
Angga meraup wajahnya kasar di pinggir kasur. Setelah 1 hari Emlano bersekolah di SMA Galaxy Admara, Angga semakin bingung dan tak mengerti kenapa sampai sekarang dirinya tidak bisa membaca aura pemuda siswa baru tersebut. Namun jika dilihat dari depan atau luar, Emlano sikapnya terlihat baik, ramah, dan segalanya yang selayaknya aura positif. Tetapi sayangnya, Angga tak sanggup melihat di belakangnya.
“Apakah benar mata batin gue untuk menyurvei aura Emlano ditutup? Tapi kenapa?”
Ting tong !
Angga spontan melepaskan kedua telapak tangannya dari muka tampannya, lalu segera beranjak berdiri untuk keluar dari kamarnya dan lekas menuruni undakan anak tangga. Selepas itu, Angga membuka pintu rumahnya.
Cklek !
Angga mengerutkan keningnya yang tertutupi oleh rambut hitamnya dengan menatap seseorang nang berdiri di depan teras rumahnya. “Reyhan? Elo kenapa bawa tas besar?”
Reyhan menghempaskan napasnya dengan raut kesal. “Gue boleh nginep di rumah lo selama dua hari doang, gak? Di rumah ada permasalahan keluarga, jadinya daripada Stress, gue nginep aja di rumah sahabat.”
Angga menganggukkan kepalanya dengan memberikan senyuman simpelnya. “Kenapa gak boleh? Ayo masuk.”
“Thanks banget, Bro! Gak sia-sia gue minggat jauh-jauh buat dateng ke komplek Permata,” ucap Reyhan seraya melangkahkan kakinya masuk dengan menenteng tas punggungnya usai sang sahabat mempersilahkan masuk ke dalam rumah.
Klap !
Setelah mendorong pintu untuk menutupnya kembali, Angga membalikkan tubuhnya ke belakang dan tatapannya langsung mengarah pada Reyhan yang membuka pintu kulkas ruang dapur untuk mengambil botol kaca sirup Marjan rasa melon. Angga duduk di kursi sofa panjang seraya menatap sahabatnya yang nampak meneguk sirup melon dengan gelas.
“Sudah berasa rumah sendiri, ya?” sindir Angga.
“Biarin, lah! Gue haus banget, Ngga!” jawab Reyhan setelah mengeluarkan sendawa dari mulutnya dan tak lupa mengucapkan kata 'Alhamdulillah'.
Angga menggelengkan kepalanya dengan terkekeh pada sahabatnya yang kini duduk di kursi meja makan. Hingga tiba-tiba bel rumah pemuda Indigo tersebut dibunyikan entah siapa yang ngebel. “Siapa tuh, Ngga? Bukain, sono.”
Angga pun segera berdiri dari kursi sofa panjangnya lalu kedua kaki panjangnya berjalan mendekati pintu untuk membukanya. Setelah tuan rumah tersebut membukakan pintu, terlihatlah sosok sang kekasihnya yang tersenyum lebar dengan kedua tangan membawa semangkuk isi bakso. Angga yang disuguhi dengan senyuman cantik Freya, membalasnya bersama senyuman tampannya.
“Tada! Aku bawa bakso, nih buat kamu! Di makan, ya? Jangan sampe dibiarin hingga basi, daripada aku Puasa ngomong sama kamu,” ancam Freya.
“Eh?! Ya jangan gitu, dong.” Angga nampak terkejut pada ancaman halusnya gadisnya itu.
“Hehehe! Enggak, kok aku cuma bercanda.” Kelakarnya Freya membuat Angga mengulum senyumannya dan meraih pucuk kepalanya untuk mengusap-usapnya, ralat. Mengacak-acak rambut hitam legamnya sang pacar.
“Ih! Jangan digituin dong rambutku, Ngga!” protes Freya sebal seraya melepaskan tangannya Angga dari ujung bawah mangkuk buat menghentikan aksi lelaki tampannya.
“Gakpapa. Biar tambah cantik,” ujar Angga.
“Cantik apaan?! Yang ada aku malah jadi orang gila!” protes Freya lagi dengan mengerucutkan bibirnya sambil merapikan para helaian rambut hitamnya.
“Hahahaha! Itu kamu tau.”
Freya menatap Angga dengan ekspresi ngambek seraya menggigit bibir bawahnya karena kesal pada tingkah laku kekasihnya yang begitu berubah dari biasanya. Hingga tiba-tiba saat fokus bercanda pada Freya, kedua pundak Angga ditepuk kencang oleh Reyhan dari belakang. Pengganggu telah datang.
“Ehem! Kayaknya seru banget nih, guraunya. Kok gak ajak-ajak gue, sih?” ucap Reyhan nyengir.
