Indigo

Indigo
Chapter 104 | Quarrel Because It Has Lulled


__ADS_3

Angga menaiki motornya yang ia parkirkan di tempat khusus parkiran roda dua. Kemudian lelaki itu mulai menarik gas pada motor Vario-nya untuk melaju meninggalkan bangunan sekolah. Tetapi saat telah keluar dari gerbang sekolah, Angga menghentikan laju motornya waktu melihat Freya yang tengah berdiri di belakang gerbang seraya menggenggam ponselnya.


Angga memutuskan mendekatkan motornya ke arah depan sahabat kecilnya yang tengah berkutat dengan benda pipih-nya. Angga membuka kaca helmnya lalu memanggil Freya, membuat Freya menoleh ke sumber suara. Melihat kehadiran Angga mampu buat gadis cantik tersebut mengukirkan senyuman lebarnya.


“Eh, Angga. Kamu belum pulang?”


“Harusnya aku yang tanya itu sama kamu, kamu kenapa belum pulang? Ini sudah sore, lho. Kamu juga nggak pakai motor ya ke sekolah? Mau nebeng di motorku? Biar aku telepon ayah kamu kalau aku antar kamu ke rumah habis ini.”


“Eh nggak usah, Ngga. Aku hari ini nggak dijemput ayah, kok. Tapi dijemput sama Gerald, hehehe.”


Mulut Angga kembali bungkam saat mendengar nama Gerald yang akan menjemput sahabat kecilnya. “Oh, yasudah kalau begitu. Aku duluan, ya?”


“Oke, Ngga. Kamu hati-hati dijalan, ya. Jangan ngebut nanti bisa kecelakaan lagi, loh.”


Angga kini memberikan senyuman tipisnya kepada Freya lalu menganggukkan kepalanya. “Pasti. Kamu juga hati-hati dijalan.”


Setelah mengusap-usap lembut puncak kepala Freya dengan senyumannya kembali, Angga menutup kaca helmnya kemudian mulai membelokkan stang motornya ke arah jalur jalan kanan untuk menuju pulang ke rumahnya. Sementara gadis tersebut sekarang hatinya sangat lega karena rupanya Angga tak sedang marah padanya. Di dalam hati Freya kerinduan senyuman Angga telah terbayarkan meskipun waktunya masih belum lama Angga tak memberikan senyuman tampannya melainkan malah tampang wajah dinginnya seperti kemarin sore dan tadi pagi.


Bukan mempunyai kepribadian ganda, tetapi Angga tengah berusaha harus menyesuaikan suasana hatinya meskipun dunianya sedang hancur karena kedatangan Gerald Avaran Dedaka di kehidupannya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di depan gerbang rumah, Angga tengah berjongkok untuk mengecek kondisi motornya yang sedikit bermasalah, apalagi badan motor Honda Vario hitamnya mengalami lecet akibat kecelakaan yang disengajakan oleh kedua lelaki yang sudah pasti, yaitu Teivel dan Rain. Tetapi Angga belum tahu siapa mereka, asing sekali bagi Angga lelaki-lelaki itu yang rambutnya disemir.


Sampai tiba-tiba terdengar suara motor yang menuju ke rumahnya Freya. Angga langsung tahu siapa yang datang dan tahu siapa yang ada di belakang pengendara motor tersebut. Angga lebih baik mengacuhkannya saja, dan fokus pada keadaan motor matic-nya.


Di sisi lain, Freya yang sudah berpamitan pada Gerald sang kekasihnya, kini langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa sadar bahwa Angga sedang di depan gerbang rumah bersama motornya. Sedangkan Gerald yang sudah tahu kalau pemuda Indigo itu ada di sana, ia langsung melipat kedua tangannya di dada dengan senyum miring iblis khasnya.


“Kasihan yang habis kecelakaan. Rusak, ya motornya?” sindir Gerald pada Angga yang posisinya menghadap belakang.


Angga beranjak berdiri dan tubuhnya memutar menghadap Gerald yang ada di depan rumah sahabat kecilnya. “Tahu darimana gue kecelakaan?”


Gerald melangkah dengan gaya angkuhnya hingga kemudian berhenti di tengah-tengah jalan. “Gue nggak akan tahu lo kemarin kecelakaan, kalau bukan Teivel dan Rain yang ngasih tau gue.”


