Indigo

Indigo
Chapter 198 | Defining a Lifeline


__ADS_3

Malam esoknya, Reyhan yang telah terbaring pingsan di ranjang pasien selama sehari kini membuka matanya dengan lemah. Matanya mengerjap pelan waktu pandangannya masih buram, hingga tak berapa lama kemudian ia mampu melihat jelas sedang berada dimana.


Pertama yang tertuju adalah pada sebuah dinding lingkaran nang terpajang. Apalagi jam sekarang menunjukkan pukul 00.00, tengah malam? Ya, Reyhan terbangun dari ketidaksadaran dirinya tepat di tengah malam hari.


“Reyhan.”


Begitu namanya dipanggil, Reyhan menolehkan kepalanya dengan sangat lemah ke sumber suara. Rupanya itu adalah Arseno yang sedang tersenyum senang setelah melihat ia siuman dari pingsan.


“Akhirnya kamu sadar. Cukup lama bagiku kamu tutup mata sejak kemarin. Sekarang apa yang kamu rasakan? Sudah lumayan membaik?”


Reyhan hanya bungkam dalam mulutnya yang masih tertutupi oleh alat bantu napas gaya transparan. Kini Arseno nang berada di sebelah Reyhan, melangkah mendekatinya dengan melenyapkan senyuman bibir.


“Aku ke sini ada alasan yang ingin aku beritahu kepadamu. Maaf, sebenarnya aku yang telah merasuki ragamu saat itu. Aku hanya tidak rela jika mereka berdua hidup lama di dunia ini, mati lebih baik. Karena jika aku tidak berniat atau membunuhnya, mereka akan merancang suatu cara untuk membuatmu pindah alam.”


“Tolong maafkan aku jika sekiranya kemarin membuatmu tersiksa karena ulahku yang hanya ingin menyelamatkanmu,” tambah Arseno dengan raut sendu.


Reyhan memejamkan matanya dengan menggelengkan kepalanya secara lemah. Tanggapan respon dari gerakan tubuh itu, membuat Arseno nyengir seraya menaikkan kedua alis.


“Kamu tidak marah padaku? Sungguh?”


Lagi-lagi Reyhan hanya sebatas menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk menggeleng, sampai tiba-tiba pemuda itu merapatkan kedua matanya di saat mana dadanya terasa sakit hingga ia sampai spontan memegang dada bidangnya.


“Kamu baik-baik saja?! Sakit sekali?!” kejut Arseno dengan mata melebar.


Teman manusianya cukup menggeleng semu saja, karena ia tak bisa mengeluarkan suaranya akibat rasa sakit di tenggorokannya amat begitu, dampak dari cekikan kuat tangan Rain waktu membelenggu erat lehernya hingga Reyhan hampir kehabisan napas.


“Kalau begitu, lebih baik kamu istirahat saja. Maafkan aku, ya? Aku malah berceloteh panjang denganmu. Istirahatlah dengan yang total agar supaya dirimu cepat pulih.”


Reyhan memberikan senyuman lemahnya untuk Arseno kemudian menghadapkan kepalanya lurus ke depan lalu mulai beristirahat tidur sekaligus buat meredakan dadanya yang terasa sakit menikam.


Sementara Jihan dan Farhan nampak sedang tidur nyenyak di atas kursi sofa panjang dengan posisi duduk. Terlihat jelas sekali bahwa mereka berdua letih. Arseno menatap Reyhan sekilas kemudian hantu itu pergi bersama cara menghilang dan seperti biasa, selalu menyisakan debu putih yang beterbangan.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Tanpa ada seseorang yang menemani membuat Reyhan terdiam sepi di dalam kamar rawatnya, sementara ia telah terlepas dari masker oksigen dimana kadar oksigen dalam tubuhnya sudah cukup.


Sang ibu tengah keluar untuk membeli sarapan bubur ayam yang tentu lelaki Friendly tersebut sukai, dan sang ayah sedang pergi ke bengkel terdekat di kota ini buat servis mobil yang mana terdapat kendala.


Di atas meja nakas ada remote TV, tetapi Reyhan enggan mengambilnya apalagi sampai menonton televisi. Hatinya kurang mood jika sekedar memandang layar televisi digital yang terpasang di tembok.


Sampai saat termenung diri, Reyhan samar-samar melihat bayangan Angga begitupun dirinya yang duduk di kursi roda. Entah ini halusinasi atau tidak, karena apa yang Reyhan lihat seolah macam nyata.


Hingga ia baru sadar ruang rawat inap yang ditempati ini adalah kamar rawat no. 114, nang terletak di lantai 4

__ADS_1


Pantas saja bayangan itu seakan terlihat, bahkan teringat dulunya dirawat oleh Angga waktu ia masih mengalami kelumpuhan di kedua kakinya akibat cedera tulang belakang. Mengingat momen yang tak terlupakan itu, membuat otak Reyhan langsung terputar ke masa lalu penuh keharuan tersebut.


