
"Harapan terkadang tak selalu terjadi sesuai yang diinginkan. Karena itu, aku malas untuk berharap."
*
Jean mengangguk. "Terus, sekarang mau ngapain?"
“Latihanlah, kita perlu ngatur nada suara lo biar pas sama musiknya.” Jean menaikkan alisnya mendengar ucapan Aris.
“Emang lagunya apa?”
“Kita berempat sepakat lagu Shawn Mendes Hold On buat lomba sama lagu Beautiful Goodbye-nya Chen buat pembukaan pensi,” jawab Kaisha.
“Oh.”
Nino tersenyum aneh. “Lo pasti gak tau lagunya.”
“Ha?” Jean terbahak. “Lo kali yang gak tau,” balasnya tajam. Satu hal, Jean paling tidak suka diremehkan.
Rega yang paham situasi mulai memanas segera memetik senar bassnya untuk mengalihkan perhatian. “Kapan mulai nih?”
Nino dan Aris mulai mengambil posisi, sementara Kaisha mendudukkan dirinya pada satu-satunya kursi yang tersisa. Jean mengedarkan pandangan. “Gue duduk dimana?”
“Kursinya cuma ada empat,” sahut Nino.
“Pake kursi gue aja nih Je,” tawar Rega namun Jean menggeleng pelan, menolak.
__ADS_1
Gadis itu menarik sebelah sudut bibirnya, memundurkan tubuh hingga menyender pada tembok. Melihat bagaimana mereka mulai memainkan alat musik disambung suara Kaisha yang menyanyikan lagu Hold On.
Rega sesekali melirik sambil tersenyum minta maaf, namun Jean tak menghiraukan. Sebagian dirinya sedang berpikir, sebenarnya untuk apa dia berdiri di sini sementara posisi vokalis masih dipegang Kaisha?
Sebagian dirinya lagi tengah kembali ke masa lalu. Dalam diam, Jean merasa sesuatu yang familiar menyusup dalam hatinya. Jean memejamkan mata sambil membatin, jangan lagi.
*
Usainya latihan--yang sebenarnya tidak bisa Jean sebut latihan karena dirinya hanya diam menjadi pengamat--yang bertepatan dengan bel pulang, gadis berkuncir kuda itu melangkah di koridor yang ramai dengan kelewat santai, bahkan kakak kelas yang kebetulan lewat bersama rombongannya mendapat sapaan alis oleh Jean.
Namun langkah gadis itu kemudian terhenti ketika sesuatu terasa menusuk-nusuk bagian dalam perutnya. Ah, kumat disaat yang tidak tepat, batinnya lalu dengan langkah sebiasa mungkin, Jean meneruskan berjalan hingga tiba di kelasnya yang tinggal beberapa orang.
“Kenapa lo Je? Penyakit nenek?” tanya Miko melihat jalan Jean yang terbungkuk-bungkuk.
“Gue kebelet.” Setelah mengambil tasnya, Jean segera melesat meninggalkan Miko dan beberapa murid yang sedang melaksanakan piket kelas.
“Maaf-maaf.” Jean kembali melesat, sebelum lengannya terasa ditarik lumayan kuat membuatnya terhuyung ke belakang.
“Apaan sih?” tanpa sadar suara Jean naik satu oktaf.
Aris berdiri menatap tanpa ekspresi, “Kesepakatan.”
Jean mengangguk paham lalu menyuruh pemuda itu segera mengambil kendaraannya karena perih sudah semakin menusuk-nusuk perutnya.
Dalam perjalanan pulang, Jean berusaha meredam ringisan dari mulutnya hingga keringat dingin mulai membasahi wajah manisnya. Aris hanya diam setelah Jean tanpa basa-basi menyebutkan alamatnya sejak di sekolah.
__ADS_1
Tanpa sadar, Jean menempelkan keningnya pada punggung Aris--yang sedang mengendarai motor dengan kecepatan normal--karena sakit akibat maagnya semakin menjadi.
Lewat spion, pemuda itu melirik penumpangnya dengan alis mengerut. "Lo jangan nyari kesempatan,” desis Aris tajam.
“Siapa yang nyari kesempatan,” bantah Jean namun keningnya tetap menempel hingga Aris menghentikan laju motornya di sebuah kost-an.
“Makasih.”
Jean segera melesat membuka gerbang kost yang tampak terkunci dari dalam. “Kak Qia! Kak Dena! Buka gerbangnya tolong!”
Tak ada sahutan.
“Mbak Tika!” panggilnya pada pemilik kost-an namun lagi-lagi tak ada yang menjawab.
Jean kembali berusaha membuka gerbang, namun keringat yang mengalir membuat tangannya licin. Aris yang masih diam di atas motornya mulai melangkah turun mendekati gadis yang sedang mengumpat sambil tetap mencoba gerbang.
“Lo gak bawa kunci cadangan?” Suara datar Aris membuat Jean menoleh.
“Ngapain lo masih disini?”
“Ngeliatin orang goblok teriak,” balasnya sinis. “Kunci cadangan lo mana?”
“Kalo gue punya, gue gak bakal teriak kayak orang goblok!” ucap Jean sambil menormalkan ekspresi.
“Kenapa lo?” Sepertinya Aris mulai peka dengan kondisi bungkuk ditambah wajah pucat gadis di hadapannya.
__ADS_1
“Penyakit gue, kumat kayaknya.”
***