
Tak ada hentinya lelaki misterius itu membacakan pengucapan sebuah mantra ampuhnya yang ada di dalam buku tebal berwarna hitam. Setiap suara yang keluar dari mulutnya, berhasil membuat Angga tersiksa di atas batu datar lonjong. Pemuda Indigo tersebut juga sulit mengeluarkan suara yang menggelar penjuru ruang bawah tanah kastil untuk berteriak melampiaskan rasa kesakitan yang ia terima.
Dadanya terasa terbakar, napasnya seolah dihimpit oleh benda yang berat dan juga keras. Kedua telapak tangannya saling mengepal bersama keringat yang keluar dari tubuhnya.
Angga memejamkan matanya erat saat isi dalam kepalanya seperti ada bebatuan yang mengendap. Saat ini, bibir pucat Angga tidak bisa terbuka sedikitpun karena sihir dari sosok misterius bersama komplotannya yang termasuk sekumpulan Sekte masih berlangsung dan berfungsi untuk diri Angga.
Beberapa saat kemudian, muncul sebuah lingkaran bintang bersama cahaya merah yang menyoroti tubuh Angga nang mulai melemah tak berdaya. Lingkaran bintang yang berwarna emas tersebut merupakan dari julukan yang dibuat oleh mereka. Tak lama setelahnya, tubuh milik Angga terangkat dengan sendirinya untuk menuju dekat lingkaran bintang emas yang mengambang di atas udara.
“Dengarkan aku, Angga. Seperti apa yang kau lihat sekarang, itu adalah suatu mantra terkuat di dunia yang dijuluki sebagai logo lingkaran bintang iblis. Dan silauan cahaya merah ini yang menyorot tertuju padamu akan sanggup menyerap energi aura Indigo-mu. Dan kau, selamanya pun tak akan pernah bisa lagi memiliki kelebihanmu itu, huahahahaha!”
Suara percakapan sosok misterius yang berkomunikasi dengan Angga, membuat lelaki tampan itu terkesiap hingga menggelengkan kepalanya kuat. Tetapi apa boleh buat? Pengguna mantra dibawah tanah kastil ini tak mungkin menerima gelengan kepala yang Angga berikan.
“Aku tahu kau pasti menolak keras, aku tahu kau posisi keadaan ini sedang dilumuri rasa takut yang hebat. Tenang saja, aku tak akan mencoba mencabut nyawamu. Aku hanya akan merebut energi Indigo milikmu. Kau harus menerima takdir ini dengan lapang dada, karena ini sudah waktunya kau ucapkan selamat tinggal pada energi yang telah kau kuasai, pertuankan selama bertahun-tahun dahulu.”
“Tidak! Jangan lo coba-coba untuk mengambil semua yang gue miliki sejak dini! Lo sama sekali nggak berhak merebut kelebihan yang telah gue kuasai!” bentak Angga berani usai sihirnya telah ditarik oleh pemuda sosok misterius dengan muka tak kasat mata.
“Semuanya sudah terlambat. Dan kau termasuk gagal untuk menjaga kelebihan Indigo-mu yang sudah lama kau genggam di dalam jiwamu. Maaf kata, aku tak akan mau menuruti segala apa ucapan yang keluar dari mulutmu itu. Ritual ini harus selesai dengan mulus tanpa penyesalan di hati.”
Meskipun jiwanya mulai berkecamuk tersulut emosi yang sengaja dipancing oleh pemuda berjubah dan bertudung hitam itu, namun tubuh Angga sudah sangat lemah. Bahkan sedikitpun gerakan, tidak sanggup Angga fungsikan. Dirinya hanya bisa pasrah saat kekuatannya perlahan diambil secara bertahap, itulah yang Angga rasakan.
Kulit seluruh tubuhnya macam dikelupas oleh alat modern tertentu, napasnya seakan kandas serta menghilang dari paru-parunya. Sampai akhirnya Angga berteriak kencang dan panjang karena rasa sakit itu melebih daripada sebelumnya ia diangkat oleh sesuatu yang merupakan hal gaib. Ya, mampu mengeluarkan suara karena sihir mantra telah dilepas dengan lelaki sosok misterius tersebut.
