
Sepasang kekasih itu terus berlari kencang walau sebenarnya rasa sakit di dadanya Angga belum kunjung menghilang, tetapi karena situasi malam ini yang begitu genting dan sangat menikam dirinya harus menahan kesakitan yang Angga terima daripada jiwanya serta jiwanya Freya terancam hilang karena ulah pemuda mematikan itu yang mengejar mereka berdua dengan penuh nafsu.
Sementara lelaki bersenjata tajam itu terus mengejar dua mangsa malamnya bak seperti manusia sedang mengejar agresif seekor kedua kelinci untuk dijadikan makanan spesial. Bahkan pemuda membahayakan nyawa itu tetap tertawa tanpa henti, tanpa adanya lelah.
Meskipun jarak lari antara sepasang kekasih itu dan pemuda tersebut sangatlah jauh, tetapi Angga tetap terus mengajak Freya untuk lari sampai sang pembunuh itu sulit menemukan jejak mereka berdua.
Karena ada jalan pembelokan arah kiri, mereka berlari ke sana untuk menutup jejak pemuda tersebut yang masih jauh dalam mengejarnya. Tetapi alangkah sialnya, Angga beserta gadisnya melihat tembok besar yang sebagai jalan buntu. Tidak ada jalan lain yang bisa mereka lintasi.
Jika kembali dan berlari ke arah jalan yang lurus, kemungkinan bisa jadi mereka berdua tertangkap pemuda mematikan tersebut yang maniak mengejarnya. Freya di belakang Angga amat gusar karena tidak ada jalan lain untuk sanggup dilewati.
“Kamu tunggu di sini dulu, ya? Aku mau mengecek dibalik tembok yang ada di sana. Jika itu adalah jalan yang bisa kita lalui, kita lanjutkan.”
Freya yang kembali diserang rasa ketakutan hanya menganggukkan kepalanya karena tidak ingin menambah beban Angga. Merasa sangat lelah dan tidak memiliki tenaga yang cukup untuk berlari, Freya membungkukkan badannya untuk mengatur napasnya sejenak hingga balik normal.
Angga melangkah mendekati tembok yang telah dilapisi oleh semen hingga menjadi permukaan tekstur yang halus. Karena dirinya merupakan lelaki nang mempunyai postur tubuh yang tinggi, Angga hanya perlu satu kali melompat sampai kedua tangannya berhasil menggapai atas tembok yang dingin.
Angga mengintip balik tembok tersebut dan ternyata itu bukan ide yang baik bila ia serta Freya melewatinya dikarenakan dibalik tembok itu ada sebuah jurang yang sangat dalam. Lantas, Angga segera turun dari tembok itu dan balik badan menghampiri Freya secara berlari.
“Bagaimana, Ngga?” tanya Freya selepas mengatur laju napasnya.
“Dibalik tembok itu rupanya ada jurang yang sangat dalam, tidak selamat untuk kita ke sana. Mending sekarang kita cari tempat persembunyian sementara agar dia nggak berhasil menemukan kita.”
Angga mengulurkan tangannya pada Freya lalu diterima oleh kekasihnya dengan tangan. Mereka berdua kemudian mulai bersama-sama mencari tempat untuk bersembunyi dengan pandangan mata mereka masing-masing.
“Angga! Mungkin kita bisa bersembunyi di dalam kotak-kotak jerami itu?” tunjuk Freya yang langsung ditanggapi kekasihnya melihat arah tunjukan dari gadis cantiknya.
Angga diam sejenak lalu melangkah mendekati tumpukan beberapa kotak jerami yang bentuknya berantakan. Lelaki tampan itu sedikit membungkukkan badannya untuk memastikan serta mengecek apakah tempat persembunyian itu muat buat menampung dirinya begitupula Freya sebagai tempat perlindungan.
“Jerami ini luas dan juga muat untuk menjadi tempat persembunyian kita, ayo cepat jalan ke sini. Sebelum kita berdua kepergok dia yang masih mengejar diri kita,” titah Angga dengan melambaikan tangannya untuk menyuruh Freya berjalan mendekatinya.
