Indigo

Indigo
Chapter 77 | Grasp Accuracy


__ADS_3

Di dalam perpustakaan SMA Galaxy Admara, Reyhan yang mengenakan seragam rompinya tengah di hadapan rak buku novel. Senyuman sumringah yang merekah di wajahnya menyimpulkan dirinya merindukan perpustakaan tersebut, karena sudah sekian lama dirinya tak menempati perpustakaan di sekolahannya ini.


“Dah lama banget gue gak ke sini. Hmmm ... kira-kira di sini ada rekomendasi buku novel yang bagus kagak, ya? Mana banyaknya yang genre Horor, lagi.”


Reyhan mengalihkan perhatiannya dari rak buku novel khusus Horor Misteri, dirinya berbalik badan untuk mencari-cari buku novel di genre Thriller yang ada di depan raknya genre Horor. Jari tangannya membuka-buka beberapa buku novel tersebut yang posisinya tegak jejek lurus.


“Rey.”


“Mak Nyang!!” latah Reyhan spontan kaget dengan memegang dadanya yang jantungnya nyaris copot.


Lelaki itu dengan mata terbelalak langsung menoleh pada sendang suara yang memanggilnya secara tiba-tiba. Dilihatnya pak Arya guru penjaga perpustakaan menahan tawanya pada siswa kesayangannya yang terkejut bukan main. “Kagetan ya sekarang. Nama Bapak bukan Mak Nyang, lho.”


Reyhan menghembuskan napasnya yang mulutnya terbuka. “Bapak ngagetin saya sih! Ada perlu apa, Pak Arya?”


“Hahaha! Maaf deh kalau sudah buat kamu kaget, fokus banget nyari buku novelnya. Itu tuh di deket kamu banyak rekomendasi buku novel genre Thriller yang dijamin kamu suka. Oh iya, Bapak boleh minta tolong sama kamu?”


“Boleh, Pak. Mau minta tolong apa?” tanya Reyhan seraya mengontrol detak jantungnya yang dirinya habis kaget bukan main.


“Kamu bisa jagain ruang perpustakaannya? Soalnya Bapak ingin pergi sebentar. Mana kan penjaga perpustakaan di sekolah ini cuman Bapak yang magang. Bisa, kan?”


“Oalah. Silahkan saja, Pak. Saya juga mau baca buku di sini, sekalian menjaga perpustakaan. Sayang banget di ruangan ini nggak ada CCTV-nya.”


Reyhan mendongak ke atas yang di setiap sisi dinding atas tak terdapat CCTV. Pak Arya nyengir. “Belum ada rencana memberikan CCTV, tapi di ruangan lain sudah ada CCTV. Tahu, kan anak-anak siswa di sekolah ini sekarang banyak melanggar peraturan sekolah yang melakukan bukan-bukan.”


“Saya tahu, Pak. Kasus Pembullyan juga sudah banyak di sekolah ini. Bapak bisa pergi dan saya akan menjaga perpustakaannya, aman jika ada saya hehehehe.”


“Mantap! Kamu memang murid kesayangannya Bapak, hahaha. Yasudah ya, Rey. Bapak hanya pergi sebentar saja kok.”


Reyhan menganggukkan kepalanya dengan senyuman ramahnya begitupun pak Arya tersenyum lebar sebelum meninggalkan siswa tersebut dari ruang perpustakaan. Alasan itu dikarenakan beliau ada kepentingan sesuatu yang mengharuskan pak Arya meninggalkan ruang perpustakaan sejenak.


Reyhan kembali menghadapkan tubuhnya di rak buku novel genre Thriller. Reyhan sempat ingat tunjukan pak Arya letak rekomendasi buku novel genre tersebut. Pemuda itu menarik wajahnya ke atas dan mengangkat tangan kanannya untuk meraih buku novel yang akhirnya ia temukan buku novel yang menurutnya menarik dari depan cover.


Setelah mengambilnya dari rak bagian atas, Reyhan mengecek atau melihat-lihat gambar cover buku novel itu bagian depan lalu bagian belakang. “Hm, kayaknya ini salah satu buku rekomendasi yang terbaik.”


