Indigo

Indigo
Chapter 78 | The Same Events Repeatedly


__ADS_3

Angin malam berhembusan masuk ke dalam jendela balkon yang belum Angga tutup, dan terlihat pemuda tampan itu tengah bernyanyi bersama alunan gitar dengan gerakan main yang lihai. Mata lelaki itu sengaja dirinya tutup untuk menghayati lagu nadanya tersebut. Angga memang sudah lama tak bermain gitar bahkan melatih vokal suaranya yang sering dibilang orang lain konvensional dan bakat khas suara yang begitu merdu serta nyaman didengar.


♫ At night, when the stars light up my room


I sit by myself


Talking to the moon


Trying to get to you


In hopes you're on the other side talking to me too


Or am I a fool who sits alone talking to the moon? ♫


Angga menghentikan nyanyiannya bersama alunan lantunan gitar hitam miliknya. Mendengus sebal karena aktivitas ketenangannya diganggu oleh dua sosok yang sedang bertepuk tangan ria mendengar suara artis vokalis komplek Permata, padahal bukan artis vokalis juga.


Angga membuka matanya dan menatap jengah pada Senja begitupun Cahya. “Bravo, Ngga! Suara kamu bagus banget astaga! Aku jadi berasa lagi dengerin artis rumahan nyanyi di kamar!”


Angga menghela napasnya dengan menggelengkan kepalanya, baginya pujian dari Senja sangat berlebihan dan kini bergiliran lah si Cahya yang mengutarakan komentar baiknya. “Anjir! Demi apa, suara gue malah kalah dari suara lo! Ternyata pendiem begini bisa nyanyi sama main gitar, ye!”


“Lanjutin lagi dong!” seru kompak Cahya dan Senja meminta Angga melanjutkan nyanyiannya yang sempat terhenti karena gara-gara kedatangan dua arwah positif seperti mereka.


Bukannya menuruti keinginan sosok makhluk halus lelaki dan perempuan itu, Angga malah justru beranjak berdiri dari karpet polosnya. “Pengganggu!”


Cahya mendesis karena mendengar nada tinggi manusia Indigo itu, sementara Senja menggembungkan kedua pipinya karena amat kesal pada Angga akan sikapnya. Di sisi lain, Angga meletakkan gitarnya di sebelah lemari pakaiannya dan ia posisikan alat musik melodis itu menjadi tegak menyandar di sisi lemari miliknya.


Angga kembali duduk di karpetnya lalu meminum teh hangat buatannya sendiri seraya menyenderkan punggungnya yang sedikit pegal, beruntung saja tadi PR Matematikanya telah ia kerjakan dengan benar dan tepat. Jadi di jam ini Angga bisa bersantai-santai menikmati semilir angin malam. Pemuda itu sengaja tak menutup jendela kamarnya, tetapi disaat nanti sebelum tidur, dirinya akan menutup jendelanya beserta gorden yang ada.


Angga menaruh cangkir kaca yang berisi teh di karpet yang ia duduki. Senja menggeser tempatnya untuk mendekati manusia cuek tersebut. “Angga?”


“Ya.”


“Aku heran deh sama kamu, kenapa sampai saat ini kamu belum bisa ingat momen-momen disaat kamu jadi roh waktu itu. Apa itu seperti mimpi, ya? Jadinya kamu sendiri sulit buat mengingatnya.”


Angga menghembuskan napasnya. “Roh dan raga itu posisinya sudah berbeda atau dimensi alamnya sudah beda. Otomatis itu juga hal seperti itu sudah semacam bunga mimpi. Berkeliaran atau malah tersesat karena nggak tahu dimana raganya berada, kalau kayak aku ... entahlah, mungkin yang aku rasakan sedang bermimpi.”


“Percuma saja kamu terus memaksa aku buat ingat semua itu saat aku masih roh. Aku Koma juga nggak bisa ngerasain apa-apa di sekitarku. Intinya yang aku tahu sadar-sadar sudah menginjak dua bulan saat aku terbangun dari Koma.”


Cahya yang mendengar secara seksama menjadi paham, pemuda arwah itu juga baru mengetahuinya bahwa Angga pernah mengalami Koma hingga 2 bulan lamanya. Senja disaat itu juga menganggukkan kepalanya mengerti maksud penjelasan jelas dan detail dari Angga.