Yang pertama memasuki tempat luas ke dalam jerami yang macam gua adalah Freya kemudian terakhir adalah Angga. Lelaki tampan dan gadis cantik tersebut saling duduk berposisi jongkok dengan kondisi mulut mereka bungkam masing-masing serta tidak bersuara.
Di sisi lain, Freya yang melihat karung cokelat panjang nang bercampur bercak-bercak darah di ujung atas karung itu dari celah lubang bagian tumpukan kotak jerami tersebut, mengernyitkan dahinya karena tidak tahu itu adalah karung apa, sementara Angga tetap diam berjaga-jaga kalau pemuda mematikan yakni adalah seorang psikopat itu tiba dan berinisiatif mencari keberadaan ia beserta pujaan hatinya.
Berselang menit kemudian terdengar suara langkah kaki sepatu lelaki dengan napas yang ngos-ngosan. Bersama nyalinya nang terkumpul maksimal, Angga mencoba menggeser tempat posisinya untuk mengintip siapakah ia di luar. Setelah tahu itu adalah sosok pemuda psikopat yang tadi mengejarnya begitu juga Freya, Angga langsung kembali ke posisi semula dan mulai menatap kekasihnya dengan sebuah kode mata serta jari telunjuk yang ia tempelkan di bibirnya.
Freya menganggukkan kepalanya paham bahwa ia disuruh senyap jangan sampai bersuara sedikitpun, karena yang Angga rasakan secara membaca kelebihan dari lelaki pembunuh itu, pendengarannya amat sangat tajam.
Angga kemudian menyingkap helai rambut hitam halus milik Freya yang menutupi daun telinga untuk mendekatkan bibirnya. “Jika kamu ingin berbicara sama aku atau ingin memberitahu aku sesuatu, katakanlah dengan secara batin. Aku bisa mendengar isi suara di relung hatimu.”
Kepala Freya manggut-manggut dengan melemparkan senyum getirnya pada Angga. Detak jantungnya terus berdegup kencang, perasaannya gusar tak karuan, terlebih psikopat bertopeng itu telah berada di depan matanya begitupun mata lelaki tampannya yang memperhatikannya secara intens serta juga bersama sorot tatapan tajamnya.
Di sisi lain, pemuda tersebut yang mencari-cari kedua mangsa malamnya kini menghentakkan satu kakinya dengan menggeram kesal di dekat karung cokelat bawah pohon besar nan tingkat tinggi. Dan ia tidak tahu kalau mangsa-mangsa yang tadi ia kejar sekarang tengah berada di dalam tumpukan kotak jerami yang bentuknya nyaris seperti gua.
“Dimana mereka berdua, hah? Berani sekali mereka menghilang dari gue!” Kemudian pemuda sang jiwa psikopat itu menoleh dan menatap karung besar.
“Cih, tidak mengenakkan! Padahal gue ingin menjadikan mereka bertiga sebagai mangsa gue sekaligus di malam indah bulan purnama ini.”
Freya yang ada di dalam tumpukan jerami bersama Angga, menutup mulutnya dengan mata terbelalak. ‘Apa yang dia maksud barusan? Menjadikan mereka bertiga sebagai mangsanya sekaligus? Bukannya target yang dia kejar adalah aku dan Angga? Apa jangan-jangan yang ada di dalam karung itu adalah merupakan korban yang akan dia mangsa habis ini?!’
Angga yang mendengar kebisingan panik dari suara hati Freya, menoleh ke arah kekasihnya yang pandangannya terpaku pada seorang pembunuh itu yang Freya intip melalui celah-celah bagian kotak jerami.
Angga memejamkan kedua matanya pelan seraya menyentuh kepalanya yang tiba-tiba terasa diserang oleh puluhan pukulan keras seperti hantaman. Angga berusaha menahan sakitnya di waktu berbahaya seperti ini apalagi di sisinya ada kekasihnya yang sedang bersamanya.
