
Usai Anggara di pukul tengkuknya dan menjadi tidak sadarkan diri, kini kedua tangan Anggara bagian pergelangan tangan di borgol. Posisi kedua tangan Anggara terentang sementara kedua kakinya di rantai oleh besi dengan di gembok bersama kunci.
Freya dan Jova sedari tadi belum sadarkan diri setelah membentak-bentak Cameron, tentunya Freya Jova di suntikkan obat bius yang efeknya hilang kesadaran. Ruangan bawah Kastil Afsemoerdo tersebut menjadi jauh lebih sepi serta sunyi.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Di suatu area tempat yang jauh lebih pengap. Siapa saja yang berada di dalam tempat tersebut akan menjadi tak betah dan secepat mungkin ingin segera melarikan diri dari area itu.
Reyhan yang di salah satu kursi dua tangan yang di ikat dibelakang sedangkan mulutnya di tutup oleh lakban. Reyhan belum kunjung sadarkan diri yang sebelumnya di gebuk-gebuk beberapa sosok yang menyakitinya. Beberapa lama menit kemudian Reyhan yang menutup mata, sekarang ia mengernyitkan mata mengerjapkan mata beberapa kali. Pandangan yang buram itu lama-lama jadi jelas.
Reyhan melihat sekeliling tempat dimana ia berada. Mata Reyhan melotot karena melihat tengkorak-tengkorak bercak-bercak darah yang di kepungi banyak lalat. Bau busuk menyeruak masuk ke dalam penciuman hidung Reyhan buatnya ia ingin muntah di tempat. Detak jantung Reyhan berdebar marathon sesekali menelan salivanya saking ketakutan.
Drap...
Drap...
Drap...
Suara langkah sepatu yang masuk ke dalam ruangan tersebut membuat Reyhan menolehkan cepat ke sumber suara. Reyhan mengerutkan jidatnya, seorang pemuda seumurnya, berbadan jangkung seukur tinggi Reyhan, mengenakan kostum berjubah hitam. Mata pemuda tersebut bersorot mata tajam sipit begitu juga kulit yang putih.
Reyhan menjadi begitu marah menduganya orang tersebut yang menyekap ia disitu. Reyhan menggerakkan tubuhnya yang rasanya terkunci karena kedua tangannya di ikat tali sangat kencang.
“Mmmmmppp!! Mmmmmpp!!” Hanya suara erangan tak jelas itu saja yang keluar dari Reyhan, sebabnya mulutnya ditutupi oleh lakban.
Lelaki muda yang melempit kedua tangan di dada tersenyum remeh dan segera berjalan melangkah untuk melepas lakban dari mulut Reyhan, usai di lepas, Reyhan mulai mencak-mencak kepada lelaki muda tersebut yang gayanya angkuh sadis.
“Siapa lo?! Apa mau lo dari gue hah?!”
“Kata-kata itu selalu terdengar di telingaku.”
“Jawab pertanyaan gue, brengsek!!”
“Perlukah aku menjawabnya?”
“Santai banget lo nanyanya, LEPASIN GUE!!!”
“Hahahaha memangnya dengan kau meninggikan nada seperti itu, aku takut dan akan melepaskan-mu begitu saja? Tentu saja tidak pemuda penakut!”
‘Anak sampah ini darimana tau gue cowok penakut?!’
“Baiklah aku akan menjawab pertanyaan-mu, aku menyekap-mu disini karena ada satu hal keinginanku. Dirimu adalah umpan untukku sekarang.”
“Umpan? Lu mau apain gue?! Jangan macem-macem ya lo!”
“Dengarkan aku ya bodoh, sahabatmu sebentar lagi akan menjadi tumbal spesial ku,” ucap Cameron dengan menaikkan dagu Reyhan ke atas.
Reyhan yang sengit langsung melimbai kepala ke samping untuk menyingkirkan tangannya yang menaikkan dagunya lalu kembali lagi menatap Cameron yang rasa takutnya mulai tandus. Giginya menggertak, serta rahangnya mengeras.
Cameron tersenyum menyeringai. “Kau mau tahu siapakah sahabatmu yang akan menjadi tumbal spesial ku .. ya, dialah Anggara.”
DEG !