Reyhan mulai membuka buku novel genre Thriller tersebut yang telah ia pilih. Reyhan mengangguk mantap dan akan membawa bukunya ke meja khusus membaca buku.


Tes...


Sebuah tetesan satu titik darah mengenai lembar tulisan naskah buku novel yang akan Reyhan baca setelah ini. Reyhan yang mendengar suara tetesan satu kali itu otomatis langsung melihat ke bukunya, pemuda tersebut dengan nyali setengah berani menyentuh darah segar itu bersama jari telunjuknya. Kemudian usainya, Reyhan mengusap darah dari jari telunjuknya dengan jempolnya.


“Darah ...”


Reyhan mendongakkan kepalanya ke atas untuk mencari tahu berasal darimana darah yang menetes di buku novelnya, sedikit menyipitkan kedua matanya. “Nggak ada apa-apa. Tapi kok, bisa ada darah?”


Mata Reyhan terbelalak karena teringat sesuatu. “Jangan bilang itu ulahnya dia?!”


Reyhan menggelengkan kepalanya kuat dengan berdecak, dirinya berusaha tak memedulikan sosok itu yang masih mencoba menerornya meskipun wujudnya kali ini tak terlihat. Reyhan kembali melanjutkan langkah ke meja untuk membaca buku novel rekomendasi terbaik yang akan ia baca sampai pak Arya balik ke ruang perpustakaan.


Namun baru saja dua langkah melangkah, Reyhan mendengar sebuah bisikan-bisikan yang membuat sepasang telinganya mendengung. Satu tangan Reyhan menutup telinga kirinya seraya menarik wajahnya ke atas dinding, tepatnya sudut dinding atas. Sontak saja Reyhan mengubahkan bola matanya menjadi mencuat. Darahnya berdesir dan keringat dingin muncul saat tatapannya bertemu Arseno yang posisinya merayap.


Tanpa basa-basi, arwah negatif itu langsung menyemburkan asap hitamnya dari mulutnya dan memarani kencang ke arah Reyhan yang tak bisa berkutik sedikitpun. Kedua kakinya terpaku kuat sehingga manusia tersebut tak bisa mangkir dari sihir asap hitam membahayakan Arseno.


Drap drap drap drap !!!


“Reyhan awas!!”


Angga yang berlari marathon, mendorong tubuh Reyhan ke samping dengan tenaga maksimalnya supaya sahabatnya terhindar dari serangan membahayakan itu. Reyhan berhasil Angga elakkan tetapi asap hitam yang melintang tersebut mengenai diri Angga tepatnya di dadanya membuat pemuda Indigo itu terpelanting kencang ke belakang hingga menabrak tembok pojok ruangan.


DUAKH !!!


Reyhan yang telah jatuh tersungkur, mendesis karena badannya membentur lantai dengan keras. Bersamaan ia tersungkur, Reyhan menangkap suara hantaman kuat di paling pojok ruang perpustakaan. Reyhan perlahan yang keadaannya terlungkup, bangkit dan menoleh ke belakang.


“Angga??!!”


Reyhan berlari ke arah Angga yang terbaring di lantai dalam posisi matanya terpejam kuat seraya menyentuh dadanya yang sudah terkena serangan milik Arseno tadi. Di sisi lain, arwah itu malah menghilang lagi. Reyhan berjongkok di samping sahabatnya dengan wajah paniknya karena seketika tersebut muka Angga berubah menjadi lumayan pucat akibat tumbukan itu yang mengenai dirinya.


“Ngga?! Ngga?! Lo gak kenapa-napa?! Ayo sini gue bantu bangun!” Reyhan cekatan menopang punggung Angga untuk membantunya bangkit posisi duduk.


Angga berusaha menahan sakitnya yang antara sakit dadanya dan kepalanya. Lelaki itu membuka matanya kompakan anggukan kepala. “Nggak. Gak kenapa-napa.”