Freya tidak sengaja menoleh ke arah lelakinya yang nampak berusaha kuat menahan rasa sakit di kepalanya. Meskipun khawatir, namun gadis cantik itu tetap mampu mengontrol diri untuk tidak bersuara. Tangan kirinya menyentuh punggung kekasihnya yang mulai terasa lemas, wajahnya memucat jika bisa diartikan kemungkinan sakitnya kembali kambuh.
Sampai akhirnya mata Freya terbentur pada psikopat itu yang seperti tengah mengeluarkan orang dari dalam karung cokelat yang dipenuhi bercak-bercak darah. Gadis lugu itu balik menutup mulutnya saat melihat banyak luka tusukan di sekujur tubuh korban yang sudah dikeluarkan oleh pemuda mematikan tersebut, sementara Angga tetap tenang.
Kalau Freya lihat dengan baik-baik, wajah dari seorang lelaki berusia 17 tahun itu sangat pucat pasi bak mayat. Memang betul, mangsa pertama milik psikopat itu telah tewas karena dibunuh sadis olehnya.
Dengan kondisi tubuhnya yang kurang sehat, Angga merangkul hangat Freya karena ia tahu kalau kekasihnya saat ini hatinya tengah dilumuri rasa ketakutan dan kepanikan. Bahkan sekarang, gadisnya mengeluarkan air matanya karena tidak tega melihat luka-luka darah yang ada di seluruh tubuh si korban.
Sementara psikopat itu dengan kedua tangannya yang kasar, merobek pakaian tipis korbannya hingga menjadi bertelanjang dada. Kemudian setelah itu, ia menyentuh dada milik target pertamanya hingga turun menyentuh pusar perut dengan tertawa bahagia dan Angga tahu apa yang akan psikopat tersebut lakukan setelah ini.
JLEB !!!
Freya yang hendak reflek berteriak langsung menutup mulutnya rapat dengan air mata terus mengalir membasahi kedua pipinya. Meskipun yang diperlakukan sadis itu bukanlah orang yang ia sayangi tapi tetap saja Freya tidak tega dan tidak kuat orang lain yang disakiti secara tragis seperti ini.
Setelah menusuk dada tengah sang korban dengan sangat dalam pakai satu pisaunya, lelaki bertopeng itu menyayatnya perlahan penuh nikmat ke bawah hingga sampai ujung perut bawah target yang telah menjadi mangsa pertamanya. Darah nampak bercucuran merembes keluar hingga berakhir membasahi tanah kering atas tubuh tanpa nyawa korbannya tersebut.
Gunanya itu adalah untuk membelah badannya agar ia bisa mengeluarkan organ-organ tubuh yang dirinya mau. Dengan membuka kulit badan yang sekarang sudah terbelah menjadi dua, psikopat itu menggunakan pisau-pisaunya untuk membuka badan korbannya tersebut yang telah disuguhkan banyak darah yang berceceran serta menjijikkan.
Seketika Freya yang melihat aksi mengenaskan dan super sadis itu, membuat tubuhnya lemas hingga gadis cantik tersebut terhuyung limbung ke belakang tetapi dengan tangkas Angga segera menopang tubuh Freya untuk menahannya supaya tidak terjatuh.
Freya memejamkan matanya erat lalu langsung menenggelamkan wajah pucatnya di bahu Angga dengan tangisan derasnya bahkan isakan tangisnya tertahan karena oleh keadaan yang gawat darurat. Angga ingin mengeluarkan kekasihnya segera dan mengajaknya pergi dari situ, tetapi situasi kondisinya sedang cukup begitu tidak aman.
Angga kembali menatap memperhatikan pemuda psikopat itu yang menarik organ usus panjang dari tubuh perut korban yang telah ia buka, kemudian alangkah tidak menduganya, lelaki tersebut memakan daging mentah manusia yang berlumuran darah. Bahkan saat ia asyik memakannya, darah dari usus besar itu menetes banyak ke tanah.
Freya yang kembali melihatnya, langsung menggembungkan kedua pipinya dengan perut yang amat bergejolak ingin muntah. Rupanya lelaki itu bukan hanyalah psikopat yang suka membunuh dan menyiksa tetapi juga seorang kanibal pemakan daging spesies yang sama.