Angga memegang dadanya tepat di bagian kiri karena begitu amat kaget atas tepukan tangan sahabatnya yang sudah mendarat di kedua bahunya. “Woi! Jantungan, gimana gue?!”
“Paling juga jantungnya berhenti,” seloroh Reyhan.
Sungguh, ingin rasanya Angga menimpuk muka jahilnya Reyhan menggunakan tanah tanaman bunga yang ada di pekarangan rumahnya, namun ia masih bisa menguatkan rasa sabarnya menghadapi sahabatnya itu.
“Reyhan! Mulutnya dijaga!” komplain Freya menatap Reyhan setajam-tajamnya.
Yang diberikan komplain, hanya cengengesan minta ampun pada gadis Nirmala tersebut yang tangannya membawa mangkuk isi bakso menggiurkan. “Si Freya, toh? Kirain siapa. Baksonya buat Angga doang, nih?”
Freya menghela napasnya. “Sebenarnya begitu. Tapi karena ternyata di rumah Angga ada kamu, yasudah kamu makan baksonya juga gak kenapa-napa. Oh iya, kamu ngapain di rumah Angga kalau aku boleh tanya?”
Reyhan mendengus. “Nginep di rumah pacarmu selama dua hari. Alasannya karena di rumahku ada permasalahan keluarga, mama papaku berantem hebat sampe teriak-teriak gitu marahnya. Sebetulnya masalah sepele, sih tapi langsung bertengkar gitu aja. Untung hanya adu mulut, gak sampe adu tangan.”
“Kasihan banget kamu, Rey. Pasti langsung gak betah di rumah, ya?” tanya Freya dengan raut pilu.
“Tau banget kamu, Frey. Iya, mangkanya aku dateng ke komplek Permata buat nginep di rumahnya Angga.”
“Kenapa harus rumah Angga? Gak ada yang lain buat kamu tumpangi untuk menginap?” tanya Freya dengan tertawa kecil.
“Ya harus Angga, dong. Masa aku pergi nginep di rumahnya Jova? Itu mah udah gak normal lagi, aku.”
Angga tertawa meledek. “Kan lo emang gak normal.”
Reyhan menoleh untuk memberikan tatapan murkanya pada Angga. “Itu mulut tolong dipager, ye! Gue tuh lagi Stress, emosi, elo malah nambah Stress-nya gue. Emosi gue jadi tersulut gara-gara lo, Anying!”
Angga mengerutkan keningnya. “Kok jadi gue yang lo salahkan? Kalau emosi lihat-lihat, biar orang lain gak terkena lampiasan emosional elo.”
Reyhan mencibir saja lalu tanpa berkata apapun lagi, langsung memutar tubuhnya kencang ke belakang dan meninggalkan Angga, Freya begitu saja. Angga pun yang memperhatikan punggung Reyhan, hanya menghela napasnya dengan sesekali mendengus. Sementara Freya yang masih berdiri di depan teras, mencondongkan kepalanya ke samping melalui pundak kokoh pacarnya.
“Reyhan marah, tuh. Hayo tanggung jawab, hihi!” tutur Freya setelah mengubah posisi kepalanya seperti tadi dengan menuding kecil Angga.
“Biarin saja, itu anak emang tukang pemarah. Nanti kalau dia cepet tua, dia juga yang tanggung. Bukan aku. Oh, kamu sudah makan belum?” tanya Angga setelahnya.
Freya menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis. “Belum. Emangnya kenapa, Angga?”
“Mau makan di rumahku? Bareng Reyhan juga nanti, kayaknya dia marah karena juga laper, deh. Gimana?”
Freya menganggukkan kepalanya dengan semakin menarik kedua sudut bibirnya menjadi senyum lebar. “Oke! Sekarang, nih?”
“Enggak. Pas Malaikat maut cabut nyawaku,” jawab Angga dengan tertawa membuat gadis polos itu mendengus sebal akan respon candanya.
Freya langsung hendak ingin mengulurkan tangan kirinya untuk mencubit pinggang pemuda Indigo tampan kekasihnya tersebut, namun Angga sudah lebih cepat dahulu mencekal lembut tangan gadisnya. “Eh, gak boleh nyerang.”
Freya menggembungkan kedua pipinya dengan menaikkan kedua bola matanya untuk melirik Angga yang bibirnya nyengir. Angga lebih suka membuat kekasihnya marah atau cemberut, dikarenakan hal itu buat wajahnya makin justru menggemaskan di mata abu-abu autentik menawannya.
“Sudah, jangan ngambek lagi. Lihat tuh, mukamu lama-lama jadi seperti kue donat,” ledek Angga.
“Kok gitu?!” sewot Freya.
“Iya, dong. Karena kamu manis.”