“Seriusan?! Gue enggak percaya lo oke-oke aja! Bangsat! Gara-gara dia lo jadi kayak gini-”


Tiba-tiba terdengar suara getaran hebat di sepenjuru ruang perpustakaan. Sepertinya Arseno sudah semakin menjadi-jadi untuk meremukkan hari Reyhan yang kini juga Angga yang terlibat. Dengan dalam keadaan posisi kesakitan, Angga beranjak berdiri dan menarik tangan Reyhan untuk mengajak sahabatnya keluar dari ruang perpustakaan yang akan dikacaukan oleh arwah petaka aura kegelapan tersebut.


Langkah besar Angga dan Reyhan sulit mereka gunakan karena goncangan ruangan itu begitu dahsyat, tidak hanya sampai itu saja yang datang namun meja kursi tempat membaca seketika melayang ke atas udara dan akan mengenai tubuh Reyhan begitupun pula dengan Angga yang tengah menarik tangan sahabatnya untuk segera cepat keluar dari ruang perpustakaan.

__ADS_1


Sebetulnya Angga sudah sangat lelah karena tenaganya sudah ia pakai buat berlari kilat apalagi benturan kepalanya yang menabrak tembok tadi membuat cederanya kembali kambuh.


Mereka berdua berhasil keluar pada akhirnya. Karena benda terbuat dari kayu jati itu terus melayang ke arah dua pemuda itu dengan secepat angin, Reyhan yang ada di belakang cekatan menutup dua daun pintu ruangan tersebut hingga terdengar jelas suara dobrakan dari dalam.


BRAKK !!!


Sepertinya jika di nalar, seluruh meja dan kursi itu menubruk pintu ruang perpustakaan sehingga terdengar dobrakan kuat dari sana. Tapi leganya dua benda itu tak sampai merusak dua daun pintu ruangan perpustakaan lantai 3 tersebut.


“Reyhan?! Angga?!”


Sontak saja langsung dua siswa dari kelas XI IPA 2 menghentikan larinya yang tertunda oleh suara panggilan pak Arya dari belakang. Angga lantas itu melepaskan tangannya Reyhan lalu membungkukkan badannya sembari mengatur napasnya yang tersengal-sengal.


“P-pak Arya?!” Pak Arya mempercepat langkahnya untuk menghampiri dua muridnya yang gelagatnya cukup aneh.


“Kalian berdua kenapa lari kenceng kayak tadi?? Ada hantu di dalam?” tanya pak Arya seraya dua tangan beliau membuka dua daun pintu ruang perpustakaan dan mengeceknya dari ambang pintu.


Setelah dilihat pak Arya, ruang perpustakaan nampak aman-aman saja. Tak ada kerusakan yang berantakan melanda. Sementara itu Reyhan menatap sahabatnya yang masih berusaha mengontrol aturan napasnya. “Mampus si Angga! Capeknya!”


Reyhan sedikit melangkah mendekati Angga yang ada di depannya lalu menyentuh pundaknya yang banyak peluh keringat di bagian tengkuknya. “Ngga? Lo masih oke, kan?”


Angga membuka matanya yang sempat ia pejamkan waktu dirinya membungkukkan badannya. Angga sudah menduga tubuhnya akan sempoyongan, bahkan sekarang pandangannya berkunang-kunang. Telinga miliknya berdenging sampai tibanya lelaki Indigo itu tumbang ambruk ke samping jatuh ke lantai.


Brugh !


Mata Reyhan melotot sempurna begitupun juga dengan pak Arya yang langsung memarani Angga. Masih dapat Angga dengar suara antara sahabatnya dan gurunya yang memanggil-manggil dirinya hingga detik kemudian semuanya berakhir menjadi gelap.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Dengan lemah, Angga membuka matanya. Lelaki yang baru saja sadar dari penurunan drastis kesadarannya, mengerjapkan matanya beberapa kali pada matanya yang terlihat sangat sayu. Dirinya yang terbaring di suatu ruangan mulai memfokuskan pandangannya yang buram itu sudah menghilang. Tanpa sengaja bola mata Angga bersilih ganti mengarah ke Reyhan yang duduk di kursi tepat sebelahnya dengan kepala menunduk.


