
Tercipta sudah kesenyapan ruangan musik. Freya diam membisu, sedangkan Angga juga diam dengan menundukkan kepalanya bersama jari telunjuk dan jari tengahnya mengetuk-ketuk badan gitar akustik yang masih Angga dekap.
Pemuda tersebut memejamkan matanya dengan satu hembusan napas yang keluar dari lubang hidung. Merasa apa yang ia lakukan tadi untuk menyatakan perasaannya pada Freya sangat tidak tepat. Di sini, Angga terbelenggu erat oleh keadaan yang sunyi bak layaknya seperti sedang bersinggah di wilayah kuburan pada tengah malam.
‘Matilah gue. Sepertinya apa yang gue lakukan tadi, kurang cukup tepat waktu untuk gue jujur pada Freya, sahabat kecil gue sendiri yang hari ini gue tembak hatinya. Apa gue terlalu bodoh dan terlalu cepat mengungkapkan cinta ini sama dia?’
Angga menyentuh wajahnya dengan satu telapak tangannya bersama mata yang masih ia pejamkan untuk menenangkan situasi ini. Bukan takut karena ditolak oleh Freya, tetapi Angga takut kalau ia malah mengungkit dan membuka memori gadis cantik tersebut ke masa lalu meresahkannya. Apalagi sampai detik ini, Freya juga masih bungkam. Tubuh mungil itu juga sama tidak berkutik, ditambah lagi wajahnya masih memaling ke arah lain.
Daripada tidak berbuat apa-apa di dalam ruang musik, Angga memutuskan memungut casing wadah gitar akustik yang telah ia mainkan untuk menyanyikan lagu romansa tadi pada Freya, tentang lagu mengisahkan seorang lelaki yang ingin sang perempuan menjadi miliknya atau kekasihnya. Angga kemudian memasukkan alat musik melodis itu ke dalam casing, tak lupa setelahnya segera menutup resleting wadah warna navy tersebut.
Usai meletakkan alat musik beserta casing wadah itu ke tempat semula, Angga kembali duduk di kursi. Yang jelas, lelaki tampan tersebut tetap setia menanti jawabannya Freya yang sama sekali belum ada tanggapan respon. Angga mencoba kembali melihat ke arah gadis cantik yang memiliki rambut hitam legam halus nang terurai itu, dan rupanya di situ Freya sedang menatap dirinya. Membuat Angga sedikit kaget, yang Angga lihat si Freya menatapnya tanpa ada seraut amarah, namun tatapan biasa meski bibirnya lumayan menyunggingkan senyum.
“Angga, kamu memang benar suka sama aku? Kamu di dalem ruangan ini lagi nggak bercanda denganku, kan?” tanya Freya lembut.
Angga menggeleng pelan dengan memberikan senyuman tipis paling andalannya. “Aku lagi nggak bercanda denganmu. Aku serius ingin jadi pacarmu, tetapi itu kalau kamu menerimanya saja, aku juga gak akan memaksa dirimu.”
Freya menatap Angga dengan tatapan teduhnya. “Alasan apa kamu mau jadi kekasihku? Jujur saja, aku kaget tiba-tiba sahabatku ini yang aku kenal dari TK hingga SMA, kini cinta sama aku.”
Angga menundukkan kepalanya dengan mengulum senyumannya lalu balik menatap lekat wajah cantik lugu gadis tersebut. “Alasanku adalah, karena aku ingin sekali menjagamu selalu. Mendampingi-mu dimanapun kamu berada. Cukup aku merasakan kamu sakit hati di masa lampau.”
“Dengan aku yang selalu di sampingmu, aku pastikan kamu tidak akan lagi mendapatkan torehan luka di hati. Sedikitpun saja. Jadi, apakah kamu mau menjadi kekasihku? Cintaku ini bukanlah cinta palsu, yang hanya memanfaatkan-mu dan segalanya dari perihal keburukan atau kebengisan.”
Freya membungkamkan mulutnya yang telah memakai satu kali polesan lip balm di bibir dari rumah. Freya menatap mata Angga dengan detail dan intens. Lelaki yang Freya sedang pirsa, terlihat bersungguh-sungguh mengharap ia sanggup menerima cinta autentiknya dari Angga.
