Setelahnya, mereka menyusutkan keningnya karena tidak mengerti apa yang terjadi sehingga arwah tersebut berubah ekstrem seperti yang mereka berdua lihat. Sedangkan Angga yang berada dijarak kejauhan menghiasi senyuman diagonalnya di bibir walau hanya segelintir saja.


“Darah yang menyatu?” tanya Jova dan Reyhan kompak seraya melihat lukanya mereka yang tertoreh di telapak tangannya masing-masing.


Mulut kedua sahabat sejoli itu membungkam saat menatap luka darahnya saling menempel satu sama lain. Mungkin inilah yang membuat makhluk tersebut kalah dalam niat jahatnya untuk menamatkan nyawa mereka berdua.


Reyhan begitupun Jova langsung melepaskan tautan itu yang tak disengaja lalu saling melemparkan tatapan bingungnya. “Kunyuk, apa karena golongan darah kita sama? Hantu itu langsung modar, Cuy!”


Reyhan menggelengkan kepalanya. “Aku nggak tahu, Sableng. Mungkin iya ...”


“Aaaaaaarrgghh!! Mengapa darah kalian harus menyatu?! Aku menjadi gagal memberi pelajaran untuk kalian yang telah Durhaka denganku!!!” marah hantu itu bersama rasa sakitnya yang bertambah, bahkan ia merasakan jiwanya terbakar.


“Ye! Emangnya situ siapa kami?! Keluarga aja bukan! Malah seenaknya ngamuk!” sahut Jova lagi.


Teriakan keras itu memilukan seluruh pendengaran para manusia yang dimilikinya. Hingga detik kemudian, makhluk arwah pemilik energi negatif tersebut musnah ibaratkan debu terhempas oleh angin seperti lenyapnya sang hantu pemain alat musik biola yang tadi menjadi lawannya Angga dan Freya.


“Dia hilang, kah?!” tanya gegau Freya dengan mata kondisi mendelik.


Angga menganggukkan kepalanya lemah bersama senyuman yang ada di bibir pucatnya, sementara Jova Dan Reyhan nang pandangannya lurus di depan menatap tidak percaya apa yang telah terjadi. Mereka berdua sudah berjaya menghapuskan satu makhluk gaib dari dunia! Walau itu secara spontan dan ketidaksengajaan.


“Akhirnya kita berhasil, hahaha!!!” bahagia mereka berdua seraya saling menatap dengan sumringah senyuman yang mengembang di wajah langsainya.


Freya ikut bahagia dengan senyum dalam posisi deretan gigi putih bagian atasnya ia perlihatkan sambil menghapus bekas air matanya yang tadi. Tak hanya mereka bertiga saja yang bahagia, tetapi juga Angga.


“Kalian telah berhasil ...”


“Woy, Ngga!!” Reyhan langsung berlari dan lalu menangkap tubuh lemas sahabatnya yang hendak limbung ke lantai.


“Lo kenapa?” tanya Reyhan agak risau sembari menatap wajah pucat Angga dimana keadaan dua matanya redup.


Angga hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban untuk Reyhan yang memang sekarang merisaukan kondisinya. Kedua gadis cantik itu juga mendatangi lelaki tampan tersebut dengan raut khawatirnya yang mencolok di muka.


“Lo yakin? Lo saja hampir jatuh, untung gue langsung sigap buat nangkep elo.” Reyhan merangkul tangan kanan sahabatnya ke tengkuknya dan mulai membantunya berdiri tegap.


“Tubuh lo juga anget banget, apa yang sudah terjadi sebenarnya?” tanya Reyhan penasaran dan ingin Angga segera meresponnya.


“Panjang ... mungkin lo juga akan bingung jika gue menceritakannya, karena cerita gue bakal random. Jika ada waktu, gue akan ceritakan semuanya.”


“Apa, Ngga??”


Freya langsung menyiku lengan tangan Jova dengan sedikit mencibirnya kesal. “Kan, Angga udah bilang kalau ada waktu! Jangan dipaksa.”


“Ups! Maaf, hehe!”


“Kamu lihat sendiri, kan kondisi sahabatmu dan Reyhan seperti apa? Dia gak akan mungkin sanggup untuk ceritain sekarang apalagi dalam situasi kayak gini. Paham, nggak?”


“Bisa-bisanya gaya omongan nasehatnya kayak si Angga. Iya-iya, aku paham kok. Suwer!” respon Jova dengan mengangkat dua jarinya.


Reyhan menarik senyum hambar. “Yaudah, mending kita langsung keluar saja yuk dari sini. Tuh, kayaknya pintu yang ada di pojok sana pintu exit, deh.”


Kedua sahabat perempuannya mengangguk dengan senyum tipis kecuali Angga yang tak sama sekali merespon, matanya sengaja ia pejamkan karena saat ini kepalanya masih terasa begitu pusing apalagi dadanya. Reyhan yang menuntunnya, merasakan bahwa napas milik Angga terputus-putus terlebih sesaknya tetap ada dan belum kunjung hilang.


Mereka berempat yang telah lengkap alias telah kembali bersama melangkah keluar dari bangunan belantara terbengkalai ini melalui pintu menuju keluar sesuai arahan tunjukan yang Reyhan berikan. Di situ, langkah Angga terasa berat. Sebenarnya juga sudah tidak kuat melangkah kendatipun dipapah tulus oleh sahabat lelaki ramahnya.

__ADS_1


Ya, Anggara harus tetap menghadapi siksaannya yang dialami entah hingga sampai kapan.


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2