Freya merapatkan bibirnya dengan membuang wajah cantiknya dari Angga. Kedua pipinya mendadak menjadi memerah merona akibat ledekan ucapannya pemuda tampan bak Korea itu barusan. Angga yang melihat reaksi Freya, tersenyum miring. “Yuk, masuk ke dalam. Nanti kamu bisa dikepung banyak semut karena bau kamu macam donat.”
“Aku bukan kue donat, Anggara!”
“Hahaha! Iya-iya, maaf.”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Di ruang dapur tepatnya meja makan, Angga meletakkan mangkuk bakso yang telah ia ganti dengan mangkuknya, sementara mangkuk yang Freya bawakan tadi untuk kekasihnya telah kosong karena seluruh isinya sudah Angga tuang ke dalam mangkuk miliknya. Sepasang pacar itu kemudian duduk di kursi meja makan.
Angga menatap Reyhan yang juga duduk di situ namun jarak tempat kursinya agak jauh dari pemuda Indigo tersebut duduk. Lelaki humoris itu nampak fokus menonton animasi kartun SD favoritnya ialah Boboiboy Galaxy, sebuah film kartun yang dirilis di negara Malaysia.
Wajahnya Reyhan tak menunjukkan raut menyenangkannya menonton kartun animasi superhero tersebut, melainkan datar dengan hati berubah menjadi setengah emosi setelah menggebu-gebu dibuat oleh sahabatnya sendiri. Sampai tiba-tiba karena merasa sedang diperhatikan, Reyhan menaikkan kedua bola matanya ke atas untuk melirik Angga.
“Napa lo?! Muka lo ngeselin, Sialan!” ketus Reyhan.
__ADS_1
Angga menghela napasnya dengan menggelengkan kepalanya pelan. “Sampai kapan lo mau marah gitu, hah? Atau gini aja, kalau lo masih begitu. Nanti malam elo tidur di kursi sofa saja, ya?”
“Ya gak bisa gitu, dong! Emangnya lo rela gue Demam karena lo suruh gue tidur di sofa? Gue gak tahan yang namanya suasana dingin, Anjir!”
“Gue tau, Anjir!” balas Angga membentak.
Reaksi jawaban Angga yang tak biasa, membuat Freya tersentak kaget sampai reflek memundurkan badannya. ‘Eh, tumben banget si Angga ngeluarin kata itu? Pacarku apa bukan, sih?’
Reyhan mendengus dan memilih melanjutkan menonton film kesukaannya daripada membuat keributan dengan sahabatnya sendiri. Lagi-lagi hal sikapnya Reyhan itu membuat Angga menghela napasnya. “Lo lapar, gak?”
“Nanti!”
“Ditanya lapar apa enggak, malah jawab 'nanti'! Kalau nanti, keburu habis gue makan sama Freya.”
“Hancur suasana hati gue, Ngga! Udahlah, mending gue mandi aja! Daripada di sini ngeliat kalian berdua yang bercinta, gue malah jadi sarang nyamuk!” Reyhan langsung bangkit dari kursi lalu menarik tas punggungnya dan melangkah menuju atas tangga.
Freya yang mendengar nada tinggi Reyhan, meneguk ludahnya sendiri. Suaranya lebih menyeramkan dibanding monster gua, itu baginya. Sedangkan Angga? Lelaki itu hanya diam memperhatikan kepergiannya Reyhan.
Freya perlahan mencondongkan kepalanya ke depan dan berbicara lirih pada Angga, “Reyhan galak banget kalau mood-nya kurang baik. Salahmu juga, nih Reyhan jadi makin melonjak amarahnya.”
Angga beralih menatap Freya. “Dianya aja yang baperan. Padahal aku tadi cuman bercanda saja, nggak lebih dari itu. Tapi yasudah, lah kalau memang begitu. Semoga pas udah membersihkan diri, otak sama hatinya lebih segar.”
Freya menganggukkan kepalanya paham dengan tersenyum manis pada pacarnya. Tanpa basa-basi, gadis lugu berambut hitam sepunggung itu menusuk satu bola daging bakso dari dalam kuah memakai garpu, setelah itu Freya mengangkat garpu aluminium tersebut dan mendekatkannya ke bibir tipisnya Angga.
“Coba deh, rasain. Enak banget, lho.”
Tanpa menolak permintaan ringan Freya, Angga langsung membuka mulutnya untuk menerima suapan dari kekasihnya. Kini Angga sedang mengunyah daging bakso tersebut dengan penuh selera. “Bagaimana, Ngga?”
Angga hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lebar sebagai tanggapan lepau Freya. “Asyik! Aku seneng kalau kamu emang suka. Ehm, kayaknya kita makan-nya nanti aja, deh. Nunggu Reyhan selesai mandi terus turun ke bawah.”
“Oke.”