‘Angga? Aku masih nggak menyangka kamu bakal bilang seperti ini, menyatakan kejujuran yang sesuai ada di dalam hatimu. Dan ... kamu memang ku akui kamu sanggup menjaga, melindungi-ku dari segala marabahaya yang mencelakai hidupku. Bahkan aku di sini juga menganggap kamu sebagai tameng perisai untukku.’
Angga dibuat bertanya-tanya dalam hati, mengapa semua ucapan tulusnya ini untuk mencintai Freya, hanya dijawab gadis itu dengan senyuman manis. Kendati, Angga tahu apa yang tadi Freya ungkapkan dalam relungnya. Namun di sini, Angga tak lelah menunggu responnya Freya antara iya atau tidak.
“Anggara?”
“Ya?” tanggap lemah lembut Angga dengan tanpa menghilangkan senyuman yang mengembang di wajah tampannya.
“Aku ... mau menjadi pacarmu, karena aku tahu dan yakin segala usahamu ini benar-benar serius dengan caramu sendiri.”
Kedua mata Angga terbelalak terkejut dengan mulut menganga lumayan lebar mengekspresikan bahagianya. “Benarkah?! Kamu mau jadi pacarku?!”
Freya menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum lebar. “Iya, Angga. Kamu pikir aku lagi bohong? Soal masa lalu, atas trauma ku dahulu telah hilang lenyap, berkat adanya kamu yang selalu tetap memberikan motivasi diriku.”
Hati Angga amat terenyuh, dicampur rasa perasaan bahagia yang luar biasa karena telah mendapatkan jawaban Freya yang mana menerima cintanya. Pemuda tampan Indigo tersebut segera menarik tubuh mungil Freya ke dalam pelukannya. “Terimakasih, Sayang ...”
Dag-dig-dug... Mendengar suara Angga yang memanggilnya dengan sebutan 'Sayang' pertama kali ini untuknya, membuat detak jantung Freya berdebar sangat kencang begitupun hatinya amat bergetar. Hingga munculah semburat rona warna merah di kedua pipi wajah cantiknya.
Namun Freya merasakan kehangatan dan kenyamanan di dalam dekapannya Angga sang sahabat kecil yang telah menjadi kekasihnya. Ini sungguh amat tak terduga bila ada yang tahu jika mereka sudah resmi berpacaran dan bukan lagi sebatas Soulmate Sahabat.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Reyhan dan Jova yang sedari tadi telah mengintip kondisi pembicaraan mereka berdua ialah Angga serta Freya, langsung menyingkir dari pintu ruang musik yang sedikit terbuka. Sang sahabat sejoli yang tukang debat mulut itu, membuka mulutnya bahagia. Dengan reflek mereka berdua saling menggenggam telapak tangan satu sama lain lalu melompat-lompat girang dengan tertawa gembira bersama.
“Uwaaaa! Akhirnya mereka berdua jadiaaaan!” pekik seru Jova dan Reyhan kompak.
“Anjir! Demi apaan ini, coba?! Seolah aku lagi di alam bawah sadar dan ngeliat kalau Angga sama Freya pacaran!”
“Iya, Rey! Aku juga sama, wooooi! Gilak parah, sahabat kecil bisa juga menjadi kekasih!” sumringah senang Jova dan dibalas oleh Reyhan dengan sebuah anggukan kepala antusias.
__ADS_1
Pada ujungnya pemuda hati ramah dan gadis jiwa Tomboy tersebut berhenti melompat-lompat macam hewan kelinci. Mereka saling melepaskan genggamannya. “Ayo, Rey! Kita harus cepet kasih tau temen-temen di kelas! Kasih info berita paling heboh mengenai mereka berdua!”
“Setuju! Ayok!” semangat Reyhan yang membara seraya menarik tangan Jova sang sahabat perempuannya untuk berlari menuju ke kelas XI IPA 2 bersamanya.
