Indigo

Indigo
Chapter 63 | Not Yet Over


__ADS_3

Walau jam sudah menunjukkan pukul 14.00 tetapi Angga, Freya, dan Jova belum juga pergi pulang. Mereka tetap di rumah sakit sampai Farhan serta Jihan kembali balik di RS Wijaya.


Terlihat Jova dan Freya tengah duduk di kursi sofa, dengan posisi sikap duduk yang berbeda yaitu Freya duduk yang manis seperti gadis feminim bedanya Jova duduknya dengan kaki bersilang. Dua gadis saling akrab itu tengah berkutat bersama handphone miliknya.


Sedangkan Angga dengan sibuk dirinya merapikan meja nakas samping ranjang pasiennya Reyhan yang Reyhan terlihat bungkam bahkan pandangannya menunduk. Angga menarik satu sudut bibirnya yang membentuk sunggingan bibirnya seperti smirk.


“Lo kenapa diem dan nunduk gitu? Sakit gigi, lo?”


“Diemlah, lo!” jawab Reyhan secara ngegas.


Angga langsung saja terkekeh geli sambil kembali melanjutkan aktivitasnya merapikan meja tersebut, Reyhan yang merasa kesal pada sahabatnya yang tertawa lagi menoleh dengan tampang wajah sinis.


“Gak usah ketawa dah, lo! Di sini gak ada yang ngelawak! Bisa juga nih gue sumpel mulut lo pake semua obat gue biar kena Overdosis sekalian!”


Angga hanya membuka mulutnya membentuk lubang huruf O sementara Freya dengan cengengesan menjawab damprat-nya Reyhan. “Kamu yakin mau masukin mulutnya Angga pakai semua obatmu itu? Emangnya kamu rela membunuh sahabatmu sendiri?”


Reyhan dengan cepat menolehkan kepalanya ke arah Freya yang menanyainya begitu santai. “Ya enggak, dong! Yang bener aja aku bunuh Angga?! Nanti yang ada si Angga pas jadi Arwah bales dendam sama aku.”


Bergiliran lah kini Angga yang menoleh ke Reyhan dengan wajah sinis tajamnya. “Ngomong apa tadi, lo?!”


“Mendadak Amnesia, gue Ngga. Tadi gue barusan bilang apaan, ya??”


“Huh!”


“Yaelah jangan marah dong, Ngga. Gue bercanda kok hehehe. Oh iya, kalau lo bosen lo ambil aja buku novel gue, terserah mau baca yang apa. Gue juga mau baca juga, ngecek aja yang dibeliin Aji sesuai selera gue apa kagak.”


“Ya, bentar gue ambilin.” Angga yang selesai merapikan meja nakas, beralih membuka laci meja itu dan mulai memilih buku novel yang sekiranya Reyhan minat membacanya. Ya, Angga memakai indera penerawangannya apa yang Reyhan suka di antara lima buku novel dua jenis genre tersebut.


Akhirnya setelah Angga menggunakan inderanya, ia mengangkat satu buku genre Thriller yang mana seorang pembunuhan berdarah dingin mengenakan topeng Scream dan di tangannya menggenggam sebuah kapak yang bagian mengerikan itu berlumuran darah beserta terlihat ada potongan-potongan daging organ manusia yang menempel di ujung kapak yang di angkat oleh psikopat sadis tersebut.


Angga lalu memberikan buku novel Thriller itu kepada Reyhan, dengan itu sahabatnya langsung perlahan menerima yang diberikan Angga.


“Sadis banget ini pasti alurnya, Bro.”


“Yang penting Thriller kan, bukan Horor. Bukannya sekarang lo membenci novel horor dan filmnya? Gue tau itu.”


“Jyah! Anak Indigo emang bahaya banget, ya! Tau banget isi pikiran orang. Tapi by the way makasih ya Ngga, udah ngertiin gue.”


“Hm, sama-sama.”


Angga berbalik badan untuk mengambil salah satu buku novel genre Horor di dalam laci. Angga hanya asal ambil tanpa melihat sinopsis ceritanya terlebih dahulu di bagian belakang buku novel yang saat ini pemuda Indigo itu pegang. Tanpa membacanya, ia sudah sangat tahu kalau jalan alur novelnya menarik.


Karena buku novel itu masih dibungkus dengan plastik bening, Angga terpaksa melepaskannya dahulu sebelum ia membacanya, lagian pula bagaimana bisa membaca kalau buku tersebut belum dilepas bungkusannya? Sementara Reyhan yang masih berusaha mencopot plastik itu malah kesusahan, mungkin saja tenaganya yang belum mampu dan kuat untuk membukanya.


“Sini, biar gue yang bukain. Kalau gak bisa tuh bilang, jangan diam aja.”


“Ya kan kirain gue bisa sendiri, pertama kan harus usaha dulu, lagian gue juga gak mau setiap hari ngerepotin elo mulu. Berkesan kalau lo adalah seorang pembantu.”


Angga menarik napasnya lalu membuangnya jengah dilanjut berdeham untuk menjawab celotehan Reyhan yang mulai banyak celomes. Angga mengambil buku novel Reyhan secara santai tak kasar kemudian dengan tulus membuka bungkusan plastik tersebut begitupun disambung setelah itu melepas membukakan plastik buku novel genre Horor yang akan Angga baca yang masih lekat.


Sesudah dibuka semuanya, Angga memberikan kembali buku novel genre Thriller itu pada Reyhan. “Hehehe, tulus bener sih?”


“Yaudah gue buang bukunya-”


“Jangan-jangan! Enak aja lo buang, menghargai dikit kek. Aji kan belinya pake uang, gak pake daun. Kalau pake daun mah udah gue borong semua daunnya dan pasti gue auto jadi cowok Sultan.”


“Haluan-mu terlalu tinggi, Rey hahahaha!”


“Nggak apa-apa, toh pasti itu mustahil banget kalau uangnya jadi daun. Eh tapi aman gak sih kalau misalnya semua dedaunan semak-semak, pohon-pohon semuanya menjadi uang? Soalnya sudah bisa dipastiin preman yang minta harta bisa nyolong di atas pohon atau semak-semak belukar.”