Seperti biasa, setelah saling mengeluarkan cakapan obrolan, suasana menjadi sepi nan hening cipta. Bahkan sedari tadi Reyhan yang hatinya masih tersulut emosi belum juga kunjung segera turun dari undakan anak tangga untuk makan bersama kedua sahabatnya yang menanti dirinya di ruang dapur.
“Angga?” panggil Freya memecahkan kesenyapan ruangan.
“Ya?” jawab sang pacar yang sedang meng-scroll layar di aplikasi YouTube bagian beranda untuk mencari film Horor yang menarik hati dan memacu adrenalin.
“Hmmm ... kamu menyukai aku dari sejak kapan?” tanya Freya membuat Angga duduk tegak dengan memasang ekspresi terperangah.
“Tiba-tiba nanya begitu, kenapa?!”
“Haha. Sampai kaget gitu, ya? Aku kira pertanyaanku ini bakal kamu tanggapi dengan biasa, karena kamu adalah anak Indigo.”
“Aku lagi fokus sama yang lain. Jadi aku gak terlalu fokus mengarah ke kelebihanku. Tentang pertanyaanmu tadi, haruskah aku jawab dengan jujur?”
“Ya harus, lah! Masa bohong, kalau jawab bohong mah percuma aku tanya.”
Angga nyengir kemudian mematikan layar ponselnya. Mukanya mengalih dari tatapan Freya sejenak lalu menatap gadis lugu tersebut yang menunggu jawabannya. “Aku suka sama kamu ... sebenarnya dari lama. Satu bulan lalu, dimana saat kamu masih berhubungan dengan Gerald.”
“Apa?! Yang benar?!” kejut Freya tak percaya.
“Kamu percaya saja sama aku. Itu aku sudah jawab dengan sesungguhnya, lho. Karena aku tahu kamu sudah mempunyai kekasih masa itu, ya aku membuang perasaanku padamu. Bahkan setelah aku membuang perasaan lain itu, aku malah justru gak ingat kalau selama ini aku suka sama kamu. Mulai ada rasa lagi, di saat beberapa minggu yang lalu. Aku sampai bingung aku ini kenapa, melihat wajahmu saja membuat aku jadi gak karuan rasanya.”
Angga tersenyum malu. “Di waktu mana rasaku kembali, aku mencoba mengingat apakah sebelumnya aku sudah ada rasa denganmu. Ya, ternyata benar. Maklumi saja, ya? Semenjak aku bangun dari Koma itu, daya ingatanku berkurang dan melemah.”
Freya menganggukkan kepalanya dengan senyum manis khasnya. “Gak masalah, kok. Pas denger cerita jawabanmu, aku benar-benar gak nyangka. Rupanya satu bulan lalu itu kamu suka sama aku. Tapi sudah keduluan mantanku. Namun waktu dulu, aku bodoh karena mencintai cowok itu. Dan sekarang aku malah justru bahagia dan bersyukur mempunyai pacar luar biasa sepertimu, Anggara.”
Angga membungkamkan bibirnya, namun tak ayal dirinya merespon dengan sebuah sunggingan senyuman bibir tampannya. Hanya melemparkan senyumannya pun saja, berhasil membuat Freya semakin nyaman berada di dekatnya. Di sisi lain, Freya dalam relung hati sangat lega dan juga bahagia karena telah bisa melihat Angga tertawa lepas seperti tadi, bahkan sisi-sisi dinginnya 80 persen menghilang. Masih sedikit memang, tetapi yang terpenting segala motivasi Freya yang gadis cantik tersebut sumbangkan kepada Angga, berjaya meluluhkan hati kerasnya sang kekasih.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Angga yang telah melaksanakan Sholat Isya di dalam kamarnya, kini sekarang posisinya menuruni undakan anak tangga untuk menghampiri Reyhan yang sedang duduk santai menonton animasi kartun pada episode berikutnya. Usai berada di dekatnya tanpa duduk, Angga memegang sudut pinggiran sandaran kursi sofa panjangnya.
“Rey, telur dadarnya yang lo masak sudah jadi?” tanya Angga.
Reyhan auto pause film kartun animasinya lalu segera menolehkan kepalanya ke arah Angga yang sedang berdiri di belakangnya agak menyamping. “Telur dadar? Oh iya astaga!!”
Reyhan langsung melemparkan ponselnya di kursi sofa panjang yang ia duduki lalu berlari menuju ke ruang dapur hingga tak sengaja menyenggol kencang bahu kanan sahabatnya. Setelah sampai di depan kompor listrik, telur dadar yang ia masak di dalam trypan telah menghitam alias gosong. Reyhan di situ, mematikan kompornya tersebut.
Angga yang menatap kondisi telur dadar itu dari belakang Reyhan, sampai melotot. “Ya ampun! Gosong?!”