Hendak memanggilnya, sakit kepalanya menyerang kembali membuat tangan kanannya terangkat meraih kepalanya untuk ia pegang. Dari itu Reyhan langsung menarik mukanya dan menatap sahabatnya yang telah siuman. Betapa senangnya pemuda friendly itu melihat Angga sudah membuka matanya dan kini sedang memegang kepalanya bersama mendesis karena sakit kepalanya bekerja.


“Udah sadar? Huh, gue kira pingsan lo bakal lebih lama lagi.”


“Sudah berapa lama ... gue pingsannya?” Angga melemparkan pertanyaan baru pada Reyhan. Namun entah mengapa sahabatnya itu mengubah raut wajahnya menjadi sendu.


“Delapan bulan.”


Mata Angga berkedip-kedip seketika itu juga mendengar jawaban Reyhan yang sahabatnya lontarkan. “Maksud lo? Berarti gue Kom-”


“...?!”


Reyhan reflek membenturkan punggungnya di sandaran kursi beserta mendongakkan kepalanya dengan tertawa puas karena sudah melihat ekspresi Angga yang nampak begitu kaget. Mulut Angga otomatis langsung bungkam dan mengerutkan keningnya, sementara tangannya tersebut belum terlepas dari kepalanya.


Reyhan mengubah posisi kepalanya pada awal begitupun badan yang ia tegakkan. “Anjir muka lo lucu bener kalau kaget! Lo cuman pingsan delapan menit doang kok, delapan menit.”


Angga mendengus pelan dengan menatap Reyhan bersama ekspresi jengah-nya bahkan raut dinginnya kembali muncul. “Dasar ... pinter akting ya, lo- akh!”


Yang Angga rasakan, kepalanya begitu cenat-cenut saat belum menyelesaikan omelan dingin kepada sahabatnya yang sangat rese sekali. “Mangkanya jangan ngegas, sakit lagi kan tuh!”


“Gue nggak ngegas.”


Reyhan yang mengatupkan bibirnya rapat untuk menumpil tawa berubah menjadi cengengesan namun sedikit takut melihat ekspresi kutubnya Angga. “Hehehe, lagian kalau lo delapan bulan gak sadar, gue dan yang lain udah resmi naik jenjang berikutnya. Bener, kan? Hahahaha!”


“Ketawa aja terus, habis itu vas yang ada di meja ini bakal siap melayang ke muka lo!”


Reyhan yang sibuk menertawakan Angga seketika tersihir berubah berhenti, menelan ludahnya mendengar ancaman sahabat Introvert-nya. “Iye, maap kali, Ngga! Gue kan tadi cuman iseng sama lo doang barangkali di jam ini gue dapet hiburan sejenak, hati gue sepi gak ada yang ngisi tau.”


“Isi pakai air. Air raksa kalau perlu!”


“A-anjrot! Sadis banget, sih mulutnya ... huh! Udahlah gue kalah, game over game over, oke?!”


“Hm.”


Reyhan meringis mendapatkan respon singkat Angga apalagi dehaman andalannya yang selalu terdengar di telinga Reyhan. Kemudian setelah itu Reyhan mengulurkan satu tangannya ke arah Angga yang masih terbaring di ranjang kasur UKS.


“Ayo bangun dulu.” Bentangan tangan itu diterima oleh Angga dengan memegang telapak tangan sahabatnya. Pemuda yang wajahnya masih tertera pucatnya perlahan dibantu bangkit Reyhan yang tulus. Memang tulus tetapi kadang-kadang suka minta dilempar beton pembatas jalan tol karena sikap mengesalkannya.


Sudah nampak jelas sekali lemasnya wajah Angga serta tubuhnya usai dibangkitkan posisi duduk, tentu saja faktor dari cedera kepalanya. Reyhan memutar badannya ke samping untuk mengambilkan gelas air putih dan strip obat.


Reyhan memutar badannya menghadap depan kembali lalu menyodorkan gelas tersebut ke Angga. “Lo pegang gelasnya dulu, biar gue bukain bungkus obatnya.”