“Hehehehe, kamu mah ada-ada aja sih Rey. Mana ada yang begituan? Segala kita mendapatkan uang kan pasti hasil dari pekerjaan kita.”


“Iya juga sih, eh tapi kan nih ... kita yang masih umur segini gak perlu cari uang lho, kan ada orang tua kita masing-masing yang ngasih uang saku, hehehehe!”


“Hahahaha! Kamu ini ya Rey, gak pernah yang namanya bikin gak ketawa. Pasti ketawa deh. Tapi nih Rey, uang saku yang diberikan orang tua ada lebih baiknya kita tabung. Karena kalau kita mengumpulkan uang secara ditabung, kita pasti bisa membeli apa yang kita mau. Bener, kan?”


“Pinter banget, Frey! Contohnya kayak aku nih, menabung uang untuk beliin boneka beruang buat hadiah ultah (Ulang tahun) seseorang.”


‘His! Sialan ini Kunyuk Sutres satu! Pasti lagi nyindir gue, nih. Hm! Udah tau gue anjir.’


“Iya, kan Jovata Zea Felciaaaaa?” tanya Reyhan dengan wajah pucat rese-nya.


“A-apa?! Kamu ngomongin apaan sih? Aku gak konek, tau!” kata Jova ngeles.


“Halah, gak usah pura-pura gak konek. Otakmu kan kalau udah nangkep soal mainan kepribadianmu, pasti sinyalnya langsung kuat.”


“Hih, dasar aneh!”


Reyhan tersenyum jahil menatap Jova. “Waktu kamu ulang tahun yang ke lima belas, aku ngasih kamu sebuah hadiah boneka beruang coklat yang di lehernya itu ada pita ungu Violet, seperti anak SD kamu kegirangan karena dapet hadiah pemberian sahabatmu ini. Dan yang masih nyantol di benak memori otakku, aku masih inget apa yang dulu kamu janjikan sama aku. 'Janji, boneka ini bakal selamanya jadi milikku seutuhnya!' Kayak ngejagain pacarnya, ya kan??”


“Ih! Kok kamu masih ingat, sih?! Padahal kan itu udah lama banget! Waktu kita SMP kelas sembilan! Apalagi kamu kan sempet Koma selama empat bulan, minimal udah lupa, dong!”


Senyuman jahil Reyhan menghilang dan berganti menjadi gigi yang menggertak kesal. “Heh! Meskipun waktu itu aku Koma berbulan-bulan, bukan berarti juga memori itu langsung hilang bak di telan bumi! Kecuali kalau aku ngalamin Amnesia!”


Jova memanyunkan bibirnya mendengar nada tinggi dari Reyhan. Beberapa detik kemudian nada Reyhan melunak dan berkata, “Soal aku Koma, bisa aku tebak seratus persen kalau kamu rindu banget sama aku. Saking rindunya kamu memeluk boneka beruang hadiahnya aku untuk menghilangkan rasa kangennya sama aku. Jangan bilang tidak, ya.”


Seperti kejatuhan ular Piton, Jova sangat begitu terkejut atas penuturan Reyhan yang ada benarnya. Ini menebak atau menerawang?! Gadis tomboy itu menelan salivanya susah payah tak mempercayai ini kalau itu memang betul.


“Reyhan Ellvano! Kamu ini anak Indigo kayak Angga apa gimana, sih?! Darimana kamu tau kalau aku kangen sama kamu sampai meluk boneka beruang hasil pemberian dari kamu?! Oh pasti kamu dikasih tau sama Nova lewat chat WA, ya?!”


“Sembarangan kalau ngomong! Aku jarang ya yang namanya saling kirim chat sama adikmu, aku cuman nebak aja kok. Mana bisa aku menerawang kayak sehebat Angga.”


“Terus?! Oh aku tau! Mesti Roh mu keluar dari ragamu yang Koma abis itu ngintip-ngintip di kamarku! Dan habis itu Roh kamu beri tau sama Ragamu tentang aku yang di kamar waktu bulan-bulan lalu itu!”


Reyhan yang seketika mendengar kata 'Roh' langsung memalingkan wajahnya dari Jova, kepalanya ia hadapkan ke depan TV. Detak jantung Jova bermulai lagi berdegup kencang disaat menatap muka dinginnya Reyhan.


“Ehehehehe, Reyhan? Kok langsung diem? Kamu tersinggung ucapannya Jova, ya?” tanya Freya dengan getir.


Reyhan kembali menolehkan kepalanya menatap Jova yang masih memasang muka dinginnya. “Gak usah ngomong soal Roh atau berkaitan setan-setan. Aku males dengernya.”


Freya dan Jova saling menatap bingung pada sikap Reyhan hari ini. Seorang Reyhan Lintang Ellvano seperti akan meninggalkan kegemaran Supernaturalnya. Angga yang tengah sibuk membaca buku novel genre Horor-nya di kursi sofa tepat di sebelahnya Jova, sekilas melihat Reyhan kemudian menghela napasnya sejenak. Tidak bertanya pada sahabatnya, Angga sudah tahu mengapa Reyhan membenci hubungan misteri-misteri hantu. Ya, faktor segala teror Arseno bertubi-tubi yang menimpa Reyhan membuat Reyhan membenci dan menjauhi kegemarannya untuk menyukai hal-hal mistis-mistis Supernatural.


Sekarang Reyhan nampak mengalihkan mukanya dari Jova dan kedua bola matanya mulai fokus pada hadapan bacaan buku novel pembunuhan berdarah dingin yang akan ia baca. Jova terlihat tak tenang karena senyuman Reyhan kembali bersembunyi.


“Rey, jangan marahin aku lagi dong! Aku kan gak tau kamu kenapa,” rengek Jova.


Reyhan menghembuskan napasnya lalu menatap Jova. “Siapa yang marah?? Aku gak marah sama kamu, Jovaaa!”