Angga tak tahu setelah ritual ini selesai ia akan hanya hilang kesadaran atau malah malangnya meninggalkan dunia untuk selamanya.
Lingkaran bintang iblis itu telah memudar dan menghilang begitupun cahaya merah yang menyorot tubuh lemahnya Angga yang masih mengambang. Lantas, perlahan tubuh Angga turun ke bawah hingga mendarat kembali di atas batu lonjong.
Seperti mayat tetapi bukan mayat, wajahnya begitu suram dan kusam. Bawah dua kelopak matanya agak menghitam, sungguh tak berdaya Angga sekarang. Sementara para mereka yang menonton tragedi mengasyikkan bagi lelaki misterius dan sekumpulan para Sekte tersebut, tertawa bahagia dikarenakan kekuatan dari indera keenam milik Angga telah ada digenggaman barang kekuasaannya mereka.
Dan Angga? Sudah tidak memiliki kelebihannya itu yang selama ini ia jaga, pertuankan bertahun-tahun semenjak dahulu masih kecil, begitupun Angga sudah tidak memiliki tenaga sedikitpun yang ada di dalam tubuhnya.
Kedua matanya berkontak pada mereka semua yang sedang tertawa kemenangan melihat Angga yang telah sangat laun. Mata sayu miliknya terus menatap mereka dengan lemah hingga keluarlah sebuah kata dari mulut Angga yang terdengar lirih.
“Sungguh keterlaluan ...”
Dirinya sudah sangat tak sanggup menahan keadaannya, sampai kedua matanya saling terpejam dengan tenang dan damainya dalam kondisi mulut bungkam yang kering serta juga pucat.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Kedua mata Angga terbuka secara bersamaan dengan melotot, napasnya lagi-lagi tersengal-sengal karena mimpi buruknya yang terulang kembali. Lelaki tampan itu segera mengusap-usap wajahnya yang lumayan pucat tersebut lalu melepaskan kedua telapak tangannya dari muka tampannya.
Angga diam sejenak untuk mengatur laju napasnya yang tidak menentu, setelahnya ia menundukkan kepalanya dengan detak jantung mulai balik normal sediakala. “Mimpi itu lagi! Sudah ketiga kalinya ini gue diberikan mimpi buruk mengenai kelebihan gue yang dirampas oleh sosok misterius itu.”
Angga menenggelamkan wajahnya di atas lengan tangan kanannya yang disangga lutut kaki bagian kanan juga. Mimpi buruk itu seolah seperti nyata, dan sudah jelas mimpinya tidak semena-mena untuk disepelekan dengan lelaki pemilik indera keenam tersebut. Mengapa? Mengapa mimpi buruk yang ia alami kembali menjumpainya di dalam tidurnya?
Angga mengangkat kepalanya dan menghadap ke depan dinding tembok gua dengan kondisi pandangan yang kosong. “Kenapa hidup gue selalu seperti ini? Terkadang gue ingin menyerah atas semuanya yang menimpa gue, tetapi tidak ada gunanya untuk menyerah begitu saja. Kapan gue bisa merasakan kebahagiaan tanpa jeda?”
“Pernah bahagia tetapi hanya sesaat saja lalu kembali diserang dengan bencana yang mendatangi gue. Apakah dulu semasa muda, ayah juga seperti apa yang putranya alami? Atau cuma gue saja yang mengalami semua keadaan meresahkan ini?”
“Semakin menanjak usia, semakin juga bencana yang gue hadapi sangat besar dan berat. Meskipun begitu, tetapi gue tidak akan pernah mencoba atau berniat membuang mata batin ini. Gue pasti tetap selalu menggenggam kelebihan yang gue kuasai ini di jiwa, hingga sampai mati.”