Bersama sorot mata dinginnya, Angga menjawab, “Oh. Jadi itu suruhan dari lo buat mereka untuk mencelakai gue, baiklah.”


Angga kemudian dengan cueknya, langsung mendorong alat standar motornya ke atas lalu mulai menggiring kendaraannya masuk ke dalam teras rumahnya yang gerbangnya telah ia buka. Gerald yang melihat dan mendengar reaksi Angga menanggapi, begitu geram karena tidak sesuai dengan ekspektasinya.


“Sombong banget ya, lo! Sama seperti dulu, lo nggak pernah berubah, tukang orang bisu!!”


Angga tak memedulikan cacian maki dari Gerald dan terus mendorong motornya ke teras rumah. Di teras, Angga menurunkan alat standar kendaraannya tersebut kemudian akan melangkah menuju pintu rumahnya. Namun tetapi, Angga tersentak kaget saat lehernya direngkuh kuat oleh Gerald dari belakang.


“Lo pikir lo bisa menghindari gue begitu aja?!” geram Gerald dengan mata melotot.


Angga yang merasa sangat marah dengan kelakuannya langsung melepaskan kencang tangan Gerald dari lehernya bersama tenaga kuatnya. Pemuda itu kemudian memutar tubuhnya ke belakang dan mulai menghadapi Gerald dengan tampang beraninya tanpa menunjukkan ketakutan sedikitpun.


“Apa yang lo mau dari gue?!”


“Mau gue? Gue mau lo bertanggung jawab atas kematian sahabat gue yang dulu lo bunuh!!”


Belum sempat menjawab, Gerald sudah duluan mencengkram erat kerah seragam putih Angga yang ada di dalam jas almamaternya. Gerald memutar tubuh lelaki tersebut ke belakang lalu mendorongnya cepat hingga kepala bagian belakangnya Angga membentur tembok dinding sebelah gerbangnya. Angga memejamkan matanya untuk menahan rasa sakitnya di kepalanya yang telah terkena kerasnya tembok pekarangan rumahnya.


“Gara-gara ulah lo waktu dulu, Zhendy mati karena kebejatan yang elo lakukan!! Apa lo ingat semua itu, hah??!!”


“Sudah gue bilang berkali-kali! Bukan gue yang membunuh Zhendy, tapi-”


Gerald beralih melepaskan kerah seragam Angga lalu dengan gesitnya, lelaki yang penuh dendam padanya langsung mencekik leher Angga bersama tenaga kuatnya. “Tapi apa?! Lo mau bilang kalau yang bunuh Zhendy adalah temen imajinasi lo?! Lo mau nyari alasan atau kebohongan buat gue, gak akan mampu, ANGGA!!!”


Dada Angga terasa sangat sesak karena tak ada oksigen yang ia hirup saat ini apalagi napasnya amat tercekat hingga wajah Angga memerah. Sementara napas milik Gerald naik turun cepat dengan menatap penuh amarah dendam Angga.


“Dengerin gue, ya! Sampai kapanpun gue akan terus membuat hidup lo hancur!! Emangnya dengan lo melarikan diri dari masalah, lo terbebas dari kesalahan fatal lo yang sudah teganya membunuh Zhendy??!!”


Dengan jiwa emosinya, Gerald melepaskan cekikannya dari leher Angga lalu dirinya mengangkat tubuh musuhnya tersebut kemudian membantingnya ke bawah bersama hebatnya. Di bawah, Angga merintih kesakitan. Belum puas memberi pelajaran untuk Angga, Gerald menonjok-nonjok perut pemuda tersebut dengan brutal lalu terakhir menginjak dadanya sembari menekannya.


“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Angga memegang kaki Gerald dengan kedua tangannya untuk melepaskannya namun tenaga Gerald jauh lebih kuat dibanding Angga yang sekarang lemah tak bisa apa-apa.


“Urusan gue dengan lo belum selesai! Dan Ini masih belum seberapa, lo lihat dan rasakan saja nanti!”


DUGH !!!


Gerald menendang dada Angga sampai membuat tubuh Angga terdorong dan terlungkup. Setelah itu, Gerald yang mengenakan seragam SMA putih abu-abunya nang mana ujung bawah seragam bajunya tak dimasukkan ke dalam, meninggalkan Angga begitu saja yang tergeletak lemah tidak berdaya di tanah.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...