“Abisnya muka kamu dingin kayak cowok kutub Utara! Biasanya kan kalau gini kamu lagi marah!”


Reyhan meraup wajahnya dengan satu tangan kemudian ia membentuk sunggingan bibir senyum lebar. “Nih aku senyum! Lagian aku ngapain marah sama kamu, Sableng? Tersinggung juga enggak. Santai aja dah sama aku.”


“Bener, nih? Jangan bohong lho! Angga, coba deh kamu gali otaknya Reyhan, bohong gak dia.”


“Enggak.”


“Duh, terdengar kayak dijawab sama robot manusia,” sindir Freya dengan nyengir.


Sindiran Freya membuat Angga yang asyik membaca, melirik ke sahabat kecilnya. Lirikan mata itu membuat Freya menutupi mukanya dengan ponsel yang case-nya berwarna pink. “Ampun Angga, hehehehe.”


“Tuh, udah dijawab Angga. Lagian kamu ngomong apaan sih?! Heran aku bicara suka gak di teliti dulu kayak kertas Ujian mau di tumpuk ke meja guru. Otakku masih oke-oke aja, ya! Gak perlu sampe di gali-gali kayak lagi gali tanah kuburannya Suzanna!”


“Masa otakmu oke-oke aja? Angga tuh gali otakmu biar otakmu dibenerin agar ada akhlak! Selama ini kan kamu gak ada otak, lebih tepatnya gak ngotak!”


“Eh, kampret ini cewek!” Kemudian Reyhan mengelus dadanya seraya berbicara dalam lubuk hatinya, ‘Sabar Rey, sabar. Inget jangan emosi, nanti kalau gak ada kontrol kayak motor matic bisa nangis lagi ini anak barbar yang mulutnya minta di tabok sama kain kafannya Ocong.’


Reyhan dengan mendengus membaca sinopsis buku cerita novel tersebut yang pemuda Friendly itu pegang dan kemudian setelah membacanya, ia membuka lembaran dimana tempatnya Prolog.


Suasana kembali hening dikarenakan mereka sibuk masing-masing dengan kegiatannya untuk mengatasi rasa kebosanan. Sekarang Reyhan terlihat duduk diam sembari membaca buku novel tersebut dengan penuh selera karena jalan alur ceritanya begitu menarik bahkan lelaki itu terhanyut dalam novel. Sampai-sampai setelah ia membuka lembaran selanjutnya, ada yang membuat kedua alisnya ia tarik ke bawah. Di dalam buku ini rupanya ada uniknya yang mana sesudah ia sampai ke lembaran ketiga, di seluruh lembaran kertas yang ada di depan matanya tertera jelas kata 'dead' dengan tulisan berwarna darah gelap.


‘Novel ini bisa rilis juga, ya? Kenapa isi-isi lembaran-lembaran berikutnya tulisannya ini semua?? Apa disengajain sama penulis bukunya?’


Hal itu membuat Reyhan semakin bingung mengapa ada tulisan merah pekat apalagi berkata ‘dead' di setiap lembaran buku yang ada di hadapannya bahkan setelah ia mengecek halaman berikutnya kata aneh itu juga ada seperti halaman sebelumnya. Reyhan yang penasaran dengan warna itu, perlahan mencoba menyentuh salah satu tulisan dari ribuan kata tersebut bersama jari telunjuknya.


Ternyata saat Reyhan sentuh, tulisan itu berair. Reyhan perlahan membalikkan jari telunjuknya untuk ia lihat. Bukan hanya warna saja, tetapi apa yang Reyhan sentuh adalah darah! Kedua mata Reyhan terbelalak lebar sementara lembaran buku novel itu layaknya tertiup angin terbuka-buka sendiri tanpa ada yang melakukannya hingga sampai ke pertengahan lembaran buku. Apa yang Reyhan lihat sekarang ini hanya dua lembaran kosong yang ada di hadapannya, akan tetapi 3 menit kemudian munculah bayangan Arwah negatif yang dulunya meneror Reyhan hingga ia masuk rumah sakit.


Arwah itu bisa-bisanya keluar dari lembaran buku novel tersebut yang pertama adalah kepalanya, oleh karena itu membuat Reyhan sampai berteriak.


“WAAAAAAA!!!”

__ADS_1


BRAKK !!!


Reyhan saking takutnya melempar buku novel itu di lantai dengan sangat keras, jeritan teriak Reyhan buat kesemua sahabatnya yang duduk diam segera cekatan berdiri dan menghampirinya yang pemuda itu kini tubuhnya bergetar hebat serta keringat dinginnya mengucur deras.


“Rey! Kamu kenapa kok tiba-tiba teriak?! Ada apa, Reyhan??!!” panik Freya.


“Kenapa?! Ada makhluk gaib yang gangguin kamu?!” tanya cemas Jova.


“Ada apa, Rey?! Dia lagi yang gangguin elo?!” tanya Angga dengan wajah serius.


Baru saja akan menunjuk buku novel yang Reyhan jatuhkan, tiba-tiba saja kepalanya terasa begitu amat sakitnya serta dadanya kembali sesak. Kedua matanya ia pejamkan kuat dengan gigi bergemelutuk. Tangan kirinya terangkat menyentuh dadanya, sudah terdengar suara rintihan kesakitan dari Reyhan membuat Jova segera akan menekan tombol merah darurat yang ada di atas kepala ranjang pasien, namun dengan pekanya Reyhan mencekal lengan Jova menggunakan tangan satunya.


“Kamu mau apa?!”


“A-aku mau panggilin kamu dokter! Kamu udah kesakitan banget gitu, makanya aku mau panggil dokter, Rey!”


Reyhan yang kepalanya menunduk mendengar jawaban Jova dirinya langsung menggelengkan kepalanya kuat. “Jangan! Tolong jangan panggil dokter!”


Suara Reyhan yang menekan membuat Angga bertanya, “Lalu mau lo gimana?? Yakin gak usah panggil dokter?? Nanti kalau ada apa-apa langsung ditangani!”