Angga menutup matanya sejenak dengan menghembuskan napasnya halus lalu menarik wajah kulit putih tampannya ke atas. Di situ, Angga beralih menggigit dinding dalam bawah bibirnya bersama renungan pikiran tentang kehidupannya yang berdurasi panjang dan jentaka ini.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Sudah setengah perjalanan tempuh digunakan oleh Reyhan dan juga Jova, pandangan matanya konstan fokus untuk mencari keberadaan kedua sahabat dan keempat temannya mereka. Bahkan meskipun tiada angin yang tiba, suasana hutan ini sangat amatlah dingin ditambah nuansanya yang mencekam.
Jova menatap pemandangan menyeramkan itu sambil mendekap tubuhnya untuk mengatasi rasa kedinginan yang ia rasakan, sementara Reyhan sang seorang lelaki yang tak tahan dingin entah mengapa terlihat biasa saja pada suasana dingin tersebut.
“Kok kamu B (Biasa) aja, sih? Gak dingin, apa?” tanya Jova bingung pada Reyhan yang tumbenan.
“Diem, ah! Aku lagi fokus nyari keberadaan mereka semua. Kira-kira mereka ada dimana, ya? Mana sepi, lagi ini hutan.”
“Yeh, yang namanya hutan pasti sepi, lah! Kecuali tempat pasar raya hari Minggu! Well, aku khawatir banget sama Freya ... dia mana berani memandang hutan horor kayak begini. Tapi aku harap dia ada pawang penjaganya, deh. Kasihan kalau dia harus menguatkan nyali untuk menghadapi kegelapan malam bulan purnama,” celoteh panjang Jova.
“Freya? Harapnya dia di sana sama Angga. Karena kalau bersama pacarnya, sudah fix Freya aman terkendali sama cowok tangguh sahabat kita itu,” tanggap Reyhan menatap Jova sekilas lalu menghadap ke arah depan kembali.
__ADS_1
“Aamiin ... eh, Rey? Itu apaan yang ada darah-darah gitu dibawah pohon besar sebelah sana? Kok kayak orang yang lagi berbaring, ya? Hm cek aja, ah!”
Lihatlah, sekarang Jova berlari ke pembelokan arah kiri untuk mengecek siapa yang berbaring dibawah pohon besar tersebut bersama karung cokelat nang ada di samping orang itu.
“Woi! Tadi sudah minta maaf dan gak bakal ngulangin lagi! Lah, ini malah sama aja!” protes Reyhan tak digagas oleh Jova membuat dirinya mau tidak mau harus menyusul sahabat perempuannya.
Setelah berhenti dan menatap orang yang sedang berbaring di atas tanah yang berlumuran cairan pekat merah di sisinya, mata Jova terbelalak dengan melangkah mundur cepat. “Dibunuh, Coy!”
Pekikan suara yang terdengar dari Jova membuat Reyhan menjadi penasaran lalu gesit mendatangi gadis cantik tersebut. Reyhan begitu Syok bukan main setelah melihat apa yang dirinya lihat, seorang lelaki berumur setara dengan usianya terlihat dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Badannya terbelah menjadi dua, darah-darah segar berceceran dimana-mana begitupun organ-organ tubuh yang terpotong seperti habis digigit.
“Ulah sadisnya siapa, ini?!” pekik Reyhan dengan mata melotot sembari menutup kedua mata Jova pakai salah satu telapak tangannya.
“Ih, Reyhan! Aku gak bisa lihat apa-apa!” omel Jova yang matanya ditutup oleh sahabat lelakinya.
“Pemandangan seperti itu gak layak untuk kamu tonton! Sudah, ayo kita pergi saja dari sini! Firasatku udah mulai gak enak lagi.”
Reyhan memutar tubuh Jova ke belakang lalu menyingkirkan telapak tangannya dari kedua mata gadis itu agar Jova bisa melihat sekitarnya. Lelaki Friendly tersebut mulai mendorong pelan tubuh Jova untuk menuntun pergi dari tempat ini yang tak layak dikunjungi oleh siapapun kecuali orang jahat atau hewan-hewan buas yang mematikan.
Baru satu kali melangkah, kaki kanan Reyhan tak sengaja menginjak benda sesuatu. Sontak, Reyhan langsung melihat ke arah bawah begitupun Jova yang mendengar benda nang telah terinjak oleh sepatu milik sahabat lelaki humorisnya.