__ADS_1
Melihat nikmatnya memakan daging mentah manusia itu yang telah korbannya bunuh dan ia jadikan santapan makanan malamnya dibawah bulan purnama, membuat pandangannya Freya memburam drastis lalu kesadarannya menghilang karena sungguh tidak kuat melihat situasi mengerikannya yang buat jiwanya gentar.
Kedua mata Angga mencuat menatap mata kekasihnya terpejam dengan tenang. Ia guncang-guncang tubuh lemahnya pun, Freya tetap bergeming dan tidak kunjung bangun. Mulai di sinilah Angga bingung harus berbuat apa, ingin pindah tetapi situasinya masih sangat berbahaya, bila ia menguatkan rasa tekad dari keras kepalanya itu akan malah mengancam nyawanya Angga sendiri.
Hingga waktu kembali mengamati aktivitas pemuda psikopat sekaligus kanibal itu dengan tetap menopang tubuh lemah Freya, detak jantung milik Angga dan hela napasnya nyaris ingin berhenti saat matanya tertangkap basah oleh mata sang pembunuh itu yang sepertinya menyadari keberadaannya di dalam sebuah tumpukan jerami.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Di dalam perjalanan mencari kedua sahabatnya dan keempat temannya, Reyhan dan Jova berjalan secara berjajar. Lelaki Friendly tersebut tengah sibuk mengusap-usap pipinya yang lagi-lagi memerah, terasa panas serta juga perih. Andai saja ia tidak membuat masalah dengan gadis Tomboy tersebut, tidak mungkin dirinya sampai diberikan cap tangan pedas seperti ini.
“Kamu ngapain sih dari tadi kayak gitu? Sakit gigi?” tanya Jova mengerutkan dahinya.
Reyhan menoleh sebal ke arah Jova yang bisa-bisanya bertanya seperti itu seolah ia tidak memiliki kesalahan tentang yang tadi. “Amnesia kamu, hah?! Kamu lupa kamu habis apain aku sampe pipiku merah merona begini?! Kamu tampar, Bego!”
“Oh kena tamparan itu, ya? Bego-bego gini tetapi aku bahagia, hahaha!”
Penuturan jawab Jova membuat Reyhan matanya kembali melotot dengan kedua telapak tangan mengepal erat. “Berarti kamu seneng melukai sahabatnya sendiri?! Dasar calon psikopat!”
“I don't care, hihi!” respon Jova dengan sengaja mengeluarkan suara nada cempreng.
“Cewek titisan mba Kunti!” geram Reyhan terus mengusap pipi kirinya yang masih terasa panas.
Sampai tiba-tiba di dalam perjalanan tenang mereka, gadis dan lelaki yang mempunyai rambut cokelat tulen seiras itu seperti mendengar suara alat mesin nang sedang digunakan oleh seseorang. Tatkala, mata Jova langsung membelalak dengan hati yang sangat lega.
“Rey! Di sana ada orang! Ayo kita minta bantuan sama beliau, cepetan!!” seru Jova lalu berlari meninggalkan sahabat lelakinya dan mencari sumber mesin yang dibunyikan.
“Jova, tunggu! Anjir, malah ninggalin gue, lagi! Perasaan gue juga kenapa jadi gak enak banget, ya? Jovata Zea Felcia! Haiissshh ... itu anak bener-bener gak tau sikon apa gimana, sih?!”
Reyhan yang tak mungkin membiarkan Jova lari sendirian, langsung menyusulnya dengan berlari menghampiri sahabat perempuannya yang semakin menjauh dari jaraknya meskipun punggungnya masih bisa Reyhan tatap dari kejauhan.
Jova menghentikan langkah larinya yang kilat setelah melihat tubuh seorang pria nang posisinya membelakangi gadis Tomboy tersebut yang telah dipenuhi banyak peluh keringat bahkan sekarang Jova membungkukkan badannya untuk mengatur napasnya sejenak lalu memanggil orang itu yang kini malah mematikan alat mesinnya.
“Bapak!! Akhirnya saya bisa menemukan orang di sekitar sini untuk meminta pertolongan!” pekik senang Jova seraya menegakkan badannya.