“Nggak- g-gue cuman butuh istirahat ... aja!”


Freya merapatkan bibirnya lalu berkata, “Beneran Rey?! Mukamu pucet banget soalnya! Kami takut kalau kamu terjadi apa- eh?! Ya Allah Reyhan! Kamu mimisan lagi?!”


Reyhan yang baru mengetahui segera mengelap cairan darah itu dari luar hidungnya memakai telapak tangannya. Angga yang mempunyai pikiran dalam kondisi sahabatnya yang seperti ini, perlahan ia menopang punggung Reyhan untuk membantu membaringkannya di kasur.


“Yasudah, ayo mending baringan aja.” Angga merasakan tubuh Reyhan begitu sangat lemas kembali bahkan kedua matanya mulai sedikit menutup.


Setelah membaringkannya di kasur, Angga menepuk bahu Reyhan dengan menatapnya. “Sekarang lebih baik lo tidur aja, ya? Karena lo gak mau kami panggilkan dokter kalau begitu coba lo tidur, kemungkinan bisa reda.”


Reyhan bersama wajah lemas-nya mengangguk pada komando Angga. “Tapi ini gue tinggal tidur, nggak masalah?”


“Tenang aja, gak masalah kok. Yang terpenting kamu istirahat, biar sakit kamu yang tiba-tiba itu bisa cepat hilang. Mungkin kamu memang harus perbanyak istirahat total, kamu belum bener-bener pulih, Rey.” Freya menanggapi.


“Kita di sini sampai mama papamu pulang deh, kami gak bisa ninggalin kamu pulang kalau keadaanmu kayak gini. Tidur aja, Nyuk. Gakpapa kamu tinggal tidur, yang penting jangan tinggal kami mati.”


“Jova ah!”


Reyhan berusaha menarik bibirnya untuk tersenyum. “Iya, aku ngerti ...”


Angga mengangguk. “Udah, lo tidur. Biar gue yang bersihin darah lo ini.”


“Thanks pedulinya, Ngga.”


“Iya, oke.”


Reyhan kemudian memejamkan matanya tenang untuk mencoba tidur, sedangkan Angga mengambil secarik tisu basah di atas meja nakas untuk membersihkan darahnya yang telah mengering di atas telapak tangan kanannya. Angga mengangkat tangan Reyhan yang akan sahabatnya bersihkan. Sementara kedua sahabat perempuannya melihat diri Angga yang menghilangkan darah tersebut dari telapak tangan Reyhan secara perlahan-lahan dan telaten sebagai PMR lebih tepatnya wakil PMR.


Beberapa kemudian setelah Angga selesai membersihkan bekas darah Reyhan dan sedikit menarik selimut tebal Reyhan hingga sampai ke dadanya, tiba-tiba perut Jova berbunyi menandakan bahwa gadis itu lapar. Freya mendengus dengan sunggingan senyum berusaha menahan tawanya.


“Sana, ke kantin. Ini juga udah siang bentar lagi sore, perginya sama Freya biar ada temennya.”


“Sahabatnya kali, Ngga yang bener tuh.”


“Iya-iya, udah sana ke kantin. Bawa uang, gak? Kalau nggak bawa aku kasih.”


“Ya ampun, malaikat banget hatimu Ngga hehehe. Aku bawa uang kok, yasudah ah aku mau ke lantai satu untuk makan pop mie di kantin terus dicampur toping snack kacang pilus, pasti enak banget! Yok, Frey kita makan di kantin!”


Jova menarik tangan kulit halus putih Freya dengan agak kencang, namun sebelum pergi Freya menoleh ke belakang memanggil Angga, “Angga? Kamu mau nitip makanan sesuatu gak di kantin? Kalau iya sini uangnya biar aku beliin buat kamu.”


Angga tersenyum hangat. “Nggak usah, kalian makan aja. Aku nanti aja pas di rumah.”


“Nanti nyesel lho, makanan kantin yang ada di rumah sakit ini bikin ngiler semua. Yakin nih gak mau nitip?” tanya Jova.


“Nggak. Lagian aku nggak lapar, udah sana kalian pergi aja. Kasihan lambung kalian berdua kalau nggak segera diisi sama makanan.”


“Iya, Dokter!” serempak kompak Freya dan Jova kemudian meninggalkan Angga di kamar rawat bersama Reyhan yang sudah tidur lelap.


“Hei, aku bukan dokter!”


Cklek !


Angga mengembuskan napasnya kasarnya disaat Jova telah menutup pintu kamar rawat no 114 dan lantas itu Angga menggelengkan kepalanya pada sikap kompaknya kedua sahabat perempuan cantiknya tersebut. Angga yang masih menggenggam tisu basah di satu tangannya, memutuskan untuk membuangnya ke tempat sampah samping pintu ruang kamar rawat ini.


Angga seconet meremat sisi buku novel genre Thriller saat mata sipitnya melihat jelas bayangan menyeramkan Arseno dengan menggertakkan giginya murka pada sosok Arwah negatif pembawa sial dan malapetaka tersebut.


“Akan aku pastikan kamu dan Reyhan mengalami kesengsaraan yang begitu parah. Karena, kamu juga sudah termasuk incaran spesial ku seperti Reyhan.”


Angga meraung kemudian segera menutup buku novel tersebut dengan keras. Pemuda Indigo itu begitu sangat marah dan benci pada ancaman tidak berguna dari Arwah negatif seperti Arseno Keindre. Bertepatan setelah Angga menutup buku novel yang tadi Reyhan baca meskipun hanya sebentar, terdengar pintu kamar rawat dibuka oleh seseorang.


Hal itu Angga yang tengah meredam amarah serta emosinya langsung memutar tubuhnya kemudian. Pandangan mata Angga melihat sosok kedua orangtuanya Reyhan yang telah balik dari rumah nenek dan kakek sahabatnya. Kompaknya mereka berdua tersenyum ramah bertepatan juga Angga bangkit berdiri dan menghampiri Farhan serta Jihan.