Sementara Reyhan dengan mendesis, mengangkat panci trypan itu di bagian gagangnya. “Waduh! Perasaan baru gue tinggal sebentar, kok udah jadi arang aja, sih?! Kamseupay banget!”
“Iya! Elo yang kamseupay! Lalu malam ini kita makan apa?! Kalau telur dadar saja yang lo masak akhirnya malah miris kayak gini!” protes Angga.
“Gak ada makanan lain yang bisa kita makan. Stok mie di dapur sudah habis, telur ini yang terakhir!” protes Angga lagi. Namun, sepertinya juga sudah salah karena memberikan protes pada Reyhan yang payah sekali dalam memasak selain mie instan.
Reyhan menghela napasnya dengan muka melas. Pasrah diomeli oleh sahabatnya yang telah selesai melaksanakan Ibadahnya di dalam kamar selama beberapa menit. “Berarti gue gak salah mencium bau-bau gosong ya, tadi?”
“Kenapa emangnya?! Lo pikir bau gosong yang lo cium itu dari hasil bakaran singkong yang dimasak sama Genderuwo?”
Angga mendengus lalu melipat kedua tangannya di dada bidangnya, hingga pemuda pemilik indera keenam tersebut menundukkan kepalanya ke bawah saat kakinya yang terbungkus oleh celana panjang kuning mustard miliknya bagian ujung di sentuh-sentuh Takeshi sang hewan kucing Anggora peliharaannya.
Mata belo-nya dengan dicampur lensa cokelatnya menatap tuan majikannya bersama tatapan memelas karena ingin meminta makanan. Angga segera merebut pelan panci trypan dari tangan Reyhan lalu mendekatkan panci tersebut yang berisi telur gosong pada Takeshi.
“Lo mau ini?” tawar Angga.
Takeshi mengendus-endus bau aroma beda dari telur dadar tersebut. “Ngeong!!”
Setelah mengeluarkan suara khas kucing jantannya, Takeshi melengos pergi meninggalkan tuannya beserta sahabat tuan majikannya tersebut begitu saja bersama ekor yang modelnya mekar macam kemoceng. Angga melongo memperhatikan kepergian kucing hitam kesayangannya. Jelas saja, aroma gosong telurnya membuat selera makan dan rasa lapar Takeshi menghilang seketika.
“Mending lo sekarang beli makanannya di luar, sana.” Angga mengomando Reyhan tanpa ada raut muka berangsang termasuk di hatinya.
“Ogah gue, Ngga! Gue gak mau kena begal orang!” takut Reyhan sang sahabat.
Angga yang sedang membuang telur gosong tersebut ke tong sampah lalu menaruh panci trypan yang ia pegang ke kompor listrik, mendengus dan membalikkan badannya ke belakang untuk memberikan tatapan sinisnya pada Reyhan. “Yang suruh beli secara offline, siapa?! Pesen makanan lewat aplikasi!”
“Oh. Bilang yang jelas, dong. Biar gue kagak salah paham. Bentar, gue ambil HP gue dulu, hehehe!” Reyhan melangkah pergi ke kursi sofa panjang untuk mengambil ponselnya buat memesan makanan sesuatu yang tersedia di aplikasi online GO-FOOD.
Dilihat layar ponselnya baterainya tinggal sisa 1 persen saja. “Aduh, mana udah sekarat, lagi! Pasti habis ini bakal mati. Alah, pesan sebentar doang gak masalah.”
Ini akibat menyepelekan kondisi baterai ponselnya, kini sekarang HP-nya mati begitu saja karena tak segera di cas untuk mengumpulkan jumlah isi persen ponselnya. “Lah-lah?! Alamak, malah udah modar ini HP!”
“Angga!! Pesannya pake HP lo aja, ya?! HP gue udah mati, nih! Butuh di infus dulu!” teriaknya dari kejauhan dikarenakan Angga masih berada di ruang dapur.
Angga yang di sana, menepuk jidatnya keras. Ia begitu tobat memiliki sahabat yang membuat geleng-geleng kepala dan menguji buat melatih banyak sabar di jiwa. Angga lekas mengambil ponselnya dari saku kantong celana panjangnya untuk memesan makanan lewat aplikasi GO-FOOD miliknya.
“Sambil gue pesan dua nasi goreng di aplikasi ini, lo lebih baik Sholat dulu, sana. Mumpung mata lo belum ada rasa kantuk. Cas sekalian itu HP-nya di atas kamar gue,” titah Angga tanpa menatap Reyhan.
“Males banget gue, Ngga ...” rengek Reyhan pada Angga yang matanya fokus menatap layar aplikasi online tersebut khusus memesan makanan dan minuman yang dipampang.