“By the way, rupanya lo bisa bercakap dengan panjang, ya.” Cahya nyengir pada manusia itu.


“Gue hanya ingin menjelaskannya biar Senja mengerti kenapa gue susah mengingat memori itu.”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Komplek Kristal


Di kamar tepatnya di meja belajar, Reyhan sibuk berkutat mengerjakan sebuah PR Matematikanya yang belum kelar. Kurang sepuluh nomor lagi itupun Reyhan sedang kesukaran menghitungnya. Entah mengapa setelah pasca Koma, lelaki ini yang malas berurusan dengan Matematikanya menjadi rajin dan tak ingin dibantu oleh siapapun termasuk Angga yang hebat pelajaran hitungan karena adanya otak cerdas di dalam logika.


Reyhan menyentuh pangkal hidungnya yang kepalanya terasa pusing. Reyhan menutup matanya sebentar hingga muncul suara sayup-sayup dari Angga tentang tadi di ruang UKS.


Flashback On


“Kelemahan lo sebenarnya sudah diukur sama Arseno, bahkan hanya satu arwah itu harap, lo mati. Untuk melampiaskan dendam besarnya, target yang dia incar harus merasakan kematian seperti raganya.”


“Gue sudah berjanji sama diri gue sendiri kalau gue gak akan biarin lo mati di tangan Arseno karena berbagai ulahnya pada lo. Kalaupun nyawa gue menjadi korban, gue juga gak peduli. Yang penting jiwa lo masih aman di dunia.”


Flashback Off


Reyhan membuka matanya kembali dan mulai mengetuk-ngetuk mejanya menggunakan bolpoin-nya. “Kenapa dia malah bicara kayak gitu? Apa Angga gak salah ngomong? Yang bener saja! Gue justru nggak setuju Angga ngelakuin itu demi ngelindungin sahabatnya. Seperti gue ...”


Pangkal hidung yang Reyhan pegang beralih dirinya usap wajahnya bersama telapak tangannya. Tangan lelaki friendly yang masih dilanda penderitaannya, mulai beraktivitas untuk mencoret-coret note book kecilnya buat menghitung seperti melakukan bantuan porogapit dan cara lainnya agar siapa tahu memudahkan dirinya menemukan jawaban yang tepat.


“Goblok banget gue soal Matematika! Mana jawabannya gak ada yang sesuai di pilihan ganda, lagi!” rengek Reyhan kesal terhadap jalan otaknya yang sangat sempit.


Tiba-tiba saat Reyhan bermonolog sendiri untuk melampiaskan mumetnya, bohlam lampu kamar miliknya mati tanpa ada yang melakukannya. Lelaki yang sedang mengerjakan tugasnya seketika berdecak dengan mengangkat wajahnya ke atas.


“Lagi ngerjain ada-ada aja masalahnya! Apa mati lampu?” Reyhan dengan malas beranjak dari kursinya dan melangkah menuju pintu untuk mengecek di luar.


Cklek !


Reyhan mengerutkan keningnya karena ternyata di luar kamar terlihat terang adanya cahaya lampu, pemuda itu memutuskan memundurkan langkahnya sambil memegang gagang pintunya lalu menutupnya kembali. Bertepatan tutup pintu kamar, lampu tersebut balik menyala. Hingga muncul satu nama yang ada di benak otak Reyhan. 'Arseno'.


Apakah Reyhan harus mempersiapkan mental fisiknya jika dirinya mulai dilukai berbagai cara oleh makhluk tak kasat mata yang memiliki energi negatif itu tersebut?


Reyhan perlahan melepaskan genggamannya dari gagang pintu kemudian memutar tubuhnya untuk tetap mengerjakan tugas PR, meskipun rasa tegang mulai menyelimuti lelaki berambut coklat tersebut. Sekarang Reyhan telah duduk di kursinya lagi, tangannya bergerak untuk mengambil bolpoin dan melaksanakan hari malam beratnya.