“Siang Om, Tante.” Angga menyapa dengan sopan beserta menyalami tangan sepasang suami istri bergantian dengan mencium punggung tangan mereka masing-masing.


“Siang, Angga. Kamu tadi ngapain duduk di sana? Lagi meditasi, ya buat ngumpulin kelebihan kamu? Hehehehe.”


Angga menyengir dan terkekeh pelan. “Enggak kok, Om. Tadi Angga barusan ngambil buku yang jatuh.”


Angga mengangkat buku novel yang membuat masalah Reyhan pada Farhan yang cengengesan, lantas itu pemuda Indera keenam sahabatnya Reyhan melangkah menuju ke meja nakas untuk membuka laci dari meja tersebut dan setelah itu Angga menaruh buku novel yang ia pegang sekaligus mengambil buku novel genre Horor yang tadi Angga baca di kursi sofa. Usai sudah menaruhnya pada tempat semula, pemuda tersebut menutup laci meja nakas.


Angga menolehkan kepalanya ke kanan melihat Jihan yang di sampingnya Reyhan sedang membelai-belai kepala anaknya. Angga tersenyum kemudian berkata sesuatu pada mamanya Reyhan. “Tante nggak usah khawatir, Reyhan-nya cuman lagi tidur kok. Bukan pingsan kayak waktu itu.”


Mendengar penuturan Angga, Jihan menghentikan membelai kepala sang anak putra lalu menarik tangannya perlahan kemudian berbalik badan menatap sahabat anaknya yang tepat ada di belakangnya. “Lho, Angga ternyata juga bisa baca pikiran Tante, ya?”


“Iy-”


“Iya dong, Ma. Memangnya seorang anak Indigo kelebihannya cuman itu-itu aja? Ada banyak juga kali, aura luar biasanya. Tuh contohnya, bisa baca pikiran semua orang apalagi orang terdekatnya.”


Angga hanya mengangguk sedangkan Jihan menganga sedikit. “Oh begitu, maaf Nak, Tante baru tau setelah dijelasin sama Om Farhan.”


“Bukan masalah, Tante. Maklum karena Tante baru tahu.”


Jihan mengangguk senyum dengan hati lega dikarenakan rupanya Reyhan memang sedang tidur lelap dan sampai sekarang ia masih berada di alam mimpinya. Farhan yang tengah duduk di kursi sofa, menyuruh Angga untuk duduk di sampingnya dengan kode tangan. Pemuda itu pun menuruti beliau lalu berjalan mendekati sofa kemudian menduduki kursi empuk nan nyaman tersebut.


“Kamu sudah dari kapan di sini, ganteng?” Farhan yang sifatnya pasis seperti Reyhan, bukan sang ayah yang menurun sikap anak putranya akan tetapi anaknya lah yang menurun watak sikap sang ayah, merangkul Angga dengan senyuman ramah awet mudanya.


“Sudah dari tadi pagi sekitar jam delapan-nan, Om.”


“Oalah, tadi pagi sekitar jam delapan-nan, toh.” Angga menganggukkan kepala yang dirinya masih dirangkul oleh Farhan, dan Jihan ikut menghampiri lalu duduk di sebelah mereka berdua.


Farhan menyeringai menatap Angga yang diam dengan mata pandangan hadap depan. “Hehehehe, kamu kok makin dewasa makin ganteng, sih?”


Farhan sengaja mengacak-acak rambut Angga yang tertata rapi dengan cengengesan tidak jelas sedangkan Jihan mulai mengomeli kelakuan suaminya terhadap anak lelaki dari kedua sahabatnya yang ada di rumah komplek Permata.


“Papa! Jangan digituin dong rambutnya si Angga, rambut anaknya orang juga. Jahil banget sih dari dulu, padahal sudah tua hilangin sikap anak ABG-nya (Anak baru gede), ah!”


“Yaelah istriku yang paling manis, umur tua-tua gini tapi suamimu masih terlihat muda dan ganteng, kan? Hehehehe,” ucap Farhan yang terlalu kepedean seraya menghentikan tangannya yang membuat rambut Angga berantakan serta melepaskan rangkulannya dari tengkuk pemuda tampan tersebut.


‘Gak Reyhan, gak om Farhan kelakuannya sama aja.’


“Angga?”


“Iya, Tante?” jawab Angga sembari menyerong tubuhnya menghadap ke arah Jihan yang duduk tepat di sebelahnya.


Jihan mengukirkan senyuman lebarnya, Angga mengetahui wanita itu sedang membanggakan seseorang. “Nak, Tante mau bilang makasih banget ya dengan kamu!”


Jihan memeluk lembut tubuh Angga yang ada di dekatnya, Angga yang reflek kaget hanya membalas pelukan sang ibunya Reyhan dengan senyuman tipisnya. Angga mestinya tahu mengapa Jihan mengucapkan terimakasih padanya sekaligus memeluknya hangat.


“Tante tahu sekali, kamu lah yang mengubah sifat Reyhan yang kembali seperti sedia kala. Terimakasih Nak, terimakasih!”


Angga yang mendengarkan itu kemudian mengelus punggung Jihan. “Iya Tante, sama-sama. Angga tahu Reyhan hanya membutuhkan semangat dari seseorang, cuman itu saja sudah mampu mengembalikan motivasi semangat dan hidup anaknya Tante dan om. Angga juga tahu Reyhan nggak bisa terus-terusan seperti itu kalau Reyhan diberikan masukan semangat motivasinya.”


Jihan mempererat pelukannya. “Makasih ya, Angga. Tante begitu bangga sama kamu! Makasih atas peduli kamu terhadap Reyhan. Kamu memang sahabat yang hebat dan luar biasa.”


“Nggak sampai seperti itu kok, Tante. Angga di sini seneng bisa melihat Reyhan yang seperti Angga dan yang lain-lain kenal.”


Jihan tersenyum lebar setelah itu melepaskan pelukannya dengan lembut dari tubuh Angga lalu menyentuh satu pundak pemuda tersebut. “Iya, Angga. Sekali lagi Tante dan om makasih banget sama kamu ya, Nak. Ini kalau Tante bilangin semua ke mama dan ayahmu, pasti bangga banget mempunyai anak lelaki sepertimu.”