Namun tanggapan malasnya Reyhan membuat Angga menolehkan kepalanya ke arah sahabatnya dengan mendelik. “Astaghfirullah! Elo itu hambanya Allah atau hambanya Iblis, sih?! Sana!”
“Nanti aja dong, Ngga. Gue mager banget gerak jalan ke tangga atas! Orang waktu batasnya masih lama,” tolak Reyhan.
__ADS_1
“Jangan suka menunda-nunda Ibadah! Kalau udah ada waktunya, langsung laksanakan daripada dapat Dosa. Gerak cepet buat Sholat, atau gue Sholatin?!”
“Contoh kaum adam hamba Allah penghuni Surga beneran. Iya-iya! Orang gue tadi cuman bercanda!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Keesokan harinya tepat pada pukul jam 07.00, Angga tengah berada di dalam kamarnya untuk menggosok-gosok rambut hitamnya yang basah karena habis mandi. Namun di dalam kamar, dirinya tak melihat Reyhan di sekitar kamarnya. Mungkinkah sedang berada di bawah? Maka dari itu, setelah nanti Angga menyampirkan handuknya di cagak gantungan kamar mandi, ia akan turun dari tangga untuk menemui sahabatnya.
Di bawah tangga usai menyampirkan handuknya di dalam kamar mandi, Angga sama sekali tak menemukan sosoknya Reyhan. Padahal sudah ia cari secara keseluruhan, namun tetap tidak menemukannya. Tetapi ada satu tempat yang belum Angga datangi untuk mencari sang sahabat, wilayah kolam renang.
Segera Angga kembali jalan melangkah buat mendekati pintu kaca sliding yang letaknya berada di samping ruang dapur. Namun insting dirinya mengatakan, bahwa Reyhan memang ada di tempat kawasan sana.
Setelah membuka pintu sliding secara menggeser ke samping kiri, bola mata Angga langsung tertuju pada sosok lelaki yang sedang berendam di dalam air kolam renang. Lekas, Angga mendatangi pemuda tersebut yang tak lain adalah Reyhan sahabatnya. Posisi di sana, Reyhan tak sama sekali mengenakan atasan pakaiannya. Sementara baju lengan pendek oblongnya telah Reyhan letakkan di kursi santai kolam renang. Hanya celana panjangnya saja yang terlihat.
“Masih terlalu pagi buat lo rendam di dalam kolam renang,” tegur Angga pelan yang berdiri di atas pinggir kolam renang.
Reyhan yang keadaannya sedang berdiam diri dengan memejamkan kedua matanya untuk menghilangkan Stress-nya akibat kedua orangtuanya, membuka matanya saat mendengar suara sahabatnya yang tiba-tiba hadir di sebelahnya. Kepalanya ia toleh ke kanan.
“Up to me. Tumben nyari-nyari gue?” Dengan tampang cueknya, Reyhan menghadapkan kepalanya ke depan dengan bersedekap di dada bidangnya seraya menyandarkan kepalanya di tepi pinggir kolam renang rumah Angga.
Angga mendengus dengan masih menatap Reyhan yang pandangan matanya menatap langit biru pagi. “Harusnya lo mandi, bukan malah berendam di sini. Lagian dari tadi malem lo kenapa juga marah-marah pas di kamar gue. Gue kan cuman nyuruh lo buat tidur, eh lo malah seenaknya bentak sahabatnya sendiri.”
Reyhan menggeram jengkel atas seluruh ucapannya Angga yang semakin membuat mood hatinya amburadul berantakan. Segera lelaki humoris itu mengangkat balik kepalanya dan menatap tajam Angga yang bertolak pinggang. “Dibilang gue lagi Stress gara-gara bokap-nyokap gue!!”
Dengan cepat untuk melampiaskan kekesalannya terhadap sang sahabat. Tangan kanan Reyhan yang basah, pemuda tersebut tarik celana panjang hijau army milik Angga bagian luar tulang keringnya. “Reyhan jangan, Rey!!!”
Terlambat. Tubuh lelaki tampan Indigo itu terdorong dan jatuh terjun pendek ke dalam kolam renang akibat kerjaan jahilnya Reyhan. Basah kuyup sudah.
BYUR !!!
“Hahahaha! Yah, basah, deh!” tawa Reyhan kencang setelah melihat Angga yang menjadi basah karena terjebur ke dalam kolam renang yang ukurannya 2 meter.
Angga segera mengeluarkan kepalanya dari dalam permukaan air dan langsung menatap sengit Reyhan yang tengah sibuk asyik menertawakan dirinya. “Sahabat sialan! Ini namanya gue jadi mandi tiga kali!”
“Bah! Santai, Bro. Protesnya jangan gitu amat. Orang elo nyemplungnya cuman di kolam renang air yang jernih, bukan kolam renang darahnya perempuan.”