Bibirnya merapat, saat kejadian itu terbesit dibenak Reyhan dimana dulu ia pernah ingin mengakhiri hidupnya karena tak sanggup menerima keadaan yang memprihatinkan. Tetapi semua dibatalkan berkat kedatangan sahabat Indigo-nya yang mengeluarkan segala motivasi berharga nang mampu menyemangati hidup diri Reyhan.


Jujur saja, sekarang di sini berhasil membuat dirinya tersiksa sendiri mengenai kondisi Angga yang Koma. Reyhan ingin sahabatnya kembali di sisinya, tapi jika keadaannya berada di ambang antara hidup dan mati, kemungkinan akan mustahil.


Reyhan mengangkat wajah kelamnya ke atas langit-langit dinding bercat putih itu lalu menghembuskan napasnya. “Kapan kita kembali bersama seperti dulu? Kapan lo akan bangun dari keparahan Koma itu?”


“Dan ... Ngga, lo gak ada niatan untuk ninggalin gue dan lainnya, kan?” Setelah bertanya pada diri sendiri, Reyhan memejamkan matanya dengan batin hati yang sakit.


Sementara Jova yang berjalan santai hingga tiba di ruang no. 114, menghentikan langkahnya dan melihat Reyhan yang hatinya sedang begitu terpuruk, bahkan sahabatnya kini menundukkan kepalanya.


‘Kenapa muka dia suram lagi? Hm, gue yakin pasti karena tentang Komanya Angga ...’


Gadis Tomboy yang mengenakan baju kemeja ungu velvet blangko itu dengan double kaos oblong krem di dalamnya, menghela napasnya panjang kemudian maju perlahan untuk masuk ke dalam ruang perawatan tersebut.


Reyhan mendongakkan semula kepalanya dari tunduk, hingga tubuh ia terperanjat kaget saat ada kehadiran salah satu sahabat perempuannya yang telah berada di kanannya.


“J-jova?!”


Jova memasang wajah sedihnya yang di situ bibirnya tak mengukir senyuman cantiknya. “Jangan sedih terus. Aku jadi gak nyaman kalau kamu selalu begitu tiap hari, Rey.”


Reyhan terbungkam sejenak lalu membuka suaranya kembali. “Kalau gak nyaman, boleh jauh. Aku gak apa-apa, nggak masalah.”


“Enggak! Bukan itu yang aku maksud,” sanggah Jova sambil menggelengkan kepalanya kuat.


“Kamu pikir mudah?” tanya Reyhan dengan nada rada dingin seraya memalingkan wajahnya dari Jova.


“Orang aku lagi gak sedih, kok. Perasaanmu saja, kali.”


“Kamu gak usah pake bohongin aku, Rey. Aku tipikal cewek yang susah banget dibohongi, dari rautmu udah kelihatan kalau kamu lagi sedih,” tegas Jova.


Reyhan diam tak menjawab, ia hanya menelan salivanya dengan susah payah tanpa mau menatap mata Jova. Gadis cantik berambut cokelat terang itu, menggenggam telapak tangan sahabat lelakinya.


“Aku tahu semua itu gak mudah. Aku tahu menerima keadaan itu juga sulit, tidak segampang yang kita kira. Tetapi seenggaknya kita mampu, Reyhan. Walaupun dengan berat hati.”


“Aku hanya gak ingin kehilangan dia, itu saja. Apalagi kondisi Angga membuat aku di sini kurang baik-baik saja,” jawab Reyhan.


“Setiap orang yang disayangi pasti tidak ingin kehilangannya, Rey. Termasuk kita semua yang berusaha tetap mendoakan Angga agar sanggup sadar dari Komanya,” jelas Jova.


Pada akhirnya Reyhan menolehkan kepalanya ke arah Jova dengan air mata mulai mengalir. “Aku di sini juga sedang berusaha menerima keadaan yang menimpa Angga, Va! Aku ingin berupaya, tapi aku gak bisa! Walau pelaku yang membikin sahabat kita Koma sudah menyelam di laut api Neraka Jahannam!”


“Aku begini karena aku sudah gak ingin lagi kehilangan sosok yang aku sayangi. Cukup Almarhum opa, Almarhumah oma, dan Almarhum kakak sepupuku saja yang telah tenang di alam sana. Aku sudah banyak merasakan kehilangan orang yang aku sayangi, dan aku gak mau hal itu terulang kembali!”

__ADS_1


“Anggara, sahabat terbaik kita jangan sampai pergi meninggalkan dunia! Karena aku memang sudah tidak ingin kehilangan lagi. Aku trauma!!”


“Rey ...! Aku tahu seperti apa orang yang ditinggalkan selamanya. Tapi jangan kayak gini, kalaupun kamu memaksa Angga keras untuk tetap bertahan, semua itu akan percuma. Ini sudah dari takdirnya Angga.”