__ADS_1


Beberapa minggu telah berlalu. Kehidupan yang Angga rasakan makin lama makin suram tak karuan, kehadiran Gerald yang menghujat-hujat berbagai kata yang keluar dari mulutnya dan cara ia melukai fisiknya. Bahkan hal itu membuat Angga mampu mengalami Stress serta Depresi yang sudah lama semenjak ketibaan Gerald yang hebat menghancurkan hidupnya apalagi membuat hidupnya Angga tidak tenang karena Gerald sudah mengerti kelemahannya Angga, ialah masa lalu yang kembali di ungkit-ungkit.


Kini sekarang Angga tengah berada di dalam rumah tepatnya duduk di kursi sofa single. Pemuda tersebut nampak menyingkap baju oblongnya ke atas untuk memeriksa perutnya yang amat kram bila dibuat melangkah. Saat Angga cek, terdapat jelas kalau di bagian luar perutnya ada memar warna ungu kebiruan di sana. Hal ini disebabkan oleh Gerald kemarin yang brutal menghajar Angga habis-habisan termasuk perutnya yang ditonjok-tonjok kencang.


Angga merapatkan bibirnya dengan mata mengernyit karena waktu ia sentuh memar perutnya tersebut, rasanya amat sakit. Hingga di tengah kesunyian dalam rumah, suara ringtone HP Angga berbunyi disertakan getaran. Saat Angga melihat layar ponsel siapa yang menelpon dirinya, ternyata itu adalah Reyhan sahabatnya yang tadi mengantarkannya pulang dari sekolah.


Angga dengan gerakan lemahnya, mulai mengulurkan tangannya untuk mengambil HP-nya kemudian menekan tombol hijau dan menggeseknya ke atas buat mengangkat telepon sahabatnya.


...----------------...


...REYHAN...


Good afternoon, Angga! Gimana keadaan lo? Udah mendingan belum? Soalnya tadi banyak yang nanyain kondisi lo pas setelah gue anterin lo pulang ke rumah siang tadi. Habisnya tau sakit perut sampe sulit jalan gitu, napa gak absen aja dah?


^^^Gue kira mampu^^^


Alah, tapi jangan dipaksain dong, Bang. Oh iye, gue sama Jova ada di depan gerbang rumah lo, nih. Niatnya kami langsung masuk, tapi gerbangnya lo gembok. Lo bisa bukain, kagak? Daripada gue ama ini cewek auto pake atraksi monyet panjat pager


^^^Bisa. Kalian tunggu sebentar^^^


Eh yakin, Ngga? Lo aja jalannya sulit, jangan dipaksain!


^^^Santai^^^


Yasudah lah, terserah lo. Nggak usah terburu-buru, pelan-pelan saja kayak lagunya Kotak Band


^^^Hmm^^^


Oke, mantap! Kami berdua tungguin lo dari luar, ye! Bye-bye!


...----------------...


Setelah Reyhan menutup teleponnya dari sebrang sana, Angga mematikan layar ponselnya lalu ia letakkan di sampingnya kemudian pemuda berpostur tubuh adiluhung 180 sentimeter tersebut bangkit perlahan dari sofa single dan melangkah hati-hati menuju pintu rumah yang ia tutup.


Diluar rumah, tanpa menggunakan alas kaki yang ia kenakan, Angga meneruskan langkah lambatnya untuk membukakan gembok pada gerbangnya. Kini, Angga tengah memutar kuncinya agar gembok besi tersebut dapat terbuka.


Reyhan dan Jova yang masih setia menunggu dengan kesabarannya, walau biasanya dua sahabat sejoli tersebut tak sabaran menanti, mereka mendengar dan melihat gerbang rumah Angga yang dibukakan oleh tuan rumah.


“Halo wahai tuan rumah yang tampan, kami ke sini pengen jenguk kondisimu. Gimana? Kamu udah agak mendingan sakit perutnya yang kram sampe sukar buat jalan tadi?” sapa dan tanya Jova.


Reyhan merangkul Angga dengan bertutur kata, “Apanya yang lumayan? Dari nada lo sudah kedenger tipu-tipuan, hahaha! Yaudah ayo gue bantu lo masuk ke dalem rumah.”