Sementara di sisi lain, Angga bangkit dari kursi lalu kemudian tangan kanannya membentang pada Freya. Lelaki tampan tersebut yang telah menjadi kekasihnya Freya, tersenyum lebar. “Ayo kita ke kelas, sebentar lagi bel.”
Freya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum amat manis membuat Angga makin menjadi candu dibuatnya. Freya menerima uluran tangan Angga lalu menggapai dan menggenggam telapak tangan Angga. Setelahnya, pasangan kekasih itu melangkah secara beriringan dan lekas meninggalkan ruang musik yang selalu sepi kecuali bila ada seni pelajarannya bersama dibimbing oleh sang guru wanita muda yaitu bu Vanya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Setibanya masuk ke dalam kelas, Angga dan Freya disambut oleh seluruh tepuk tangan para siswa-siswi sekaligus riuh bersorak gembira dengan menatap mereka berdua. Freya tidak tahu ada apa dengan teman-temannya, tetapi Angga sangat tahu.
“CIEEEEEE YANG SUDAH JADIAN!!!” pekik seronok bersamaan dari beberapa siswa-siswi.
Kini Freya telah mengerti. Dan kenapa bisa mereka tahu bahwa gadis cantik dengan pemuda tampan itu telah jadian? Siapa yang memberitahunya akan hal tentang ini?
“Wah! Mantap-mantap-mantap! Gue gak nyangka banget mendengar berita menghebohkan ini! PJ (Pajak Jadian) dong, PJ! Setiap yang udah resmi pacaran harus membayar pajak jadian!” sorak Raka.
“Apaan?! Gak ada PJ-PJ. Biasa saja, kali. Kayak ngerayain acara ulang tahun aja,” jawab Angga dengan nada dinginnya.
“Mulai, keluar lagi deh sikap dan nada dinginnya. Eh, PJ itu apa sih, Ngga?” tanya bingung Freya yang dari otaknya memang masih lugu.
Angga menghela napasnya. “PJ itu artinya kalau dipanjangkan jadi Pajak Jadian. Mereka itu memang aneh.”
“Emangnya harus membayar pajak jadian, ya? Kalau ada yang pacaran?” tanya Freya lagi sangat ingin tahu.
“Gak mesti.” Angga kemudian menatap Aji yang temannya itu memanggilnya dengan nama panjang.
“Karena kalian udah resmi jadi sepasang kekasih, jadi boleh, dong! Kami semua satu kelas ditraktir elo!”
“Yaelah! Pelit amat sih lo, Bro? Kan cuman traktir satu kelas doang, gak satu sekolah. Boleh, dong ...” mohon Raka pada Angga yang teman Introvert-nya itu menatapnya tajam dan juga dingin.
“Kalau gue bilang gak, ya enggak! Sulit mengerti, ya?! Atau gendang kuping lo sudah bermasalah?!” calak Angga.
Freya yang berada di sebelah kekasihnya, meneguk salivanya susah payah. Mendengar suara dingin dengan mata Angga yang menusuk tajam pada Raka, membuat Freya hanya diam saja. ‘Begini, ya kalau Angga sudah sama orang lain? Sifatnya langsung nyeremin kayak hantu hitam yang gede banget se-pohon alias Genderuwo?’
Saat Angga sedang menatap tajam Raka, tiba-tiba tengkuknya dirangkul oleh Reyhan. “Guys, semua gak usah pada sedih gara-gara Angga gak mau traktir kalian. Tenang, ada gue di sini dan ... gue-lah yang akan bakal traktir kalian makan-minum di kantin. Mumpung gue bawa duit lebih segepok dari pemberian bokap tersayang gue.”
“Hah?! Uang segepok dari pemberian bokap elo?! Yang bener aja, Nyuk!” kaget Jevran.
“Maksud gue hasil tabungan gue. Sebenernya sih gue bakal tau kalau endingnya kalian bakal ditolak Angga traktir hari ini. Maka dari itu, gue siap-siap membawa duit di my dompet. Nanti pas jam istirahat kedua, ye? Gue pasti akan janji traktir kalian semua. SATU KELAS SEBELAS IPA DUA SEKALIGUS!!!”
“HOREEEEEE!!!”