Angga tersenyum hambar. “Aduh, nggak usah pakai dibilangin ke mama sama ayah, kali ya Tante.”

__ADS_1


Jihan terkekeh geli pada ucapan Angga yang seperti menolak, sedangkan Farhan yang diam mendengarkan semua penuturan istrinya dan sahabat anak putranya mulai membuka suara, “Ngga, tetapi apa kamu masih ada tanpa enggan soal bersahabat sama Reyhan yang sekarang fisiknya sementara belum sempurna?”


Angga membalikkan tubuhnya dan menatap raut wajah Farhan yang sendu. “Om, nggak ada masalah bagi Angga pada kondisi Reyhan yang sampai sekarang kelumpuhan itu belum menghilang. Mau lama pun sembuhnya sampai kapanpun Angga tetap sahabatnya Reyhan selamanya. Dan yang Angga bener-bener berharap, Reyhan secepatnya sembuh supaya Reyhan bisa menjalankan aktivitas seperti biasanya.”


“Waduh, Om terharu banget!”


Farhan memeluk Angga dengan wajah sumringah senyuman bahagianya yang merekah di mukanya, Angga hanya tersenyum. Sepertinya pemuda Indigo itu sering menjadi kebanggaan semua orang. Walau sikapnya terkenal cuek, pendiam, dan terkadang sifat dinginnya kentara akan tetapi auranya begitu baik dan membuat orang yang melihatnya sangat nyaman dengannya terkecuali orang yang mempunyai siasat jahat dan buruk kepada Angga.


Farhan melepas pelukan itu yang usai dibalas dekapannya oleh Angga. “Pokoknya, Om makasih banget sama kamu ya, Ngga! Reyhan memang tidak salah pilih teman yang pada akhirnya menjadi sahabatnya. Om kira kamu bakal ninggalin Reyhan sahabatmu kayak di film-film gitu.”


“Eee, itu kan hanya film saja, Om. Belum tentu semua film yang semacam itu ada di kenyataan, intinya yang Angga bilang tadi .. Angga sampai kapanpun tetap sahabatnya Reyhan bahkan buat selamanya. Lagian, sahabat seperti apa kalau hanya melihat rupa dan fisiknya? Sebagai sahabat pastinya mendukung sahabatnya yang mengalami musibah sakit contohnya seperti Reyhan, kan.”


“Tuh Pa, dengerin yang Angga omong!”


“Iya-iya deh, Ma. Iya. Tapi Om tetap bilang makasih sama kamu ya, Ngga. Reyhan nggak sia-sia bersahabat dengan orang sepertimu. Om juga begitu bangga sama kamu.”


“Iya Om Farhan, sama-sama.”


Jihan kembali mengukirkan senyuman manisnya pada bibir tipisnya. “Oh iya, Angga kalau mau pergi pulang nggak apa-apa kok. Makasih ya sudah jagain Reyhan dan nemenin Reyhan.”


Angga menganggukkan kepalanya pelan sementara Farhan lumayan mencondongkan badannya ke depan untuk melihat ke istrinya dan bertanya pada wanita yang Farhan cintai-nya. “Lho, Ma? Angga tuh ke sini sendirian apa gimana?”


Jihan mengangkat kedua bahunya bermaksud tidak tahu. “Cuman Angga doang ya yang masih di sini? Yang lainnya termasuk Freya dan Jova udah pulang?”


“Oh, kalau mereka berdua lagi makan di kantin, Tan. Habis ini Angga mau nyusul Freya sama Jova ke lantai satu.


“Oalah, Freya sama Jova lagi ada di kantin. Hmmm, yaudah begini aja deh, daripada bolak-balik ke sini mendingan Jova dan Freya nggak perlu pamitan sama Tante Om, kasian pasti capek apalagi lantainya jauh untuk ke sini. Langsung pulang saja.”


“Oh, oke Tante kalau begitu. Angga pamit, ya.”


Usai berpamitan dengan menyalami tangan kedua orangtuanya Reyhan kemudian mengucapkan salam untuk pergi dari kamar rawat, Angga beranjak dari kursi sofa dan berjalan mendekati pintu untuk membukanya. Jihan dan Farhan saling memperhatikan Angga dengan senyumannya sampai Angga pergi keluar menutup pintu ruang perawatan no 114. Bersama dalam hatinya kedua orangtuanya Reyhan begitu takjub pada Angga. Kendati sifatnya begitu namun juga ada hati istimewanya ialah pembangkit motivasi seseorang.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Koridor Lantai 1 RS Wijaya


Di perjalanan menuju ke sebuah kantin, Angga nampak tengah sibuk merapikan rambutnya agar kembali tertata rapi dengan tangan kanannya. Kegiatan ringannya menjadi tontonan kedua gadis yang tengah saling asyik Ghibah di jalan masuk keluarnya kantin. Mereka yang melihat Angga yang merapikan rambut hitamnya seraya terus berjalan melangkah ke arah kantin, kemudian mulai membisik-bisik. Tentu saja membicarakan ketampanan Angga bahkan postur tubuhnya yang sempurna.


Angga telah masuk ke dalam kantin dan telah melewati kedua gadis itu dengan tampang cueknya, sebenarnya ia tahu kalau dua perempuan tersebut menggosipkan tentang soal dirinya. Tujuan Angga yang pasti adalah menjemput kedua sahabatnya yang sedang bersenda gurau di kursi meja kantin.


Kurang empat langkah lagi Angga telah tiba di meja kantin dua sahabat cantiknya, akan tetapi langkahnya di cegah oleh salah satu gadis yang tadi bermain gosip bersama temannya. Dengan lancangnya gadis itu menarik lengan tangan kiri Angga dan memasang wajah genitnya.


“Hai ganteng, boleh kenalan, nggak?” tanya gadis itu dengan mengedipkan kedua matanya beberapa kali.