“Berani sekali lo menyebut gue dengan panggilan 'Bapak'! Gue belum menikah!!” damprat orang itu yang rupanya masih muda.
“Eh maaf, Pak- eh Bang! Habisnya rambutnya sudah ada ubannya, kirain udah bapak-bapak!” Jova mendempetkan kedua telapak tangannya untuk memohon ampun pada lelaki yang nampaknya umurnya lebih tua darinya.
Lelaki berambut putih yakni pasti dan tentunya di semir itu, tersenyum sinis pada Jova dengan sorot mata sadisnya hal tersebut membuat gadis berpakaian jumpsuit kodok itu menelan ludahnya kasar. Pemuda itu kemudian melangkah mendekati Jova bersama tawanya, dan Jova baru tahu yang dibawa lelaki itu adalah sebuah gergaji mesin yang telah dicampuri lumuran darah berbau amis.
“Abang mau apa?! Saya di sini hanya ingin meminta bantuan saja. Kami tersesat di dalam hutan ini, Bang. Saya juga belum bisa menemukan beberapa anak remaja seusia saya dan itu adalah kedua sahabat dan keempat teman saya,” jelas Jova dengan nada agak gemetar seraya berjalan mundur.
“Oh, tersesat, ya? Berikan gue uang sebesar lima puluh ribu atau seratus ribu sekarang juga!” sangkak lelaki itu dengan nada paksa.
“Ini bukan negoisasi, ini perintah! Cepat serahkan daripada nyawa lo habis di tangan gue detik ini juga!”
“Saya gak punya uang, Bang! Alias gak bawa! Orang saya tersesat gimana bisa bawa duitnya?! Yang bener aja dong, Bang!” lawan Jova.
“Wah ... ternyata seorang gadis gerangan kayak lo gini pinter membantah orang yang lebih tua, ya! Baiklah bersedia-lah hari ini lo mati dan tidak akan pernah bisa lagi melihat matahari esok!!”
Pemuda itu dengan murka, menyalakan gergaji mesinnya hingga mengeluarkan bunyi yang amat bising memekakkan telinga lalu mulai akan melakukan aksi membunuhnya. Jova semakin melangkah mundur dengan gerakan cepat hingga salah satu kakinya tersandung oleh batu dan membuat dirinya terjatuh keras di tanah dalam posisi terduduk.
“Hua jangan, Bang!! Saya belum punya pacar sama juga belum menikah! Masa depan saya masih sangat panjang lho, Abang! Apa yang bakal saya raih kalau Abangnya aja menghabisi nyawa saya?! Saya masih sayang ama nyawa saya! Saya juga belum sempat menulis surat wasiat untuk keluarga kecil saya yang ada di kota Jakarta, Baaaang!!!”
“Hah! Itu bukan urusan gue! Dan lo harus mati karena sudah berani menolak permintaan gue!!”
Lelaki itu semakin meracau tidak jelas, emosinya sudah tak terkontrol dan tak terkendali lagi. Sama sekali tidak mempunyai rasa belas kasih empati untuk gadis cantik ini yang berteriak ampun hingga menutupi seluruh mukanya menggunakan kedua telapak tangannya sekaligus.
“WOY!”
Pemuda tersebut menoleh ke belakang tubuh Jova yang gemetar karena takut dibunuh secara sadis. Terlihat sosok lelaki berpakaian hoodie kuning olive dengan rambut cokelatnya bersama mata tajamnya, siapa lagi kalau bukan Reyhan?
“Siapa, lo? Berani banget lo gangguin gue! Oh, lo pasti pacarnya si cewek ini, kan?” tanya pemuda itu dengan angkuh sembari mematikan mesinnya.
Reyhan langsung memunggungi Jova yang sahabat perempuannya posisi dalam terduduk sambil menelungkupkan wajahnya. “Bang, tolong jangan bunuh sahabat saya! Abang mau minta apa? Permintaan yang Abang minta ke saya, akan saya turutin asal jangan tamatkan nyawa sahabat saya!”