Beberapa siswa-siswi yang ada di dalam kelas, hingar-bingar dengan bertepuk tangan meriah pada kebaikan hebatnya Reyhan yang nanti akan mentraktir mereka semua. Walau seharusnya yang membelanjakan mereka makan dan minum di kantin adalah Angga, tetapi tidak apa-apa. Korban sedikit demi menyenangkan seluruh teman-temannya.
Angga yang masih berdiri dan masih dirangkul Reyhan dengan rasa persahabatan, hanya menghembuskan napasnya pelan. Ia kriterianya memang sudah seperti ini jika bersama para temannya yang ia anggap hanya sebatas orang lain. Kemudian si Angga, menoleh menatap Reyhan setengah dingin.
“Lo yang ngasih tau mereka semua soal gue dan Freya pacaran, ya?”
Reyhan cengengesan balik kepada Angga tanpa melepaskan rangkulan tangannya. “Hehehe! Iya, dong! Daripada kayak di film, 'Kekasih Rahasia'. Gimana? Gimana?”
Angga berdeham. “Dasar sahabat rese.”
__ADS_1
Reyhan tertawa lalu tersenyum ramah pada sahabat Introvert-nya tersebut yang telah menjadi pacarnya Freya. “Rese gimanapun, gue tetep sahabat lo yang selalu ada di hati.”
“Najis!”
Freya menggelengkan kepalanya dengan tertawa pelan pada tingkahnya Reyhan pada Angga, hingga berselang detik kemudian gadis tersebut terkejut saat ada seseorang merengkuh tubuhnya. Yaitu Jova. “Selamat ya, Freya cantikku Sayang! Yang udah jadi pacarnya Angga, hehehe! Aku seneng banget, deh kalian akhirnya jadian juga.”
“Jova, ih! Ngagetin aja, deh! Tapi makasih ya, hehe ...”
Jova segera melepaskan rengkuhan lembutnya dari tubuh mungil sahabat polosnya lalu memutar tubuh Freya untuk kedua pipinya ia tarik-tarik istilahnya sedang dicubit dengan gemasnya. “Iyaaa! Sama-sama cantikku, Sayangku, sahabat polos-ku yang imut terunyuk-unyuk!”
“Aaaaaaww! Jovata, lepasin!!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Satu minggu kemudian tepatnya adalah dini hari Jumat, mata Angga masih terpejam tidur di atas kasur empuk miliknya untuk menikmati mimpinya. Namun berselang menit berlalu, kedua mata lelaki tampan tersebut agak mengernyit seolah di alam bawah sadarnya ia menyinggahi suatu tempat yang tak Angga tahu.
Splash !
Di dunia alam mimpinya, sang roh Angga tengah menjumpai sebuah bangunan di dalam sekolah. Angga masih bingung sekolah apa yang ia injak kali ini, dan jika soal bangunan sekolah, ia sama sekali sebelumnya belum pernah mimpi ini. Angga memutuskan mengedarkan sekeliling untuk melihat-lihat kondisi tempat tersebut yang amat kumuh dan kotor, bahkan di setiap tembok dinding yang cat warnanya telah pudar, dilengkapi banyak akar-akar pohon. Lantai koridor sekolah yang Angga injak pun, juga terlihat amat kotor berdebu karena dipenuhi pasir-pasir.
Oh, tidak hanya itu saja. Nyaris di sekelilingnya Angga, terdapat kabut lumayan tebal. Pemuda pemilik mata batin tersebut, menghembuskan napasnya sebentar lalu mulai melangkahkan satu kakinya ke depan untuk menyusuri setiap koridor yang ada di dalam bangunan sekolah ini.
Namun baru saja jalan dua langkah, Angga berhenti mendadak waktu dirinya dipanggil oleh beberapa anak perempuan siswi dalam sebutan 'Kak'. Mereka yang ada di belakangnya Angga, memanggil lelaki tampan itu begitu amat lirih dan lemah. Tanpa ada rasa sedikitpun ketakutan yang menyelimuti jiwa serta hati, Angga segera memutar pinggulnya ke belakang untuk menoleh menatap mereka beberapa derajat.