“Jangan ... jangan lo gunain Anggara sebagai tumbal lo, bajingan!”
“Kenapa? Kenapa harus Anggara yang jadi tumbal??!! Dasar jiwa berhati Iblis!!”
“Kau ini memakiku tanpa melihat kondisimu sekarang, aku bisa loh langsung membunuhmu. Makanya jangan kau kata-katai aku yang tidak-tidak, kalau tidak siaplah nyawamu akan hilang sekejap mata.”
“Kenapa? Lu gak suka gue ngatain lu kek gitu?! Emang kenyataanya begitu kan! Hati lu semua Iblis, hati sampe pikiran!!”
Cameron dengan wajah sadisnya menarik hoodie abu-abu Reyhan. “Heh, kau tak takut kah denganku?”
“Cih, ngapain gue takut sama orang Iblis kayak lu? Gak ada sedikitpun gue rasa takut sama lu ya setan!!”
“Oh ya? Aku ini orang penguasa alam gaib dan kau hanya sebatas orang manusia biasa yang paling lemah!”
“Lu bilang apa tadi? Lemah?! Gue gak lemah, goblok!!”
‘Orang ini penguasa alam gaib?!’
“Begitu, ya? Oke, baiklah aku lihat saja apakah benar, kau pemuda yang kuat.”
Reyhan terdiam, firasat tidak baik menggerogoti pada pikiran hati Reyhan. Munculah sosok wajah menyeramkan dan tubuh yang tak sempurna, sosok yang tak memiliki satu tangan itu mendekati Cameron dan berdiri di sampingnya. Napas Reyhan berubah menjadi naik turun cepat, wajah memucat, keringat dingin merembes dari kening hingga alis mata.
“A-apa y-yang s-s-selanjutnya lo l-lakuin p-p-pada g-g-gue?!”
“Hahahaha! Kau kenapa berkata terbata-bata seperti itu, hmm? Kau takut ya?”
Reyhan tercengang, Cameron tahu kelemahan dirinya yaitu setan yang berwujud menyeramkan. Sosok yang Reyhan lihat depan mata adalah badan yang penuh jahitan serta wajah yang penuh cakaran. Kedua mata berwarna hitam tanpa adanya bola mata. Sosok tersebut melepaskan kepalanya tanpa alat lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam atas lehernya yang telah buntung. Darah menjijikan jelas ternampak pada penglihatan kedua mata sipit Reyhan.
Reyhan mendadak menjadi lemas tak sanggup menatap sosok menyeramkan itu lama-lama. Sosok tersebut merogoh sesuatu dari isi dalam isi dari atas leher tersebut dan mengeluarkan tali akar yang begitu panjang. Reyhan menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan tidak mengeluarkan suaranya. Tanpa ba-bi-bu, sosok tersebut langsung mencambuk Reyhan dengan tali akar tersebut.
Reyhan berteriak kesakitan di setiap cambukan yang diberi sosok menakutkan itu. Beberapa kali arwah itu mencambuk Reyhan, kini ia melemparkan tali akar itu dan mulai melakukan sesuatu lagi yang tak Reyhan tahu.
“Tugas kau lagi adalah, masuklah ke tubuh Reyhan .. agar mudah disaat memulai ritual tumbal nanti.”
Mata Reyhan mencuat terkejut dengan mulut terbuka. Mulut terbuka tersebut menjadi Reyhan katupkan giginya seraya menggelengkan kepalanya masih tanpa suara yang terdengar sama sekali di telinga Cameron dan Arwah menyeramkan tersebut.
Setelah menangkap suara dari Cameron, setan anak buah Cameron tersebut yang sebagai komando dari Cameron, pun mengangguk lalu lekas memundurkan langkahnya pada mode kilat. Berlanjut usai punggung arwah itu menempel di tembok, anak buah tersebut lari kencang dan akan memasuki tubuh raga Reyhan.
“JANGAAAAAAAAAAAANN!!!”
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Mata Anggara yang terpejam, perlahan sangat perlahan ia buka dengan mengerjapkan matanya. Kepala terasa pusing berlebihan, tubuh terasa lemah untuk di gerakan. Pandangan Anggara masih kabur dalam seusai ia dibuat pingsan oleh seseorang yang memukulnya. Sekejap menit Anggara baru bisa melihat dengan jelas, dinding-dinding langit berwarna hitam gelap menimbulkan suasana mencekam.