Jova memiringkan kepalanya dengan rada menyipitkan dua matanya setelah apa yang ia tatap, sementara Reyhan mulai membungkukkan badannya untuk mengambil benda kecil berwarna hitam itu. Dirinya membolak-balik posisi senjata tersebut.
“Pistol? Kenapa ada benda ini di sekitar sini?” Setelah bertanya pada diri sendiri, Reyhan menolehkan kepalanya ke belakang.
“Jangan bilang cowok itu mati bukan karena di makan hewan buas, melainkan dibunuh oleh seseorang? Tapi siapa yang sudah membunuh dia secara sadis seperti ini? Misterius banget,” ucap Reyhan hingga lelaki berambut cokelat dengan gaya style kerennya menangkap sebuah sepasang kaki yang posisinya selonjor di atas tanah.
“Kaki siapa, tuh?” penasaran Reyhan dengan memiringkan badannya untuk melihat siapakah ia.
“Va, nih kamu pegang dulu pistolnya.” Reyhan menyerahkan pistol hitam itu kepada tangan Jova yang sudah menerimanya.
Reyhan perlahan berjalan ke depan mencari tahu siapa pemuda itu yang terduduk dengan tanpa ada pergerakan di tubuhnya. Sedangkan si Jova melihat-lihat model dari senjata pistol lalu mengocok-ngocok untuk memastikan apakah masih ada peluru atau tidak.
“Ini pistol masih bisa difungsikan gak, ya?” Tangan Jova mulai membuka bagian untuk memasukkan beberapa peluru ke dalam pistol. Setelah Jova cek, rupanya masih ada beberapa peluru yang terlihat.
Jova tidak mungkin langsung menarik pelatuk pistolnya hanya untuk memastikan masih berfungsi apakah sebaliknya. Tomboy-tomboy si gadis tersebut, tetapi ia tidak berani memainkan sebuah pistol yang pastinya sangat berbahaya bila ada di tangan yang tidak jitu menggunakannya.
Lagi dan lagi Reyhan tak sengaja menginjak benda sesuatu hingga membuat dirinya mengangkat kakinya. Terdapat sebuah topeng wajah yang sedikit ada noda darah di situ. “Kalau ada benda ini, gue yakin kalau di sini tempatnya seorang psikopat!”
Reyhan menemukan seorang pemuda yang matanya terpejam dengan luar mulut penuh darah. Mukanya nampak banyak luka lebam hingga membuat dirinya mengalami babak belur, Reyhan perlahan mendekatinya untuk mengecek pernapasan hidung milik lelaki berpakaian serba hitam tersebut.
Baru saja akan membungkukkan badannya dan membentangkan satu tangannya ke arah pernapasan hidung psikopat kanibal tersebut, ia tersadar dari pingsannya lalu langsung menarik ujung atas baju hoodie Reyhan kemudian beralih mencekiknya secara menggencet leher milik lelaki Friendly itu sampai membuat Jova terkejut setengah mati.
“Wah, ada target baru. Dari tatapan mata, sepertinya lo adalah lelaki yang lemah tidak seperti lelaki yang kuat dan pemberani itu bahkan hebat membuat gue mengalami babak belur,” katanya.
’Apa yang dimaksud lelaki yang kuat dan pemberani itu adalah Angga si sahabat gue? Kalau iya, dimana dia sekarang?’ tanya batin Reyhan seraya menahan rasa cekikan dahsyat yang diberikan psikopat itu.
“Bangsat, lu! Argh! Lepaskan gue!!” berang Reyhan dengan kedua tangan sekuat mungkin melepaskan dua telapak tangan milik lawannya yang malah mencengkram lehernya.
“Jova! Lemparkan pistol yang kamu pegang itu ke arahku!” titah tegas Reyhan dengan setengah berteriak.
“A-apa?! O-oke! Nih, tangkap!!”