Angga sontak spontan langsung memutar dirinya hingga posisinya menjadi menghadap pada ketiga siswi umur 12 tahun yang mengenakan seragam merah putihnya. Rupa wajah di antara mereka bertiga memang sangat menyeramkan bahkan hancur hingga terlihat tulang pipinya masing-masing, seragam SD yang mereka kenakan juga nampak lusuh dicampur bercak-bercak darah. Namun tetapi dari semua itu, yang Angga fokuskan adalah sorot mata para ketiga siswi tersebut yang menunjukkan bahwa mereka seakan ingin meminta pertolongan kepada Angga.
“Apakah kalian ingin meminta bantuan?” tanya Angga serius pada ketiga hantu tersebut.
Para siswi tersebut menganggukkan kepalanya dengan gerakan lambat. “Tolong temukan jasad kami, Kak ...”
“Hanyalah Kakak yang bisa membantu kami untuk memberikan ketenangan arwah kami ... nyawa kami semua telah dilenyapkan oleh seseorang yang membenci kami bertiga ...”
“Kami harap, Kakak mampu menemukan raga kami untuk membuka kunci kemana seharusnya kami berada ...”
Angga mengerutkan keningnya pada ucapan tiga makhluk gaib siswi SD itu yang mereka lontarkan masing-masing ke terhadap Angga. Bahkan dari ekspresi paras wajah mengenaskannya, bisa Angga lihat bahwa mereka amat bermohon padanya untuk segera menemukan raga jasad mereka yang belum ditemukan. Baru saja Angga akan melemparkan sebuah pertanyaan, tibalah angin menderu kencang membuat Angga segera menutup kedua matanya dan melindungi wajahnya dengan bentengan dari tangan kanannya.
Angga kembali membuka matanya dan menurunkan tangannya setelah 5 detik lalu angin lenyap. Lelaki tersebut balik menatap mereka bertiga, namun sayangnya hantu arwah itu malah menghilang entah kemana. Angga mencoba mencari-cari keberadaan mereka yang telah tak beraga itu dengan pandangan matanya.
“Hei! Kalian dimana?!”
Splash !
Angga membuka matanya sangat cepat hingga menjadi dua matanya saling mendelik. Lelaki tersebut yang telah terbangun dari mimpinya, langsung lekas mengubah posisinya baring berubah duduk. Napas Angga tersengal-sengal akibat mimpi tersebut yang sudah ia datangi secara tak sengaja.
“Mereka bertiga itu siapa? Kenapa tiba-tiba mereka ingin meminta pertolongan dari gue untuk menemukan jasadnya?”
Angga menyingkap rambut hitamnya ke belakang usai menghembuskan napasnya. Ia belum mengerti maksud dari mereka, karena mereka sangat membutuhkan bantuan pada manusia Indigo tersebut. Kini sekarang Angga yang berada di kamar non penerangan lampu, mengambil ponselnya untuk melihat jam di layar.
“Jam empat pagi ...” Usai mengatakan itu dengan pelan, Angga meletakkan kembali ponsel Androidnya lalu mengusap wajahnya dengan menghembuskan napasnya kembali lagi.
Sepertinya Angga di jam ini memilih melupakan memori mimpi barusan yang ia jumpai tadi untuk sementara. Dan sekarang lelaki tampan itu, beranjak turun dari kasurnya usai menyingkap selimut tebal hitam miliknya. Angga melangkah menuju depan pintu kamar lalu menyalakan lampu kemudian sesudah itu, dirinya membuka pintu serta lekas keluar dari kamarnya lepau mengambil air Wudhu buat melaksanakan Sholat Subuh.
Semua mimpinya yang ia arungi dan dirinya yang dipertemukan oleh ketiga siswi usia 12 tahun, memang membuat Angga ingin lebih menggali informasi yang terkait pada mereka. Tetapi itu nanti saja, untuk sekarang Angga memutuskan dan memilih menghadap kepada sang Tuhan terlebih dahulu dari Sholatnya yang lelaki tampan tersebut realisasikan setelah ini.
__ADS_1
INDIGO To Be Continued ›››