Jova perlahan membuka kedua telapak tangannya dan menurunkannya dari muka setelah mendengar suara lelaki yang familiar di pendengarannya. Usai melihat sebuah postur tubuh jangkung yang dirinya kenali di depannya, Jova melongo.
“Reyhan ...”
Lelaki itu mengangguk dengan masih memasang wajah angkuhnya lalu meletakkan gergaji mesin punyanya di dekat depan sepasang sepatu Reyhan yang pemuda humoris itu kenakan. Reyhan melihat penampakan darah amis tersebut di badan alat membahayakan itu, bergidik ngeri sambil memundurkan langkahnya tanpa menabrak Jova.
“Lo tadi bilang akan menuruti permintaan dari gue? Baiklah, punya jumlah berapa uang yang lo gembol?” tanyanya sembari melipatkan kedua tangannya di dada.
“Jumlah uang?” Dengan wajah suramnya, Reyhan memasukkan salah satu tangannya di kantong celana panjang army miliknya untuk mengeluarkan semua kertas uang yang dirinya bawa.
Setelah dicek, rupanya Reyhan memiliki jumlah uang yang begitu banyak. Ada dua lembaran uang warna hijau, tiga lembaran uang warna ungu, satu lembaran uang warna biru, terakhir ada juga satu lembaran uang berwarna merah. Sangat banyak, bukan?
Jova yang menatap tujuh jumlah uang lembar kertas yang dipegang oleh Reyhan. ‘Buset, tajir bener itu cowok?! Banyak amat, dah duitnya! Gila, padahal bukan dari keluarga konglomerat ...’
__ADS_1
Lelaki yang melihat beberapa lembar uang nang dipegang oleh Reyhan, langsung ia rebut paksa. “Banyak juga duit yang lo punya. Sangat cocok untuk membelikan semua kebutuhan makanan dan minuman buat adik gue, thanks bantuannya.”
Reyhan melongo dengan mata berkedip-kedip karena semua uangnya dirampas oleh pemuda tersebut yang balik badan meninggalkannya begitupun Jova usai mengambil gergaji mesinnya.
“B-bang! Kok duit saya Abang ambil semuanya?! Belum saya hitung juga ada berapa!” teriak Reyhan kurang terima semua uangnya miliknya direbut olehnya.
Lelaki itu mendengus lalu menatap tajam Reyhan. “Mau hidup lo dan pacar lo berakhir di sini? Barang yang sudah gue ambil, gak mungkin gue kembalikan!”
“J-jangan, Bang!! Yasudah kalau mau Abang begitu, silahkan pergi dan jangan balik sekalian!” pekik Reyhan namun sudah tidak digubris oleh pemuda tersebut yang nampak senang mendapatkan dana untuk kesehatan saudara kandungnya.
Reyhan menatap kedua telapak tangannya yang kosong itu dengan nanar. “Uang saku yang dikasih bokap gue dirampas abis. Maaf ya, Pa ...”
Jova yang terduduk langsung bangkit berdiri lalu reflek spontan memeluk sahabat lelakinya bersama hatinya yang lega. “Makasih banget ya udah menyelamatkan diriku! Coba saja kalau kamu gak dateng cepet, kemungkinan arwahku udah meluncur ke Akhirat.”
Kedua mata Reyhan terbelalak terkejut, lagi-lagi Jova memeluk tubuhnya untuk kesekian kali. Ya, memang sahabat dari lama tetapi Reyhan masih belum terbiasa jika sampai dipeluk oleh perempuan terkecuali sang ibunya dan adik sepupunya. Bahkan perilaku Jova membuat dirinya terpaku.
‘Gue diemin atau gue balas, ya? Gini-gini kan cewek ini adalah orang terdekat gue.’
Reyhan menghela napasnya panjang lalu memilih membalas pelukannya Jova dengan mulai memasang senyuman ramah khasnya. “Iya. Mangkanya, jangan asal pergi. Lihat situasi kondisinya dulu, aman atau enggak. Untung saja kamu gak dibunuh sama dia, kalau iya bagaimana?”