Kendati meski otak Reyhan bekerja buat menyelesaikan tugas Matematikanya, bola matanya was-was jika ada kejadian yang janggal di sekitar kamarnya. Berharapnya semua akan masih baik-baik saja, namun Reyhan kini menangkap suatu suara dari lemari pakaiannya yang ada di jauh belakangnya. Suara macam pintu lemari yang dibuka oleh seseorang, tapi Reyhan yakin bukan angin atau manusia yang membukanya, melainkan sosok hantu yang masih setia menerornya.

__ADS_1


Belum melihat ke belakang, detak jantung Reyhan berdebar begitu cepatnya apalagi keringat dinginnya mulai datang untuk membasahi kening bagian kiri dan merembes hingga sampai pelipis mata. Dengan gerakan lambat, Reyhan memberanikan jiwanya buat menolehkan kepala dan badannya ke lemari pakaiannya.


Meski dirinya selalu dilihatkan sosok itu, tetapi hal itu masih membuat Reyhan syok bukan main. Menatap Arseno yang keluar dari lemari pakaiannya. Napas Reyhan naik turun marathon, tangannya yang sedang memegang kertas buku notes-nya tak sengaja ia remat, matanya terbelalak sempurna begitupun bola matanya mencuat.


“Hai, selamat malam, manusia penakut.”


Reyhan menggelengkan kepalanya kuat dengan bukan bersama muka murka tetapi raut ketakutannya. “J-jangan! Jangan ganggu gue lagi!”


Arseno yang diminta mohon seperti itu hanya telengkan kepalanya ke kiri. “Huahahaha!! Kamu bilang apa tadi? 'Jangan ganggu gue lagi'? Jangan kamu pikir aku akan menuruti permohonanmu! Dan jangan bermimpi nyawamu aman di dunia ini.”


Arseno melancarkan aksinya membuat tubuh manusia itu mengambang di udara, bolpoin yang Reyhan pegang terlepas begitu saja saat dirinya dibuat melayang oleh arwah negatif itu. Arseno mencengkram tangannya yang kosong dengan nada geram dan efeknya membuat leher Reyhan terasa dibelenggu sangat kencang.


Reyhan memejamkan matanya kuat dengan sedikit mengerang kesakitan. Ya, kesakitan yang seperti biasanya namun bisa membuat nyawanya melayang kalau terlalu lama dicekik seperti ini. Manusia itu berusaha membuka matanya dan melontarkan kata untuk berkomunikasi panjang dengan Arseno yang sangat bahagia membuat dirinya tersiksa.


“S-sen! G-gue tau maksud lo apa buat gue kayak gini! Suatu d-dendam besar pada seseorang yang membunuh lo w-waktu silam yang lo simpan sampai sekarang, lo sengaja melampiaskan dendam besar lo itu ke manusia yang kayak gue!”


Napas Reyhan terasa begitu sesak karena ucapannya itu tak membuat Arseno melepaskan cekikan itu dari lehernya. Rasa ingin berbicara sangat tercekat, tetapi ia harus memaksakan dirinya untuk terus berkomunikasi dengan arwah itu sesuatu pembicaraan yang penting.


“Gue ngaku! Gue salah sama lo, gue sudah melanggar aturan yang udah ada di sana! Tapi bukan kah itu terlebihnya bukan kesalahan besar gue pada lo?!” Reyhan kemudian mengerang kembali bahkan matanya mengernyit karena belenggu tersebut semakin dipererat oleh Arseno.


“Akh! A-asalkan lo tau! Gue ingin menggali d-dan menyelesaikan kasus kematian itu yang terjadi dengan lo, Sen!”


Arseno menggertakkan giginya dengan amarah yang memuncak. “Cih, aku nggak akan percaya padamu! DASAR PEMBOHONG!!!”


Arseno dengan emosi menggebu-gebu menghempaskan tubuh Reyhan kencang hingga menabrak tembok sebelah jendela kamarnya. Setelah itu raganya jatuh di lantai amat keras membuat Reyhan merintih kesakitan yang mana hampir seluruh anggota tubuhnya seolah-olah remuk bahkan kepalanya yang sempat terbentur lantai membuat pandangannya seketika memburam dengan waktu singkatnya.