Anggara mencoba menggerakkan kedua tangannya untuk pembantu Anggara berbangkit duduk, namun sayangnya kedua tangan yang terlihatnya terentang terkunci oleh borgol pasung.
Ckrak !
Ckrak !
__ADS_1
Ckrak !
Ckrak !
Kondisi seperti ini bisa Anggara ingat pada lintasan otaknya pada mimpi buruk yang ia alami di saat satu hari yang lalu. Anggara mengingat kakinya di ikat rantai besi serta gembok yang di kunci, segeralah Anggara mengangkat kepalanya sedikit untuk melihat keadaan kakinya. Rupanya benar, kakinya terkunci oleh rantai besi yang di gembok, dan semua itu sama persis menurut mimpi buruk Anggara.
Di sisi lain, Jova sadar dari pingsannya. Jova mengingat langsung di sela-sela sakit kepala yang tak kunjung berhenti sebelum ia tak sadarkan diri bersama Freya di sisinya, yaitu Cameron seorang diri yang menyuntikkan obat bius paksa dengan dirinya begitupun Freya sang sahabat polosnya.
Jova melihat kesamping mendapatkan Freya yang belum sadar dari pingsannya, Jova membangunkan Freya dengan menepuk-nepuk perlahan pipi putih halusnya, akhirnya setelah dibangunkan, Freya langsung bangun dari ketidaksadaran dirinya. Freya bangun langsung mendadak berwajah kaget Depresi.
“Eh lho kenapa tiba-tiba nangis?!”
“Huhuhuhu aku mau keluar dari sini! Anggara sama Reyhan dimana kenapa belum ada disini, huaaaaaa!!!”
Jova langsung mendekap tubuh Freya yang menangis sekencang-kencangnya. “Tenang Frey, jangan nangis gini dong ... kamu harus percaya sama aku ya, pasti kita bakal keluar dari sini. Bersama Anggara Reyhan.”
“Hiks! A-aku takut hiks hiks hiks!!”
Hati Jova bercampur rasa pilu dan emosi antara Freya yang menjadi depresi dan Cameron yang menyekap ia Freya di dalam ruangan gelap pengap tersebut. Seketika terbesit lagi di pikiran Jova, kalau sebentar lagi Anggara akan menjadi tumbal istimewa Cameron.
Freya mengusap air matanya karena mendengar suara borgol yang di tarik-tarik seolah-olah ingin terlepas dari borgol tersebut. Freya memegang tiang dari pintu perangkap itu lalu melihat ke bawah. Betapa terkejutnya Freya melihat Anggara yang berusaha melepaskan diri dari pasungan.
“ANGGARA?!”
Panggilan dari Freya yang menyebut namanya, membuat Anggara mendongak ke atas. Anggara lebih terkejut daripada Freya yang mengetahui Anggara di bawahnya. Kedua mata Anggara terpaku terus pada Freya yang ada di sebuah perangkap penjara.
“FREYA?!”
“K-kamu kenapa bisa ada di atas sana?!”
“Cameron yang sudah menyekap kita berdua di atas sini, Ngga!”
Anggara memutar bola matanya ke Jova yang ada di samping Freya. Pada akhirnya Anggara bisa kembali bertemu kedua sahabat gadisnya walau situasinya sudah sangat beda sekali. Penuh ketegangan dan kecemasan.
“Hiks, Ngga! Aku denger kamu sebentar lagi akan jadi tumbal Camerooonn!! Kita berdua yang di sekap begini gak tau cara bantuin kamu bebas dari pasungan itu!!”
“A-aku bakal jadi tumbal?! Terus siapa Cameron?!”
“Cameron adalah penguasa alam gaib ini Ngga, dan kita bertiga berada di Kastil milik Cameron- hiks tentunya di bawah Kastilnya.” Lidah Freya terasa kelu menjelaskan Anggara tentang itu.