Jawaban Reyhan yang begitu menjijikkan bagi Angga, membuat lelaki tampan normal itu memelototi sahabatnya. “Naudzubillah Min Dzalik! Amoral sekali otak lo!”
Angga segera menjitak kepala Reyhan dengan sangat keras karena begitu tidak suka sahabatnya mengucapkan kata kalimat tersebut yang buat bergidik ngeri. Reyhan pun yang dijitak oleh sahabatnya karena mulutnya yang asal ceplos, mengusap-usap kepalanya nang terasa nyeri.
“Kenapa sih kepala gue yang mesti selalu jadi sasaran? Monoton banget tangan lo,” gerutu jengkel Reyhan.
“Supaya otak lo gak terlalu Stress! Biasanya kalau dipukul pasti bakal hilang itu sisi Stress-nya! Mending itu otak di cek saja, deh!”
“Pake apaan?!” dongkol Reyhan.
“Selang Endoskopi!”
“Mencret, lu!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Setelah beberapa menit menyejukkan hatinya dan pikirannya dari Stress itu hingga tadi sampai melontarkan ucapan yang tak sepantasnya untuk Angga, tetapi untungnya sang sahabat masih mampu sabar, Reyhan membuka suaranya.
“Angga?”
“Kenapa? Udah gak misuh-misuh lagi?”
“Minta maaf, dah. Gue emang gini kalau lagi Stress, tapi untung gak sampe bunuh orang, ye? Hehehe!”
Angga menghela napasnya. “Kenapa? Lo mau tanya sesuatu soal anak baru yang sudah satu hari menjadi siswa di sekolah kita?”
Bibir Reyhan nyengir. “Indigo emang mustahil dilawan sama siapapun. Yap, kira-kira alasannya kenapa ya Emlano pindah dari sekolahnya yang bernama Terang Bangsa itu? Padahal kan sebentar lagi di SMA Galaxy Admara ada Ujian.”
“Huh, gak tau.”
Reyhan menyerong badannya yang masih berada di dalam air. “Lo beneran gak tau, Bang? Biasanya, kan orang yang kayak lo gini pasti bakal ngerti apa alasannya siswa baru itu pindah.”
Angga menghembuskan napasnya dengan memalingkan mukanya dari Reyhan. “Gue gak tau karena gue dari kemarin susah memasuki aura Emlano untuk melihat sisi auranya lewat mata batin penerawangan gue. Entah kenapa, rasanya seperti dibatasi.”
Reyhan menyusutkan keningnya tak mengerti. “Maksud lo? Dibatasi gimana? Secara sengaja atau gak sengaja?”
Angga mengedikkan kedua bahunya dikarenakan sama sekali tidak tahu. Bahkan menggali informasi tentang Emlano sepertinya mustahil ia menemukannya secara proporsional. “Kalau lo sendiri?”
“Eeee ... gue bukan gak bisa baca auranya Emlano, gue waktu itu kurang gak memperhatikan aura siswa baru itu. Gue lebih fokus ke luarnya daripada ke dalamnya. Tapi kalau dilihat lebih detail, dia kayaknya orang yang baik-baik, dah.”
“Eh! Tapi lo masih bisa baca aura orang selain Emlano, kan? Masih tetep mampu, kan?!”
“Kalau selain Emlano gue bisa. Hanya siswa baru itu saja yang gue gak mampu untuk membaca auranya. Jadi gue gak tahu dia mempunyai aura negatif atau positif, bahkan gue nggak bisa menerawang aura warna apa yang terlihat di pada bagian tepi kepala dan bahu objeknya.”
“Kok, aneh?”
Angga hanya menghempaskan napasnya dengan mencoba memejamkan mata untuk menghilangkan pikiran tentang keanehan dan kejanggalan dari Emlano, akan namun tetapi Angga berusaha tidak mengambil pikiran negatifnya. Sampai tiba-tiba lelaki tampan Indigo tersebut menangkap suara bisikan-bisikan yang mampu mengusik pendengaran telinganya. Bahkan hal itu berhasil membuat Angga mengernyitkan kedua matanya yang sedang ia pejamkan.
Tidak. Ini bukan berasal bisikan dari suara mulutnya Reyhan, namun ada sosok lainnya yang sedang berupaya mengganggu ketenangannya Angga. Terpaksa, dirinya membuka matanya dan mencari suara bisikan tersebut yang begitu dekat melalui mata pandangan tajamnya bak teropong.
Dan entah mengapa Angga semakin di kawasan wilayah ini meski ini adalah kolam renang miliknya, ia merasa tidak betah dan dadanya terasa sesak. Tentu, Angga merasakan aura negatif di sekitar sini. Ingin menanyakan pada Reyhan soal keberadaan aura negatif tersebut, namun insting Angga berkata bahwa Reyhan sama sekali tak bisa merasakannya.