Reyhan berupaya membangunkan tubuhnya yang terbaring di lantai, namun apa daya kuatnya? Hal itu buat sekujur tubuhnya mendadak melemah seperti tidak ada tenaga. Dalam kondisi pandangan yang mengabur, Reyhan mampu merasakan kalau Arseno sedang tengah berjalan mendekatinya dengan suara sepatu sekolah SMA-nya.


“Dengarkan aku Reyhan, kamu sudah lemah! Dan kamu berusaha ingin menipuku dengan segala omonganmu tadi? Jangan kamu pikir diriku bisa mempercayai ucapanmu!!”


Reyhan tak mampu merespon suara bass arwah itu yang terdengar menyeramkan baginya. Dan sekarang pada detik ke 5, mata Reyhan tertutup bersama tubuh terlentangnya. Arseno melihat tubuh manusia itu yang sudah tidak ada pergerakan sama sekali bahkan wajahnya nampak begitu berubah pucat begitupun di bibirnya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Tok !


Tok !


Tok !


Tok !


“Reyhan! Hei jam segini masih tutup pintu?! Emangnya hari ini kamu gak sekolah, Rey?! Reyhan!” panggil Farhan yang sambil mengetuk-ketuk pintu kamar anaknya.


Farhan mengerutkan keningnya. “Lah, dikunci ternyata.”


Tok tok tok tok !!


“Reyhan!! Ini suara Papa mau sempal loh teriak-teriak terus buat manggil kamu! Mau sekolah atau enggak hari ini?! Saut dulu kek, Nak!”


“REYHAN LINTANG ELLVANO!!!”


Jihan yang tengah sibuk menyiapkan sarapan seketika terperanjat kaget pada suara teriakan suaminya yang sedari tadi memanggil anaknya yang belum kunjung buka pintu kamar. Beruntung saja piring dan gelas yang wanita paruh baya itu pegang tidak terlempar ke atas karena saking terkejutnya.


Di sisi lain yaitu dalam kamar, Reyhan yang cukup lama pingsannya perlahan membuka matanya dengan begitu lemah. Telinganya sangat terusik pada suara gedoran pintu kamar dari luar. Dirinya tak langsung bangkit dikarenakan tubuhnya masih terasa lemas sekali. Butuh beberapa menit ia beranjak berdiri dan segera membuka pintu kamar yang tadi malam Reyhan sengaja kunci.


10 menit berlalu, Reyhan memutuskan beranjak berdiri dan melangkah secepatnya dengan keadaan tubuh olang-aling. Setelah berhasil menggapai gagang pintu kamar, Reyhan menghembuskan napasnya. ‘Mati gue, pasti papa bakal marah besar.’


Perlahan Reyhan memutar kuncinya ke kiri lalu membuka pintu bersama gerakan lambat. Habis lah riwayat lelaki itu! Tatapan mata Farhan begitu tajam dan seakan-akan ingin memarahinya dikarenakan berpuluh-puluhan kali ketukan tak ia buka. Reyhan yang di tatap nyalang seperti itu oleh sang ayah, menampilkan senyuman getirnya.


“M-maaf, Papa ...”


“Jangan dimarahin anaknya, Pa! Masih pagi lho!” pekik Jihan dari bawah tangga.


“Ck, siapa juga yang mau marahin Reyhan?!” Farhan yang menoleh ke belakang kembali menghadapkan kepalanya ke depan tepat hadapan Reyhan yang diam menundukkan kepalanya karena takut kalau beliau malah memarahinya habis-habisan.


“Jangan usir Reyhan dari rumah lagi ya, Pa. Nanti kalau anakmu di usir, Reyhan mau tinggal dimana? Jadi anak gelandangan di trotoar?”


“Astagfirullahaladzim, siapa yang mau ngusir kamu? Lagian kenapa kepalamu nunduk begitu? Papa gak marah sama kamu kok. Papa mau tanya, kenapa baru buka pintu kamar? Biasanya juga gak begini.”


Reyhan menelan ludahnya karena bingung harus menjawab apa. “Reyhan ngantuk banget lho, Pa. Tadi malem begadang.”


“Nah kan! Kebiasaan anak muda suka begadang!”


“Emangnya masa mudanya dulu Papa gak suka begadang? Kadang kalau ogah bobok, malah ngopi. Untung bukan kena Insomnia,” ucap anaknya seraya mendongak kepala melihat wajah Farhan.