Dalam rutuk hati Anggara, nasib dia begitu sial sekali. 10 persen untuk Anggara percaya bahwa ia sebentar lagi akan menjadi tumbal Cameron, Anggara juga belum tahu siapakah Cameron yang di ucapkan Freya. Anggara berusaha semaksimal mungkin melepas dari borgol kedua tangan ia yang terbelenggu, namun tetap tidak membantu meskipun ia tarik sekuat tenaga besarnya. Satu yang pasti bisa membebaskan Anggara dari borgol itu adalah kunci satu-satunya. Mustahil kalau Anggara bisa mendapatkan kunci di keadaan ia marabahaya seperti kini.
Freya dan Jova yang di atas ingin sekali menyelamatkan Anggara dari maut itu, jika ada kata tumbal, artinya nyawa Anggara terancam serta bisa mengakibatkan ia berumur pendek atau meninggal dunia. Ini adalah suatu bentuk masalah yang sukar untuk di tuntaskan, antara selamat atau tidak.
Suara decitan pintu terdengar sampai sepenjuru ruangan luas tersebut, Anggara yang napas terengah-engah, mengangkat kepalanya siapa yang membuka pintu baja di depan kejauhan dari Anggara. Bayangan itu muncul yang nampak terlihat dari lantai, tubuh lelaki adiluhung 180 sentimeter.
Lelaki yang berwajah dingin itu mengenakan baju kostum hitam disertakan jubah hitamnya semacam kostum Drakula, tatapannya dingin sinis menatap Anggara yang mengerutkan keningnya. Bibir yang tak ada sunggingan kini menjadi sunggingan senyum miring sedikit menyeringai, hal itu membuat Anggara mengeluarkan suaranya bertanya siapakah ia.
“Siapa, lo? Apa ini yang lo buat ke gue?” tanya Anggara dengan nada dingin.
Lelaki muda itu tak menjawab masih tersenyum menyeringai dengan melipatkan kedua tangan di dada tampang arogan.
“Lo budeg atau tuli, hah?!”
“Cameron?! Cameron penguasa alam gaib?!”
“Ya, betul sekali, tanggap sekali otak pikiranmu Anggara.”
‘Orang ini yang mau jadiin gue tumbal?! Lihat dari tampang gayanya, orang ini bukan sembarangan orang.’
“Kenapa kau diam saja Anggara?”
“Argh! Lepaskan gue!”
“Hahahaha! Kenapa ya setiap aku menginginkan tumbal dari manusia biasa, pasti mengatakan minta di lepaskan .. seperti mengemis dan itu kau sama seperti Reyhan sahabatmu yang penakut dan sok berani itu.”
“Reyhan? D-darima-”
“Reyhan sudah ku pergunakan agar mempermudah di saat ritual dimulai, haha!”
“Apa yang lo lakukan sama sahabat gue, hah?!”
“Tak perlu aku bagi tahu karena nantinya kau juga akan tahu sendiri begitu juga dengan Jova dan Freya.”
“Membuang waktu saja jika kau terlalu banyak bertanya-tanya tidak berguna. Inilah saatnya yang ku tunggu-tunggu.”
Tubuh Anggara meremang merinding layaknya ada arwah-arwah yang mendekati dirinya, hembusan angin mendatang entah darimana. Hembusan angin seperti memberi pertanda jika ada yang datang.
Anggara yang merasakan ada beberapa sosok terbang di atas dinding, Anggara sontak mendongak kepalanya. Astaga apakah Anggara bermimpi kejadian hal yang sama?! Para Arwah gadis berumur seiras dua sahabat perempuan milik Anggara. Anggara mengingat pada mimpi buruk yang membuat ia sampai jatuh sakit, Arwah-arwah gadis yang memutari mengelilingi Anggara sambil diiringi sebuah lagu asing nan buat merinding seketika.
Arwah-arwah kini pun turun dan mulai berdiri di sisi-sisi Anggara terbaring bersama pasungan. para arwah gadis tersebut saling bergandengan tangan sama seperti di mimpi buruk Anggara satu hari lepas. Anggara rasa ritual tersebut akan segera dimulai.
Snap !
Ctek !
Satu jentikan jari dari Cameron menandakan ritual tumbal tersebut dimulai, para arwah gadis yang saling bergandengan mengelilingi Anggara dengan iringan syair sebuah lagu senandung tetapi ada satu orang yang membuat para arwah tersebut terhenti pada lagu senandung.