Angga mengangguk mengiyakan untuk menuruti sahabatnya, tangannya mengulur mengambil alih pegangan gelas dari tangan Reyhan. Angga memperhatikan sang sahabat yang kedua tangan jarinya membuka kemasan pil obat milik Angga, setelah berhasil dibuka dan mengeluarkan satu butir pil, lelaki ramah itu memberikannya pada pemuda pendiam tersebut.


Setelahnya, Reyhan memasukkan strip obat sahabatnya ke dalam saku kantong celananya. Karena kalau dirinya menaruhnya di meja kembali, yang ada saat ia dan Angga keluar meninggalkan ruang UKS obat itu tertinggal di dalam ruangan tersebut. Maklum, lelaki pikun.

__ADS_1


“Tadi pas lo belum sadarkan diri, gue sempet ambil obat lo di tas dalem kelas kita. Yasudah dah mending lo minum obatny- lho! Obatnya kemana? Kok di tangan lo udah gak ada?!”


“Udah gue telen dari tadi.”


Reyhan berdecak beberapa kali sambil menggelengkan kepalanya, ternyata karena sudah terbiasa, Angga menjadi jago menelan obat daripada dirinya yang kebiasaan sering terkena pahitnya duluan. “Untung aja di sini gak ada Freya, kalau ada nih ya pasti gue kena omelan gratis tis dari sahabat lo karena gue udah bilang kalau lo pingsan selama delapan bulan. Di pikir-pikir gue bebas ngerjain lo, seru juga ya ngerjain sahabat kayak elo.”


Angga meneguk air putihnya yang ada di dalam gelas seraya menatap Reyhan horor lalu tangannya membentang untuk meletakkan gelasnya di atas meja sisi ranjang kasur tempat dimana ia terbaring tadi karena mengalami pingsan.


“Lagian gak bangun selama delapan bulan, udah bukan pingsan lagi namanya tapi-”


“Koma. Gue tahu!”


Pada akhirnya setelah banyak mengoceh pada Angga yang kerap ditanggap nada ketus dampratnya, Reyhan menipiskan bibirnya dengan menghela napasnya. Memutar bola matanya mengalihkan pandangan dari muka dingin sahabatnya selama beberapa detik kemudian beralih menatap sang sahabatnya kembali.


Memandangi muka pucat dari Angga sedangkan di sisi lain Angga menghadapkan kepalanya di pintu UKS yang posisinya tertutup. Hal itu membuat Reyhan ingin melemparkan pertanyaan sesuai hati. “Ngga. Itu dua sakitnya masih kerasa? Apalagi kan lo kena serangan dari arwah keparat itu sampai buat kepala lo membentur tembok pojok perpus.”


Angga melirik Reyhan sekaligus menolehkan kepalanya ke arah sahabatnya yang tatapannya tergambar jelas raut wajah cemas. “Udah gak kerasa.”


Dengan reflek Reyhan membelalakkan matanya dengan melongo tak percaya. “Yakin?! Wah ini terlalu impossible.”


“Impossible kenapa?” tanya Angga dengan nada masih dingin.


“Mustahil lah, Bro! Yang padahal kan serangan itu bahaya banget kalau kena! Masa lo udah baik-baik aja?! Terus itu kepala lo udah gak sakit lagi?! Benturannya kedengeran keras lho!”


“Lo napa panik begitu? Apa yang gue rasain udah gak sesakit kayak tadi, jangan lebay jadi orang. Lagian kalau sudah minum obatnya, sakit kepala gue cepet reda, kok.”


Angga tersenyum miring. “Sori, gak seperti lo yang lemah banget jadi cowok. Kurang macho.”


Reyhan meraung sengit pada perkataan Angga yang seolah sedang menghinanya. Tetapi ada yang pastinya ia peka bahwa Angga hanya bergurau. “Oalah, sobat semprul!”


Cklek !


Pintu UKS yang tertutup dibuka oleh seorang ketua PMR yang tak lain adalah Johan Avren Noah. Nampak kakak kelas mereka berdua memasuki ruangan tersebut dengan membawa beberapa botol kecil dan sedang. Tak lupa setelah itu Johan menutup kembali pintu ruang UKS yang di luar ruangan nampak senyap tak ada siapapun dikarenakan jam pembelajaran masih berlangsung.