Reyhan dengan cepat mengangkat tangannya saat pistol hitam tersebut melayang gesit menghampirinya. Dengan tangkasnya, Reyhan menangkap senjata membahayakan itu, dan saatnya ia mengakhiri hidupnya sang psikopat kanibal malam dibawah bulan purnama yang masih cerah.
Reyhan menepatkan sasarannya untuk bersiap menyerang lelaki seumurannya itu dengan senjata pistol yang sekarang ada di genggamannya. Meskipun lehernya masih dicekik kencang bersama tenaga maksimalnya, Reyhan mampu menarik salah satu sudut bibirnya ke atas istilahnya tersenyum miring.
“Lo sudah salah target untuk elo jadikan entitas, Bro. Tamatlah lo malam ini!!”
DOR !!!
Jova menutup kedua telinganya setelah mendengar suara tembakan yang menggelegar ke penjuru tempat yang dirinya datangi bersama Reyhan. Akibat peluru yang telah tertembus di dalam kening sentral milik psikopat kanibal tersebut, kini puncak endingnya lelaki tersebut kehilangan nyawa dan tewas di tempat ia berada.
Reyhan memang sudah dicap tergolong sebagai pemuda yang berjiwa sadis dengan penjahat manapun.
Jova membuka dua pendengaran telinganya lalu beralih menutup matanya dengan jari-jemari sedikit terbuka untuk ia intip. Melihat kondisi dahi psikopat itu yang telah berlubang dan mengeluarkan darah hingga merembes turun serta mengalir ke bawah ujung dagunya.
__ADS_1
Reyhan sedikit terbatuk dengan memegang lehernya yang memerah lalu menghembuskan napasnya, di posisi Reyhan yang sudah jatuh terduduk membuat Jova berlari memarani sahabatnya.
“Rey! Kamu gak kenapa-napa, kan?!” cemas Jova sembari meneliti luar tubuh Reyhan.
Reyhan menggelengkan kepalanya dengan senyum. “Aku gak kenapa-napa, kok. Ini lehernya doang yang agak sakit karena perbuatannya dia, untung saja aku langsung membunuhnya. Dengan alasan karena cowok itu membahayakan keselamatan nyawa orang lain.”
Jova hanya mengangguk paham lalu mulai membantu Reyhan bangkit berdiri. Lelaki tersebut kemudian memasukkan pistol hitam miliknya psikopat kanibal yang telah tewas itu ke dalam saku kantong hoodie kuning olive punyanya untuk sebagai simpanan.
“Lho? Kok kamu simpen situ pistolnya? Buat apa?” tanya Jova tidak mengerti sesudah Reyhan memasukkan senjata itu.
“Untuk sebagai senjata melawan jika ada penjahat atau pembunuh lagi di hutan ini. Kamu pasti tahu, kalau hutan yang kayak gini mesti begitu berbahaya dan gak aman buat kita semua, dan nggak seharusnya kita berada di hutan dunia lain.”
“Kalau bukan karena sosok itu yang menyeret kita, gak mungkin juga kita ada di hutan seperti ini! Andai kita berdelapan waktu itu enggak turun ke bawah tangga untuk mencari jalan keluar, semua ini gak bakal terjadi,” keluh Jova.
Reyhan menghela napas. “Mungkin sudah nasib dan takdir kita, mau kita putar waktu juga mustahil.”
Wajah ekspresi Jova berubah muram sampai detik kemudian gadis tersebut baru sadar kalau di bagian muka Reyhan terdapat bercak darah karena muncratan darah dari tubuh psikopat kanibal itu.
“Reyhan, mukamu ada darah,” tunjuk Jova membuat lelaki itu menyentuh bagian dari wajahnya hingga ia mendapat suatu cairan merah pekat yang telah menempel di dua jarinya.
“Pas aku tembak tadi emang darahnya muncrat ke mukaku. It's okay saja.”
Jova menggelengkan kepalanya lalu segera memasukkan tangan kanannya di dalam kantong pakaian baju kodok jumpsuit jeansnya untuk mencari benda sesuatu macam kain atau lainnya yang bisa buat membersihkan darah itu dari wajahnya Reyhan.