“BERHENTI!!!”
Anggara kenal suara itu, Freya lah yang berteriak untuk menghentikan lagu senandung yang tadinya berhasil membuat Anggara tersiksa. Anggara mendongak kepalanya dengan wajah sendunya.
“Tolong hentikan lagu itu! Kami mohon pada kaliaaaann!!”
“Kurang ajar! Kau menganggu ritual tumbal ku!” murka Cameron bersamaan menghilangnya para Arwah gadis karena ritualnya digagalkan langsung dengan Freya.
“Tolong jangan kamu jadikan Anggara tumbal!”
“Freya, gak ada untungnya kamu berbicara seperti itu sekarang, gak ada lagi yang bisa aku lakukan kecuali pasrah dengan takdirku.”
“Enggak Anggara! Enggak! Kamu gak boleh ngomong begitu, aku gak mau kamu mati sia-sia!!”
__ADS_1
Cameron menutup kedua telinganya dengan geram. “Drama sekali! Baiklah aku tak akan melakukan ritual tumbal ini jika itu mau sahabat kecilmu Anggara.”
‘Gue gak boleh seneng dulu, dia pasti merencanakan sesuatu lagi sama gue.’
“Apa kamu serius?!”
Jova hanya menatap datar pada Cameron yang akan mengatakan ucapan lagi. Tidak mungkin Cameron bisa sebaik itu, apalagi ia seorang manusia jiwa Iblis.
“Hei, kau tidak boleh senang dulu, perempuan pengacau ... ini belum sepenuhnya berakhir untuk Anggara. Aku akan melakukan ritual tumbal ini jika sudah waktunya, karena sahabat kecilmu mengganggu aktivitasku, Anggara, kau akan mendapatkan hukuman dari aku. Kau akan di siksa habis-habisan sampai kau tak bisa apa-apa lagi atau mungkin secepatnya kau mati.”
DEG !
“Sudah gue duga itu! Semuanya belom berakhir!! Gue tau watak lo gimana persetan!!” berang Jova amukan suara.
“Kamu jahat! Kenapa Anggara diberi hukuman?! Yang ganggu aku, kenapa kamu gak hukum aku aja?!”
“Huh, gak ada gunanya aku menghukum perempuan murahan sepertimu! Lagian yang paling punya energi kuat adalah Anggara, istimewa adalah Anggara, nyawa dia akan seutuhnya jadi milikku selamanya.”
‘Jangan bilang Iblis ini pengen nyawa gue karena gue adalah Indigo?’
“DASAR COWOK SAKIT JIWA!!!” teriak Jova dengan amarah menggebu-gebu.
“Akan ada satu orang yang kau kenal bakal datang kesini untuk memberi pelajaran buatmu.”
Drap...
Drap...
Drap...
Langkah sepatu terdengar dari kejauhan, awalnya tak terlihat siapa yang masuk ke dalam ruangan itu tetapi lama-lama sosok itu terlihat. Wajahnya datar dingin menatap Anggara, pemuda yang memakai baju hoodie abu-abu tak bisa lagi Anggara berlama untuk berpikir siapakah ia.
“R-REYHAN??!!” terkejutnya Anggara, Jova, Freya bersamaan.
Reyhan berjalan mendekat Cameron dan berdiri di hadapannya. “Tuan, apakah ritual tumbal ini tertunda?”
“Ritual ini tidak akan tertunda jika tak ada Freya sang pengganggu yang di atas sana.”
Reyhan mendongak kepalanya dengan wajah sadis amarahnya. “Dasar perempuan murahan tidak tahu diri!”
Freya membelalakkan matanya terkejut pada ucapan dingin dari Reyhan. “Kamu kenapa berbicara ke aku kayak gitu, Rey?!”
“Reyhan, apa maksud lo?!”
“Diam mulutmu brengsek!”
Anggara terlihat setengah kaget setengah geram mendengar kata-kata Reyhan yang tak sepantasnya ia lontarkan pada Anggara sahabatnya. Reyhan tahu dorongan batin Cameron untuk membukakan borgol pasung itu dari tangan Anggara dan juga kedua kakinya. Tanpa banyak bicara, Reyhan segera melaksanakan tugasnya. Reyhan mengeluarkan sebuah kunci hitam.