Angga yang sengit pada tingkah centilnya gadis tersebut langsung menarik tangannya yang lengan tangannya di genggam oleh perempuan itu. Angga yang menatap gadis tersebut memberikan tatapan tajamnya.


“Ih kamu kok natap aku kayak gitu, sih? Makin ganteng deh.” Gadis itu dengan rasa tak sopan pada orang yang baru ia kenal, menyentuh dada bidang Angga dan mengelusnya lembut.


Angga yang sungguh tak sudi dan Ilfeel segera langsung menepis kasar tangan gadis itu yang menyentuh dadanya. “Tidak punya harga diri, ya? Memalukan.”


Angga melengos meninggalkan gadis itu begitu saja dengan wajah dinginnya sedangkan gadis yang ia tinggalkan kini hatinya begitu tertohok atas ucapan pemuda Indigo tersebut. Teman gadis itu yang bernama Shiren Agniera Jasmine menghampiri teman dekatnya tentunya bernama Terra Asmira Anjani cemberut karena perkataan Angga.


“Kenapa lo cemberut begitu? Udah dapet nomor WhatsApp-nya cowok ganteng itu?” tanya Shiren.


“Kagak! Dia mah ganteng-ganteng tapi judes! Nyebelin banget sih, bisa banget itu cowok bikin sakit hati cewek!”


Di sisi lain Angga meletakkan satu telapak tangannya di atas meja buat kedua sahabatnya yang tengah asyik ngobrol teralihkan pada Angga yang berdiri menatap mereka.


“Eh, lho Angga kok di sini? Enggak jaga Reyhan di kamar rawat?” tanya Freya.


“Mama papanya udah balik, kalian berdua gak usah pamit katanya langsung pulang saja. Ya sudah ayo pulang ke rumah, udah selesai kan makan-nya?”


“Udah dong! Tuh, lihat aku habis tiga pop mie,” tunjuk Jova dengan dagunya.


Angga menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis. “Ayo Ngga, kita pulang.”


Bersamaan ucapan Freya mengajak Angga dan Jova pulang, mereka berdua beranjak dari kursi. Namun baru saja ingin pergi meninggalkan kantin, Terra berteriak kaget pada Angga.


“Hah?! Heh cowok tampan! Kamu punya dua gebetan?! Curang banget!!”


Jova yang mendengus kesal menoleh ke arah Terra yang jaraknya rada jauh. “Heh! Mulut lo belum pernah di jotos sama anak Boxing, ya?! Ngasal kalau ngomong!”


“Eh udah Va, jangan marah-marah. Gak enak di lihatin orang-orang.” Freya yang mengusap bahu Jova kemudian menatap Terra dengan senyuman lembut.


“Maaf ya, tolong jangan salah paham dulu. Kami bertiga hanya sahabat kok, cowok yang kamu maksud ini bukan punya gebetan.”


Shiren yang muak mendengar suara lembut gadis polos itu langsung berkata kasar, “Halah! Gak usah sok lembut, deh lo! Oh iya kok lu berdua bisa cantik begitu, sih?!”


“Cih, Operasi plastik kali,” ucap dengki Terra dengan bersedekap di dada.


“Apa lo bilang?! Operasi plastik?! Heh, kami berdua gak buat masalah sama lo berdua, yak! Mau hah mulut kalian gue jahit?!”


“Maaf, sebaiknya kalau jadi perempuan tolong dijaga sikapnya. Apa kalian tidak sadar atas omongan kalian barusan tidak mencontohkan perilaku perempuan yang formal? Kalian juga tidak malu tingkah cara bicara kalian di lihat semua orang di sini? Dimana harga diri kalian berdua? Dan lagi, kalau kalian tidak mempunyai bukti yang kuat soal kedua sahabatku, tidak usah menuduh yang enggak-enggak. Jadi sekarang kalian pulang lah dan belajar tata krama yang baik dan sopan agar kedepannya kalian tidak lagi memalukan seperti ini.”


Semua orang yang ada di dalam kantin rumah sakit melongo pada segala ucapan Angga yang menasehati sekaligus menohok hati Terra dan Shiren. Muka Angga juga nampak dingin disaat dirinya berucap panjang lebar hanya untuk meladeni kedua gadis tersebut. Angga kemudian dengan hati cueknya pada Shiren dan Terra mulai mendorong pelan punggung Freya dan Jova untuk mengajaknya pergi ke parkiran.


“Dasar cowok jahat!” kesal Terra yang akan menangis pada perkataan Angga bahkan kini Shiren dan Terra menjadi bahan pembicaraan semua orang yang ada di dalam kantin atas perilaku tak ada harga dirinya.


Sikap Angga terhadap Terra juga membuat gadis itu yang menyukainya malah menjadi membencinya. Biarkan gadis itu benci padanya. Angga juga tak mau menyukai bahkan mencintai Terra terlebihnya sikapnya yang kecentilan dan tak tahu malu.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Di perjalanan menuju ke rumah sementara Jova telah mengambil jalur jalan arah kanan sedangkan seperti Angga dan Freya mengambil jalur jalan arah kanan, pemuda itu menggelengkan kepalanya pada tadi di parkiran yang dirinya di puji-puji kedua sahabatnya.


Dengan terkekeh dalam hati, ‘Dasar berlebihan.’


Sebentar lagi Angga dan Freya yang Freya ada di depannya Angga akan melewati selintas Jl Jiaulingga Mawar. Seketika itu Angga mempunyai niat besar untuk mengecek lokasi kematian Arseno pada waktu silam berlalu. Karena Freya menjalankan motor kesayangannya di depan Angga, Angga mempunyai kesempatan untuk meninggalkan Freya yang fokus menyetir motor.


Motor Angga yang telah mendekati jalan pembelokan arah, Angga arahkan stang motornya ke arah pembelokan tersebut yang tepatnya di jalan pintas rawan kecelakaan itu jika malam hari.