“Lah, Nyuk?! Motor kita berdua masa diparkir di depan gerbang, gak dimasukin ke dalem teras?”


“Gak usahlah, males bet dorongnya.”


“Wu! Dasar cowok pemalas!” maki Jova yang hendak masuk ke dalam gerbang rumahnya Angga.


Baru saja ketiga remaja itu akan masuk ke dalam gerbang, langkah mereka bertiga terhenti saat mendengar suara motor Ninja yang suaranya semakin jelas dan berhenti tepat di depan gerbang rumah Freya. Jova, Reyhan, termasuk Angga menoleh ke arah sana yang mana Freya kini turun dari motor Ninja warna hijau corak hitam kekasihnya, bahkan pacarnya tersebut melepaskan helm full face-nya dari kepala.


Jova yang memandangi Gerald, sangat terpukau betapa kerennya pemuda tersebut yang memiliki kulit kuning langsat itu. “Buset, bergaya amat penampilannya.”


Reyhan yang melihatnya hanya menaikkan satu alisnya dengan mulut lumayan menganga, sedangkan Angga cuma menatapnya bersama muka datarnya alias tanpa ada ekspresi wajah apapun yang tergambar di muka tampannya tersebut. Mereka bertiga melihat senyuman bahagia dari Freya saat pipi halusnya di belai-belai sayang dan juga atas kepalanya. Terlihat, gadis cantik itu baru saja pulang diantarkan oleh Gerald.


“Aku masuk rumah dulu ya, Rald? Nanti kita sambung di WhatsApp.”


“Iya Cintaku yang cantik dan imut. Yasudah sana masuk ke dalem, aku juga mau pulang.”


Freya menganggukkan kepalanya antusias lalu melambaikan tangan dengan hati gembira pada Gerald. Gerald melepaskan satu tangannya dari helmnya untuk membalas lambaian tangan pacarnya sebelum kemudian Freya memutar tubuhnya ke belakang menuju masuk gerbang rumahnya.


“Lah, Freya nggak tau kah kalau kita bertiga berdiri di sini? Wah sudah punya doi, matanya jadi rada buta nih sama keberadaan sahabat-sahabatnya,” ungkap Jova bergurau.


Sementara Reyhan nampak terus menatap Gerald yang auranya buruk baginya saat ia mencoba menerawangnya seperti apa yang Angga lakukan jika menerawang aura seseorang. Sampai tiba-tiba Gerald menatap mereka bertiga terutama Angga yang ada di sebrang jalan. Lelaki tersebut meletakkan helm face miliknya di depan ia duduk kemudian turun dari motor Ninja-nya untuk menghampiri ketiga remaja tersebut yang memiliki paras menawan serta sempurna.


Gerald melangkah sambil menepuk-nepuk kedua telapak tangannya dengan menggelengkan kepalanya bersama senyuman arogannya. “Wow, wow, wow. Amat mengejutkan. Seorang Anggara Vincent Kavindra, sekarang sudah mempunyai teman. Bukankah dulunya lo sama sekali nggak punya, ya? Yang ada lo malah dikucilkan. Wahahaha!”


Reyhan mengepalkan satu telapak tangannya dengan menatap tajam Gerald. “Heh! Lo siapa berani-beraninya menghina sahabat gue, hah?! Gue juga nggak kenal elo siapa!”


Gerald menaikkan kedua alisnya. “Oh. Rupanya ini adalah sahabat lo, Ngga? Kenapa bisa orang bisu, tuli, dan gak mempunyai kabel di otak kayak elo memiliki seorang sahabat? Sangat tidak pantas.”


Angga memalingkan wajah pucat-nya dari Gerald ke sembarang arah. Jelasnya pemuda pendiam tersebut tak ingin mengambil urusan kepada Gerald apalagi membuat masalah baru. Reyhan yang emosinya sudah tak bisa dikontrol mulai menerjang menyerang Gerald.


“Mulut busuk, lo bajingan!!”

__ADS_1


BUGH !!!


Reyhan yang tidak terima Angga dikatakan yang tak pantas untuknya, lelaki humoris tersebut memberikan layangan tonjokan kuat di pipi Gerald hingga kepalanya tertoleh kencang ke samping. Gerald yang diberikan bogeman mentah itu, hanya mendengus lalu mulutnya membuka dengan salah satu sudut bibirnya ia tarik ke atas.