“Iya-iya, maafin aku. Gak aku ulangi lagi, deh kecerobohanku yang tadi- eh kok aku meluk kamu?!” Jova langsung melepaskan pelukannya dari tubuh lelaki sahabatnya dengan ekspresi terperangah.
“Bukan salahku, kamu tadi meluk aku. Yasudah aku peluk gantian. Ck! Sudahlah mending kita lanjut jalan aja daripada diem-dieman gini, yang ada ujungnya jadi saling canggung.”
Jova mengangguk dengan wajah malu. “Tapi uangmu udah habis total karena aku, Nyuk.”
“Don't matter. Cuman uang doang, mending uang yang menjadi korban bukan nyawa kita berdua yang menjadi korban. Kalau harta masih bisa dicari, tetapi kalau nyawa jelas gak bisa bahkan nggak bisa diganti,” jelas detail Reyhan untuk Jova.
Gadis Tomboy berambut cokelat panjang sepinggang itu, tersenyum simpul pada penuturan ucapannya Reyhan yang sungguh begitu memukau hatinya. Sementara Reyhan posisi berdirinya berhadapan di Jova dan itu masih menampilkan senyuman ramahnya yang merekah di wajah tampannya.
“Ternyata ngeselin begitu tapi kamu memiliki sifat dan penuturan kata yang bijak ya, Rey. Hahaha!”
Reyhan yang ditertawakan Jova setelah memujinya sesuai kejujuran hati, ikut tertawa dengan menggelengkan kepalanya. Baguslah, mereka berdua akhirnya kembali akur tidak seperti sebelumnya yang saling cekcok dan mengejek satu sama lain.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
BUAGH !!!
BUAGH !!!
BUAGH !!!
Terdengar suara pukulan-pukulan keras dan hebat di antara Angga dan sang psikopat kanibal tersebut. Ya, setelah mengetahui kediamannya Angga bersama Freya, pemuda pemakan daging manusia tersebut memberi sebuah pelajaran untuk Angga karena sudah membuat mood hatinya hancur walau setengah. Sepertinya psikopat satu itu memiliki sifat negatif yang gampang emosi, mencak-mencak tak karuan dan sebagainya yang termasuk negatif.
Beberapa serangan yang diberikan lelaki bertopeng wajah itu ke Angga, berhasil Angga hindari meskipun tubuhnya terasa lumayan remuk karena berkali-kali psikopat itu membanting tubuhnya di tanah bahkan melemparkannya sekalipun. Pakaian yang dipakai Angga pun menjadi kotor karenanya.
Kali ini psikopat yang mengamuk pada Angga, menikam mata pisaunya ke arah sasaran target keduanya. Namun dengan gesitnya, Angga langsung mengelak dengan cara memiringkan kepalanya lalu menangkap tangan lawannya dan memelintir kencang tangan psikopat itu lalu lutut Angga bergerak untuk menendang perut pemuda berpakaian serba gelap tersebut tepatnya mengenai bagian ulu hatinya.
“Uagh!!!” teriak psikopat itu dengan merintih kesakitan sembari memegang perutnya.
Bahkan tak sampai di situ saja Angga menyerang balik lelaki seorang kanibal tersebut, Angga justru menambah serangan miliknya dengan menendang dada bidang psikopat tersebut hingga tubuhnya terpelanting menabrak kotak tumpukan jerami tempat persembunyiannya Angga dan juga kekasihnya yang gadis cantik itu belum sadarkan diri setelah mengalami Syok berat.
“Huk!! Uhuk-uhuk!!!” Angga menatap pemuda itu yang terbatuk sekaligus mengeluarkan darah dari dalam mulutnya walau mukanya masih tertutupi oleh topengnya.
Angga mendekati perlahan bersama langkah kaki sepatunya lalu tangannya terulur membuka paksa topeng wajah yang dikenakan psikopat nang sekarang tubuhnya lemah karena dibuat oleh Angga. Sangar, bukan?
Bertepatan saat Angga telah membuka topeng tersebut, mata lelaki berpakaian hitam itu terpejam dengan damainya. Bisa Pemuda tampan pemilik indera keenam tersebut pastikan bahwa sang psikopat kanibal telah hilang kesadaran, belum tewas di tempat.