Lihatlah, Reyhan masih saja bersantai di dalam kolam renang bersama mata yang ia tutup damai dengan senyuman biasanya. Sepertinya dan kemungkinan besar aura kelebihan sedang punyanya dibatasi oleh seseorang entah siapa pelakunya, karena cuma Angga saja yang auranya masih terbuka untuk mendengar, merasakan akan hal tersebut.
Angga memutuskan untuk menopang lantai atas pinggir kolam renang agar tubuhnya mampu terangkat dari dalam air jernih itu yang dipadukan keramik lantai warna biru kotak-kotak di dalam permukaan air kolam renangnya nang membuat terkesan menawan dan fantastis dipandang oleh mata.
Dengan dalam kondisi dari ujung kepala hingga ujung kaki basah kuyup, kepala Angga tak sengaja menoleh ke atas pembatas tembok kawasan sekitaran kolam renangnya yang berwarna krem. Mata lelaki tampan tersebut langsung cepat terbentur pada para sosok-sosok bayangan hitam yang bentuknya macam manusia pada umumnya.
Mereka nampak sedang duduk secara berjejeran, jika dilihat dengan sangat serius, para sosok bayangan hitam itu tengah menatap Angga. Sial! Kedua telinganya saling berdenging, dan kepalanya terasa amat pusing melihat bayangan-bayangan sosok tersebut. Saking pusingnya, pemuda tampan itu menyentuh kepala bagian kanannya dengan sedikit mengerang.
Reyhan yang sudah lama menutup matanya untuk bersantai sembari tetap menyegarkan hati dan pikirannya, kembali membuka mata dan menoleh ke arah sahabatnya yang rupanya posisinya sedang duduk di atas tepi kolam renang. Namun yang membuat Reyhan agak kaget, saat melihat Angga mencengkram kepala sampingnya dan cairan merah pekat yang keluar dari dua lubang hidungnya.
“Angga?! Anjir! Lo kenapa?! Hidung lo berdarah, sumpah!” pekik Reyhan tak ayal segera mentas keluar dari dalam kolam renang milik sahabatnya.
Angga yang tersadar hidungnya mengeluarkan darah apalagi sekarang masih mengalir merembes ke bibir atasnya, langsung mengelap darahnya pakai punggung tangan kirinya. Sesekali kepala pemuda itu menggelengkan kepalanya mengisyaratkan pada Reyhan bahwa dirinya tidak apa-apa. Kepala Angga yang sempat tertunduk ke bawah karena lumayan tak bisa menahan rasa pusingnya malar kian ditambah rasa sakit yang menyerang kepalanya, bola matanya melirik ke arah beberapa sosok bayangan itu.
Dalam mulut yang tertutup, Angga menekan seluruh gigi putih bawah-atas saat mengetahui kalau sosok hitam tersebut telah menghilang begitu gesitnya. Apa semua ini? Mengapa seolah dirinya macam sedang diteror?
Dengan hati yang cemas, Reyhan menepuk pelan bahu kiri Angga yang pandangan sahabatnya Reyhan tak terlepaskan dari dinding tembok kawasan kolam renang. “Lo oke, kan? Muka lo sekarang malah pucet. Elo lihat mereka ... yang gaib?”
Angga hanya diam bisu tidak mau menjawab dua pertanyaan dari Reyhan. Sementara Reyhan yang tak menunggu tanggapan respon sang sahabat Introvert, mulai menolehkan kepalanya ke arah mana pandangan Angga menatap sesuatu. Sampai akhirnya Reyhan mengerutkan jidatnya dikarenakan ia tak melihat apapun di sana.
‘Angga lihat apaan? Kenapa gue gak bisa melihat apa yang sahabat gue lihat? Secara, gue harusnya bisa melihat karena gue sudah sama-sama seperti Angga. Ataukah dia berhalusinasi kayak dulu? Akh! Bingung, gue jadinya.’
Dengan beberapa serangan yang menimpa tubuhnya hingga membuat dirinya terasa berubah menjadi lemas, isi kepala Angga dipenuhi banyak tanda tanya tentang sosok-sosok yang dirinya lihat tadi. Dan sekarang yang Angga pertanyakan dalam lubuk hati adalah....
Petunjuk atau hanya halusinasi?
Begitulah yang Angga pertanyakan secara batin hati, meski Reyhan mendengar apa yang Angga bicarakan, namun lelaki Friendly itu memilih diam tak bersuara untuk menghujani banyak sekali pertanyaan kepada Angga. Karena jika dilihat situasi kondisi yang Angga alami sekarang, membuat Reyhan tertahan menanyakan akan hal tersebut.
__ADS_1
INDIGO To Be Continued ›››