Rahang Reyhan mengeras dengan mata mendelik menatap Gerald yang sekarang menyentuh pipinya nang lebam akibat pukulan keras dari Reyhan. “Maksud lo apa ngatain Angga seperti itu, HAH??!!”


Gerald menatap Reyhan penuh nyali bahkan wajahnya masih terlihat gaya sombongnya. “Bodoh sekali lo membela Angga. Asalkan kalian berdua tau, sahabat cowok yang kalian miliki ini, harus kalian waspadai dengan ketat. Karena dia seorang pembunuh!”


“A-apa? Angga seorang pembunuh?! Masa?? Ngadi-ngadi lo!!” damprat Jova tak percaya pada ucapan Gerald barusan.


Gerald mulai bersedekap di dada lalu menatap Angga yang mulutnya hanya bungkam tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. “Lo berdua jangan mudah terkecoh dengan sikapnya Angga yang setia dan peduli sama kalian apalagi ... sama Freya sang sahabat kecilnya. Dia mempunyai sisi hati yang bedebah!”


Reyhan malah justru tertawa pada lontaran dari Gerald. “Cih, emangnya gue segampang itu percaya dengan lambe lo yang asal?”


Reyhan dengan lancang menarik kerah seragam putih SMA Gerald lalu mencengkram-nya kuat. Bola matanya mencuat tajam seperti mata pisau. “MANA BUKTINYA KALAU ANGGA SEORANG PEMBUNUH???!!! Gue tau lo lagi berusaha untuk mencoba menghasut-hasut kami sama omongan bangsat lo agar kami berdua menjauhi Angga!!!”


“Oh iya, lo ngatain Angga apa tadi? Bedebah? ELO YANG BEDEBAH!!!”


Reyhan menendang dada Gerald hingga lelaki yang telah menghujat harga diri sahabatnya terjatuh tersungkur di aspal. Reyhan kemudian menuding kencang ke arah Gerald. “Jangan-jangan elo bekas dari perusak reputasi sahabat gue saat SD di sekolah Bakti Siswa penuh kemaksiatan itu?! Dan jangan-jangan pula, elo yang telah menginjak-injak harga martabat Angga selama semasa SD dahulu?!”


“JAWAB!!!”


“Kalau iya, kenapa? Gue yang selama ini melakukan perbuatan itu sama orang gak normal sahabat lo yang nggak berguna sama sekali itu!”


“Argh! Jadi ternyata elo biang keroknya?! Ternyata elo adalah orang yang pernah ada di masa lalu Angga, masa lalu yang dilumuri kemaksiatan!! Dan sekarang lo masih mau merusak kehidupannya sahabat gue??!! Lo emang harus dikasih pelajaran agar ngerti-”


“Rey! Sudah!!” Angga menahan tubuh Reyhan yang hendak bergerak akan menghajar Gerald. “Elo kenapa, sih Ngga??!! Dia yang udah hancurin harga diri lo bahkan hidup lo sekaligus! Orang yang macam dia ini gak pantes diberi keampunan!!!”


“GERALD!!!”


Freya berlari kencang menghampiri pacar kekasihnya yang terbaring karena usai ditendang kencang oleh Reyhan sahabatnya. Gadis tersebut dengan panik berjongkok untuk mengecek kondisi Gerald yang mana pipi kanannya mengalami lebam seperti habis dipukul keras.


“Gerald apa yang udah terjadi sama kamu?! Siapa yang udah ngelakuin ini ke kamu?!”


Gerald melirik Reyhan dan Angga secara bergiliran. “Kamu lihat saja dua cowok itu.”


Gerald kemudian bangkit dari baringnya lalu mulai pergi meninggalkan Freya begitu saja dengan wajah raut marahnya. Freya pun langsung mencekal lengan kekasihnya. “Kamu mau kemana?!”


Gerald menepis pelan tangan Freya. “Lepas. Aku mau pulang, kamu urusin aja mereka berdua yang buat aku kayak gini.”