Angga membuang topeng wajah yang telah terkena darah mulut psikopat itu ke sembarang arah lalu mulai menghampiri tubuh Freya yang tidak berdaya itu, meskipun masih di dalam ruang tumpukan kotak-kotak jerami tetapi si lawan yang menjadi pertarungan malam Angga tidak hingga menubruk raga pujaan hatinya.
Setelah menyingkirkan kotak-kotak jerami yang telah berjatuhan karena disebabkan dihantam oleh tubuh psikopat kanibal tersebut, Angga mengangkat tubuh lemahnya Freya untuk dirinya gendong. Lelaki tampan berkulit putih bersih itu, menatap wajah pucat sang mata cahayanya dengan nanar.
“Kamu pasti sangat Syok, ya melihat adegan tadi? Tenang saja, sekarang sudah baik-baik saja. Dan aku akan membawamu ke tempat yang aman.”
Setelah berbicara pada Freya dengan lembut meski tak direspon oleh gadis berwajah cantik jelita itu yang macam boneka, Angga menggerakkan langkahnya untuk membawa Freya pergi dari tempat mengerikan tersebut. Bahkan menurut yang Angga rasakan, dirinya sama sekali tidak membawa beban karena berat tubuh milik Freya cukup ringan baginya.
Angga terus berjalan menyusuri gelap senyapnya hutan itu kembali untuk mencari tempat hangat dan aman untuk Freya dan dirinya. Usai menempuh perjalanan beberapa kilometer, mata sipit Angga menangkap sebuah gua yang jaraknya masih jauh dari ia berada bersama Freya yang ia bawa.
Tanpa berhenti melangkah untuk menerawang isi dalam gua gelap yang ia tatap saat ini, Angga langsung mendapatkan secercah mengenai tempat tersebut. Tidak ada marabahaya seperti hewan-hewan buas di dalam sana. Kesimpulannya, sangat cocok untuk kedua remaja itu menyinggahi gua tersebut buat sementara waktu.
Angga menelisik setiap ruangan yang ada. Gelap tentu pastinya begitu setelah dirinya memasukinya tanpa ada rasa takut sedikitpun. Angga terus melangkah hingga menemukan tempat beristirahat untuk mereka berdua, jujur saja sebenarnya Angga begitu letih dan untung saja dirinya masih kuat menahan rasa sakitnya yang menyerang kepalanya.
Angga perlahan menurunkan tubuh Freya sekaligus berjongkok. Angga meletakkan raga kekasihnya dan menyandarkan kepala beserta punggungnya di belakang dinding gua dengan begitu hati-hati, setelah itu lelaki tampan tersebut mulai mendudukkan pantatnya di tanah lalu kedua kakinya ia selonjor-kan karena pegal.
Di situ, Angga menghembuskan napasnya panjang. Di lubuk hatinya, ia merasa lega akhirnya bisa terbebas dari psikopat kanibal tersebut kendatipun Angga hanya mampu membuatnya pingsan tidak hingga meninggal dunia.
Sampai sekarang Freya juga belum membuka matanya dan itu Angga sebagai pacar merasa sedikit khawatir terhadap gadisnya, mungkin ini akan menjadi malam yang sangat panjang setelah Angga pikir. Kini, Angga menarik pelan kepala Freya untuk ia letakkan di atas bahu kirinya, tangan kanan kekasihnya juga ia genggam di atas kakinya.
Setelah cukup lama menatap dinding tembok batu gua yang ada dihadapannya meski berjarak beberapa meter dari ia duduk bersama Freya, kedua mata Angga memejam karena sudah tidak bisa mengalahkan rasa kantuknya yang amat berat.
__ADS_1
Tidur dengan sang kekasih yang belum pula siuman, dan Angga tidak tahu apa selanjutnya yang akan terjadi dengannya. Karena setelah Angga selidiki, hutan ini sangat berbahaya untuk disambangi. Ya, Angga siap bersedia bila ada sesuatu yang menimpanya esok.
INDIGO To Be Continued ›››