“Astaga anak jaman sekarang- eh tunggu sebentar! Itu muka kamu pucet kenapa?! Efek begadang, ya?”


“Cuman lagi nggak enak badan,” jawab Reyhan seraya mengusap tengkuknya yang hangat.

__ADS_1


“Aduh! Ada-ada aja kamu ini! Terus mau gimana? Atau perlu absen sekolah dulu? Kalau iya Papa bilang mama habis ini buat WA guru wali kelasmu.”


“Eh jangan! Reyhan tetep berangkat sekolah aja, toh gak parah amat sakitnya. Udah lah, Reyhan mau mandi.”


Reyhan melangkah pergi keluar kamar untuk menuju ke kamar mandi yang terletak dari jauh ruang kamar tidurnya berada. “Yakin, Rey? Jalanmu udah gak normal gitu kok.”


“Lumpuh lagi, apa anakmu ini?!”


“Eh maksudnya loyo, Rey!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Setelah melaksanakan mandi selama 15 menit dan telah mengenakan seragam rompinya, Reyhan berjalan ke arah meja belajarnya yang terdapat buku tulis, buku paket yang berserakan dimana-mana. Seketika Reyhan baru ingat kalau tadi malam dirinya tak meneruskan tugas PR Matematikanya dari pak Harry apalagi mata pelajaran tersebut akan dimulai saat jam pertama.


Reyhan mengangkat buku tugasnya dengan melongo beserta wajah ekspresi lesunya. Menatap beberapa hasil kerjaan otak kerasnya yang banyak belum terselesaikan, tepatnya kurang sepuluh soal.


“Huweee, PR gue belum kelarr! Anjir dah auto kebut ngerjain lagi nih di kelas nanti!!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Galaxy Admara - Kelas XI IPA 2


Yang benar saja sesuai apa yang Reyhan ucapkan waktu di rumahnya, lelaki friendly itu nampak tergesa-gesa mengerjakan tugas PR-nya di kelas yang kini sudah banyak siswa dan siswi tiba di kelas.


Reyhan sedikit menggebrak meja bangkunya menggunakan kepalan tangan kirinya. ‘Ini jawabannya apaan, nyet?! Mana pala gue pusing banget, lagi! Jangankan, ini badan kenapa jadi lebih pol gak enak gini, sih?!’


Angga yang baru saja datang karena sempat kejebak macet beberapa menit, melangkahkan kaki panjangnya hingga sampai di kursi bangkunya sebelah bangku sahabatnya yang gerakan ngebut mengerjakan sebuah PR dari beliau. Angga yang melihat itu, dan menatap muka pucat dari Reyhan langsung bisa ia tebak serta terawang bahwa tadi malam Reyhan cukup tidak baik-baik saja. Ya, Angga sudah merasakan firasat buruk itu waktu malam tadi sebelum dirinya akan menjumpai mimpinya.


Angga lantas membuka resleting tas punggung warna hitamnya usai meletakkan tasnya tersebut di kursi. Mengeluarkan buku tugas Matematikanya lalu pemuda itu menghampiri Reyhan.


Angga meletakkan buku tugas Matematika miliknya yang terdapat PR nang sudah ia tuntaskan di atas mejanya Reyhan. Sontak Reyhan menghentikan tulisnya kemudian menarik wajahnya ke atas. “Salin aja PR gue di buku lo.”


“Eh, Bro Angga?! Gak usah dah, gue ngerjain sendiri-”


“Ck, gak usah banyak gaya! Bentar lagi bel bunyi, lo mau ujung-ujungnya diberi hukuman sama pak Harry?”


“Eeee, gak mau juga, sih! Tapi gimana dong?!”


Angga memutar bola matanya ke sembarang arah lalu menatap Reyhan kembali yang berwajah panik tak karuan. “Ya mangkanya salin aja tugas gue! Cepetan, nanti bel masuk bunyi lo yang gelagapan.”


“Ngegas mulu dah lo! Y-ya oke deh, makasih lho hehehe.”