Gerald melangkah cepat meninggalkan Freya beserta yang lainnya kemudian menaiki motor Ninja-nya lalu mengenakan helm full face-nya. Lelaki itu yang memiliki sifat angkuh dan jahat mulai menarik gas motornya dengan kencang membuat laju motornya menjadi maksimal.


“Huuuuhh!! Ini semua salah kalian berdua, gara-gara ulah kalian, Gerald jadi pergi!!!”


“Itu kesalahan dia sendiri yang pertama membuat keonaran di sini apalagi sama Angga! Masalahnya kamu gak tau apa-apa soal yang tadi, Frey! Apa kamu ingin tau apa yang dilakukan Gerald pacar buruk-mu itu? Dia udah main nuduh-nuduh sahabat kecilmu! Bahkan dia dengan songong-nya mencaci maki Angga nggak memandang tempat apalagi melukai hatinya!!”


PLAK !!!


Freya yang tidak suka mendengar pengucapan dari Reyhan apalagi sempat menjelek-jelekkan Gerald dan membuat gadis itu tak terima, Freya pun menampar pipinya Reyhan dengan kencang. Jova serta Angga yang melihat Freya yang telah melakukan kekerasan tersebut sampai terkejut tidak menyangka.


Reyhan menyentuh pipinya yang sudah memerah dan panas dengan menatap Freya kaget atas perlakuan kasarnya. “Freya! Kenapa aku ditampar?! Aku ini sahabatmu, Frey!!”


“Terus kalau aku sahabatmu, aku nggak boleh melakukan itu padamu yang udah ngatain-ngatain Gerald seperti tadi?! Jaga mulutmu, Reyhan!!”


“Aku ngomong sesuai fakta!! Karena memang kenyataannya begitu, Freya!”


“Freya! Harusnya yang kamu belain Angga dong, bukan pacarmu yang sifatnya brengsek itu!! Selama ini Gerald yang udah buat Angga hancur kayak gini! Kedatangannya di kehidupan sahabat kita, Angga makin gak karuan! Dan pacarmu yang dulu telah merusak reputasi Angga!! Andaikan kamu tadi ada di sini, semuanya akan jelas bahkan kamu juga akan mengerti kalau hati pacarmu bener-bener bengis sama sahabat kecilmu yang selalu ada buat kamu!!”


Freya beralih menatap Jova dengan tatapan tajamnya. Kemudian gadis tersebut yang telah terlena akan cintanya Gerald, beralih lagi untuk menatap Angga. Namun Angga sedikit melangkah maju mendekati sahabat kecilnya. Pemuda itu dengan tangannya yang hangat tersebut mulai terangkat buat menangkup wajah Freya.


“Freya, akhir-akhir ini apa saja yang dilakukan Gerald sama kamu hingga kamu jadi kasar begini? Kamu berbeda dari yang dulu ...”


Freya menggertakkan giginya kuat lalu melepaskan kedua tangan Angga bagian lengannya dengan kasar. “Nggak usah sok peduli sama aku! Kamu sendiri juga akhir-akhir ini gak peduli denganku!!”


Freya mendorong dada Angga hingga sahabat kecil lelaki tampannya itu menabrak gerbang apalagi keadaannya yang masih lemah. Angga begitu amat terkesiap pada sikap baru Freya yang seperti bukan lagi sahabat kecilnya yang dirinya kenal, tak hanya Angga saja yang gegau, tapi juga dengan Jova dan Reyhan.


“Freya, dengarkan aku! Aku bukannya tidak peduli sama kamu! Aku hanya nggak ingin mengganggu hubunganmu dengan Gerald, hanya itu saja!”


“Halah! Sudahlah, nggak penting juga aku lama-lama ngomong sama orang sepertimu!!”


Freya melengos pergi meninggalkan ketiga sahabatnya, namun ia menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh menatap tiga sahabatnya dengan tampang muak serta kesalnya.


“Kalian bertiga memang sudah keterlaluan dan aku kecewa dengan watak kalian!”

__ADS_1


Gadis itu akhirnya pergi meninggalkan mereka yang hatinya diisi rasa kemarahan karena sudah menjelekkan nama baik kekasihnya. Sedangkan Angga yang memperhatikan kepergian Freya, hanya menghembuskan napasnya lemah bersama wajah pasrahnya karena sahabat kecilnya telah terbuai oleh cinta hingga berubah menjadi seperti ini.


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2