Kini Angga sudah memasuki jalan pintas penghindar dari macet yang sangat sepi tersebut, bahkan suaranya sedikit mencekam. Tentunya masih Angga ingat dimana letak lokasi kematian Arwah negatif tersebut yang tak henti-hentinya meneror Reyhan.


Angga menghentikan motornya di pinggir jalan, tepatnya lokasi kematian Arseno yang dulu jasadnya di angkat oleh para petugas kepolisian apalagi sampai sekarang garis kuning polisi itu masih ada meskipun telah lusuh dan kotor. Angga segera turun dari motornya kemudian melangkah ke dekat garis kuning yang ada di tepi jurang sedalam 30 meter.


Sekarang Angga terlihat sedang berdiri pembatas garis kuning polisi itu. Pemuda Indigo tersebut berdiam sejenak lalu menarik napasnya kemudian membuangnya, dan setelah itu ia memejamkan kedua matanya untuk menerawang kejadian masa lampau pada kematian Arseno yang dinyatakan dibunuh secara mengenaskan dengan penglihatan mata batinnya.


Seperti ditarik oleh waktu, Angga dilihatkan seorang pemuda yang di cegah kedua pria berbadan kekar namun sayangnya pria-pria itu saja yang hanya cuma nampak bayangan hitam sedangkan sosok pemuda itu sudah jelasnya adalah Arseno. Arseno begitu merasa terancam nyawanya bahkan raut wajahnya menunjukkan ketakutan yang tergambar. Salah satu pria itu yang murka langsung mencekal kedua tangan Arseno sementara pria satunya mulai mengancam dengan benda tajam ialah pisau yang berkarat. Arseno menggelengkan kepalanya dan mengatakan 'jangan' pada pria yang menggenggam pisau membahayakan nyawa pemuda berseragam SMA tersebut.


Dengan tak punya belas kasihan serta nurani hatinya, Arseno yang bermohon-mohon untuk tak membunuhnya ditolak oleh pria itu dan kedua mata Arseno di tusuk bergiliran dan mencukil-nya hingga bola-bola matanya menjadi bergelantungan keluar dari organ matanya, Arseno berteriak kesakitan sementara pria yang masih menggenggam pisau yang telah berlumuran darah Arseno tertawa dan menyayat seluruh wajah Arseno dengan lebar membuat wajahnya juga berlumuran darah dan darahnya tersebut mengenai seragamnya.


Angga merapatkan bibirnya karena dadanya kembali bergemuruh bahkan kepalanya terasa begitu sakit sedangkan pria yang mencekal kedua tangan Arseno mulai melepaskannya kemudian menendang dada Arseno hingga tubuh pemuda yang mereka jadikan korban terpental dan jatuh ke jurang. Di situlah Arseno tewas ulah kedua pria yang hanya bayangan.


Angga seperti di dorong oleh waktu pada masa sekarang dengan kilat membuat setelah itu Angga membuka matanya cepat. Angga meringis kesakitan pada dadanya yang terasa seperti di tusuk oleh puluhan paku, bersamaan Angga mencengkram dadanya dirinya terjatuh duduk lemas.


“Kamu lagi, Angga. Kamu kenapa ada di sini? Apakah kamu ingin mencari mati? Huahahahaha!”


Suara Arseno yang menyeramkan mendatangi Angga yang kesulitan untuk bangkit berdiri. Bahkan Arwah negatif itu bisa mendengar suara rintihan manusia Indigo itu yang rasa sakitnya melanda menyakiti Angga.


“Sini, aku bantu kamu berdiri.”


Bukan membantunya berdiri tepatnya membuat Angga mengambang di udara kemudian dengan kekuatan hantu negatifnya, Arseno membenturkan tubuh Angga di pohon dengan begitu keras. Angga hanya bisa menahan sakitnya dan sekarang Arseno mulai berjalan maju mendekati Angga kemudian tangan yang berlumuran darah itu mencekik kuat leher Angga.


“Argh! L-lepasin gue!”


“Hahahahaha! Tidak semudah itu, manusia Indigo bodoh!”


Arseno memperkuat cekikan-nya di leher manusia lelaki itu hingga wajah Angga memerah. Kemudian dengan mimik murkanya, Arseno menarik leher Angga ke samping kanan dan membanting tubuh Angga di tanah.


BRUGH !!!


Angga mengerang kesakitan dan terbatuk-batuk sementara Arseno jalan ke arahnya yang terbaring dengan mata terpejam kuat. Bertumbukan Angga kembali membuka matanya, Arseno berjongkok di dekat Angga. “Ingatlah, semuanya belum berakhir!”


“B-belum berakhir ...?”


Arseno menghilang dalam sekejap mata sedangkan Angga membalikkan tubuhnya perlahan menjadi tengkurap, hal itu memudahkan Angga untuk bangkit duduk. Usai berhasil, Angga berusaha berdiri. Meskipun sulit namun Angga berjaya bangkit berdiri.


Tahu apa yang akan dilakukan Angga? Ya, Angga membuka bagasi motor untuk mengambil botol air mineral dan akan meminum obatnya karena yang Angga rasakan saat ini, sakitnya kambuh. Tapi sialnya di bagasi tak ada botol air mineral, Angga lupa membawanya dari rumah. Sedangkan pandangan matanya mulai tidak beres lagi, dimana kini memburam tak jelas.


Angga menutup bagasi motornya dengan rapat tetapi bertepatan itu Angga memegang kepalanya dengan satu tangannya. Mau menelan obatnya bagaimana kalau ia tak membawa botol air minumnya sama sekali? Berupaya untuk tetap sadar, akan namun tetapi rasa sakitnya mengalahkan Angga yang bertahan pada keadaannya yang sedang buruk.

__ADS_1


Angga yang memegang satu stang motornya, dua tangannya terlepas dari stang motor sekaligus tubuhnya limbung ambruk ke samping dan terbaring di tanah. Rasa sakit kepalanya begitupun dadanya membuat diri Angga tak mampu menahan kondisinya hingga pada akhirnya kedua mata Angga terpejam dan dirinya hilang kesadaran di jalan senyap tersebut.


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2