Hingga Jova mendapatkan sebuah dua lembaran tisu yang posisinya tergabung jadi satu. “Eh, ada tisu! Pakai tisu ini saja, yang penting mukamu bersih dari najis cairan itu.”
“Sini, biar aku yang bersihin.”
“Gak usah, aku saja. Kamu diem aja kayak patung, aku mau mengelap bekas bercak darah yang ada di bagian mukamu,” tolak Jova lalu mulai membersihkan wajah sahabatnya hingga bersih sempurna tidak ada satupun tertinggal darah di sana.
“Kalau aku disuruh diam kayak patung, berarti sekalian gak boleh nafas, dong?” tanya konyol Reyhan.
“Apaan sih, kamu?! Ya kamu bisa mati, dong! Nanya kok yang aneh-aneh. Nih, udah bersih.”
“Hehehehe! Thanks banget, ya.”
“Yoi. Mau lanjutin jalan, gak? Atau mau istirahat di tempat haram ini?” tanya Jova dengan bergidik takut.
“Gila, apa?! Masa istirahat di sini? Mending kita lanjutkan perjalanan kita saja, yuk. Kita berdua juga sama sekali belum menemukan sahabat-sahabat kita dan temen-temen kita,” ajak ramah Reyhan.
“Iya, ayo. Don't menyerah! Kita harus bisa menemukan mereka agar setelah sudah lengkap kembali, bersama-sama kita mencari titik jalan keluarnya dari dalam hutan ini!” semangat Jova dengan melangkah terlebih dahulu.
Reyhan yang melihat semangat sahabat perempuannya, tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja lalu berjalan menghampiri Jova kemudian mulai balik melanjutkan perjalanan mereka secara beriringan.
Di dalam perjalanan kembali menyusuri seramnya nuansa hutan, kedua remaja itu melihat ada sebuah gua besar yang ada di ujung sana. “Rey! Ada gua, mau istirahat di dalem sana, nggak? Soalnya aku ragu kalau masuk.”
“Ragu masuk kenapa?”
“Takut kalau ada hewan-hewan buas kayak singa, harimau, atau beruang yang menghuni gua itu.”
Reyhan menatap gua itu sesaat. “Ada betul juga sih, kamu. Guanya juga kelihatan gelap banget, mana aku gak bawa senter, lagi. Balik badan saja, yuk? Kita cari tempat lain.”
Jova memanyunkan bibirnya dengan wajah suramnya. “Duh, padahal aku udah capek banget. Pengen istirahat di dalem gua itu, tapi takut kalau ini nyawa direnggut sama binatang buas. Yasudah, yuk! Mending kali ini aku nurut sama kamu, daripada perang dunia. Tau gak, sih? Aku lagi males adu congor denganmu!”
“Idih! Yasudah ayo balik. Ngoceh mulu dari tadi, gak capek apa itu mulut?”
“Lebih banyak ngoceh kamu, lah daripada aku! Tuh mulutmu sampe berubah jadi mie goreng,” seloroh Jova dengan tertawa renyah.
“Haiissshh ... Dasar cewek muka Sableng! Bisa gak, sih jangan suka ngatain diriku yang buat harga ketampananku rendah?!” umpat Reyhan.
“Gak bisa, sudah latah sejak awal kenal sama kamu waktu masih berumur tiga belas tahun!”
Reyhan mendengus jengkel dan ingin sekali memelintir mulut gadis cantik tersebut yang memang suka sekali mengejeknya walau sekedar bercanda. Ya, memang bersenda gurau tetapi tetap saja membuat Reyhan merasa kesal karena tingkah perilaku Jova yang sebenarnya setara dengan sifatnya sang lelaki Friendly.
Kini mereka berdua memutuskan memutar langkah meninggalkan gua dan mulai mencari tempat nyaman untuk bersinggah yang sekiranya aman buat remaja-remaja berwajah finis itu. Mereka tidak tahu saja, bahwa kediaman kedua sahabatnya yaitu Angga serta Freya berada di dalam gua yang ranum tersebut.
__ADS_1
INDIGO To Be Continued ›››