Ckrek !
Ckrek !
Dua tangan Anggara terlepas dari borgol besi tersebut, selanjutnya Reyhan berjalan dan berjongkok di samping kaki Anggara untuk membuka gembok dengan kunci hitam satunya.
Ckrek !
Ckrek !
Reyhan dengan paksa menarik kerah jaket hitam Anggara dengan wajah murkanya. “Kau pantas menerima ini!!”
Reyhan melempar Anggara kebelakang hingga tubuh Anggara terhantam oleh tembok dengan sangat keras.
BUAGH !!!
“Wah-wah tenaga yang cukup hebat, teruskan beri pelajaran untuknya .. sepertinya enak di tonton huahahaha!”
“REYHAN, APA KAMU SUDAH GILA?! KAMU MAU BUNUH ANGGARA?! IYA??!!”
“Tak ada waktu untuk menjawab pertanyaan-mu Freya, aku belum merasa puas memberi pelajaran Anggara agar dia tahu rasa!”
Anggara mencoba menahan rasa sakitnya dan mulai bangkit berdiri kembali. Reyhan berlari lalu menarik baju Anggara dan menjatuhkan Anggara hingga tersungkur ke depan, Anggara memekik kesakitan pada badannya yang terbentur oleh lantai. Reyhan mendengus-dengus masih ingin melampiaskan kebenciannya pada si Anggara yang tak salah apa-apa.
DUAGGH !
“AAAAKKHH!!!”
Baru saja membalikkan tubuhnya menjadi terbaring, Reyhan menendang dada Anggara cukup keras hingga yang di tendang berteriak kesakitan lagi dengan memegang dadanya. Anggara meringis merasa sesak di dada walaupun baru satu kali tendangan.
“Lemah sekali kau? Kenapa kau tak serang balik melawan aku?”
“Gue gak bisa! Lu sahabat gue, apapun itu gue gak akan membalas lu!”
“REYHAN AKU MOHON HENTIKAN!! JANGAN SAKITI ANGGARAAA!! INGET DIA SAHABATMU, REYHAN!!!”
Jova menoleh ke Freya yang kembali menangis pada kasarnya Reyhan terhadap Anggara. “Mau kamu memohon seribu kali pun Freya, Reyhan gak bakal berhenti .. karena tubuhnya emang Reyhan tapi jiwanya bukan Reyhan!”
“Tubuh Reyhan pasti lagi digunakan sama setan Frey, jadi ini yang membuat Reyhan sikap lain!”
“Maksudmu, Reyhan lagi dirasuki Arwah?!”
“Iya Freya! Gak ada yang bisa kita lakukan buat ngembaliin kesadaran Reyhan jika situasinya susah kek begini caranya!”
Anggara menguatkan dirinya sambil memegang dadanya, ia mencoba berdiri secara memaksa diri lalu menatap berani Reyhan, Reyhan yang bukan lagi jiwanya tetapi jiwa setan negatif. Reyhan telengkan kepalanya ke kiri dengan mengangkat kedua tangannya 'kenapa' Anggara mulai terbatuk-batuk dan tetap menahan rasa sakit dadanya.
“Masih sanggup juga kau berdiri, kau orangnya tangguh juga ya .. sayang sekali kalau kau kalah melawanku, nyawamu menjadi milik Tuan Cameron.”
“Huk, uhuk uhuk! Lu harus kembali ke jiwa asli lo Rey! Sadar, lu diperalat Arwah dalam tubuh raga lo!”
“Hahahahaha! Terus kenapa, hm? Kau meminta aku keluar dari tubuh sahabatmu ini? Tidak akan sebelum ritual tumbal terselesaikan!”
Anggara dan Reyhan saling bertatapan, tatapan mereka tersebut dingin tak bersahabat, posisi mereka yang berhadapan seperti menara Petronas lalu dekat hadapan mereka kini hanya sebatas dua lengan tangan.
__ADS_1
Sementara itu, Freya dan Jova merasa khawatir pada tatapan dingin antara Anggara dan Reyhan, tatapan yang mendung gelap tak bersahabat tersebut. Seolah-olah kedua sahabat lelaki mereka akan berseteru.
INDIGO To Be Continued ›››