Angga mengangguk saja kemudian balik ke bangku kursinya yang tak jauh dari bangku milik Reyhan. Kini Reyhan menjadi sedikit lega karena ia menjadi bisa mengerjakan PR Matematikanya meskipun dirinya menyalin jawaban dari buku Angga ke buku tugasnya.


Kedua gadis sahabat mereka yang usai dari toilet melihat Reyhan yang tengah sibuk mengerjakan sesuatu di bukunya, hal itu membuat Freya dan Jova yang bergandengan tangan melangkahkan kaki mulusnya ke bangku sahabat friendly mereka berdua.


Jova memajukan kepalanya apa yang sedang dikerjakan oleh Reyhan sampai terburu-buru. “Jyah! Belum selesai, PR-nya? Hahahaha mampus!”


Reyhan mendengus dan menatap tajam Jova yang tepat di sebelah kanannya. “Bisa diem dulu, gak?! Aku lagi deg-deg ser, kamu malah ketawa! Puas di atas penderitaan sahabatnya namanya itu!”


“Uuuu, merajuk dia hahaha- eh?! Oh my gosh, itu muka kenapa bisa pucet kayak Jenazah mau dimakamin?!”


“Heh! Memangnya aku udah mati, apa?! Situ juga napa matanya baru nyadar? Matanya tadi ada dimana? Pantat??”


“Aku tampar dua puluh kali, yak mulutmu!!” Jova hendak melayangkan tangannya untuk menampar ocehan Reyhan yang wajahnya membuat gadis barbar itu sengit pada pemuda tersebut.


“Jova jangan! Kamu itu apa-apa main tangan!” protes Freya kemudian gadis lugu tersebut menoleh ke arah Reyhan yang tengah memendam emosi. “Reyhan nggak apa-apa? Dilihat mukamu dari sini pucat, loh. Lagi sakit, ya? Kalau sakit, kenapa malah berangkat sekolah?”


Reyhan seketika mengubah raut wajahnya menjadi lunak dan hangat saat menatap muka kalem anggunnya Freya. “Aduhai suara lembutnya bikin hatiku menjerit, aw!”


Angga yang mendengarkan suara alay dari Reyhan sampai bergidik geli sekaligus menggelengkan kepalanya beberapa kali. Angga sampai berpikir bahwa sahabatnya itu ada keturunan dari sifat perempuannya. Angga dengan tampang cueknya menopang dagunya bersama tangan seraya membaca buku paket Matematikanya.


“Jangan risau manis cantikku, aku nggak apa-apa kok. Suwer deh, hehehe!”


“Heh! Gak usah sok muji-muji Freya kek begituan! Muka jelek kayak kodok aja bangga. Cocoknya tuh Angga yang muji, pangeran lebih pas memuji hati sang putri. Gak kek kamu ... proletar!”


“What?! Oh, damn girl !”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Saat pembelajaran sedang berlangsung ialah dimana pak Harry tengah menjelaskan materi lewat papan tulis putih dengan memakai spidol di tangan beliau, Reyhan sudah sama sekali tidak konsentrasi apa yang diterangkan oleh gurunya.


Kepalanya begitu amat pusing dicampur sekujur tubuh yang sangat lemas, namun dirinya berusaha untuk kuat hingga pembelajaran usai di kelasnya. Tetapi malangnya, Reyhan merasakan ada suatu cairan yang merembes keluar dari kedua lubang hidungnya. Hingga waktu jarum panjang bergerak ke satu angka di dalam jam...


DUG !


Semua menoleh ke sumber suara benturan dari atas meja bangku milik Reyhan. Ditatapnya, lelaki itu dalam posisi kepala terbenam di atas mejanya. Angga yang telah tak melihat pergerakan lain dari Reyhan selain itu, bergegas beranjak dari kursinya dan menghampiri sahabatnya.


Angga mengangkat badan Reyhan lalu setelahnya matanya menatap langsung wajah lelaki tersebut. Mata yang terpejam tenang dan juga hidung yang telah mengeluarkan darah membuat Angga tergemap. Di sisi lain mereka yang melihat Reyhan nang keadaannya seperti itu berhamburan cepat mendatangi Reyhan seraya mengutarakan kata secara kekompakan termasuk pak Harry.

__ADS_1


“Eh Reyhan kenapa??!!”


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2