“Angga sahabatmu, dan aku juga sahabatnya Angga! Aku pula gak ingin kehilangan salah satu sosok sahabatku di dunia. Detak jantungnya yang lemah, otak yang mengalami komplikasi. Semua keadaan Angga yang maut, bikin hatiku juga ikut hancur. Memangnya cuma kamu yang merasakan kepedihan itu?! Enggak! Gak hanya kamu. Ada Freya, tante Andrana, om Agra, dan orang-orang lainnya yang menyayangi Angga juga ikut merasakan hal yang sama!”


Reyhan membiarkan air matanya deras membanjiri seluruh pipinya, kedua jari tangan kanannya memegang pangkal hidung bersama isakan tangisnya dengan kepala yang menunduk.


Sementara beberapa remaja dari bangku kelasnya antara Jova dan Reyhan, berhenti melangkah saat melihat mereka berdua yang saling menangis. Kedua pemuda dan kedua gadis itu hanya memperhatikan mereka dari ambang pintu saja tanpa ada inisiatif untuk masuk.


“Kita semua sama-sama kuat untuk menghadapi ini, Rey. Aku tahu ini sangat berat. Dan kita di sini tidak bisa berbuat apa-apa selain terus mendoakan kesembuhannya Angga. Tolong biarkan Allah yang menentukan takdirnya Angga.”


Reyhan yang senyap mendengarkan rentetan ucapan Jova nang berusaha membangkitkan rasa terpuruknya, mulai mengangkat tangan kirinya dan menghapuskan air matanya dengan pangkal telapaknya.


“Maaf, aku sudah terlalu terlarut dalam kesedihan dan membuatmu jadi kerepotan buat membangkitkan dari patah semangatku. Maaf juga karena aku malah menangis di depanmu. Aku ternyata memang cowok yang gak kuat dan lemah.”


“Hei, jangan bilang begitu. Kamu bukan cowok yang lemah, kok. Kamu cowok yang kuat, aku yakin itu! Sekarang, berhenti dari kegundahan yang kamu rasakan. Paham?”


Reyhan mengangguk lesu. “Tapi ... Apakah kita harus siap kalau Angga pergi meninggalkan kita semua?”


Pertanyaan Reyhan membuat Jova membungkamkan mulutnya. Gadis itu lalu menghembuskan napas dan tersenyum pada sahabat lelakinya.


“Saat ini Angga memang belum ada perkembangan, tapi kita gak tahu kedepannya seperti apa, kan? Jangan suka ambil negatif thinking.”


Reyhan memejamkan matanya lara. “Huh, oke ...”


“Sip, itu baru sahabatku yang bernama Reyhan Lintang Ellvano! Jangan murung lagi, ya? Masih ada kesempatan luas kita untuk mendukung Angga agar bangun dari Komanya.”


“Makasih, Va.”


Jova membuka sedikit mulutnya dengan menyipitkan matanya pada Reyhan yang tiba-tiba berkata terimakasih ke dirinya. “Lah? Makasih apaan?”


“Kamu sudah mengajariku untuk kuat menghadapi kondisi kelam ini. Memang benar, gak seharusnya aku terhanyut dalam sedih. Bahkan terlalu memikirkan seperti apa keadaan Angga di sana.”


Jova berubah melebarkan sunggingan senyum bibirnya yang ia patri dengan kepala manggut-manggut lemah lembut. Sementara teman-teman mereka berdua yang memandang dari luar ruangan, cuma tersenyum usai melihat adegan masygul dan manis yang bercampur jadi satu. Bahkan para kaum hawa merasa iri atas kedekatan Reyhan dan Jova yang padahal hanya sebatas sahabat saja. Bukan sepasang kekasih.


Tetapi kalau dipandang-pandang, apakah mereka berdua cocok jika saling mencintai? Atau sebaliknya? Mungkin mustahil apalagi dua sobat sejoli itu hanya memiliki hubungan persahabatannya saja, tidak melewati batas dari tersebut.


Dan tentang Angga, Tuhan yang memang akan menentukan garis hidup selanjutnya dari Koma. Namun, apakah mereka yang begitu menyayangi Angga akan rela serta Ikhlas bila suatu saat nanti ia pergi tuk selamanya?


INDIGO To Be Continued ›››


•••

__ADS_1


Kalian sebagai pengamat tokoh utama, fans & sayang dengan Anggara, gak? Atau malah kagak sama sekali? Jikalau memang Readers fans & sayang ama cowok ganteng itu, silahkan angkat mayat- eh angkat comment maksudnya :)


Di dunia fiksi, si Anggara udah banyak idola fans. Tapi bagaimana dengan yang dunia realita? Hmmm... Apakah ada, ya?(。>‿‿<。 )


__ADS_2