“Weh, udah sadar lo, Angga!” pekik Johan menghampiri wakilnya.


Reyhan menangkap pandangan sesuatu yaitu botol-botol kecil yang dibawa oleh Johan. “Banyak bener, Bang! Mau dibuat jualan apa gimana dah?”


“Enak aja lo, Rey! Kebiasaan adek kelas sepuluh ama sebelas kalau pinjem alat ini suka gak dikembalikan. Untung anak-anak di kelas lo pada tertib semua.”


Johan bergantian menyilih pandangannya ke Angga yang diam bungkam. “BTW, gimana keadaan lo? Udah mendingan belum?”


Angga hanya menganggukkan kepalanya sedikit senyum sebagai tanda jawaban untuk merespon ketuanya dari bidang PMR sekolah SMA Galaxy Admara. Johan yang mendapatkan tanggapan itu tersenyum dengan memperlihatkan giginya bagian atas lalu lelaki berusia lebih tua dari kedua adik kelasnya itu ialah 18 tahun, membalikkan tubuhnya ke belakang dan melangkah ke kotak putih P3K yang terpajang di tembok kanan.


Setelah sampai, Johan membuka kotak P3K tipe B dan beberapa botol obat kesehatan seperti minyak kayu putih, alkohol, betadine, beserta hansaplast spray antiseptik ia masukkan ke dalam kotak putih itu secara satu persatu dengan rapi. Usai semuanya telah beres, Johan menutup kotak P3K yang ada di hadapannya ini.


“Bang Johan, yang tadi makasih ya udah nolongin Angga bawa ke UKS.”


Johan memutar tubuhnya dan menatap Reyhan teduh. “Itu udah tugas gue sebagai ketua PMR di sekolah ini, Rey. Oh iya lo kagak balik ke kelas?”


“Males Reyhan, Bang. Toh sekarang materinya bu Aera, nanti yang ada salah dikit kena semprot kalau kagak timpuk penghapus kayak dulu. Mending jagain Angga di sini malah aman terkendali.”


“Hahaha, ya gimana lagi? Beliau juga guru paling killer di SMA kita, tapi aslinya baik kok dia cuman tegasnya kelewat batas. Nah lo Angga, kalau belum kuat buat ngikutin pelajaran di kelas, istirahat aja dulu di situ. Jangan dipaksain kalau emang gak bisa. Inget, cidera kepala lo belum sepenuhnya pulih.”


“Ya, Kak.”


“Markotop! Yasudah ye, gue mau balik ke kelas. See you both !”


Reyhan menempelkan satu sisi telapak tangannya di sebelah mulutnya. “You too !”


Setelah Johan pergi meninggalkan ruang UKS untuk balik ke kelasnya yang ada di lantai 3, Reyhan menatap Angga. “Ngga, sebenernya maksud lo tadi apa di ruang perpustakaan? Lo malah rela mengorbankan diri. Bahayain nyawa aja!”


Angga menghela napasnya. “Lebih baik gue yang kena, daripada lo, malah jadi lain cerita. Serangan asap hitam itu mampu buat lo sekarat.”


DEG !


“S-sekarat?!”


Angga mengangguk. “Kelemahan lo sebenarnya sudah diukur sama Arseno, bahkan hanya satu arwah itu harap, lo mati. Untuk melampiaskan dendam besarnya, target yang dia incar harus merasakan kematian seperti raganya.”


“Gue sudah berjanji sama diri gue sendiri kalau gue gak akan biarin lo mati di tangan Arseno karena berbagai ulahnya pada lo. Kalaupun nyawa gue menjadi korban, gue juga gak peduli. Yang penting jiwa lo masih aman di dunia.”


Reyhan terdiam sengap tak bisa berkata apa-apa pada aspirasinya Angga yang amat menggentarkan tentang dirinya rela berkorban nyawa demi keselamatan jiwa miliknya. Reyhan tahu Angga sengaja menjadi tameng hidup untuknya. Sebegitunya Angga ingin melindungi Reyhan dari marabahaya besar yang mengakibatkan fatal.


Indigo To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2